Jumat, 21 Maret 2025

CATUR YUGA DALAM HINDU

Situasi Dunia ditinjau dari teori Catur Yuga  menurut Agama Hindu

Foto hanya Ilustrasi, Sumber Internet.


Agama Hindu mengenal adanya empat zaman yang disebut dengan 'Catur Yuga'. Catur Yuga adalah konsep dalam agama Hindu yang menggambarkan siklus empat zaman atau periode dalam kehidupan manusia. Kata “Catur” berarti “empat” dalam bahasa Sanskerta, sedangkan “Yuga” berarti “zaman” atau “periode”, yaitu Satyayuga atau Kertayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Periode dari Satya Yuga hingga Kali Yuga  lamanya 12.000 tahun dewa. Ini akan terus terjadi berulang-ulang


Kerta Yuga

Zaman Kerta yuga ibarat lembu yang berdiri dengan empat kaki (moralitas sepenuhnya), kaki-kaki Dharma yaitu : Sathya (Kebenaran), Prema (Belas Kasih), Tapa (Pengendalian Diri, dan Dana (Amal, sedekah).

Pada zaman Kerta adalah masa yang penuh ketenangan. Tidak ada manusia yang melakukan adharma walaupun hanya dalam pikiran. Manusia pada masa ini selalu mematuhi ajaran-ajaran kebenaran dan tidak pernah menyakiti makhluk lain. Terjadi keselarasan antara pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Karana Sudi). Masa Kertayuga berlangsung selama 4800 tahun dewa = 1.728.000 tahun manusia. Usia manusia pada zaman Kerta yuga rata-rata 400 tahun. Pada masa Kerta Yuga, hal - hal yang paling utama yaitu Dhyana atau bermeditasi.


Treta Yuga

Zaman Treta Yuga seperti lembu yang berdiri dengan tiga kaki. Pada masa ini sudah mulai terjadi kemerosotan moral manusia, kebenaran terlaksana 75%. Pikiran manusia mulai tercemar. Pada masa Treta Yuga, Sadana spiritual yang paling utama yaitu Yajna (ritual keagamaan). Siapa pun yang mengadakan ritual, baik itu orang kaya maupun miskin akan dihormati dan keistimewaan. Masa Treta Yuga berlangsung selama 3.600 tahun Dewa = 1.296.000 tahun manusia. Usia manusia pada zaman Treta Yuga rata-rata 300 th.


Dwapara Yuga

Dwaparayuga seperti lembu dharma berdiri dengan 2 kaki. Moral manusia sudah banyak merosot. Dharma hanya tegak 50%.  Zaman Dwaparayuga berlangsung 2.400 tahun Dewa = 864.000 tahun manusia. Sadana spiritual pada zaman Dwapara Yuga adalah Sujud pada Kaki Padma, yaitu memuja Arca / Arcanam, melayani guru suci. Usia manusia pada zaman Dwapara Yuga rata-rata 200 th. Pada saat perang Kuru Ksetra usia kakek Bisma sekitar 125 th, Krisna 76 th, Arjuna 74 th. Kalau zaman skrang orang yang berumur 125 th sudah tergeletak di tempat tidur, tidak berdaya, namun Kakek Bisa di usianya 125 tahun masih mampu berperang dengan semangat, sehat walafiat.


Kali Yuga

Kali Yuga Dharma berdiri hanya dengan satu kaki, disebut juga zaman kehancuran. Kaliyuga berlangsung 1.200 tahun dewa = 432.000 tahun manusia. Saat ini Kali Yuga baru berjalan 5127 tahun, sehingga masih tersisa 426.873 tahun lagi. Di zaman Kali Yuga ini kita berpeluang mengalami reinkarnasi lebih dari 4000 kali apabila belum mencapai _mokṣa_

Sadana spiritual pada zaman Kali Yuga adalah dengan menyanyikan Nama-Nama Suci Tuhan (Namasmaranam) atau Bhajan. Usia manusia pada zaman kali rata-rata 100 th, bahkan sekarang sudah banyak dibawah 100 th. 

Pada zaman Kali ini, moralitas tidak lagi dapat berdiri tegak dan seimbang. Murid-murid berani menentang guru, serta banyak anak mulai membantah nasihat orang tua. Tidak sedikit manusia mencari nafkah dengan cara tidak jujur; korupsi merajalela dan rasa malu berbuat dosa kian luntur. Ucapan tidak lagi sejalan dengan perbuatan, kebohongan menjadi hal yang lumrah, disertai maraknya kepalsuan dan tindak kekerasan.

Di kota-kota besar, panti pijat dan lokalisasi pelacuran dijadikan hiburan oleh para lelaki hidung belang. Para wanita dengan busana seksi dipajang di balik kaca, layaknya akuarium, untuk ditawarkan kepada pelanggan. Begitu merosotnya moral manusia.

Pada masa Kali Yuga, hal yang diutamakan adalah uang. Mereka yang berharta melimpah akan memperoleh penghormatan dan kekuasaan. Uang sanggup membeli hukum dan jabatan, sehingga mereka yang berkuasa cenderung bertindak sewenang-wenang. Budi pekerti tidak lagi dipedulikan; bahkan orang yang jujur kerap menjadi bahan ejekan.

Seorang pujangga besar Ranggawarsita mengatakan zaman kali ini dengan istilah zaman edan dalam Serat Kalatida, yang terdiri 12 bait tembang Sinom. Salah satu bait ke 7 yang paling terkenal adalah sbb :

"amenangi jaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada".

Terjemahannya :

(menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila),  tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia - bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).


Cara Tiap Zaman Tidak Sama: Yuga-Dharma

Meskipun Kali Yuga merupakan zaman penuh kebohongan, kehancuran, perselisihan; namun untuk mencapai mokṣha sangat mudah, hanya dengan penyebutan Nama-Nama Suci Tuhan. 
Dalam Bhāgavata Purāṇa 12.3.51 :

"kaler doṣa-nidhe rājann asti hy eko mahān guṇaḥ, kīrtanād eva kṛṣṇasya mukta-saṅgaḥ paraṁ vrajet"

Artinya:

"Walaupun Kali Yuga merupakan gudangnya dosa, terdapat satu kelebihan besar, hanya dengan mengulang Nama Kṛṣṇa, manusia dapat lepas dari ikatan dan mencapai Moksha".

Bhāgavata Purāṇa 12.3.52 : 
"kṛte yad dhyāyato viṣṇuṁ tretāyāṁ yajato makhaiḥ dvāpare paricaryāyāṁ kalau tad dhari-kīrtanāt"

Artinya:

"Hasil tapa di Satya Yuga, yadnya di Treta Yuga, arca-puja di Dwapara Yuga, bisa dicapai di Kali Yuga hanya dengan hari-kirtan".


Tidak seorangpun bisa menghindarkan diri dari pengaruh kali atau zaman edan secara total, ibarat orang bekerja di bengkel, tangan pasti kotor kalau menyelesaikan pekerjaan, ini wajar kalau kotornya sedikit. Namun tidak akan masuk akal kalau sampai seluruh tubuh bahkan sampai ke rambut juga kotor berlepotan oli. Apapun yang kita lakukan, baik-buruk akan kembali kepada kita. Oleh karena itu perbanyaklah berbuat baik/darma yang akan mengantarkan menuju sorga.

Kesempatan untuk menjadi manusia sangat sulit diperoleh, ini memerlukan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali tayangan, sehingga kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan dengan baik dengan merealisasikan ajaran Dharma (Dharma sadhana) seperti yang disebutkan dalam Sarascamuccaya sloka 4 dan 14, sebagai berikut :

Apang iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang cubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika”. (Sarasamuccaya, 4).

Artinya:

Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; karena dapat menolong dirinya dari keadaan samsara (menjelma berulang kali), dengan jalan berbuat baik, demikian keuntungan menjelma menjadi manusia (Kajeng, 2001 : 6).


“Ikang dharma ngaranya, hanuning mara ring swargan ika, kadi gatening perahu, an henuning banyage nentasing tasik”.  (Sarasamuccaya, 14).

Terjemahan:

Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sama halnya dengan perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang yang mengarungi lautan (Kajeng, 2001 : 11).

Foto hanya Ilustrasi, Sumber Internet


Dewa Brahma Punya Hari

Dewa Brahma adalah Dewa Pencipta, bagian dari Tri Murti - Saguna = berwujud, mempunyai umur panjang, lahir dan mati. Ini "manajer" alam semesta. Dewa Brahma Punya Hari.

Sedangkan  Brahman = Tuhan Yang Maha Esa, Ida Hyang Widhi Wasa, Nirguna. Beliau Kalatita = melampaui waktu. Tidak tidur, tidak bangun, tidak ada siang-malam, tanpa sifat, kekal, tidak lahir/tidak mati. Brahman Tidak Punya Hari.

Bhagavad Gita 8.20 menyebutkan : "paras tasmāt tu bhāvo 'nyo 'vyakto 'vyaktāt sanātanaḥ" — "Di atas itu ada keberadaan lain yang kekal, tidak termanifestasi."

Periode dari Satya Yuga hingga Kali Yuga  lamanya 12.000 tahun dewa. 1 tahun dewa = 360 tahun manusia. Jadi 12.000 tahun Dewa  = 360 x 12.000 tahun = 4.320.000 tahun manusia, ini disebut 1 Maha Yuga (Pancaran Bhagawata jilid II, hal 66).

Setelah 1.000 Mahayuga = 1.000 x 4.320.000 = 4,32 Miliar tahun manusia disebut 1 Kalpa = 1 hari Brahma terjadi pralaya kecil yang disebut Naimittika Pralaya


Posisi Kita Saat Ini

Saat ini dunia baru memasuki Kalpa ke 51 bernama Shveta Varaha Kalpa, Hari ke-1 dari tahun ke-51 Brahma. Manwantara ke-7 Vaivasvata Manvantara. Mahayuga ke-28 kurang (27 lebih), tahun saka 1941, tahun kali yuga 5121.

Rincian :
Jadi umur dunia saat ini baru mencapai : (71+72+71+72+71+72+27) Mahayuga + (4.800+3.600+2.400) tahun dewa + 5.121 tahun manusia = 456 Mahayuga + 10.800  tahun para dewa + 5121 tahun manusia = 1.973.813.121 tahun manusia.

Berarti masih kurang sekitar 2,346 miliar tahun lagi untuk sampai 4,3 milliar (1 hari Brahma) -  dunia kiamat kecil atau Naimittika Pralaya berikutnya.

Demikian secara garis besar tentang Yuga dalam Agama Hindu, apabila ada yang tidak tepat mohon maaf. ***🙏


Baca artikel lainnya :


Daftar pustaka :
  1. Baba, Bhagawan Sri Sathya Sai. 1993. Pancaran Dharma (Dharma Vahini), wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, disunting oleh Dra. Retno S. Buntoro. Jakarta : Yayasan Shri Sathya Sai Indonesia.
  2. Baba, Bhagawan Sri Sathya Sai. 1993. Pancaran Bhagawata, jilid II wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, alih Bahasa Dra. Retno S. Buntoro. Jakarta : Yayasan Shri Sathya Sai Indonesia.
  3. Jendra, I Wayan. 1991. Kidung Suci (Bhajan), Ungkapan Bahasa Bakti yang paling efektif dan Komunikatif pada Zaman Kali. Denpasar : Kelompok Belajar Sai Bali.
  4. ‌Jendra, I Wayan. 1996. Variasi Bahasa, Kedudukan dan Peran Bhagawan Shri Sathya Sai Baba, dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
  5. Kajeng, I Nyoman dkk. 2001. Sarasamuccaya. Pemerintah Propinsi Bali.
  6. Pendit, Nyoman S. 2002. Bhagawadgita. Jakarta : PT. Gramedia.


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kata, kalimat, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Selasa, 04 Maret 2025

MASUKNYA AGAMA HINDU KE BALI


Asal Nama Hindu

Nama Hindu berasal dari nama sebuah sungai di India bernama sungai Sindhu. Sekelompok suku bangsa Arya yang menetap disekitar sungai Sindhu, orang-orang Parsi menyebutnya orang-orang Hindhu. Hindu merupakan bentuk perubahan kata Shindu menjadi Hindhu. Suku bangsa Arya tersebar ke seluruh dataran sungai Gangga lalu orang-orang Parsi menamakannya Hindhustan atau kediaman orang-orang Hindhu di seluruh kawasan antara Punyab dan Benares (Sivananda, 1993 : 7).

Sebelum Agama Hindu masuk dan berkembang di Indonesia, masyarakat Indonesia atau penduduk asli Indonesia telah memiliki kepercayaan. Para antropolog menyebut sebagai agama suku, agama asli atau agama primitif dan dewasa ini umumnya disebut sebagai agama animisme yang percaya kepada eksistensi roh atau arwah, dan kekuatan alam yang disebut dinamisme. Kepercayaan mereka disebut sebagai kepercayaan prasejarah yang kemudian ketika Indonesia merdeka disebut sebagai aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

 
Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia. Pada abad ke 4 yaitu sekitar th 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), kemudian ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan). Ke Jawa Timur berkembang pada pertengahan abad ke 8 (prasasti Dinoyo) dengan kerajaan Kanjurukan, dan akhirnya menyebar ke Bali.


Foto hanya Ilustrasi
Sumber : Internet.

Agama Hindu ke Bali

Pada abad ke 8 M Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut : “Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu” yang artinya “sang yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”.

Rsi Markandeya adalah putra dari Sang Mrakanda dan Dewi Manaswini. Maharsi Markandeya adalah seorang Rsi yang berasal dari perguruan Markandeya di India, juga dikenal sebagai murid dari Resi Agastya.

Jauh sebelum datangnya Rsi Markandeya ke Bali, sudah ada orang-orang yang lebih dahulu berada di Bali yaitu orang-orang keturunan Austronesia. Mereka tinggal berkelompok dengan pemimpinnya masing-masing. Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali, mereka adalah orang Bali Mula. Pada saat itu orang Bali Mula belum menganut agama, mereka hanya menyembah roh-roh para leluhur yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, keadaan yang demikian ini berlangsung hingga awal tarih masehi kurang lebih sekitar abad pertama masehi. Agama Hindu masuk Bali (Indonesia) memberi pencerahan kepada kepercayaan prasejarah yang telah tumbuh dan berkembang sebelumnya. 

Pada abad ke 8 Rsi Markandeya bersama pengikutnya berjumlah sekitar 800 orang dari Gunung Raung (Jatim) datang ke Bali menuju Gunung Agung (Toh Langkir). Rsi Markandeya bersama-sama dengan pengikutnya merabas hutan, hutan yang dulunya sangat angker karena tidak pernah dijamah oleh manusia sedikit demi sedikit mulai terbuka. Dalam proses pembukaan lahan tersebut banyak pengikutnya yang jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Rsi Markandeya menganggap secara spiritual hal ini sangat aneh. Untuk mengatasi keadaan Rsi Markandeya kembali ke Gunung Raung kemudian disana Beliau melakukan yoga semadi untuk memohon wahyu. Setelah mendapat wahyu Rsi Markandeya kembali lagi ke Bali dengan pengikutnya sekitar 400 orang. Tiba di Gunung Agung Rsi Markandeya membangun bangunan di daerah Besakih dengan dasar Panca Datu (emas, perak tembaga, besi dan kuningan, ke lima logam tersebut dicampur). Bangunan pemujaan itu sekarang dikenal dengan nama Pura Besakih.

Berkat kekuatan Panca Datu itulah pula perabasan hutan / pembukaan lahan dan pembangunan desa adat berlanjut, tetapi bukan dilereng Gunung Agung melainkan di Desa Taro, Kabupaten Gianyar. Ini mungkin Desa Adat pertama di Bali lengkap dengan nama Pura Gunung Raung. Rsi Markandeya juga memperkenalkan sistem pengairan / irigasi yang sekarang disebut subak. Dalam penyebaran Agama Hindu di Bali, Rsi Markandeya juga membangun Pura Pucak Payogan, Pura Lebah di Ubud, dan Pura Murwa di Payangan. Bersamaan dengan agama Hindu pada abad ke 8 masuk juga Agama Buddha ke Bali, namun nampaknya Agama Buddha kurang mendapat simpati dari masyarakat sehingga pada pemerintahan Raja Udayana yang ke 10 agama Buddha akhirnya luluh ke dalam Hindu.


Ketika Agama Hindu masuk ke Bali pada abad ke 8 masyarakat Bali pada zaman pra sejarah Bali, telah memiliki kepercayaan yang telah bersistem meskipun dalam wujud yang masih sederhana. Kepercayaan itu adalah seperti dibawah ini.
  1. Pada zaman prasejarah Bali telah ada kepercayaan kepada gunung sebagai alam arwah tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Gunung sebagai ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa dirasakan langsung memberikan kehidupan kepada manusia berupa kesuburan pertanian, karena pohon-pohon besar yang berguna bagi kehidupan dan sumber-sumber mata air berasal dari gunung. Di sampingnya penguburan sarkofagus itu mengarah ke gunung dan laut. Gunung dan laut melambangkan laki-laki dan perempuan. Pertemuan gunung dan laut atau laki-laki dan perempuan menciptakan kesuburan yang didambakan oleh setiap manusia yang lahir ke dunia ini.
  2. Adanya kepercayaan alam nyata dan tidak nyata. Alam nyata ini tempat kehidupan di dunia ini, sedangkan alam tidak nyata adalah alam yang dituju oleh orang yang telah meninggal. Dan di alam yang tidak nyata itu pun ada kemungkinan kembali ke alam nyata.
  3. Adanya kepercayaan bahwa setelah mati, ada kehidupan di alam lain dan akan menjelma kembali, ini berarti sebelum masuknya Agama Hindu ke Bali telah ada unsur-unsur kepercayaan pada asal usul kelahiran kembali.
  4. Adanya kepercayaan kepada roh nenek moyang atau leluhur yang dapat dimintai perlindungan oleh keturunannya (Putra, 1987:53).

Agama Hindu mudah diterima oleh masyarakat Bali pada masa itu karena ajarannya selaras dengan kepercayaan yang sudah dianut. Kepercayaan kepada dewa dan roh-roh suci yang bersemayam di puncak gunung, serta keyakinan tentang kelahiran kembali atau samsara dan reinkarnasi, juga merupakan bagian dari ajaran Agama Hindu. Demikian pula kepercayaan terhadap roh-roh suci yang melindungi umat manusia, yang sudah ada sebelumnya, sejalan dengan ajaran Agama Hindu.

Masuknya Agama Hindu di Bali tidak merusak atau melenyapkan kepercayaan atau kebudayaan, dan bahkan dalam hal tertentu sangat menghargai kepercayaan dan tradisi budaya masyarakat asli. Hal ini dapat diketahui antara lain dari prasasti Tarunyan yang berasal dari tahun 818 Saka (896 M), yang menceritakan tentang pemberian ijin kepada nanyakan pradhana dan bhiksu agar membangun sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti lainnya yang berasal dari tahun 813 Saka (891 M) berisi tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Trunyan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta (Titib, 2007 : 40).

Pada masa Bali Kuno abad ke 10 merupakan masa tumbuh dan berkembangnya Agama Hindu yang mencapai puncak kejayaan dengan ditandai oleh berkuasanya raja suami istri Dharma Udayana dan Gunapriya Darmapatni. Pada masa itu di Bali banyak sekte-sekte (menurut Dr. Goris dalam buku tentang sekte-sekta di Bali) sejumlah 9 sekte yaitu : Sekta Siwa Sidhanta, Sekta Pasupata, Sekta Bhairawa, Sekta Waisnawa, Bhoda (Sogata), Bhrahmana, Resi, Sora (Surya), dan Ganapatya.

Situasi dan kondisi politik pulau Bali sempat tidak stabil hal ini menyebabkan raja Cri Gunapriya Darmapatni mengundang 4 Bhrahmana (Pandita) bersaudara untuk datang ke Bali yaitu : Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, dan Mpu Kuturan. Keempat Bhrahmana ini kelahiran Bali kemudian bersama-sama melakukan tapa brata yoga semadi di Gunung Semeru (Jatim) untuk memuja leluhurnya bernama Bhatara Hyang Pacupati.

Para Brahmana tersebut bukan saja ahli dalam bidang agama, namun juga ahli dalam bidang sosial politik, sosial budaya dsbnya. Mpu Kuturan (Mpu Rajakerta) dipilih dan diangkat menjadi Senopati (semacam perdana menteri) merangkap jabatan Ketua Majelis “Pakira-kiran Ijro Makabehan” yaitu suatu Lembaga Tertinggi yang bertugas dan berfungsi memberikan nasihat kepada Raja. Majelis ini beranggotakan seluruh tokoh masyarakat termasuk Pandita.

Sebagai ketua Majelis, Mpu Kuturan kemudian mengadakan pesamuhan Agung yang dihadiri oleh penganut-penganut sekte dan agama pada waktu itu. Dalam pesamuhan tersebut Mpu Kuturan menyampaikan buah pikiran, gagasan dan ide yang dianggap bisa mengatasi keadaan politik yang terjadi di masyarakat. Ide Mpu Kuturan dibahas dan diterima, menjadi keputusan. Keputusan tersebut bersifat perubahan dan perbaikan yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan dalam bidang sosial, politik, bisnis dsbnya yang dapat menciptakan suasana aman, tertib, kerukunan hidup serta persatuan seluruh rakyat Bali.

Pesamuhan Agung tsb menghasilkan 5 keputusan yang disebut “Panca Putusing Paruman” yaitu :

  1. Paham Tri Murti dijadikan dasar keagamaan
  2. Agama disebut agama Ciwa Buddha sebagai satu-satunya agama yang dianut masyarakat Bali
  3. Dibentuk organisasi desa yang disebut Desa Pakraman, dan pada setiap desa Pakraman agar Didirikan Khayangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem).
  4. Pada masing-masing rumah tangga agar dibangun Pelinggih (bangunan suci) berbentuk rong tiga yang terdapat pada setiap pemerajan untuk memuja dan memuliakan arwah leluhur, juga berfungsi sebagai Khayangan Tiga keluarga.
  5. Semua tanah pakraman dan tanah yang terletak di sekitar Desa Pakraman dan Pura Khayangan Tiga adalah milik Desa, yang berarti juga milik Pura Khayangan Tiga dan tanah-tanah tersebut hanya boleh dipinjamkan oleh krama desa adat yang bersangkutan dan tidak boleh dipindahtangan / di jual. Dalam perkembangannya kemudian dikenal dengan Desa Adat.

Demikianlah para Rsi dan Mpu yang datang ke Bali, ibarat sumber mata air Weda yang menggenangi danau budaya lokal. Rsi Markandeya memperkenalkan Panca Datu, membangun subak, sistem irigasi yang bersifat sosial religius. Mpu Kuturan merehabilitasi Pura Besakih yang dibuat oleh Rsi Markandeya, memperkuat ikatan ke agama-an ke dalam budaya lokal, dengan menyempurnakan sistem adat yang juga bersifat sosial keagamaan. Mpu Kuturan juga membangun Khayangan Tiga, Sad Kahyangan, Catur Loka Pala dan Kahyangan Tiga Keluarga.

 
Dari uraian tersebut diatas, perkembangan agama Hindu di Bali pada masa Bali Kuno abad ke 10 mencatat 2 peristiwa besar, pertama leburnya agama Buddha ke dalam agama Hindu meskipun leburnya agama Siwa Buddha itu tidak menghentikan sama sekali penyebaran agama Buddha di Bali. Kedua, terjadi 
sinkretisme atau penggabungan dari 9 aliran (sampradāya / sekte) yang berkembang di India dan kemudian berbaur dengan kearifan lokal di Nusantara, khususnya di Bali. Semua sekte tersebut tidak berkembang sebagai agama terpisah, melainkan diintegrasikan dalam suatu bentuk kesatuan yang dikenal sebagai Siwa Sidhānta di Bali
Kedua peristiwa itu rupanya telah  membentuk wajah agama Hindu di Bali yang kita warisi sampai sekarang, disamping juga pengaruh Belanda***


Foto hanya Ilustrasi
Sumber : Internet


Baca juga : 

Keampuhan dan Kesaktian Mantra Gayatri



Daftar Pustaka :

  1. Ardika, I Wayan, 1997, Bali Dalam Sentuhan Budaya Global dalam Dinamika Kebudayaan Bali, Denpasar : Upasana Sastra.
  2. Sivananda, Sri Swami. 1993. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya : Paramita
  3. Titib, I Made, Prof. Dr. Ph.D, 2006, Veda, Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya : Paramita.
  4. Titib, I Made, Prof.Dr.Ph.D, 2007, Teologi Hundu (Brahmavidya), Denpasar, Institut Hindu Dharma Negeri.
  5. Titib, I Made, Prof.Dr.Ph.D, 2007, Studi Agama Hindu, Denpasar, Institut Hindu Dharma Negeri.
  6. ………1992, Cendekiawan Hindu Bicara, Jakarta, Yayasan Dharma Narada


DUNIA SEMAKIN SESAK - "Tentang Jiwa, Karma, dan Migrasi Lahiran"

“Manusia Bisa Lahir Menjadi Binatang,  Begitu Sebaliknya." Foto hanya pemanis. 1. Jiwa Kekal, Wujud Yang Berubah Dalam ajaran Hindu, j...