Senin, 19 Mei 2025

Nyepi Memperingati Terciptanya Dunia?


Foto hanya ilustrasi sumber internet


Dalam kitab suci Hindu, seperti Rigveda dan Upanishad, disebutkan sebelum diciptakannya dunia adalah keadaan gelap, yang disebut sebagai “Asat” atau “Avyakta”. Asat atau Avyakta adalah keadaan yang tidak termanifestasi, tidak memiliki bentuk atau sifat, dan tidak dapat dipahami oleh manusia, kosong, yang ada hanya Tuhan, sering disebut jaman " duk tan hana paran - paran anrawang anruwung " artinya ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya tidak menentu.

Dalam Regveda ada disebutkan sbb :

"tama āsīt tamasā gūḍham setuju praketaṁ salilaṁ sarvam ā idam tucchyenābhv apihitaṁ yad āsīt tapasas tan mahinā jāyataikaṁ."

Terjemahan:

Pada mulanya ada kegelapan, yang tersembunyi di dalam kegelapan; alam semesta tidak dapat dibedakan seperti air. Yang telah menjadi, diselimuti oleh kekosongan; Yang Esa itu muncul melalui kekuatan panas".

Tuhan Brahman, menciptakan alam semesta dari kesunyian, keheningan, kekosongan yg ada hanya kegelapan. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas, dari panas timbullah ciptaan. 

Keadaan sebelum dunia diciptakan, Tamas sebagai sifat yang dominan, sehingga keadaan tersebut dianggap sebagai keadaan gelap. Namun, dengan terciptanya dunia, Satwam dan Rajas mulai berperan, sehingga keadaan gelap mulai berubah menjadi terang.

Pada saat Tilem kesanga energi alam semesta dianggap paling gelap, sehingga kekuatan Bhuta Kala (energi negatif) sedang memuncak. Pada Tilem Kesanga umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Upacara Tawur bertujuan untuk menetralkan (nyomya) kekuatan Bhuta Kala tersebut agar segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. 

Kemudian pada Sandhyakala (sore hari/peralihan waktu) setelah selesai upacara Tawur dilanjutan dengan ngerupuk / mebuu-buu dimulai dari lingkungan rumah, dilaksanakan ramai-ramai bersama keluarga dengan membawa sarana pokok ngerupuk berupa gni seprapak (meobor obor), semburakena (simbuh atau semburkan) bawang putih, mesui dan jagu (triketuka), sirat tirta panyomya bhuta, memukul bunyi-bunyian berupa kaleng bekas, peralatan dapur, kentongan bambu dll, untuk mengusir sisa-sisa energi negatif agar besoknya saat Nyepi betul-betul hening. Dengan telah disomnyo kekuatan Bhūta kala dianggap sebagai titik "nol" yg mencerminkan seolah-olah dunia belum tercipta.

Dalam Prasasti batur Abang A Tahun caka 933 ada disebutkan :

“Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka Saksi.”

Artinya:

Lagi pula mengadakan upacara misalnya tawur kesange, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga angkatan (3 saet / 3 putaran) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada. Pemerintah.

Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat Tilem ke Sanga wajib melakukan upacara Bhūta Yadnya (Pecaruan). Hal ini tercantum juga dalan lontar Ciwa Tatwa Purana ada disebutkan sbb : 

Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana rug ikang ing madya”.

Artinya:

Lagi pada tilem kesange aku (Dewa Ciwa) mengadakan yoga, kewajibanlah orang di bumi ini melakukan persembahan masing-masing, lalu adakan pertarungan ayam (bhuta Yadnya) dan nyepi sehari (besoknya), ketika itu berhidangan sang kala daca bhumi, jika tidak rusaklah di manusia bumi.

Pada Tilem ini, Brahman / Siwa menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman melebur dan menyatu ke dalam ciptaannya. Keheningan, kesunyian, kekosongan awal daripada kehidupan, awal daripada kekuatan, awal daripada penciptaan, adalah awal dari segala-galanya.

Jadi Nyepi penanggal apisan sasih kedasa adalah memperingati awal dari penciptaan, awal dari kehidupan, awal dari kekuatan, dan awal dari kebangkitan. Dengan Nyepi membuat kesunyian dan keheningan (membuat sepi-sepian), umat Hindu merayakan ketika alam diciptakan pertama kali oleh Ida Hyang Widhi Wasa.

Dalam agama Hindu, ada siklus penciptaan dan siklus penghancuran yang terus-menerus. Kesunyian dan keheningan sebagai awal dari siklus baru, menjadi simbol dari awal penciptaan yang baru.

Kesunyian, keheningan yang dipraktikkan selama Nyepi melambangkan kontemplasi dan memungkinkan masyarakat Hindu untuk memikirkan kembali kehidupan mereka, menilai perbuatan mereka selama ini. Selain itu, Nyepi juga merupakan cara untuk menjaga keseimbangan hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan, serta dengan keheningan, dapat mendengarkan hati nuraninya, "Silence Is Brahman," artinya : " Keheningan adalah Brahman".

