Kalau dilihat dari Ramayana Walmiki, Kubera merupakan tokoh suci. Dewa kekayaan, alim, penuh dharma
Tapi di pewayangan Jawa, Kubera versi “dunia” bernama Danapati/Wisrawana justru menjadi antagonis: bunuh ayah sendiri demi rebutan Dewi Sukesi.
Kok bisa “tega” diubah begitu?
Pertama, kebutuhan lakon: simbol nafsu harus kalah.
Struktur moral wayang itu hitam-putih. Setiap malam harus ada contoh _angkara murka_ yang dihukum. Danapati bergelar “raja harta” cocok dijadikan simbol _kama_ atau nafsu duniawi. Pesannya jelas: orang sekaya apapun bisa jatuh gara-gara perempuan. Tokohnya “dikorbankan” demi moral.
Kedua, Supaya Rahwana pantas naik takhta.
Kalau Danapati bijak seperti Kubera asli, penonton akan bertanya: “Lho, kenapa Rahwana ngusir orang baik?” Supaya jalan Rahwana menjadi raja Alengka tetap dianggap bener secara kosmik, pendahulunya harus cacat dulu. Maka Danapati dibuat durhaka: "membunuh ayah dan rebutan istri ayah". Rahwana jadi kelihatan “bersih-bersih” Alengka.
Ketiga, pakem “anak malati”.
Tema anak durhaka itu laku di wayang. Pola ini mirip dengan kisah Sangkuriang yang membunuh ayahnya sendiri, atau Jayadrata yang durhaka.
- Danapati/Wisrawana: raja Alengka yang angkara. Ini versi “jatuh” dari Kubera.
- Bathara Kuwera: dewa kekayaan di Kahyangan, bendahara para dewa di Kerajaan Alakapuri di Gunung Kailash, "tetap suci".
Anggap saja alternate universe. Yang di Alengka itu sisi gelap harta dan nafsu. Yang di kahyangan itu sisi dharma-nya.
Untuk menjelaskan kenapa Danapati jadi jahat, dalang bikin lakon carangan “Wisrawa Rebut Sukesi / Gugurnya Begawan Wisrawa”
Alurnya begini :
Sayembara Sukesi.
Di Alengka, tepatnya di istana Prabu Sumali, diadakan sayembara. Banyak raja yang ikut sayembara melamar Sukesi.
Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang bisa mengajarinya ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat / Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. Proses penjabaran ilmu Sastra Jendra dilakukan di pesanggrahan/ sanggar tertutup.
Detya Jambumangli memaksa Sumali membikin sayembara tanding. Jambumangli minta syarat menjadi : "siapa yang mau memperistri Sukesi harus bisa mengalahkan Dia dulu". Tidak ada raja yang bisa mengalahkan Detya Jambumangli.
Danapati/Danaraja, raja Lokapala, jatuh cinta kepada Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka. Danapati/Danaraja minta tolong kepada ayahnya, Wisrawa, untuk melamar atas namanya. Wisrawa datang melamar atas nama anaknya Danapati. Wisrawa bisa menjabarkan ilmu itu. Jambumangli menantang Wiswara kalau bisa mengalahkan Dia baru dianggap menang sayembara. Akhirnya, Wiswara mengalahkan Jambumangli atas desakan Jambumangli sendiri. Wisrawa menang dalam sayembara.
Wisrawa khilaf.
Tapi ketika Wisrawa melihat Dewi Sukesi yang cantik jelita, imannya runtuh, dia jatuh hati kepada Sukesi, bahkan menikahi Sukesi, dengan dalih “kodrat, dawuh, wisik”. Sumali, ayah Sukesi setuju karena itu aturan sayembara.
Danapati murka.
Mendengar ayahnya menikahi “pacarnya”, Danapati/Danaraja marah, ngamuk. Laskar Lokapala dikerahkan untuk menyerang Alengka.
Perang bapak-anak.
Wisrawa menyadari kesalahannya. Dia memilih pasrah, “rela mati di tangan anaknya sebagai penebusan dosa” atas kesalahannya. Danapati yang sakti, mempunyai Aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana, akhirnya membunuh Wisrawa. Langit Alengka langsung mendung. Danapati sempat menyesel, tapi nasi sudah jadi bubur.
Karma dibalas Rahwana.
Beberapa tahun kemudian, Danapati dibunuh Dasamuka/Rahwana, anak Wisrawa dengan Sukesi. Sebelum meninggal, Danapati menyerahkan Aji Rawarontek dan Gandik Kencana kepada Rahwana.
3. Makna Lakonnya.
Ini murni lakon moral. Dua pesan penting :
- Wisrawa: Pendeta setinggi apapun bisa khilaf kalau dikuasai kama - nafsu. Ujungnya mati untuk menebus dosa.
- Danapati: Anak durhaka yang membunuh ayah karena nafsu dan dendam, akhirnya hancur juga. Angkara dibalas angkara.
Jadi memang pedes kalau tokoh favorit seperti Kubera dalam Ramayana Walmiki kena “revisi”. Tapi di wayang, yang penting bukan akurasi sama Ramayana atau Mahabharata. Yang penting pesannya nyampe: nafsu dan dendam ujungnya cuma meninggalkan kuburan.
Demikian sekilas tentang putra Wiswara, menimbulkan cara pandang yang berbeda terhadap satu sosok yg sebenarnya sama.
Namun, ketika Wisrawa menikahi Ilavida/Ilabila, putri Rsi Bharadwaja, melahirkan --> Kuwera, dijadikan tokoh yang bijak, menjalankan dharma. Inilah dua hal yang antagonis. Melihat kebaikan dari sudut yang berbeda, membuktikan bahwa penilaian baik buruk tergantung sudut pandang dan lakon yang sedang dimainkan.
Semoga bermanfaat untuk menambah Vidhya kita dalam memelihara dharma. Apabila ada yang kurang tepat mohon maaf. Suksma🙏
Sumber :
“Dirangkum dan dikembangkan dari diskusi bersama Sahabat AI, dengan rujukan pakem pedalangan Jawa, dan rujukan Serat Pustakaraja Purwa Canto I”.
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Tidak ada komentar:
Posting Komentar