Senin, 04 Mei 2026

KUBERA YANG “JATUH”: KISAH DANAPATI DI PEWAYANGAN JAWA

 

Foto Ilustrasi Danapati vs Kuwera, 
Sumber Sahabat Al.


Kalau dilihat dari Ramayana Walmiki, Kubera merupakan tokoh suci. Dewa kekayaan, alim, penuh dharma. Dia merupakan putra Wisrawa dengan Ilavida, putri Rsi Bharadwaja.

Tapi di pewayangan Jawa, Kubera versi “dunia” bernama Wisrawana bergelar Prabu Danapati justru menjadi antagonis: membunuh ayah sendiri demi merebut Dewi Sukesi. Dia merupakan putra Wisrawa dengan Lokati, putri Sumali.

Kok bisa “tega” diubah begitu?

1. Kenapa Danapati Dibikin Jahat.
Pewayangan Jawa punya 3 alasan kuat:

Pertama, kebutuhan lakon: simbol nafsu harus kalah.
Struktur moral wayang itu hitam-putih. Setiap malam harus ada contoh angkara murka yang dihukum. Danapati bergelar “raja harta” cocok dijadikan simbol kama atau nafsu duniawi. Pesannya jelas: orang sekaya apapun bisa jatuh gara-gara perempuan. Tokohnya “dikorbankan” demi moral.

Kedua, Supaya Rahwana pantas naik takhta.
Kalau Danapati bijak seperti Kubera asli, penonton akan bertanya: “Lho, kenapa Rahwana mengusir orang baik?” Supaya jalan Rahwana menjadi raja Alengka tetap dianggap bener secara kosmik, pendahulunya harus cacat dulu. Maka Danapati dibuat durhaka: "membunuh ayah dan merebut istri ayah". Rahwana jadi kelihatan “bersih-bersih” Alengka.

Ketiga, pakem “anak malati”.
Tema anak durhaka itu laku di wayang. Pola ini mirip dengan kisah Sangkuriang yang membunuh ayahnya sendiri, atau Jayadrata yang durhaka.

Fungsinya warning: sekuat apapun, kalau durhaka kepada orang tua pasti hancur. Kubera asli terlalu “bersih” untuk dipakai contoh itu.

Tapi nama Kubera yang baik tidak hilang.
Pewayangan Jawa memisahkan dua sosok :
  1. Danapati/Wisrawana: raja Alengka yang angkara. Ini versi “jatuh” dari Kubera.
  2. Bathara Kuwera: dewa kekayaan di Kahyangan, bendahara para dewa di Kerajaan Alakapuri di Gunung Kailash, "tetap suci".

Anggap saja alternate universe. Yang di Alengka itu sisi gelap harta dan nafsu. Yang di kahyangan itu sisi dharma-nya.


2. Lakon Carangan: Gugurnya Begawan Wisrawa.
(Carangan artinya "cabang/ranting", jadi Lakon carangan adalah lakon wayang yang keluar dari pakem Mahabharata atau Ramayana, tapi masih memakai Wayang Purwa yang sama).

Untuk menjelaskan kenapa Danapati jadi jahat, dalang bikin lakon carangan “Wisrawa Rebut Sukesi / Gugurnya Begawan Wisrawa
Alurnya begini :

Latar.
Resi Wisrawa sudah mundur dari takhta Lokapala. Kerajaan diserahkan kepada putranya, Wisrawana bergelar Prabu Danapati/Danaraja. Wisrawa menjadi brahmana di pertapaan Girijembatan.

Sayembara Sukesi.
Di Alengka, tepatnya di istana Prabu Sumali, diadakan sayembara. Banyak raja yang ikut sayembara melamar Sukesi.
Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang bisa mengajarinya ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat / Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. Proses penjabaran ilmu Sastra Jendra dilakukan di pesanggrahan/ sanggar tertutup.

Detya Jambumangli memaksa Sumali membikin sayembara tanding. Jambumangli minta syarat menjadi : "Siapa yang mau memperistri Sukesi harus bisa mengalahkan Dia dulu". Dalam sayembara tanding tidak ada raja yang bisa mengalahkan Jambumangli.

Danapati/Danaraja, raja Lokapala, jatuh cinta kepada Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka. Danapati/Danaraja minta tolong kepada ayahnya, Wisrawa, untuk melamar atas namanya. Wisrawa datang melamar atas nama anaknya Danapati. Wisrawa bisa menjabarkan ilmu itu. Jambumangli menantang Wiswara kalau bisa mengalahkan Dia baru dianggap menang sayembara. Akhirnya, Wiswara mengalahkan Jambumangli atas desakan Jambumangli sendiri. Wisrawa menang dalam sayembara.

Wisrawa khilaf.
Tapi ketika Wisrawa melihat Dewi Sukesi yang cantik jelita, imannya runtuh, dia jatuh hati kepada Sukesi, bahkan menikahi Sukesi, dengan dalih “kodrat, dawuh, wisik”. Sumali, ayah Sukesi setuju karena itu aturan sayembara.

Danapati murka.
Mendengar ayahnya menikahi “pacarnya”, Danapati/Danaraja marah, ngamuk. Laskar Lokapala dikerahkan untuk menyerang Alengka.

Perang bapak-anak.
Wisrawa menyadari kesalahannya. Dia memilih pasrah, “rela mati di tangan anaknya sebagai penebusan dosa” atas kesalahannya. Danapati yang sakti, mempunyai Aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana, akhirnya membunuh Wisrawa. Langit Alengka langsung mendung. Danapati sempat menyesel, tapi nasi sudah jadi bubur.

Karma dibalas Rahwana.
Beberapa tahun kemudian, Danapati dibunuh oleh Dasamuka/Rahwana, anak Wisrawa dengan Sukesi. Sebelum meninggal, Danapati menyerahkan Aji Rawarontek dan Gandik Kencana kepada Rahwana.

3. Makna Lakonnya.
Ini murni lakon moral. Dua pesan penting :

  1. Wisrawa: Pendeta setinggi apapun bisa khilaf kalau dikuasai kama - nafsu. Ujungnya mati untuk menebus dosa.
  2. Danapati: Anak durhaka yang membunuh ayah karena nafsu dan dendam, akhirnya hancur juga. Angkara dibalas angkara.

Jadi memang pedes kalau tokoh favorit seperti Kubera dalam Ramayana Walmiki kena “revisi”. Tapi di wayang, yang penting bukan akurasi sama Ramayana atau Mahabharata. Yang penting pesannya nyampe: nafsu dan dendam ujungnya cuma meninggalkan kuburan.

Ketika Wisrawa menikahi Dewi Lokati (Kakak Sukesi), putri Prabu Sumali dari Alengka, melahirkan Wisrawana yang bergelar Prabu Danapati atau Danaraja, dijadikan tokoh yang tidak baik, durhaka kepada orang tua sebab membunuh orang tuanya sendiri, tidak bisa mengendalikan nafsu, versi pewayangan Jawa..

Namun, ketika Wisrawa menikahi Ilavida/Ilabila, putri Rsi Bharadwaja, melahirkan Kuwera, dijadikan tokoh yang bijak, menjalankan dharma. Inilah dua hal yang antagonis. Melihat kebaikan dari sudut yang berbeda, membuktikan bahwa penilaian baik buruk tergantung sudut pandang dan lakon yang sedang dimainkan.

Demikian sekilas tentang putra Wiswara, menimbulkan cara pandang yang berbeda terhadap satu sosok yg sebenarnya sama. Semoga bermanfaat untuk menambah Vidhya kita dalam memelihara dharma. Apabila ada yang kurang tepat mohon maaf. Suksma🙏

Foto Ilustrasi, Sumber Sahabat Al.


Sumber :
Dirangkum dan dikembangkan dari diskusi bersama Sahabat AI, dengan rujukan pakem pedalangan Jawa, dan rujukan Serat Pustakaraja Purwa Canto I”.


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Jumat, 01 Mei 2026

KERAJAAN ALENGKA

Kerajaan Alengka Menurut Ramayana

Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka, 
Sumber foto Sahabat Al.

Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang saleh dan taat bertapa kepada Dewa Siwa, bernama Sukesa. Ia menikah dengan Devawati dan dikaruniai tiga putra: Malyavan, Sumali, dan Mali.

Karena bhakti Sukesa yang luar biasa, Dewa Siwa menganugerahkan dua berkah : 

  1. Kota emas Alengka – saat itu masih kosong, ibarat “sertifikat tanah” tanpa penghuni. 
  2. Kesaktian dan umur panjang.

Namun Sukesa menolak duduk di takhta. Ia memilih tetap menjadi pertapa. Karena itu, dalam daftar raja Alengka, silsilah dimulai dari putranya, Malyavan. Sukesa berstatus sebagai leluhur penerima anugerah, bukan raja yang memerintah. 
[Sumber: Uttara Kanda, Ramayana; Brahma Purana]

Sukesa
Sumber foto : Sahabat Al.


Tiga Putra Sukesa Memohon Berkah Brahma  

Malyavan, Sumali, dan Mali kemudian bertapa memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar : 

  1. Tali persaudaraan mereka tak pernah putus, selalu saling menyayangi. 
  2. Memiliki kesaktian luar biasa sehingga tak terkalahkan. 
Brahma mengabulkan permohonan tersebut. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 4]


Berdirinya Kerajaan Alengka

Setelah Sukesa lanjut usia, ketiga putranya mengambil alih kota Alengka yang kosong.
Malyavan, sebagai putra sulung, memproklamirkan diri sebagai Raja Alengka Pertama. Ia mengumpulkan bangsa raksasa untuk menetap di sana. Sumali dan Mali menjadi patih dan panglima kerajaan Alengka.

Atas perintah Sumali, Wiswakarma dipaksa membangun istana yang indah dan megah di Alengka. Istana megah-pun selesai dibuat oleh Wiswakarma. Sejak itu Malyavan, Sumali, dan Mali hidup dalam kemewahan. Alengka menjadi ibu kota raksasa yang sangat kuat. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 5]

Wisrawa
Sumber foto Sahabat Al.


Pergantian Takhta dan Kejatuhan Sumali

Setelah Malyavan lengser, takhta dipegang adiknya, Sumali. Namun Sumali juga lengser dikalahkan oleh Dewa Wisnu, lalu digantikan oleh adiknya, Mali. Ketika Mali lengser juga, Sumali kembali naik takhta. Dengan demikian, Sumali tercatat dua kali menjadi raja: Raja Alengka ke-2 dan ke-4. Ketiga bersaudara ini masih hidup segar bugar.

Raja Sumali kembali menyalahgunakan kesaktiannya untuk menyerang Kahyangan, maka para Dewa dipimpin Wisnu menyerbu Sumali Raja Alengka. Dalam pertempuran itu, Malyavan dan Mali gugur. Mengetahui dua saudaranya gugur, Sumali melarikan diri ke Patala – alam bawah – dan bersembunyi karena takut dibunuh Dewa Wisnu. Sejak Sumali kalah, Alengka pun menjadi kosong tidak ada penghuni, tak terawat, hancur akibat perang. 
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 5-6]


Brahma Menghadiahkan Alengka kepada Kuwera

Melihat Alengka kosong dan terbengkalai, Brahma merasa prihatin. Ia memerintahkan Wiswakarma merenovasi Alengka dan menciptakan kendaraan Pushpaka Vimana.

Istana emas Alengka yang megah dan kendaraan Pushpaka Vimana itu kemudian dihadiahkan oleh Brahma kepada Kuwera – putra Resi Wisrawa dengan Ilavida, putri Resi Bharadwaja. Karena Kuwera anak sulung Resi Wisrawa dikenal lurus dan berwatak baik, dan Alengka menjadi ibu kota kerajaan Yaksha sekaligus tempat Kuwera menyimpan hartanya. Karena itu ia bergelar Dewa Kekayaan. Kuwera menjadi Raja Alengka ke-5
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 3; Bhagavata Purana 4.1.21]


Kuwera
Sumber foto Sahabat Al.


Siasat Sumali: Lahirnya Rahwana

Sumali yang hidup di pengasingan berniat mengembalikan kejayaan bangsa raksasa. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sukesi. Mendengar ada rsi sakti cucu Brahma bernama Wisrawa, Sumali berpikir: jika Sukesi menikah dengan Wisrawa, maka cucunya pasti sakti mandraguna. 

Waktu itu Wisrawa sedang bertapa berat. Sumali mengutus Sukesi untuk datang ke pertapaan Wisrawa dan mengabdi. Setiap hari Sukesi melayani Wisrawa dengan tulus: mengambil buah, air, membersihkan ashram. 

Dengan mata batin, Wisrawa mengetahui niat Sumali. Ia juga tahu jika berhubungan pada sandhyakala – waktu senja yang tidak baik – anak yang lahir akan berwatak raksasa. Wisrawa berkata jujur kepada Sukesi :  
“Jika engkau menginginkan anak dariku sekarang, ia akan menjadi raksasa jahat. Namun jika menunggu waktu yang baik, anakmu bisa menjadi orang suci.”
[Uttara Kanda Sarga 9]

Sukesi menjawab bahwa, dia hanya menjalankan dharma sebagai anak, taat perintah orang tua. Dia rela apapun yang terjadi. Karena ketulusan dan dharma Sukesi, Wisrawa akhirnya menerima. Maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanakha pada waktu yang tidak tepat, sehingga berwatak raksasa: Rahwana – angkara murka, Kumbakarna – tamas/tamak, Surpanakha – rajasik/nafsu. 

