Rabu, 13 Juli 2016

Makna Ngaben dan Mamukur, (Mamukur Massal di Banyubiru - Negara)

Sejak beberapa bulan lalu, Mei 2016 sampai sekarang Juli 2016 dan mungkin sampai beberapa bulan kedepan, banyak diadakan upacara Mamukur/Ngaben massal (Kolektif) di Negara Kab. Jembrana. Saat ini (Juli 2016) di Banyubiru - Negara diselenggarakan Memukur/Ngaben massal yang diikuti sekitar 60 peserta. Memakur/Ngaben massal sudah menjadi tren dikalangan masyarakat Bali, pelaksanaannya berlangsung dengan biaya yang lebih hemat, namun tidak muengurangi tujuan esensial dari Mamukur/Ngaben itu sendiri serta dapat mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antara umat hindu di Negara, itulah yang menyebabkan Mamukur/Ngaben massal sangat diminati.




Kematian bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup, tapi sebuah awal dari kehidupan orang lain. Beberapa agama seperti Islam, Buddha, dan Hindu, percaya bahwa kematian adalah saat di mana manusia menjalani sebuah kehidupan yang lebih kekal daripada yang alami di dunia. Itulah sebabnya upacara kematian dilakukan dengan khidmat untuk mengantarkan jiwa orang yang meninggal ke alam akhirat.

Upacara mengantarkan jiwa menuju alam akhirat berbeda-beda tergantung dari kepercayaan dan agama yang dianut. Dalam Lontar Gayatri disebutkan bahwa saat orang meninggal rohnya disebut Preta. Untuk mencapai tahapan Dewa Pitara ada beberapa upacara yang harus dilakukan seperti upacara ngaben dan Mamukur. Kemudian setelah melalui prosesi upacara ngaben dan Mamukur maka rohnya disebut Pitra .

Upacara Ngaben

         Sebelum  upacara ngaben, terlebih  dahulu disampaikan membahas tentang struktur pribadi manusia, yakni sebagai umat manusia yang hidup dan mampu menjalankan aktivitas karena dihidupkan oleh Atma yang di dalam tubuh mahluk sering disebut Jivatma. Atma individu ini dibelenggu oleh 5 selaput yang disebut  Panca Kosa , yang terdiri dari: 
  1. Annayakasa , alfabet yang paling luar berupa badan wadag yang terdiri dari berbagai unsur makanan, yang tersusun dari unsur-unsur Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta.
  2. Pranamayakasa , lonjakan yang lebih dalam berupa tenaga vital (energi) dalam tubuh setiap mahluk.
  3. Manomayakasa , merupakan kegelisahan badan pikiran.
  4. Vijnanamayakasa , ritme kecerdasan budi (intelektualitas).
  5. Anandamayakasa , Nasib Atma, sumber kehidupan setiap mahluk.

 Kelima pembungkus tersebut, dapat tertanam menjadi tiga badan atau Tri Sarira, yaitu : 

1 . Sthula Sarira  (badan wadag/badan kasar), terdiri dari Ananamayakasa dan Pranamayakasa.
2.   Suksma Sarira  (badan halus) terdiri dari Manomayakasa dan Vijnanamayakasa,
3.   Antahkarana Sarira  (yang menyebabkan hidup), yakni Anandamayakasa - Atma atau Sang Diri.

Bila seseorang meninggal dunia, maka badan wadag (Sthula Sarira terdiri dari Ananamayakasa dan Pranamayakasa) akan hancur, sedangkan badan lainnya masih tetap utuh.  Di dalam upacara ngaben terjadi suatu pertemuan  jiwatma  dengan  Sthula Sarira.

Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama, secara etimologis Ngaben berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian , yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan mengalami pergeseran kata menjadi ngaben . Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya . D alam kalimat aktif menjadi meyanin , ngabeyain . Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben . Ada juga yang mengatakan dari kata ngabu ( menjadi abu ), dll.

Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat. Meskipun ada juga ngaben yang tidak dibakar seperti di Trunyam (di Trunyam mayat ditaruh begitu saja). Dalam Ngaben (pembakaran mayat) ada 2 api yang dipakai , yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara).

Ngaben menurut keadaan jenasah ada 3 (tiga), yaitu :
  • Sawa Wedana : Ngaben yang layon/jenasahnya langsung dibakar/kremasi.
  • Asti Wedana : Ngaben dimana layon/jenasah orang yang diaben terlebih dahulu ditanam disetra, setelah beberapa lama (umumnya setelah satu tahun) tulang belulangnya diangkat untuk diaben.
  • Svasta : Ngaben dimana layon/jenasah orang yang mau diaben tidak ditemukan/ hilang atau hilang ( misalnya karena perang, kecelakaan di laut dll ) .

Makna Upacara Mamukur

Mamukur berasal dari kata bukur ( bukur, yang merupakan tempat abu Puspasarira baik berupa bokor, maupun sebuah usungan dengan atap bertingkat, seperti meru). Kata bukur adalah singkatan dari kata bu ( bhu ) artinya alam, dan ka t a ur (yang berasal dari kata urdhah ) artinya atas. Kata bukur artinya alam atas dan kata mamukur artinya menuju alam atas - dari bwah loka ke swah loka .

Upacara Mamukur merupakan kelanjutan upacara ngaben agar arwah seseorang yang telah diabenkan mencapai kesucian sampai tingkat dewa pitara,  di alam Swah Loka. Rwah orang yang belum diupacarai mamukur akan tetap berada di alam pitara ( bwah Loka ) dan mengambang tidak bisa digarap karena jiwatmanya masih terkungkung oleh  Suksma Sarira  (badan halus). Karena tidak bisa diwujudkan maka jiwatmanya tidak dapat kesempatan melaksanaan subhakarma untuk pengampunan asubhakarma yang pernah diperbuat dimasa kehidupan yang dahulu yang masih melekat sebagai karmawasana   

Biasanya bila seseorang atau sebuah keluarga besar melaksanakan upacara Mamukur, maka diiringi pula oleh upacara lainnya seperti upacara Mapandes, Otonan dan kadang – kadang pula upacara Pawintenan. Upacara ketiga terakhir ini sering disebut upacara Manusa Yajna .

Di dalam upacara ngaben terjadi suatu pertemuan jiwatma dengan Sthula Sarira, sehingga Jiwatman berada di Bwah Loka. Sedangkan di dalam upacara mamukur terjadi perpecahan jiwatma dengan  Suksma Sarira , sehingga jiwatma menjadi suci yang disebut dewa pitara, berada di Swah Loka. Namun demikian tidak berarti pitara itu dewa. K arena dewa pitara yang sudah penuh kesuciannya itu berada di alam dewa dan juga berfungsi membimbing serta melindungi kehidupan keturunannya, maka dewa pitara itu pun disebut B hatara Kawitan sebagaimana yang dipuja pada Pelinggih Kamulan atau Kawitan oleh keturunannya.

Upacara penyucian ini di Bali ada beberapa istilah, yang mempunyai arti sama dengan M amukur antara lain :
-         Nyekah . Dalam sekah atau puspalingga inilah mendiang pitra bertahta. Bentuk sekah dibuat dari daun beringin berjumlah 108 atau 54 lembar yang ditusuk berangkai masing-masing susun tiga lembar. Tata cara tusukan daun beringin itu tengkurep bagi pitra laki-laki, sebaliknya bila mendiang seorang wanita daun beringin dipasang menengadah.
-         Ngeroras (karena umumnya upacara ini dilakukan setelah 12 hari upacara Ngaben),
-         Selain itu dikenal juga dengan upacara Maligya dan sebagainya.

Makna dan Rangkaian Upacara Mamukur :
  1. Masing-masing peserta Mendak Arwah yang akan diupacarai di masing-masing Pura Dalem/Segara, selanjutnya dibawa ke Jro Bangsal.
  2. Nunas Don Bingin . Pohon bingin atau beringin di dalam kitab suci veda dan susastra Hindu lainnya disebut Kalpataru atau Kalpavriksa. Sejenis dengan pohon ini disebut juga Asvatta . Pohon beringin pada mulanya tumbuh di sorga dan untuk kesejahteraan umat manusia, pohon ini diturunkan ke bumi sebagai simbolis untuk memperoleh kemakmuran. Pohon kalpataru ini banyak dipahatkan di dinding luar mandir atau candi, seperti halnya kita dapat melihat di candi Prambanan - Jawa Tengah. Upac a ra Nunas Don Bingin ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain. Sebagai alas daun bingin yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.
  3. Ngajum Puspasarira atau Puspalingga . Karena d alam prosesi mamukur tidak ada jenazah , m alias dibuatkan simbol -simbul  badan halus dari atma/roh yang akan diprosesi. Upacara memetik daun beringin (kalpataru/kalpavriksa 108 lembar ) dipergunakan sebagai bahan Puspasarira (simbol badan/pengawak) bagi arwah yang akan disucikan.   Arwah atau roh yang disucikan itu diharapkan berkenan hadir dan menjadikan Puspasarira sebagai penggerak badan nya. Atma yang akan disucikan sebagai purusa , sedang   Puspasarira sebagai prakrti -nya.
  4. Lunga ke Beji/Taman.  Puspa Sarira / Puspa Lingga disunggi dan dipayungi Tedung putih/kuning oleh masing-masing keluarga dibawa ke Beji / Taman. Karena jumlah yang cukup banyak, iring-iringan menuju Bejian lumayan panjang.
  5. Mapradaksina / mapurwadaksina . Upacara ini mengandung makna untuk memohon agar roh leluhur yang akan diupacarakan berkenan turun hadir dalam upacara. Selanjutnya mengikuti jejak lembu putih (sapi gading) sebagai simbol mengikuti jalan ketuhanan (karena lembu putih adalah kendaraan dewa Siwa). Melalui upacara ini dimohon kehadapan Sang Hyang Siwa agar leluhur yang diupacarakan dapat mencapai sorga.  
  6. Ngaliwet . Upacara ini mengandung makna sebagai persembahan atau bekal roh, selanjutnya akan dipersembahkan oleh roh kepada Sang Hyang Siwa berupa nasi yang dibuat berbentuk seperti bola pingpong disebut Pitrapinda, di India disebut “ Pioia”;  dan bubur bundar (bubur-pitara) dipersembahkan oleh roh kepada Sang Hyang Yama - putra Sang Hyang Surya (Siwa) sebagai penguasa alam kematian (Pitraloka) . 
  7. Ngeseng , yakni pembakaran P uspasarira (wujud badan roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, panguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api baking yang diberikan oleh pandita pemimpin upac a ra. Upac a ra ini sangat baik dilakukan pada dini hari, saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan A tma dari keduniawian .  Namun sejak Covid-19 upacara ngeseng tidak lagi dilakukan pada dini hari, ada yang dilakukan siang hari atau malam sekitar pukul 22.00 WIT.
  8. Nganyut Sekah ke Segara atau ke Sungai.  Upacara ini mengandung makna bahwa abu bekas Puspasarira ini dikembalikan ke unsur alam yang disebut Panca Mahabhuta yang disimbolkan dengan udara. Air sungai yang mengalir akan menyatu juga dengan air laut berfungsi sebagai rangkaian akhir hayutnya kekotoran dunia, sekaligus pula sebagai tempat penyucian dari tirtha Amrita (air kehidupan dan keabadian). 
  9. Dewapitra Pratistha . Upacara ini mengandung makna permohonan kepada Atma yang disucikan itu berkenan untuk berstana di pura keluarga, Sanggah Kamulan, atau Kawitan, untuk disembah memohon wara nugraha dan perlindungannya.
  10. Nyagara-gunung  yaitu ucapan terima kasih kepada Sang Hyang Baruna (penguasa lautan) serta Sang Hyang Siwa/Sang Hyang Girinatha (penguasa Gunung), atas karunianya dengan berbagai isi alam yang kita pergunakan beryadnya, sehingga upacara telah berjalan dengan sukses.
  11. Maajar-ajar mengandung makna ucapan terima kasih pihak yang meyadnya kepada pihak yang membimbing (para ajar) yaitu Pandita, Pemangku, Serati dll yang telah memberikan jasa-jasanya sehingga yadnya berjalan sukses sebagai mana mestinya. Acara nyegara gunung dan meajar-ajar dilaksanakan sekalian. Biasanya perjalanan ke Pura Goa Lawah dan Pura Besakih. Pemilihan pura bisa disesuaikan dengan tradisi dan kepercayaan setempat, karena nyegara gunung dan meajar-ajar adalah upacara untuk mengiringi roh leluhur (yang diupacarai) dalam perjalanan tirtha yatra ke berbagai pura suci di Bali. Namun bisa dilakukan ke berbagai pura suci lainnya, tidak terbatas hanya ke Goa Lawah atau Besakih.  Maka untuk beliau dibuatkan Daksina Tapakan. Daksina tapakan tidak memakai nama, berapapun dalam satu merajan ada yang diaben, cukup buat 2 Daksina Tapakan yaitu untuk bhatara dan bhatari. 
  12. Sekembalinya dari maajar-ajar dan nyegara gunung Daksina Tapakan dibakar dihalaman merajan dan abunya ditanam dibelakang Sanggah Kamulan, sedang pipil tapakan disimpan di Rong Tiga, yang di utara untuk bhatara sedangkan yang kiri untuk bhatari. Prosesi diakhiri dengan menghaturkan soda putih kuning dan dilakukan persembahyangan bersama. 
  13. Terakhir dari upacara ini adalah Ngalinggihang Dewa Pitara (Dewa Hyang) - menstanakan kembali atma (roh suci) yang diyakini telah mencapai “ Atmasiddha dewatadi palinggih Kamulan atau Kawitan. Jika prosesi ini telah dilakukan, maka hutang anak terhadap Bapak/Ibu/leluhur sudah terbayarkan dan dengan kesucian roh/atma leluhur ini dipercayai akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada keturunannya.

 Demikianlah sepintas makna upacara Mamukur dan Dewapitra Pratistha yang dilakukan oleh umat Hindu untuk menunjukkan bakti pratisantana (anak cucu) kepada leluhurnya, sehingga hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi, para dewata dan leluhur dapat diwujudnyatakan demi kesejahtraan dan kebahagian hidup umat manusia.***

---------------------------



















Pengendalian Indria

Indera secara terus-menerus menggiring mereka yang tidak memiliki pengetahuan (awidya) kepada hal-hal keduniawian atau sifat-sifat lahiriah....