Rabu, 03 Juni 2026

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH
Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi, 
2 Juni 2026


Pendahuluan

Piodalan di Merajan Dadia adalah peringatan wewalen  atau hari jadi tempat suci keluarga. Ini bukan sekedar upacara, tapi momentum maprayascita  - menyucikan pura, memohon kerahayuan, sekaligus meneguhkan pasemetonan  karena leluhur yang sama.

Konsep memuja Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan sesuai yang tercantum dalam Taittriya Upanisad 1.11.2, menyebutkan :
“Mātṛ devo bhava, pitṛ devo bhava, ācārya devo bhava, atithi devo bhava”.
Maknanya : 
Jadikan Ibu, Bapak, Guru, dan Tamu sebagai wujud Tuhan. Hormati mereka saat hidup, apalagi setelah manunggal  jadi Bhatara Kawitan. Berkat beliaulah kita ada di dunia ini.

Piodalan ada yang berpatokan dengan Pawukon yaitu setiap 210 hari = 30 wuku x 7 = 210 hari. Ada juga yg memakai Sasih yaitu 1 th sekali (sasih ada 12).
Piodalan Merajan Dadia Warga Sri Karang Buncing Br Tengah memakai Pawukon, setiap 210 hari sekali, yg jatuh pada setiap Anggara Kasih (Selasa) Kliwon, Wuku Julungwangi.


Kerja Bhakti - Ngayah Seva

Minggu, 1 Juni 2026, warga besar Sri Karang Buncing Banjar Tengah ngayah di merajan. Tidak ada yang absen, tidak ada yang mendaftar hadir. Yang ada hanya rasa 'tahu diri',  ingin ngayah, sebagai wujud Bhakti kepada Ida Hyang Widhi dan Leluhur yg telah memberikan rakmat-Nya kepada kami selama ini.

Semeton, misan mindon, ponakan, cucu, semua larut dlm semangat melayani - Kerja Bhakti. Tua muda bahu-membahu: masang umbul-umbul, tedung , penjor, tenda, nyapu, dsb. Pekerjaan berat terasa ringan karena  paras-paros sarpanaya, selunglung sebayantaka  sudah diwujudnyatakan, bukan sekedar ucapan.

Di sini tidak ada yang dilayani, semua ingin dilayani. Benar-benar Vasudhaiva Kuṭumbakam, - " Kita sesungguhnya Bersaudara".

Seperti dalam Mahā Upaniṣad  VI.71 disebutkan : 

“Ayam bandhur ayam neti gaṇanā laghu-cetasām, udāra-caritānāṁ tu vasudhaiva kuṭumbakam”.

Artinya:

"Ini saudaraku, itu bukan" adalah hitungan orang berjiwa sempit.
Bagi yg berjiwa luhur, seluruh dunia adalah satu keluarga".

Jumlah KK Dadia SKB Banjar Tengah : 74 KK. Banyak warga merantau mencari dharma artha. Momen odalan inilah Dharma santi  - ajang kumpul, pasikian,  memulaikan doa ke Leluhur mohon perlindungan




Mencaru & Pakemitan

Tanggal 1 Juni 2026, Banten tiba pukul 10.00 langsung pecaruan pukul 12.00, malamnya ngolemin/pakemitan.
Acara pakemitan ini biasanya diisi dengan pesantian oleh warga sendiri, karena banyak warga yang bisa mekidung Dewa Yadnya. Yang tidak bisa mekidung , mendengarkan dengan khidmat. Ada yang sekedar ngobrol-ngobrol " Satsang " ringan dengan lainnya, karena jarang bertemu. Pakemitan biasanya lebih banyak melibatkan saudara, ponakan yang muda, karena anak muda banyak, dan kesehatannya sangat memungkinkan. Mereka adalah orang-orang yang berintegritas tinggi, pekerja keras, penuh inovasi.


Piodalan Penuh Berkah
" Persembahan Dengan Tulus"

Ketulusan adalah inti dari sebuah pertunjukan. Bagi manusia, kita sering menerima hadiah apa pun demi menyenangkan pemberinya, tapi respon paling tulus muncul ketika hadiah itu memang menyentuh hati dan menyenangkan penerimanya.

Demikian pula Tuhan dan Leluhur menerima persembahan umat-Nya. Jika persembahan itu tercemar oleh pamrih, Tuhan - Leluhur tetap bertahan sebagai bentuk kasih agar hamba-Nya tidak patah semangat. Namun bila dipersembahkan dengan citta suddhi -   hati suci, tulus; Tuhan dan leluhur menerimanya dengan suka cita dan membalasnya dengan rahmat yang berlimpah.