Anak keempat, Wibisana, lahir setelah Sukesi sadar dan memohon waktu kelahiran yang baik, sehingga berwatak dharma dan satvik. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 9]

Wisrawa menikah dengan Sukesi bukan karena nafsu, melainkan : 

  1. Menghargai dharma dan ketulusan Sukesi. 
  2. Sudah menjadi takdir untuk lahirnya tokoh-tokoh besar dalam lila Ramayana. 
  3. Rsi pada tahap Grhastha-asrama memang menjalankan dharma berumah tangga. “Dharmartha-kama-mokshanam grhastha prabhavaḼ smṛtaḼ”. Artinya : Di antara empat tujuan hidup, tahap berumah tangga adalah penopangnya.[Manusmriti 3.78]


Rahwana
Sumber foto Internet.


Rahwana Merebut Alengka

Setelah dewasa dan sakti, Rahwana bertanya kepada Sukesi: “Mengapa kita tinggal di hutan, padahal kakekku dulu raja Alengka?” Ia merasa Alengka adalah hak waris leluhur. Kuwera dianggap "numpang" karena pemberian Brahma. Sumali yang sudah tua, memanas-manasi Rahwana untuk merebut takhta. 

Rahwana menyerang Kuwera - saudaranya seayah, dan berhasil  merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian pergi meninggalkan Alengka, akhirnya suatu hari membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 11-12]



Rama
Sumber foto Sahabat Al.


Kejatuhan Rahwana, Wibisana Naik Takhta 

Karena menculik Dewi Sita, Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah / mengambil Alengka, Ia menobatkan Wibisana – adik Rahwana yang berpihak pada dharma – sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.
Na me kāṅkᚣā lankāyāᚁ vasituᚁ puruᚣarᚣabha”
Artinya:
“Wahai yang terbaik di antara manusia, Aku tidak berkeinginan tinggal di Alengka.”
[Sumber: Valmiki Ramayana, Yuddha Kanda 128.801)

Setelah itu, Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.
[Sumber: Yuddha Kanda Sarga 128]


Wibisana
Sumber foto Sahabat Al.


Runutan Raja Alengka :

Raksasa Malyavan --> Raksasa Sumali --> Raksasa Mali --> Raksasa Sumali --> Kosong --> Kuwera --> Raksasa Rahwana --> Wibisana (adik Rahwana).

Silsilah Keluarga Alengka :

Brahma mempunyai putra Pulastya.
Pulastya mempunyai putra Wisrawa.
Wiswara mempunyai 2 orang istrin

yaitu :
  1. Ilavida putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
  2. Sukesi/Kaikasi putri Sumali melahirkan: Rahwana, Kumbakarna, Surpanakha dan Wibisana..


Sumber foto : Internet.


Kerajaan Alengka Versi Pewayangan Jawa

Meskipun dipimpin raksasa, dalam pewayangan Jawa, Alengka sering digambarkan sebagai kerajaan yang sangat tentram, makmur, kaya raya, dan memiliki pertahanan yang sangat kuat.

Dalam lakon pewayangan Jawa, kisah Alengka ditarik mundur jauh sebelum era Wisrawa. Silsilah sejarah raja Alengka dan keluarga ada beberapa perbedaan dengan versi Ramayana Walmiki.

Runutan Raja Versi Pewayangan Jawa / Ngalengkadiraja

1. Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu. Ia disebut raja raksasa negara Alengka yang tegas, angkara murka. Hiranyakasipu dibunuh Maharaja Suman dari negara Suryakencana, penjelmaan Wisnu.

Catatan :
"Tokoh Hiranyakasipu dalam pewayangan Jawa berbeda dengan Hiranyakasipu dalam kitab Bhagavata Purana, Dia bukan Hiranyakasipu yang dibunuh Narasinga di Purana, tapi tokoh wayang dengan kisah berbeda".

2. Setelah Prabu Hiranyakasipu meninggal, digantikan oleh anaknya Prabu Banjaranjali. Dari Banjaranjali inilah turun-temurun menurunkan raja-raja negara Alengka.

3. ... silsilah raja-raja lain tidak dirinci. Lakon wayang langsung loncat ke era Sumali.

4. Prabu Sumali: Kakek Rahwana.

5. Kemudian Prabu Danapati/Danaraja /Wisrawana - putra Wisrawa, raja Lokapala, tapi menguasai Alengka sebentar, direbut oleh Prabu Dasamuka/Rahwana, kakak tiri Danapati.

6. Prabu Dasamuka/Rahwana: menjadi raja Alengka. Prabu Rahwana digambarkan memiliki sepuluh wajah (Dasamuka), berwibawa, dan sangat disegani. Dia dibunuh oleh Rama. Kemudian Rama menobatkan Prabu Wibisana menjadi raja Alengka.

7. Wibisana membangun istana baru bernama Singgelapura. Sejak itu Alengka berganti nama jadi Kerajaan Singgelapura. Kerajaan ini juga sering disebut Ngalengkadiraja dalam wayang.


Silsilah keluarga versi Pewayangan Jawa

Versi Pewayangan Jawa jalur Dewa lebih panjang dan sudah “dilokalkan” sbb:
Batara Brahma --> Batara Sambodana --> Batara Sambu --> Resi Supadma --> Resi Wisrawa
Rsi Wisrawa mempunyai 3 Istri yaitu :
  1. ‌Istri pertama Ilavida, putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
  2. Istri kedua Lokati, putri Sumali, melahirkan Danapati
  3. Istri ketiga Sukesi, putri Sumali, melahirkan: Prabu Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Surpanakha dan Arya Wibisana.

Konflik ayah-anak rebut Sukesi

"Dalam pewayangan Jawa, terjadi konflik antara Rsi Wisrawa dengan putranya Danapati karena memperebutkan Dewi Sukesi".

Danapati/Danaraja/Wisrawana merupakan putra Rsi Wiswara dengan Lokati juga ingin menikahi Dewi Sukesi. Dewi Sukesi adalah adik dari Dewi Lokati. Karena Sukesi menjadi istri Wisrawa, Danapati/Danaraja/Wisrawana menyerang dan membunuh Rsi Wisrawa yang merupakan orang tuanya sendiri. Danapati/Danaraja/Wisrawana lalu terusir dari Alengka oleh Rahwana.

Demikian sekilas tentang Kerajaan Alengka. Semoga bermanfaat untuk menambah  Vidhya kita semua, apabila ada yang kurang mohon maaf. Suksma.***🙏


Foto Ilustrasi.
Sumber foto Sahabat Al.


Catatan Sumber Utama :

  1. Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Sarga 3–12. 
  2. Brahma Purana_, Bab tentang Silsilah Pulastya. 
  3. Bhagavata Purana, Skandha 4, Adhyaya 1. 
  4. Manusmriti_ 3.78 untuk dharma Grhastha. 
  5. Cuplikan "Cerita ulang oleh Sahabat AI, 20 April 2026".


Artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



Rabu, 01 April 2026

Bhakti dan Para Bhakti Kepada Tuhan




Dalam Bhagawadgita, Krisna bersabda: "Siapa pun yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaKu dan berlindung kepadaKu, maka dia akan Aku lindungi dan Aku akan membimbing menuju kesadaran Tuhan”.

Apakah maksudnya menyerahkan diri dan berlindung di sini? Apakah dengan menyerahkan diri secara nyata (fisik) begitu? Tentu tidak, menyerahkan diri berarti menjalankan ajaranNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Kekuasaan Tuhan sangat tidak terbatas, Beliau Maha Tahu, Maha Ada, Maha Mencipta dsbnya, pendeknya maha segalanya. Dunia yang sangat luas yang kita huni sekarang ini dikenal dengan nama Bhutakasa , ini diciptakan oleh Tuhan. Selain dunia yang nyata ini Tuhan juga menciptakan dunia halus yang lebih luas lagi yang disebut dengan alam Cithakasa atau alam mental, dan Tuhan juga menciptakan dunia yang lebih halus dan lebih luas dari alam Cithakasa, yang disebut dengan alam Chidakasa atau alam Kausal. Alam Chidakasa ini merupakan alam yang paling luas dan paling halus diantara dua alam tadi (Bhutakasa dan Chitakasa), sebab dari alam Chidakasa inilah lahirnya alam Bhutakasa dan alam Chitakasa.
Akumulasi dari ketiga alam inilah yang dikenal dengan istilah Tri Loka. Bisa kita membayangkan betapa Maha Kuasa Tuhan. Kitab suci menyatakan hal ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Manusia dikaruniai kemampuan yang sangat terbatas dan sangat sulit bagi manusia untuk memahami prinsip yang suci ini, maka demi kepentingan manusia, dalam Bhagawadgita Krisna mengajarkan cara yang mudah untuk berbakti kepada Tuhan. Dalam praktek sehari-hari bhakti dirangkai menjadi 2 yaitu Bhakti Biasa dan bakti yang lebih tinggi tingkatannya disebut Para Bhakti.

Bhakti yang biasa merupakan berbagai kegiatan persembahyangan dan upacara yang dilakukan oleh penganut, misalnya berziarah ke tempat-tempat suci, mandi di sungai-sungai yang dianggap suci dll. Bakti yang biasa ini mempergunakan sarana bunga, buah, daun dan air sebagai pemujaan kpd Tuhan. Dari manakah berasal-benda tsb? Semua benda-benda tsb merupakan ciptaan Tuhan, milik Tuhan bukan milik kita yang sesungguhnya. Jadi dimana letaknya Bhakti / pengorbanan jika kita dipersembahkan kepada Tuhan benda-benda yang diciptakan / milik Tuhan sendiri? 

Tetapi Bhakti yang mendalam atau Para bhakti  ini merupakan usaha-usaha untuk selalu mengembangkan sifat-sifat yang sempurna, dan selalu diliputi oleh kasih kepada Tuhan. Bhakti jenis ini mempergunakan benda-benda yang benar-benar menjadi milik kita; misalnya kita mempersembahkan bunga hati yang bersih kepada Tuhan; mempersembahkan buah karma yang baik kepada Tuhan; mempersembahkan daun, ibarat tubuh kita harus dirawat dengan baik, menyucikan semua anggota tubuh dan menggunakannya untuk melakukan pekerjaan / perbuatan yang benar, jangan dipakai ketempat-tempat yg tidak layak (komplek tuna susila) dll, krn dalam tubuh berstana Atman (percikan Tuhan); mempersembahkan air (air mata penyesalan) terhadap pikiran, perkataan, perbuatan kita yang tidak baik dll.

Bhakti yang mendalam atau Para bhakti ini dirangkum menjadi 3 tahap yaitu :

(1). Matkarmatkrit , “Bekerjalah demi Aku”. Hendaknya kita menghayati bahwa kerja merupakan salah satu bakti kepada Tuhan. Kita bermaksud menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tulus ikhlas, tidak terikat dengan hasil kerja itu sendiri. Persoalan hasil kerja itu serahkan kepada Tuhan, itu urusan Tuhan, kita hanya bertanggung jawab terhadap kerja itu sendiri.

Dalam perang Kuruksetra, ketika Arjuna sdh berhadap-hadapan dengan Kakek Bisma, guru Drona, dan sanak keluarga lainnya, Dia menjadi lemas, tidak ada tenaga, Dia tidak mau berperang / membunuh Kakek Bisma yang sangat dia hormati, Guru Drono yang sangat berjasa mengajarkan ilmu memanah dll.
Arjuna melemparkan semua busur-busurnya dan berkata kepada Krisna, "Aku tidak mau berperang". Krisna kemudian menasehati Arjuna, "Engkau adalah seorang ksatria, tugasmu adalah berperang. Kalau kamu tidak mau berperang, kamu akan dicap sebagai seorang pengecut. Tentang hasil perang ini serahkan sepenuhnya kepadaKu", demikian kata Krisna. Setelah mendengarkan wejangan Krisna, akhirnya Arjuna bangkit dan mau berperang. Dia tidak memikirkan bagaimana hasil perang tsb.

(2). Matparamo, "Semata-mata demi Aku". Apapun yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan semata-mata demi menyenangkan Tuhan. Berbagai aktivitas sehari-hari seperti : makan yang enak, tidur yang nyenyak, istirahat yang cukup, kita menganggap bahwa itu semua demi badan, pikiran dan perasaan kita. Padahal sebenarnya adalah demi Atma. Aku disini menunjuk pada yang abadi bukan menunjuk pada badan. Kita mengatakan : "Ini tanganku, ini telingaku, ini kepalaku" dll. Dalam kalimat-kalimat itu ada subjek dan predikat; ada tangan dan ada Aku, ada telinga dan ada Aku, ada kepala dan ada Aku. Aku itu yang mana? Tiada lain Aku itu menunjuk kepada Sang Diri Sejati yaitu Atman.

(3). Matbaktaha, Berbaktilah hanya kepadaKu”. Berbakti kepada Tuhan bisa disinonimkan dengan kasih kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan bisa kita implementasikan kasih kepada semuanya. Kasih tidak mengenal perbedaan warna kulit, tidak mengenal perbedaan agama. tidak memandang orang kaya-miskin. Kasih adalah satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan semuanya serta menyadarkan kita pada kenyataan tunggal dibalik segala yang tampaknya beragam.
Kalau pikiran kita diresapi dengan kasih maka ia akan menjadi satya (kebenaran), kalau cinta kasih yang meresapi perbuatan kita ia akan menjadi dharma (kebajikan), kalau perasaan kita diliputi cinta kasih ia akan menjadi kedamaian (prema), mengerti cinta kasih ia akan menjadi Ahimsa (tanpa kekerasan).

Ada seorang Rsi yang bersumpah akan melaksanakan ahimsa dan berkata jujur ​​​​​​​​
Satyam vada Ucapkan kebenaran" apapun yang terjadi. Tatkala Rsi ini melakukan tapa, ada seorang pemburu yang sedang berburu rusa. Rusa yang diburu itu lari didepan sang Rsi dan bersembunyi. Sang pemburu datang dan bertanya kepada Rsi tsb, “Apakah anda melihat rusa lari disini, dimana dia bersembunyi?”
Sang Rsi berada dalam suatu konplik batin yang sangat hebat, jika ia berkata ”melihat”, berarti ia telah menyebabkan matinya rusa itu, berarti melanggar sumpahnya tentang ahimsa. Kalau dia mengatakan “tidak”, berarti dia sudah berkata bohong. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia menemukan jalan yang terbaik untuk mengatasi dilema ini. Ia menjawab dengan kata-kata yang membingungkan. Jawabnya : "Mata yang melihat tidak dapat mengatakan, sedangkan mulut yang berbicara tidak dapat melihat, Aku tidak dapat mengubah yang melihat harus mengatakan, dan yang berbicara harus melihat, itu adalah kebenaran". Dengan jawaban ini maka Rsi tersebut terhindar dari masalah yang menimpanya.

Bhagawan Sri Satya Narayana mengatakan  jangan berbohong. Beliau mengatakan “Jika kamu tidak dapat mengatakan yang sebenarnya lebih baik kamu diam dan tidak berbicara dari pada mengatakan yang tidak benar”. (Berbohong kepada musuh, kepada anak kecil yang sakit diperbolehkan, ket pen).

Tuhan yang Maha Besar atau Mahima bisa mengambil wujud yang terkecil dari yang paling kecil atau Anima. Dikatakan jauh Beliau sangat jauh sekali, dikatakan dekat beliau dekat sekali yaitu di dalam hati para bakta.

Ada sebuah cerita, suatu ketika Narada menghadap Tuhan, dan Tuhan bertanya kepada Narada, "Narada, sepanjang penjelajahanmu didunia kemanapun kamu memandang, kamu melihat 5 elemen yang hebat yaitu : Apah, teja, bayu, akasa, pertiwi, yang manakah terpenting dan terbesar dari kelima elemen itu?" Narada menjawab: “Tentu saja tanah yang paling besar.  Tuhan melanjutkan lagi, “Mana mungkin tanah yang paling besar kalau tiga perempat permukaan tanah ditelan oleh air, hanya seperempatnya saja yang menjadi daratan? Katakan yang Anda anggap lebih besar, yang menelan atau yang ditelan?” Narada menjawab, “air yang lebih besar.”
Tuhan melanjutkan lagi, ”ketika para raksasa bersembunyi di dasar samudra, Rsi Agastya meneguk air samudra hanya dengan sekali tegukan air samudra menjadi kering, sekarang katakan mana yang lebih besar air samudra atau Agastya?” Narada menjawab : “Rsi Agastya yang lebih besar”. 
Tuhan melanjutkan lagi, “Ketika Rsi Agung
Agastya meninggalkan badan raga beliau hanya menjadi penghuni salah satu bintang kecil diangkasa  yang sangat luas. Sekarang katakan mana yang lebih besar Rsi Agastya atau Angkasa?” Narada menjawab : “Yang lebih besar adalah Angkasa".
Tuhan melanjutkan lagi, dalam sejarah ada diceritakan bahwa ketika Tuhan turun ke dunia menjadi orang cebol (Wamana Avatara). Beliau baru menginjakkan satu kaki-Nya saja maka dunia sudah terinjak. Katakan mana yang lebih besar Kaki Tuhan atau Akasa?"
Narada menjawab: "Kaki Tuhan yang lebih besar".  Akhirnya Narada tiba pada satu kesimpulan bahwa kalau kakiNya saja sudah begitu besarnya, apalagi wujudnya?
Tapi Tuhan masih mempunyai satu pertanyaan lagi. 'Tuhan yang maha besar bisa mengambil wujud yang sangat kecil dari yang terkecil dan merelakan dirinya dikurung di dalam hati para bakta yang betul-betul menyerahkan diri kepadaNya. Sekarang katakan, 'Mana yang kamu anggap lebih besar yang mengurung atau yang dikurung?” Akhirnya Narada berkata, ”Bakta harus dianggap lebih besar dari pada Tuhan”.

