Minggu, 14 Januari 2018

Cerita Lubdaka dan Makna Filosofis Siwaratri



Cerita Lubdaka

            Dalam Kakawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung diceritakan bahwa, suatu hari Tepatnya pada hari panglong 14 sasih ke-7 (hari ke 14 bulan mati pada sasih ke tujuh), seorang pemburu bernama Lubdaka pagi-pagi seperti biasa ia meninggalkan rumahnya untuk berburu ke hutan. Setelah tiba di hutan, ia mulai menyiapkan busur dan anak panahnya menantikan sasaran buruannya. 

Pada hari ini tidak ada seekorpun binatang yang muncul; hal ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Jam berganti jam, hingga mendekati malam ia masih berputar-putar, namun tidak satupun binatang buruan yang dapat ditemuinya. Akhirnya Lubdaka mendekati danau dengan harapan ada binatang yang kehausan dan meminum air di danau. Dia menunggu di sana, namun binatang tetap tidak ada yang datang.

Malam semakin larut lebih-lebih kelebatan hutan semakin menambah kegelapan suasana. Hutan semakin gelap sehingga ia mulai merasakan keadaan takut jika berjalan di tengah kegelapan seperi itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal/naik di atas pohon. Takut akan tertidur, lalu jatuh dan menjadi mangsa binatang hutan, ia tetap berjaga-jaga sepanjang malam itu. Agar tidak tidur, ia pun memetik daun-daun pohon maja/bila dan menjatuhkannya ke air danau. Tanpa diketahui daun-daun maja itu jatuh di atas sebuah lingga Siwa (nora ginawe). Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur yang menandai malam telah berganti pagi, turunlah ia dari pohon dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Hari demi hari berlalu, kehidupan berlangsung seperti biasanya, tetapi beberapa tahun kemudian Lubdaka jatuh sakit, dan tak lama kemudian ia pun meninggal. Jenasahnya segera dibuatkan upacara sebagai mana layaknya (ngaben), sedangkan atmanya (rohnya) melayang-layang diangkasa tidak mengetahui jalan yang harus dilalui.


Yama memerintahkan abdinya (Kingkara) agar menangkap jiwa Lubdaka untuk menghadapkannya dan sekaligus akan menyiksa atas semua kejahatan yang ia lakukan selama di dunia. Dilain pihak Siwa juga memerintahkan Abdinya ( Gana ) untuk menghadapkan jiwa Lubdaka kepadanya. Terjadilah pertempuran sengit antara Kingkara dengan Gana. Pertempuran itu dimenangkan oleh Gana – Abdi Siwa. 

Jiwa Lubdaka dibawa oleh Gana dengan kereta surgawi dan menghadapkannya kepada Siwa. Siwa menyambutnya dengan ramah, memuji Lubdaka karena telah menghormati malam Siwa (dengan melek/tidak tidur semalam suntuk); dan ia mendapatkan anugrah kenikmatan tertinggi sekaligus surga dari Siwa.

Ketika Yama melihat anak buahnya – Kingkara dalam keadaan luka-luka habis berkelahi dengan para Gana. Yama sangat kecewa karena tugas yang diembannya telah diintervensi oleh Siwa, apalagi setelah dilihat dalam catatan Citragupta tidak ada satupun perbuatan baik Lubdaka selama hidupnya di dunia. Hal ini semakin membuat kemarahan Yama meluap.  Yama ingin mengundurkan diri, karena Siwa dianggap menghalanginya dalam melaksanakan tugas yang telah dipercayakan kepadanya.

Yama kemudian pergi ke gunung Kailasa menghadap Siwa. Siwa selanjutnya menjelaskan kepada Yama bahwa pada zaman dahulu Ia pernah mengajarkan bagaimana malam Siwa harus dihormati; upacara itu demikian suci sehingga dapat membersihkan segala noda dan dosa. Tetapi tidak ada lagi yang pernah melakukan upacara itu. Lubdaka-lah yang pertama-tama melakukannya kendatipun tanpa disadarinya, dan sewajarnya kini ia mendapat pahalanya. 

Akhirnya Yama mengerti setelah mendapatkan penjelasan Siwa, dan sekaligus memohon maaf kepadanya, setelah itu Yama pulang. 


Makna Filosofis Siwaratri

Untuk mengetahui nilai-nilai filosofisnya perlu dikaji secara seksama mulai kata demi kata dan yang terdapat dalam cerita Lubdaka kalimat ini. Karena dalam cerita yang maha karya ini banyak terkandung bahasa-bahasa simbul, arti kiasan yang kalau kita kurang tepat mengartikannya kita tidak mendapatkan manfaat apapun dari cerita yang sangat luar biasa ini.

Siwaratri berasal dari dua kata yaitu Siwa dan  Ratri.  Dalam konsep Trisakti Siwa disebut pemrelina segala sesuatu yang patut diprelina , pemusnah segala yang patut dimusnahkan, mengembalikan segala sesuatu yang patut dikembalikanRatri artinya malam atau gelap (dalam pandangan mata). Dalam bahasa rohani malam berarti 'gelap' (peteng Pitu).

Pada panglong 14 sasih kepitu (Caturdasi Kresnapaksa), menurut astronomi adalah malam yang paling gelap di Bwana agung.  Bulan ini memiliki 16 kala kekuatan duniawi. Pada panglong 14 ini telah kehilangan 14 kala, tinggal 2 kala lagi yaitu ego, dan nafsu yg harus disingkirkan. Jika kedua kala ini mampu kita kalahkan maka Siwa akan memberi rahmatnya. Kesempatan ini adalah kesempatan yang paling baik untuk memuja Siwa.

Dalam bahasa rokhani gelap artinya Awidya atau kegelapan. Di buana alit pun ada peteng pitu, peteng pitu ini adalah  tujuh kegelapan yang bisa menyebabkan orang mabuk/lupa daratan yaitu :  tampan/kecantikan (Surupa), kekayaan (Dhana), Kecerdasan (Guna), garis keturunan (Kulina), usia muda (Yuwana),  kesenangan indria (Sura ), kekuasaan (Kesuran).

Apabila ketujuh kegelapan (mentalitas ekstrem) itu tidak terkendali dalam batas-batas yang wajar apalagi jika sudah menjadi satu dengan rajas dan tamas di dalam diri seseorang, ia akan menjadi Ragadhi (rajanya ego) musuh terbesar dalam diri. Maka dari itu Mpu Tanakung, pujangga sastra religius yang bijak itu berseru : Siwalah Ratri itu! Artinya: "hilangkanlah gelap ketidaktahuan itu sampai tuntas" . Mpu Tanakung juga tidak bertanggung jawab menyamakan ratri sebagai binatang-binatang yang sangat berbahaya di dalam hutan, yang harus dibunuh semuanya.

Kata “Lubdaka” dalam bahasa sansekerta berarti pemburu, yang diburu adalah binatang.  Dalam kontek Siwaratri, binatang ini harus diartikan sifat-sifat 'kebinatangan'. Sifat-sifat 'kebinatangan' inilah yang dibinasakan oleh Lubdaka dalam dirinya selama berhari-hari bahkan mungkin bertahun-tahun. 

Nama lain dari binatang adalah sattwa. Secara etimologi kata sattwa berasal dari kata sat dan twa. Kata sat berarti 'inti yang mulia' atau 'hakikat', kata twa berarti sifat. Jadi kata sattwa berarti ”bersifat inti atau hakikat”. Dengan demikian yang bernama Lubdaka itu adalah pelukisan orang yang selalu mengejar atau mencari 'inti hakikat yang mulia'.

Suatu  hari di tengah malam gelap gulata, Lubdaka disebutkan 'naik' ke puncak pohon bila, dan memetik-metik daun pohon bila sejumlah 108 lembar. Sejatinya Lubdaka tidak naik ke puncak pohon manapun, dia berada di suatu tempat suci di depan sebuah tempat pemujaan (altar)atau di suatu tempat tertentu yang dia pilih, dalam sikap meditasi sempurna (maha samadhi). Yang naik bukan Lubdaka, tetapi kesadaran spiritualnya, bangkitnya daya sakti yang disebut kundalini Sang Pertapa.

Kesadaran tingkat transendental inilah yang diburu sang pemburu – Lubdaka, dan dia berhasil 'naik' ke puncak kesadaran tertinggi (Paramarthika), saat seperti inilah disebut   melek semalam suntuk. Orang yang tidak tidur berarti sadar, disebut tan aturu, tan merem, atangi atau atutur. Lubdaka telah dapat mengendalikan dirinya atau sikapnya menemukan kesadaran akan Sang Diri.  Kesadaran tingkat transendental inilah yang diburu sang pemburu Lubdaka, sehingga ia mendapatkan anugerah dari Dewa Siwa. Sebaliknya, secara spiritual orang yang dikatakan turu dan lupa menurut ajaran Siwa adalah orang yang terikat dan hanya menuruti hawa nafsu (raga) atau indrianya.

Memetik daun bila 108 kali dapat dijabarkan sebagai berikut: Lubdaka melakukan japam, mengulang-ulang salah satu mantra tertentu, misalnya “Om Namah Siwaya... Om Namah Siwaya...” Ini diulang-ulang oleh Lubdaka sampai 108 kali. Setiap japam yang diucapkan Lubdaka diterima oleh Siwa. 

Angka 108 ini dapat dijabarkan sebagai berikut: angka 1 menyatakan Tunggal atau Esa, angka 8 menyimbolkan maya, alam semesta yang relatif. Ketika angka 1 dan 8 dijumlahkan, hasilnya 9 yang menyimbolkan Brahman/Siwa, simbol yang sangat suci dalam kesadaran mitologi Hindu. Lubdaka tidak memiliki motivasi apa pun; ia berada dalam situasi niskama karma, pasrah total atau saranagati. Jadi, kisah Lubdaka melukiskan kerinduan seorang bhakta kepada Tuhan. Ia selalu mencari “hakikat yang mulia” dan akhirnya berhasil menemukannya.

Menguak simbul-simbul ini maka sedikitpun tidak ragu bahwa Lubdaka adalah aktor imajener yang  diejawantahkan  pengarang sebagai seorang pemburu yang kejam, membunuh semua binatang. Dalam konteks Siwaratri, binatang ini diartikan sifat-sifat 'kebinatangan'. Dalam kata Sansekerta binatang disebut sattwa. Ketika sifat-sifat “kebinatangan” itu dibinasakan oleh Lubdaka, maka di dalam dirinya muncul sattwa, aspek utama Triguna yang mengatasi Rajas, dan Tamas, sifat egoistis dan sifat bodoh/lamban.

Lalu apakah Siwaratri merupakan malam penebusan dosa? Jawaban atas pertanyaan ini harus didasarkan pada keyakinan dasar Hindu, yaitu hukum karma phala.  Dalam ajaran Hindu tidak ada peleburan dosa. Dosa adalah hasil perbuatan atau karma yang harus tetap ditebus oleh akibatnya, phala.  Kesalahan yang dilakukan melalui perbuatan nyata harus ditebus dengan perbuatan nyata pula .

Jika ritual begadang semalam suntuk dimaknai secara harfiah, hal itu bisa menjadi “obat penenang” yang berbahaya. Orang boleh melakukan apa saja demi kepentingan pribadi tanpa memperhatikan benar dan salah, karena setahun sekali cukup begadang semalam suntuk, dosa akan terhapus. Akibatnya manusia berusaha begadang dengan berbagai cara, misalnya berjudi meski kecil-kecilan, minum-minum, dan sebagainya, agar tidak tidur, karena tujuannya hanya begadang semalam suntuk. Keyakinan semacam ini tidak menguntungkan bagi pembentukan etos kerja, karena membuat manusia meremehkan tanggung jawab. Ritual-ritual seperti itu pada dasarnya hanyalah sarana penting untuk pembentukan pribadi melalui olah rohani. Ritual itu baru bermanfaat apabila kemudian terefleksi dalam perbuatan nyata.

Jika kita memperlakukan Siwaratri hanya sebagai biografi atau otobiografi Lubdaka, artinya memaknainya secara harfiah seperti selama ini, bahwa cukup begadang maka dosa akan hilang, maka kita tidak akan memperoleh manfaat apa pun dari karya agung yang dikemas dalam beragam simbolisme bermakna tinggi ini.

Marilah hari Siwaratri ini kita jadikan momen untuk selalu mawas diri, karena dalam diri kita selalu ada sifat baik dan sifat buruk Dewi Sampad dan Asuri Sampad  yang selalu berkecamuk, dengan menyadari hal ini marilah kita bertekad untuk selalu berbuat baik.


Siwaratri Sebagai Hari Raya

Secara harfiah  Siwaratri berarti malam Siwa. Siwaratri jatuh pada hari Caturdasi Kresnapaksa/panglong ping 14 sasih ke-7.  Saat ini umat Hindu (tidak semuanya), mengadakan kebaktian memuja dan memuji kebesaran Tuhan/Siwa. Ada dengan cara membaca kitab-kitab suci di Pura-Pura, rumah-rumah dan tempat-tempat tertentu; perorangan (menyendiri) atau berkelompok; ada yang menggelar Akhanda bhajan bersama di Mandir-Mandir dengan cara menyanyikan lagu-lagu pujian Kirtan secara bergantian sampai pagi (akhanda bhajan).

Arti lain juga diberikan orang kepada Siwaratri sebagai malam perenungan dosa, instrospeksi diri, dengan tujuan tercapainya kesadaran diri, dengan cara Brata. 

Ada 3 jenis Brata pada hari raya Siwaratri terdiri dari :

1. Utama , melaksanakan :

  1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara). 
  2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum, selama 36 jam). 
  3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
2. Madhya , melaksanakan :

  1. Upawasa, 
  2. Jagra (berjaga, tidak tidur)
3. Nista , laksanakan:

  1. Jagra (berjaga, tidak tidur)

Dengan demikian Siwaratri dimaksudkan memberikan motivasi pada setiap umat Hindu untuk selalu sadar dengan berusaha semaksimal mungkin menghindari perbuatan dosa dan selalu berikhtiar untuk memperbanyak perbuatan dharma.***

------------------------

Baca juga : Tajen dan Tabu Rah


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


DUNIA SEMAKIN SESAK - "Tentang Jiwa, Karma, dan Migrasi Lahiran"

“Manusia Bisa Lahir Menjadi Binatang,  Begitu Sebaliknya." Foto hanya pemanis. 1. Jiwa Kekal, Wujud Yang Berubah Dalam ajaran Hindu, j...