Senin, 19 Mei 2025

Nyepi Memperingati Terciptanya Dunia?

 
Sumber foto Internet

Hari Raya Nyepi sangat sakral bagi umat Hindu dan dihormati oleh seluruh dunia, bahkan Bandara Internasional Ngurah Rai saja bisa ditutup, apalagi penduduk di Bali? Namun Nyepi th 2026 ini melukiskan dua masalah, dari ulah segelintir kelompok yg ingin mengubah Tegak Nyepi, dan keluarnya Surat Seruan bersama yg intinya memberikan ijin saat Nyepi org keluar ke jln raya jalan kaki, dg dalih toleransi.

Bgmn mungkin Nyepi bisa hening, sunyi, sepi kalau org masih diijinkan keluar? Kalau betul-betul dg dalih toleransi, harusnya ikut adat keagamaan di Bali, jangan keluar rmh, Bandara Internasional Ngurah Rai saja ditutup, berapa pesawat dari berbagai Negara tdk terbang ke Bali saat Nyepi. inilah bentuk toleransi. Nyepi, dunia hanya ada di Bali satu kali setahun.

Tdk ada satupun yg membahas apa sebenarnya Nyepi itu, utk apa dirayakan?  Sekilas analisa sy ttg Nyepi yg sangat sakral sbg pengakuan kemahakuasaan Ida Hyang Widhi Wasa. Tentu saja apa yg sy buat ini tdk mengklaim benar. Karena berpendapat adalah hak setiap orang, atas dasar itulah sy menulis ini, dan minta maaf kalau tidak berkenan.

Dalam kitab suci Hindu, seperti Rigveda dan Upanishad, disebutkan sebelum terciptanya dunia adalah keadaan gelap , yang disebut sebagai “ Asat ” atau “ Avyakta ”. Asat atau Avyakta adalah keadaan yang tidak termanifestasi, tidak memiliki bentuk atau sifat, dan tidak dapat dipahami oleh manusia, kosong, yang ada hanya Tuhan, sering disebut jaman "duk tan hana paran - paran anrawang anruwung" artinya ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya tidak menentu.

Dalam Regveda 10.129.3  disebutkan sbb :

"tama āsīt tamasā gūḍham setuju praketaṁ salilaṁ sarvam ā idam tucchyenābhv apihitaṁ yad āsīt tapasas tan mahinā jāyataikaṁ."

Terjemahan:

Pada mulanya ada kegelapan, yang tersembunyi di dalam kegelapan; alam semesta tidak dapat dibedakan seperti udara. Yang telah menjadi, diselimuti oleh  ketakutan; Yang Esa itu muncul melalui kekuatan panas".

Penjelasan singkat:

  • "Tama" berarti kegelapan atau ketidaktahuan.
  • "Āsīt" berarti "ada" atau "terdapat".
  • "Tamasā" berarti kegelapan.
  • "Gūḍham" berarti tersembunyi.
  • "Setuju praketaṁ" berarti "semua ini".
  • "Salilaṁ" berarti air.
  • "Sarvam ā idam" berarti "semua ini".
  • "Tucchyenābhv apihitaṁ" berarti "kehampaan yang menutupi".
  • "Yad āsīt" berarti "yang ada".
  • “Tapasa tan mahinā” berarti “oleh kekuatan Tapas yang besar”.
  • "Jāyataikaṁ" berarti "lahir" atau "muncul".

Sloka ini menggambarkan keadaan awal semesta, di mana kegelapan dan keheningan meliputi segala sesuatu.  Tuhan Brahman, menciptakan alam semesta dari kesunyian, keheningan, yang ada hanya kegelapan. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas, dari panas timbullah ciptaan. 

Keadaan sebelum dunia diciptakan, Tamas sebagai sifat yang dominan, sehingga keadaan tersebut dianggap sebagai keadaan gelap . Namun, dengan terciptanya dunia, Satwam dan Rajas mulai berperan, sehingga keadaan gelap mulai berubah menjadi terang.


Sumber foto Internet

Pada saat Tilem Kasanga energi alam semesta dianggap paling gelap, sehingga kekuatan Bhuta Kala (energi negatif) sedang memuncak. Pada Tilem Kasanga umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan  mengambil salah satu dari jenis-jenis caru menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Upacara Bhūta yadnya bertujuan untuk menetralkan (nyomya) kekuatan Bhuta Kala tersebut agar segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. 

