Kamis, 22 Oktober 2026

KREMATORIUM: Catatan Hati dari Sawa Wedana, 22 Oktober 2026


1. Awal Perjalanan 

Besan saya menderita stroke kecil, masih rutin kontrol ke RS Sanglah. Kamis dini hari, 15 Oktober 2026, beliau jatuh saat hendak ke kamar mandi. Sempat muntah-muntah, lalu tidak sadarkan diri. Diajak langsung ke RS Sanglah oleh anaknya pakai Ambulance. 

Di sana dipasang segala alat, difoto kepala karena ada benjolan akibat jatuh. Ternyata hasilnya : Pendarahan di otak terjadi dulu, baru beliau jatuh. Bukan jatuh yang menyebabkan pendarahan. 

Dengan pengawasan intensif, pada Minggu sore, 18 Oktober 2026, beliau berpulang. Setelah dirembukkan keluarga, memutuskan untuk melakukan Kremasi pada tanggal 22 Oktober 2026. Jenazahnya dititipkan di rumah sakit. Dumogi Amor Ing Acintya. 

Saya yang masih di kampung mendengar kabar dari anak, tidak bisa tidur dengan baik. Senin pagi 19 Oktober 2026 saya langsung ke Denpasar. 


2. Apa yang Terjadi di Krematorium Hari Ini (22 Oktober 2026) 

Hari ini kami laksanakan kremasi di krematorium Genah Pengabenan Santa Swarga di Tegal - Denpasar. Krematorium ini terletak di jantung Mota Denpasar. 

Sekitar pukul 06.00, jenasah diangkut dari RS dengan mobil Ambulance, dibawa ke krematorium. 

Di sana dilaksanakan Ngeringkes / memandikan jenasah, Mepegat , dan segala tetandingan banten tetap ada. 

Areal kremasi lumayan luas, terasa sempit karena banyak yang hadir. Ada 9 orang yang dikremasi secara bersamaan. 

4 orang melakukan sampai Ngelanus  dan langsung Ngelinggihang termasuk besan saya sampai Ngelinggihan . 5 orang Mekinsan di Geni. Artinya nanti akan dilanjutkan dengan Ngeroras atau Mamukur. 

Dan saya saksikan sendiri, tidak ada ritual yang dikurangi. Cucu-cucu beliau yang masih kecil pun ikut menyaksikan, belajar bahwa kematian adalah pelajaran bakti, bukan sesuatu yang harus ditakuti. 

Setelah itu dibakar dengan kompor gas LPG. Setelah pembakaran selesai dengan segala upacaranya, dilanjutkan Ngayud ke Pantai Sanur. Suasana ngayut sangat memberi inspirasi, laut yang membentang luas mengingatkan pada kemahakuasaan Tuhan, kita tidak ada apa-apanya dihadapan Beliau. 

Setelah selesai nganyut di Sanur, dilanjutkan mamukur/nyekah, arealnya bersebelahan dengan areal tempat pembakaran. Pada areal ngaben, masih sebel/kotor, disebut acara Manusa Yadnya. Pada acara mamukur / nyekah sudah tidak lagi sebel, acara ini Pitra Yadnya. 

Melaksanakan Ngeroras / Mamukur dengan membuat Sekah / Puspa Lingga. Selama mamukur aroma wangi dupa, kidung dan cerita yang hadir semakin menambah acara kidmatnya. 

Setelah diupacarai, Puspa Lingga digeseng dan abunya dilarung ke Pantai Padang Galak, Sanur. Kemudian dilanjutkan Meajar-ajar dan Nyegara Gunung. 

Meski lebih sederhana, esensinya sama yaitu menghadirkan Atma dalam tirta yatra ke Pura-pura suci. 

Terakhir sekitar pukul 19.30 malam langsung Ngelinggihang Dewa Pitara di Kamulan, tidak menunggu saat Piodalan. 


3. Makna yang Saya Renungkan 

Dari Lontar Gayatri kita tahu, saat meninggal roh disebut Preta. Melalui Ngaben dan Mamukur, ia menjadi Pitara, lalu setelah ngalinggihang menjadi Dewa Hyang di Kamulan. 

Ngaben itu ada 3 jenis menurut lontar: 

  1. Sawa Wedana: layon langsung diaben (inilah yang kami lakukan).
  2. Asti Wedana:  layon ditanam dulu, tulangnya baru diaben.
  3. Swasta : layon tidak ditemukan (hilang di laut, perang) 
Dalam Ngaben ada 2 api: api konkret (api yang membakar) dan api abstrak (api dari Puja Mantra Pandita). Api konkretnya boleh dari kayu, gas, atau listrik. Tapi api abstraknya itulah yang memutus ikatan Jiwatma dengan Sthula Sarira, dan Suksma Sarira untuk mengantarkan roh maik dari Bwah Loka menuju Swah Loka. 

Upakara ngaben menurut sastra sesungguhnya sederhana. Yang menyebabkan mahal kadang karena gengsi, membuat upacara besar-besaran, banten dibesar-besarkan, jor-joran, pakai wadah yang megah, tumpang 11, bahkan ada yg membakar wadah di atas mobil pick up, agar masuk surga. Padahal hakikatnya adalah Jnana dan Bhakti. 

Bukan berarti ngaben di setra adat salah. Itu mulia dan utama. Krematorium hanyalah alternatif dharma di zaman kota besar, di mana orang sibuk mencari nafkah, bekerja di hotel yang sulit memperoleh ijin lama dan keluarga tinggal berjauhan. Pilihan ada di desa kala patra masing-masing. 

Dipilihnya krematorium karena pertimbangan praktis, simpel, sehari selesai bisa langsung ngelinggihang. 


4. Penutup 

Kematian bukanlah akhir, tapi awal kehidupan baru. Tujuan Ngaben adalah mengembalikan Ragha Sarira - Panca Maha Bhuta ke masing-masing dan mengantarkan Atma ke alam Pitra. 

Krematorium adalah alat, cara, upacara agar Roh tidak terikat kepada keduniawian sehingga tenang menuju alam Pitra / Swahloka. Pakailah kesempatan lahir sebagai manusia untuk berbuat dharma, karena sangat sulit mendapatkan tubuh manusia. 

Selama rangkaian upacara itu lengkap: Ngangget Don Bingin, Ngajum Sekah, Ngayut ke Segara, Meajar-ajar/Nyegara Gunung, sampai Ngelinggihan, maka bakti Pratisentana kepada leluhur sudah terbayarkan. 

Semoga Atma besan saya, Prof. I Putu Gde Sukaatmadja, SE.,MM., mencapai Atmasiddha Dewata dan memberikan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amor Ing Acintya, 

Dumogi Atma Santi, Atmasiddha Dewata. Demikian sepintas catatan dari saya. 

Suksma.🙏















Catatan :
Artikel ini setelah sy shera dan sy simpan, kadang ada perubahan redaksi, kata, kalimat, oleh sistem shg bisa menimbulkan beda arti. Ketika sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, dan kata yg janggal, kemungkinan besar itu disebabkan oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏




Senin, 19 Oktober 2026

GELAR BUKAN VIDYA: Saat Pintar Tidak Menjamin Tercerahkan

Gambar Ilustrasi 
"Gelar bukan Vidya"


-- Vidya berasal dari akar kata Sanskerta vid = tahu, terang. Jadi Vidya adalah ilmu yang memberi terang, yang memerdekakan. Bukan sekedar tahu data, tapi tahu Diri. Bukan sekedar 'know-how', tapi 'know-why' untuk hidup sesuai Dharma.--


1. Pendidikan Duniawi vs Vidya

Pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada perolehan gelar yang hanya sebagai "wadah" yang dibawa ke mana-mana untuk diisi dengan pekerjaan. Hari ini, kami mendengar banyak orang berbicara tentang 'kewajiban'. Hal itu tentu saja baik. Namun sering kali maknanya belum dipahami secara benar. 

Pendidikan akademis saat ini lebih menitik beratkan pengetahuan duniawi sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah. Bukan sebagai cara hidup yang sesuai dharma yang akan mengantarkannya ke sorga, perahu ibarat yang dipakai pedagang untuk menyebrangi lautan.

Pendidikan bukanlah barang dagangan, bukan pula alat untuk mengemis pekerjaan. Tidak salah mendapat pekerjaan setelah lulus, tetapi tujuan pendidikan sejati bukanlah itu. Pendidikan akan berkembang dan bermanfaat hanya ketika diamalkan dan dibagikan. Apa gunanya gelar tinggi jika tidak dibagikan untuk kebaikan sesama?


2. Karakter Lebih Utama dari Kesarjanaan

Ratusan tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk cara memandang kita terhadap kehidupan. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan itu akan membentuk karakter kita, dan karakter tersebut mempengaruhi nasib.

Apapun karakter seseorang saat ini, semua masih dapat diperbaiki dengan mengubah pola pikir. Tidak ada keburukan yang tidak bisa diperbaiki. Kita memiliki kemampuan untuk melawan kecenderungan buruk dan mengubahnya. Dengan kegiatan tanpa pamrih, dengan bhakti, dan doa, kebiasaan lama dapat dibuang dan digantikan dengan kebiasaan baru yang menuntun kita ke jalan Tuhan.

Sejarah membuktikannya: 

  1. Angulimala,  yang awalnya bernama Ahimsaka, seorang Brahmana yang dipengaruhi oleh lingkungan buruk sehingga menjadi pembunuh. Saat ingin membunuh ibunya sendiri, Sang Buddha muncul dan mengubahnya. Ahimsaka menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian.
  2. Ratnakara,  seorang berjongkok, setelah bertemu Sapta Rsi – tujuh orang bijak – berubah menjadi Valmiki, penyair agung penulis Ramayana.  

Inilah bukti nyata transformasi dari kegelapan menuju pencerahan.

Sayangnya, kepintaran akademis tidak otomatis melahirkan kemewahan. Pengalaman mencatat, kejahatan besar justru sering lahir dari tangan yang sangat terampil / berpendidikan tinggi lulusan universitas ternama, namun hatinya kosong dari Dharma. Sayang sekali jika kepintaran tidak diimbangi karakter mulia. 

Ciri karakter yang baik menurut Baba : Kasih, Sabar, Mampu menahan diri, Setia, Dermawan.

Sabda Bhagawan Sri Sathya Sai Baba:
“Manusia tidak akan menjadi bijaksana hanya dengan pendidikan. Mereka menganggap pendidikan sebagai jalan untuk mencari nafkah, bukan sebagai cara hidup. Setapak kecil tanah yang subur lebih berharga daripada sebidang tanah luas yang gersang. Demikian pula karakter yang baik lebih berharga daripada kesarjanaan. Zaman sekarang setiap orang berusaha memperoleh kekuasaan, kekayaan, dan harta benda yang ibarat awan berlalu. Sedikit sekali yang peduli untuk memiliki yang menuju kebahagiaan abadi.”


3. Makna Sejati Vidya

Sayangnya, saat ini Vijnana disamakan dengan sains. Padahal sains hanyalah pengetahuan akademis. Segala sesuatu yang dipelajari melalui studi-studi ini dapat disebut pendidikan atau pembelajaran, tetapi tidak dapat disebut Vidya.

Vidya adalah kesadaran akan kekuatan yang menggerakkan setiap sel dalam diri kita. Melalui kesadaran inilah manusia memahami makna peristiwa hidup dari lahir hingga mati. Vidya berarti memahami segala sesuatu dalam totalitasnya termasuk mengetahui bagaimana seseorang menanggalkan hidup ini dengan damai. Vidya dalam pengertian sejati, adalah cara hidup yang sesuai dharma.


4. Siapa Vidhyarthi Sejati?

Seorang sejati adalah pencari pengetahuan – ia disebut Vidyarthi: Vidya dan Arthi artinya pencari ilmu. Berbagai kesulitan hidup tidak akan menggoyahkan seorang Vidyarthi.  Ia tetap damai dan memusatkan pikiran terus-menerus kepada Tuhan.

Pengetahuan yang harus dicari adalah pengetahuan tentang Diri Sejati – Atma Jnana, pengetahuan spiritual. Inilah ilmu tertinggi. Seperti sabda dalam Bhagavad Gita: “Adhyatma Vidhya Vidhyanam” – Di antara semua ilmu pengetahuan, Aku adalah pengetahuan tentang Diri Sejati.


