
Prof.DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI.
Kawitan dan Leluhur
Kata Kawitan dan Leluhur hampir tidak pernah terlewatkan jika berbicara tentang Agama Hindu di Bali. Kawitan berasal dari kata 'wit' yang artinya asal usul atau awal mula. Jadi asal muasal manusia diciptakan oleh Tuhan, dan akan kembali kpd Tuhan. Manusia pertama ciptaan Tuhan dalam ajaran Hindu disebut Swayambhumanu.
Dari kata Manu timbullah kata manusia yang artinya keturunan Manu. Manu artinya berpikir. Swayambhumanu artinya makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri. Selanjutnya setelah terciptanya manusia pertama atas kekuasaan Tuhan, maka manusia itu sendiri yang berkembang.
Sementara leluhur adalah asal muasal manusia di dunia dalam siklus kehidupan (hubungan biologi). Pura Kawitan adalah pura yang pemujanya masyarakat ditentukan oleh ikatan leluhur berdasarkan kelahiran. Sejarah kawitan sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali.
Gayatri Mantram dan Weda.
Mantra Gayatri adalah salah satu Mantra yang sangat penting dalam Ajaran Agama Hindu. Ida Hyang Widhi Wasa mewahyukan Mantra Gayatri kepada Maharsi Visvamitra (India).
Mantram Gayatri tercantum dalam Rg. Weda III.62.10. Mantra Gayatri merupakan Ibu Weda (Gayatri Chandasam Mata, Weda Mata). Mantra Gayatri adalah 'Anna Purna', 'Ibu Jagad Raya', kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi oleh Ana Purna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan dan papan.
Begitu juga Kitab Suci Weda diwahyukan di India oleh Ida Hyang Widhi Wasa melalui Sapta Rsi, yaitu :
- Rsi Atri
- Rsi Bharadwaja
- Rsi Gratsamada
- Rsi Wasista
- Rsi Wiswamitra
- Rsi Wamadewa
- Rsi Kanwa.
Wahyu yg diterima oleh 7 Maha Rsi tersebut disusun menjadi 4 (Catur Wedha) oleh Bhagawan Wyasa, dibantu oleh 4 orang Rsi sbb :
- Rsi Paila - menyusun Reg Weda - Mahawakya : Prajnanam Brahma.
- Rsi Waisampayana - menyusun Yayur Weda - Mahawakya : Aham Brahma Asmi.
- Rsi Jaimini - menyusun Sama Weda - Mahawakya : Tat Twam Asi.
- Rsi Sumantu - menyusun Atarwa Weda - Mahawakya : Ayam Atman Brahman.
Agama Hindu Masuk Indonesia.
Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia.
Pada abad ke 4 yaitu tahun 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan), ke Jawa Timur pada pertengahan abad ke 8, prasasti Dinoyo (kerajaan Kanjurukan), dan akhirnya menyebrang ke Bali.
Agama Hindu masuk Bali pd abad ke 8 M, Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti yang dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut :
“ Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu”.
Artinya:
"Sang Yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India".
Beliau banyak membangun tempat suci utk umat Hindu misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Zaman Raja Bali Aga pertama Sri Kesari Warmadewa, dan zaman Raja Ugrasena, biasa bekerja sama dengan Para Suci dari India dalam melakukan puja kepada Ida Hyang Widhi (Brahman).
Paska Raja Bali ditaklukkan Majapahit
Setelah Mahapatih Kebo Iwa gugur di Jawa, Majapahit menduduki Raja Bali terakhir, Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, pada tahun 1343 M. Sejak itu, tatanan sosial dan budaya beragama di Bali berubah secara bertahap. Aturan Majapahit diberlakukan, terjadi pertukaran lontar antara Bali dan Jawa. Masyarakat pun menganut dua corak religi: tradisi Bali Aga dan tradisi Majapahit. Bahkan sebagian besar menjalankan keduanya.
Perbedaan ini tampak pada hari suci: Sugihan Jawa tiap Kamis Wage Wuku Sungsang diikuti pengikut tradisi Majapahit, sedangkan Sugihan Bali tiap Jumat Kliwon Wuku Sungsang oleh pengikut tradisi Bali Aga. Sistem penaggalan pun terbagi, ada yang memakai sasih dan ada yang memakai wuku . Upacara melasti misalnya, ada yang digelar pada sasih Kasanga , ada pula pada sasih Kadasa . Dalam Rsi Yadnya atau pediksan , sebagian mendaki Napak Wakil Bhatara Kawitan, sebagian lagi Napak Kaki Guru Nabe. Inilah awal akulturasi budaya Bali Aga dengan budaya Majapahit.
Masa Penjajahan Belanda
Saat Belanda berkuasa, Bali dibagi menjadi 8 wilayah pemerintahan setingkat kabupaten. Belanda juga memperkuat sistem feodal dengan mengubah konsep Warna menjadi Kasta, serta memberi gelar seperti Anak Agung, Cokorda, I Gusti, dll kepada penguasa lokal. Kebijakan ini juga membentuk corak Hindu Bali hingga sekarang. Maka terjadilah akulturasi tiga lapis: budaya Bali Aga, budaya Majapahit, dan pengaruh kolonial Belanda.
Paska Kemerdekaan Indonesia
Awal kemerdekaan, Hindu belum diakui resmi oleh negara. Pengakuan mensyaratkan keselarasan dengan Pancasila dan kelengkapan tata peribadatan.
Tahun 1950, Narendra Dev Pandit Shastri (India) dan I Gusti Bagus Sugriwa menyusun Puja Trisandya. Enam baitnya dirangkai dari Gayatri Mantram dan kutipan Upanisad serta teks suci lainnya, lalu dibukukan dengan judul Puja Trisandya.
Prof Narendra Dev Pandit Shastri, tokoh Hindu dari India yang menetap dan berkeluarga di Bali, aktif mengajarkan Catur Weda dan Upanisad. Karyanya antara lain: Intisari Hindu Dharma, Kidung Yadnya 1950, Tri Sandhya 1950, Weda Parikrama 1951, dan Sejarah Bali Dwipa 1963.
Pada tanggal 14 Juni 1958, Narendra Dev Pandit Shastri bersama tokoh Hindu Bali menyusun petisi yang menyatakan bahwa Hindu Bali tidak bertentangan dengan Pancasila dan memohon pengakuan negara. Petisi ini jadi salah satu dokumen penting yang dipakai untuk melobi Kementerian Agama.
Tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan ini antara lain :
- Narendra Dev Pandit Shastri – Pandit dari India, penggagas petisi 14 Juni 1958.
- Prof.Dr.Ida Bagus Mantra – Akademisi, tokoh muda, sekretaris Pesamuhan Agung 1959.
- Saya Gusti Bagus Sugriwa – Ahli sastra dan agama Hindu Bali.
- Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus – Akademisi, ahli antropologi.
- I Ketut Bangbang Gde Rawi – Ahli wariga, penyusun Kalender Bali. Dia lebih aktif di bidang adat-agama, bukan penandatangan utama petisi, tapi tokoh penting dalam reformasi Hindu Bali.
- I Gusti Ketut Pudja – Gubernur Sunda Kecil, tokoh nasional. Dia berperan besar dalam perjuangan pengakuan Hindu secara politik di tingkat pusat, tapi bukan pelaku langsung petisi 14 Juni 1958.
Dengan melengkapi syarat-syarat berupa : Puja Trisandya, Kitab Suci Weda, dan kelengkapan lainnya, akhirnya pada tanggal 5 September 1958 Menteri Agama mengeluarkan keputusan yang mengakui Hindu Bali sebagai agama sah di Indonesia.
Lahirnya Parisada
Pada tanggal 23 Februari 1959, di Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Didirikan Parisada Hindu Dharma Bali ( PHDB ) - pertama kali - sebagai wadah keumatan. Salah satu penggagasnya adalah Drs. Ida Bagus Mantra yang menjadi sekretaris pertama. Tokoh lainnya : Ida Pedanda Made Sidemen, I Gusti Bagus Sugriwa, Ida Bagus Gde Doster, dan Gedong Bagus Oka dll. Awalnya anggota 33 orang: 11 sulinggih dan 22 walaka.
Pada Mahasabha I, PHDB tanggal 7-10 Oktober 1964, untuk memperkuat identitas nasional, namanya diubah menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ) menjadi Majelis Tertinggi Umat Hindu yang mengurus bidang keagamaan dan sosial. PHDI lahir dari kebangkitan Hindu Nusantara dengan tujuan mempersatukan umat Hindu di seluruh Indonesia.
Pada Mahasabha II PHDI tanggal 2-5 Desember 1968 di Denpasar, nama itu dipertegas lagi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) .
Keterkaitan Hindu Nusantara dan India
Keberadaan Hindu di Nusantara, khususnya Bali, tidak dapat dipisahkan dari Hindu India. Pengakuan negara didukung oleh adanya Gayatri Mantram dalam Puja Trisandya, Kitab Suci Weda, nama Sapta Rsi penerima wahyu, serta nama-nama Deva-Devi yang sama-sama dipuja. Bhagavadgita, dialog Krsna dan Arjuna sebelum Perang Kuruksetra, juga menjadi kitab penting umat Hindu sedunia, termasuk Indonesia, juga dari India.
Oleh karena itu, ketika umat Hindu di Bali melantunkan Mantra Gayatri, Mantra Maha Mrtyunjaya, Mantra Ganesa, atau mengulang nama suci Tuhan seperti Om Namah Shivaya, dll, (Tuhan Sahasranama) , hal tersebut bukan “ke-India-Indiaan” atau menjadi "orang India". Itu adalah praktik Hindu sesuai Weda. Japa dengan genitri atau japamala adalah tradisi Hindu. Pengucapan nama suci secara pribadi menimbulkan getaran positif, namun bila dilakukan secara bersama-sama (berkelompok) akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar berupa gelombang energi positif, yang mampu menetralkan alam dari polusi pikiran manusia, polusi nafsu manusia, polusi akibat teknologi.
Hormat kepada Pendahulu
Sebagai pewaris ajaran leluhur, ajaran tertua, supaya kita tidak kualat, patut menghormati para Rsi : Wiswamitra penerima Gayatri, Sapta Rsi penerima wahyu Weda, Bhagawan Wyasa penyusun Catur Weda, Rsi Markandeya penyebar Hindu di Bali sekaligus pendiri Pura Besakih, dll. Di era kemerdekaan, kami juga berhutang budi kepada Ida Bagus Mantra, I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Narendra Dev Pandit Shastri, dll.
Ida Mpu Acaryananda menyampaikan betapa pentingnya umat Hindu membaca-baca Bhagavadgita. Karena menurut Beliau dalam Bhagavadgita kita banyak mendapatkan tutunan hidup, mengetahui mana yang Hakekat dan mana yang sementara.
Mantram Gayatri yang dilantunkan berulang-ulang sangat menenangkan pikiran, memberikan ketenangan.
Acara di Candi Prambanan
Pada hari Rabu, 8 Juli 2026, bertempat di Candi Prambanan dilaksanakan Upacara Shanti Puja. Upacara tersebut menghadirkan ribuan umat Hindu dari seluruh Nusantara, khususnya yang berdomisili di Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Ritual dipimpin oleh 36 Sulinggih dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri India Narendra Modi juga hadir. Acara ini juga dibawakan oleh Presiden Bapak Prabowo Subianto.
Bapak Prabowo berkata,
“Candi Prambanan bukan hanya simbol kejayaan sejarah dan kebudayaan Indonesia, tetapi juga pengingat akan kuatnya hubungan peradaban yang telah terjalin antara Indonesia dan India selama lebih dari 1.000 tahun,” ujarnya.
Sumber: Detik.Com
"Dari Candi Prambanan untuk Indonesia, dari Indonesia untuk perdamaian dunia".
Para Pandita dari seluruh Indonesia yang muput acara :
Ida Rsi Agung Putra Natha Pandita Siliwangi Manuaba, " Banggalah menjadi Hindu jangan sampai karena cinta meninggalkan Ajaran Leluhur, Cinta itu sebatas dupa sangat pendek, tapi Cinta kpd Ida Hyang Widhi melebihi segala-galanya", kata Beliau. ***🙏 Sumber foto: Internet.
IGusti Bagus Sugriwa
Prof Narendra Dev Pandit Shastri
Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,
I Ketut Bangbang Gde Rawi
I Gusti Ketut Pudja.
Diolah dari berbagai sumber.
Artikel lainnya:
Catatan :
Artikel ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman saya.🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar