Minggu, 01 November 2026

TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

 



Om Swastyastu🙏

Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang menyebutkan sejumlah anggota dewan di Bali buka suara mendorong wacana legalisasi tajen (sabung ayam) dengan berbagai pandangan dan alasan.

Saya tidak tahu pasti kebenaran beritanya, saya hanya mengutip apa yang beredar sebagai bahan renungan :

  1. Ada yang mendorong agar wacana legalisasi tajen dikaji secara resmi. Ia menilai tajen tidak melulu dipandang dari sisi negatif perjudian, melainkan memiliki dimensi kultural serta ekonomi yang mampu menggerakkan perputaran uang dan rantai usaha kecil jika diatur dalam regulasi yang jelas. 
  2. Ada yang meminta agar tajen atau tradisi sabung ayam dilihat secara bijak dengan mempertimbangkan konteks budaya dan kearifan lokal. Ia menyinggung adanya kaitan tradisi ini dengan ritual di beberapa desa adat (seperti pemujaan yang disakralkan) dan menyarankan agar komunikasi antara pihak adat dengan dinas dilakukan secara terbuka tanpa sembunyi-sembunyi.
  3. Ada yang berpendapat potensi ekonomi di balik aktivitas tajen atau sabung ayam yang lekat dengan tradisi masyarakat Bali menjadi perhatian. Ia mendorong agar peluang kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dikaji secara komprehensif, dengan tetap memperhatikan kepastian hukum. "Tajen tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya masyarakat Bali. Namun, potensi ekonominya harus dipetakan secara objektif, tanpa mengabaikan aturan hukum, nilai agama, adat istiadat, dan ketertiban umum," nilainya belum lama ini.


Saya tidak anti tajen, juga tidak menyalahkan aparat yang menutup. Saya hanya mencoba meluruskan, agar kita berpikir utuh, jangan hanya dari satu sisi ekonomi saja.


1. Soal Budaya dan Ekonomi.

Dikatakan tajen ada dimensi kultural. Di sinilah kekeliruan kita selama ini. Tajen tidak pernah ada dalam Lontar sebagai tradisi dan kearifan lokal. Yang ada dalam sastra adalah Tabuh Rah untuk Bhuta Yadnya. Leluhur kita sudah sangat jelas membedakan: 

TABUH RAH itu Yadnya. Syaratnya menurut Lontar dan Kekawin: hanya 3 saet (tiga kali adu), hanya saat Bhuta Yadnya (Tawur Agung, Caru Sasih Kesanga, Caru Purnama Tilem), tidak boleh ada taruhan uang, taruhannya hanya pis bolong 250 kepeng (keteng), ada adu tingkih (telur). Itu suci, bagian dari Panca Yadnya, dan tidak bisa dilarang.

TAJEN itu Judi. Ada taruhan uang jutaan rupiah, puluhan saet, dilakukan hampir setiap hari, tidak ada hubungan dengan yadnya.

Tajen memenuhi 3 unsur Pasal 303 KUHP: ada permainan, ada untung-untungan, dan ada taruhan. Itu murni judi.

Jadi kalau ada yang mengatakan "Tajen adalah Adat", itu adalah melegalkan judi dengan dibungkus Adat. Ini tidak baik untuk Bali.

Kalau warung, pedagang, dan UMKM hidupnya tergantung dari perjudian, itu artinya perjudian yang menghisap uang masyarakat, bukan menghidupi masyarakat. Uang yang seharusnya untuk membeli beras, untuk bekal sekolah anak, untuk beli canang, habis di arena tajen.

Apakah warung akan sepi kalau tajen ditutup? Tidak. Uang yang tadinya habis untuk berjudi itu akan kembali berputar di warung, di pasar, di toko bangunan. Perputaran uang yang sehat itu bukan dari judi, tapi dari kerja.

Dengan logika yang sama, jika tempat peredaran narkoba ditutup, apakah wajar kita beralasan warung di sekitarnya akan sepi? Begitu pula jika tempat prostitusi dan perzinahan ditutup, apakah kita beralasan warung dagang bakso di sekitarnya akan sepi dan tukang parkir tidak dapat uang? Tentu tidak. Lantas, apakah kita boleh melegalkan narkoba, prostitusi, dan perzinahan hanya dengan alasan untuk menyelamatkan UMKM? Tentu tidak.


2. Soal Kearifan Lokal dan Ritual.

Saya sangat setuju tradisi sakral di  adat harus dilestarikan. Tabuh Rah yang sakral itu sudah diatur dalam tata upacara agama Hindu dan tidak pernah dilarang oleh aparat. Yang dilarang dan ditutup oleh aparat berwenang adalah Tajen judi.


3. Soal PAD.

Potensi ekonomi dan PAD tidak boleh dijadikan alasan untuk melegalkan sesuatu yang dilarang agama dan hukum.

Apakah Bali sudah begitu miskin sampai harus mencari PAD dari judi? Apakah kita akan melegalkan narkoba dan prostitusi juga demi PAD karena ada perputaran uangnya? Tentu tidak.


4. Tidak Ada Orang Kaya Karena Judi.

Yang ada tanah warisan dijual, sawah dijual, istri dan anak bertengkar (meskipun tidak semuanya).

Dalam ajaran Hindu, yang kalah menjadi Krodha (marah, benci, dendam), yang menang meningkatkan Kama (nafsu, ingin lagi dan lagi) dan Lobha (serakah). Keduanya menjauhkan kita dari Dharma.

Dalam Bhagavad Gita 16.21 disebutkan:
"Tri-vidham narakasyedam dvaram nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas tasmad etat trayam tyajet".

Artinya:
Tiga macam pintu neraka yang membinasakan diri: Kama (nafsu), Krodha (marah), dan Lobha (serakah). Karena itu ketiganya harus ditinggalkan. Judi memelihara ketiganya.


5. Penutup dan Solusi Ekonomi yang Benar

Saya mendukung niat baik aparat berwenang menutup semua judi di Bali, untuk menyelamatkan anak cucu dari pengaruh judi. 

Menutup judi bukan mematikan ekonomi rakyat kecil, justru menyelamatkan ekonomi keluarga kecil agar uangnya tidak habis di arena judi. 

Tajen tutup, masalah belum selesai? Justru kalau Tajen dibuka, masalah baru yang muncul: uang habis di tajen, keluarga hancur, kriminalitas naik seperti banyak pencurian ayam aduan di Baturiti beberapa bulan lalu, citra Bali tidak baik di mata dunia, akhirnya pariwisata terpengaruh. 

Kita sangat setuju UMKM harus dibantu. Tapi solusinya bukan dengan membuka judi. Solusinya adalah:
  • Kembalikan fungsi banjar untuk kegiatan Dharma, bentuk koperasi di Desa Adat, bantu UMKM dengan KUR.
  • Galakkan pasar seni, pasar malam yang sehat, lomba layangan, mekepung, ogoh-ogoh, tanpa judi.
  • UMKM yang jualan di sekitar pura saat odalan, itu rejekinya halal dan diberkati.
Apabila ada yang salah, mohon ampura.
Om Santhi Santhi Santhi Om
Suksma, Rahayu. 🙏



Sumber gambar internet.


Artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, kadang ada perubahan redaksi, kalimat, kata, dengan sendirinya shg bisa menimbulkan perbedaan arti. Ketika sy tahu, langsung sy perbaiki kembali. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, dan kata yg janggal, itu kemungkinan besar disebabkan sistem. Demikian permakluman sy.🙏

Senin, 19 Oktober 2026

GELAR BUKAN VIDYA: Saat Pintar Tidak Menjamin Tercerahkan

Gambar Ilustrasi 
"Gelar bukan Vidya"


-- Vidya berasal dari akar kata Sanskerta vid = tahu, terang. Jadi Vidya adalah ilmu yang memberi terang, yang memerdekakan. Bukan sekedar tahu data, tapi tahu Diri. Bukan sekedar 'know-how', tapi 'know-why' untuk hidup sesuai Dharma.--


1. Pendidikan Duniawi vs Vidya

Pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada perolehan gelar yang hanya sebagai "wadah" yang dibawa ke mana-mana untuk diisi dengan pekerjaan. Hari ini, kami mendengar banyak orang berbicara tentang 'kewajiban'. Hal itu tentu saja baik. Namun sering kali maknanya belum dipahami secara benar. 

Pendidikan akademis saat ini lebih menitik beratkan pengetahuan duniawi sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah. Bukan sebagai cara hidup yang sesuai dharma yang akan mengantarkannya ke sorga, perahu ibarat yang dipakai pedagang untuk menyebrangi lautan.

Pendidikan bukanlah barang dagangan, bukan pula alat untuk mengemis pekerjaan. Tidak salah mendapat pekerjaan setelah lulus, tetapi tujuan pendidikan sejati bukanlah itu. Pendidikan akan berkembang dan bermanfaat hanya ketika diamalkan dan dibagikan. Apa gunanya gelar tinggi jika tidak dibagikan untuk kebaikan sesama?


2. Karakter Lebih Utama dari Kesarjanaan

Ratusan tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk cara memandang kita terhadap kehidupan. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan itu akan membentuk karakter kita, dan karakter tersebut mempengaruhi nasib.

Apapun karakter seseorang saat ini, semua masih dapat diperbaiki dengan mengubah pola pikir. Tidak ada keburukan yang tidak bisa diperbaiki. Kita memiliki kemampuan untuk melawan kecenderungan buruk dan mengubahnya. Dengan kegiatan tanpa pamrih, dengan bhakti, dan doa, kebiasaan lama dapat dibuang dan digantikan dengan kebiasaan baru yang menuntun kita ke jalan Tuhan.

Sejarah membuktikannya: 

  1. Angulimala,  yang awalnya bernama Ahimsaka, seorang Brahmana yang dipengaruhi oleh lingkungan buruk sehingga menjadi pembunuh. Saat ingin membunuh ibunya sendiri, Sang Buddha muncul dan mengubahnya. Ahimsaka menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian.
  2. Ratnakara,  seorang berjongkok, setelah bertemu Sapta Rsi – tujuh orang bijak – berubah menjadi Valmiki, penyair agung penulis Ramayana.  

Inilah bukti nyata transformasi dari kegelapan menuju pencerahan.

Sayangnya, kepintaran akademis tidak otomatis melahirkan kemewahan. Pengalaman mencatat, kejahatan besar justru sering lahir dari tangan yang sangat terampil / berpendidikan tinggi lulusan universitas ternama, namun hatinya kosong dari Dharma. Sayang sekali jika kepintaran tidak diimbangi karakter mulia. 

Ciri karakter yang baik menurut Baba : Kasih, Sabar, Mampu menahan diri, Setia, Dermawan.

Sabda Bhagawan Sri Sathya Sai Baba:
“Manusia tidak akan menjadi bijaksana hanya dengan pendidikan. Mereka menganggap pendidikan sebagai jalan untuk mencari nafkah, bukan sebagai cara hidup. Setapak kecil tanah yang subur lebih berharga daripada sebidang tanah luas yang gersang. Demikian pula karakter yang baik lebih berharga daripada kesarjanaan. Zaman sekarang setiap orang berusaha memperoleh kekuasaan, kekayaan, dan harta benda yang ibarat awan berlalu. Sedikit sekali yang peduli untuk memiliki yang menuju kebahagiaan abadi.”


3. Makna Sejati Vidya

Sayangnya, saat ini Vijnana disamakan dengan sains. Padahal sains hanyalah pengetahuan akademis. Segala sesuatu yang dipelajari melalui studi-studi ini dapat disebut pendidikan atau pembelajaran, tetapi tidak dapat disebut Vidya.

Vidya adalah kesadaran akan kekuatan yang menggerakkan setiap sel dalam diri kita. Melalui kesadaran inilah manusia memahami makna peristiwa hidup dari lahir hingga mati. Vidya berarti memahami segala sesuatu dalam totalitasnya termasuk mengetahui bagaimana seseorang menanggalkan hidup ini dengan damai. Vidya dalam pengertian sejati, adalah cara hidup yang sesuai dharma.


4. Siapa Vidhyarthi Sejati?

Seorang sejati adalah pencari pengetahuan – ia disebut Vidyarthi: Vidya dan Arthi artinya pencari ilmu. Berbagai kesulitan hidup tidak akan menggoyahkan seorang Vidyarthi.  Ia tetap damai dan memusatkan pikiran terus-menerus kepada Tuhan.

Pengetahuan yang harus dicari adalah pengetahuan tentang Diri Sejati – Atma Jnana, pengetahuan spiritual. Inilah ilmu tertinggi. Seperti sabda dalam Bhagavad Gita: “Adhyatma Vidhya Vidhyanam” – Di antara semua ilmu pengetahuan, Aku adalah pengetahuan tentang Diri Sejati.


5. Keterikatan vs Dharma

Ketika hati diliputi dengan semua jenis keinginan duniawi, maka di sana tidak ada ruang bagi usaha spiritual. 

Ada perbedaan yang sangat luas antara seseorang yang terikat hal-hal duniawi dengan seseorang yang mengabdi pada Dharma. Hal ini dapat digambarkan dengan tindakan Drona dan Bisma, di mana mereka berdua adalah guru utama dari Pandawa dan para Kurawa. Keduanya, baik Bhishma dan Drona, adalah ahli tertinggi dalam seni menggunakan astra (senjata yang diarahkan dengan melantunkan mantra) dan shastra (senjata mematikan). Namun betapa berbedanya di antara keduanya!

Bisma adalah seseorang dengan pikiran spiritual yang tinggi.  Setelah dia terluka di sekujur tubuhnya dan darah mengalir dari luka yang ada, berbaring di atas tempat tidur dari anak panah dalam perang Kurukshetra, sambil mengajarkan Dharma (kebajikan) kepada para Pandawa.  Bhishmacharya diliputi dengan kasih pada Dharma. Hatinya penuh Dharma / Prasasti, menang atas rasa sakit, kehidupan untuk mewujudkan kebenaran.

Sebaliknya, ketika Dronacharya mendengar Yudhistira berkata "Aswatthama hatah" (Aswatthama dibunuh), dia bahkan tidak menunggu untuk mendengar secara utuh bahwa gajah bernama Aswatthama yang telah mati, Dronacharya menyimpulkan bahwa putra -- Aswatthama telah meninggal, dan dia meletakkan senjata dan akhirnya gugur di medan perang. Dronacharya hatinya diliputi dengan kama, keduniawian . Ilmu setinggi langit, tapi runtuh karena moha pada anak. Kalah oleh perasaan, tidak bisa membedakan kebenaran.

Ilmu ibarat pisau. Di tangan Bhishma, pisau itu dipakai membedah Dharma di medan perang. Di tangan Drona, pisau itu justru menusuk dirinya sendiri saat anaknya dikabarkan mati. Bukan pisaunya yang salah, tapi tangan yang memegangnya.



"Nuansa Bhishma di atas ranjang panah, tetap mengajarkan Dharma meski sekarat. 
Simbol karakter mengalahkan gelar.


Kesimpulan :
  1. Kalau sudah penuh dengan keinginan duniawi (harta, anak, nama), maka tidak ada ruang untuk usaha spiritual.
  2. Kepandaian tidak menjamin kemewahan. Drona dan Bhisma sama-sama guru hebat, ahli astra-shastra.  Tapi kualitas batinnya beda jauh. Ilmu tanpa vairagya / ketidak-terikatan akan runtuh saat diuji.
  3. Ukuran manusia sejati adalah reaksinya saat krisis. Drona meletakkan senjatanya karena moha.  Bisma justru bersinar karena Dharma.  Di titik terendah kehidupan, terlihat siapa yang benar-benar mengabdi pada Dharma.

Bisma mengajarkannya justru pada saat desahan. Itulah  kasih pada Dharma — menempatkan kebenaran di atas rasa pribadi.

Pesan praktisnya:
Kurangi bertumpu pada hasil, anak, harta, nama. Isi hati dengan Dharma. Karena saat "perang Kurukshetra" dalam hidup datang — kehilangan, sakit, fitnah — hanya yang hatinya penuh Dharma yang tetap tegak dan bisa menjadi cahaya bagi orang lain, seperti Bisma.

Intinya:
Jadilah Bisma, jangan jadi Drona. Berilmu iya, tapi hati harus untuk Dharma, bukan untuk kama. 

Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menjadi AlatMu, Swami, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca. 🙏


Dikutip dari : 
Wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.





Artikel lainnya :



Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

  Om Swastyastu🙏 Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang men...