Hari Raya Nyepi sangat sakral bagi umat Hindu dan dihormati oleh seluruh dunia, bahkan Bandara Internasional Ngurah Rai saja ditutup, semua pesawat dari berbagai Negara tidak terbang ke Bali saat Nyepi. Inilah bentuk toleransi. Nyepi dengan Catur Brata penuh, di dunia hanya ada di Bali satu kali setahun.
Namun Nyepi 2026 ini muncul wacana perubahan Tatacara Nyepi yang sudah berlangsung berabad-abad, namun usaha itu tidak disetujui.
Tdk ada satupun yg membahas apa sebenarnya makna Nyepi itu, utk apa dirayakan? Sekilas pandangan sy tentang Nyepi yang sangat sakral sebagai pengakuan Kemahakuasaan Ida Hyang Widhi Wasa. Tentu saja apa yg sy buat ini tdk mengklaim benar. Karena berpendapat adalah hak setiap orang, atas dasar itulah sy menulis ini, dan minta maaf kalau tidak berkenan.
1. Keadaan Sebelum Penciptaan dalam Weda
Dalam kitab suci Hindu, seperti Rigveda dan Upanishad, disebutkan sebelum terciptanya dunia adalah keadaan gelap yang disebut Asat atau Avyakta .
Asat atau Avyakta adalah keadaan yang tidak termanifestasi, tidak memiliki bentuk atau sifat, dan tidak dapat dipahami oleh manusia, kosong, yang hanya ada Tuhan, sering disebut jaman " Duk Tan Hana Paran-Paran Anrawang Anruwung " artinya: ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya tidak menentu.
"Apa yang menggantung? Di mana? Dalam perlindungan siapa? Apakah itu udara? Samudra yang dalam tanpa dasar?"
Penjelasan singkat:
- tamaḥ āsīt berarti kegelapan yang ada
- tamasā gūḍham bermakna kegelapan.
- tidak setuju berarti pada awalnya.
- apraketam bermakna tanpa tanda, tanpa pembeda.
- salilam sarvam idam bermaksud segala udara ini, semua ini adalah udara atau cairan kosmis.
- tucchyena ābhv apihitam bermakna tertutup oleh ruang atau kekacauan.
- yat āsīt bermakna apa yang ada.
- tapasah tan mahinā bermakna melalui kekuatan besar dari tapas atau semedi kosmis.
- jāyata ekam berarti muncullah Yang Satu.
- Tama āsīt tamasā gūḍham menjelaskan bahwa keadaan awal disebut Tamas. Tamas itu adalah kegelapan, ketidaktahuan, dan kekacauan. Pada saat itu belum ada siang dan malam, juga belum ada bentuk.
- Apraketaṃ salila menjelaskan bahwa semua masih menyatu seperti udara kosmis. Pada keadaan itu belum ada nama, belum ada rupa, dan belum ada pembeda. ini mirip dengan konsep Avyakta Keadaan yang artinya belum termanifestasi.
- Tapa saus tan mahinā jāyata ekam dijelaskan bahwa dari pernafasan itu, melalui Tapas yaitu panas, energi, dan semedi kosmis, muncullah Ekam yang artinya Yang Satu. Yang Satu ini adalah benih dari seluruh ciptaan.
Sloka ini menggambarkan semesta pada awal mula: dalam keheningan total, gelap gulata, tanpa rupa dan tanpa beda, laksana samudra yang tak bertepi. Dari sana Brahman menciptakan alam semesta melalui Tapa-Nya. Melalui panas tanpa itulah ciptaan muncul.
Keadaan sebelum dunia diciptakan, Tamas sebagai sifat yang dominan, sehingga keadaan tersebut dianggap sebagai keadaan gelap . Namun, dengan terciptanya dunia, Sattva dan Rajas mulai berperan, sehingga keadaan gelap mulai berubah menjadi terang.
2. Tilem Kasanga : Titik “Nol” Kosmik
Pada saat Tilem Kasanga energi alam semesta dianggap paling gelap, kekuatan Bhuta Kala (energi negatif) sedang memuncak. Pada Tilem Kasanga umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya, dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Upacara Bhūta yadnya bertujuan untuk menetralkan (nyomya) kekuatan Bhuta Kala agar segala leteh (kekotoran) sirna.
Setelah upacara Tawur, pada Sandhyakala / simpanan waktu, melakukan ngerupuk / mebuu-buu di lingkungan rumah masing-masing bersama keluarga dengan membawa obor gni seprapak , semburakena, bawang putih, mesui dan jangu (triketuka), tirta panyomya bhuta, memukul kaleng bekas, peralatan dapur, kentongan bambu dll untuk mengusir sisa-sisa energi negatif, agar-agar saat Nyepi betul-betul hening. Dengan telah disomyo kekuatan Bhūta Kala dianggap sebagai titik "nol" yang mencerminkan seolah-olah dunia belum tercipta.
Dalam Prasasti batur Abang A Tahun caka 933 ada disebutkan :
“Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka Saksi.”
Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat Tilem kesanga wajib melakukan upacara Bhūta Yadnya (Pecaruan). Hal ini tercantum juga dalan lontar Ciwa Tatwa Purana ada disebutkan sbb :
“Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana permadani ikang ing madya”.