5. Keterikatan vs Dharma

Ketika hati diliputi dengan semua jenis keinginan duniawi, maka di sana tidak ada ruang bagi usaha spiritual. 

Ada perbedaan yang sangat luas antara seseorang yang terikat hal-hal duniawi dengan seseorang yang mengabdi pada Dharma. Hal ini dapat digambarkan dengan tindakan Drona dan Bisma, di mana mereka berdua adalah guru utama dari Pandawa dan para Kurawa. Keduanya, baik Bhishma dan Drona, adalah ahli tertinggi dalam seni menggunakan astra (senjata yang diarahkan dengan melantunkan mantra) dan shastra (senjata mematikan). Namun betapa berbedanya di antara keduanya!

Bisma adalah seseorang dengan pikiran spiritual yang tinggi.  Setelah dia terluka di sekujur tubuhnya dan darah mengalir dari luka yang ada, berbaring di atas tempat tidur dari anak panah dalam perang Kurukshetra, sambil mengajarkan Dharma (kebajikan) kepada para Pandawa.  Bhishmacharya diliputi dengan kasih pada Dharma. Hatinya penuh Dharma / Prasasti, menang atas rasa sakit, kehidupan untuk mewujudkan kebenaran.

Sebaliknya, ketika Dronacharya mendengar Yudhistira berkata "Aswatthama hatah" (Aswatthama dibunuh), dia bahkan tidak menunggu untuk mendengar secara utuh bahwa gajah bernama Aswatthama yang telah mati, Dronacharya menyimpulkan bahwa putra -- Aswatthama telah meninggal, dan dia meletakkan senjata dan akhirnya gugur di medan perang. Dronacharya hatinya diliputi dengan kama, keduniawian . Ilmu setinggi langit, tapi runtuh karena moha pada anak. Kalah oleh perasaan, tidak bisa membedakan kebenaran.

Ilmu ibarat pisau. Di tangan Bhishma, pisau itu dipakai membedah Dharma di medan perang. Di tangan Drona, pisau itu justru menusuk dirinya sendiri saat anaknya dikabarkan mati. Bukan pisaunya yang salah, tapi tangan yang memegangnya.



"Nuansa Bhishma di atas ranjang panah, tetap mengajarkan Dharma meski sekarat. 
Simbol karakter mengalahkan gelar.


Kesimpulan :
  1. Kalau sudah penuh dengan keinginan duniawi (harta, anak, nama), maka tidak ada ruang untuk usaha spiritual.
  2. Kepandaian tidak menjamin kemewahan. Drona dan Bhisma sama-sama guru hebat, ahli astra-shastra.  Tapi kualitas batinnya beda jauh. Ilmu tanpa vairagya / ketidak-terikatan akan runtuh saat diuji.
  3. Ukuran manusia sejati adalah reaksinya saat krisis. Drona meletakkan senjatanya karena moha.  Bisma justru bersinar karena Dharma.  Di titik terendah kehidupan, terlihat siapa yang benar-benar mengabdi pada Dharma.

Bisma mengajarkannya justru pada saat desahan. Itulah  kasih pada Dharma — menempatkan kebenaran di atas rasa pribadi.

Pesan praktisnya:
Kurangi bertumpu pada hasil, anak, harta, nama. Isi hati dengan Dharma. Karena saat "perang Kurukshetra" dalam hidup datang — kehilangan, sakit, fitnah — hanya yang hatinya penuh Dharma yang tetap tegak dan bisa menjadi cahaya bagi orang lain, seperti Bisma.

Intinya:
Jadilah Bisma, jangan jadi Drona. Berilmu iya, tapi hati harus untuk Dharma, bukan untuk kama. 

Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menjadi AlatMu, Swami, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca. 🙏


Dikutip dari : 
Wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.





Artikel lainnya :



Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




KREMATORIUM: Catatan Hati dari Sawa Wedana, 22 Oktober 2026

1. Awal Perjalanan   Besan saya menderita stroke kecil, masih rutin kontrol ke RS Sanglah. Kamis dini hari, 15 Oktober 2026, beliau jatuh sa...