Minggu, 08 Februari 2026

Heboh Polemik Pergeseran Tegak Nyepi

Sumber foto Internet.


Pada bulan Januari 2026 lalu masyarakat Bali (khususnya umat Hindu) dibuat heboh dengan adanya ide utk mengubah tegak tawur agung dan Nyepi yang sdh berjalan sejak ratusan tahun sampai sekarang yaitu Tawur saat Tilem, Nyepi setelah Tilem.

Kelompok SKHDN (Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara) yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Bali ingin memajukan pelaksanaan Tawur Kasanga sehari sebelum Tilem Kasanga dan Nyepi pada Tilem Kasanga.
Pesamuhan Agung SKHDN pada 30 Desember 2025 lalu yang berlangsung di kantor Gubernur Bali, memutuskan tentang Tika dan tegak Nyepi, sifatnya adalah draf (keputusan sementara) dalam pengertian keputusan ini akan disampaikan kepada Gubernur sebagai Guru Wisesa yang dapat mengambil keputusan.  Mari kita simak


Sumber foto Internet.



Kesimpulan kami di Sabha Kretha melihat Tilem (bulan mati) sebagai akhir atau penutup tahun. Ketika memasuki Penanggal Apisan (tanggal 1), itu sudah memasuki sasih yang berbeda,” ujar Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, SKHDN (Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara).

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk "mengubah" konsep Nyepi secara sembarangan. Langkah yang diambil Sabha Kretha adalah mengembalikan pelaksanaan Nyepi pada konsep esensi leluhur untuk menghindari apa yang disebut sebagai hari Ngelawean—hari yang dianggap tidak baik untuk melakukan pemujaan atau aktivitas spiritual tertentu.
“Kami tidak berubah, kami ingin mengembalikan konsep ajaran leluhur agar tidak terjadi perbedaan persepsi yang justru merugikan umat,” tegas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.
Mari kita simak

Sumber foto Internet.


Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan Nyepi adalah soal adat dan budaya dresta Bali. Alasannya kitab suci Hindu tak ada yang menyebutkan soal Nyepi. Lalu wilayah yang terkena Nyepi hanya di Bali. Umat ​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Hindu yang bukan Dresta Bali tdk mengenal Nyepi.

Namun di sisi lain ada pendapat Nyepi adalah bagian dari agama Hindu meskipun hanya berlaku di Nusantara dan wilayah yang hanya dipakai di Bali. Keputusan dalam urusan agama ini adalah PHDI Pusat yg diayomi Kementrian Agama.

Nah sampai kapan pendapat itu dipertemukan sepertinya urusan masih panjang. Dan Gubernur Bali Wayan Koster tampak lebih tertarik membuat Forum Diskusi yg lain (SKHDN) untuk membahas masalah ini dp membahasnya dengan Sabha Pandita PHDI Pusat. Ini terkesan SKHDN menyaingi Sabha Pandita PHDI Pusat.

"Siapakah Anda dan juga saya, adakah yang merasa lebih mumpuni dibandingkan tabik :

  1. Ida Pedanda Made Sidemen (Maha Pandita & Maha-Kawi),
  2. I Gusti Putu Djelantik (Raja Buleleng) dan
  3. I Gusti Bagus Sugriwa (Tokoh Rohani & Mahaguru Sastra Kawi)?
Sumber foto Internet

Sumber foto Internet

Sumber foto Internet

Tercatat th 1935 sampai sekarang Nyepi dilaksanakan setelah Tilem (sebenarnya jauh sebelum 1935 sdh dilaksanakan Nyepi setelah Tilem. Namun demikian pada th 1960 sd th1966 Nyepi pernah dilaksanakan saat Tilem. Nyepi saat Tilem th 1960 sd th 1966 ada sesuatu yang berkaitan dengan hal dg kejadian alam. Para Bijak Waskita (para suci) dan tokoh-tokoh Agama Hindu zaman itu menilai kejadian itu sbg ada yg tdk tepat, shg mulai 27 Maret 1967 dikembalikan lah Nyepi setelah Tilem.  Pada pesamuhan Agung PHDI Pusat yang diselenggarakan tanggal 22-23 Pebruari 1970 menegaskan kembali bahwa Tawur dilaksanakan pada Tilem sesuai tradisi kuno, yaitu Nyepi setelah Tilem.

Sumber gambar Internet

Mari kita hormati, hargai, Para  Pandita para Bijak Waskita zaman dulu yg hatinya Luhur, suci Nirmala tdk ada yg menyamai di zaman kali/edan ini, yg telah bekerja tulus ikhlas tanpa pamrih, tanpa disertai maksud-maksud tertentu telah memutuskan / menetapkan tegak tawur agung / Nyepi spt sekarang, yaitu Nyepi setelah Tilem.

Upacara Macaru (Tawur Kasanga) pd Tilem sasih Kasanga, dan Nyepi pd Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa sudah sejak lama ditulis dan dipublikasikan oleh tokoh-tokoh Hindu Dharma di Bali.  Berikut ini beberapa info yang saya dapatkan :

Pada th 1953, I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dlm artikelnya berjudul Hari Raya Nyepi yang dimuat dalam Majalah Indonesia no. 4, April 1953, menyebutkan bahwa upacara Macaru (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem sasih Kasanga dan besoknya setelah matahari terbit dilaksanakan Nyepi (Sipeng). Kini artikel tsb diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sastra th 2008 dalam buku berjudul Karya Tercecer I Gusti Bagus Sugriwa. Dalam buku tsb berisi 2 tulisan dari I Gusti Bagus Sugriwa (alm) yaitu Hari Raya Nyepi dan Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika.

Pada buku Upadesa yang disusun th 1964, disebutkan pada Tileming Kasanga adalah hari Pangerupukan diadakan upacara Bhuta Yadnya dan Nyepi jatuh sehari setelah Tileming Kasanga yaitu pada Pananggal 1 sasih Kadasa.
Perlu diketahui, bahwa buku Upadesa th 1964 disusun oleh 7 orang tokoh Hindu yaitu : Ida Pedanda Gede Wayahan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Oka Punia Atmaja, Ida Bagus Dosther, Cokorda Rai Sudharta, Ida Bagus Alit dan Nyoman Merta (beberapa di antaranya menjadi sulinggih dan kini semuanya sudah terlambat). Buku Upadesa tsb diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma (PHD) Pusat pada th 1967.

Pada th 1972, I Gusti Agung Gede Putra (Cudamani) menyebutkan upacara Macaru dilaksanakan pada Tilem Kasanga dan besok harinya setelah Pangerupukan atau Macaru, Hari Raya Nyepi.

Berikutnya pd th 1973, Dinas Agama Hindu dan Budha Kab. Buleleng mengeluarkan padoman Hari Raya Nyepi bulan Maret 1973. Pada pedoman tsb disebutkan Pacaruan (Bhuta Yadnya) dan Pangerupukan dilakukan pada Tileming sasih Kasanga dan keesokan harinya, pada Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa adalah Nyepi (Sipeng). Turut memberi restu pada pedoman Hari Raya Nyepi tsb adalah Parisada Hindu Dharma (PHD) Kab. Buleleng, Ida Pedanda Putra Kemenuh.

Setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sbg hari libur nasional sejak th 1983, banyak tokoh-tokoh Hindu yg menulis mengenai Hari Raya Nyepi yg semuanya menyebutkan upacara Macaru/Tawur Kasanga (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem Kasanga (Caitra/Cetra) dan Nyepi pada Pananggal 1 sasih Kadasa (Waisaka/Wesaka).

Tulisan tsb ada dalam bentuk buku dan ada juga dimuat dalam surat kabar. Tokoh-tokoh atau penulis-penulis tsb spt :

  1. Nyoman S. Pendit,
  2. Tjok. Rai Sudharta,
  3. Ngurah Oka Supartha,
  4. I Gusti Ketut Widana,
  5. I Made Titib,
  6. K. Kebek Sukarsa,
  7. dan masih banyak lagi yg lainnya (kini beberapa di antaranya sudah meninggal).

Dengan adanya ide perubahan pohon Tawur dan Nyepi oleh kelompok SKHDN yg banyak menuai kontra, maka PHDI Bali mengadakan Pesamuhan Madya pada Jumat 9 Januari 2026 di aula kantor PHDI Bali yang diikuti PHDI Propinsi/ Kabupaten / Kota se-Bali, Ormas Hindu, Pasemetonan se-Bali, Organisasi, Yayasan, Lembaga bernafaskan Hindu, menghadirkan narasumber Sugi Lanus (Pakar Filologi Bali dan Jawa Kuna), Dr. Made Gami Sandi Untara, Made Suacana, dan dua narasumber yang tidak sempat hadir mengirimkan naskah tertulis, yakni Sabha Wiku Kabupaten Klungkung (Ida Pedanda Putra Batuaji) dan AAGN Ari Dwipayana dari Yayasan Puri Kauhan Ubud. Hadir juga anggota DPR RI Dapil Bali, anggota DPD RI Dapil Bali, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Dr. I Gusti Made Sunarta, S.Ag., M.Ag., dan banyak tokoh lainnya.

Secara umum, seluruh PHDI Kabupaten / Kota se-Bali mengumandangkan sikap bahwa, Pelaksanaan Tawur Tetap Pada Tilem Kesanga, Dan Hari Suci Nyepi Dilaksanakan Hari Berikutnya. Sikap yg sama juga dinyatakan oleh pimpinan organisasi, pasemetonan, lembaga, seperti Paiketan Krama Bali, Pinandita Sanggraha Nusantara, KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia) Bali, Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi Pusat, Pesemetonan Arya Kanuruhan, Peradah Bali, Pandu Nusa dll. Seluruh narasumber seminar memaparkan referensi, baik sastra maupun tradisi, pelaksanaan Tawur jatuh di Tilem Kasanga dan tidak ada Nyepi di Tilem Kasanga.
Hasil seminar inilah yang disetujui oleh Pesamuhan Madya yang kemudian diteruskan ke Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat untuk dibahas.

Sesuai mekanisme organisasi, Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat hanya memutuskan apa yang sudah diolah bahannya oleh Sabha Walaka. Dalam kasus ini peran Sabha Walaka diambil oleh Pesamuhan Madya PHDI Bali.

PHDI Pusat melaksanakan Pesamuhan Agung yg diluar jadwal (dipakai istilah Fokus Group Discussion/FGD), berlangsung di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar pada Minggu 11 Januari 2026 yg lalu, dipimpin langsung Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, didampingi Sekretaris Umum PHDI Pusat Ketut Budiasa. Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat Menetapkan Pelaksanaan Tawur Kasanga Pada Tilem Kasanga, dan Nyepi Hari Berikutnya, Seperti Yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun.
Sabha Pandita, adalah Pemucuk (pimpinan tertinggi) PHDI yang terdiri dari 33 Sulinggih/Pandita Hindu dari seluruh Nusantara.

Tujuan utk menggeser Tawur dan Nyepi tidak memiliki dasar sastra yang kuat, adalah suatu tindakan grasa-grusu yang hanya akan membingungkan seluruh umat Hindu di Indonesia.

Zaman kali / edan sekarang ini, diduga ada pandita yg tdk bisa menjadi contoh yg baik kepada umat, ada pandita yg menjelek-jelekkan pandita lainnya, kita tdk tahu apa motivasinya.
Pandita seharusnya sdh selesai ngurus dirinya, artinya sdh tdk terikat lagi dg keduniawian, tdk berlomba-lomba mencari orderan muput karya dan mengisi dharma wacana yg ujung-ujungnya sebenarnya hanya nyari sari daksina / honorarium / amplop.

Begitu juga apa yg sdh berjalan puluhan tahun spt Tegak Nyepi yang sudah ditetapkan Para Pandita zaman dulu yg tentunya berdasarkan sastra agama hendaknya jangan diutak-atik supaya umat jangan bingung.

Jadi kesimpulannya : Tawur pada saat Tilem, Nyepi pada penanggal 1 sasih kedasa,  spt yg sdh berjalan selama ini.***

Sumber foto Internet.


Diolah dari berbagai sumber.

Baca artikel lainnya ttg Nyepi :


Minggu, 01 Februari 2026

Jangan Melupakan Ajaran Leluhur

 

Prof.DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI.


Agama Hindu adalah Wahyu Tuhan.

Sbg penganut Hindu yg baik, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa pendahulu kita, jasa-jasa Leluhur kita yg telah banyak berkontribusi thdp Agama Hindu. Nenek moyang/pendahulu kita dari manapun mereka berasal baik dari Indonesia maupun yang berasal dari India harus kita hormati. Para Suci dari India banyak sekali yang berjasa thdp agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali.


Gayatri Mantram dan Weda.

Mantra Gayatri adalah salah satu Mantra yang sangat penting dalam Ajaran Agama Hindu. Ida Hyang Widhi Wasa mewahyukan Mantra Gayatri kepada Maharsi Visvamitra (India).

Mantram Gayatri tercantum dalam Rg. Weda III.62.10. Mantra Gayatri merupakan Ibu Weda (Gayatri Chandasam Mata, Weda Mata). Mantra Gayatri adalah 'Anna Purna', 'Ibu Jagad Raya', kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi oleh Ana Purna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan dan papan.

Begitu juga Kitab Suci Wedha diwahyukan di India oleh Ida Hyang Widhi Wasa melalui 7 Maha Rsi, yaitu :

  1. Rsi Atri
  2. Rsi Baradwaja
  3. Rsi Gratsamada
  4. Rsi Wasista
  5. Rsi Wiswamitra
  6. Rsi Wamadewa
  7. Rsi Kanwa.

Oleh Bhagawan Wiyasa, Wahyu yg diterima oleh 7 Maha Rsi tsb mendaftar menjadi 4 (Catur Wedha) dibantu oleh 4 orang Rsi sbb :

  1. ‌Rsi Paila - menyusun Reg Weda - Mahawakya : Prajnanam Brahma.
  2. Rsi Waisampayana - menyusun Yayur Weda - Mahawakya : Aham Brahma Asmi.
  3. Rsi Jaimini - menyusun Sama Weda - Mahawakya : Tat Twam Asi.
  4. Rsi Sumantu - menyusun Atarwa Weda - Mahawakya : Ayam Atman Brahman.

Agama Hindu Masuk Indonesia.

Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia.
Pada abad ke 4 yaitu tahun 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), kemudian ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan), ke Jawa Timur pada pertengahan abad ke 8 prasasti Dinoyo, (kerajaan Kanjurukan), dan akhirnya berkembang ke Bali.

Agama Hindu masuk Bali pd abad ke 8 M, Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti yang dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut :

Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu”
Artinya : 
Sang Yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”.

Beliau banyak membangun tempat suci utk umat Hindu misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Zaman Raja Bali Zaman pertama Sri Kesari Warmadewa, dan zaman Raja Ugrasena, biasa Para Suci / org-org India bekerja sm dg Raja Bali Aga dlm melakukan puja kpd Ida Hyang Widhi (Brahman).


Paska Kemerdekaan Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, agama Hindu masih belum resmi diakui oleh pemerintah saat itu, tentu ada syarat-syarat yang cukup komplek, seperti halnya syarat-syarat peribadatan yang harus sesuai dengan ideologi yaitu Pancasila.

Pada th 1950 Narendra Dev Pandit Shastri dan I Gusti Bagus Sugriwa adalah penyusun Mantra Puja Trisandya, bukan dikarang oleh mereka, tapi disusun. Puja Tri Sandya terdiri dari 6 umpan. Umpan pertama adalah Mantram Gayatri, umpan ke 2 sd 6 diambil dari Upanisad dan teks Agama. Dan dimasukkan ke dalam bukunya yang berjudul Puja Trisandya.

Prof Narendra Dev Pandit Shastri adalah seorang tokoh Hindu dari India yang tinggal di Bali kawin dengan org Bali, yg ikut menjaga budaya Hindu di Bali, Beliau mengajar Catur Weda dan Upanisad. Beberapa karya dari Prof. Pandit Shastri diantaranya : Intisari Hindu Dharma, Kidung Yadnya (1950), Tri Sandhya (1950), Sejarah Bali Dwipa (1963), Weda Parikrama (1951) buku yang menjelaskan mantra-mantra yang sangat terkenal di kalangan kependetaan di Bali dan Lombok.

Pada tanggal 14 Juni 1958 Prof. Narendra Dev Pandit Shastri ikut menyusun petisi bersama-sama tokoh-tokoh Hindu lainnya yang isinya menyatakan bahwa Agama Hindu Bali (waktu itu disebut Hindu Bali) tidak menyimpang dari Pancasila, dan meminta persetujuannya.

Tokoh-tokoh yang memperjuangkan agama Hindu agar diakui secara resmi oleh pemerintah diantaranya adalah :

  • Prof. Dr. Ida Bagus Mantra,
  • Saya Gusti Bagus Sugriwa,
  • Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,
  • Narendra Dev Pandit Shastri
  • I Ketut Bangbang Gde Rawi,
  • I Gusti Ketut Pudja.
  • dll.

Oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali dan jg tokoh dari India, Puja Tri Sandya dan Kitab suci Wedha yg dipakai melengkapi persyaratan selain persyaratan lainnya agar agama Hindu diterima sbg agama yg sah di Indonesia. Akhirnya tanggal 5 September 1958 terbitlah keputusan Menteri Agama yg mengakui Agama Hindu Bali sbg Agama yg sah.

Pada tanggal 23 Pebruari 1959, ketika parisada berdiri pertama kali didirikan di Denpasar Bali, namanya Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB). Penggagas berdirinya Parisada salah satunya Drs. Ida Bagus Mantra , sbg sekretaris awal, dan tokoh-tokoh penting lainnya seperti :

  • Ida Pedanda Membuat Sidemen,
  • Saya Gusti Bagus Sugriwa,
  • Ida Bagus Gde Doster,
  • Gedong Bagus Oka, 
  • dll.

Pada th 1964 untuk memperkuat identitas nasional, Nama Parisada Hindu Dharma Bali ( PHDB ) berubah menjadi PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) menjadi Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia yang mengurus keagamaan dan sosial . PHDI lahir dari gerakan reformasi kebangkitan Hindu di Indonesia, bertujuan mempersatukan umat Hindu di seluruh Nusantara.

Jadi Agama Hindu yg ada di Nusantara khususnya di Bali ini keberadaannya tdk dpt dipisahkan dg Hindu India, krn agama Hindu bisa diakui sebagai agama yg sah di Indonesia ada Mantra Gayatri (dalam Puja Trisandya umpan 1), Kitab suci Wedha, nama 7 Maha Rsi penerima Wahyu Wedha. Dan nama Dewa-Dewi yg dipuja oleh umat Hindu semua tercantum dalam Kitab suci Wedha.

Sebagai orang baik dan bijak yang mencintai ajaran Leluhur (Hindu), jangan sampai kita melupakan Leluhur kita dan ajarannya, yaitu tabek : Rsi Wiswamitra penerima Wahyu Gayatri, 7 Maha Rsi penerima Wahyu Weda, Bhagawan Wyasa yang menyusun Catur Weda, Rasi Markandeya yang menyebarkan agama Hindu ke Bali, dan membuat pura Besakih.  Zaman kemerdekaan ada nama :  Ida Bgs Mantra,  I Gusti Bagus Sugriwa, Prof.  Narendra Dev Pandit Shastri (India), dll. Banggalah menjadi Hindu.

Slogan Bung Karno yang sangat terkenal dan masih relevan zaman skrg yaitu , "JAS MERAH", jangan sekali-kali melupakan sejarah ***🙏












Sumber foto: Internet.


Artikel lainnya :


Heboh Polemik Pergeseran Tegak Nyepi

Sumber foto Internet. Pada bulan Januari 2026 lalu masyarakat Bali (khususnya umat Hindu) dibuat heboh dengan adanya ide utk mengubah tegak ...