Kamis, 01 Oktober 2026

KIRTAN: Ajaran yang Ditekankan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba untuk Zaman Kali

 

Sumber gambar Sahabat
Ilustrasi gambar di bawah *)


1. Cara Tiap Zaman Tidak Sama: Yuga-Dharma

Dibandingkan dengan zaman-zaman lainnya, manusia di Zaman Kali Yuga memiliki umur yang pendek, rata-rata 100 tahun, bahkan saat ini sudah banyak yang usianya di bawah 100 tahun. Pikiran mudah kacau, tenaga terbatas, sehingga untuk melakukan tapa brata atau yadnya besar seperti yang dilakukan pada zaman-zaman sebelumnya menjadi sangat sulit.

Sebagai perbandingan, usia rata-rata manusia pada Zaman Kerta Yuga (Satya Yuga) adalah 400 tahun, pada Zaman Treta Yuga 300 tahun, dan pada Zaman Dwapara Yuga 200 tahun. Dengan umur yang panjang dan tenaga yang kuat pada zaman itu, manusia mampu melakukan tapa dan yadnya yang berat.

Oleh karena itu, yuga-dharma atau kewajiban utama yang disesuaikan dengan zamannya pada Kali Yuga adalah Nāma-saṅkīrtana , yaitu kīrtanam, bhajan, dan japa Nama Suci Tuhan.

Hal ini disebutkan dalam Srimad Bhagavatam 12.3.52 menyebutkan: 
" krite yad dhyayato vishnum tretayam yajato makhaih dvare paricaryayam kalau tad dhari-kirtanat"

Artinya:
Hasil yang dicapai melalui tapa di Satya Yuga, yadnya di Treta Yuga, puja arca di Dwapara Yuga, di Kali Yuga hanya bisa dicapai dengan hari-kirtan.


2. Nama-saṅkīrtana, Jalan Paling Mudah di Zaman Kali Yuga

Yuga dharma pada zaman Kali Yuga adalah dengan Kīrtanam, hal ini sesuai dengan yang tercantum di berbagai kitab. Menurut Brihan-Naradiya Purana, Bhāgavata Purāṇa / Śrīmad Bhāgavata Purāṇa, Viṣṇu Purāṇa, dan ajaran Gauḍīya Vaiṣṇava , jalan paling mudah untuk mencapai Mokṣha di Kali Yuga adalah Nāma-saṅkīrtana, melantunkan nama suci Tuhan, sbb:

1). Brihan-Naradiya Purana 38.127:

"harer nama harer nama, harer namaiva kevalam, kalau nāsty beva nāsty eva, nāsty eva gatir anyathā"

Artinya:
"Nama Hari, Nama Hari, Nama Hari saja. Di zaman Kali tidak ada, tidak ada, tidak ada jalan lain kecuali itu."

2). Srimad Bhagavatam 11.5.36 :

"kalim sabhajayanty arya guna-jnah sara-bhaginah yatra sankirtanenaiva sarva-svartho bhilabhyate ".

Artinya:
“Orang bijaksana yang mengetahui nilai sejati justru memuji zaman Kali, karena di zaman ini semua tujuan hidup bisa dengan mudah dicapai hanya dengan Sankirtana, menyanikan Nama Suci Tuhan.”

3). Srimad Bhagavatam 12.3.51 :

"kalim sabhajayanty arya guna-jnah sara-bhaginah yatra sankirtanenaiva sarva-svartho bhilabhyate".

Artinya:
"Meskipun Kali Yuga adalah lautan dosa, tapi ada satu kebaikan yang besar. Hanya dengan kirtana, menyanyikan Nama Krsna, orang bisa bebas dari ikatan dan mencapai Tujuan Tertinggi."

4). Wisnu Purana 6.2.17

“yad abhyarcya harim bhaktya krite kratu-satair api phalam prapnoty avikalam kalau govinda-kirtanat”.

Artinya:
"Hasil yang didapat di Satya Yuga dengan berbakti memuja Hari lewat ratusan yadnya selama ratusan thun, hasil yang sama bisa didapat dengan cepat di Kali Yuga hanya dengan govinda-kirtana, menyanyikan Nama Govinda."

5). Kali-Santarana Upanisad 5-6:

“hare krishna hare krishna krishna hare rama hare rama rama hare iti shodashakam namnam kali-kalmasa-nasanam natah parataropayah sarva-vedesu drishyate”.

Artinya: 
"16 nama ini: Hare Krsna Hare Krsna, Krsna Krsna Hare Rama, Hare Rama Hare, adalah penghancur noda Kali Yuga. Setelah mencari di semua Weda, tidak ditemukan cara lain yang lebih luhur untuk zaman ini selain menyanyikan Nama Suci".


3. Tuhan Menjelma dari Masa-ke Masa

Dalam situasi tertentu, Tuhan menjelma kedunia. Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad Gita 4.7 berikut:

“yada yada hai dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srijamyaham ”.

Artinya:
“Ketika dharma turun dan adharma bangkit, pada saat itu Aku menjelma.”

Begitu juga Bhagavad Gita 4.8:

"paritranaya sadhunam vinashaya ca dushkritam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge"

Artinya: 
“Untuk melindungi orang-orang saleh, menghancurkan orang-orang Durhaka, dan mempertahankan kembali dharma, Aku menjelma dari zaman ke zaman.”


4. Sai Baba Tidak Membawa Ajaran Baru

Jika kita membaca ajaran Beliau, semuanya selaras dengan Weda. Beliau menyatakan 4 hal:
  1. Satya, Dharma, Prema, Shanti, Ahimsa adalah Panca Pilar. Lima nilai sudah ada dalam diri manusia sejak lahir.
  2. "Love All, Serve All", = "Tat Tvam Asi" dan "Vasudhaiva  Kutumbakam". Artinya : Sayangi Semua Layani Semua, Aku adalah Engkau, Semua Makhluk Satu Keluarga. Ini sesuai dengan Maha Upanisad 6.72.

  3. "Help Ever, Hurt Never" = "Ahimsa Paramo Dharma" , artinya: Tanpa Kekerasan Adalah Dharma Tertinggi.

  4. "Kesatuan Semua Agama", yaitu "Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti", artinya: Yang Esa itu disebut dengan banyak nama oleh para bijak. Ini sesuai Rig Weda 1.164.46.


Sri Sathya Sai Baba menyatakan:

"Jika Aku datang sambil memegang Shanka (keong), Chakra (roda), Gada (tongkat kebesaran) dan Padma (bunga teratai) seperti Narayana, engkau mungkin akan lari meninggalkan Aku atau meletakkan Aku di dalam museum. Bila Aku datang sebagai orang biasa seperti kalian, engkau mungkin tidak akan menaruh minat terhadap-Ku sama sekali. Oleh sebab itulah, Aku mengambil wujud manusia dan melakukan mukjizat dari waktu ke waktu guna mengungkapkan kemuliaan-Ku. Aku telah bereinkarnasi guna menegakkan kebajikan. Prinsip-prinsip kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta-kasih dan tanpa kekerasan ada di dalam diri-Ku. Untuk mencapai Aku, engkau perlu memiliki sikap kebenaran, kebajikan, peroleh kedamaian melalui cinta-kasih dan selanjutnya engkau akan menjadi perwujudan dari kedamaian itu sendiri."


5. Anjuran Sathya Sai Baba tentang Nama Sankirtan

Sri Sathya Sai Baba berkata:
"Don't worship My body, worship My teachings. My life is My message." 
Artinya:
“Jangan sembah tubuh-Ku, sembah ajaran-Ku. Hidup-Ku adalah pesan-Ku”.

Beliau juga berkata:

"Nama sankirtan adalah jalan termudah dan teraman di Kali Yuga. Nama Tuhan itu Tuhan sendiri dalam bentuk suara. Nyanyikan Nama-Nya dengan cinta, dengan sepenuh hati. Tidak perlu sekolah tinggi, tidak perlu kaya. Anak kecil, orang tua, semua bisa."

Sri Sathya Sai Baba berkata:

"Bhajan bukan hanya Patalu atau lagu, tetapi juga Mutalu , seikat permata berkualitas, yang akan membawa sepanjang Batalu , jalan menuju Dewa Wishnu."Ini dalam Bahasa Telugu.

Beliau juga berkata: 

"Tidak cukup hanya duduk merenung. Di zaman Kali ini, lidah harus dipakai untuk Nama Tuhan. Kirtan membersihkan hati lebih cepat dari cara lain. Kalau kamu penyanyi bhajan, Tuhan langsung datang duduk di dekatmu."

Jadi menurut Baba, Bhajan merupakan metode utama pada Kali Yuga. Cukup japa, kirtana, seva, dan jujur. Tidak perlu bertapa di gua, tidak perlu waktu khusus. Dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Beliau secara rutin memimpin bhajan setiap Kamis dan Minggu di Puthaparti. Bhajan tersebut diikuti ribuan bhakta dari berbagai suku, bangsa, dan golongan dari seluruh dunia, tua maupun muda, baik pria maupun wanita dengan tulus mengabdikan diri dalam pelayanan, didorong oleh cinta kasih kepada Sai Baba.


6. Sai Baba Tidak Merusak Adat

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba tidak bermaksud menggerus dresta dan tradisi Bali, namun mengisi adat dengan prema. Sai Baba sendiri berpesan: 

"Respect your culture, your traditions. Do not give up your dharma." 

Artinya : 
"Hormati budaya dan tradisi Anda. Jangan tinggalkan dharma Anda."

Gesekan yang muncul sering kali bukan karena ajaran Baba, melainkan karena perbedaan cara bhakti yang belum dipahami. Sikap berhati-hati menjaga adat itu wajar, karena itu bentuk cinta kepada leluhur.

Di Bali dan Nusantara, bhakti menyatu dengan adat dan budaya. Wujud bhakti utama di Bali adalah yajna dan banten. Oleh karena itu, ketika muncul bhakti dengan kirtan dan bhajan, sebagian umat yang belum memahami berspekulasi di luar tradisi.

Padahal dalam Bhakti tersebut ada Nawa Wida Bhakti, yaitu sembilan cara bhakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Di dalamnya ada Kirtanam dan  Smaranam, yaitu menyanyikan nama suci Tuhan, dan mengulang-ulang Nama Suci Tuhan.


7. Klaim Avatara dan Jawaban dari Bhagavad Gita

Baba menyatakan dirinya sebagai Avatara Sai. Bagi yang percaya, ini bentuk bhakti. Bagi yang belum, ini dianggap menyalahi tradisi.

Mengenai orang-orang seperti ini dalam Bhagavad Gita 9.11 disebutkan:

“Avajananti mam mudha manushim tanum ashritam, param bhavam ajananto mama bhuta-maheshwaram”

Artinya: 
“Mereka yang kurang memahami tidak menghiraukan-Ku yang menjelma sebagai manusia, tidak mengetahui sifat-Ku yang lebih tinggi, sebagai Penguasa Agung segala yang ada.”

Rg Weda 1.164.46 : 
"Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti"

Artinya: 
"Yang Esa itu disebut dengan banyak nama oleh para bijak."

Bhagavad Gita 4.11 :
“Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham”

Artinya: 
“Jalan mana pun yang ditempuh manusia untuk mendekati-Ku, dengan jalan itu Aku menyambutnya.”

Tuhan dalam aspek Saguna Brahman, bisa dipuja sebagai Rama, Krishna, Siwa, Durga, Yesus, Budha, dll, atau melalui Guru yang dianggap manifestasi-Nya. Wujudnya beda, esensinya Satu.


8. Sikap Tengah Ala Hindu

Kitab Sarasamuscaya 43 menyebutkan:
“Nihan tingkahing ambek sudharma, tan gingsir ring kaprawretin”

Artinya: 
"Sikap orang budiman tidak goyah oleh pujian dan caci."

Perbedaan adalah bagian dari Rwa Bhineda, jangan saling menjelekkan, dan saling membenci. Itu hanya menambah Kali di hati. 

Bhagavad Gita 12.15 :
"Yasman nodvijate loko lokan nodvijate ca yah"

Artinya:
“Ia yang tidak membuat dunia terganggu dan tidak terganggu oleh dunia, orang itulah yang Kukasihi ”.

Sikap yang penting adalah Aywa mamisoreng, aywa mangurangeng, artinya: jangan merasa paling tinggi, jangan merasa paling rendah.

Bhagavad Gita 9.29:
“Samoham sarvabhuteshu na me dveshyosti na priyah”

Artinya:
“Aku sama terhadap semua makhluk. Tidak ada yang Kubenci, tidak ada yang Ku-istimewakan.”

Analoginya seperti ini:
Kita haus dan perlu minum. Ada yang minum memakai gelas keramik Bali, ada yang memakai gelas stainless India. Yang penting airnya, yaitu Tuhan, masuk dan menghilangkan haus. Meributkan soal gelasnya justru tidak jadi minum

Yang terpenting adalah saling menghormati antara yang percaya Avatara dengan yang belum percaya. Dengan umat lain saja bisa saling menghormati, apalagi sesama umat Hindu. bukan ajarannya Tat Tvam Asi?


9. Tujuan Tertinggi: Moksha

Taittiriya Upanisad 1.11.2: 
“Matri devo bhava, Pitri devo bhava, Acharya devo bhava, Atithi devo bhava” 

Artinya: 
"Hendaklah kamu menganggap ibumu sebagai Tuhan. Hendaklah kamu menganggap ayahmu sebagai Tuhan. Hendaklah kamu menganggap gurumu sebagai Tuhan. Hendaklah kamu menganggap tamu sebagai Tuhan."

Pesan inti adalah: 
Kalau kita ingin berbakti pada Tuhan, mulai dengan berbakti pada orang yang paling dekat dalam hidup kita, yaitu ibu, ayah, guru, tamu atau sahabat. Tujuan akhir adalah Nirguna Brahman.

Ketika kesadaran akan Tuhan muncul dalam segala kemuliaan-Nya, semua keinginan duniawi dan kesenangan yang fana akan luruh seperti abu. Pada saat itu, sang diri yang individu menyatu menuju Pribadi Universal, yaitu Moksha. Terwujudnya pencerahan dan kedamaian abadi yang tertinggi, bebas dari Samsara.***


Ilustrasi Gambar *)

Karya visual ini mengangkat tema keseimbangan, keadilan, dan transformasi diri.

  1. Sosok yang bermeditasi di atas bunga yang terpampang di hadapan gerbang candi melambangkan pencarian pencerahan melalui ketenangan batin. 
  2. Timbangan emas yang melayang mewakili prinsip keadilan serta hukum sebab-akibat atau karma. 
  3. Daun dan koin yang berjatuhan menjadi simbol proses lepasnya kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, seperti materi dan ego. 
  4. Cahaya yang turun dari gerbang candi menggambarkan terbukanya jalan kebijaksanaan ketika batin berada dalam kondisi seimbang. 
  5. Teratai mengajarkan bahwa kesucian dan pertumbuhan bisa muncul bahkan dari tempat yang paling berlumpur sekalipun.

Semoga kita semua bisa seperti teratai, tumbuh suci meski di lumpur Kali Yuga. Swaha.  🙏


Artikel lainnya :

  1. OMKARA, SIMBOL SUCI NADA SEMESTA: Sejarah dan Penetapan Omkara Aksara Bali sebagai Simbol Agama Hindu di Indonesia.
  2. Apakah Awatara itu?

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏





KIRTAN: Ajaran yang Ditekankan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba untuk Zaman Kali

  Sumber gambar Sahabat Ilustrasi gambar di bawah *) 1. Cara Tiap Zaman Tidak Sama: Yuga-Dharma Dibandingkan dengan zaman-zaman lainnya, ma...