Jumat, 01 Mei 2026

Raja Kerajaan Alengka Menurut Ramayana

Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka, 
Sumber foto Sahabat Al.

Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang saleh dan taat kepada Dewa Siwa, bernama Sukesa. Ia menikah dengan Devawati dan dikaruniai tiga putra: Malyavan, Sumali, dan Mali. 

Karena bhakti Sukesa yang luar biasa, Dewa Siwa menganugerahkan dua berkah : 

  1. Kota emas Alengka – saat itu masih kosong, ibarat “sertifikat tanah” tanpa penghuni. 
  2. Kesaktian dan umur panjang.

Namun Sukesa menolak duduk di takhta. Ia memilih tetap menjadi pertapa. Karena itu, dalam daftar raja Alengka, silsilah dimulai dari putranya, Malyavan. Sukesa berstatus sebagai leluhur penerima anugerah, bukan raja yang memerintah. 
[Sumber: Uttara Kanda, Ramayana; Brahma Purana]

Sukesa
Sumber foto : Sahabat Al.


Tiga Putra Sukesa Memohon Berkah Brahma  

Malyavan, Sumali, dan Mali kemudian bertapa memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar : 

  1. Tali persaudaraan mereka tak pernah putus, selalu saling menyayangi. 
  2. Memiliki kesaktian luar biasa sehingga tak terkalahkan. 
Brahma mengabulkan permohonan tersebut. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 4]


Berdirinya Kerajaan Alengka

Setelah Sukesa lanjut usia, ketiga putranya mengambil alih kota Alengka yang kosong.
Malyavan, sebagai putra sulung, memproklamirkan diri sebagai Raja Alengka Pertama. Ia mengumpulkan bangsa raksasa untuk menetap di sana. Sumali dan Mali menjadi patih dan panglima kerajaan Alengka.

Atas perintah Sumali, Wiswakarma dipaksa membangun istana yang indah dan megah di Alengka. Istana megah-pun selesai dibuat oleh Wiswakarma. Sejak itu Malyavan, Sumali, dan Mali hidup dalam kemewahan. Alengka menjadi ibu kota raksasa yang sangat kuat. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 5]

Wisrawa
Sumber foto Sahabat Al.


Pergantian Takhta dan Kejatuhan Sumali

Setelah Malyavan lengser, takhta dipegang adiknya, Sumali. Namun Sumali juga lengser dikalahkan oleh Dewa Wisnu, lalu digantikan oleh adiknya, Mali. Ketika Mali lengser juga, Sumali kembali naik takhta. Dengan demikian, Sumali tercatat dua kali menjadi raja: Raja Alengka ke-2 dan ke-4. Ketiga bersaudara ini masih hidup segar bugar.

Raja Sumali kembali menyalahgunakan kesaktiannya untuk menyerang Kahyangan, maka para Dewa dipimpin Wisnu menyerbu Sumali Raja Alengka. Dalam pertempuran itu, Malyavan dan Mali gugur. Mengetahui dua saudaranya gugur, Sumali melarikan diri ke Patala – alam bawah – dan bersembunyi karena takut dibunuh Dewa Wisnu. Sejak Sumali kalah, Alengka pun menjadi kosong tidak ada penghuni, tak terawat, hancur akibat perang. 
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 5-6]


Brahma Menghadiahkan Alengka kepada Kuwera

Melihat Alengka kosong dan terbengkalai, Brahma merasa prihatin. Ia memerintahkan Wiswakarma merenovasi Alengka dan menciptakan kendaraan Pushpaka Vimana.

Istana emas Alengka yang megah
dan kendaraan Pushpaka Vimana itu kemudian dihadiahkan oleh Brahma kepada Kuwera – putra Resi Wisrawa dengan Ilavida, putri Resi Bharadwaja. Karena Kuwera anak sulung Resi Wisrawa dikenal lurus dan berwatak baik, dan Alengka menjadi ibu kota kerajaan Yaksha sekaligus tempat Kuwera menyimpan hartanya. Karena itu ia bergelar Dewa Kekayaan. Kuwera menjadi Raja Alengka ke-5
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 3; Bhagavata Purana 4.1.21]


Kuwera
Sumber foto Sahabat Al.


Siasat Sumali: Lahirnya Rahwana

Sumali yang hidup di pengasingan berniat mengembalikan kejayaan bangsa raksasa. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sukesi. Mendengar ada rsi sakti cucu Brahma bernama Wisrawa. Sumali berpikir: jika Sukesi menikah dengan Wisrawa, maka cucunya pasti sakti mandraguna. 

Waktu itu Wisrawa sedang bertapa berat. Sumali mengutus Sukesi untuk datang ke pertapaan Wisrawa dan mengabdi. Setiap hari Sukesi melayani Wisrawa dengan tulus: mengambil buah, air, membersihkan ashram. 

Dengan mata batin, Wisrawa mengetahui niat Sumali. Ia juga tahu jika berhubungan pada sandhyakala – waktu senja yang tidak baik – anak yang lahir akan berwatak raksasa.
Wisrawa berkata jujur kepada Sukesi :  
“Jika engkau menginginkan anak dariku sekarang, ia akan menjadi raksasa jahat. Namun jika menunggu waktu yang baik, anakmu bisa menjadi orang suci.”
[Uttara Kanda Sarga 9]

Sukesi menjawab bahwa, dia hanya menjalankan dharma sebagai anak, taat perintah orang tua. Dia rela apapun yang terjadi.
Karena ketulusan dan dharma Sukesi, Wisrawa akhirnya menerima. Maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanakha pada waktu yang tidak tepat, sehingga berwatak raksasa: Rahwana – angkara murka, Kumbakarna – tamas/tamak, Surpanakha – rajasik/nafsu. 