Dalam Bhagavad Gītā IX.26 disebutkan : 
“Patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ yo me bhaktyā prayacchati, tadahaṁ bhaktyupahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ”.

Artinya:

Sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, setetes air yg dipersembahkan dengan bhakti, itu Kuterima dari jiwa yang suci.

Piodalan Merajan Dadia Warga Sri Karang Buncing pada tanggal 2 Juni 2026, Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi, baru saja selesai dilaksanakan dengan sangat khidmat.

Warga banyak yang datang membawakan persembahan berupa 'prani'. Mereka mengajak anak dan cucunya. Areal Merajan sangat sesak karena banyak yang hadir. Ukuran tempat sembahyang Merajan sekitar 30x50 m, penuh sesak. Namun persembahyangan bisa dilaksanakan 1 periode (sebelumnya pernah 2 periode).

Suara speaker dengan alunan musik gong Bali, kidung, genta Jro Mangku, ditambah aroma wangi dupa, seakan Merajan Dadia Karang Buncing Banjar Tengah bagaikan Sorga. Ida Hyang Widhi, Leluhur semua hadir, karena Beliau Maha Kasih, namun kami tidak dapat melihat, kami dapat merasakan vibrasi kehadiran Beliau. Seluruh 'Bhakta' atau pencari Tuhan merasakan kebahagiaan.

Pemandu acara memberikan aba-aba sembah tanpa sarana, sembah dengan sarana bunga, dengan sarana kwangen atau kewangian, dan lain-lain. Banyak Bhakta namun tidak riuh, karena semua pikiran tertuju kepada Hyang Widhi. Terakhir ngelungsur 'Prasadham' berupa Tirta dan Bija. Bija ini melambangkan kemakmuran, berkah dari Ida Hyang Widhi kepada umat-Nya.

Dulu banyak umat menempatkan bija belum seragam, baik di pura umum maupun pura keluarga. Ada yang menempelkan bija di kiri-kanan dahi dan jidat, bahkan ada juga di atas kepala atau ubun-ubun. Sebagian bija dimakan. Namun sekarang di warga Sri Karang Buncing menempatkan bija hanya satu titik antara kedua alis, yaitu pada Cakra Ajna saja, simbol agar pikiran selalu tertuju kepada Tuhan. Hal ini sama juga ketika bermeditasi maka pikiran dipusatkan di antara kedua alis. Memakai Bija tidak perlu banyak, yang penting ada saja sebagai ciri sudah habis sembahyang dan sudah menerima berkah dari Ida Hyang Widhi. Semua keluarga saling menawarkan dan memberi Prasadham kepada warga lainnya: berbagai buah dan jajan isi prani masing-masing.

Acara sudah berakhir, namun banyak warga yang masih ngobrol-ngobrol ringan melepas rindu masing-masing karena momen seperti ini berlangsung tiap 210 hari sekali, jadi jarang bertemu. Semoga kekompakan yang terjalin erat ini dapat terus dipertahankan, dan diteruskan oleh anak cucu. Swaha.🙏


Sekilas tambahan

Sekilas tentang Trah Karang Buncing. Nama Śrī Karang Buncing muncul dua kali. Raja Śrī Jaya Katong (Saka 1218-1226 ) mempunyai putra : Sri Rigis dan Sri Karang Buncing. Śrī Karang Buncing mempunyai putra Sri Kebo Iwa, dan adik kandung Sri Kebo Iwa lahir " buncing " (laki-perempuan), diberi nama Sri Karang Buncing juga (utk memudahkan kita menyebut saja II). Kakak-adik, laki-perempuan ini dinikahkan yang kemudian melahirkan Warga Sri Karang Buncing yang ada sekarang di Bali dan di Luar Bali. Śrī Kebo Iwa hidup Brahmacari sampai akhir hayat.

Skema silsilah Sri Karang Buncing Buncing, Śrī Kebo Iwa misan mindon dengan Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa (KI, hal. 16). Śrī Kebo Iwa tapeng dada  kerajaan Batahanyar yang mewilayahi Blahbatuh, yang paling dekat dengan pusat pemerintahan dibantu oleh para Senopati Bali lainnya.

Nama Śrī Karang Buncing dijadikan momentum untuk mengenang para leluhur (kawitan) oleh para warga dan dipertegas kembali dalam AD/ART Pasemetonan Sri Karang Buncing, pasal 21, pada Mahasabha tgl 2 Pebruari 2004 di Nusa Mandala Tohpati Denpasar (KI, hal. 26).

Demikian yg bisa sy sampaikan dlm coretan ini, smg Kama Bhakti  semeton mendapatkan berkah berupa kerahayuan dan kesehatan, murah rejeki, sehat walafiat. Kirang langkung nunas ampura.
Om Santi Santi Santi Om. 🙏


"Kehidupan tidak akan menjadi mudah bagi orang yang tidak pernah berbuat kebajikan. Sesuai dengan hukum Karma Phala, setiap perbuatan pasti akan menghasilkan akibat. Jika tidak menanam kebaikan, janganlah berharap memanen kemudahan. Hidup tanpa kebajikan sama dengan hidup tanpa bekal untuk menghadapi kesulitan".

Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

------------

Senin, 01 Juni 2026

Lakukan Kewajibanmu dengan Tulus: Ajaran Bhagavad Gita tentang Kerja Ikhlas dan Bakti Sejati

 


Deskripsi Meta  :

Uraian lengkap ajaran “Lakukan Kewajibanmu dengan Tulus” dan makna Mat-karma-kṛt, Mat-paramaḥ, Mad-bhaktaḥ  dari Bhagavad Gita 18.65 untuk ketenangan batin.


Pengantar

Di tengah kesibukan dan tuntutan hidup, sering kali hati gelisah karena titik pada hasil. Padahal ajaran para Maharsi dan Bhagawan telah memberi jalan yang sangat sederhana : kerja tulus dan serahkan hasil kepada Tuhan. 

Artikel ini merangkum 2 hal penting : 
1) “Lakukan Kewajibanmu dengan Tulus” dan 
2) Tiga Kunci Bakti dari Bhagavad Gita 18.65 : Mat-karma-kṛt, Mat-paramaḥ, Mad-bhaktaḥ . Semoga menjadi pengingat harian untuk mencapai ketenangan batin.


1. Lakukan Kewajibanmu dengan Tulus

a. Terimalah Segala Peristiwa sebagai Anugerah Tuhan
Hidup setiap makhluk adalah rangkaian penerimaan dan penolakan, kebahagiaan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian. Terimalah segala peristiwa yang terjadi sebagai karunia Tuhan, tanpa menolak maupun melekat secara berlebihan.

b. Laksanakan Kewajiban dengan Kemampuan dan Ketulusan Terbaik
Kerjakan tugas sesuai kapasitas dan pengabdian terbaik yang dimiliki. Laksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan, seolah-olah sedang memuja Tuhan. Niatkan setiap tindakan sebagai persembahan, bukan untuk kepentingan pribadi atau pujian.

c. Serahkan Hasil kepada Tuhan
Setelah berusaha sebaik mungkin, lepaskan keterikatan pada hasil. Mengapa menganggap diri Anda bertanggung jawab atas hasil? Tuhanlah yang menggerakkan, Tuhanlah yang bekerja melalui diri, dan Tuhan pula yang menentukan hasil sesuai kehendak-Nya.

d. Pahami Makna Kesedihan dan Kebahagiaan
Ibarat emas tidak disimpan di kotak emas, melainkan di tempat kuat seperti baja, demikian pula kebahagiaan sejati tersembunyi di balik kesedihan. 

Oleh karena itu, jangan hanya memohon kebahagiaan kepada Tuhan. Mohon ketabahan agar dapat menyadari bahwa kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya diperlukan untuk mematangkan jiwa.

Kesimpulan Bagian 1 :
Bekerja dengan tulus dan ikhlas menerima hasil adalah jalan menuju ketenangan batin.


2. Tiga Kunci Bakti: Bhagavad Gita 18.65

Bhagawan Sri Krishna bersabda :
“Man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī māṁ namaskuru mām evaiṣyasi satyaṁ te pratijāne priyo 'si me”

Tiga kata kuncinya adalah :

1. Mat-karma-kṛt: Bekerjalah untuk-Ku
Artinya : Jadikan setiap pekerjaan sebagai persembahan kepada Tuhan. Lepaskan pamrih untuk dipuji atau mengejar keuntungan pribadi. Dengan sikap seperti ini, segala pekerjaan berubah menjadi yoga, yaitu penyatuan dengan Tuhan.

2. Mat-paramaḥ: Jadikan Aku Tujuan Tertinggi 
Artinya : menempatkan Tuhan sebagai tujuan utama hidup. Cita-cita duniawi boleh dimiliki, tetapi semuanya diarahkan agar semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan begitu, hidup tidak kehilangan arah.

3. Mad-bhaktaḥ: Jadilah Penyembah-Ku
Artinya : Peliharalah ingatan kepada Tuhan setiap saat. Bakti tidak terbatas pada sembahyang di pura atau tempat ibadah saja, tetapi juga berupa mengingat dan berserah diri dalam setiap aktivitas sehari-hari.

Janji Tuhan : "mām evaiṣyasi"  – Siapa pun yang melakukan demikian, pasti akan sampai kepada-Ku.

Penutup 
Intisari kedua ajaran ini satu : Tangan bekerja untuk Tuhan, hati menjadikan Tuhan tujuan, pikiran memelihara bakti kepada Tuhan.

Kerja tulus + ikhlas menerima hasil = ketenangan batin. 

Semoga renungan ini bermanfaat. Rahayu 🙏


Sumber  
Parafrase wejangan Bhagawan Sathya Sai Baba 
( Ceramah Ilahi, 27 Mar 1971)  dan Bhagavad Gita 18.65.

Artikel lainnya: 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Hati Yang Murni, Hidup Yang Sederhana: Ajaran Sri Sathya Sai Baba Untuk Jaman Kali Yuga

Refleksi Ajaran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba untuk Bhakta-Nya



Ilustrasi Teratai / bunga Tunjung *) 
Kemurnian hati ajaran Sri Sathya Sai Baba
Sumber: Sahabat.

Disusun bersama sahabat | Berdasarkan ajaran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba


Pengantar

Ajaran Baba selalu mengajak kita kembali ke dalam. Bukan menambah atau mengubah ritual, bukan menambah perdebatan. Tujuan satu: memurnikan hati agar Tuhan dapat bersemayam di dalamnya. Moksa adalah tujuan tertinggi.

1. Kemurnian Hati Lebih Utama dari Segalanya

Pengetahuan spiritual memurnikan pikiran. Makanan satwik  menjaga pikiran tetap jernih. Tetapi semua itu hanyalah alat.

Tujuan akhirnya adalah kemurnian hati  atau Hridaya.

Pikiran berubah-ubah seperti layar monitor. Hati yang murni adalah sumber listriknya. Jika hati bersih dari iri, marah, dan serakah, maka pikiran dan tindakan akan otomatis menjadi baik. Masyarakat pada akhirnya lebih menghargai orang yang tulus hatinya daripada orang yang banyak pencapaiannya.

"Jaga hatimu. Jika hati berada pada Tuhan, pikiran tidak akan liar terlalu lama."  – Bhagawan Sri Sathya Sai Baba

2. Panca Pilar Manusia Sudah Ada dalam Diri

Dengan melantunkan nama suci Tuhan secara konsisten, lapisan sifat buruk akan luntur dengan sendirinya.

Yang muncul kemudian adalah lima nilai-nilai kemanusiaan atau Panca Pilar yang memang sudah ada sejak lahir :

  1. Sathya -  Kebenaran dalam pikiran, ucapan, dan tindakan
  2. Dharma - Berperilaku benar tanpa pamrih
  3. Prema  - Kasih tanpa syarat kepada semua makhluk
  4. Shanti  - Kedamaian batin yang tidak tergoyahkan
  5. Ahimsa  - Tanpa kekerasan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan

Ini bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Ia muncul sendiri ketika hati mulai bersih.

3. Hidup Sesuai Kebutuhan, Bukan Keinginan

Baba mengajarkan: " Lebih sedikit barang bawaan, lebih banyak kenyamanan.".  Semakin sedikit beban keinginan dan gengsi, semakin ringan perjalanan hidup.

Kepuasan adalah kekayaan terbesar. Orang yang merasa cukup adalah orang yang paling kaya.

Mempunyai mobil mewah, perhiasan, dan benda duniawi lainnya tidaklah salah. Gunakan jika perlu. Tapi jangan sampai hati terikat padanya. Karena semua itu tidak kekal, dan tidak ada artinya jika Tuhan sudah dirasakan di dalam hati.

Seperti kisah jubah Baba yang ditambal: lebih baik memperbaiki yang masih berguna daripada membuangnya hanya demi terlihat baru.


Kisah Jubah Baba yang Ditambal

Suatu hari seorang Bhakta Sai Baba dari luar negeri melihat Baba sedang duduk di beranda Prasanthi Nilayam. Dia kaget karena melihat jubah putih Baba ada tambalan kecil di bagian lengan.

Dia lalu dia bertanya dengan hati-hati, “Swami, kenapa jubah itu ditambal? Bukankah banyak bhakta yang ingin mempersembahkan jubah baru untuk Swami?”

Baba tersenyum dan menjawab pelan, 
"Anakku, kalau ada lubang kecil, lebih baik ditambal daripada dibuang. Ini masih bisa dipakai. Mengapa membuang sesuatu yang masih berguna hanya karena ingin terlihat baru? Boros itu juga berdampak terhadap sumber daya dunia."

Baba lalu melanjutkan, "Tuhan tinggal di hati yang sederhana. Rumah mewah, mobil mahal, pakaian baru tidak akan membawa kamu lebih dekat kepada-Ku. Yang membawa dekat adalah hati yang bersih dan kasih.”

Sampai akhir hayat, kamar Baba di Prasanthi Nilayam juga sangat sederhana. Kasur tipis, meja kecil, dan beberapa barang pribadi. Beliau hidup seperti yang beliau ajarkan: hidup sederhana, berpikir tinggi - Hidup sederhana, berpikir tinggi.

Makanya waktu bhakta datang dengan mobil mewah atau perhiasan, Baba sering bercanda, “Bawalah semua itu, tapi jangan biarkan itu masuk ke hatimu."

Kisah kecil seperti ini yang membuat ajaran beliau terasa hidup. Bukan sekedar teori, tapi beliau sendiri yang menjalankan, mempraktekkan.


4. Menyikapi Perbedaan dan Hujatan

Dalam perjalanan spiritual, kita pasti bertemu orang atau kelompok yang tidak sejalan. Di Bali, misalnya, ada yang menolak Baba karena dipandang sebagai gerakan “transnasional”.

4.1. Mengapa Ini Terjadi

Mereka memiliki fokus pada pelestarian adat dan ajaran Hindu Bali yang murni, tanpa pengaruh dari luar. Dari sudut pandang mereka, ini adalah upaya menjaga identitas.

Dari sudut pandang bhakta Sai Baba, ini adalah upaya menjaga esensi: nama suci, kasih, dan pelayanan, yang memang terdapat dalam Weda dan Bhagavad Gita.

Keduanya memiliki niat yang sama, yaitu menjaga dharma. Hanya caranya yang berbeda. Yang satu menjaga bentuk menyatu dengan adat budaya, yang lain menjaga isi, bukan anti adat.

4. 2. Apa yang Diajarkan Baba Mengenai Hal Ini

Baba sendiri tidak pernah  mengajak orang untuk mengganti agama atau meninggalkan  adat. Beliau bersabda:

Hanya ada satu agama, yaitu agama Kasih. Hanya ada satu kasta, yaitu kasta Kemanusiaan. Hanya ada satu Tuhan, Dia Maha Hadir.

Beliau meminta orang Hindu agar menjadi Hindu yang lebih baik, orang Kristen menjadi Kristen yang lebih baik, orang Islam menjadi Islam yang lebih baik. Kirtan dan nama smarana bukanlah hal yang baru. Dalam Weda disebut Nama Sankirtan, dalam Bhagavatam disebut sebagai cara termudah di Kali Yuga. Jadi bukan sesuatu yang asing, melainkan pengingat kembali.

Jika ada yang menghujat tanpa mau mencari tahu, Baba berpesan cukup diam dan berdoa untuk mereka. Energi untuk membalas dendam lebih baik digunakan untuk japa dan pelayanan.

4. 3. Cara Menyikapinya Agar Hati Tetap Tenang

  1. Bedakan orang dan perbuatannya. Mungkin mereka menolak karena belum mengetahui, bukan karena benci. Banyak yang berubah setelah melihat langsung karya sosial seperti rumah sakit gratis dan penyediaan air bersih yang dibuat Sai Baba, dan Seva, -  pelayanan sosial seperti donor darah, perbaikan rumah penduduk, penanaman pohon yang dilakukan bhakta Sai Baba di seluruh dunia. Baba selalu tekanan, Love All Serve All , - Sayangi semua layani semua.
  2. Jangan berdebat untuk menang. Jika menjelaskan, sampaikan dari pengalaman pribadi: “Saya merasa lebih dekat kepada Tuhan, lebih sabar, dan lebih welas asih sejak mengenal ajaran ini.” Pengalaman pribadi yang sulit untuk dibantah.
  3. Ingat tujuan tertinggi: Moksa. Hujatan maupun pujian tidak akan dibawa mati. Yang akan dibawa mati hanyalah kondisi hati kita saat mendengarkan. Jika hati menjadi panas, maka kita sendirilah yang rugi.
  4. Jaga kerukunan di Bali. Baba sering berpesan agar jangan menciptakan perpecahan atas nama Tuhan. Lebih baik buktikan ajaran melalui sikap: lebih sabar, lebih suka menolong, lebih menghargai adat setempat.


5 . Tentang “Orang Pintar Tapi Menghujat”

Pintar dalam ilmu belum tentu matang dalam hati. Dalam Bhagavad Gita 16.4-6, Sri Krishna membedakan daivi sampat  dan  asuri sampat  atau sifat ketuhanan dan sifat raksasa.

Seseorang bisa berpendidikan tinggi, tetapi jika egonya besar, ia akan menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan egonya.

Jadi bukan berarti mereka benci. Itu bagian dari proses pertumbuhan mereka. Tugas kita bukan mengubah mereka, tetapi menjaga diri sendiri agar tidak ikut jatuh ke dalam kebencian.

Di dunia ini memang selalu ada rwabhineda – dua hal yang berbeda. Sikap yang terpenting adalah jangan saling menjelekkan, saling mencela. Hendaknya bisa saling menghargai antara yang percaya dengan yang tidak percaya.

6. Penutup

Hidup ini sementara, dan kita akan lahir kembali sesuai karma. Maka tugas utama bukan mengumpulkan harta dunia, tetapi memurnikan hati agar dapat pulang dengan tenang.

Hidup tinggi dalam berpikir, hidup sederhana dalam bertindak.”,
“Tangan yang membantu lebih suci daripada bibir yang berdoa.”  – Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Praktik Sederhana Sehari-hari

  1. Nama Smarana : Lantunkan nama suci Tuhan. Ia seperti sabun yang memurnikan hati tanpa kita sadari.
  2. Makanan Satwik: Jaga makanan agar pikiran tetap tenang dan mudah diarahkan kepada Tuhan.
  3. Sembahyang & Renungan:  Lakukan karena rindu, bukan karena takut. Ketika sudah menjadi kebutuhan, hidup terasa kurang lengkap tanpanya.
  4. Santosha : Latih rasa cukup. Kebahagiaan tidak didapat dari memiliki lebih banyak, tetapi dari membutuhkan lebih sedikit.

Jangan karena alasan tidak ada waktu dan tempat, menyebabkan tidak menghubungkan diri kepada Tuhan. Tidak ada batasan waktu atau ruang bagi seseorang untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan. Tidak ada yang namanya tempat suci atau tempat spesial. Dimanapun pikiran suka dalam memikirkan Tuhan maka tempat itu adalah tempat suci. Kapanpun waktu yang digunakan untuk memikirkan Tuhan maka waktu itu menjadi suci! Kamu tidak perlu pergi ke suatu tempat yang jauh untuk mencari Tuhan. Tuhan ada di dalam dirimu, bersamamu, di atasmu, di bawahmu dan di sekelilingmu, kata Baba.***🙏


Foto pemanis,
Sumber Internet


*) Ilustrasi Teratai/ bunga Tujung :
Kemurnian Hati yang diajarkan Sri Sathya Sai Baba .

1. Bunga Teratai/Tunjung
Tunjung tumbuh dari lumpur tapi bunganya tetap putih bersih. Itu persis ajaran Baba: “Tinggal di dunia, tapi jangan biarkan dunia masuk ke hati”. 

2 . Cahaya di tengah hati teratai
Itu Atma/percikan Ilahi dalam diri. Baba sering berkata: “Tuhan ada di dalam, bukan di luar”. Cahaya kecil itu mengingatkan : sumber damai ada di dalam diri kita sendiri.

3. Cangkir tanah liat
Simbol hidup sederhana. Tanah liat = rendah hati, kembali ke tanah. Cangkir = cukup untuk minum, tidak perlu emas/perak. Pas sama less luggage, more comfort - Lebih sedikit bagasi, lebih nyaman.

4. Tangan bersedekap
Bukan sembahyang karena takut. Tapi tangan yang tenang, pasrah, rindu sama Tuhan. Baba bilang doa yang murni itu karena cinta, bukan minta-minta.


Artikel lainnya :  Cinta Kasih Sejati

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi,  2 Juni 2026 Pendahuluan Piodalan di Merajan Dadia ...