Sumber foto Internet.
Pada bulan Januari 2026 lalu masyarakat Bali (khususnya umat Hindu) dibuat heboh dengan adanya ide utk mengubah tegak tawur agung dan Nyepi yang sdh berjalan sejak ratusan tahun sampai sekarang yaitu Tawur saat Tilem, Nyepi setelah Tilem.
Kelompok SKHDN (Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara) yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Bali ingin memajukan pelaksanaan Tawur Kasanga sehari sebelum Tilem Kasanga dan Nyepi pada Tilem Kasanga.
Pesamuhan Agung SKHDN pada 30 Desember 2025 lalu yang berlangsung di kantor Gubernur Bali, memutuskan tentang Tika dan tegak Nyepi, sifatnya adalah draf (keputusan sementara) dalam pengertian keputusan ini akan disampaikan kepada Gubernur sebagai Guru Wisesa yang dapat mengambil keputusan. Mari kita simak
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk "mengubah" konsep Nyepi secara sembarangan. Langkah yang diambil Sabha Kretha adalah mengembalikan pelaksanaan Nyepi pada konsep esensi leluhur untuk menghindari apa yang disebut sebagai hari Ngelawean—hari yang dianggap tidak baik untuk melakukan pemujaan atau aktivitas spiritual tertentu.
“Kami tidak berubah, kami ingin mengembalikan konsep ajaran leluhur agar tidak terjadi perbedaan persepsi yang justru merugikan umat,” tegas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. ( Mari kita simak )
Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan Nyepi adalah soal adat dan budaya dresta Bali. Alasannya kitab suci Hindu tak ada yang menyebutkan soal Nyepi. Lalu wilayah yang terkena Nyepi hanya di Bali. Umat Hindu yg bukan dresta Bali tak mengenal Nyepi.
Namun di sisi lain ada pendapat Nyepi adalah bagian dari agama Hindu meskipun hanya berlaku di Nusantara dan wilayah yang hanya dipakai di Bali. Keputusan dalam urusan agama ini adalah PHDI Pusat yg diayomi Kementrian Agama.
Nah sampai kapan pendapat itu dipertemukan sepertinya urusan masih panjang. Dan Gubernur Bali Wayan Koster tampak lebih tertarik membuat Forum Diskusi yg lain (SKHDN) untuk membahas masalah ini dp membahasnya dengan Sabha Pandita PHDI Pusat. Ini terkesan SKHDN menyaingi Sabha Pandita PHDI Pusat.
"Siapakah saya dan Anda, adakah yang merasa lebih mumpuni dibandingkan tabik :
- Ida Pedanda Made Sidemen (Maha Pandita & Maha-Kawi),
- I Gusti Putu Djelantik (Raja Buleleng) dan
- I Gusti Bagus Sugriwa (Tokoh Rohani & Mahaguru Sastra Kawi)?
Tercatat th 1935 sampai sekarang Nyepi dilaksanakan setelah Tilem (sebenarnya jauh sebelum 1935 sdh dilaksanakan Nyepi setelah Tilem. Namun demikian pada th 1960 sd th1966 Nyepi pernah dilaksanakan saat Tilem. Nyepi saat Tilem th 1960 sd th 1966 ada sesuatu yang berkaitan dengan hal dg kejadian alam. Para Bijak Waskita (para suci) dan tokoh-tokoh Agama Hindu zaman itu menilai kejadian itu sbg ada yg tdk tepat, shg mulai 27 Maret 1967 dikembalikan lah Nyepi setelah Tilem. Pada pesamuhan Agung PHDI Pusat yang diselenggarakan tanggal 22-23 Pebruari 1970 menegaskan kembali bahwa Tawur dilaksanakan pada Tilem sesuai tradisi kuno, yaitu Nyepi setelah Tilem.