Empu Kanwa lewat gubahannya yang maha indah mengatakan :

“Sasi wima haneng gata mesi banyu/ndan asing nirmala mesi wulan/iwa mangkana rakwa kiteng kadadin /ring angambeki yoga kiteng sakala”

Artinya:

Seperti bayangan bulan yang ada ditempayan berisi air, bahkan setiap tempat sucipun bayangan bulan akan tampak, demikian kodrat-Mu (Tuhan Yang Maha Esa), selalu ada pada setiap ciptaan-Mu, pada siapa yang tekun melakukan yoga semadi, Engkau akan tampak mewujud.

Berdasarkan ayat itu makna yang dapat kita petik adalah untuk mampu menangkap bayangan bulan, maka air dalam tempayan harus jernih, artinya untuk menemukan hakekat dari Brahman yang sunya, sepi, kosong, "Duk Tan Hana Paran-paran", seseorang harus mengalami ketenangan jiwa, kejernihan jiwa, kemurnian jiwa terlebih dahulu, dan ini dapat dilakukan dengan tekun melakukan yoga semadi.

Pada hari Nyepi, untuk dapat menghayati kesunyian dan keheningan ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata Penyepian", yang terdiri dari :

  1. Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.

  2. Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.

  3. Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian, akan tetapi selalu introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.

  4. Amati Lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang,  melainkan tekun melatih mandi untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.

Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi yaitu Ngembak Geni pada penanggal kedua sasih kedasa mulai pkl 06.00. pagi. Ngembak Geni pertanda sudah berakhir Catur Brata penyepian masyarakat sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa. 

Sejak tahun 1983 Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Waisak ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.


Sumber foto Internet

Pengarakan Ogoh - Ogoh Bukan Bagian Dari Ritual Perayaan Nyepi.

Dengan berkembangnya zaman, dimana sehari sebelum Nyepi di Bali khususnya, diisi dengan pengarakan Ogoh-ogoh. 

Pengarakan ogoh - ogoh yang berlangsung setiap tahun pada saat pengerupukan bukan bagian dari ritual perayaan Nyepi, namun merupakan kreativitas budaya yang lebih menonjolkan ekspresi seni (Buku Panduan Ogoh-ogoh Pengerupukan, hal: 20, poin 3, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar 2011).

Menurut I Bagus Putu Sudarmaya (dalam artikel), mulai tahun 1966 pelaksanaan pengerupukan di Badung dipusatkan atau berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Puputan Badung/I Gusti Ngurah Made Agung kemudian bergerak keliling kota Denpasar. Pada saat itu ada salah satu kelompok/ banjar yang membawa 9 buah obor yang dirangkai menjadi satu dengan ikatan bambu yang dibuat cabang-cabang yang sudah dililitkan jerami sebagai bentuk kreativitas atau bentuk lain dari obor yang biasa dibawa orang pada umumnya. Kemudian dengan rapi semua peserta pawai obor diberi kesempatan masuk ke depan/teras Kantor Gubernur/rumah tempat tinggal Gubernur dengan berbaris 2 secara tertib dan rapi sambil membawa obor untuk mendapat sapaan / lambaian tangan dari Bapak Gubernur Mertha pada waktu itu (kalau tidak salah). Namun kreativitas obor yang tingginya sekitar 3 meter tidak bisa masuk karena terhalang oleh atap beton di depan teras Kantor Gubernur, sehingga kreativitas obor langsung bergerak ke timur di Jl. Surapati, belok ke Jl. Melati terus keliling Kota Denpasar yang diikuti oleh peserta pawai obor.

''Kreativitas obor'' inilah yang dianggap sebagai cikal bakal ogoh-ogoh yang ada sekarang ini, karena setelah tahun 1967, setiap acara pengerupukan semakin banyak kelompok/banjar yang membawa obor kreatif dengan berbagai macam bentuk dan kreasi. Kemudian berkembang sehingga setiap pengerupukan semua kelompok peserta hanya membawa ogoh-ogoh (menggotong/mendorong dengan kereta), tidak ada yang membawa api/ obor lagi sebagai sarana utama pengerupukan.

Karena pengarakan ogoh-ogoh tidak ada hubungannya dengan hari raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara Nyepi. Seperti selama Covid-19 tidak ada pengarakan ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi. Namun, ogoh-ogoh itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara.

Sekarang dengan adanya pengarakan ogoh-ogoh setiap perayaan Nyepi hampir diseluruh Bali bahkan sudah mulai berkembang di luar Bali, maka masyarakat Hindu di Bali khususnya mendapatkan hiburan sebelum besoknya melaksanakan Catur Brata Penyepian. Hanya saja ada kekawatiran, bahwa anak-anak, cucu-cucu tidak mengetahui bahwa mebuu-buu / ngerupuklah yang sakral bagian dari Tawur ke Sange, bukan pengarakan Ogoh-ogoh nya. 

Sekian yang dapat saya sampaikan ini hanya tafsir saya apabila ada yang tidak tepat mohon maaf. Suksma 🙏***


Foto hanya ilustrasi sumber internet

Baca juga :  Tajen, Tabuh Rah, Tajen Saat Galungan