Anak keempat, Wibisana, lahir setelah Sukesi sadar dan memohon waktu kelahiran yang baik, sehingga berwatak dharma dan satvik. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 9]

Wisrawa menikah dengan Sukesi bukan karena nafsu, melainkan : 

  1. Menghargai dharma dan ketulusan Sukesi. 
  2. Sudah menjadi takdir untuk lahirnya tokoh-tokoh besar dalam lila Ramayana. 
  3. Rsi pada tahap Grhastha-asrama memang menjalankan dharma berumah tangga. “Dharmartha-kama-mokshanam grhastha prabhavaḥ smṛtaḥ”. Artinya : Di antara empat tujuan hidup, tahap berumah tangga adalah penopangnya.[Manusmriti 3.78]


Rahwana
Sumber foto Internet.


Rahwana Merebut Alengka

Setelah dewasa dan sakti, Rahwana bertanya kepada Sukesi: “Mengapa kita tinggal di hutan, padahal kakekku dulu raja Alengka?” Ia merasa Alengka adalah hak waris leluhur. Kuwera dianggap "numpang" karena pemberian Brahma. Sumali yang sudah tua, memanas-manasi Rahwana untuk merebut takhta. 

Rahwana menyerang Kuwera - saudaranya seayah, dan berhasil  merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian pergi meninggalkan Alengka, akhirnya suatu hari membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 11-12]



Rama
Sumber foto Sahabat Al.


Kejatuhan Rahwana, Wibisana Naik Takhta 

Karena menculik Dewi Sita, Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah / mengambil Alengka, Ia menobatkan Wibisana – adik Rahwana yang berpihak pada dharma – sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.
Na me kāṅkṣā lankāyāṁ vasituṁ puruṣarṣabha”
Artinya:
“Wahai yang terbaik di antara manusia, Aku tidak berkeinginan tinggal di Alengka.”
[Sumber: Valmiki Ramayana, Yuddha Kanda 128.801)

Setelah itu, Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.
[Sumber: Yuddha Kanda Sarga 128]


Wibisana
Sumber foto Sahabat Al.


Runutan Raja Alengka versi Walmiki :

Raksasa Malyavan --> Raksasa Sumali --> Raksasa Mali --> Raksasa Sumali --> Kosong --> Kuwera --> Raksasa Rahwana --> Wibisana (adik Rahwana).

Silsilah Keluarga versi Walmiki :

Brahma mempunyai putra --> Pulastya.
Pulastya mempunyai putra --> Wisrawa.
Wisrawa + Ilavida/Ilabila (putri Rsi Bharadwaja) lahir --> Kuwera,
Wisrawa + Sukesi (putri Sumali) lahir --> Rahwana, Kumbakarna, Surpanakha, Wibisana.


Catatan: Versi Pewayangan Jawa

Dalam lakon pewayangan Jawa, silsilah dan sejarah raja Alengka ada beberapa perbedaan dengan Ramayana versi Walmiki:

1. Raja pertama bukan Kuwera.
Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu, bukan Kuwera. Setelah Hiranyakasipu gugur di tangan Sri Maharaja Suman, takhta diganti putranya Banjaranjali.

2. Istri pertama Resi Wisrawa berbeda.
Versi Jawa: Resi Wisrawa menikah dulu dengan Dewi Lokawati, putri Prabu Lokawana raja Lokapala, melahirkan Wisrawana yang bergelar Prabu Danapati / Danaraja.
Versi Walmiki: Istri pertama Wisrawa adalah Ilavida/Ilabila, putri Rsi Bharadwaja, melahirkan Kuwera.

3. Konflik ayah-anak rebut Sukesi.
Prabu Danapati/Wisrawana juga ingin menikahi Dewi Sukesi. Karena Sukesi jadi istri Wisrawa, Danapati menyerang Alengka dan membunuh Wisrawa. Danapati lalu terusir dari Alengka oleh Rahwana.

4. Urutan anak Wisrawa + Sukesi tetap sama,
Rahwana/Dasamuka, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka / Surpanakha, dan Arya Wibisana. Ini sama dengan versi India.

5. Nama kerajaan diganti setelah Rahwana gugur.
Setelah Rahwana mati, Wibisana jadi raja dan membangun istana baru bernama Singgelapura. Sejak itu Alengka berganti nama menjadi Kerajaan Singgelapura. Kerajaan ini juga sering disebut Ngalengkadiraja dalam wayang.

Singkatnya silsilah keluarga versi Jawa:
Batara Brahma --> Batara Sambodana --> Batara Sambu --> Resi Supadma --> Resi Wisrawa.
Resi Wisrawa + Dewi Lokawati --> Wisrawana / Danapati.
Resi Wisrawa + Dewi Sukesi --> Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana.

Demikian sekilas tentang Kerajaan Alengka. Semoga bermanfaat untuk menambah  Vidhya kita semua, apabila ada yang kurang mohon maaf. Suksma.***🙏


Foto Ilustrasi.
Sumber foto Sahabat Al.


Catatan Sumber Utama :

  1. Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Sarga 3–12. 
  2. Brahma Purana_, Bab tentang Silsilah Pulastya. 
  3. Bhagavata Purana, Skandha 4, Adhyaya 1. 
  4. Manusmriti_ 3.78 untuk dharma Grhastha. 
  5. Cuplikan "Cerita ulang oleh Sahabat AI, 20 April 2026".

Artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