Kamis, 02 Juli 2026

CATATAN SATSANG: DHARMA, YUGA DAN WEDA BERSAMA SAHABAT.

 

Sumber foto Sahabat
Ilustrasi:
Mandala kosmik 
yang menggambarkan perputaran
Satya, Treta, Dwapara, dan Kali Yuga.


1. Weda dan Bhagawan Wyasa

Sebelum ada Catur Weda versi Wyasa, digunakan Weda yang utuh dan belum dibagi. Weda tersebut bernama Eka Weda atau Weda Tunggal. Isinya tercampur antara mantra, pujian, nyanyian, upacara, dan doa, sehingga menjadi satu naskah yang sangat tebal.

Pada masa Satya Yuga, Treta Yuga, dan awal Dwapara Yuga, daya ingat manusia sangat kuat, tubuh sehat, dan usia panjang, sehingga mampu menghafal naskah setebal itu.

Weda bersifat apauruseya, yang artinya bukan merupakan buatan manusia tertentu. Isinya telah ada sejak awal penciptaan. Weda diterima oleh Sapta Rsi, yaitu tujuh Maha Rsi, melalui Sruti  yang berarti “yang didengar” saat bertapa. Para Rsi mendengar Weda secara langsung dari Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi melalui tapa. Weda turun ke dalam hati para Rsi, bukan ditulis oleh mereka. Di antaranya adalah Rsi Atri, Rsi Bharadwaja, Rsi Gritsamada, Rsi Vasistha, Rsi Vishwamitra, Rsi Vamadeva, dan Rsi Kanva.

Pada setiap akhir Dwapara Yuga selalu muncul seorang "Wyasa" yang bertugas merapikan Weda. Wyasa pada zaman ini adalah Krishna Dwaipayana, putra Parasara. Wyasa pada zaman sebelumnya adalah orang yang berbeda. Dengan demikian, Wyasa adalah nama jabatan, bukan nama satu orang. Beliau adalah Chiranjiwi, yaitu yang hidup dari awal Kalpa sampai akhir Kalpa untuk menjaga Weda.

Pada akhir Dwapara Yuga, memasuki awal Kali Yuga, usia manusia menjadi pendek, yaitu sekitar 100 tahun, dan daya ingat melemah. Ketika Weda tetap dalam satu naskah tebal, bertanya-tanya manusia tidak mampu menghafalnya sehingga Weda dapat punah.

Maka Wyasa melakukan “revitalisasi” Weda. Beliau bukan "mengarang", melainkan "mengelompokan dan merapikan" Eka Weda menjadi empat kelompok agar mudah dipelajari, yaitu:

  1. Rg Weda memuat pujian,
  2. Sama Weda memuat nyanyian,
  3. Yajur Weda memuat tata cara upacara,
  4. Atharwa Weda memuat doa dan pedoman kehidupan sehari-hari.

Kemudian beliau mengajarkannya kepada empat murid: Paila untuk Rg Weda, Vaisampayana untuk Yajur Weda, Jaimini untuk Sama Weda, dan Sumantu untuk Atharwa Weda.

Analoginya: Perpustakaan telah ada. Wyasa adalah pustakawan yang menyusunnya menjadi empat rak dan katalog yang terdiri dari Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad.

Kesimpulan : Pengelompokan Catur Weda oleh Begawan Wyasa terjadi pada akhir Dwapara Yuga, sekitar 5128 tahun yang lalu. Namun inti ajaran Weda itu sendiri bersifat kekal dan tidak memiliki awal maupun akhir. Weda tidak pernah “disusun dari nol”.


Foto sumber Sahabat
Ilustrasi:
Begawan Wyasa Menyusun Weda
menjadi Catur Weda.


2. Siklus Yuga: Drama Sama, Pemain Berganti

Setiap pergantian zaman selalu terjadi perang besar. Misalnya, pada Treta Yuga terjadi perang antara Rama melawan Rahwana, yang dikenal dengan Perang Ramayana. Pada Dwapara Yuga terjadi perang antara Pandawa melawan Kaurawa, yang dikenal dengan Perang Mahabharata.

Pada setiap akhir Dwapara Yuga selalu terjadi perang besar seperti Mahabharata sebagai "cerita pokok" yang berulang. Dharma pasti merosot, pasti terjadi perang antara dharma melawan adharma, dan pasti ada Awatara Wisnu yang turun. Peran-peran utama pun berputar, namun nama, tempat, dan peristiwanya berbeda-beda pada setiap Kalpa dan Caturyuga. Perbedaan kisah ini disebut Kalpa Bheda.

Hal ini merupakan janji Tuhan dalam Bhagawadgita 4.7-4.8:

yadā yadā hai dharmasya glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmyaham”..  dst.

Maknanya:

Ketika dharma merosot dan adharma merajalela, pada saat itu Aku menjelma.Untuk melindungi orang-orang yang baik, menghancurkan orang-orang durhaka, dan menegakkan kembali dharma”

Setiap hati manusia adalah sebuah Dharmakshetra. Di dalamnya terjadi peperangan terus-menerus antara kekuatan kebaikan dan keburukan.
"Arjuna dan Abimanyu" ada di dalam diri kita. Arjuna ibarat jiwa yang mau duduk mendengarkan "Gita" saat bimbang, lalu bangkit memegang "busur dharma". 

Abimanyu ibarat kita yang hidup dengan keterbatasan, ilmu tidak lengkap, memikirkan masalah, namun tetap maju sesuai tugas walaupun berat. 
"Akhir Dwapara pribadi" adalah saat kita mentok. Pilihannya adalah membuang busur sehingga menjadi Kurawa, atau memegang busur sehingga menjadi Arjuna.

Abimanyu adalah definisi "gugur tetapi menang". Pada usia 16 tahun, dikeroyok tujuh Maharathi, tetapi tidak mundur selangkahpun. Itu bukan kesialan. Itu adalah puncak dharma.



Foto sumber Sahabat.
Ilustrasi:
Dharmakshetra di Dalam Hati, 
Simbol peperangan antara Arjuna, 
dharma, dan bayangan adharma 
di dalam hati manusia.

3. Karmaphala Oknum Pejabat yang Dzalim

Kali Yuga ini ibarat kehidupan yang "pas-pasan bertemu oknum pejabat yang bertindak sewenang-wenang". Dwapara Yuga yang lalu mungkin kita adalah "raja kaya yang diuji kesombongannya". Yuga berikutnya mungkin kita akan menjadi "pertapa miskin yang diuji kesabarannya".

Oknum Pejabat sedang "memanen Prarabdha baik", yaitu karma baik masa lalu yang menyebabkan mereka menjadi pejabat.
Namun setiap keputusan yang dzalim sama artinya dengan "menabung Agami karma buruk" yang pasti akan ditagih, baik saat hidup sekarang, di akhir hidup, maupun pada kelahiran berikutnya.

Hukumnya semakin tinggi kedudukannya, maka jatuhnya akan semakin keras dan sakit. Tugas kita adalah jangan ikut menjadi “dzalim” karena marah, melainkan melakukan dharma kita sendiri dengan baik.


4. Hukum Karmaphala

Karmaphala ibarat WiFi yang tidak terlihat, tetapi pasti terhubung. Weda menyebutkan ada tiga jenis hasil karma:

  1. Sancita Karma  adalah tumpukan karma masa lalu yang masih berada di "gudang".
  2. Prarabdha Karma adalah karma yang telah turun menjadi "nasib saat ini". Inilah yang sedang mereka jalani sekarang, yaitu menjadi pejabat, disanjung, dan memiliki kekuasaan.
  3. Agami Karma adalah karma baru yang dibuat pada saat ini, seperti korupsi, dzalim, dan membuat rakyat menderita.

Dengan demikian, oknum pejabat yang dzalim itu sedang "memanen Prarabdha baik" dari karma baik kelahiran lalu. Karena itulah ia dapat menjadi pejabat. Namun bersamaan dengan itu ia juga "menabung Agami yang jelek" setiap kali membuat keputusan yang dzalim.


5. Manusia Lupa Masa Lalu adalah Anugerah

Lupa ibarat kertas putih yang baru. Lupa bukan berarti hukum karma hilang, melainkan agar kita fokus menanam karma baik pada saat ini. 

Ketika manusia mengingat semua kelahiran sebelumnya, maka fokus akan buyar dan muncul rasa balas dendam, sehingga samsara terhenti.

Tuhan tidak memberikan manusia mengingat masa lalu. Coba bayangkan apabila manusia mengingat semuanya. Kita akan ingat pernah menjadi raja yang kejam pada zaman Dwapara sehingga sekarang merasa malu. Ingat pernah menjadi anak dari orang lain pada dua kelahiran lalu sehingga sekarang canggung memanggil "Ibu". Ingatlah pernah membunuh orang di Kurukshetra sehingga sekarang tidak dapat fokus bekerja.


6. Kirtan adalah Tabungan Paling Aman

Dalam Bhagawadgita 9.22 disebutkan :

"ananyāś cintayanto māṁ ye janāḥ paryupāsate, teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ yoga-kṣemaṁ vahāmy aham"

Artinya :

Tetapi orang-orang yang selalu menyembah-Ku dengan pikiran tanpa penyimpangan, selalu memikirkan-Ku, bagi mereka yang selalu bersatu dengan-Ku, Aku sendiri yang memikul apa yang kurang dan Aku menjaga apa yang telah mereka miliki.”

Kirtan - mengingat Tuhan dengan suara. Ini adalah perisai di "cakra wyuha" Kali Yuga. Harta dapat diambil, namun nama Tuhan di dalam hati tidak akan dapat diambil.



Foto sumber Sahabat
Ilustrasi:
Suasana khusyuk para bhakta
melantunkan Kirtan - nama Tuhan,
sebagai perlindungan di Kali Yuga.



7. Doa Agar Lahir Menjadi Manusia Lagi

Lahir sebagai manusia, memiliki akal, dan mendapatkan bimbingan Guru adalah sulabha, yang artinya sangat sulit didapat. Itu adalah hasil karma baik dan rahmat Tuhan.
Selama setiap hari mengisi "bensin" dengan kirtan dan dharma kecil, seperti jujur, menolong, dan tidak menyebarkan kebencian, maka peluang untuk lahir menjadi manusia lagi guna melanjutkan bhakti menjadi sangat besar.

Bhagawadgita 8.6, Kresna berjanji:

"yaṁ yaṁ vāpi smaran bhāvaṁ tyajaty ante kalevaram, taṁ tam evaiti kaunteya sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ"

Artinya :

“Wahai putra Kunti, keadaan apa pun yang diingat seseorang ketika ia meninggalkan badan pada saat kematian, ia pasti akan mencapai keadaan itu, karena selalu memikirkannya dalam hidupnya.”


8. Kesimpulan Inti

  1. Weda bersifat kekal. Wyasa hanya berperan sebagai kurator pada setiap pergantian Yuga. Catur Weda disusun sekitar 5128 tahun yang lalu.
  2. Cerita dharma melawan adharma berputar dan terus terjadi pada setiap zaman, agar setiap jiwa mendapatkan giliran untuk belajar dan naik kelas.
  3. Setiap hati manusia adalah sebuah Dharmakshetra, tempat terjadi peperangan terus-menerus antara kebaikan dan keburukan. Kemenangan di Kali Yuga adalah milik orang-orang yang tetap waras, tetap berbakti, dan tetap menjadi manusia jujur walaupun di sekelilingnya terdapat kebatilan.

Semoga catatan kecil ini berguna dalam menebar Vidya untuk merawat dharma. Swaha. Kirang langkung nunas sinampura.
Om Santih, Santih, Santih Om. 🙏***


Artikel lainnya :

  1. Pralaya: Pengertian, Jenis, dan Hitungan Waktu Kiamat, Makna Spiritual Hindu
  2. KERAJAAN ALENGKA: Kota Emas Berkah Siwa Kepada Sukesa


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Rabu, 01 Juli 2026

Pralaya: Pengertian, Jenis, dan Hitungan Waktu Kiamat, Makna Spiritual Hindu



Gambar Sumber Sahabat.
Ilustrasi:
"Sat adalah teman sejati yg tak pernah
 meninggalkanmu. Ia diam di dalam dirimu,
 setenang teratai di atas air, seterang cahaya 
di balik gelap."


"Bayangkan 1 hari Brahma saja = 4,32 Miliar tahun kita. Kita hidup 70-100 tahun. Tulisan ini untuk mengingatkan, agar kita tidak terlena."


1. Pengertian Pralaya

Pralaya  berarti peleburan/penghancuran atau pepralinan alam semesta beserta isinya. Dalam kosmologi Hindu, pralaya sangat bergantung pada zaman dunia. Pada saat dunia mencapai usia tertentu maka Pralaya akan terjadi.

Dewa Brahma adalah Dewa Pencipta, bagian dari Tri Murti - Saguna - berwujud, mempunyai umur panjang, lahir dan mati. Dewa Brahma punya hari.  Sedangkan Brahman  adalah  Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi Wasa,  Nirguna – tidak berwujud. Beliau Kalatita = melampaui waktu. Tidak tidur, tidak bangun, tidak ada siang-malam, tanpa sifat, kekal, tidak lahir/tidak mati. “ Brahman Tidak Punya Hari ”. Berbeda dengan Brahma, punya hari.

2. Jenis Pralaya
Dalam Purana disebutkan ada 5 jenis Pralaya yaitu :

  1. Pratisandhi Pralaya atau Manwantara Sandhi adalah pralaya yang terjadi setiap akhir Manwantara, yaitu akhir 1 periode Manu.
  2. Naimitika Pralaya  adalah Pralaya yang terjadi di akhir setiap 1000 Mahayuga, yaitu 1 hari Brahma.
  3. Prakritika Pralaya  adalah Pralaya total atau batas semesta yang terjadi pada saat usia Brahma mencapai 100 tahun Brahma.
  4. Atyantika Pralaya , terjadi secara individu melalui transmisi spiritual. Ini adalah Moksa, yaitu ketika jiwa seorang   mencapai penyatuan sempurna dengan Brahman.
  5. Nitya Pralaya adalah proses kematian dan kelahiran yang terjadi setiap detik dalam kehidupan, seperti matinya sel-sel tubuh yang kemudian digantikan sel baru. Jadi, pralaya ini terjadi bahkan di dalam diri kita sendiri.

Berikut ini hanya dibahas tentang Pratisandhi Pralaya, Naimittika Pralaya dan Prakritika Pralaya / Mahapralaya karena meliputi peleburan alam semesta yang dahsyat.


1). Pratisandhi Pralaya  / Manwantara Sandhi

Pralaya Pralaya atau Manwantara Sandhi disebut juga pralaya kecil adalah pralaya yang terjadi setiap akhir Manwantara, akhir 1 periode Manu, yaitu setiap 71 Mahayuga + 1 Shandi. Lama Pratisandhi Pralaya = 1 Satya Yuga yaitu 4.800 tahun dewa = 1.728.000 tahun manusia.

Yang lebur : Tiga loka :  Bhuloka /bumi, Bhuvarloka, Svarloka /surga. Semua gunung, lautan, tumbuhan, hewan, manusia, peradaban musnah. 

Manu, Sapta Rshi, Indra, dan para dewa yang menjabat di Manwantara itu "pensiun"/turun jabatannya. Makhluk yang belum moksa di 3 loka bawah ditarik istirahat ke Maharloka  selama 1 Satya Yuga = 4.800 tahun dewa = 1.728.000 tahun manusia, hanya raganya lebur.

Yang tidak lebur : Maharloka, Janarloka, Tapoloka, Satyaloka/Brahmaloka beserta para resi danmakhluk moksatva. Bibit semesta, hukum karma, unsur dasar Prakriti, dan inti ajaran Veda yang diselamatkan oleh Brahma untuk dipakai lagi saat Manwantara baru mulai. Jadi ini "reset ringan", akhiri kecil.



Gambar Sumber Sahabat 
Ilustrasi:  Pratisandhi Pralaya.
Saat Manwantara berakhir. Tiga Loka tenggelam dalam kabut, namun Maharloka 
tetap bersinar sebagai tempat jiwa 
menunggu Manu baru".


2). Naimittika Pralaya.

Pralaya parsial terjadi pada setiap malam Brahma, tetapi alam semesta dalam bentuk benih tetap ada. Ini disebut juga “kiamat kecil”.

Yang lebur : 3 loka — Bhuloka/Bumi, Bhuvarloka, Swarloka. Semua manusia, hewan, asura, dewa tingkat rendah lebur. 

Yang tidak lebur : Mahar-loka, Jana-loka, Tapo-loka, Satya-loka. Brahma, Wisnu, Siwa, para Rsi, Dewa Tinggi. Mereka hanya “istirahat”. 
Besoknya = hari Brahma baru. Brahma bangun dan mencipta ulang dari ingatan kalpa sebelumnya. Jadi: Brahma, Wisnu, Siwa, dll sosoknya masih sama. Ini disebut Sarga — penciptaan ulang. Ibarat Beliau tidur - bangun, Beliau masih orang yang sama, dan dimulai kembali dari awal zaman (kehidupan baru).

Periode dari Sathya Yuga sampai dengan Kali Yuga lamanya 12.000 tahun dewa.
1 tahun dewa = 360 tahun manusia. Jadi 12.000 tahun Dewa = 12.000 x 360 tahun = 4.320.000 tahun manusia, ini disebut 1 Maha Yuga.

Setelah 1.000 Mahayuga = 1.000 x 4.320.000 tahun manusia, = 4,32 Miliar tahun manusia  disebut 1 Kalpa = 1 hari Brahma. Saat inilah terjadi Naimittika Pralaya = tidurnya Brahma.

Konsep ini ditegaskan dalam Bhagawad Gita Bab 8 Sloka 17-19:
" sahasra-yuga-paryantam ahar yad brahmaṇo viduḥ |
rātriṃ yuga-sahasrāntāṃ te 'ho-rātra-vido janāḥ || 8.17

" avyaktād vyaktayaḥ sarvāḥ prabhavanty ahar-āgame |
rātry-āgame pralīyante tatraivāvyakta-saṃjñake || 8.18`

" bhūta-grāmaḥ sa evāyaṃ bhūtvā bhūtvā pralīyate | 
rātry-āgame 'vaśaḥ pārtha prabhavaty ahar-āgame || 8.19`

Terjemahan bebas :

Para bijak tahu: siang Brahma = 1000 Mahayuga, malam Brahma = 1000 Mahayuga juga. Saat siang tiba semua ciptaan muncul dari "tak nyata". Saat malam tiba semua larut kembali ke sana. Wahai Arjuna,makhluk ini berulang kali lahir dan larut dengan sendirinya, tanpa daya.



Gambar Sumber Sahabat 
Ilustrasi : Naimitika Pralaya.
"Brahma istirahat tidur. 14 Loka lebur, waktu berhenti. Semua jiwa larut/terserap tanpa bentuk di dalam Wisnu, menunggu Kalpa baru saat Brahma bangun dari teratai."


3). Prakritika Pralaya / Mahapralaya

Prakritika Pralaya atau Mahapralaya - berhenti total. Pada tahap ini, seluruh alam semesta beserta unsur-unsur materi prakriti  melebur kembali ke Nirguna Brahman. Tidak ada bentuk yang tersisa selain Brahman.

Semua Lebur : Brahma, Wisnu, Siwa - Saguna; 14 loka, para dewa, semua manusia, hewan dll hancur total.
Hanya tinggal Nirguna Brahman — "Kesadaran  murni tanpa bentuk". Lalu dari kekosongan itu muncullah Brahma baru, Wisnu baru, Siwa baru, ciptaan baru. Srishti-Sthiti-Pralaya  — mencipta, memelihara, peleburan — berputar terus tanpa awal akhir. Tapi Tattva atau esensinya tetap sama. Aktor Ibarat hanya mengganti baju peran baru, tapi Dalangnya tetap Satu — Tuhan.

Bhagavad Gita 8.20 menyebutkan : " paras tasmāt tu bhāvo 'nyo 'vyakto 'vyaktāt sanātanaḥ" — "Di atas itu ada keberadaan lain yang kekal, tidak termanifestasi."

Prakritika Pralaya atau Mahapralaya akan terjadi ketika usia Brahma 100 tahun Brahma.
1 hari Brahma = 4,32 Miliar tahun manusia.
1 tahun Brahma = 360 × 4,32 Miliar tahun manusia = 1,5552 Triliun tahun manusia.
100 tahun Brahma = 100 × 1,5552 Triliun tahun manusia = 155,52 Triliun tahun manusia .
Saat inilah akan terjadi Prakritika Pralaya atau Mahapralaya.

Prakritika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep pendukung menurut kepercayaan yang lain?


Gambar Sumber Sahabat
Ilustrasi:  
Mahapralaya/Prakritika  Pralaya.
“Akhir 100 tahun Brahma.14 loka + Trimurti 
larut ke Nirguna Brahman. Hanya Cahaya 
Tanpa Bentuk yang tersisa."


3. Posisi Kita Saat Ini

Usia Brahma sekarang sudah jalan 50 tahun + 1 hari. 50 tahun Brahma yang lalu = paruh pertama umur Brahma.
Saat ini kita berada di Kalpa ke-51 (hari ke 51 Brahma) bernama: Śveta Varāha Kalpa.
Manwantara yang berjalan: Vaivasvata Manwantara, Manwantara ke-7.
Mahayuga yang berjalan: Mahayuga ke-27 sudah lewat, Mahayuga ke 28 kurang. Tahun Saka 1948, tahun Kali Yuga 5128.

Rincian :
Jadi umur dunia sekarang (saat ini) baru = (71+72+71+72+71+72+27) Mahayuga + (4.800+3.600+2.400) tahun dewa + 5.128 tahun manusia = 456 Mahayuga + 10.800   tahun para dewa + 5128 tahun manusia = 1.973.816.128 tahun .

Berarti untuk mencapai 1 hari Brahma = 1 Kalpa = Naimittika Pralaya /  Pralaya kecil  masih kurang lagi 2,3 Miliar tahun manusia.


Ketika semesta mencapai 100 tahun Brahma (Usia Brahma 100 tahun Brahma) = 155,52 Triliun tahun manusia, maka akan terjadi Pralaya besar/ Mahapralaya/  Prakritika Pralaya.  Ini memerlukan waktu lagi sekitar 153,546 Triliun tahun manusia.

Melihat angka sebesar itu, kita tidak ada apa-apanya, bagaikan debu. Pantaslah umur kita hanya "kedipan mata" Brahma.

Menurut kitab suci : Telah terjadi berkali-kali dalam siklus waktu kosmik. Alam semesta telah mengalami banyak siklus Kalpa dan Prakritika Pralaya yang terjadi sebelumnya.


4. Bagaimanakah Kita Dalam Jelmaan Berikut?

Diantara Catur Yuga, Kali Yuga paling singkat, berlangsung selama sekitar 432.000 tahun manusia. Zaman kali baru berjalan sekitar 5.121 tahun manusia. Berarti, Kali Yuga masih sekitar 426.879 tahun lagi. Dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, kita berpeluang menjelma lebih dari 4.000 kali.

Selama manusia belum mencapai Moksa — menyatunya Atman  dengan Paramatma , bebas dari punarbawa  atau re-inkarnasi, selama itu terus akan lahir ke-dunia. Kelahiran berikutnya tidak terjadi secara kebetulan. Ada 3 hal utama yang menentukannya:  Karma, Guna dan Vasana.

Karma adalah hukum sebab-akibat dari segala perbuatan, ucapan, dan pikiran selama hidup kita.
Singkatnya: Karma menentukan “kondisi” kelahiran  - seperti apa kehidupan yang akan kita jalani.

Guna adalah “warna batin” yang paling dominan pada saat kematian, apakah Sattwam, Rajas atau Tamas.
Singkatnya: Guna menentukan “tingkatan makhluk”  - apakah lahir sebagai dewa, manusia, atau hewan.

Vasana adalah bekas kebiasaan, hobi, bakat, dan keinginan kuat yang masih tersimpan dalam pikiran bawah sadar.
Singkatnya: Vasana menentukan “bakat dan kecenderungan”  yang kita bawa sejak lahir.

Ketiga hal ini bekerja secara bersamaan: 

  • Karma  = Menentukan kondisi hidup: kaya/miskin, sehat/sakit, umur panjang/pendek.
  • Guna  = Menentukan wujud kelahiran: dewa/manusia/hewan.
  • Vasana  = Menentukan sifat, bakat, dan minat sejak lahir.

Kesimpulannya: Manusia bisa lahir menjadi binatang, dan sebaliknya binatang bisa lahir menggunakan tubuh manusia, tergantung: Karma, Guna dan Vasana masing-masing.

Demikian secara garis besar tentang pralaya dalam Agama Hindu.  Teratai tetap putih di atas air yang keruh. Begitu juga pikiran yang bersahabat dengan Sat. Tetap jernih, meski dunia bising. Satyam vada, Dharmam charaSemoga coretan kecil ini bermanfaat dalam menebar Vidyā untuk merawat dharma. Apabila ada yang tidak tepat, mohon maaf. 🙏



Gambar Sumber Sahabat
Ilustrasi : Kali Yuga Saat ini
“Gedung menjulang tinggi, batin meredup. 
Dharma hidup 1 kaki, manusia duniawi 
sibuk menunggu Kalki Avatar."



Sumber:
Dirangkum dari kutipan wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dalam berbagai buku Dharma, hasil diskusi dengan Sahabat tentang Pralaya, dan sumber: Weda serta Purāṇa.


Artikel lainnya:

  1. Hati Yang Murni, Hidup Yang Sederhana : Ajaran Jaman Kali
  2. DUNIA SEMAKIN SESAK - "Tentang Jiwa, Karma, dan Migrasi Lahiran"

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