Pada Tilem kasanga ini, wajib melakukan Bhuta Yadnya, saat ini Brahman/Siwa menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas. Setelah tercipta, Brahman melebur dan menyatu ke dalam ciptaannya.
Keheningan, kesunyian, ruang awal dari kehidupan, awal dari kekuatan, awal dari penciptaan, awal dari segala-galanya
3. Jadi, Apa Makna Nyepi?
Hindu mengenal siklus penciptaan-pemelihara-peleburannya yang terus berulang. Kesunyian dan ketenangan menjadi simbol dari awal penciptaan yang baru.
Kesunyian juga melatih kontemplasi: perenungan, perbuatan, menjaga keseimbangan hubungan manusia-manusia, manusia-alam, manusia-Tuhan. Dengan hening kita bisa mendengar hati nurani. “ Diam Itu Brahman” artinya : Keheningan adalah Brahman.
Empu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha 27.3 menulis:
“Sasi wima haneng gata mesi banyu/ndan asing nirmala mesi wulan/iwa mangkana rakwa kiteng kadadin /ring angambeki yoga kiteng sakala”
Maknanya: untuk menangkap bayangan Brahman yang sunya, " Duk Tan Hana Paran-paran", jiwa harus hening dan jernih dulu. Ini dibor melalui Catur Brata Penyepian , yang terdiri dari :
Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.
Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.
Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian, akan tetapi selalu introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.
Amati Lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih mandi untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.
Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi yaitu Ngembak Geni pada penanggal kedua sasih kadasa mulai pkl 06.00. Ngembak Geni pertanda sudah berakhir Catur Brata penyepian masyarakat sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa.
Sejak tahun 1983 Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Waisak ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.
4. Pengarakan Ogoh-ogoh Bukan Ritual Wajib Nyepi
Dengan berkembangnya zaman, sehari sebelum Nyepi di Bali khususnya ada pengarakan Ogoh-ogoh. Pengarakan ogoh-ogoh tidak ada sangkut pautnya dengan Nyepi dan Tawur Agung, pengarakan ogoh-ogoh merupakan kreativitas budaya yang lebih menonjolkan ekspresi seni (Buku Panduan Ogoh-ogoh Pengerupukan, hal: 20, poin 3, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar 2011).
Menurut I Bagus Putu Sudarmaya (dalam artikel), tahun 1966 pengerupukan di Badung dipusatkan atau berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Puputan Badung kemudian bergerak keliling kota Denpasar. Ada kelompok/banjar yang membawa 9 buah obor dirangkai menjadi satu dengan ikatan bambu yang dibuat cabang - cabang yang dililitkan jerami sebagai bentuk kreativitas atau bentuk lain dari obor yang biasa dibawa orang pada umumnya. Kemudian dengan peringatan rapi semua peserta pawai obor diberi kesempatan masuk ke depan/teras Kantor Gubernur/rumah tempat tinggal Gubernur dengan peringatan 2 secara tertib dan rapi sambil membawa obor untuk mendapat sapaan / lambaian tangan dari Bapak Gubernur. Namun kreativitas obor yang tingginya sekitar 3 meter tidak bisa masuk karena terhalang oleh atap beton di depan teras Kantor Gubernur, sehingga kreativitas obor langsung bergerak ke timur di Jl. Surapati, belok ke Jl. Melati terus keliling Kota Denpasar yang diikuti oleh peserta Pawai Obor.
Kreativitas obor'' inilah yang dianggap sebagai cikal bakal ogoh-ogoh yang ada sekarang ini, karena setelah tahun 1967, setiap acara pengerupukan membuat banyak kelompok/banjar yang membuat obor kreatif dengan berbagai macam bentuk dan kreasi. Kemudian berkembang sehingga setiap pengerupukan semua kelompok peserta hanya membawa/ menggotong/berkendara dengan kereta ogoh-ogoh, tanpa ada yang membawa api obor lagi sebagai sarana utama pengerupukan.
Karena tidak ada izin pada hari raya Nyepi, maka ogoh-ogoh tidak mutlak ada dalam upacara Nyepi. Seperti selama Covid-19 tidak ada pengarakan ogoh-ogoh. Namun demikian, setelah Covid-19 ogoh-ogoh itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan saja.
Kini dengan adanya pengarakan ogoh-ogoh setiap perayaan Nyepi hampir di seluruh Bali bahkan sdh mulai berkembang di luar Bali, maka masyarakat Hindu di Bali khususnya mendapatkan hiburan sebelum besoknya membawakan Brata Penyepian. Hanya saja ada kekhawatiran anak-anak, cucu-cucu tidak mengetahui bahwa mebuu-buu / ngerupuklah yang sakral bagian dari Tawur Kesange, bukan pengarakan Ogoh-ogoh.
Sekian yang dapat saya sampaikan sebagai ungkapan rasa Bhakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa melalui berbagi pengetahuan (Widya dana).
Catatan penulis : Ini tafsir pribadi saya. Tujuannya agar lebih memahami makna Nyepi bukan sekedar libur. Ampura kalau ada kurang berkenan. 🙏
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏




Tidak ada komentar:
Posting Komentar