Minggu, 01 Februari 2026

Jangan Melupakan Ajaran Leluhur

 

Prof. DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI.


Agama Hindu adalah Wahyu Tuhan.

Sbg penganut Hindu yg baik, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa pendahulu kita, jasa-jasa Leluhur kita yg telah banyak berkontribusi thdp Agama Hindu. Leluhur / pendahulu kita dari manapun mereka berasal baik yang dari Indonesia maupun yg berasal dari India harus kita hormati. Para Suci dari India banyak sekali yg berjasa thdp agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali.


Gayatri Mantram dan Weda.

Mantra Gayatri adalah salah satu Mantra yg sangat penting dlm Ajaran Agama Hindu. Ida Hyang Widhi Wasa mewahyukan Mantra Gayatri kepada Maharsi Visvamitra (India).

Mantram Gayatri tercantum dalam Rg. Weda III.62.10. Mantra Gayatri merupakan Ibu Weda (Gayatri Chandasam Mata, Weda Mata). Mantra Gayatri adalah 'Anna Purna', 'Ibu Jagad Raya', kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi oleh Ana Purna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan dan papan.

Begitu juga Kitab Suci Wedha diwahyukan di India oleh Ida Hyang Widhi Wasa melalui 7 Maha Rsi, yaitu :

  1. Rsi Atri
  2. Rsi Baradwaja
  3. Rsi Gratsamada
  4. Rsi Wasista
  5. Rsi Wiswamitra
  6. Rsi Wamadewa
  7. Rsi Kanwa.

Oleh Bhagawan Wiyasa, Wahyu yg diterima oleh 7 Maha Rsi tsb dikelompokkan menjadi 4 (Catur Wedha) dibantu oleh 4 orang Rsi sbb :

  1. ‌Rsi Paila - menyusun Reg Weda - Mahawakya :  Prajnanam Brahma.
  2. Rsi Waisampayana - menyusun Yayur Weda - Mahawakya : Aham Brahma Asmi.
  3. Rsi Jaimini - menyusun Sama Weda - Mahawakya : Tat Twam Asi.
  4. Rsi Sumantu - menyusun Atarwa Weda - Mahawakya : Ayam Atman Brahman.

Agama Hindu Masuk Indonesia.

Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia.
Pada abad ke 4 yaitu tahun 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), kemudian ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan),  ke Jawa Timur  pada pertengahan abad ke 8  prasasti Dinoyo, (kerajaan Kanjurukan), dan akhirnya berkembang ke Bali.

Agama Hindu masuk Bali pd abad ke 8 M, Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut :

Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu”
Artinya : 
Sang Yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”.

Beliau banyak membangun tempat suci utk umat Hindu misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Zaman Raja Bali Age pertama Sri Kesari Warmadewa, dan zaman Raja Ugrasena, biasa Para Suci / org-org India  bekerja sm dg Raja Bali Aga dlm melakukan puja kpd Ida Hyang Widhi (Brahman).


Paska Kemerdekaan Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, agama Hindu masih belum secara resmi diakui oleh pemerintah kala itu, tentu ada syarat-syarat yang cukup komplek, seperti  halnya syarat-syarat peribadatan yang harus  sesuai dengan ideologi yaitu Pancasila.

Pada th 1950 Narendra Dev Pandit Shastri dan I Gusti Bagus Sugriwa adalah penyusun Mantra Puja Trisandya, bukan dikarang oleh mereka, tapi disusun. Puja Tri Sandya terdiri dari 6 bait. Bait pertama adalah Mantram Gayatri, bait ke 2 sd 6 diambil dari Upanisad dan teks Agama. Dan dimasukkan dlm bukunya yg berjudul Puja Trisandya.

Prof. Narendra Dev Pandit Shastri adalah seorang tokoh Hindu dari India tinggal di Bali kawin dengan org Bali, yg ikut menjaga budaya Hindu di Bali, Beliau mengajar Catur Weda dan Upanisad. Beberapa karya dari Prof. Pandit Shastri diantaranya : Intisari Hindu Dharma, Kidung Yadnya (1950), Tri Sandhya (1950), Sejarah Bali Dwipa (1963), Weda Parikrama (1951) buku yang menerangkan mantra-mantra yang sangat terkenal di kalangan kependetaan di Bali dan Lombok.

Pada tgl 14 Juni 1958 Prof. Narendra Dev Pandit Shastri ikut menyusun petisi bersama-sama tokoh-tokoh Hindu lainnya yg isinya menyatakan bahwa Agama Hindu Bali (waktu itu dinamakan Hindu Bali) tdk bertentangan dg Pancasila, dan meminta pemerintah mengakuinya.

Tokoh-tokoh yg memperjuangkan agar agama Hindu agar diakui secara resmi oleh pemerintah diantaranya adalah :

  • Prof. Dr. Ida Bagus Mantra,
  • ‌I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,
  • Narendra Dev Pandit Shastri
  • I Ketut Bangbang Gde Rawi,
  • I Gusti Ketut Pudja.
  • dll.

Oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali dan jg tokoh dari India, Puja Tri Sandya dan Kitab suci Wedha yg dipakai melengkapi persyaratan disamping persyaratan lainnya agar agama Hindu diterima sbg agama yg sah di Indonesia. Akhirnya tanggal 5 September 1958 terbitlah keputusan Menteri Agama yg mengakui Agama Hindu Bali sbg Agama yg sah.

Pada tgl 23 Pebruari 1959, ketika parisada berdiri pertama kali didirikan di Denpasar Bali, namanya Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB). Penggagas berdirinya Parisada salah satunya Drs. Ida Bagus Mantra, sbg sekretaris awal, dan tokoh-tokoh penting lainnya seperti :

  • ‌Ida Pedanda Made Sidemen,
  • I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Ida Bagus Gde Doster,
  • Gedong Bagus Oka, 
  • dll.

Pada th 1964 untuk memperkuat identitas nasional, Nama  Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB) berubah menjadi PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) menjadikannya Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia yang mengurus keagamaan dan sosial. PHDI lahir dari gerakan reformasi kebangkitan Hindu di Indonesia, bertujuan mempersatukan umat Hindu di seluruh Nusantara.

Jadi Agama Hindu yg ada di Nusantara khususnya di Bali ini keberadaannya tdk dpt dipisahkan dg Hindu India, krn agama Hindu spy bisa diakui sebagai agama yg sah di Indonesia ada Gayatri Mantram (dalam Puja Trisandya bait 1), Kitab suci Wedha, nama 7 Maha Rsi penerima Wahyu Wedha. Dan nama Dewa-Dewi yg dipuja oleh umat Hindu semua tercantum dlm Kitab suci Wedha.

Sebagai orang baik dan bijak yg mencintai ajaran Leluhur, jangan sampai kita melupakan Leluhur kita dan ajarannya, yaitu tabek :  Rsi Wiswamitra penerima Wahyu Gayatri, 7 Maha Rsi penerima Wahyu Weda, Bhagawan Wyasa yg menyusun Catur Weda, Rasi Markandeya yg menyebarkan agama Hindu ke Bali, dan membuat pura Besakih. Zaman kemerdekaan ada nama :  Ida Bgs Mantra, I Gusti Bagus Sugriwa, Narendra Dev Pandit Shastri (India), dll.

Slogan Bung Karno yang sangat terkenal dan masih relevan zaman skrg yaitu , "JAS MERAH", jangan sekali-kali melupakan sejarah***🙏












Sumber foto : Internet.





Kamis, 01 Januari 2026

2. Patal Bhuvaneshwara di Zaman Kali.

 

Pegunungan Himalaya, Sumber Internet.

Patal Bhuvaneshwara, sebuah kompleks gua yang disebutkan dalam Manasakhanda dari Skandha Purana, menyebutkan bahwa Dewa Siwa sendiri tinggal di Patal Bhuvaneshwara, dan dewa-dewa lain datang ke Patal untuk melayani dan menyembahnya.

Orang pertama yang mengunjungi Patal Bhuwaneswara adalah Raja Rituparna penguasa Ayodhya dari dinasti Surya, keturunan ketujuh dari Raja Bhageeratha, pada zaman Sathya Yuga.

Dengan penglihatan kedewataan (Diversity) yang dianugerahi oleh Adishesa, Raja Rituparna dapat menyaksikan Lingga Siwa. Menurut Skanda Purana Lingga Siwa ini terus membesar dan pada saat Lingga itu menyentuh atap gua, dunia akan berhenti.

Raja Rituparna juga menyaksikan Dewa Siwa bersama Dewi Parwati, Brahma bersama Dewi Saraswati, Wisnu bersama Dewi Laksmi, dan berbagai Dewa-Dewi penghuni sorga dll. Juga dapat menyaksikan bagaimana ketika penciptaan, dan peleburan terjadi.

Di dalam Manaskanda di Skandapurana disebutkan juga, Adishesa berpesan kepada Raja Rituparna agar tidak menceritakan tentang Patal Bhuvaneshwara kepada siapa pun. Adishesa mengatakan kepada manusia bahwa, rahasia Patal Bhuvaneshwara akan berlanjut sampai ke "Valkal" (Brahmana) yang akan mengungkap pada zaman kali tempat bersemayamnya Tuhan di Bumi ke dunia kelak, dan membawa Rahmat yang bermanfaat bagi umat.

Apa yang diramalkan Adishesa dalam Skanda Purana telah terbukti sekarang di zaman modern (kali Yuga). Pada tahun 1989 Jenderal Kanthi Taylor (seorang Brahmin = Valkal) adalah orang kedua yang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara atas bimbingan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Taylor adalah orang yang dipilih oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang dianggap pantas untuk melakukan eksplorasi di hutan guna menemukan rahasia tersembunyi di balik Patal Bhuvaneshwara, dan mengungkapkannya kepada dunia.

Patal Bhuvaneshwara adalah sebuah gua suci yang merupakan situs ziarah utama di wilayah pegunungan Himalaya, dan sekarang menjadi pusat spiritual / persiarahan yang banyak (jutaan) dikunjungi oleh para Bhakta dari berbagai negara di seluruh dunia, terletak di antara perbukitan yang indah, hutan yang lebat, pemandangan yang menakjubkan, gua ini adalah dimana alam dan agama menyatu dalam harmoni yang sempurna.

Awalnya, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba muncul dalam mimpi Taylor menunjukkannya sebuah gunung dan sebuah jalan sempit yang mengarah ke sebuah gua. Bhagawan Sri Sathya Sai Baba telah menganugrahi Taylor dg mimpi penampakan suci, pemandangan di dalam komplek gua dan Lela sucinya.

Mimpi ini memiliki makna yg kecil utk bisa tiba ditempat yg tepat di Himalaya yg sangat luas. Patal merupakan dusun kecil yang terletak di wilayah Baraelly di Uttar Pradesh, India Utara.

Gua tsb terletak di atas sebuah gunung yang ditutupi oleh pohon Cemara yang sangat lebat, pintu gua berdiameter sekitar satu meter. Dari luar tidak tampak ada sebuah gua, karena diyakini belum pernah ada orang yang masuk ke dalam gua. Seseorg harus naik naik dengan tumpukan batu utk bisa masuk ke dalam Gua. Di dalam Gua cukup lapang serta atapnya sangat tinggi. Tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam gua, serta udara dalam gua sangat dingin, namun tidak sampai kekurangan oksigen dalam gua.

Org-org setempat meyakini gua tersebut sdh ada ribuan tahun yang lalu, namun tidak yakin sbg Patal Bhuvaneshwara spt yg disebutkan dalam Skanda Purana. Kepercayaan org lokal meyakini bahwa gua itu tdk dpt dimasuki oleh org, dan bagi siapa saja yg masuk ke dalam gua tdk akan pernah kembali. Keyakinan itulah yang menyebabkan shg Gua tsb tidak berani memasukinya.

Berikut adalah ringkasan singkat, cerita pengalaman spiritual dan kesan pribadi dari para peziarah yang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara, dikutip dari Buku Bhagawan Sri Sathya Sai And Patal Bhuvaneshwara, diterjemahkan oleh Made Aripta Wibawa (2000) menjadi, "Menyingkap Rahasia Siwa di Bumi (Patal Bhuvaneshwara).


Jenderal Kanthi Taylor menceritakan pengalamannya :

"Selama kunjungan sy pada th 1989 dimana sy sedang melakukan japa di dekat Lingga Siwa, sy merasakan Japamala (rudraksha mala) saya sedang ditarik kearah lingga dg kekuatan yg luar biasa".

Jenderal Taylor menjelaskan bahwa, di dalam gua dia mendptkan darsan Bhagawan Sri Sathya Narayana (Bhagawan mampu muncul di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan, pena), dan menganugerahi penglihatan kedewataan " Divyadristhi ". Dengan penglihatan ini Taylor mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, dan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengatakan kpd sy bahwa org-org dari belahan dunia akan segera datang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara.

Melalui penglihatan ilahi ini, Jenderal Taylor melihat Krishna berbusana berwarna merah berkilauan, memakai kalung bunga yang masih segar, dengan bulu Candrawasih yg khas ada diatas mahkotaNya.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba kemudian mengajak Taylor ke tempat Sathyabhama, Rukmini, dan Radha . Taylor juga menyaksikan Sheshanaga (Adishesa) yang duduk di atas kursi besar, dengan kulit kuning keemasan, garis-garis merah dan biru, serta mahkota berpermata mengeluarkan cahaya berkilauan.

Dalam kunjungan berikutnya pada 17 Juli 1993, Taylor merasakan kehadiran makhluk-makhluk lain bukan manusia di dalam gua. Selama puja, sy mendengar mantra-mantra yg diucapkan olehnya. Satu hal yang paling menarik adalah bahwa mantra-mantra yang diucapkannya adalah mantra-mantra yg sedang sy ucapkan, ini menimbulkan pertanyaan apakah suara yang sy dengar adalah gema atau bukan.

Pada 11 Desember 1993, sy melakukan abhisheka di Patal Bhuvaneshwara, dengan menggunakan sedikit susu, pada saat yg bersamaan pelayaranah yg lainnya jg melihat begitu banyak susu berlimpah dilantai. Pesiarah yang berada disana melihat susu menetes dari atas atap gua.
Dalam Skanda Purana disebutkan, bahwa Dewa Brahma dan Dewa Wisnu jg melakukan Abisheka kpd Dewa Siwa, ini kemungkinan besar Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sedang melaksanakannya.

Pada tanggal 8 Mei 1994, selama sy melakukan puja di sekitar lingga, sy melihat cahaya spt sebuah 'jyothi' di dalamnya ada Lingga Siwa. Dalam Skanda Purana disebutkan bahwa rahasia berhenti dunia dipercaya tersembunyi di dalam gua ini. Lingga Siwa yang telah terbentuk di sini terus membesar, dan pada saat menyentuh atap gua, dunia akan berakhir/kiamat dan akan dimulai dg kehidupan baru (Ini sama dengan 1 hari Brahman, Ket pen).

