Misteri Lingga, Bagaimana Dewa Siwa Menciptakan Simbol Kekuatannya Yang Abadi?
Dalam kepercayaan Hindu, Lingga dikenal sebagai simbol utama Dewa Siwa, melambangkan kekuatan dan kehadirannya yang tak terbatas. Lingga seperti telur dan melambangkan Brahmanda (telur kosmik). Lingga menandakan bahwa ciptaan dipengaruhi oleh penyatuan Purusha dan Prakerti, kekuatan alam laki-laki dan perempuan. Lingga juga melambangkan Satya (kebenaran), Jnana (pengetahuan) dan Ananta (ketidakterbatasan).
Lingga Siwa terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah disebut Brahma-Pitha; bagian tengah disebut Wisnu-Pitha; dan bagian teratas disebut Siwa-Pitha. Bagian-bagian ini dikaitkan dengan dewa-dewa Hindu : Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Siwa (Sang Pelebur).
Alasnya yang biasanya berbentuk melingkar atau Peetham (Brahma-Pitha), menampung struktur berbentuk mangkuk memanjang (Vishnu-Pitha) yang mengingatkan pada teko datar dengan corong yang bagian atasnya telah dipotong. Di dalam mangkuk tersebut terdapat silinder tinggi dengan kepala bundar (Shiva-Pitha), inilah bagian dari Shiva Lingga yang di dalamnya banyak orang melihat falus (kelamin laki-laki).
1. Perdebatan Brahma dan Wisnu, Munculnya Lingga Tak Berujung (Lingodbhava)
Pada awal kalpa, terjadilah perdebatan hebat antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Brahma berkata, “Akulah pencipta alam semesta, maka Akulah yang tertinggi.” Wisnu menjawab, “Akulah pemelihara, tanpaku semua ciptaan akan musnah. Akulah yang tertinggi.”
Saat ego keduanya memuncak, tiba-tiba muncul di hadapan mereka sebuah Jyotirlinga — "tiang api yang menyala-nyala", tanpa awal dan tanpa akhir, menembus langit dan bumi. Dari dalam tiang itu terdengar sabda gaib: “Wahai kalian berdua yang bertengkar soal keagungan, barang siapa di antara kalian yang berhasil menemukan ujung tiang ini, dialah yang tertinggi.”
Untuk membuktikan kehebatan masing-masing, keduanya pun berlomba.
Dewa Brahma mengambil wujud Hamsa, angsa putih, dan terbang ke atas selama 1000 tahun dewata = 360.000 tahun manusia. Puncak lingga juga tidak ditemukan. Di tengah perjalanan, Brahma bertemu bunga Ketaki yang sedang jatuh dari atas. Brahma membujuk, bahkan mengancam Ketaki agar mau bersaksi palsu bahwa ia telah melihat Brahma sampai di puncak lingga. Ketaki yang takut akhirnya setuju.
- Brahma dikutuk tidak akan memiliki kuil pemujaan dan tidak akan dipuja secara luas di zaman Kali Yuga. Kutukannya berbunyi: “na te lokaḥ kariṣyanti pūjāṃ kali-yuge kvacit”, Artinya; "Tidak akan ada orang yang melakukan pemujaan kepadamu di Kali Yuga."
- Bunga Ketaki dikutuk agar varjita* — "dihindari dan tidak digunakan" — dalam persembahan kepada Dewa Siwa. Ketaki memohon ampun, lalu Siwa melunakkan kutukan: Ketaki boleh dipakai untuk dewa lain, tapi tetap varjita untuk-Nya.
Kedua dewa itu akhirnya menyadari bahwa Lingga tak berujung adalah wujud Nirguna Brahman — "Siwa sebagai kesadaran murni tanpa awal dan akhir". Brahma dan Wisnu tunduk, bersujud, dan memuji Siwa sebagai Mahadeva, Dewa Tertinggi. (Shiva Purana, Kotirudra Samhita, Bab 6–9, “Lingodbhava”)
2. Lingga sebagai Simbol Kesuburan dan Penciptaan
Dalam Lingga Purana, Lingga tidak hanya dilihat sebagai simbol falus, (dari bahasa Yunani : phallos berarti penis), tetapi juga sebagai representasi dari kesuburan dan penciptaan. Lingga sering dipasangkan dengan Yoni - simbol dari Dewi Parwati - istri Siwa. Kombinasi Lingga Yoni melambangkan penyatuan antara prinsip maskulin dan feminin, yang diyakini sebagai sumber segala kehidupan di alam semesta.
3. Evolusi Pemujaan Lingga dalam Sejarah
Pemujaan Lingga sebagai simbol Dewa Siwa telah ada sejak peradaban Lembah Indus. Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, ditemukan banyak peninggalan arkeologis berupa Lingga Yoni, menunjukkan bahwa pemujaan ini telah lama menjadi bagian integral dari praktik spiritual masyarakat. Misalnya, Prasasti Canggal dari abad ke-8 Masehi mencatat pendirian sebuah Lingga oleh Raja Sanjaya (Raja Mataram abad ke 8) sebagai tanda pemujaan kepada Siwa.
4. Makna Filosofis dan Teologis Lingga
Dalam teologi Hindu, makna filosofis yang mendalam Lingga sebagai simbol dari Purusha (prinsip maskulin) dan Prakriti (prinsip feminin), yang bersama-sama menciptakan dan memelihara alam semesta. Dalam konteks ini, Lingga melambangkan kehadiran ilahi yang meresapi segala sesuatu, menekankan sifat transenden dan imanen dari Dewa Siwa.
Melalui berbagai sumber Purana, kita memahami bahwa Lingga sebagai simbol Dewa Siwa memiliki asal-usul yang kaya dan kompleks. Ia tidak hanya melambangkan aspek maskulin, tetapi juga kesatuan dengan aspek feminin, mencerminkan proses penciptaan dan keberlangsungan alam semesta. Penggunaan Lingga dalam pemujaan menunjukkan penghormatan terhadap kekuatan kreatif dan destruktif (penghancur / pelebur) Siwa, serta pengakuan akan ketidakterbatasan dan kemahakuasaan-Nya.
Trimurti adalah konsep yang menggambarkan tiga aspek utama dari Tuhan dalam Agama Hindu, terdiri dari : Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan/pemrelina.
Trimurti dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga dewa ini dihormati dan dipuja oleh umat Hindu sebagai manifestasi dari Tuhan yang Maha Esa.
Agama Hindu memandang Dewa Siwa disebut Mahadewa, dewa tertinggi di antara semua dewa, atau dengan kata lain, dewa dari segala dewa. Kata Mahadewa secara harfiah berarti dewa terbesar atau dewa tertinggi yang tak tertandingi. Makna lainnya juga adalah pemimpin semua dewa.
Dalam ajaran Sivaisme, Brahma dan Wisnu dianggap sebagai dewa-dewa yang lebih rendah dari Siwa karena beberapa alasan :
1. Peran dalam Trimurti
Dalam konsep Trimurti, Siwa dianggap sebagai dewa pelebur dan pemusnah, sedangkan Brahma dianggap sebagai dewa pencipta dan Wisnu dianggap sebagai dewa pemelihara. Peran Siwa sebagai dewa pelebur dan pemusnah dianggap lebih penting dan lebih tinggi dari peran Brahma dan Wisnu.
2. Kekuatan dan Kemahakuasaan
Siwa dianggap memiliki kekuatan dan kemahakuasaan yang lebih besar dari Brahma dan Wisnu. Siwa dianggap dapat menciptakan, memelihara, dan menghancurkan, sedangkan Brahma dan Wisnu hanya memiliki peran yang lebih terbatas (hanya menciptakan dan memelihara).
3. Kesucian dan Kemurnian
Siwa dianggap sebagai dewa yang paling suci dan murni, sedangkan Brahma dan Wisnu dianggap memiliki kesucian dan kemurnian yang lebih rendah.
Siwa dianggap sebagai dewa yang tidak terikat oleh karma dan maya, sedangkan Brahma dan Wisnu dianggap masih terikat oleh karma dan maya.
4. Penghormatan dalam Kitab Suci
Dalam kitab suci Hindu seperti Weda dan Upanisad khususnya dlm ajaran Sivaisme, Siwa dianggap sebagai dewa yang paling dihormati dan paling suci. Brahma dan Wisnu juga dihormati, tetapi tidak sebesar Siwa.
Namun, perlu diingat bahwa dalam agama Hindu, semua dewa-dewa dianggap sebagai manifestasi dari Tuhan yang Maha Esa.
Tri Purusha
Tentang Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa yg disebut konsep Tri Purusha menjelaskan tentang tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta, juga ada perbedaannya sbb :
1. Siwa : Jiwa alam bawah (Bhur Loka), Tuhan sebagai pencipta kehidupan di bumi, meletakkan ciptaan-Nya berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Siwa sering dihubungkan dengan warna merah.
2. Sadha Siwa : Jiwa alam tengah (Bhuvah Loka), Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman, menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Sadha Siwa dihubungkan dengan warna putih, simbol kesucian dan kesejahteraan.
3. Parama Siwa : Jiwa alam atas (Svah Loka), Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman, tanpa sifat, dan maha-ada di luar alam semesta yang gelap. Parama Siwa dihubungkan dengan warna hitam, simbol ketidakterjangkauan sinar matahari.
Tri Purusha ini dipuja di Padmasana Tiga Besakih, dengan masing-masing bangunan padma memiliki makna dan warna yang berbeda. Padmasana Rong Tiga ini disebut Padma Anglayang yg hanya ada di Pura Besakih.
Padma ada bermacam-macam yaitu : Padma Anglayang, Padma Agung, Padmasana, Padmasari, Padmacapah, semua ini tingkatan atau pepalihannya juja berbeda-beda. Padma Anglayang, Padma Agung, Padmasana ketiga ini pada dasar bangunannya memakai Bedawangnala (Kurma Avatar yang dililit ular Naga Basuki), sedangkan Padmasari dan Padmacapah tidak memakai Bedawangnala.***🙏
- Siwa Purana : Teks Purana yang berfokus pada Dewa Siwa dan berbagai aspeknya.
- Lingga Purana : Teks yang menjelaskan asal-usul, makna, dan jenis-jenis Lingga dalam tradisi Hindu.
- Prasasti Canggal : Prasasti dari abad ke-8 yang mencatat pendirian Lingga oleh Raja Sanjaya.
- Eksistensi Lingga sebagai Media Pemujaan Hindu di Desa Linggoasri : Artikel yang membahas tentang pemujaan Lingga di Indonesia.
- Siwa Lingga dalam Susastra Hindu : Artikel yang mengulas tentang makna dan jenis-jenis Lingga dalam tradisi Hindu.
- Kutipang diskusi dengan Sahabat Al.
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




Tidak ada komentar:
Posting Komentar