Minggu, 01 Februari 2026

Jangan Melupakan Ajaran Leluhur

 

Prof.DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI.


Kawitan dan Leluhur

Kata Kawitan dan Leluhur hampir tidak pernah terlewatkan jika berbicara tentang Agama Hindu di Bali. Kawitan berasal dari kata 'wit' yang artinya asal usul atau awal mula. Jadi asal muasal manusia diciptakan oleh Tuhan, dan akan kembali kpd Tuhan. Manusia pertama yang menciptakan Tuhan dalam ajaran Hindu disebut Swayambhumanu . Dari kata Manu timbullah kata manusia yang artinya keturunan Manu. Manu artinya berpikir. Swayambhumanu artinya makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri, itulah manusia pertama. Selanjutnya setelah terciptanya manusia pertama atas kekuasaan Tuhan, maka manusia itu sendiri yang berkembang. 

Sementara leluhur adalah asal muasal manusia di dunia dalam siklus kehidupan (hubungan biologi). Pura Kawitan adalah pura yang pemujanya masyarakat ditentukan oleh ikatan leluhur berdasarkan kelahiran. Sejarah kawitan sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali. 

Sbg penganut Hindu yg baik, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa pendahulu kita, jasa-jasa Leluhur kita yg telah banyak berkontribusi thdp Agama Hindu. Nenek moyang/pendahulu kita dari manapun mereka berasal baik dari Indonesia maupun yang berasal dari India harus kita hormati. Para Suci dari India banyak yang berjasa thdp agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali


Gayatri Mantram dan Weda.

Mantra Gayatri adalah salah satu Mantra yang sangat penting dalam Ajaran Agama Hindu. Ida Hyang Widhi Wasa mewahyukan Mantra Gayatri kepada Maharsi Visvamitra (India).

Mantram Gayatri tercantum dalam Rg. Weda III.62.10. Mantra Gayatri merupakan Ibu Weda (Gayatri Chandasam Mata, Weda Mata). Mantra Gayatri adalah 'Anna Purna', 'Ibu Jagad Raya', kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi oleh Ana Purna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan dan papan.

Begitu juga Kitab Suci Wedha diwahyukan di India oleh Ida Hyang Widhi Wasa melalui 7 Maha Rsi, yaitu :

  1. Rsi Atri
  2. Rsi Baradwaja
  3. Rsi Gratsamada
  4. Rsi Wasista
  5. Rsi Wiswamitra
  6. Rsi Wamadewa
  7. Rsi Kanwa.

Oleh Bhagawan Wiyasa, Wahyu yg diterima oleh 7 Maha Rsi tsb mendaftar menjadi 4 (Catur Wedha) dibantu oleh 4 orang Rsi sbb :

  1. ‌Rsi Paila - menyusun Reg Weda - Mahawakya : Prajnanam Brahma.
  2. Rsi Waisampayana - menyusun Yayur Weda - Mahawakya : Aham Brahma Asmi.
  3. Rsi Jaimini - menyusun Sama Weda - Mahawakya : Tat Twam Asi.
  4. Rsi Sumantu - menyusun Atarwa Weda - Mahawakya : Ayam Atman Brahman.

Agama Hindu Masuk Indonesia.

Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia.
Pada abad ke 4 yaitu tahun 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan), ke Jawa Timur pada pertengahan abad ke 8 prasasti Dinoyo, (kerajaan Kanjurukan), dan akhirnya menyebrang ke Bali.

Agama Hindu masuk Bali pd abad ke 8 M, Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti yang dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut :

Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu”
Artinya : 
Sang Yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”.

Beliau banyak membangun tempat suci utk umat Hindu misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Zaman Raja Bali Aga pertama Sri Kesari Warmadewa, dan zaman Raja Ugrasena, sdh biasa Para Suci / org-org India bekerja sm dg Raja Bali Aga dlm melakukan puja kpd Ida Hyang Widhi (Brahman).


Paska Raja Bali ditaklukkan Majapahit

Setelah Maha Patih Kebo Iwa wafat di Jawa, maka ditaklukkanlah raja Bali terakhir Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten oleh Majapahit th 1243. Masuknya Majapahit ke Bali maka secara bertahap terjadi perubahan dalam tatanan sosial dan budaya beragama di Bali. Apa yang berlaku di Majapahit, juga berlaku di Bali. Lontar-lontar di Bali dibawa ke Majapahit, Lontar-lontar di Majapahit dibawa ke Bali. Terjadi 2 terapan religi yang dianut oleh masyarakat Bali mulai saat itu, yaitu ada yang mengikuti religi Bali kuno dan ada yang mengikuti religi sejarah Majapahit, bahkan ada masyarakat yang melakukan kedua-duanya. Jika setiap Kamis Wage Sungsang (Sugiyan Jawa), rakyat Majapahit lah yang menyelenggarakan Yadnya. Jika setiap Jumat Kliwon Sungsang (Sugiyan Bali), rakyat Bali asli yg menyelenggarakan Yadnya.
Juga ada tonggak piodalan yg satu mengikuti sasih (bulan), dan satu yang mengikuti wuku.
Acara pemelastian yg satu mengikuti sasih ke Sanga (bulan ke-9), dan satu lagi mengikuti sasih kedasa (bulan ke-10). Juga dalam acara Rsi yadnya pediksan dlm pengesahan seorang pendeta, yg satu mengikuti Napak Wakil Bhatara Kawitan, dan yang satu lagi mengikuti Napak Kaki Guru Nabe, dllnya. terjadi perubahan adat dan budaya antara masyarakat Bali Aga dan Bali yang mempengaruhi budaya Majapahit.

Begitu juga saat Bali dikuasai oleh Belanda, daerah pemerintahan di Bali terbagi menjadi 8 daerah kekuasaan (kabupaten sekarang). Belanda jg ikut mengkotak-kotakkan pemimpin pemerintahan di Bali dg melintir Warna menjadi Kasta, memberikan gelar : Anak Agung, Cokorda, I Gusti dll kpd raja-raja di Bali. Rupanya Belanda juga ikut membentuk corak keagamaan Hindu di Bali yang menjadi latar belakang perubahan besar dalam tatanan sosial dan budaya di Bali. Terjadilah akulturasi antara budaya Bali Aga dengan budaya Majapahit, dan budaya Bali yg dipengaruhi Belanda, rupanya hal ini ikut memberikan corak Agama Hindu seperti yg kita warisi sekarang.


Paska Kemerdekaan Indonesia

Pada awal kemerdekaan Indonesia, agama Hindu masih belum resmi diakui oleh pemerintah saat itu, tentu ada syarat-syarat yang cukup komplek, seperti halnya syarat-syarat peribadatan yang harus sesuai dengan ideologi yaitu Pancasila.

Pada th 1950 Narendra Dev Pandit Shastri dan I Gusti Bagus Sugriwa adalah penyusun Mantra Puja Trisandya, bukan dikarang oleh mereka, tapi disusun. Puja Tri Sandya terdiri dari 6 beit. Beit pertama adalah Mantram Gayatri, beit ke 2 sd 6 diambil dari Upanisad dan teks Agama. Dan dimasukkan ke dalam bukunya yang berjudul Puja Trisandya.

Prof Narendra Dev Pandit Shastri adalah seorang tokoh Hindu dari India yang tinggal di Bali kawin dengan org Bali, yang ikut menjaga budaya Hindu di Bali. Beliau mengajarkan Catur Weda dan Upanisad. Beberapa karya dari Prof. Pandit Shastri diantaranya : Intisari Hindu Dharma, Kidung Yadnya (1950), Tri Sandhya (1950), Sejarah Bali Dwipa (1963), Weda Parikrama (1951) yang menjelaskan mantra-mantra yang sangat terkenal di kalangan kependetaan di Bali dan Lombok.

Pada tanggal 14 Juni 1958 Prof. Narendra Dev Pandit Shastri ikut menyusun petisi bersama-sama tokoh-tokoh Hindu lainnya yang isinya menyatakan bahwa Agama Hindu Bali (waktu itu disebut Hindu Bali) tidak menyimpang dari Pancasila, dan meminta persetujuannya.

Tokoh-tokoh yang memperjuangkan agama Hindu agar diakui secara resmi oleh pemerintah diantaranya adalah :

  • Prof. Dr. Ida Bagus Mantra 
  • I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,
  • Narendra Dev Pandit Shastri
  • I Ketut Bangbang Gde Rawi,
  • I Gusti Ketut Pudja.
  • dll.

Oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali dan jg tokoh dari India, Puja Tri Sandya dan Kitab suci Wedha yg dipakai melengkapi persyaratan selain persyaratan lainnya agar agama Hindu diterima sbg agama yg sah di Indonesia. Akhirnya tanggal 5 September 1958 terbitlah keputusan Menteri Agama yg mengakui Agama Hindu Bali sbg Agama yg sah.

Pada tanggal 23 Pebruari 1959, ketika parisada berdiri pertama kali didirikan di Denpasar Bali, namanya Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB). Penggagas berdirinya Parisada salah satunya Drs. Ida Bagus Mantra,  sbg sekretaris awal, dan tokoh-tokoh penting lainnya seperti :

  • Ida Pedanda Membuat Sidemen
  • I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Ida Bagus Gde Doster,
  • Gedong Bagus Oka, 
  • dll.

Pada th 1964 untuk memperkuat identitas nasional, Nama Parisada Hindu Dharma Bali ( PHDB ) berubah menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI)  menjadi Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia yang mengurus keagamaan dan sosial.  PHDI lahir dari gerakan reformasi kebangkitan Hindu di Indonesia, bertujuan mempersatukan umat Hindu di seluruh Nusantara.

Jadi Agama Hindu yg ada di Nusantara khususnya di Bali ini keberadaannya tdk dpt dipisahkan dg Hindu India, krn agama Hindu bisa diakui sebagai agama yg sah di Indonesia ada Mantra Gayatri (dalam Puja Trisandya beit 1), Kitab suci Wedha, nama 7 Maha Rsi penerima Wahyu Wedha. Dan nama Dewa-Dewi yg dipuja oleh umat Hindu semua tercantum dalam Kitab suci Wedha. Kalau ada umat Hindu melantunkan  mantra Gayatri, melantunkan Mantram Trayambakam (memuja Siwa Bermata Tiga), mengulang-ulang nama suci Tuhan, misalnya : Om Namah Siwaya, berulang-ulangdll, bukanlah berarti ke India-Indiaan, atau menjadi org India, melainkan itu adalah ajaran Agama Hindu, mentradisikan mantram Hindu sesuai Wedha.  

Sebagai orang baik dan bijak yang mencintai ajaran Leluhur (Hindu) supaya tdk kualat, jangan sampai kita melupakan Leluhur kita dan ajarannya, yaitu tabek : Rsi Wiswamitra penerima Wahyu Gayatri, 7 Maha Rsi penerima Wahyu Weda, Bhagawan Wyasa yang menyusun Catur Weda, Rasi Markandeya yang menyebarkan agama Hindu ke Bali, dan membuat pura Besakih.  Zaman kemerdekaan ada nama :  Ida Bgs Mantra,  I Gusti Bagus Sugriwa, Prof.  Narendra Dev Pandit Shastri (India), dll. 

Ida Rsi Agung Putra Natha Pandita Siliwangi Manuaba,  Banggalah menjadi Hindu  jangan sampai krn cinta meninggalkan Ajaran Leluhur, Cinta itu sebatas dupa sangat pendek, tapi Cinta kpd Ida Hyang Widhi melebihi segala-galanya.

Slogan Bung Karno yang sangat terkenal dan masih relevan zaman skrg yaitu, "JAS MERAH", jangan sekali-kali melupakan sejarah ***🙏


Sumber foto: Internet.

I Gusti Bagus Sugriwa

Prof. Narendra Dev Pandit Shastri

Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,

I Gusti Ketut Pudja.


I Ketut Bangbang Gde Rawi



Diolah dari berbagai sumber.


Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏



Tidak ada komentar:

Posting Komentar