Kemudian sy mengunjungi patung Hanuman, sy melihat mata patung Hanuman berkilau dengan senyum dibibirnya. Sy jg menyaksikan penampakan Siwa yang turun ke lingga dan lingga tersebut memancarkan cahaya berkilauan.

Sy jg menyaksikan penampakan Ganesha berwarna keemasan yang memimpin pengikutnya ke sebuah gua. Dan berbagai pengalaman spiritual yang dialami oleh Jendral Taylor.

Pengalaman para peziarah :

Nyonya Sathyabhama pada kunjungan pertama (7 Mei 1994), saat melakukan puja dan abhiseka, dia melihat Krishna kecil duduk di piring perak dekat lingga, bermain dengan bunga persembahan. Bunga-bunga tsb diambil dari para peziarah yg melakukan puja lalu memberikannya kpd Brahma, Wisnu dan Siwa. Penampakan ini berlangsung sekitar 10 menit.

Pada kunjungan kedua (8 Mei 1994), sy kembali melihat penampakan Krishna kecil, namun kali ini Dia duduk di pangkuan Ganesha. Dalam kunjungan saya sebelumnya saya melihat Krishna kecil duduk di piring perak dekat lingga, bermain dengan bunga persembahan peziarah yang melakukan puja.

Tuan Shyamji Sharma dari Bareilly, Pada 17 Juli 1993, mengalami fenomena suara-suara misterius saat mengucapkan mantra. Suara-suara tsb sama dengan puja yg dia ucapkan, dia sangat yakin bahwa itu suara makhluk gaib yg tidak terlihat. Ia juga menyaksikan bahan-bahan persembahan jatuh dari atap gua saat melakukan puja.

Pada kunjungan berikutnya pada 7 Mei 1994, Tuan Shyamji Sharma bersama Jenderal Taylor melihat cahaya muncul dari dalam Lingga Siwa.

Pada 17 Juli 1992, Nona Geetha Sharma bersama Taylor mengunjungi Patal Bhuvaneshwara. Nona Geetha Sarma melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Siwa dan Parwati menerima puja yang dilakukan oleh Jenderal Taylor. Ia jg melihat Parasurama yang melakukan tapa dan mendapatkan anugerah dari Siwa.

Nona Anju Sharma  pada tanggal 7 Juli 1993, di Patal mendengar suara-suara yg bukan dari kelompoknya sedang mengucapkan mantra dibelakang mantra yg diucapkan Tuan Shyamji Sharma.

Nyonya Anubha Sharma  pada 11 Desember 1993 melihat Siwa berdiri di belakang lingga Patal Bhuvaneshwara, serta melihat Sindurawa, Ganesha, Rama.

Walikota Rajender   pada tanggal 25 Januari 1993, bahwa Ia mengalami penjelajahan mendalam di samping lingga "Bhuvaneshwara". Ia merasakan gelombang energi yang kuat dari tulang punggung menuju otak dan melihat alam semesta melalui keningnya, dengan kesadaran badan yang terpisah.

Tuan dan Nyonya Hillcoat dari Australia pada Juli 1994, selama mereka melakukan puja, mendapatkan penampakan Ganesha yang memberikan anugerah, diikuti penampakan Siwa kemudian secara perlahan Siwa berubah menjadi Nataraja.

Tuan Khandelwal selama kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara memperoleh penampakan Rama dengan busana putih di pemeliharaannya.

Garvit Ahluwalia (3 th) mengatakan telah melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di dalam gua. Kakaknya yang waktu itu membawa dua gambar, menampilkan gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dan Shirdi Baba, dan menanyakan gambar mana yang dilihatnya, kemudian Garvit menunjuk ke gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Meghavi Gupta (12 th) juga mendapatkan dharsan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, dia jg melihat secara fisik wujud rambut Siwa yg kusut dan Sungai Gangga turun mengalir dari atas kepalaNya.

Indradutt Maithani melihat Brahma, Wisnu, dan Mahesha, serta Ganesha di samping Jenderal Taylor yang sedang melakukan puja.

Khayali Ram melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba berkeliling memberikan berkat kepada bhaktanya, dan dia dapat sujud menyentuh kaki Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Rajesh dan Shiksha Sharma melihat Brahma, Wisnu, dan Maheswara, serta Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di antara para bhakta, juga melihat Siwa memegang Trisula dan Khamandaal.

Nyonya Sharma menyaksikan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba memberikan berkat kepada para bhakta, dan melihat Ganesha menganugerahi putra Jenderal Taylor - Sandeep, saat melakukan puja.

Pada kunjungan berikutnya, Nyonya Sharma, 17 September 1994, melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sedang menyaksikan tarian Ganesha kecil, kemudian perubahan wujud menjadi Shirdi Baba, menjadi Siwa yang melakukan tari Tandawa. Juga menyaksikan Sai Baba yang menari di atas kepala Seshanaga.

Jotindra dan Preeti Master memperoleh dharsan Ganesha serta Dewi Parwati.

Nyonya Visvalingam ditemani oleh Jenderal Taylor, di dalam gua, ia merasakan kehadiran berbagai dewa dan makhluk surgawi, serta melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. 

Nona Banu dan Tuan James Redmond, produser film Televisi, pada 17 September 1994, Nona Banu yang tidak memiliki pengetahuan tentang agama Hindu, dia adalah seorang Kristen, merasa dipenuhi energi dan kebahagiaan selama perjalanan di dalam gua. Selama puja kpd Siwa sy merasakan banyak energi cinta kasih dan haru. Di dalam gua tsb sy melihat namaku "BANU" tertulis di atas dinding gua lingga Siwa, sesuatu yang di luar kemampuan pemahamannya.

Jennifer Warner dari USA, pada tanggal 17 September 1994. menerima dharsan dan anugerah dari Siwa. Ia merasakan energi yang kuat di dalam gua, terutama saat melakukan puja.

Prof.GK Karanavar. Kunjungannya ke Patal Bhuvaneswara ini diyakini sebagai takdir ilahi, bukan rencana manusia, dan sy telah menyerahkan hati dan pikiran kepada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.
Sy tiba di Patal Bhuvaneshwara th 1994 bersama kelompok bhakta Sai dan disambut oleh seekor macan tutul. Tempat tersebut memancarkan kekuatan dan energi dahsyat yang memberikan kesadaran dan kesadaran spiritual kepada sy. Pengalaman ini telah mengubah hidup sy, menyatukannya dengan pengalaman suci dan membantu sy menutup masa lalu, serta memulai kehidupan spiritual atas bimbingan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Itulah sebagian pesan dan kesan dari ribuan Bhakta yg mengalami berbagai muzizat saat mengunjungi Patal Bhuwaneshwara.


Berkunjung dan melaksanakan puja di Patal Bhuvaneshwara

Seperti dikatakan oleh Wedawyasa dalam Manaskanda pada Skanda Purana, "Barang siapa yang mengunjungi Patal Bhuvanaswara serta melakukan puja kpd Tuhan (Siwa) akan menerima Rakhmatnya, berjuta-juta kali lipat lebih ampuh dari Ramsewaram, Kasi, bahkan Kadarnath, dan beribu-ribu kali lipat lebih mulia dp melakukan "Aswameda Yaga".
Itulah sebabnya mengapa Patal Bhuvanashwara tempat paling suci. Siwa disini sebagai Rakhmat yang dapat menyelamatkan dunia dari cengkraman Kali Yuga. Tuhan sedang menunggu org-org yg memiliki niat utk melakukan puja dg ketulusan hati utk diterima.

Patal Bhuvaneshwara sekarang sudah ditata dengan menggunakan listrik untuk memudahkan pengunjung. Gua ini terdiri dari serangkaian gua yang saling berhubungan. Formasi batu kapur alami seperti stalaktit dan stalagmit menciptakan pemandangan yang spektakuler. Jalan masuknya sempit, hanya bisa dilalui satu orang dalam satu waktu, dan menuruni tangga yang terpasang rantai.***

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, "Ketika Anda bersiap untuk memasak makanan, Anda tentu saja harus mempersiapkan semua bahan yang Anda perlukan: beras, garam, rempah-rempah, sayuran, dll.Tetapi jika tungku masak-mu tidak ada apinya, maka hidangan tersebut tidak akan dapat dibuat.
Engkau mengetahui bahwa api dapat timbul ketika satu batang kayu digosok dengan yang lainnya. Apakah penempatan antara dua batang kayu tersebut yang dapat menghasilkan api? Bukan! Kita hendak menyadari bahwa api sudah laten pada kedua kayu tersebut.
Api tersembunyi yang di batang kayu akan terlihat nyata/jelas oleh Sadhana (proses menggosok batang kayu).
Batang kayu ini melambangkan tubuh manusia. Dalam tubuh manusia, yang inert, api Jnana (kebijaksanaan) ada dalam bentuk yang halus pada semua bagian. Kuasa ilahi meresapi setiap bagian dari tubuhmu.
Demikian juga, semua bentuk ibadah, yoga, kontemplasi, misalnya tidak akan efektif jika pengetahuan tentang realitas dasar dan identitas diri tidak dikembangkan dalam proses tersebut.

Sifat sejati manusia adalah keilahian, namun krn Awidya, dia mengidentifikasi diri dengan badan kasar shg manusia tanpa menyadarinya. Dengan mengembangkan dan menerapkan 5 nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia sejak lahir : Sathya, Dharma, Prema, Santhi dan Ahimsa, lambat laun manusia akan menyadari hakekat dirinya bukan badan, melainkan Atman.***

Patal Bhuvaneshwara, 
Sumber foto Internet


Artikel lainnya...

1. Patal Bhuvaneshwara Dan Raja Rituparna 

Pegunungan Himalaya. Sumber Internet


Patal Bhuvaneshwara

Patal Bhuvaneshwara merupakan tempat bersemayam Siwa di Bumi. Semua makhluk surgawi dari Brahmaloka dan Dewa dari Dewaloka datang ke Patal untuk melayani Siwa di Bumi, didampingi seluruh makhluk penghuni Patal. Karena semua makhluk penghuni loka memuja Siwa dibumi, Ia dikenal dengan Bhuvaneshwara.

Dalam Skanda Purana bagian Manaskanda disebutkan bahwa Raja Rituparna dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara (tempat bersemayam Siwa di Bumi), dan  Adishesa menganugerahkan Raja Rituparna pandangan kedewataan "Divyadristhi" sehingga Ia dpt menyaksikan Siwa sedang dilayani oleh berbagai Dewa - Dewi penghuni sorga di Patal Bhuvaneshwara.

Kisah ini dikutip dari Buku Menyingkap Rahasia Siwa Di Bumi (Patal Bhuvaneshwara) terjemahan Made Aripta Wibawa (2000), dari judul aslinya Buku Bhagawan Sri Sathya Sai and Patal Bhuvaneshwara oleh Prof. G. K. Karanavar.

Kisah Raja Rituparna diceritakan dalam Manaskanda di Skanda Purana. Saat ini, ada 60 Purana diantaranya 18 dianggap sbg Maha Purana yaitu :

  • Brahma, Padma, Wisnu, Vayu, Bhagavata, Narada, Markandeya, Agni, Bhavishya, Brahmavaivarta, Linga, Varaha, Skanda, Vamana, Kurma, Matsya, Garuda, dan Brahmanda


Diantara ke 18 Maha Purana ini Skanda Purana melampaui semua Purana ini, khususnya menyangkut isi. Skanda Purana terdiri dari 100 krore adyaya (ayat), yg digubah oleh Rsi Wyasa sampai 81.000  syair.


Raja Rituparna

Disebutkan bahwa, Raja Rituparna adalah penguasa Ayodhya dari dinasti Surya, keturunan ketujuh dari Raja Bhageeratha. Raja Bhageeratha yg  menurunkan sungai suci Gangga dari sorga menuju Patal (gua), setelah melaksanakan tapas demikian kerasnya.

Raja Rituparna dikenal karena keberanian dan kepintarannya, serta kepeduliannya terhadap rakyatnya.
Suatu hari Raja Rituparna berburu ditemani para menteri, pendeta, tentara, di pegunungan Himalaya. Dia melihat babi hutan kemudian ia mengejar babi hutan tsb, krn jalan sempit tdk memungkinkan naik kereta, Raja akhirnya berjalan kaki terus mengejar babi hutan, babi hutan melarikan diri dg cepat, akhirnya babi hutan menghilang. Raja merasa kesal karena binatang buruannya menghilang. Raja kehilangan jejak di hutan, Raja terpisah dg para pengikutnya, terus berjalan tidak tahu arah dalam hutan dan tiba di Gunung Daru.

Terik matahari yg sangat menyengat, membuat Raja mulai merasakan kelelahan, haus dan lapar. Raja mencari tempat yg teduh ingin beristirahat dan melepas dahaganya, dan tibalah Raja di pintu masuk sebuah gua, dekat "Sanggam" (pertemuan dua buah sungai) dari sungai suci, Sungai Serayu dan Sungai Ramgangga.

Di pintu gua, Raja bertemu dengan seorang penjaga (Dwarapalaka) yang mengaku sebagai pengikut Siwa. Raja menjelaskan ttg dirinya dan sampai di pintu gua. Raja meminta bantuan Dwarapalaka membantunya masuk ke dalam gua. Dwarakapala membantu Raja dan mengatakan bahwa Raja akan melihat suatu pemandangan yg sangat menyenangkan di dalam gua.


Raja Rituparna Dalam Gua

Begitu sampai dalam gua, Raja Rituparna terkejut dg pemandangan yang ada dalam gua. Gua itu disinari oleh cahaya yang berasal dari permata yang jarang dilihat yang ada di kepala ular Adishesa, juga melihat Adishesa memikul bola dunia di atas kepalanya. Adishesa memiliki ribuan kepala dengan cahaya kemilauan dikepalanya. Adishesa sedang beristirahat dikelilingi oleh sejumlah Naga dan ular naga Basuki.

Rituparna sangat kagum dan heran dengan pemandangan yang luar biasa yang belum pernah dia saksikan selama ini. Dengan melihat pemandangan ini rasa capek, haus dan lapar Raja Rituparna menjadi hilang. Sungguh ini merupakan suatu anugerah baginya.

Kehadiran Raja Rituparna di Patal mengejutkan Nagakanyaka dan Naga Basuki, yang kemudian menyeret Raja ke hadapan Adishesa. Namun Raja Rituparna merasa sangat senang ketika didekatkan kepada Adishesa. Raja memberikan penghormatan dan bersujud kepada Adishesa.

Disenangkan oleh bhakti dari Raja Rituparna, Adishesa memperlakukan Raja Rituparna dengan baik, dan meminta keterangan tentang dirinya; mama, dan apa tujuannya masuk ke gua? Raja kemudian menjelaskan tentang dirinya dan tujuan sampai ke gunung Daru, (spt awal cerita...)

Adishesa puas dengan jawaban Rituparna. Adishesa bertanya lagi,  "Siapa yang dipuja manusia di bumi?" "Yg dipuja di bumi adalah Siwa yg dikenal dengan Hara atau Shankara", jawab Rituparna,

Adishesa sangat puas atas jawaban Raja Rituparna. Adishesa bertanya lagi, "Apakah anda tahu tentang gua ini, dan mengetahui bahwa Shankara (Siwa) bersemayam disini?"
Raja Rituparna terkejut setelah mendengar ternyata Shankara (Siwa) bersemayam di gua ini. Raja pun menjawab, "Sy belum pernah mengenal tempat ini, dan sy merasa beruntung telah memperoleh 'darshan' melalui rahmat Tuhan Shankara". Adishesa sangat puas dg jawaban Raja.

Adhishesa kemudian menjelaskan kepada Raja, bahwa, "gua utama tempat Siwa bersemayam disebut 'Shoban', dihuni oleh 33 krore = 33 juta makhluk (Dewa, Daithya, Danawa, Rakshasa, Gandharwa, dan Naga) yang melayani Siwa. Mata manusia yg kasar tdk mampu melihat Shankara (Siwa) dan tempat bersemayamNya, begitu juga tidak dapat melihat banyak gua tersembunyi disini. Ada 3 gua yg sangat rahasia bahkan para Dewa pun tidak bisa memasuki dan melihatnya yaitu : "Smaram, Smeru, dan Sudhama".


Pandangan Kedewataan Raja Rituparna

Adishesa kemudian menganugerahkan pandangan kedewataan "Divyadristhi" kepada Raja Rituparna agar Ia dapat melihat Shankara (Siwa) dan gua-gua tersembunyi.

Setelah mendapat anugerah pandangan kedewataan, Raja Rituparna melihat gua itu sangat luas (namanya Seshawati). Raja melihat berbagai penampakan dewa-dewa seperti : Wisweswara dengan nagamala yang dililitkan dilehernya, Gajah Surgawi Irawatha, pohon Parijatha, Brahaspathi (guru para dewa), Amarawathi; dan berbagai ular raksasa seperti : Naga Basuki, Naga Thaksaka, Naga Karkotaka dll.

Rituparna juga melihat pintu masuk surga yang dijaga Sidha disisi kiri, serta Dewa Ganesha yang memikul "Mahayoni" disisi kanan. 


Adishesa Mengajak Raja Rituparna Keliling Gua

Raja diajak oleh Adishesa ke gua tempat bersemayam Gowinda dan Someswara, dan di dekat gua, Adishesa menunjukkan Dewi Patal Bhuvaneswari. Raja juga melihat Rsi Markandeya sedang melakukan tapa dengan khusuk, dan Rsi Markandeya sedang dilayani oleh sejumlah Widyadhara.

Adishesa menunjukkan 2 jalan lintasan didekatnya : satu menuju Godavari dan yang satunya menuju Sethubhanda. Raja Rituparna mengikuti jalan yang ke Godavari dan tiba di Rameswaram, disana Raja mandi di laut, dan melakukan puja.

Raja juga ditunjukkan gua "Sagaragamani" dan gua Kadaleewanam, Raja terus berkeliling di gua dan mendapatkan dharsan dari Candrasekhara dan Wrindyswara, serta menemukan dua Lingga Siwa.

Raja melanjutkan perjalanan ke "Pancakadera", disana Raja menyaksikan Dewa Brahma sedang melakukan abiseka Linggam Pancakedara dengan air suci yang keluar dari bunga Tunjung. Rahasia kiamat dunia dipercaya tersembunyi di dalam gua ini. Lingga Siwa yang telah terbentuk di sini terus membesar, dan pada saat ujung linggam menyentuh atap gua, saat itu dunia akan kiamat.
Perjalanan Raja Rituparna berlanjut ke Waidyanath, disini Raja mendapatkan Dharsan Ganesa.

Raja Rituparna menuju gua lainnya tiba di kota Wirata, disana Raja mandi di sungai "Sathya" dan memperoleh dharsan Kirathesa. Adhishesa menunjukkan kepada Raja sapi sorgawi "Kamandhanu" yg mengeluarkan air susu dari ambingnya dan jatuh di lingga 'Wrishabhesa'.


Raja Ke Tempat Bersemayam Siwa

Setelah Adishesa mengajak Raja banyak mengunjungi gua-gua, kemudian Raja diajak ke gua tempat bersemayam Shankara (Siwa), lalu Raja melakukan puja di gua itu. Adishesa menunjukkan tempat tinggal para dewa, dan Raja dpt menyaksikan 33 jt dewa yang sibuk melayani Siwa. Di sisi kiri, Raja melihat Chandra dengan ribuan galaksi dan bintang-bintang.

Raja bertanya kepada Adishesa, "mengapa Siwa dikenal sebagai "Bhuvaneshwara", siapa yg memujaNya, dan apa manfaatnya bila seseorang melakukan puja seperti itu?"
Adishesha menjawab,
"Semua makhluk surgawi dari Brahmaloka dan Dewa dari Dewaloka datang ke Patal untuk melayani Tuhan Maheswara, didampingi seluruh makhluk penghuni Patal. Karena semua makhluk penghuni loka memuja Siwa disini, Ia dikenal dengan Bhuvaneshwara. Hari terpenting dan terkeramat adalah hari "Sanipradosh". Selama hari itu Mahendra dan Dewagana melaksanakan puja kepada Siwa. Barang siapa yg memuja Tuhan (Siwa) pada saat itu adalah orang yg paling beruntung sebab semua leluhurnya akan mencapai Sorga, dan akan menjadikan Raja di Raja selama tujuh keturunan".
Raja sangat bahagia mendengar penjelasan Adishesha.

Setelah itu Raja diajak ke gua 'Smaram', gua ini dijaga oleh para naga. Raja menyaksikan Wujud Siwa; dengan lima kepalaNya, tiga mata disetiap kepalaNya, sepuluh tangan dan memakai sebuah kalung tengkorak. Raja melihat Shankara (Siwa) dg Dewi Uma, yang sedang dilayani oleh Brahma.

Setelah itu Raja diajak ke gua yg disebut 'Smeru'. Dalam gua ini Raja menyaksikan Shankara (Siwa) dalam keadaan tidur lelap.

Kemudian Adishesa mengajak Raja Rituparna ke sebuah gua yang disebut 'Sudhama', dlm gua ini Raja menyaksikan  'Maha Lingga' dan 'Maha Yoni'. Dalam gua ini Raja menyaksikan Dewa Brahma, Wisnu, Rudra, Prajapati, para Gandarwa, para Daitya, para Danawa dan segala sesuatu yg belum dikenal di dunia, diciptakan disini. Bahkan ia dapat menyaksikan dirinya sendiri, dan Adishesa dihasilkan di dalam Lingga-Yoni ini.

Raja melihat Lima Wajah Siwa muncul dan tenggelam disini; Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi muncul dan menghilang di dlm Yoni; demikian juga dilihat Brahma dan Dewi Sawitri muncul dari Yoni; Brahma melaksanakan kewajiban menciptakan kemudian menghilang kembali bersama Dewi Sawitri.

Menyaksikan pemandangan penciptaan dan peleburan alam semesta, Raja Rituparna bertanya kepada Adishesa, apa makna yg terkandung dalam pandangan itu Adishesa kemudian menjelaskan, bahwa apa yang disaksikan Raja adalah 'jyothi' atau cahaya suci dari ketiga Dewa (Brahma, Wisnu, Maheswara); yang merupakan inti dari penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta, yang pada hakikatnya adalah 'Siwam', Maha Rsi menyebutnya Brahman. Alam semesta ini dihasilkan dan akhirnya dilebur di dalam jyothi. Dewa sekalipun tidak akan mencapai tempat ini, engkau telah menyaksikan awal penciptaan dan peleburan alam semesta.

Dibingungkan oleh pemandangan yang luar biasa, Raja kehilangan akal pikirannya. Pikirannya jauh menerawang apakah ini hanya mimpi atau bukan?  Setelah Raja menyaksikan bgmn penciptaan dan peleburan alam semesta, Adishesa mengajak Raja ke sebuah gua dan tiba di sungai Gangga, Raja mandi di Sungai Gangga dan melakukan abiseka Ganesha. Selesai mandi Mereka menuju  ke gua yang besar, Raja mendapatkan dharsan Kasi Wiswanatha dan Dewi Gangga.


Wejangan Adishesa kepada Rituparna

Setelah kunjungan ini Adishesa mengajak raja kembali ke Patal Bhuvaneshwara, ke tempat Adhisesa. Raja Rituparna sangat gembiraan dengan pengalaman spiritual yg luar biasa ini.

Raja Rituparna diberikan wejangan oleh Adishesa agar tidak menceritakan rahasia dan informasi tentang Patal Bhuvaneshwara kepada siapapun. Adishesa mengatakan bahwa, rahasia Patal Bhuvaneshwara akan berlanjut sampai kepada "Valkal" (Brahmin) yang akan mengungkap tempat bersemayamnya Tuhan Siwa di Bumi pada zaman kali kepada dunia kelak, dan membawa Rahmat yang bermanfaat kepada umat manusia.

Sebelum Raja meninggalkan gua Adishesa memberikan berbagai macam hadiah dan batu permata yang indah kepada Raja, dan memberi pelayan utk mengawal Raja kembali ke kerajaan, serta memberikan kuda yg dpt menempuh kecepatan secepat keinginan saisnya. Raja merasa sangat berbahagia, dan merasa sangat berhutang Budi kpd Adishesa. Perjalanan dari tempat Adishesa sampai ke pintu keluar gua ditempuh selama 7 hari, selama itu Raja Rituparna duduk di pelana kuda.


Raja Kembali Ke Kerajaannya

Setelah Raja meninggalkan gua, selanjutnya Raja melakukan perjalanan sampai di tepi sungai Serayu. Disini Raja bertemu dg pengiringnya, para pendeta, menteri dan tentaranya yg begitu gembira setelah bertemu dg Raja. Terus mereka melakukan perjalanan pulang ke kerajaan.

Tiba di Kosala (kerajaan), Raja Rituparna sama sekali tdk bergeming, dia menjaga rahasia kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara kpd semua yg ada di kerajaan. Raja menghadiahkan permata- permata yg sangat indah itu kpd putra-putranya namun tidak mengungkapkan asal-usulnya.

Putra-putranya sangat senang dg permata tsb, mereka penasaran thdp permata-permata yg sangat indah itu, kemudian putra-putranya bertanya kpd Raja ttg permata-permata tsb.

Karena terus didesak oleh putra-putranya, Raja Rituparna akhirnya menceritakan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara, dan melanggar janji kepada Adishesa. Akibat pelanggaran janji tersebut, Raja Rituparna meninggal dunia sebelum selesai bercerita, dan rohnya dijemput Siwagana dibawa menuju Siwaloka.

Raja Rituparna disebut sebagai satu-satunya orang yang beruntung dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara (tempat Bersemayamnya Siwa di Bumi) dan melakukan puja disana pada zaman Satya Yuga.
Seseorang yang mendengar kisah Raja Rituparna (Shravanam), dianggap cukup untuk membimbing seseorang menuju Siwaloka (alam dewa Siwa). Dengan mengingat keagungan Patal Bhuvaneshwara dengan mengingat Adishesa dan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara (Smaranam), seseorang akan mencapai mukti (pembebasan) dari segala dosa. 

Apa yg disebutkan dalam Manaskanda di Skanda Purana tentang Siwa bersemayam di bumi (Patal Bhuvaneshwara), skrg sudah terbukti. Pada th 1989, seorg Bhakta Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, bernama Mayor Jenderal Kanti Taylor (seorang Brahmin) sangat beruntung dipilih dan telah dibimbing oleh Bhagawan Sri Sathya Narayana untuk mengungkap Patal Bhuvaneshwara di zaman modern (kali Yuga) ini.  Ini sesuai dengan yang disampaikan Adishesa kepada Raja Rituparna, agar Raja tidak menceritakan  tentang Patal Bhuwaneshwara sampai kepada "Valkal" (Brahmin) yang akan mengungkap pada zaman kali.

Mayor Jenderal Taylor adalah org ke dua yg mengunjungi Patal Bhuvaneshwara pada zaman Kali ini, setelah kunjungan Raja Rituparna pada zaman Satya Yuga seperti disebutkan dalam Manaskanda di Skandapurana.

Bagaimana kisah kunjungan Mayor Jenderal Kanti Taylor ke Patal Bhuwaneshwara th 1989 di zaman kali sekarang?***

Bersambung...

2. Patal Bhuvaneshwara di Zaman Kali

Selasa, 02 Desember 2025

3. Keberangkatan Kebo Iwa Ke Majapahit, Majapahit Menyerang Bali

 

Sumber foto Internet


Kebo Iwa Ke Majapahit
Sebelum Kebo Iwa berangkat ke Majapahit, terlebih dahulu Kebo Iwa sempat sembahyang di pura, diyakini mendapat firasat atau sipta  (wangsit) tentang kemungkinan bahaya kepergiannya ke Jawa. Tempat mendapatkan wangsit itu kemudian diabadikan menjadi Pura Kuru Baya, yang bermakna 'peringatan akan adanya bahaya atau celaka'. Lokasi pura itu disisi barat Pura Gaduh, Gianyar.

Namun karena terikat perintah Raja, meskipun mendapat wangsit atau firasat buruk, Kebo Iwa berangkat juga ke Majapahit. Hal ini juga sebagai wujud kesetiaan dan loyalitas Kebo Iwa kepada Raja.
Keesokan harinya setelah pamitan kepada para menteri semua, Kebo Iwa lalu ke Pura Luhur Uluwatu, melakukan yoga semadi sendiri tanpa ada yang mengiringi. Setelah beberapa lama di parahyangan lalu berjalan menuju pantai Pula Ayam (Bali Tengil) di Benoa, kemudian menaiki parahu layar ke tengah samudra. Saat itu, Kebo Iwa berangkat dengan perahu pemberian Gajah Mada yang ternyata sudah dirancang khusus, yaitu mudah bocor, harapannya di tengah samudra perahu tersebut tenggelam. Benar saja, lalu ada tanda-tanda tidak baik, di tengah samudra hujan ribut dan kilat bersaut-sautan, perahu layar diterjang ombak, perahu bocor sehingga perahu mulai tenggelam. Kebo Iwa yang sakti, saat itu meloncat dan berenang seperti ikan hiu hingga sampai ke pulau Jawa dalam keadaan selamat. Saat melihat kejadian ini, Gajah Mada semakin takut ihwal kehebatan Kebo Iwa.

Sesampainya di pulau Jawa, Gajah Mada mengajak Kebo Iwa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Gajah Mada terus memutar otak, bagaimana cara menyingkirkan Kebo Iwa tanpa angkat senjata dan pertumpahan darah. Sebab, jika harus bertarung melawan Kebo Iwa, Gajah Mada dan rombongannya merasa tak kuat.

Gajah Mada gunakan siasat lagi. Gajah Mada menyampaikan kepada Kebo Iwa, bahwa sesuai dengan tradisi Tanah Jawa, sebelum upacara pernikahan dilaksanakan, mempelai laki-laki harus memberikan emas kawin kepada mempelai wanita, sesuai apa yang diminta oleh mempelai wanita. Mempelai wanita, kata Patih Gajah Mada, ingin juga diberikan emas kawin, sebuah sumur yang kelak dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Majapahit.

Ketika Patih Kebo Iwa tiba di Majapahit, para tentara Majapahit menjadi terperangah, takjub, bercampur rasa ngeri dan waspada. Tentara Majapahit, menunjukkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka berharap ke satu tujuan yang sama. Beberapa di antara mereka tampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya;  "Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa! Mengerikan!".

Memang, ketika tiba di Majapahit, Kebo Iwa dipertemukan dengan sang putri cantik. Sang putri pun memberikan syarat agar Kebo Iwa membuatkan dirinya sebuah sumur. Tanpa curiga, Kebo Iwa yang jujur ​​​​menyanggupi persyaratan tersebut. Maka dimulailah dengan cekatan Kebo Iwa menggali sumur. Namun, ketika sumur dirasa cukup dalam, tiba-tiba Gajah Mada memerintahkan pasukannya untuk menimbun Kebo Iwa yang ketika itu masih berada di dasar sumur dengan batu dan tanah hingga kedalaman Kebo Iwa.
Tapi lagi-lagi berkat kesaktiannya, Kebo Iwa tidak mati. Dia melempar batu-batu itu keatas bagaikan hujan batu menimpa prajurit-prajurit Majapahit sampai banyak yang meninggal kena melempar batu, dan lainnya lari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing. Saat itulah, Kebo Iwa menyadari niat busuk Gajah Mada. Kebo Iwa mampu keluar dari dasar sumur dengan keadaan segar bugar. Sumur yang diperkirakan digali oleh Kebo Iwa itu terletak di desa Trowulon,  Mojokerto, Jawa Timur. Masa kini di tempat gali sumur itu sudah dibangun tempat suci bernama Candi Kedaton.

Kebo Iwa sangat marah dengan kelicikan Gajah Mada dan langsung mencari Patih Gajah Mada hingga ke Gunung Wilis. Disini terjadi pertempuran yang sangat dahsyat, seru dan berimbang antara Kebo Iwa dengan Gajah Mada berlangsung lama sekali tanpa ada yang menang dan kalah. Dalam pertarungan itu, Kebo Iwa sempat menanyakan alasan seorang patih dari kerajaan besar yang berlaku licik ( pengindra jala ) dan tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku sebagai seorang ksatria.
Patih Gajah Mada menjawab, “Kewajiban seorang ksatria untuk memperluas wilayah kerajaannya, serta mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Majapahit. Karena Patih Kebo Iwa merupakan batu sandungan, jadi wajib untuk disingkirkan,” kata Gajah Mada.

Berhubung rasa malu untuk kembali ke Bali, maka Kebo Iwa menjawab, "Kewajibanmu mempersatukan nusantara di bawah Majapahit tidak akan saya halangi dan saya akan memberikan rahasia kematian saya,” kata Kebo Iwa.

Diam-diam Kebo Iwa mendukung rencana Gajah Mada yang akan mempersatukan nusantara. Oleh karena itu, Kebo Iwa menceritakan kelemahannya kepada Gajah Mada. Namun Kebo Iwa juga sempat bersumpah.
Kematian saya terjadi jika saya dikubur dengan bubuk kapur.Tetapi karena Anda secara licik telah menipu saya (pengindra jala), maka kelak Negeri Nusantara bentukkan Anda akan diperintah dan dijajah oleh orang-orang yang berkulit putih, berhidung mancung, berambut pirang. Roh saya akan menyatu dengan orang-orang kulit putih tersebut hingga saya merasa puas,” kata Kebo Iwa. 

Gajah Mada yang sudah mengetahui kelemahan Kebo Iwa, langsung memerintahkan pasukan Majapahit menyiapkan bubuk kapur guna mengubur Kebo Iwa agar bisa mati.
Kebo Iwa yang sudah mulai sesak nafas setelah ditaburi bubuk kapur berkata,
"Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya biarlah Nusantara yang kuat bersatu, hasil yang pantas atas harga nyawa hidupku".
Gajah Mada menjawab,
“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah. Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.

Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut, napas terakhirpun pergilah sudah, meninggalkan raga seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali dan pertiwi pun meredup melepas kepergian salah satu putra Bali terbaiknya.

Di tempat ini sekarang ditandai dengan batu hitam setinggi 5 meter, situs batu itu disebut "Mahiso Truno Bali" (Kebo Taruna Bali), tepatnya di Gunung Wilis, Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojokerto, Kediri, Jawa Timur. 

Foto : batu hitam tinggi 5 meter, 
di Gunung Wilis, Dusun Besuki, Desa Jugo,
Kecamatan Mojokerto, Kediri,


Versi Babad Bara Batu, prasasti Pura Dalem Maya, Blahbatuh Gianyar, menyebutkan bahwa, Kebo Iwa meninggal di tempat beliau menggali sumur. Cuplikannya, sbb :

Bahwa Kebo Iwa menggali sumur sampai dalam, kemudian sumur tersebut ditimbuni batu, namun batu di hempaskan kembali dari dalam sumur keatas bagaikan hujan batu. Kebo Iwa berhasil naik keatas sumur dan berkata, 

"Hai kamu prajurit semua, kalau kamu mengharapkan aku mati, aku tidak mati oleh batu, juga segala senjata buatan manusia, malu aku kembali ke Bali. Dengarkanlah ucapanku, kalau kalian ingin membunuhku, timbun aku dengan bubuk kapur di dalam sumur beserta canang wangi seperti : bunga, daun, air, buah, dupa. Jika aku mati atas mengizinkan kamu semua, semoga di kemudian hari bumi ini akan dimasuki kebo putih, saat itu semua akan kesusahan,"

Akhirnya Kebo Iwa meninggal di dalam sumur.
(Belakangan, berdasarkan petunjuk 'niskala' didapat petunjuk bahwa Kebo Iwa wafat di Gunung Wilis, Dusun Besuki, Desa Judo).

Kebo Iwa tokoh ksatria Bali sejati, Beliau sangat jujur, berintegritas, sangat sakti, sebenarnya bisa saja Kebo Iwa melawan sendirian semua pasukan Majapahit yang licik menipu (pengindra jala) Kebo Iwa. Namun Beliau rela mati demi memenuhi kepentingan yang lebih besar menyatukan (menguasai) Nusantara dibawah panji-panji Majapahit, meskipun banyak korban di Bali paska gugurnya Kebo Iwa di Majapahit.
Kepergian Kebo Iwa untuk selamanya seakan-akan Pertiwi di Majapahit ikut berduka, keadaan hening, penuh keterharuan, banyak juga yang bersedih karena Kebo Iwa rela mengorbankan dirinya demi Sumpah Palapa Majapahit menyatukan Nusantara, (Amor Ing Acintya).

Sekarang, di setiap pertandingan ada bahasa simbul, bahasa isyarat, yaitu 'melempar handuk putih atau mengangkat bendera putih pertanda menyerah'. Sudut pandang ini mungkin mengambil kisah dari kematian Kebo Iwa yang menyerah ditabur dengan kapur putih, (melempar handuk putih) pertanda menyerah.


Gambar hanya Ilustrasi, sumber internet
Patih Kebo Iwa dan Patih Gajah Mada.

Majapahit Menyerang Bali
Pada th 1343 M, setelah kematian Kebo Iwa, maka dimulailah penaklukan Kerajaan Bali Aga oleh Majapahit dipimping Patih Gajah Mada, dibantu para Arya dan prajurit.  Gajah Mada, Mpu Witadarma, Krian Pemacekan, Ki Gajah Para, Krian Getas mendarat di Tianyar, Bali Timur. Arya Damar, Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Arya Kenceng, Arya Belog (Tan Wikan), Arya Pengalasan, Arya Kanuruhan mendarat di Bali Selatan, dan lainnya untuk memerangi Kerajaan Bali.

Dalam invasi tersebut, Raja Bali tewas dalam pertempuran melawan pasukan Gajah Mada. Begitu pula Putra Mahkota Sri Madatama yang masih kecil dibunuh di tangan pasukan Gajah Mada sehingga tidak ada pewaris takhta kerajaan Bali.
Akan tetapi, perlawanan rakyat Bali susah dihentikan karena Raja Ratna Bumi Banten sangat dicintai oleh rakyatnya, semua rakyat Bali yang laki-laki remaja bangkit mendaftar menjadi tentara untuk melawan Majapahit. Jiwa korsa pemuda-pemuda Bali luar biasa, bagaikan ksatria-ksatria sejati demi membela Bali.

Untuk mengakhiri perlawanan rakyat Bali, Gajah Mada kembali bersiasat. Majapahit juga meminta berunding dengan Ki Pasung Grigis sebagai pemimpin. Dalam perundingan tersebutlah Ki Pasung Grigis ditangkap dan dijadikan sandera kemudian dibawa ke Majapahit. Dengan itu, pupus sudah melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Bali.

Gajah Mada menunjuk beberapa orang Arya, kepala pasukan Majapahit, untuk menetap dan berkuasa di beberapa wilayah di Bali, yaitu :

  • Arya Kutawaringin di Gelgel,
  • Arya Kenceng di Tabanan,
  • Arya Belog di Kaba-Kaba,
  • Arya Dalancang di Kapal,
  • Arya Sentong di Carangsari,
  • Arya Kanuruhan Singa Sardula di Tangkas, dan lainnya.

Dalam masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bhadahulu ke kerajaan Majapahit, mulai tahun 1343 masih terjadi pemberontakan. Selama masa transisi, pemberontakan terjadi 30 kali di tanah Bali. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan, maka diangkatlah Kyai Agung Pasek Gelgel orang dari Majapahit.

Dalam Babad Bali, setelah Majapahit berhasil menghentikan pemberontakan suku Bali Aga yang dipimpin oleh Ki Tokawa, Ki Pasung Giri dan Ki Tunjung Tutur (1345 M), serta pemberontakan Ida Dalem Makambika (1347 M) semua masih keturunan bangsawan Badhahulu, maka pada tahun 1352 Masehi baru ditetapkan Sri Aji Kresna Kepakisan, seorang keturunan Brahmana dari Jawa, menjadi Raja di Bali (1352-1380 M), serta pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Keturunan dinasti Kepakisan inilah di kemudian hari yang menjadi raja-raja kecil di beberapa kerajaan di Pulau Bali.

Pada tahun 1686 M, pasca raja terakhir Dinasti Gelgel - Dalem Di Made wafat, pusat kerajaan dipindahkan ke Klungkung. Pada periode pusat kerajaan di Klungkung inilah, kekuasaan di Bali terpecah menjadi sembilan swapraja atau kerajaan kecil.

Dengan berhasil mengalahkan kerajaan Bali, maka Majapahit berhasil menyatukan (menguasai) Nusantara. Namun sumpah serapah Kebo Iwa terwujud ketika Nusantara kemudian dijajah Belanda selama 3,5 abad. Sumpah serapah Kebo Iwa yang hatinya lurus dan jujur ​​​​sudah terbukti (... kelak Nusantara akan dijajah oleh orang yang berkulit putih, berhidung mancung, berambut pirang. ..).

Perlawanan kerajaan Badhahulu terhadap Majapahit oleh legenda masyarakat Bali dianggap melambangkan perlawanan penduduk Bali asli (Bali Aga) terhadap serangan orang Jawa (Majapahit).

Setelah raja Bali ditaklukkan oleh Majapahit, maka secara bertahap terjadi perubahan dalam tatanan sosial dan budaya di Bali. Apa yang diberlakukan di Majapahit, diberlakukan juga di Bali. Terjadi 2 terapan religi yang dianut oleh masyarakat Bali mulai saat itu, yaitu ada yang mengikuti religi Bali kuno dan ada yang mengikuti religi sejarah Majapahit, bahkan adar masyarakat yang melakukan kedua-duanya. Jika setiap Kamis Wage Sungsang (Sugian Jawa), rakyat Majapahit lah yang menyelenggarakan Yadnya. Jika setiap Jumat Kliwon Sungsang (Sugian Bali), rakyat Bali asli yg menyelenggarakan Yadnya.
Juga ada tonggak piodalan yg satu mengikuti sasih (bulan), dan satu yang mengikuti wuku.
Acara pemelastian yg satu mengikuti sasih ke Sanga (bulan ke-9), dan satu lagi mengikuti sasih kedasa (bulan ke-10).
Juga dalam acara Rsi Yadnya Pediksan dlm pengesahan seorang pendeta, yg satu mengikuti Napak Wakil Bhatara Kawitan, dan yang satu lagi mengikuti Napak Kaki Guru Nabe, dllnya .

Warga Bali Mula yang diperlukan wibawanya utk menjaga stabilitas yang baru disebut Arya. Misalnya : Sri Giri Ularan putra Si Rigis yg menjadi Patih raja Batur Enggong menjadi Arya Ularan (Gusti Ularan), Sri Pasung Giri menjadi Arya Pasung Giri, Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang Buncing, Gusti Karang Buncing; Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru.

Terjadinya perubahan adat dan budaya antara masyarakat Bali Aga dan Bali yang dipengaruhi budaya Majapahit, yang menjadi latar belakang perubahan besar dalam tatanan sosial dan budaya di Bali. Terjadilah akulturasi antara budaya Majapahit dengan budaya Bali, rupanya hal ini ikut memberikan corak Agama Hindu seperti yg kita warisi sekarang.***

Diolah dari berbagai sumber.

Keris Pusaka Kebo Iwa.

Baca artikel lainnya :





Jangan Melupakan Ajaran Leluhur

  Prof. DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI. Agama Hindu adalah Wahyu Tuhan. Sbg penganut Hindu yg baik, jangan sekali-kali mel...