Para pendahulu (Pandita) zaman dulu sangat bijak, beliau bekerja dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, tanpa disertai maksud-maksud tertentu telah memutuskan / menetapkanlah tegak tawur agung / Nyepi spt sekarang, yaitu Nyepi setelah Tilem. Mari kita hormati, hargai, para Bijak Waskita zaman dulu yg hatinya Luhur, suci Nirmala tdk ada yg menyamai di zaman kali/edan ini, yg telah menetapkan bahwa Nyepi setelah Tilem.
Upacara Macaru (Tawur Kasanga) pd Tilem sasih Kasanga, dan Nyepi pd Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa sudah sejak lama ditulis dan dipublikasikan oleh tokoh-tokoh Hindu Dharma di Bali.
Berikut ini beberapa info yang saya dapatkan :
Pada th 1953, I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dlm artikelnya berjudul Hari Raya Nyepi yang dimuat dalam Majalah Indonesia no. 4, April 1953, menyebutkan bahwa upacara Macaru (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem sasih Kasanga dan besoknya setelah matahari terbit dilaksanakan Nyepi (Sipeng). Kini artikel tsb diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sastra th 2008 dalam buku berjudul Karya Tercecer I Gusti Bagus Sugriwa. Dalam buku tsb berisi 2 tulisan dari I Gusti Bagus Sugriwa (alm) yaitu Hari Raya Nyepi dan Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika.
Pada buku Upadesa yang disusun th 1964, disebutkan pada Tileming Kasanga adalah hari Pangerupukan diadakan upacara Bhuta Yadnya dan Nyepi jatuh sehari setelah Tileming Kasanga yaitu pada Pananggal 1 sasih Kadasa.
Perlu diketahui, bahwa buku Upadesa th 1964 disusun oleh 7 orang tokoh Hindu yaitu : Ida Pedanda Gede Wayahan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Oka Punia Atmaja, Ida Bagus Dosther, Cokorda Rai Sudharta, Ida Bagus Alit dan Nyoman Merta (beberapa di antaranya menjadi sulinggih dan kini semuanya sudah terlambat). Buku Upadesa tsb diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma (PHD) Pusat pada th 1967.
Pada th 1972, I Gusti Agung Gede Putra (Cudamani) menyebutkan upacara Macaru dilaksanakan pada Tilem Kasanga dan besok harinya setelah Pangerupukan atau Macaru, Hari Raya Nyepi.
Berikutnya pd th 1973, Dinas Agama Hindu dan Budha Kab. Buleleng mengeluarkan padoman Hari Raya Nyepi bulan Maret 1973. Pada pedoman tsb disebutkan Pacaruan (Bhuta Yadnya) dan Pangerupukan dilakukan pada Tileming sasih Kasanga dan keesokan harinya, pada Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa adalah Nyepi (Sipeng). Turut memberi restu pada pedoman Hari Raya Nyepi tsb adalah Parisada Hindu Dharma (PHD) Kab. Buleleng, Ida Pedanda Putra Kemenuh.
Setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sbg hari libur nasional sejak th 1983, banyak tokoh-tokoh Hindu yg menulis mengenai Hari Raya Nyepi yg semuanya menyebutkan upacara Macaru/Tawur Kasanga (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem Kasanga (Caitra/Cetra) dan Nyepi pada Pananggal 1 sasih Kadasa (Waisaka/Wesaka).
Tulisan tsb ada dalam bentuk buku dan ada juga dimuat dalam surat kabar. Tokoh-tokoh atau penulis-penulis tsb spt :
- Nyoman S. Pendit,
- Tjok. Rai Sudharta,
- Ngurah Oka Supartha,
- I Gusti Ketut Widana,
- Aku membuat Titib,
- K. Kebek Sukarsa,
- dan masih banyak lagi yg lainnya (kini beberapa di antaranya sudah meninggal).
Dengan adanya ide perubahan pohon Nyepi oleh kelompok SKHDN yg banyak menuai kontra, maka PHDI Bali mengadakan Pesamuhan Madya pada Jumat 9 Januari 2026 di aula kantor PHDI Bali yang diikuti PHDI Propinsi/Kabupaten/Kota se-Bali, Ormas Hindu, Pasemetonan se-Bali, Organisasi-Yayasan-Lembaga bernafaskan Hindu, menghadirkan narasumber Sugi Lanus ( Pakar Filologi Bali dan Jawa Kuna ), Dr. Made Gami Sandi Untara, Made Suacana, dan dua narasumber yang tidak sempat hadir mengirimkan naskah tertulis, yakni Sabha Wiku Kabupaten Klungkung (Ida Pedanda Putra Batuaji) dan AAGN Ari Dwipayana dari Yayasan Puri Kauhan Ubud. Hadir juga Anggota DPR RI Dapil Bali, Anggota DPD RI Dapil Bali, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Dr. I Gusti Made Sunarta, S.Ag., M.Ag., dan banyak tokoh lainnya.
Dalam pandangan umum, seluruh PHDI Kabupaten/Kota se-Bali mengumandangkan sikap bahwa, Pelaksanaan Tawur Tetap Pada Tilem Kesanga, Dan Hari Suci Nyepi Dilaksanakan Hari Berikutnya. Sikap yg sama juga dinyatakan oleh pimpinan organisasi, pasemetonan, lembaga, seperti Paiketan Krama Bali, Pinandita Sanggraha Nusantara, KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia) Bali, Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi Pusat, Pesemetonan Arya Kanuruhan, Peradah Bali, Pandu Nusa dll. Seluruh narasumber seminar memaparkan referensi, baik sastra maupun tradisi, pelaksanaan Tawur jatuh di Tilem Kasanga dan tidak ada Nyepi di Tilem Kasanga.
Hasil seminar inilah yang disetujui oleh Pesamuhan Madya yang kemudian diteruskan ke Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat untuk dibahas.
Sesuai mekanisme organisasi, Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat hanya memutuskan apa yang sudah diolah bahannya oleh Sabha Walaka. Dalam kasus ini peran Sabha Walaka diambil oleh Pesamuhan Madya PHDI Bali.
PHDI Pusat melaksanakan Pesamuhan Agung yg diluar jadwal (dipakai istilah Fokus Group Discussion/FGD), berlangsung di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar pada Minggu 11 Januari 2026 yg lalu, dipimpin langsung Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, didampingi Sekretaris Umum PHDI Pusat Ketut Budiasa. Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat Menetapkan Pelaksanaan Tawur Kasanga Pada Tilem Kasanga , dan Nyepi Berikutnya Harinya Seperti Yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun.
Sabha Pandita, adalah Pemucuk (pimpinan tertinggi) PHDI yang terdiri dari 33 Sulinggih/Pandita Hindu dari seluruh Nusantara.
Tujuannya utk menggeser Tawur dan Nyepi tidak memiliki dasar sastra yang kuat, adalah suatu tindakan grasa-grusu yang hanya akan membingungkan seluruh umat Hindu di Indonesia.
Zaman kali / edan sekarang ini, ada pandita yg tdk bisa menjadi contoh yg baik kepada umat, ada pandita yg menjelek-jelekkan pandita lainnya, kita tdk tahu apa motivasinya.
Pandita seharusnya sdh selesai ngurus dirinya, artinya sdh tdk terikat lagi dg keduniawian, tdk bantahan mencari orderan muput karya dan mengisi dharma wacana yg ujung-ujungnya sebenarnya hanya nyari sari/daksina/honorarium/amplop.
Begitu juga apa yg sdh berjalan puluhan tahun spt Tegak Nyepi yang sudah ditetapkan Para Pandita zaman dulu yg tentunya berdasarkan sastra agama hendaknya jangan diutak-atik supaya umat jangan bingung.
Jadi kesimpulannya : Tawur pada saat Tilem, Nyepi pada penanggal 1 sasih kedasa , spt yg sdh berjalan selama ini.***
















