1. Awal Perjalanan
Besan saya menderita stroke kecil, masih rutin kontrol ke RS Sanglah. Kamis dini hari, 15 Oktober 2026, beliau jatuh saat hendak ke kamar mandi. Sempat muntah-muntah, lalu tidak sadarkan diri. Diajak langsung ke RS Sanglah oleh anaknya pakai Ambulance.
Di sana dipasang segala alat, difoto kepala karena ada benjolan akibat jatuh. Ternyata hasilnya : Pendarahan di otak terjadi dulu, baru beliau jatuh. Bukan jatuh yang menyebabkan pendarahan.
Dengan pengawasan intensif, pada Minggu sore, 18 Oktober 2026, beliau berpulang. Setelah dirembukkan keluarga, memutuskan untuk melakukan Kremasi pada tanggal 22 Oktober 2026. Jenazahnya dititipkan di rumah sakit. Dumogi Amor Ing Acintya.
Saya yang masih di kampung mendengar kabar dari anak, tidak bisa tidur dengan baik. Senin pagi 19 Oktober 2026 saya langsung ke Denpasar.
2. Apa yang Terjadi di Krematorium Hari Ini (22 Oktober 2026)
Hari ini kami laksanakan kremasi di krematorium Genah Pengabenan Santa Swarga di Tegal - Denpasar. Krematorium ini terletak di jantung Mota Denpasar.
Sekitar pukul 06.00, jenasah diangkut dari RS dengan mobil Ambulance, dibawa ke krematorium.
Di sana dilaksanakan Ngeringkes / memandikan jenasah, Mepegat , dan segala tetandingan banten tetap ada.
Areal kremasi lumayan luas, terasa sempit karena banyak yang hadir. Ada 9 orang yang dikremasi secara bersamaan.
4 orang melakukan sampai Ngelanus dan langsung Ngelinggihang termasuk besan saya sampai Ngelinggihan . 5 orang Mekinsan di Geni. Artinya nanti akan dilanjutkan dengan Ngeroras atau Mamukur.
Dan saya saksikan sendiri, tidak ada ritual yang dikurangi. Cucu-cucu beliau yang masih kecil pun ikut menyaksikan, belajar bahwa kematian adalah pelajaran bakti, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Setelah itu dibakar dengan kompor gas LPG. Setelah pembakaran selesai dengan segala upacaranya, dilanjutkan Ngayud ke Pantai Sanur. Suasana ngayut sangat memberi inspirasi, laut yang membentang luas mengingatkan pada kemahakuasaan Tuhan, kita tidak ada apa-apanya dihadapan Beliau.
Setelah selesai nganyut di Sanur, dilanjutkan mamukur/nyekah, arealnya bersebelahan dengan areal tempat pembakaran. Pada areal ngaben, masih sebel/kotor, disebut acara Manusa Yadnya. Pada acara mamukur / nyekah sudah tidak lagi sebel, acara ini Pitra Yadnya.
Melaksanakan Ngeroras / Mamukur dengan membuat Sekah / Puspa Lingga. Selama mamukur aroma wangi dupa, kidung dan cerita yang hadir semakin menambah acara kidmatnya.
Setelah diupacarai, Puspa Lingga digeseng dan abunya dilarung ke Pantai Padang Galak, Sanur. Kemudian dilanjutkan Meajar-ajar dan Nyegara Gunung.
Meski lebih sederhana, esensinya sama yaitu menghadirkan Atma dalam tirta yatra ke Pura-pura suci.
Terakhir sekitar pukul 19.30 malam langsung Ngelinggihang Dewa Pitara di Kamulan, tidak menunggu saat Piodalan.
3. Makna yang Saya Renungkan
Dari Lontar Gayatri kita tahu, saat meninggal roh disebut Preta. Melalui Ngaben dan Mamukur, ia menjadi Pitara, lalu setelah ngalinggihang menjadi Dewa Hyang di Kamulan.
Ngaben itu ada 3 jenis menurut lontar:
- Sawa Wedana: layon langsung diaben (inilah yang kami lakukan).
- Asti Wedana: layon ditanam dulu, tulangnya baru diaben.
- Swasta : layon tidak ditemukan (hilang di laut, perang)
Upakara ngaben menurut sastra sesungguhnya sederhana. Yang menyebabkan mahal kadang karena gengsi, membuat upacara besar-besaran, banten dibesar-besarkan, jor-joran, pakai wadah yang megah, tumpang 11, bahkan ada yg membakar wadah di atas mobil pick up, agar masuk surga. Padahal hakikatnya adalah Jnana dan Bhakti.
Bukan berarti ngaben di setra adat salah. Itu mulia dan utama. Krematorium hanyalah alternatif dharma di zaman kota besar, di mana orang sibuk mencari nafkah, bekerja di hotel yang sulit memperoleh ijin lama dan keluarga tinggal berjauhan. Pilihan ada di desa kala patra masing-masing.
Dipilihnya krematorium karena pertimbangan praktis, simpel, sehari selesai bisa langsung ngelinggihang.
4. Penutup
Kematian bukanlah akhir, tapi awal kehidupan baru. Tujuan Ngaben adalah mengembalikan Ragha Sarira - Panca Maha Bhuta ke masing-masing dan mengantarkan Atma ke alam Pitra.
Krematorium adalah alat, cara, upacara agar Roh tidak terikat kepada keduniawian sehingga tenang menuju alam Pitra / Swahloka. Pakailah kesempatan lahir sebagai manusia untuk berbuat dharma, karena sangat sulit mendapatkan tubuh manusia.
Selama rangkaian upacara itu lengkap: Ngangget Don Bingin, Ngajum Sekah, Ngayut ke Segara, Meajar-ajar/Nyegara Gunung, sampai Ngelinggihan, maka bakti Pratisentana kepada leluhur sudah terbayarkan.
Semoga Atma besan saya, Prof. I Putu Gde Sukaatmadja, SE.,MM., mencapai Atmasiddha Dewata dan memberikan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amor Ing Acintya,
Dumogi Atma Santi, Atmasiddha Dewata. Demikian sepintas catatan dari saya.
Suksma.🙏
Catatan :
Artikel ini setelah sy shera dan sy simpan, kadang ada perubahan redaksi, kata, kalimat, oleh sistem shg bisa menimbulkan beda arti. Ketika sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, dan kata yg janggal, kemungkinan besar itu disebabkan oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏









