Selasa, 26 Agustus 2025

Ganesha Chaturthi

Perayaan Ganesha Caturthi .

Foto hanya ilustrasi. Sumber Internet.


Ganesha Chaturthi juga dikenal sebagai Vinayaka Chaturthi, sebuah perayaan dalam agama Hindu dalam rangka merayakan kelahiran Dewa Berkepala Gajah - Ganesha, Dewa Kemakmuran, Kebijaksanaan, dan penyingkiran rintangan. 

Ganesha Caturthi dirayakan untuk memohon berkat dan perlindungan dari Dewa Ganesha, serta untuk memohon penghapusan rintangan dan kesulitan dalam hidup dan mendapatkan berkah berupa keahlian, kecerdasan, dan kesabaran. 

Perayaan ini dimulai pada hari keempat (chaturthi) bulan Bhadrapada - bulan keenam dalam kalender Hindu (Agustus –September), perayaan ini berlangsung hingga 10 hari. 

Makna batiniah pemujaan Ganesha / Ganapathi selama sepuluh hari, adalah bahwa setiap hari dipersembahkan untuk melatih pengendalian salah satu indriya. Manusia memiliki Dasendhriya, yaitu "Panca Jnanedhriya dan Panca Karmendhriya" (lima organ persepsi dan lima organ tindakan).

Tuan bagi Dasendriya (lima organ persepsi dan lima organ tindakan) adalah Pikiran; tuan bagi pikiran adalah Buddhi (intelek) kemampuan membeda - bedakan. Buddhi (intelek) merupakan perwujudan 'Jnana' (Kebijaksanaan atau Kesadaran). 

Nama Ganapati berasal dari gabungan dua kata Sansekerta : Gana dan Pati. Dalam kata Gana, “Ga” berarti Buddhi (intelek), “Na” berarti Vijnana (pengetahuan atau kebijaksanaan yang lebih tinggi). Pati berarti "tuan, pemimpin atau penguasa".
Jadi Ganapathi adalah Penguasa Budi (intelek) dan Vijnana (kebijaksanaan atau pengetahuan yang lebih tinggi). Ganapathi bersemayam dalam diri setiap manusia, manusia tidak perlu mencari-Nya di dunia luar.

Makna sejarah perayaan Ganesha Chaturthi berasal dari zaman kuno dan berakar pada mitologi Hindu. Dewa Ganesha dianggap sebagai dewa kebijaksanaan, kecerdasan, dan awal yang baru. Suatu hari Dewa Ganesha ditugaskan oleh Ibunya - Dewi Parwati, untuk menjaga kamar saat ia mandi. Ketika Dewa Siwa – suami Parwati pulang, Dewa Siwa berkeinginan masuk ke kamar Parwati, Ganesha menolaknya. Dalam kemarahannya, Siwa memenggal kepala Ganesha. Parwati sangat terpukul atas kehilangannya dan meminta Siwa untuk menghidupkannya kembali. Siwa kemudian mengganti kepala Ganesha dengan kepala gajah, sehingga lahirlah dewa berkepala gajah.

Iswara (Siwa) memberkahi Ganapathi dengan bersabda, "Aku memiliki banyak sifat namun tidak memiliki kecerdasan-Mu. Oleh karena itu, sebelum manusia memuja-Ku maka mereka harus memuja-Mu terlebih dahulu. Inilah berkah yang Aku berikan kepada-Mu."

Oleh karena itu Ganapathi melambangkan representasi dari semua potensi. Beliau adalah tempat bagi semua jenis kecerdasan. Tidak ada yang tidak baik yang dapat terjadi dimanapun Ganesha hadir.  Maka dari itu, dipujalah Ganesha pertama kali sebelum melakukan kegiatan apapun juga maka tidak akan ada hambatan untuk penyelesaiannya.

Vinayaka juga disebut Vighneswara  (penghilang hambatan).  Tidak ada hambatan yang dapat menghalangi orang yang berdoa kepada Vinayaka. Pemujaan terhadap Vinayaka memberikan keberhasilan dalam usaha spiritual maupun duniawi. Tuhan memberikan kebahagiaan pada dua tingkatan, pravritti (lahiriah)  berhubungan dengan tubuh fisik;  dan Nivritti (batiniah)  berhubungan dengan buddhi (kemampuan membedakan yang nyata dan tidak nyata, keterangan pen).

Pada perayaan Vinayaka Cathurthi ini, para Bharateeya (keturunan Bharata) mempersembahkan kepada Ganesha berupa persembahan makanan yang dibuat sepenuhnya dengan dikukus.  Dalam Ayurveda, makanan yang dimasak dengan kukus dianggap sangat baik karena khasiatnya yang menyembuhkan.

Makna batin dari semua ini adalah bahwa persembahan makanan kepada Ganesha memiliki khasiat untuk kesehatan. Bahwa makanan yang dimasak dengan kukus mudah dicerna.

Yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan adalah hal-hal yang akan menyenangkan-Nya, dan yang kita sukai. Inilah yang diperintahkan Parvathi kepada Nandheeshvara. Parwathi berkata kepadanya: " Persembahkan kepada anak-Ku apa yang akan menyenangkan-Nya dan apa yang paling menyenangkan bagimu."


Lambang Tikus

Tikus (Muushika) adalah wahana Vinayaka.  Tikus melambangkan kegelapan, yang merupakan simbol ketidaktahuan, simbol keterikatan pada kecenderungan duniawi (vasana). Tikus bergerak dalam kegelapan. Ganapathi merupakan pengontrol kegelapan (ketidaktahuan).

Tikus dikenal karena indra penciumannya yang kuat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ingin menangkap tikus, masukkan makanan yang berbau menyengat ke dalam perangkap tikus. Berdasarkan bau yang terpancar dari suatu objek, tikus menjelajahi ke objek tersebut.

Tikus dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan. Sebagai wahana Vinayaka, tikus melambangkan objek yang menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dengan demikian, prinsip Vinayaka berarti sesuatu yang menghilangkan semua sifat buruk, praktik buruk, dan pikiran buruk dalam diri manusia serta menumbuhkan sifat baik, perilaku baik, dan pikiran baik.

Tanpa menyadari makna mendalam yang mendasari hal ini, orang-orang merasa heran bagaimana mungkin makhluk besar seperti Vinayaka dapat menunggangi makhluk kecil seperti tikus?

Vinayaka menandakan kemenangan atas ketidaktahuan dan kemenangan tanpa ego atas keinginan. Suatu ketika ada kontes antara Vinayaka dan adik laki-lakinya, Subrahmanya, tentang siapa di antara mereka yang akan mengelilingi dunia terlebih dahulu. Vinayaka sangat cerdas dan memiliki daya pembeda yang luar biasa. Dia hanya mengelilingi Parvathi (Ibunya), sedangkan Subrahmanya mengelilingi dunia (fisik dunia).

Ketika Ganapathi digambarkan sebagai "Parvathi Thanaya," siapakah Parvathi ini? Parvathi menandakan Prithvi (Ibu Pertiwi). Setiap orang adalah anak Ibu Pertiwi. Arti dari Parvathi Thanaya (Putra Parvathi) adalah bahwa Ganapathi yang merupakan Penguasa Para Gana, adalah putra Parvathi, yang melambangkan Shakthi (Energi Ilahi).

Vinayaka melambangkan kualitas seorang pemimpin sejati dalam segala aspek. "Viyate Nayake Iti Vinayaka” yang berarti, Dia adalah guru bagi diri-Nya sendiri. Di dunia ini, Vinayaka dipuja oleh banyak orang, tetapi, Vinayaka tidak menyembah siapa pun karena Dia tidak memiliki guru di atas-Nya. Bahkan Iswara (Siwa) - sang ayah, memuja putra-Nya - Vinayaka, tetapi tidak sebaliknya.

Pemujaan pada arca seharusnya menyampaikan pada perenungan tentang hakikat spiritual halus yang disembunyikan oleh arca itu. Inilah jalan menuju realisasi Atma (Diri Sejati). Sadarilah dan hiduplah berdasarkan pemahaman bahwa Keilahian hidup berada di dalam dirimu. Ganapathi melambangkan cita-cita pribadi yang dipandu oleh kecerdasan dan kebijaksanaan.

Keyakinan kepada Tuhan tidak boleh goyah. Dalam keadaan apa pun seseorang tidak boleh menentang perintah Tuhan. Sadhana apa pun yang dilakukan seseorang, betapa pun ketekunan seseorang bermeditasi, jika seseorang melanggar perintah Tuhan, pelaksanaan pengabdiannya hanyalah sia-sia belaka. Orang-orang bertindak melawan perintah suci Tuhan karena motif egois yang picik. Bahkan tindakan pelanggaran kecil pun pada waktunya dapat dianggap berbahaya.

Ibarat awan di langit yang disatukan atau disebarkan oleh angin, perjalanan waktu membawa manusia ke pertemuan atau perpisahan dengan orang lain, demikian juga dengan kebahagiaan atau kesedihan. Waktu adalah perwujudan Tuhan. Waktu tidak boleh disia-siakan. Untuk memahami kebenaran suci seperti itulah festival seperti Ganesha Chaturthi dirayakan .*** 
(Bhagawan Sri Sathya Narayana).

Dari berbagai sumber.

Foto Pemanis, sumber Internet.


Baca juga :  Mengapa Dewa Siwa Tertinggi

Catatan :

Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar