Jumat, 01 Mei 2026

RAJA KERAJAAN ALENGKA MENURUT RAMAYANA

Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka, 
Sumber foto Sahabat Al.

Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang saleh dan taat bertapa kepada Dewa Siwa, bernama Sukesa. Ia menikah dengan Devawati dan dikaruniai tiga putra: Malyavan, Sumali, dan Mali.

Karena bhakti Sukesa yang luar biasa, Dewa Siwa menganugerahkan dua berkah : 

  1. Kota emas Alengka – saat itu masih kosong, ibarat “sertifikat tanah” tanpa penghuni. 
  2. Kesaktian dan umur panjang.

Namun Sukesa menolak duduk di takhta. Ia memilih tetap menjadi pertapa. Karena itu, dalam daftar raja Alengka, silsilah dimulai dari putranya, Malyavan. Sukesa berstatus sebagai leluhur penerima anugerah, bukan raja yang memerintah. 
[Sumber: Uttara Kanda, Ramayana; Brahma Purana]

Sukesa
Sumber foto : Sahabat Al.


Tiga Putra Sukesa Memohon Berkah Brahma  

Malyavan, Sumali, dan Mali kemudian bertapa memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar : 

  1. Tali persaudaraan mereka tak pernah putus, selalu saling menyayangi. 
  2. Memiliki kesaktian luar biasa sehingga tak terkalahkan. 
Brahma mengabulkan permohonan tersebut. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 4]


Berdirinya Kerajaan Alengka

Setelah Sukesa lanjut usia, ketiga putranya mengambil alih kota Alengka yang kosong.
Malyavan, sebagai putra sulung, memproklamirkan diri sebagai Raja Alengka Pertama. Ia mengumpulkan bangsa raksasa untuk menetap di sana. Sumali dan Mali menjadi patih dan panglima kerajaan Alengka.

Atas perintah Sumali, Wiswakarma dipaksa membangun istana yang indah dan megah di Alengka. Istana megah-pun selesai dibuat oleh Wiswakarma. Sejak itu Malyavan, Sumali, dan Mali hidup dalam kemewahan. Alengka menjadi ibu kota raksasa yang sangat kuat. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 5]

Wisrawa
Sumber foto Sahabat Al.


Pergantian Takhta dan Kejatuhan Sumali

Setelah Malyavan lengser, takhta dipegang adiknya, Sumali. Namun Sumali juga lengser dikalahkan oleh Dewa Wisnu, lalu digantikan oleh adiknya, Mali. Ketika Mali lengser juga, Sumali kembali naik takhta. Dengan demikian, Sumali tercatat dua kali menjadi raja: Raja Alengka ke-2 dan ke-4. Ketiga bersaudara ini masih hidup segar bugar.

Raja Sumali kembali menyalahgunakan kesaktiannya untuk menyerang Kahyangan, maka para Dewa dipimpin Wisnu menyerbu Sumali Raja Alengka. Dalam pertempuran itu, Malyavan dan Mali gugur. Mengetahui dua saudaranya gugur, Sumali melarikan diri ke Patala – alam bawah – dan bersembunyi karena takut dibunuh Dewa Wisnu. Sejak Sumali kalah, Alengka pun menjadi kosong tidak ada penghuni, tak terawat, hancur akibat perang. 
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 5-6]


Brahma Menghadiahkan Alengka kepada Kuwera

Melihat Alengka kosong dan terbengkalai, Brahma merasa prihatin. Ia memerintahkan Wiswakarma merenovasi Alengka dan menciptakan kendaraan Pushpaka Vimana.

Istana emas Alengka yang megah dan kendaraan Pushpaka Vimana itu kemudian dihadiahkan oleh Brahma kepada Kuwera – putra Resi Wisrawa dengan Ilavida, putri Resi Bharadwaja. Karena Kuwera anak sulung Resi Wisrawa dikenal lurus dan berwatak baik, dan Alengka menjadi ibu kota kerajaan Yaksha sekaligus tempat Kuwera menyimpan hartanya. Karena itu ia bergelar Dewa Kekayaan. Kuwera menjadi Raja Alengka ke-5
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 3; Bhagavata Purana 4.1.21]


Kuwera
Sumber foto Sahabat Al.


Siasat Sumali: Lahirnya Rahwana

Sumali yang hidup di pengasingan berniat mengembalikan kejayaan bangsa raksasa. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sukesi. Mendengar ada rsi sakti cucu Brahma bernama Wisrawa, Sumali berpikir: jika Sukesi menikah dengan Wisrawa, maka cucunya pasti sakti mandraguna. 

Waktu itu Wisrawa sedang bertapa berat. Sumali mengutus Sukesi untuk datang ke pertapaan Wisrawa dan mengabdi. Setiap hari Sukesi melayani Wisrawa dengan tulus: mengambil buah, air, membersihkan ashram. 

Dengan mata batin, Wisrawa mengetahui niat Sumali. Ia juga tahu jika berhubungan pada sandhyakala – waktu senja yang tidak baik – anak yang lahir akan berwatak raksasa. Wisrawa berkata jujur kepada Sukesi :  
“Jika engkau menginginkan anak dariku sekarang, ia akan menjadi raksasa jahat. Namun jika menunggu waktu yang baik, anakmu bisa menjadi orang suci.”
[Uttara Kanda Sarga 9]

Sukesi menjawab bahwa, dia hanya menjalankan dharma sebagai anak, taat perintah orang tua. Dia rela apapun yang terjadi. Karena ketulusan dan dharma Sukesi, Wisrawa akhirnya menerima. Maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanakha pada waktu yang tidak tepat, sehingga berwatak raksasa: Rahwana – angkara murka, Kumbakarna – tamas/tamak, Surpanakha – rajasik/nafsu. 

Anak keempat, Wibisana, lahir setelah Sukesi sadar dan memohon waktu kelahiran yang baik, sehingga berwatak dharma dan satvik. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 9]

Wisrawa menikah dengan Sukesi bukan karena nafsu, melainkan : 

  1. Menghargai dharma dan ketulusan Sukesi. 
  2. Sudah menjadi takdir untuk lahirnya tokoh-tokoh besar dalam lila Ramayana. 
  3. Rsi pada tahap Grhastha-asrama memang menjalankan dharma berumah tangga. “Dharmartha-kama-mokshanam grhastha prabhavaḥ smṛtaḥ”. Artinya : Di antara empat tujuan hidup, tahap berumah tangga adalah penopangnya.[Manusmriti 3.78]


Rahwana
Sumber foto Internet.


Rahwana Merebut Alengka

Setelah dewasa dan sakti, Rahwana bertanya kepada Sukesi: “Mengapa kita tinggal di hutan, padahal kakekku dulu raja Alengka?” Ia merasa Alengka adalah hak waris leluhur. Kuwera dianggap "numpang" karena pemberian Brahma. Sumali yang sudah tua, memanas-manasi Rahwana untuk merebut takhta. 

Rahwana menyerang Kuwera - saudaranya seayah, dan berhasil  merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian pergi meninggalkan Alengka, akhirnya suatu hari membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 11-12]



Rama
Sumber foto Sahabat Al.


Kejatuhan Rahwana, Wibisana Naik Takhta 

Karena menculik Dewi Sita, Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah / mengambil Alengka, Ia menobatkan Wibisana – adik Rahwana yang berpihak pada dharma – sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.
Na me kāṅkṣā lankāyāṁ vasituṁ puruṣarṣabha”
Artinya:
“Wahai yang terbaik di antara manusia, Aku tidak berkeinginan tinggal di Alengka.”
[Sumber: Valmiki Ramayana, Yuddha Kanda 128.801)

Setelah itu, Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.
[Sumber: Yuddha Kanda Sarga 128]


Wibisana
Sumber foto Sahabat Al.


Runutan Raja Alengka versi Walmiki :

Raksasa Malyavan --> Raksasa Sumali --> Raksasa Mali --> Raksasa Sumali --> Kosong --> Kuwera --> Raksasa Rahwana --> Wibisana (adik Rahwana).

Silsilah Keluarga versi Walmiki :

Brahma mempunyai putra --> Pulastya.
Pulastya mempunyai putra --> Wisrawa.
Wisrawa + Ilavida/Ilabila (putri Rsi Bharadwaja) lahir --> Kuwera,
Wisrawa + Sukesi (putri Sumali) lahir --> Rahwana, Kumbakarna, Surpanakha, Wibisana.


Sumber foto : Internet.


ALENGKA VERSI PEWAYANGAN JAWA

Meskipun dipimpin raksasa, dalam pewayangan Jawa, Alengka sering digambarkan sebagai kerajaan yang sangat tentram, makmur, kaya raya, dan memiliki pertahanan yang sangat kuat.

Dalam lakon pewayangan Jawa, kisah Alengka ditarik mundur jauh sebelum era Wisrawa. Silsilah sejarah raja Alengka dan keluarga ada beberapa perbedaan dengan versi Ramayana Walmiki.

Runutan Raja Versi Pewayangan Jawa / Ngalengkadiraja

1. Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu. Ia disebut raja raksasa negara Alengka yang tegas, angkara murka. Hiranyakasipu dibunuh Maharaja Suman dari negara Suryakencana, penjelmaan Wisnu.

Catatan :
"Tokoh Hiranyakasipu dalam pewayangan Jawa berbeda dengan Hiranyakasipu dalam kitab Bhagavata Purana, Dia bukan Hiranyakasipu yang dibunuh Narasinga di Purana, tapi tokoh wayang dengan kisah berbeda".

2. Setelah Prabu Hiranyakasipu meninggal, digantikan oleh anaknya Prabu Banjaranjali. Dari Banjaranjali inilah turun-temurun menurunkan raja-raja negara Alengka.

3. ... silsilah raja-raja lain tidak dirinci. Lakon wayang langsung loncat ke era Sumali.

4. Prabu Sumali: Kakek Rahwana.

5. Kemudian Prabu Danapati/Danaraja /Wisrawana - putra Wisrawa, raja Lokapala, tapi menguasai Alengka sebentar, direbut oleh Prabu Dasamuka/Rahwana, kakak tiri Danapati.

6. Prabu Dasamuka/Rahwana: menjadi raja Alengka. Prabu Rahwana digambarkan memiliki sepuluh wajah (Dasamuka), berwibawa, dan sangat disegani. Dia dibunuh oleh Rama. Kemudian Rama menobatkan Prabu Wibisana menjadi raja Alengka.

7. Wibisana membangun istana baru bernama Singgelapura. Sejak itu Alengka berganti nama jadi Kerajaan Singgelapura. Kerajaan ini juga sering disebut Ngalengkadiraja dalam wayang.


Silsilah keluarga versi Pewayangan Jawa

Versi Pewayangan Jawa jalur Dewa lebih panjang dan sudah “dilokalkan” sbb:

Batara Brahma --> Batara Sambodana --> Batara Sambu --> Resi Supadma --> Resi Wisrawa

Resi Wisrawa + Dewi Lokawati --> Wisrawana/ Danapati/Danaraja.

Resi Wisrawa + Dewi Sukesi --> Rahwana/Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana.


Istri pertama Resi Wisrawa berbeda

Versi Jawa: Istri pertama Resi Wisrawa adalah Dewi Lokawati, putri Prabu Lokawana raja Lokapala, melahirkan --> Wisrawana yang bergelar Prabu Danapati/Danaraja.

Versi Walmiki: Istri pertama Wisrawa adalah Ilavida/Ilabila, putri Rsi Bharadwaja, melahirkan --> Kuwera.

Jadi, Wisrawana yang bergelar Prabu Danapati/Danaraja versi pewayangan Jawa, sama dengan Kubera/Kuwera versi Ramayana Walmiki.

Konflik ayah-anak rebut Sukesi

"Dalam pewayangan Jawa, terjadi konflik antara Resi Wisrawa dengan putranya Danapati karena memperebutkan Dewi Sukesi".

Danapati/Danaraja/Wisrawana juga ingin menikahi Dewi Sukesi. Karena Sukesi menjadi istri Wisrawa, Danapati/Danaraja/Wisrawana menyerang dan membunuh Wisrawa. Danapati/Danaraja/Wisrawana lalu terusir dari Alengka oleh Rahwana.

Runutan anak Wisrawa + Sukesi tetap sama

Prabu Rahwana/Dasamuka, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka/Surpanakha, dan Arya Wibisana. Ini sama dengan versi India.

Demikian sekilas tentang Kerajaan Alengka. Semoga bermanfaat untuk menambah  Vidhya kita semua, apabila ada yang kurang mohon maaf. Suksma.***🙏


Foto Ilustrasi.
Sumber foto Sahabat Al.


Catatan Sumber Utama :

  1. Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Sarga 3–12. 
  2. Brahma Purana_, Bab tentang Silsilah Pulastya. 
  3. Bhagavata Purana, Skandha 4, Adhyaya 1. 
  4. Manusmriti_ 3.78 untuk dharma Grhastha. 
  5. Cuplikan "Cerita ulang oleh Sahabat AI, 20 April 2026".

Artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



Rabu, 01 April 2026

Bhakti dan Para Bhakti Kepada Tuhan




Dalam Bhagawadgita, Krisna bersabda: "Siapa pun yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaKu dan berlindung kepadaKu, maka dia akan Aku lindungi dan Aku akan membimbing menuju kesadaran Tuhan”.

Apakah maksudnya menyerahkan diri dan berlindung di sini? Apakah dengan menyerahkan diri secara nyata (fisik) begitu? Tentu tidak, menyerahkan diri berarti menjalankan ajaranNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Kekuasaan Tuhan sangat tidak terbatas, Beliau Maha Tahu, Maha Ada, Maha Mencipta dsbnya, pendeknya maha segalanya. Dunia yang sangat luas yang kita huni sekarang ini dikenal dengan nama Bhutakasa , ini diciptakan oleh Tuhan. Selain dunia yang nyata ini Tuhan juga menciptakan dunia halus yang lebih luas lagi yang disebut dengan alam Cithakasa atau alam mental, dan Tuhan juga menciptakan dunia yang lebih halus dan lebih luas dari alam Cithakasa, yang disebut dengan alam Chidakasa atau alam Kausal. Alam Chidakasa ini merupakan alam yang paling luas dan paling halus diantara dua alam tadi (Bhutakasa dan Chitakasa), sebab dari alam Chidakasa inilah lahirnya alam Bhutakasa dan alam Chitakasa.
Akumulasi dari ketiga alam inilah yang dikenal dengan istilah Tri Loka. Bisa kita membayangkan betapa Maha Kuasa Tuhan. Kitab suci menyatakan hal ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Manusia dikaruniai kemampuan yang sangat terbatas dan sangat sulit bagi manusia untuk memahami prinsip yang suci ini, maka demi kepentingan manusia, dalam Bhagawadgita Krisna mengajarkan cara yang mudah untuk berbakti kepada Tuhan. Dalam praktek sehari-hari bhakti dirangkai menjadi 2 yaitu Bhakti Biasa dan bakti yang lebih tinggi tingkatannya disebut Para Bhakti.

Bhakti yang biasa merupakan berbagai kegiatan persembahyangan dan upacara yang dilakukan oleh penganut, misalnya berziarah ke tempat-tempat suci, mandi di sungai-sungai yang dianggap suci dll. Bakti yang biasa ini mempergunakan sarana bunga, buah, daun dan air sebagai pemujaan kpd Tuhan. Dari manakah berasal-benda tsb? Semua benda-benda tsb merupakan ciptaan Tuhan, milik Tuhan bukan milik kita yang sesungguhnya. Jadi dimana letaknya Bhakti / pengorbanan jika kita dipersembahkan kepada Tuhan benda-benda yang diciptakan / milik Tuhan sendiri? 

Tetapi Bhakti yang mendalam atau Para bhakti  ini merupakan usaha-usaha untuk selalu mengembangkan sifat-sifat yang sempurna, dan selalu diliputi oleh kasih kepada Tuhan. Bhakti jenis ini mempergunakan benda-benda yang benar-benar menjadi milik kita; misalnya kita mempersembahkan bunga hati yang bersih kepada Tuhan; mempersembahkan buah karma yang baik kepada Tuhan; mempersembahkan daun, ibarat tubuh kita harus dirawat dengan baik, menyucikan semua anggota tubuh dan menggunakannya untuk melakukan pekerjaan / perbuatan yang benar, jangan dipakai ketempat-tempat yg tidak layak (komplek tuna susila) dll, krn dalam tubuh berstana Atman (percikan Tuhan); mempersembahkan air (air mata penyesalan) terhadap pikiran, perkataan, perbuatan kita yang tidak baik dll.

Bhakti yang mendalam atau Para bhakti ini dirangkum menjadi 3 tahap yaitu :

(1). Matkarmatkrit , “Bekerjalah demi Aku”. Hendaknya kita menghayati bahwa kerja merupakan salah satu bakti kepada Tuhan. Kita bermaksud menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tulus ikhlas, tidak terikat dengan hasil kerja itu sendiri. Persoalan hasil kerja itu serahkan kepada Tuhan, itu urusan Tuhan, kita hanya bertanggung jawab terhadap kerja itu sendiri.

Dalam perang Kuruksetra, ketika Arjuna sdh berhadap-hadapan dengan Kakek Bisma, guru Drona, dan sanak keluarga lainnya, Dia menjadi lemas, tidak ada tenaga, Dia tidak mau berperang / membunuh Kakek Bisma yang sangat dia hormati, Guru Drono yang sangat berjasa mengajarkan ilmu memanah dll.
Arjuna melemparkan semua busur-busurnya dan berkata kepada Krisna, "Aku tidak mau berperang". Krisna kemudian menasehati Arjuna, "Engkau adalah seorang ksatria, tugasmu adalah berperang. Kalau kamu tidak mau berperang, kamu akan dicap sebagai seorang pengecut. Tentang hasil perang ini serahkan sepenuhnya kepadaKu", demikian kata Krisna. Setelah mendengarkan wejangan Krisna, akhirnya Arjuna bangkit dan mau berperang. Dia tidak memikirkan bagaimana hasil perang tsb.

(2). Matparamo, "Semata-mata demi Aku". Apapun yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan semata-mata demi menyenangkan Tuhan. Berbagai aktivitas sehari-hari seperti : makan yang enak, tidur yang nyenyak, istirahat yang cukup, kita menganggap bahwa itu semua demi badan, pikiran dan perasaan kita. Padahal sebenarnya adalah demi Atma. Aku disini menunjuk pada yang abadi bukan menunjuk pada badan. Kita mengatakan : "Ini tanganku, ini telingaku, ini kepalaku" dll. Dalam kalimat-kalimat itu ada subjek dan predikat; ada tangan dan ada Aku, ada telinga dan ada Aku, ada kepala dan ada Aku. Aku itu yang mana? Tiada lain Aku itu menunjuk kepada Sang Diri Sejati yaitu Atman.

(3). Matbaktaha, Berbaktilah hanya kepadaKu”. Berbakti kepada Tuhan bisa disinonimkan dengan kasih kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan bisa kita implementasikan kasih kepada semuanya. Kasih tidak mengenal perbedaan warna kulit, tidak mengenal perbedaan agama. tidak memandang orang kaya-miskin. Kasih adalah satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan semuanya serta menyadarkan kita pada kenyataan tunggal dibalik segala yang tampaknya beragam.
Kalau pikiran kita diresapi dengan kasih maka ia akan menjadi satya (kebenaran), kalau cinta kasih yang meresapi perbuatan kita ia akan menjadi dharma (kebajikan), kalau perasaan kita diliputi cinta kasih ia akan menjadi kedamaian (prema), mengerti cinta kasih ia akan menjadi Ahimsa (tanpa kekerasan).

Ada seorang Rsi yang bersumpah akan melaksanakan ahimsa dan berkata jujur ​​​​​​​​
Satyam vada Ucapkan kebenaran" apapun yang terjadi. Tatkala Rsi ini melakukan tapa, ada seorang pemburu yang sedang berburu rusa. Rusa yang diburu itu lari didepan sang Rsi dan bersembunyi. Sang pemburu datang dan bertanya kepada Rsi tsb, “Apakah anda melihat rusa lari disini, dimana dia bersembunyi?”
Sang Rsi berada dalam suatu konplik batin yang sangat hebat, jika ia berkata ”melihat”, berarti ia telah menyebabkan matinya rusa itu, berarti melanggar sumpahnya tentang ahimsa. Kalau dia mengatakan “tidak”, berarti dia sudah berkata bohong. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia menemukan jalan yang terbaik untuk mengatasi dilema ini. Ia menjawab dengan kata-kata yang membingungkan. Jawabnya : "Mata yang melihat tidak dapat mengatakan, sedangkan mulut yang berbicara tidak dapat melihat, Aku tidak dapat mengubah yang melihat harus mengatakan, dan yang berbicara harus melihat, itu adalah kebenaran". Dengan jawaban ini maka Rsi tersebut terhindar dari masalah yang menimpanya.

Bhagawan Sri Satya Narayana mengatakan  jangan berbohong. Beliau mengatakan “Jika kamu tidak dapat mengatakan yang sebenarnya lebih baik kamu diam dan tidak berbicara dari pada mengatakan yang tidak benar”. (Berbohong kepada musuh, kepada anak kecil yang sakit diperbolehkan, ket pen).

Tuhan yang Maha Besar atau Mahima bisa mengambil wujud yang terkecil dari yang paling kecil atau Anima. Dikatakan jauh Beliau sangat jauh sekali, dikatakan dekat beliau dekat sekali yaitu di dalam hati para bakta.

Ada sebuah cerita, suatu ketika Narada menghadap Tuhan, dan Tuhan bertanya kepada Narada, "Narada, sepanjang penjelajahanmu didunia kemanapun kamu memandang, kamu melihat 5 elemen yang hebat yaitu : Apah, teja, bayu, akasa, pertiwi, yang manakah terpenting dan terbesar dari kelima elemen itu?" Narada menjawab: “Tentu saja tanah yang paling besar.  Tuhan melanjutkan lagi, “Mana mungkin tanah yang paling besar kalau tiga perempat permukaan tanah ditelan oleh air, hanya seperempatnya saja yang menjadi daratan? Katakan yang Anda anggap lebih besar, yang menelan atau yang ditelan?” Narada menjawab, “air yang lebih besar.”
Tuhan melanjutkan lagi, ”ketika para raksasa bersembunyi di dasar samudra, Rsi Agastya meneguk air samudra hanya dengan sekali tegukan air samudra menjadi kering, sekarang katakan mana yang lebih besar air samudra atau Agastya?” Narada menjawab : “Rsi Agastya yang lebih besar”. 
Tuhan melanjutkan lagi, “Ketika Rsi Agung
Agastya meninggalkan badan raga beliau hanya menjadi penghuni salah satu bintang kecil diangkasa  yang sangat luas. Sekarang katakan mana yang lebih besar Rsi Agastya atau Angkasa?” Narada menjawab : “Yang lebih besar adalah Angkasa".
Tuhan melanjutkan lagi, dalam sejarah ada diceritakan bahwa ketika Tuhan turun ke dunia menjadi orang cebol (Wamana Avatara). Beliau baru menginjakkan satu kaki-Nya saja maka dunia sudah terinjak. Katakan mana yang lebih besar Kaki Tuhan atau Akasa?"
Narada menjawab: "Kaki Tuhan yang lebih besar".  Akhirnya Narada tiba pada satu kesimpulan bahwa kalau kakiNya saja sudah begitu besarnya, apalagi wujudnya?
Tapi Tuhan masih mempunyai satu pertanyaan lagi. 'Tuhan yang maha besar bisa mengambil wujud yang sangat kecil dari yang terkecil dan merelakan dirinya dikurung di dalam hati para bakta yang betul-betul menyerahkan diri kepadaNya. Sekarang katakan, 'Mana yang kamu anggap lebih besar yang mengurung atau yang dikurung?” Akhirnya Narada berkata, ”Bakta harus dianggap lebih besar dari pada Tuhan”.

Bakta yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Tuhan memang sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar. Dia mampu mengurung Tuhan di dalam hatinya. Tetapi manusia karena awidya (kegelapan) dia merasa kecil, tingkat kesadaran spiritualnya masih rendah. Dia mengatakan : "Aham dehasmi - Aku adalah Badan". Pada tahap ini kita berkata, Aku adalah Abdi Tuhan, dan menganggap Tuhan berada di suatu tempat yang jauh ini adalah tahap Dwaita.
Tetapi dengan menekuni pengetahuan spiritual / pengetahuan tentang Tuhan - pengetahuan adikodrati (Brahma Vidya), seorang sadaka meningkat dari tahap "Aham dehasmi - Aku adalah Badan", menjadi ”Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa”. Dalam tahap ini sadaka sudah merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, ini tahap Wishistadwaita.
Dan selanjutnya melangkah lagi dari "Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa". menjadi “Aham Brahma Asmi - Aku adalah Tuhan” , ini adalah tahap Adwaita .

Dalam disiplin spiritual ada 4 jenis pengabdi kepada Tuhan, yaitu :
  1. Arthi : kelompok orang-orang yang berdoa kpd Tuhan apabila dia sedang mengalami berbagai masalah dan cobaan atau sedang sakit. Dia berdoa mohon kesembuhan, mohon agar masalahnya dapat diatasi.
  2. Arthaarti : kelompok orang-orang yang memuja Tuhan memohon agar diberikan kekayaan, jabatan, rumah mewah, dll.
  3. Jignasu : kelompok orang-orang yg tdk henti-hentinya menekuni azaz kerohanian. Ia selalu mencari jawaban atas pertanyaan : Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Kemana aku akan pergi? Apa yang akan aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bagaimana Aku dpt mencapai Tuhan? Kelompok ini terus mempelajari pengetahuan tentang ke-Tuhan-an serta selalu tekun dalam spiritual / olah rohani.
  4. Jnani : kelompok orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, mempunyai pengetahuan adikodrati mempunyai Jňana. Jňana adalah pengetahuan tentang Tuhan. Ada disebutkan, "Brahmavid Brahmaiva Bhawathi" artinya  "Siapa yg mengetahui Tuhan maka dia akan menjadi Tuhan". Kelompok orang-orang ini sudah dapat menghayati secara terus menerus sifat-sifat keilahian yang ada dalam dirinya, dia sdh mencapai tingkat "Jivanmukti"  yaitu seseorang yang telah mencapai kesadaran spiritual yang tertinggi saat masih hidup di dunia. Mereka dianggap telah mencapai moksa, namun masih memiliki tubuh fisik.

Ada dua jenis pengetahuan yang dapat dicari manusia dalam pencariannya akan kebahagiaan. Pertama adalah pengetahuan duniawi (Lokajnana). Pengetahuan ini terkait dengan pengetahuan tentang teknologi, kesehatan, kimia, matematika, botani, musik, seni rupa, alam semesta fisik, dll. Semua jenis pengetahuan ini hanyalah digunakan sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah.
Jenis pengetahuan lainnya adalah pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa (Brahmajnana)  yang membimbing cara hidup sesuai dharma. Pengetahuan ini mengungkapkan tentang asal muasal; pertumbuhan dan peleburan kosmos yang disebabkan oleh Brahman (realitas yang tertinggi), mendapatkan jawaban atas pertanyaan, "
Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Kemana Aku akan pergi? Apa yang akan Aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bgmn Aku dapat mencapai Tuhan?" (Wacana Ilahi, 24 Juli 1983).***🙏


Diolah dari berbagai sumber.

Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




Senin, 09 Maret 2026

Pengendalian Indria



Indera secara terus-menerus menggiring mereka yang tidak memiliki pengetahuan (awidya) kepada hal-hal keduniawian atau sifat-sifat lahiriah. Manusia dikaruniai Panca Indra : Mata, Hidung, Telinga, Lidah, Kulit. Indria jg disebut " Maatraah",  yaitu alat pengukur.

Indria yg mempunyai kemampuan utk membedakan gambar itu baik atau buruk diberikan kemampuan kpd mata, matalah menjadi alat pengukur; begitu jg utk membedakan harum dan tdk harum, hidunglah yang diberikan kemampuan menjadi alat pengukur; begitu jg utk mendengarkan musik, hanya telingalah sebagai alat pengukur bahwa musik itu bagus dan musik ini kurang bagus.

Masing-masing panca Indra hanya mempunyai satu fungsi, kecuali Lidah yang di karuniai dua kemampuan yaitu : cita rasa (pengecap) dan bicara.  Diantara panca Indria itu lidah lah yang sangat berperan. Apabila lidahnya bisa dikendalikan, maka Indria-indria lainnya dpt dikendalikan dengan mudah.  Pengendalian lidah tidak hanya mencakup makanan saja / cita rasa, juga mencakup pembicaraan, sesuai lidah mempunyai dua fungsi.


Mengendalikan Lidah dlm hal Cita Rasa

Kemajuan spiritual tergantung dari keadaan pikiran kita, pikiran kita sangat bergantung dari makanan yang kita makan. Bagian makanan yang paling halus membentuk pikiran, yang halus menjadi darah dan daging, yang kasar dibuang melalui ekresi (toilet).

Ada 3 makanan menurut sifatnya :

  1. Makanan Rajasika adalah makanan yang menstimulasi dan meningkatkan energi. Ketika Sadhaka memakan makanan yang bersifat Rajasik maka cendrung Sadhaka akan agresif,  penuh nafsu, emosi, kurang sabar serta banyak keinginan duniawi.  Beberapa contoh makanan Rajasik yaitu : daging, ikan, telur; cabai, merica, jahe, kunyit; bawang merah, bawang putih; makanan siap saji; makanan yang sangat pedas, sangat asin, sangat asam,  dll.
  2. Makanan Tamasika adalah makanan yang sifatnya dapat menyebabkan kelelahan, kemalasan (suka tidur), lamban, kurang inisiatif, apatis dan tidak ada keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. Beberapa contoh makanan Tamasika : makanan olahan, makanan yang dimasak terlalu lama; makanan yang diamkan, makanan yang dipanaskan beberapa kali, dll.
  3. Makanan Satwika adalah makanan yang dapat membantu mencerahkan pikiran, membersihkan tubuh, meningkatkan kesadaran spiritual, kesehatan mental.  Beberapa contoh makanan Satwika : Buah-buahan segar; sayuran segar; biji-bijian, beras, beras merah, gandum; kacang-kacangan, susu dan produk susu, madu, dll.

Selain itu perlu memperhatikan 3 hal yang berkaitan dengan makanan yaitu : 

  1. Patra Sudhi (kemurnian peralatan memasak). Kita harus memperhatikan peralatan-peralatan yang dipakai memasak makanan itu apakah sudah bersih? Bersih bukan saja mencakup kebersihan fisik, namun juga kebersihan Spiritual. Dalam agama Hindu sangat ditabukan memakai alat-alat yang dipakai di kamar mandi untuk keperluan didapur, misalnya ember bekas pakai nyuci baju dipakai tempat membersihkan beras dll.
  2. Padartha Sudhi (kemurnian bahan-bahan makanan yg akan kita masak). Kita juga harus memperhatikan bahwa bahan-bahan makanan yang kita masak itu apakah diperoleh dengan cara halal atau tidak? Uang yang dipakai membeli bahan-bahan makanan apakah dengan cara baik atau tidak? Apakah dengan hasil korupsi, atau hasil pencurian, dll? Bahan-bahan makanan yang diperoleh dengan cara tidak halal akan mencemari makanan sehingga makanan menjadi tidak murni.
  3. Paaka Sudhi (kemurnian proses memasak). Perasaan yang memasak di dapur juga berpengaruh terhadap kemurnian makanan yang dimasak, apakah yang memasak itu perasaan riang gembira, ikhlas; atau ngedumel, marah? Getaran negatif, atau perasaan tidak baik ketika memasak juga mempengaruhi makanan sehingga makanan juga ikut tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika memasak dengan kegembiraan dalam hati, atau sambil mengulang-ulang nama-nama suci Tuhan / menyanyikan lagu bhajan dalam hati, ini akan ikut membersihkan makanan menjadi suci.

Kita tidak mungkin memperhatikannya setiap saat dan sepanjang waktu. Oleh karena itu untuk menjaga agar makanan itu murni, kami mempersembahkan kepada Tuhan  untuk dibersihkan sebelum dimakan, sehingga makanan menjadi suci, (berdoa sebelum makan).

Doa makan,
"Om Brahmārpaṇaṁ Brahma Havir,
Brahmāgnau Brahmaṇā Hutam, Brahmaiva Tena Gantavyaṁ, Brahma Karma Samādhinā".  (BG.4:24)

"Ahaṁ Vaiśvānaro Bhūtvā Prāṇināṁ Deham Āśritah Prāṇāpāna-samāyuktaḥ Pacāmy Annaṁ Caturvidham" (BG. 15:14)

Artinya:

"Upacara persembahan adalah Brahma, Persembahan itu sendiri adalah Brahma, Dipersembahkan oleh Brahman dlm api suci yg jg Brahman, Hanya Dia mencapai Brahman yg dlm seluruh kegiatannya dlm Brahman".

"Aku (Brahman) berada di dalam jantung semua makhluk sebagai Api Pencernaan (Vaiśvānara). Dengan bantuan prana (nafas keluar) dan apana (nafas masuk), Aku mencerna empat jenis makanan” .

Memakan makanan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan (tdk berdoa sebelum makan), dianggap makan dosanya sendiri, namun memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan, kita dianggap memakan makanan suci.


Mengendalikan Lidah dlm hal Bicara 

Tdk ada kemampuan yg lebih hebat dari kata-kata. Kata-kata dpt membuat hancurnya seseorang, kata-kata jg bisa memberi kehidupan. Kata-kata mempunyai kekuatan yang sangat kuat, ia mampu memotong pikiran seseorg.

Dlm Nitisastra disebutkan :

Warsita Nimitante manemu Laksmi, Warsita  Nimitante Pati kepagging, Warsita Nimitante manemu dukha, Warsita Nimitante manemu mitra"

Artinya: 

“Berbicara menyebabkan kebahagiaan,  berbicara menyebabkan menemukan kematian, berbicara  menyebabkan duka/sengsara, berbicara  menyebabkan menemukan sahabat”.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, jangan berkata kasar, jangan berkata-kata jahat; katakan yang baik, katakan apa yang baik..

Manusia cendrung lebih mudah mengikuti apa yang dilihat daripada apa yang didengar, dalam hal ini mata lebih dominan dari telinga.

Contoh : Dlm suatu outbond yg saya ikuti. Instruktur bernyanyi sambil bergerak menunjuk apa yang dia katakan. Peserta mengikuti sambil ikut bergerak. Instruktur menyanyikan lagu sederhana sekali, yang diikuti oleh peserta sambil memegang yg menyebutkan :
"Ini telingaku sambil memegang kedua telinganya, diikuti oleh semua peserta jg
    memegang telinganya masing-masing. Ini rambutku... peserta memegang rambut, dstnya.

Instruktur berkata, "Ini hidungku", tapi instruktur menyentuh matanya, ternyata hampir semua peserta menunjuk kpd matanya masing-masing padahal mereka mengatakan, "Ini hidungku". Ini membuktikan bahwa manusia akan lebih mudah meniru apa yang dilihat dp apa yang di dengar. 

Pengendalian Indria dlm Sarasamuccaya sloka 73 disebutkan 10 banyaknya, selanjutnya dijelaskan dalam Sarasamuccaya sloka 74, 75, 76 sbb :

Sloka 74 Sarasamuccaya, pengendalian pikiran ada 3, yaitu : 

  1. ‌Tdk menginginkan dan dengki atas milik barang orang lain.
  2. Tdk marah-marah kpd semuamakhluk
  3. Percayalah akan adanya hukum Karma Phala.

Sloka 75, Sarasamuccaya pengendalian kata-kata ada 4, yaitu :

  1. Tdk boleh berkata jahat
  2. Tdk boleh berkata kasar / menghardik
  3. Tdk boleh memfitnah
  4. Tdk boleh main

Sloka 76 Sarasamuccaya pengendalian  perbuatan ada 3, yaitu 

  1. Tidak dibunuh
  2. Tdk melakukan hubungan badan yg tdk sah
  3. Tidak mencuri.

Untuk mencapai kemurnian pikiran perkataan dan perbuatan (Tri Karana Sudhi), Baba mengajarkan 5 hal yaitu :

  1. Jangan berpikir yg jahat, berpikirlah yg baik.
  2. Jangan melihat yg jahat, lihatlah apa yg baik.
  3. Jangan mendengar yg jahat, dengarkanlah apa yg baik.
  4. Jangan bicara yg jahat, bicarakanlah yg baik.
  5. Jangan melakukan yang jahat, lakukanlah apa yang baik. (Buku Wacana musim panas, 1990 : 114).

Pergunakanlah panca indra dengan baik sehingga perbuatan-perbuatan kita selalu berpedoman pd dharma dengan demikian kita akan selalu berada di jln Tuhan dan Tuhan akan selalu membimbing kita.

Dalam Upanisad (Mahabaratha) disebutkan :
Badan manusia diibaratkan dengan kereta, Indria diibaratkan dengan kuda, Pikiran diibaratkan dengan kendali – tali kekang, dan Budi adalah Saisnya. 
Artinya pikiran terletak antara Indera dan Budi. Jika pikiran mengikuti Budi ia akan selamat, ini jalan nirwerti marga (jalan kerohanian). Sebaliknya jika pikiran mengikuti Indriya ia akan menjadi budak indria dan menjadi korban duka dan penderitaan, ini jalan prawerti marga (jalan keduniawian).  

Menurut pandangan dan penilaian kitab suci, "Jika manusia mengikuti indrianya ia menjadi binatang. Jika mengikuti Budi ia menjadi org yang hebat di antara manusia. Sedangkan Ia yang di bimbing Atma menjadi Brahman. Jika kita tidak dapat mengikuti Budi setidaknya kita mengikuti pikiran, shg  paling tidak kita tetap pada taraf manusia".

Org yg dikatakan hidup yg berguna adalah hidup yg selalu diliputi kasih kepada Tuhan. Hanya masa-masa yg ingat tentang kesucian layak dihitung sebagai hidup. Baba dalam wacanaNya mengatakan sbb :  Seorang kakek yang sudah berumur 70 tahun ditanya oleh cucunya yang baru berusia 7 tahun, "Kakek, berapa umur kakek sekarang? Kakek menjawab, "20 th". Sang anak tampak bertanya-tanya dan diliputi oleh keraguan. Sang kakek melanjutkan, "Saya hanya menghabiskan 20 tahun terakhir dalam pergaulan dengan Tuhan, saya sampai terjun ke rawa-rawa dalam mencari kesenangan duniawi" .

Hanya tahun-tahun kehidupan dengan Tuhan / selalu ingat Tuhan yang dihitung sebagai hidup, sisa tidak pantas untuk dihitung. Manusia hidup tidak hanya untuk makan, tidur, berulang kali. Namun tujuan kita hidup adalah untuk menjalankan karma dengan baik yg akan mengantarkan kita ke Sorga. Lepaskanlah keterikatan kpd hal-hal yg remeh, kembangkanlah keterikatan kpd Tuhan yang akan selalu bersama menemani kita kemanapun kita pergi, dengan melakukan perbuatan baik.

Dalam Sarascamuccaya sloka 4 dan 14 disebutkan sbb :

"Apangiking dadi wwang uttama  juga ya,  nimittaning mangkana, wenang ya tumulung  awaknya  sangkeng sangsara, makasadhanang  cubhakarma, hinganing kottamaning  dadi  wwang  ika". (Sarasamuccaya, 4). 
Terjemahan:
"Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; karena dapat membantu dirinya dari keadaan samsara (menjelma berulang-ulang), dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungan menjelma sebagai manusia". (Kajeng, 2001 : 6)

"Ikang Dharma Ngaranya, Hanuning Mara Ring  Swargan Ika; Kadi gatening perahu,  banyagehenuning  nentasing tasik”.  (Sarasamuccaya, 14).
Terjemahan:
"Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sama halnya dengan perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang yang mengarungi lautan" (Kajeng, 2001 : 11).

Selain itu, hal yg penting juga dalam spiritual adalah bahwa kita berusaha bergaul dg org-org yang  baik. Sankara sdh berulang kali menyampaikan hal ini sbb :

“Satsangatwe nissangatwam, Nissangatwe nirmohatwam, Nirmohatwe nischalatatwa, Nischalatatwa jivanmukti”. (Sloka Sansekerta) 
Artinya: 
“Pergaulan yang baik mengarah pada tanpa keterikatan, tanpa keterikatan menjadikan kita bebas dari khayalan, bebas dari khayalan yang mengarah pada kestabilan pikiran, dan kestabilan pikiran memberikan kebebasan (Jiwanmukti)”.


Dalam kehidupan ini, rasa senang dan sedih datang silih berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, suatu obyek yang semula merupakan sumber kebahagiaan bisa berganti menjadi sumber penderitaan.

Oleh karena itu, kegembiraan dan kesedihan sebenarnya ditentukan oleh setatus/keadaan dari batin (pikiran) kita sendiri. Obyek yang selalu mengalami perubahan itu bukanlah suatu yang nyata. Setelah mengetahui bahwa kehidupan yang serba enak pada dasarnya merupakan penghambat bagi kemajuan Spiritual. Orang-orang bajik menganggap kesulitan-kesulitan yang dialami masa hidup ini pada dasarnya merupakan batu loncatan bagi peningkatan derajat kebatinannya. Mari kita mengendalikan Indria dalam batas-batas yang wajar agar hidup damai.***


Artikel lainnya:


Catatan :
Artikel ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy. 🙏


RAJA KERAJAAN ALENGKA MENURUT RAMAYANA

Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka,  Sumber foto  Sahabat Al. Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh. Pada zaman dahulu kala, hiduplah seoran...