Kemudian pada Sandhyakala (sore hari/ saat peralihan waktu) setelah selesai upacara Tawur dilanjutkan dengan ngerupuk / mebuu-buu, dimulai dari lingkungan rumah, dilaksanakan ramai-ramai bersama keluarga dengan membawa sarana pokok ngerupuk berupa gni seprapak (meobor-obor), semburakena (simbuh atau semburkan) bawang putih, mesui dan jagu (triketuka), sirat tirta panyomya bhuta, ketukan bunyi-bunyian berupa bekas, peralatan dapur, kentongan bambu dll, untuk mengusir sisa-sisa energi negatif agar besoknya saat Nyepi betul-betul hening. Dengan telah disomyo kekuatan Bhūta kala dianggap sebagai titik "nol" yang mencerminkan seolah-olah dunia belum tercipta.

Dalam Prasasti batur Abang A Tahun caka 933 ada disebutkan :

“Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka Saksi.”

Artinya:

"Lagi pula mengadakan upacara misalnya tawur kasange, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga angkatan (3 saet / 3 putaran) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada. Pemerintah".

Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat Tilem kasanga wajib melakukan upacara Bhūta Yadnya (Pecaruan). Hal ini tercantum juga dalan  lontar Ciwa Tatwa Purana ada disebutkan sbb : 

Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana rug ikang ing madya”.

Artinya:

"Lagi pada tilem kasange aku (Dewa Ciwa) mengadakan yoga, kewajibanlah orang di bumi ini melakukan persembahan masing-masing, lalu adakan pertarungan ayam (bhuta Yadnya) dan nyepi sehari (besoknya), ketika itu berhidangan sang kala daca bhumi, jika tidak merusaklah manusia bumi".

Pada Tilem kasanga ini, Brahman/Siwa menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas. Setelah tercipta, Brahman melebur dan menyatu ke dalam ciptaannya.  Keheningan, kesunyian, kekosongan awal dari kehidupan, awal dari kekuatan, awal dari penciptaan, awal dari segala-galanya.

Jadi Nyepi penanggal apisan sasih kadasa adalah memperingati awal penciptaan, awal kehidupan, awal kekuatan, dan awal kebangkitan. Dengan Nyepi membuat kesunyian dan keheningan (membuat sepi-sepian, gelap-gelapan), umat Hindu merayakan ketika alam diciptakan pertama kali oleh Ida Hyang Widhi Wasa dari kegelapan.

Dalam agama Hindu, ada siklus penciptaan dan penghancuran yang terus menerus. Kesunyian dan keheningan sebagai awal dari siklus baru, menjadi simbol dari awal penciptaan yang baru.

Kesunyian, keheningan yang dipraktikkan selama Nyepi melambangkan kontemplasi dan memungkinkan umat Hindu untuk merenungkan kembali kehidupan mereka, menilai perbuatan mereka selama ini. Selain itu, Nyepi juga merupakan cara untuk menjaga keseimbangan hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan, serta dengan keheningan, dapat mendengarkan hati nuraninya, " Silence Is Brahman," artinya : "Keheningan adalah Brahman".

Empu Kanwa lewat gubahannya yang maha indah mengatakan :

“Sasi wima haneng gata mesi banyu/ndan asing nirmala mesi wulan/iwa mangkana rakwa kiteng kadadin /ring angambeki yoga kiteng sakala”

Artinya:

"Seperti bayangan bulan yang ada ditempayan berisi udara, bahkan setiap tempat sucipun bayangan bulan akan tampak, demikian kodrat-Mu (Tuhan Yang Maha Esa), selalu ada pada setiap ciptaan-Mu, pada siapa yang tekun melakukan yoga semadi, Engkau akan tampak mewujud".

Berdasarkan ayat itu makna yang dapat kita petik adalah untuk mampu menangkap bayangan bulan, maka air dalam tempayan harus jernih, artinya untuk menemukan hakekat dari Brahman yang sunya, sepi, kosong, "Duk Tan Hana Paran-paran", seseorang harus mengalami ketenangan jiwa, kejernihan jiwa, kemurnian jiwa terlebih dahulu, dan ini dapat dilakukan dengan tekun melakukan yoga semadi.

Pada hari Nyepi, untuk dapat menghayati kesunyian dan ketenangan umat Hindu melaksanakan “Catur Brata Penyepian”, yang terdiri dari :

  1. Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.

  2. Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.

  3. Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian, akan tetapi selalu introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.

  4. Amati Lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang,  melainkan tekun melatih mandi untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.

Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi yaitu Ngembak Geni pada penanggal kedua sasih kedasa mulai pkl 06.00. Ngembak Geni pertanda sudah berakhir Catur Brata penyepian masyarakat sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa. 

Sejak tahun 1983 Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Waisak ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.


Foto hanya ilustrasi sumber internet


Pengarakan Ogoh - Ogoh Bukan Bagian Dari Ritual Perayaan Nyepi.

Dengan berkembangnya zaman, dimana sehari sebelum Nyepi di Bali khususnya, diisi dengan pengarakan Ogoh-ogoh. 

Pengarakan ogoh - ogoh yang berlangsung setiap tahun pada saat pengerupukan bukan bagian dari ritual perayaan Nyepi, namun merupakan kreativitas budaya yang lebih menonjolkan ekspresi seni (Buku Panduan Ogoh-ogoh Pengerupukan, hal: 20, poin 3, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar 2011).

Menurut I Bagus Putu Sudarmaya (dalam artikel), mulai tahun 1966 pelaksanaan pengerupukan di Badung dipusatkan atau berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Puputan Badung / I Gusti Ngurah Made Agung kemudian bergerak keliling kota Denpasar. Pada saat itu ada salah satu kelompok / banjar yang membawa 9 buah obor yang dirangkai menjadi satu dengan ikatan bambu yang dibuat cabang-cabang yang sudah dililitkan jerami sebagai bentuk kreativitas atau bentuk lain dari obor yang biasa dibawa orang pada umumnya. Kemudian dengan rapi semua peserta pawai obor diberi kesempatan masuk ke depan / teras Kantor Gubernur / rumah tempat tinggal Gubernur dengan berbaris 2 secara tertib dan rapi, sambil membawa obor untuk mendapat sapaan / lambaian tangan dari Bapak Gubernur Mertha pada waktu itu (kalau tidak salah). Namun kreativitas obor yang tingginya sekitar 3 meter tidak bisa masuk karena terhalang oleh atap beton di depan teras Kantor Gubernur, sehingga kreativitas obor langsung bergerak ke timur di Jl. Surapati, belok ke Jl. Melati terus keliling Kota Denpasar yang diikuti oleh peserta pawai obor.

''Kreativitas obor'' inilah yang dianggap sebagai cikal bakal ogoh-ogoh yang ada sekarang ini, karena setelah tahun 1967, setiap acara pengerupukan semakin banyak kelompok / banjar yang membawa obor kreatif dengan berbagai macam bentuk dan kreasi. Kemudian berkembang sehingga setiap pengerupukan semua kelompok peserta hanya membawa ogoh-ogoh (menggotong/mendorong dengan kereta), tidak ada lagi yang membawa api/obor.

Karena pengarakan ogoh-ogoh tidak ada ketentuannya dengan hari raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara Nyepi. Seperti selama Covid-19 tidak ada pengarakan ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi. Namun, ogoh-ogoh itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara saja.

Sekarang dengan adanya pengarakan ogoh-ogoh setiap perayaan Nyepi hampir diseluruh Bali bahkan sudah mulai berkembang di luar Bali, maka masyarakat Hindu di Bali khususnya mendapatkan hiburan sebelum besoknya menampilkan Catur Brata Penyepian. Hanya saja ada kekawatiran, bahwa anak-anak, cucu-cucu tidak mengetahui bahwa mebuu-buu / ngerupuklah yang sakral bagian dari Tawur kasange, bukan pengarakan Ogoh-ogoh nya. 

Sekian yang dapat saya sampaikan sbg ungkapan rasa Bhakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa melalui berbagi pengetahuan (Widya dana), ini hanya tafsir saya apabila ada yang tidak tepat mohon maaf. Suksma 🙏***


Foto hanya ilustrasi sumber internet

Baca juga :  Tajen, Tabuh Rah, Tajen Saat Galungan

Catatan :
Artikel yg sy buat di blog ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar