Dengan demikian, dalam satu ucapan Om sudah terkandung Tri Murti, Tri Guna, Tri Loka, keempat Weda, serta empat keadaan kesadaran manusia.
Dalam yoga dan japa, mengucapkan Om itu bukan sekadar mantra. Getaran "Om" itu menyelaraskan napas, pikiran, dan badan kita dengan getaran alam semesta. Makanya setiap mantra selalu diawali Om. Om itu ibarat " "password " untuk masuk ke doa.
Sedangkan kata “kara” dari bahasa Sanskerta artinya “bentuk, wujud, yang membuat”.
Jadi "Omkara" artinya "Bentuk suci dari suara Om".
Secara niskala, Omkara adalah simbol Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang Nirguna. Dan agar mudah dipahami manusia, Tuhan kemudian bermanifestasi dari sifat Nirguna ke Saguna, atau dari Niskala ke Sakala.
Oleh karena itu Omkara disebut Bijaksana Mantra, biji dari semua aksara dan mantra Weda. Bertujuan untuk menyebarkan ajaran suci Tuhan yang kekal abadi.
Dalam Aksara Bali, Omkara juga diartikan sebagai perlambang Panca Maha Bhuta :
- Nada yaitu Bayu, angin
- Windu yaitu Teja, api, matahari
- Arda Candra yaitu Apah, udara, bulan
- Angka Telu yaitu Akasa, langit, eter
- Tarung/Tedong yaitu Pertiwi, bumi, tanah.
2. Kenapa dijadikan Simbol Visual?
Tuhan itu Nirguna artinya tanpa bentuk. Tapi pikiran kita susah fokus ke "kekosongan". Manusia membutuhkan bentuk untuk mengingat yang tanpa bentuk.
Maka rsi memberi kita simbol Om. Melihat Om sama dengan langsung mengingat sumber, ingat Dharma, ingat menyembah.
3. Bentuk Aksara Omkara
Secara umum ada 2 bentuk Omkara suci yang paling sering digunakan umat Hindu di Indonesia:
- Omkara Aksara Bali: ᬒᬁ. Ini bentuk yang berkembang di Bali sejak abad VIII/IX.
- Omkara Aksara Dewanagari: ॐ. Ini bentuk yang berkembang di India. Banyak dipakai di buku Weda, kuil, dan umat Hindu sedunia.
Baik itu bentuk Aksara Dewanagari ॐ, maupun Aksara Bali ᬒᬁ keduanya isinya sama: getaran suci itu.
Sama seperti _air_, wadahnya boleh berbeda, tapi isinya tetap satu. Di Indonesia kita menghormati keduanya, namun untuk identitas nasional kita mengutamakan Omkara Aksara Bali ᬒᬁ .
Omkara Aksara Dewanagari
Omkara Aksara Bali.
4. Sejarah Omkara Di Nusantara Dan Di Dunia
4.1. Akar "Aum" dari India Kuno
Kata Aum berasal dari tradisi pertapaan kuno India dan kemudian tertanam ke dalam ajaran Weda. Chandogya Upanisad, salah satu teks tertua dari Sama Weda, menceritakan bagaimana suara Aum diucapkan oleh Dewa Brahma saat bermeditasi atas dunia ciptaan-Nya. Oleh karena itu Aum melambangkan keseluruhan penciptaan.
4.2. Sejarah Penggunaan Simbol di Indonesia
Sebelum abad ke-11, simbul "Om" di Nusantara ditulis menggunakan Aksara Pallawa dan Aksara Kawi yang berasal dari India Selatan. Bentuknya mengikuti Aksara Dewanagari ॐ, cikal bakal dari Aksara Bali ᬒᬁ. Dengan demikian, bunyi “Om” sudah ada sejak Weda masuk ke Nusantara.
Baru pada sekitar abad ke-11 Masehi, bentuk visual Omkara dengan Aksara Bali seperti ᬒᬁ pertama kali dibakukan oleh Maha Rsi Ida Bhatara Mpu Kuturan. Hal ini tertuang dalam naskah beliau Tutur Kuturan. Sejak saat itulah bentuk Aksara Bali untuk Om mulai digunakan secara luas di Bali.
4.3. Om dalam Berbagai Aksara Dunia
Om atau Aum ditulis dalam berbagai aksara sesuai budaya setempat. Di antaranya Aksara Dewanagari, Tamil, Tibet, Bali, Bangla, Jain, Gurmukhi, hingga Tionghoa.
Terlepas dari perbedaan bentuknya, makna dan kesuciannya tetap satu. Om mewakili seluruh realitas di seluruh alam semesta.
5. Asal Usul Omkara Aksara Bali
Omkara bukan barang baru. Berdasarkan penelitian, aksara suci ini sudah ditulis di Bali sejak abad VIII/IX menggunakan Aksara Pra-Nagari. Selanjutnya berevolusi menjadi Aksara Bali Lumrah/Bali Baru turunan Aksara Kawi, yang kemudian dikembangkan dan dibakukan bentuknya oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11.
Ongkara merupakan simbol suci untuk mempermudah umat Hindu menuju Tuhan, SAT yang tak berwujud.
Bukti fisiknya bisa dilihat di Pura Besakih. Penempatan Balai Omkara di kiri-kanan Candi Kurung sudah sesuai tutunan Weda. Tujuannya agar umat mudah menjumpai simbol tersuci ini .
6. Logo Agama Hindu di Indonesia
6.1. Masa Tahun Sebelum 1945
Sebelum Indonesia merdeka, Hindu di Nusantara tidak memiliki satu logo resmi yang ditetapkan secara nasional.
Yang ada adalah simbol-simbol suci yang dipakai sesuai desa, kala, patra.
Di Bali ada Swastika, Omkara, Padma, Surya Majapahit, Lingga Yoni.
Di Jawa ada Cakra, Teratai, Gunungan.
Karena Hindu menganut Sanatana Dharma yang fleksibel, maka tidak ada satu simbol yang diwajibkan untuk seluruh umat.
6.2. Masa Tahun 1945 s/d 1958
Setelah tahun 1945, negara Indonesia mensyaratkan setiap agama memiliki identitas resmi untuk KTP, sekolah, dan administrasi.
Pada masa itu umat Hindu di Indonesia masih sering disebut penganut "Agama Bali". Agar mendapat pengakuan dari negara, para tokoh bersama masyarakat berjuang memakai nama "Agama Hindu" agar lebih universal.
Para tokoh umat Hindu kemudian bermusyawarah mencari simbol yang mempersatukan umat Hindu Bali, Jawa, Kalimantan, dan lainnya, sekaligus dapat dipahami oleh umat Hindu di India.
6.3. Masa Setelah Tahun 1958.
Tahun 1958 Agama Hindu diakui sebagai agama yang sah di Indonesia. Untuk identitas administrasi negara, disepakati memakai simbol Omkara Aksara Bali ᬒᬁ bukan Aksara Dewanagari ॐ. Pertimbangannya agar memiliki ciri khas budaya Nusantara.
Keputusan ini kemudian diperkuat oleh PHDI pada tahun 1960-an sebagai organisasi umat Hindu di Indonesia.
Namun apabila ada umat yang memakai Aksara Dewanagari ॐ, hal itu tidak salah, karena hakikatnya adalah Simbol Tuhan yang sama.
6.4. Pelurusan : "Om" dan "Ong".
Pertama, yang baku menurut Weda.
Baik Omkara Aksara Bali maupun Omkara Aksara Dewanagari ॐ , adalah Aksara suci yang pengucapannya dan penulisannya dengan hurup latin"Om".
Dari dulu bentuk "Om" inilah yang dipergunakan di surat-surat administrasi negara, dan di buku-buku pelajaran Agama di Indonesia.
Kedua, dari mana muncul tulisan "Ong"?
Ini adalah masalah transliterasi ke huruf Latin.
Dalam Aksara Bali ᬒᬁ bunyi akhirnya sengau. Beberapa orang lalu mengejanya menjadi "Ong" agar mudah dibaca. "Ong" hanyalah cara mengeja bunyi sengau.
Masalahnya, jika ditulis "Ong" orang awam mengira itu kata baru yang berbeda dengan "Om" dari India.
Kesimpulannya, baik 'Om' maupun 'Ong' yang dimaksud adalah Merujuk Aksara Suci ᬒᬁ.
Isi dan maknanya tetap satu, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang baku dalam pengucapan dan penulisan hurup latin untuk administrasi negara ditulis "Om".
6.5. Pesan Dharma dari Omkara
Omkara mengingatkan kita 3 hal:
- Sumber : Kita semua berasal dari satu Nada, Satu Tuhan. Ekam sat viprah bahudha vadanti.
- Keseimbangan : Ada unsur Apah, Teja, Bayu, Akasa, dan Pertiwi. Hidup harus seimbang sekala-niskala.
Realita : Simbol yang mudah dijumpai, tetapi yang sulit adalah merealisasikan simbol suci itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dewi Saraswati sendiri diwujudkan dengan aksara “Omkara”. Artinya setiap kita belajar, menulis, dan bekerja, kita sedang memuja Omkara.
Penutup
Omkara Aksara Bali bukan sekedar gambar. Itu nadanya universal, pengingat bahwa Tuhan itu Esa, Dharma itu satu, meskipun jalan dan bahasanya banyak.
Demikian tulisan singkat ini, semoga dengan memahami Omkara, kita tidak hanya pandai mengucapkannya saat sembahyang, namun juga mampu menghidupkannya: dalam pikiran yang suci, ucapan yang benar, dan perbuatan yang dharmik.
Tulisan ini merupakan rangkuman Satsang dengan Sahabat. Ditulis untuk Menebar Vidya. Jika ada kekeliruan mohon diluruskan dengan Prema /kasih. Sukma.
Om Shanti Shanti Shanti Om. 🙏
Simbul-simbul dalam Hindu
Sumber gambar Internet
Rujukan Ringkas.
Ditulis berdasarkan: Kitab Suci Weda dan Bhagavad Gita, Lontar Tutur Kuturan, Hasil Penelitian BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), tentang Evolusi Aksara Omkara di Bali, Sejarah PHDI, dan Kesepakatan Umat Hindu Indonesia, Inti Sari Bhagawadgita "Wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba".
Artikel lainnya:
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem.Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi.Demikian permakluman sy.🙏