Minggu, 30 Agustus 2026

"MENJADI ALAT-NYA: CATATAN KECIL PENYIRAMAN 45 POHON", di sekitar Pura Segara, Pengambengan - Negara.

Hari Sabtu, 29 Agustus 2026 




Hari itu panas. 
Sudah lama hujan tidak turun. Rumput di nista mandala Pura Segara - Pengambengan menguning dan ada yang terbakar. Di tengahnya, ada 45 pohon muda. Itu pohon yang beberapa bulan lalu kami coba tanam.


Diawali dari Bhajan

Di Sai Center Baluk kami bhajan dulu. Hati ditenangkan. Sesi dharma wacana diisi dengan satsang. 
Dalam satsang para bhakta saling mengisi:
“Bagaimana caranya agar pohon ini tidak mati?”

Ternyata pintu pagar rusak, sebagian tidak ada pagar. Masuklah.

Kami putuskan akan memperbaiki sebisanya. Bukan karena kami mampu. Karena ini tanggung jawab kecil yang ada di depan mata.


Di Ladang yang Kering

Sampai di Pura Segara, pemandangannya pilu. Rumput sebahian terbakar. Tanah kering. Namun 45 pohon itu masih ada. Daunnya beberapa ada yang menunduk.

“Heran ya… yang lain kering, rumput terbakar, 45 pohon ini kok hidup?”, kata seorang Bhakta pelan.

Sambil menyiram dengan bara, kami berandai-andai. "Mungkin rumput yang terbakar ini juga karunia. Kalau subur, sapi pasti datang dan bersamanya."

Seorang bapak tua:
"Ah, ini bukan karena kita. Ini genggaman tangan Swami. Kita ini apa? Hanya alat."

Kami tidak tahu apakah ini ada gunanya. 45 pohon, dibandingkan hutan yang gundul, rasanya seperti setetes air di lautan luas.

Tetapi kami datang lagi hari ini. Bukan karena merasa berjasa. Hanya karena tidak tega meninggalkannya.

Dulu sebelum menanam, SSGI hanya mohon izin kepada Pemangku dan Pemuka Adat. Agar langkah kami tidak salah. 

Kami sadar. Apa yang kami lakukan ini terlalu kecil. 
Satu ember udara tidak akan menghentikan kekeringan. 45 pohon tidak akan mengembalikan hutan.

Tetapi Baba mengajarkan: 
"Lakukan yang bisa kamu lakukan, dengan cinta, tanpa pamrih".

Selama ini yang nyiram hanya Bhakta SSG Baluk, tiap sore, bergiliran.
Nanti kalau ada waktu, SSG lain ingin coba bantu. Bukan karena wajib. Hanya karena ingin ikut merasakan jadi "alat".


Wejangan Baba

Sambil menyiram, kami ingat sabda Baba:
“Alam menyediakan semua yang kita perlukan, tapi tidak semua yang kita inginkan. Gunakan secukupnya, terima kasih sepenuhnya.”

 Manusia merusak alam, lalu alam bereaksi. Banjir, kering, sakit. Alam tidak bisa terus menanggung beban keserakahan manusia.

Baba juga berkata:
“Tugas utama manusia adalah berbagi lingkungan. Jagalah sebagai wujud syukur. Menanam 1 pohon. Menyiram 1 tanaman. Mengurangi 1 plastik. Itulah Seva.”

Itu saja yang kami coba lakukan. Sesuatu yang kecil. Yang tidak terlihat.


penutup 

Pulang dengan badan lelah dan hati yang...biasa saja. Bukan bangga. Hanya bersyukur masih diberi kesempatan jadi alat. 

Semoga dari tetes air yang kecil ini, ada setitik cinta yang tumbuh. Bukan karena kami. Tetapi karena kemauannya. 

"Kami Siap Menjadi AlatMu Swami"











Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Jumat, 07 Agustus 2026

KAILASH, SINGGASANA SIWA YANG TAK TERSENTUH

Berdasarkan Siwa Purana, Ramayana, dan tradisi Hindu.


Himalaya
Sumber Internet.


1. Pendahuluan

Ada tempat di bumi yang tidak berani disentuh manusia. Bukan karena dilarang, tapi karena kita tahu — di sanalah diamnya Semesta. Gunung Kailash. Rumah Mahadewa Siwa dan Dewi Parwati. Melalui rangkuman satsang ini, mari kita mendekat tanpa mendaki. Mendengar tanpa mengganggu. Belajar tanpa menggurui. 


2. Singgasana di Atas Gunung

Di jajaran Pegunungan Himalaya, ada sebuah gunung bernama Gunung Kailash, tingginya sekitar 6.600 meter, berada di Prefektur Ngari, Wilayah Otonomi Tibet, Tiongkok. Dari satelit, bentuk Gunung Kailash tampak seperti piramida sempurna dengan 4 sisi menghadap 4 arah mata angin, itu hasil erosi alami dalam kosmologi Hindu dimaknai sebagai Mandala
Banyak yang percaya ini bukan gunung alami, tapi piramida buatan peradaban kuno atau bahkan “antena energi” yang menghubungkan bumi dan langit. 
Sampai sekarang belum ada penjelasan geologi yang pasti tentang hal ini (belum bisa diungkap). 

Bagi umat Hindu, gunung Kailash bukan sekadar batu dan salju, namun tempat suci diyakini sebagai tempat bersemayam Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Gunung Kailash diselimuti salju abadi, sepi, anginnya kencang. Persis seperti sifat Siwa yang tenang di luar, tapi di dalamnya ada kekuatan penghancur dan pencipta. 

Siwa memilih Gunung Kailash karena Beliau pertapa. Dia tidak membutuhkan istana emas. Dia membutuhkan tempat yang sunyi, tinggi, dingin, dan jauh dari keramaian dunia. Dia membutuhkan ketenangan. Kalau Siwa bermeditasi di sana, getarannya bisa menjaga keseimbangan seluruh dunia. 
Dalam kosmologi Hindu, Gunung Kailash adalah poros alam semesta atau "axis mundi". Ibarat tiang yang menghubungkan bumi, surga, dan dunia bawah. 

Di puncak Gunung Kailash, Siwa duduk bermeditasi dengan mata terpejam. Rambutnya gimbal menahan Sungai Gangga. Lehernya biru karena menelan racun dunia halahala  (ketika para dewa dan raksasa mencari Tirta Amrita). Dipangkuannya kadang ada Parwati. Ganesha dan Kartikeya kadang bermain di sekitarnya.
Parwati yang mengurus “rumah tangga”, menjaga agar Kailash tetap menjadi tempat yang damai. Tapi kalau Siwa terus berdetak, dunia bisa berhenti. 

Di kaki Gunung Himalaya ada danau kembar yaitu Danau Manasarovar dan Danau Rakshastal
Danau Manasarovar airnya jernih dan suci, bentuknya bulat seperti Matahari simbul kemurnian. Konon danau itu diciptakan dari pikiran Dewa Brahma kemudian diwujudkan oleh Siwa untuk Parwati. Setiap pagi Dewi Parwati mandi di Danau tersebut. 
Di sebelahnya ada Danau Rakshastal,  airnya asin, bentuknya bulan sabit, energi gelap. Danau tempat Rahwana bermeditasi. 
Dua danau ini dipisahkan tanah sempit, namun airnya tidak pernah menyatu. Seperti dharma dan adharma tidak pernah bercampur.

Para peziarah ketika mengelilingi Gunung Kailash ( Parikrama atau Kora ), dengan berjalan kaki mereka yakin sedang mengelilingi Istana Dewa Siwa.  Satu putaran (52 km) dipercaya bisa menghapus segala dosa. 108 kali putaran (108 x 52 km = 5.616 km) konon dipercaya bisa mencapai moksha — lepas dari siklus samsara.

Jadi Kailash bukan sekedar gunung. Kailash adalah Singgasana Maha Dewa (Siwa). Kalau orang mengatakan "Siwa bersemayam di Himalaya", yang paling spesifik yang dimaksud adalah di Gunung Kailash.



Gambar Ilustrasi
Sumber Internet.



3. Kenapa Tak Boleh Didaki

Sampai hari ini, tidak ada orang yang pernah sampai ke puncak Gunung Kailash. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak boleh. 
Ada empat alasan kenapa orang tidak diperbolehkan mendaki di Gunung Kailash :

1). Tempat Suci Empat Agama .
Umat ​​​​​​​​​​​​​​​​​Hindu percaya Kailash merupakan Istana Dewa Siwa.  Sementara bagi umat Budha Tibet, gunung Kailash adalah Gunung Meru, tempat Demchok dan Buddha Chakrasamvara , Umat Jain meyakini di Kailash lah Rishabhadeva mencapai moksha. Agama Bon menyebut Kailash sebagai pusat spiritual dunia.

Gunung Kailash bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipuja. Mendaki Kailash yang suci berarti mengganggu Dewa Siwa yang sedang bermeditasi. Oleh karena itulah belum ada orang yang mendaki di Gunung Kailash.

2). Dilarang negara.
Pemerintah Tiongkok melarang semua pendakian sejak tahun 2001. Gunung Kailash dilindungi. Tahun 1980-an, pendaki legendaris Reinhold Messner bahkan menolak tawaran izin pendakian, Dia mengatakan, "Kalau kita taklukkan gunung Kailash, berarti kita 'meletakkan' sesuatu di jiwa manusia".

3). Tantangan Fisika Ekstrem
Ketinggian Gunung Kailash sekitar 6.600 m dengan tebing hampir vertikal, batu tidak stabil, angin kencang, cuaca berubah dalam hitungan menit, suhu rendah di bawah 0 derajat Celcius, salju berlimpah. Lokasinya terpencil dan sangat berisiko, menyebabkan hampir mustahil.

4). Tabu Budaya Lokal
Cerita turun-temurun menyatakan, siapa pun yang mencapai puncak Gunung Kailash akan terkena bencana. Bahkan membayangkan mendaki Gunung Kailash pun sebaiknya dihindari.

Satu kutipan terkenal dari pemimpin Tibet menyatakan : “Hanya orang yang sepenuhnya bebas dari dosa yang bisa mendaki Kailash. Dan dia tidak perlu mendaki — dia tinggal terbang seperti burung ke puncak”.

Dalam Sastra Buddha Tibet ada disebutkan, di balik Kailash ada kerajaan gaib bernama Shambhala- tempat orang bijak dan orang abadi tinggal. Konon hanya orang yang “hatinya murni” yang bisa melihat gerbang kerajaan tsb. Beberapa ekspedisi malah hilang tanpa jejak ketika berusaha mencari gerbang kerajaan itu. 

Penjaga dan biksu di biara sekitarnya sering mendengar suara genderang, bel, atau mantra “Om” dari arah puncak saat tengah malam. Padahal dipuncak tidak ada orang. diyakini itu suara para dewa atau makhluk suci lainnya yang bermeditasi di sana. 

Menurut cerita lisan peziarah, hanya mendaki beberapa jam saja di lereng bawah, belum sampai puncak, kuku dan rambut tumbuh seperti sudah 2 minggu, kulit keriput (penuaan super cepat). Jam tangan tidak menunjukkan fungsi yang sebenarnya, waktu di sekitar Kailash berjalan berbeda.


4. Rahwana Menantang Siwa, mau memindahkan Kailash

Rahwana, raja Alengka, sakti terkenal, Dia mempunyai sepuluh kepala, dua puluh tangan. Rahwana penyembah Siwa paling taat, tapi juga sangat ego dan sombong.

Suatu hari Rahwana naik kendaraan Pushpaka Vimana terbang keliling dunia. Pas lewat di atas Kailash, kendaraannya tiba-tiba tidak dapat melanjutkan perjalanan dan jatuh. Tidak bisa terbang lagi.

Rahwana marah. Dia bertanya kepada Nandi, sapi penjaga Siwa, "Kenapa aku tidak boleh lewat?"
Nandi jawab santai: "Ini rumah tuanku. Tidak ada yang boleh terbang di atas kepala Mahadewa. Kalau mau lewat, muter."
Rahwana, egonya muncul, Dia berkata: "Siapa Siwa? Gunung saja disembah. Akan kuangkat gunung ini dan kubawa ke Alengka agar tuanku tinggal di istanaku"!

Rahwana turun, masang 20 tangan ke dasar Kailash. Dengan kesaktian, dia menggoyang gunung itu. Kailash berguncang. Dewi Parwati ketakutan dan berpegangan pada Siwa.
Siwa yang sedang bermeditasi hanya membuka mata sedikit. Lalu Siwa menekan jempol kakinya ke tanah. 
Bruk..., (suara injakan jempol kaki Siwa).
Seluruh Kailash menekan balik. Tangan Rahwana terjepit di bawah gunung. Dia berteriak kesakitan, 
"Aaaarrgghh......"
Teriakannya menggema sampai ke tiga dunia. 
Makanya dia dijuluki Rahwana, dari kata Rava yang artinya teriak.

Setelah 1.000 tahun tangan Rahwana terjepit Kailash akhirnya dia sadar dan mulai menyanyikan pujian untuk Siwa. Nyanyian itu kini dikenal sebagai Shiva Tandava Stotram. (Siwa..Siwa..Sambo Tandawa Priya Kara...,).

Siwa luluh, lalu angkat jempol kaki-Nya. Rahwana menjadi bebas. Siwa kemudian memberi Pedang Sakti  Chandrahas sebagai hadiah, tapi juga kutukan: "Karena kesombonganmu, kamu akan mati di tangan manusia jelmaan-Ku" , kata Siwa.  Dan benarlah terjadi Rahwana gugur di tangan Rama.



Gambar Ilustrasi:
Kendaraan Pushpaka Vimana,
pesawat super canggih zaman kuno
milik Rahwana - Raja Alengka
Sumber foto: Sahabat.


5. Maknanya

Cerita ini mengingatkan bahwa sesakti apapun, kalau sudah ego di depan Siwa, bakal dijepit. Kailash bukan gunung yang bisa dipindahkan. Dia "poros dunia". Siwa diam saja sudah membuat dunia bergetar, apalagi kalau marah. 


6. Pelajaran dari Kailash

Yang Maha Tinggi tidak perlu dibuktikan dengan naik ke puncaknya. Cukup menunduk, maka kita sudah sampai. Sebab Kailash sejati ada di hati yang hening — tempat Siwa bertahta dalam diam. "Kailash bukan di Tibet. Kailash adalah hatimu ketika hening. Di sanalah Siwa bersemayam" , kata Sri Sathya Sai Baba. (Kata-kata mutiara).

Makanya sampai sekarang, Kailash tetap perawan, belum ada yang mendakinya.
__"Singgasana yang tak tersentuh. Singgasana bagi Dia yang menjaga dunia dalam diam".__


7. Penutup 

Kailash mengingatkan kita: tidak semua yang tinggi harus didaki, tidak semua yang suci harus dimiliki.
Kadang-kadang cukup dengan mengelilinginya dalam hati, dengan niat tulus dan pikiran jernih. 
Semoga setiap kata di sini menjadi setetes air dari Danau Manasarovar — menyucikan, menenangkan, dan menguatkan langkah kita dalam merawat Dharma.
Mohon maaf jika ada yang salah. 
Om Shanti Shanti Shanti Om🙏


Tonton Video penjelasan tentang Kailash:




Catatan Sumber: ‌
  • Shiva Purana, bagian kisah Siwa-Parwati di Kailash Vidyesvara Samhita 11.
  • Ramayana, versi Uttara Kanda - kisah Rahwana mengangkat Kailash.
  • Skanda Purana - tentang Danau Manasarovar dan kesucian Kailash.
  • Satsang "Cerita ulang dengan Sahabat, 20 April 2026".

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

"MENJADI ALAT-NYA: CATATAN KECIL PENYIRAMAN 45 POHON", di sekitar Pura Segara, Pengambengan - Negara.

Hari Sabtu, 29 Agustus 2026   Hari itu panas.  Sudah lama hujan tidak turun. Rumput di nista mandala Pura Segara - Pengambengan meng...