Kerajaan Alengka Menurut Ramayana Walmiki
Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka,
Sumber foto Sahabat Al.
Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh.
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang saleh dan taat bertapa kepada Dewa Siwa, bernama Sukesa. Ia menikah dengan Devawati dan dikaruniai tiga putra: Malyavan, Sumali, dan Mali.
Karena bhakti Sukesa yang luar biasa, Dewa Siwa menganugerahkan dua berkah :
- Kota emas Alengka – saat itu masih kosong, ibarat “sertifikat tanah” tanpa penghuni.
- Kesaktian dan umur panjang.
Namun Sukesa menolak duduk di takhta. Ia memilih tetap menjadi pertapa. Karena itu, dalam daftar raja Alengka, silsilah dimulai dari putranya, Malyavan. Sukesa berstatus sebagai leluhur penerima anugerah, bukan raja yang memerintah.
[Sumber: Uttara Kanda, Ramayana; Brahma Purana]
Sukesa
Sumber foto : Sahabat Al.
Tiga Putra Sukesa Memohon Berkah Brahma
Malyavan, Sumali, dan Mali kemudian bertapa memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar :
- Tali persaudaraan mereka tak pernah putus, selalu saling menyayangi.
- Memiliki kesaktian luar biasa sehingga tak terkalahkan.
Brahma mengabulkan permohonan tersebut.
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 4]
Berdirinya Kerajaan Alengka
Setelah Sukesa lanjut usia, ketiga putranya mengambil alih kota Alengka yang kosong.
Malyavan, sebagai putra sulung, memproklamirkan diri sebagai Raja Alengka Pertama. Ia mengumpulkan bangsa raksasa untuk menetap di sana. Sumali dan Mali menjadi patih dan panglima kerajaan Alengka.
Atas perintah Sumali, Wiswakarma dipaksa membangun istana yang indah dan megah di Alengka. Istana megah-pun selesai dibuat oleh Wiswakarma. Sejak itu Malyavan, Sumali, dan Mali hidup dalam kemewahan. Alengka menjadi ibu kota raksasa yang sangat kuat.
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 5]
Wisrawa
Sumber foto Sahabat Al.
Pergantian Takhta dan Kejatuhan Sumali
Setelah Malyavan lengser, takhta dipegang adiknya, Sumali. Namun Sumali juga lengser dikalahkan oleh Dewa Wisnu, lalu digantikan oleh adiknya, Mali. Ketika Mali lengser juga, Sumali kembali naik takhta. Dengan demikian, Sumali tercatat dua kali menjadi raja: Raja Alengka ke-2 dan ke-4. Ketiga bersaudara ini masih hidup segar bugar.
Raja Sumali kembali menyalahgunakan kesaktiannya untuk menyerang Kahyangan, maka para Dewa dipimpin Wisnu menyerbu Sumali Raja Alengka. Dalam pertempuran itu, Malyavan dan Mali gugur. Mengetahui dua saudaranya gugur, Sumali melarikan diri ke Patala – alam bawah – dan bersembunyi karena takut dibunuh Dewa Wisnu. Sejak Sumali kalah, Alengka pun menjadi kosong tidak ada penghuni, tak terawat, hancur akibat perang.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 5-6]
Brahma Menghadiahkan Alengka kepada Kuwera
Melihat Alengka kosong dan terbengkalai, Brahma merasa prihatin. Ia memerintahkan Wiswakarma merenovasi Alengka dan menciptakan kendaraan Pushpaka Vimana.
Istana emas Alengka yang megah dan kendaraan Pushpaka Vimana itu kemudian dihadiahkan oleh Brahma kepada Kuwera – putra Resi Wisrawa dengan Ilavida, putri Resi Bharadwaja. Karena Kuwera anak sulung Resi Wisrawa dikenal lurus dan berwatak baik, dan Alengka menjadi ibu kota kerajaan Yaksha sekaligus tempat Kuwera menyimpan hartanya. Karena itu ia bergelar Dewa Kekayaan. Kuwera menjadi Raja Alengka ke-5.
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 3; Bhagavata Purana 4.1.21]
Kuwera
Sumber foto Sahabat Al.
Siasat Sumali: Lahirnya Rahwana
Sumali yang hidup di pengasingan berniat mengembalikan kejayaan bangsa raksasa. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sukesi. Mendengar ada rsi sakti cucu Brahma bernama Wisrawa, Sumali berpikir: jika Sukesi menikah dengan Wisrawa, maka cucunya pasti sakti mandraguna.
Waktu itu Wisrawa sedang bertapa berat. Sumali mengutus Sukesi untuk datang ke pertapaan Wisrawa dan mengabdi. Setiap hari Sukesi melayani Wisrawa dengan tulus: mengambil buah, air, membersihkan ashram.
Dengan mata batin, Wisrawa mengetahui niat Sumali. Ia juga tahu jika berhubungan pada sandhyakala – waktu senja yang tidak baik – anak yang lahir akan berwatak raksasa. Wisrawa berkata jujur kepada Sukesi :
“Jika engkau menginginkan anak dariku sekarang, ia akan menjadi raksasa jahat. Namun jika menunggu waktu yang baik, anakmu bisa menjadi orang suci.”
[Uttara Kanda Sarga 9]
Sukesi menjawab bahwa, dia hanya menjalankan dharma sebagai anak, taat perintah orang tua. Dia rela apapun yang terjadi. Karena ketulusan dan dharma Sukesi, Wisrawa akhirnya menerima. Maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanakha pada waktu yang tidak tepat, sehingga berwatak raksasa: Rahwana – angkara murka, Kumbakarna – tamas/tamak, Surpanakha – rajasik/nafsu.
Anak keempat, Wibisana, lahir setelah Sukesi sadar dan memohon waktu kelahiran yang baik, sehingga berwatak dharma dan satvik.
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 9]
Wisrawa menikah dengan Sukesi bukan karena nafsu, melainkan :
- Menghargai dharma dan ketulusan Sukesi.
- Sudah menjadi takdir untuk lahirnya tokoh-tokoh besar dalam lila Ramayana.
- Rsi pada tahap Grhastha-asrama memang menjalankan dharma berumah tangga. “Dharmartha-kama-mokshanam grhastha prabhavaḼ smáštaḼ”. Artinya : Di antara empat tujuan hidup, tahap berumah tangga adalah penopangnya.[Manusmriti 3.78]
Rahwana
Sumber foto Internet.
Rahwana Merebut Alengka
Setelah dewasa dan sakti, Rahwana bertanya kepada Sukesi: “Mengapa kita tinggal di hutan, padahal kakekku dulu raja Alengka?” Ia merasa Alengka adalah hak waris leluhur. Kuwera dianggap "numpang" karena pemberian Brahma. Sumali yang sudah tua, memanas-manasi Rahwana untuk merebut takhta.
Rahwana menyerang Kuwera - saudaranya seayah, dan berhasil merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian pergi meninggalkan Alengka, akhirnya suatu hari membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 11-12]
Rama
Sumber foto Sahabat Al.
Kejatuhan Rahwana, Wibisana Naik Takhta
Karena menculik Dewi Sita, Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah / mengambil Alengka, Ia menobatkan Wibisana – adik Rahwana yang berpihak pada dharma – sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.
“Na me kÄáš
kášŁÄ lankÄyÄáš vasituáš puruᚣarᚣabha”
Artinya:
“Wahai yang terbaik di antara manusia, Aku tidak berkeinginan tinggal di Alengka.”
[Sumber: Valmiki Ramayana, Yuddha Kanda 128.801)
Setelah itu, Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.
[Sumber: Yuddha Kanda Sarga 128]
Wibisana
Sumber foto Sahabat Al.
Runutan Raja Alengka :
Raksasa Malyavan --> Raksasa Sumali --> Raksasa Mali --> Raksasa Sumali --> Kosong --> Kuwera --> Raksasa Rahwana --> Wibisana (adik Rahwana).
Silsilah Keluarga Alengka :
Brahma mempunyai putra Pulastya.
Pulastya mempunyai putra Wisrawa.
Wiswara mempunyai 2 orang istri yaitu :
- Ilavida putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
- Sukesi/Kaikasi putri Sumali melahirkan: Rahwana, Kumbakarna, Surpanakha dan Wibisana..
Sumber foto : Internet.
Kerajaan Alengka Versi Pewayangan Jawa
Meskipun dipimpin raksasa, dalam pewayangan Jawa, Alengka sering digambarkan sebagai kerajaan yang sangat tentram, makmur, kaya raya, dan memiliki pertahanan yang sangat kuat.
Dalam lakon pewayangan Jawa, kisah Alengka ditarik mundur jauh sebelum era Wisrawa. Silsilah sejarah raja Alengka dan keluarga ada beberapa perbedaan dengan versi Ramayana Walmiki.
Runutan Raja Versi Pewayangan Jawa / Ngalengkadiraja
1. Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu. Ia disebut raja raksasa negara Alengka yang tegas, angkara murka. Hiranyakasipu dibunuh Maharaja Suman dari negara Suryakencana, penjelmaan Wisnu.
Catatan :
"Tokoh Hiranyakasipu dalam pewayangan Jawa berbeda dengan Hiranyakasipu dalam kitab Bhagavata Purana, Dia bukan Hiranyakasipu yang dibunuh Narasinga di Purana, tapi tokoh wayang dengan kisah berbeda".
2. Setelah Prabu Hiranyakasipu meninggal, digantikan oleh anaknya Prabu Banjaranjali. Dari Banjaranjali inilah turun-temurun menurunkan raja-raja negara Alengka.
3. ... silsilah raja-raja lain tidak dirinci. Lakon wayang langsung loncat ke era Sumali.
4. Prabu Sumali: Kakek Rahwana.
5. Kemudian Prabu Danapati/Danaraja /Wisrawana - putra Wisrawa, raja Lokapala, tapi menguasai Alengka sebentar, direbut oleh Prabu Dasamuka/Rahwana, kakak tiri Danapati.
6. Prabu Dasamuka/Rahwana: menjadi raja Alengka. Prabu Rahwana digambarkan memiliki sepuluh wajah (Dasamuka), berwibawa, dan sangat disegani. Dia dibunuh oleh Rama. Kemudian Rama menobatkan Prabu Wibisana menjadi raja Alengka.
7. Wibisana membangun istana baru bernama Singgelapura. Sejak itu Alengka berganti nama jadi Kerajaan Singgelapura. Kerajaan ini juga sering disebut Ngalengkadiraja dalam wayang.
Silsilah keluarga versi Pewayangan Jawa
Versi Pewayangan Jawa jalur Dewa lebih panjang dan sudah “dilokalkan” sbb:
Batara Brahma --> Batara Sambodana --> Batara Sambu --> Resi Supadma --> Resi Wisrawa
Rsi Wisrawa mempunyai 3 Istri yaitu :
- Istri pertama Ilavida, putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
- Istri kedua Lokati, putri Sumali, melahirkan Danapati
- Istri ketiga Sukesi, putri Sumali, melahirkan: Prabu Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Surpanakha dan Arya Wibisana.
Konflik ayah-anak rebut Sukesi
"Dalam pewayangan Jawa, terjadi konflik antara Rsi Wisrawa dengan putranya Danapati karena memperebutkan Dewi Sukesi".
Danapati/Danaraja/Wisrawana merupakan putra Rsi Wiswara dengan Lokati juga ingin menikahi Dewi Sukesi. Dewi Sukesi adalah adik dari Dewi Lokati. Karena Sukesi menjadi istri Wisrawa, Danapati/Danaraja/Wisrawana menyerang dan membunuh Rsi Wisrawa yang merupakan orang tuanya sendiri. Danapati/Danaraja/Wisrawana lalu terusir dari Alengka oleh Rahwana.
Demikian sekilas tentang Kerajaan Alengka. Semoga bermanfaat untuk menambah Vidhya kita semua, apabila ada yang kurang mohon maaf. Suksma.***đ
Foto Ilustrasi.
Sumber foto Sahabat Al.
Catatan Sumber Utama :- Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Sarga 3–12.
- Brahma Purana_, Bab tentang Silsilah Pulastya.
- Bhagavata Purana, Skandha 4, Adhyaya 1.
- Manusmriti_ 3.78 untuk dharma Grhastha.
- Cuplikan "Cerita ulang oleh Sahabat AI, 20 April 2026".
Artikel lainnya :
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.đ