Bakta yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Tuhan memang sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar. Dia mampu mengurung Tuhan di dalam hatinya. Tetapi manusia karena awidya (kegelapan) dia merasa kecil, tingkat kesadaran spiritualnya masih rendah. Dia mengatakan : "Aham dehasmi - Aku adalah Badan". Pada tahap ini kita berkata, Aku adalah Abdi Tuhan, dan menganggap Tuhan berada di suatu tempat yang jauh ini adalah tahap Dwaita.
Tetapi dengan menekuni pengetahuan spiritual / pengetahuan tentang Tuhan - pengetahuan adikodrati (Brahma Vidya), seorang sadaka meningkat dari tahap "Aham dehasmi - Aku adalah Badan", menjadi ”Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa”. Dalam tahap ini sadaka sudah merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, ini tahap Wishistadwaita.
Dan selanjutnya melangkah lagi dari "Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa". menjadi “Aham Brahma Asmi - Aku adalah Tuhan” , ini adalah tahap Adwaita .

Dalam disiplin spiritual ada 4 jenis pengabdi kepada Tuhan, yaitu :
  1. Arthi : kelompok orang-orang yang berdoa kpd Tuhan apabila dia sedang mengalami berbagai masalah dan cobaan atau sedang sakit. Dia berdoa mohon kesembuhan, mohon agar masalahnya dapat diatasi.
  2. Arthaarti : kelompok orang-orang yang memuja Tuhan memohon agar diberikan kekayaan, jabatan, rumah mewah, dll.
  3. Jignasu : kelompok orang-orang yg tdk henti-hentinya menekuni azaz kerohanian. Ia selalu mencari jawaban atas pertanyaan : Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Kemana aku akan pergi? Apa yang akan aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bagaimana Aku dpt mencapai Tuhan? Kelompok ini terus mempelajari pengetahuan tentang ke-Tuhan-an serta selalu tekun dalam spiritual / olah rohani.
  4. Jnani : kelompok orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, mempunyai pengetahuan adikodrati mempunyai Jňana. Jňana adalah pengetahuan tentang Tuhan. Ada disebutkan, "Brahmavid Brahmaiva Bhawathi" artinya  "Siapa yg mengetahui Tuhan maka dia akan menjadi Tuhan". Kelompok orang-orang ini sudah dapat menghayati secara terus menerus sifat-sifat keilahian yang ada dalam dirinya, dia sdh mencapai tingkat "Jivanmukti"  yaitu seseorang yang telah mencapai kesadaran spiritual yang tertinggi saat masih hidup di dunia. Mereka dianggap telah mencapai moksa, namun masih memiliki tubuh fisik.

Ada dua jenis pengetahuan yang dapat dicari manusia dalam pencariannya akan kebahagiaan. Pertama adalah pengetahuan duniawi (Lokajnana). Pengetahuan ini terkait dengan pengetahuan tentang teknologi, kesehatan, kimia, matematika, botani, musik, seni rupa, alam semesta fisik, dll. Semua jenis pengetahuan ini hanyalah digunakan sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah.
Jenis pengetahuan lainnya adalah pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa (Brahmajnana)  yang membimbing cara hidup sesuai dharma. Pengetahuan ini mengungkapkan tentang asal muasal; pertumbuhan dan peleburan kosmos yang disebabkan oleh Brahman (realitas yang tertinggi), mendapatkan jawaban atas pertanyaan, "
Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Kemana Aku akan pergi? Apa yang akan Aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bgmn Aku dapat mencapai Tuhan?" (Wacana Ilahi, 24 Juli 1983).***🙏


Diolah dari berbagai sumber.

Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




KUBERA YANG “JATUH”: KISAH DANAPATI DI PEWAYANGAN JAWA

  Foto Ilustrasi Danapati vs Kuwera,  Sumber Sahabat Al. Kalau dilihat dari Ramayana Walmiki, Kubera merupakan tokoh suci. Dewa kekayaan, a...