1. Inti Ajarannya: Jiwa Kekal, Wujud Yang Berubah
Dalam ajaran Hindu, jiwa atau atman bersifat murni, kekal, dan tidak dapat dihancurkan. Yang berubah hanyalah tubuh, pikiran, dan sifat.
Jiwa dapat diumpamakan seperti udara, sedangkan tubuh manusia, binatang, maupun tumbuhan diumpamakan seperti wadahnya. Wadahnya dapat berbeda-beda, namun hakikat airnya tetap sama. Oleh karena itu, kelahiran sebagai binatang tidak berarti jiwa menjadi rendah, melainkan memperoleh wujud sementara yang sesuai dengan keadaan karmanya.
2. Kelahiran Ditentukan Oleh Karma, Guna, Dan Vasana
Selama manusia belum mencapai Moksa - bebas dari siklus kelahiran dan kematian, selama itu terus akan lahir ke-dunia. Kelahiran berikutnya tidak terjadi secara kebetulan. Ada 3 hal utama yang menentukan Karma, Guna dan Vasana , sebagai berikut :
- Karma baik yang lebih banyak akan mengantarkan pada kelahiran dengan kondisi baik: badan sehat, umur panjang, lahir di keluarga yang mendukung dharma, serta mudah bertemu guru dan ajaran suci.
- Karma buruk yang lebih banyak akan mengantarkan pada kelahiran dengan kondisi sulit: sakit-sakitan, miskin, umur pendek, atau lingkungan yang keras.
Singkatnya: Karma menentukan “kondisi” kelahiran - seperti apa kehidupan yang akan kita jalani.
2). Guna - Sifat Dominan Saat Meninggal.
Manu Smṛti 12.50 : Kelahiran tertinggi sattva adalah para resi, yogi, brahmana, dewa, dan pertapa. Tingkat menengahnya adalah brahmana, ksatriya, waisya yang teguh pada dharma.
b. Rajas – Sifat Aktif, Ambisius, Penuh Nafsu.
c. Tamas - Sifat Malas, Gelap, Lalai.
Tertinggi : rakshasa, pisaca, manusia munafik. Menengah : gajah, kera, singa, harimau. Terendah : tumbuhan, cacing, serangga, ikan, ular, dan hewan ternak.
Singkatnya : Guna menentukan “tingkatan makhluk” - apakah lahir sebagai dewa, manusia, atau hewan.
3). Vasana - Kebiasaan dan Keinginan yang Belum Tuntas
Vasana adalah bekas kebiasaan, hobi, bakat, dan keinginan kuat yang masih tersimpan dalam pikiran bawah sadar. Meski raga sudah mati, vasana tetap terbawa.
Vasana ibarat “kompas” yang menarik kita lahir di situasi yang cocok untuk memenuhi kebiasaan itu.
Contoh: Seseorang yang vasana-nya sangat suka melukis, cenderung lahir di keluarga seniman atau memiliki bakat melukis sejak kecil, meskipun raga dan orang tua baru.
Singkatnya: Vasana menentukan “bakat dan kecenderungan” yang kita bawa sejak lahir.
Pada saat-saat terakhir menjelang ajal, apa pun yang paling dominan memenuhi pikiran, ke sanalah kita akan pergi setelah meninggalkan badan. Oleh karena itu, membiasakan Mengucapkan Nama Suci Tuhan setiap hari melatih pikiran agar secara otomatis mengingat Tuhan saat ajal tiba. Kebiasaan japa dan kīrtan tertanam kuat di alam bawah sadar, sehingga sangat menentukan ke mana roh akan menjelma berikutnya. Seperti air yang menetes terus-menerus dapat melubangi batu, latihan mengingat Tuhan setiap hari membentuk kesadaran kita sampai akhir hidup.
Artinya:
“Wahai putra Kunti, keadaan apa pun yang diingat seseorang ketika meninggalkan badannya pada saat terakhir, ia pasti akan mencapai keadaan itu, karena ia selalu berlangganan.”
Ketiga faktor ini bekerja secara bersamaan :
- Karma = Menentukan kondisi hidup: kaya/miskin, sehat/sakit, umur panjang/pendek
- Guna = Menentukan wujud kelahiran: dewa/manusia/hewan
- Vasana = Menentukan sifat, bakat, dan minat sejak lahir
3. Semua kelahiran adalah ruang belajar
Setiap bentuk kehidupan dipandang sebagai sarana untuk belajar
- Kelahiran sebagai manusia memberikan kesempatan untuk belajar melalui akal, kebijaksanaan, dan pilihan bebas.
- Kelahiran sebagai binatang memberikan kesempatan untuk belajar melalui kesabaran, kesetiaan, dan pengalaman hidup dengan insting dasar.
Contohnya, jiwa yang terlalu melekat pada harta benda dapat terlahir sebagai anjing penjaga, sedangkan jiwa yang suka menipu dapat terlahir sebagai rubah. Tujuannya adalah jiwa agar merasakan hasil dari sifat tersebut dari sudut pandang yang berbeda. "Garuḍa Purana, Preta-Khanda, Bab Tentang Karmaphala Punarjanma"
4. Kenapa penduduk bumi makin penuh, padahal tujuan Moksa?
Ini yang sering terasa kontradiktif. Tujuan tertinggi dalam Hindu adalah Moksa — menyatunya Atman dengan Paramatma, bebas dari punarbawa atau perwujudan. Logikanya, jika banyak orang berbuat baik, seharusnya jumlah manusia berkurang.
Faktanya, manusia semakin banyak. Jiwa yang bereinkarnasi secara terbatas. Tapi jiwa dari alam bawah — hewan, tumbuhan, serangga, asura — terus naik tingkat kelahiran memakai tubuh manusia.
Prosesnya disebut chaturashi lakh yoni : ada 8,4 juta jenis rahim/kelahiran.
- Pohon, serangga, ikan, hewan bisa menjelma naik derajat menjadi manusia jika karma-nya mendukung.
- Manusia bisa menjelma naik derajat ke alam dewa, jika karmanya mendukung, atau tetap menjadi manusia dengan penuh perjuangan, atau bisa turun lagi ke hewan jika karmanya buruk.
Jadi kemunculan populasi manusia sekarang banyak dijelaskan sebagai “ migrasi jiwa” dari yoni bawah ke yoni manusia. Apalagi di zaman Kali Yuga ini, banyak jiwa dari bawah diberi kesempatan lahir sebagai manusia.
Sebaliknya, manusia yang benar-benar mencapai Moksa sangat sedikit. Dalam satu zaman, mungkin hanya ratusan sampai ribuan saja. Miliaran lainnya masih terjebak di samsara, lahir lagi. Jadi jumlah Jiwa yang “keluar” jauh lebih kecil dari yang “masuk” menjadi manusia.
5. Skala waktu manusia vs skala kosmis
Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun, baru berjalan sekarang sekitar 5.121 tahun, sisa lagi 426.879 tahun. Artinya di zaman kali Yuga sekarang kita masih ada peluang menjelma atau diwujudkan ribuan kali lagi.
Populasi manusia naik drastis baru 200-300 tahun terakhir karena teknologi, kemajuan medis, pangan. Jadi diputar 300 tahun ini hanya kedipan mata dalam skala kosmologi.
Dalam jangka panjang, populasi manusia akan naik-turun sesuai dharma dan karma kolektif zaman itu. Di akhir Kali Yuga nanti malah disebut populasi manusia akan menyusut drastis, banyak yang lahir menjadi hewan lagi karena adharma merajalela, artinya banyak karmanya buruk.
Manusia, tidak perlu memikirkan masa lalu dan mengingat masa depan. Merenungkan masa lalu dan mengenang masa depan, manusia kehilangan jejak masa kini.
Masa kini adalah hasil produk dari masa lalu; itu juga merupakan benih untuk masa depan. Masa lalu dan masa depan dengan demikian tertanam dalam masa kini. Manusia sepertinya tidak menghargai kebenaran mendasar ini.
Jika kita menginginkan masa depan yang baik cerah, maka manfaatkanlah saat ini dengan sebaik-baiknya. Masa kini adalah pohon yang tumbuh dari benih yang disebut masa lalu. Pohon ini juga memiliki benih untuk masa depan. Jadi, masa depan sudah ada di sini! Kita harus memanfaatkan saat ini dengan sebaik-baiknya untuk merealisasikan ajaran dharma.
Dari semua makhluk hidup, untuk lahir menjadi manusia adalah kesempatan yang sangat jarang didapat - Jantunam Narajanma Durlabham, jadi sesungguhnya hidup ini merupakan anugerah yang sangat besar. Dengan lahir sebagai manusia, seharusnya berkembang pikiran yang mulia dan mengalami kebahagiaan di dalam diri. Hanya dengan demikian manusia akan benar-benar beruntung.
6. Simpulan
Jumlah jiwa itu tetap. Tidak bertambah, tidak berkurang. Yang berubah adalah tingkat kelahirannya, menjadi manusia.
Manusia bertambah sekarang bukan karena munculnya jiwa baru, tetapi karena banyaknya jiwa dari lahiran bawah yang “lulus” naik menjadi manusia. Sementara dampak yang benar-benar terjadi pada manusia masih terlalu sedikit untuk membuat populasi berkurang secara total.
Jadi, kita tidak perlu takut terlahir menjadi apa pun, karena kita tidak tahu akan terlahir menjadi apa dalam ribuan kali kelahiran berikutnya. Fokuslah pada karma saat ini :
- Berpikir baik — itu adalah benih kelahiran berikutnya.
- Berbuat dharma semampunya — meskipun kecil.
- Mengingat Tuhan — terutama pada saat susah maupun senang.
Apabila hal tersebut dijaga, kita tidak perlu khawatir memikirkan akan dilahirkan kembali satu kali atau seribu kali. Sebab, setiap kelahiran akan menjadi tangga untuk naik menuju kemajuan rohani, bukan untuk jatuh ke dalam keterpurukan.***
Artikel lainnya :
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




