Minggu, 08 Februari 2026

Heboh Polemik Pergeseran Tegak Nyepi

Sumber foto Internet.


Pada bulan Januari 2026 lalu masyarakat Bali (khususnya umat Hindu) dibuat heboh dengan adanya ide utk mengubah tegak tawur agung dan Nyepi yang sdh berjalan sejak ratusan tahun sampai sekarang yaitu Tawur saat Tilem, Nyepi setelah Tilem.

Kelompok SKHDN (Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara) yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Bali ingin memajukan pelaksanaan Tawur Kasanga sehari sebelum Tilem Kasanga dan Nyepi pada Tilem Kasanga.
Pesamuhan Agung SKHDN pada 30 Desember 2025 lalu yang berlangsung di kantor Gubernur Bali, memutuskan tentang Tika dan tegak Nyepi, sifatnya adalah draf (keputusan sementara) dalam pengertian keputusan ini akan disampaikan kepada Gubernur sebagai Guru Wisesa yang dapat mengambil keputusan.  Mari kita simak


Sumber foto Internet.



Kesimpulan kami di Sabha Kretha melihat Tilem (bulan mati) sebagai akhir atau penutup tahun. Ketika memasuki Penanggal Apisan (tanggal 1), itu sudah memasuki sasih yang berbeda,” ujar Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, SKHDN (Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara).

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk "mengubah" konsep Nyepi secara sembarangan. Langkah yang diambil Sabha Kretha adalah mengembalikan pelaksanaan Nyepi pada konsep esensi leluhur untuk menghindari apa yang disebut sebagai hari Ngelawean—hari yang dianggap tidak baik untuk melakukan pemujaan atau aktivitas spiritual tertentu.
“Kami tidak berubah, kami ingin mengembalikan konsep ajaran leluhur agar tidak terjadi perbedaan persepsi yang justru merugikan umat,” tegas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. ( 
Mari kita simak  )

Sumber foto Internet.


Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan Nyepi adalah soal adat dan budaya dresta Bali. Alasannya kitab suci Hindu tak ada yang menyebutkan soal Nyepi. Lalu wilayah yang terkena Nyepi hanya di Bali. Umat ​​​​Hindu yg bukan dresta Bali tak mengenal Nyepi.

Namun di sisi lain ada pendapat Nyepi adalah bagian dari agama Hindu meskipun hanya berlaku di Nusantara dan wilayah yang hanya dipakai di Bali. Keputusan dalam urusan agama ini adalah PHDI Pusat yg diayomi Kementrian Agama.

Nah sampai kapan pendapat itu dipertemukan sepertinya urusan masih panjang. Dan Gubernur Bali Wayan Koster tampak lebih tertarik membuat Forum Diskusi yg lain (SKHDN) untuk membahas masalah ini dp membahasnya dengan Sabha Pandita PHDI Pusat. Ini terkesan SKHDN menyaingi Sabha Pandita PHDI Pusat.

"Siapakah saya dan Anda, adakah yang merasa lebih mumpuni dibandingkan tabik :

  1. Ida Pedanda Made Sidemen (Maha Pandita & Maha-Kawi),
  2. I Gusti Putu Djelantik (Raja Buleleng) dan
  3. I Gusti Bagus Sugriwa (Tokoh Rohani & Mahaguru Sastra Kawi)?
Sumber foto Internet

Sumber foto Internet

Sumber foto Internet

Tercatat th 1935 sampai sekarang Nyepi dilaksanakan setelah Tilem (sebenarnya jauh sebelum 1935 sdh dilaksanakan Nyepi setelah Tilem. Namun demikian pada th 1960 sd th1966 Nyepi pernah dilaksanakan saat Tilem. Nyepi saat Tilem th 1960 sd th 1966 ada sesuatu yang berkaitan dengan hal dg kejadian alam. Para Bijak Waskita (para suci) dan tokoh-tokoh Agama Hindu zaman itu menilai kejadian itu sbg ada yg tdk tepat, shg mulai 27 Maret 1967 dikembalikan lah Nyepi setelah Tilem.  Pada pesamuhan Agung PHDI Pusat yang diselenggarakan tanggal 22-23 Pebruari 1970 menegaskan kembali bahwa Tawur dilaksanakan pada Tilem sesuai tradisi kuno, yaitu Nyepi setelah Tilem.

Sumber gambar Internet

Para pendahulu (Pandita) zaman dulu sangat bijak, beliau bekerja dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, tanpa disertai maksud-maksud tertentu telah memutuskan / menetapkanlah tegak tawur agung / Nyepi spt sekarang, yaitu Nyepi setelah Tilem. Mari kita hormati, hargai, para Bijak Waskita zaman dulu yg hatinya Luhur, suci Nirmala tdk ada yg menyamai di zaman kali/edan ini, yg telah menetapkan bahwa Nyepi setelah Tilem.

Upacara Macaru (Tawur Kasanga) pd Tilem sasih Kasanga, dan Nyepi pd Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa sudah sejak lama ditulis dan dipublikasikan oleh tokoh-tokoh Hindu Dharma di Bali.

Berikut ini beberapa info yang saya dapatkan :

Pada th 1953, I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dlm artikelnya berjudul Hari Raya Nyepi yang dimuat dalam Majalah Indonesia no. 4, April 1953, menyebutkan bahwa upacara Macaru (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem sasih Kasanga dan besoknya setelah matahari terbit dilaksanakan Nyepi (Sipeng). Kini artikel tsb diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sastra th 2008 dalam buku berjudul Karya Tercecer I Gusti Bagus Sugriwa. Dalam buku tsb berisi 2 tulisan dari I Gusti Bagus Sugriwa (alm) yaitu Hari Raya Nyepi dan Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika.

Pada buku Upadesa yang disusun th 1964, disebutkan pada Tileming Kasanga adalah hari Pangerupukan diadakan upacara Bhuta Yadnya dan Nyepi jatuh sehari setelah Tileming Kasanga yaitu pada Pananggal 1 sasih Kadasa.
Perlu diketahui, bahwa buku Upadesa th 1964 disusun oleh 7 orang tokoh Hindu yaitu : Ida Pedanda Gede Wayahan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Oka Punia Atmaja, Ida Bagus Dosther, Cokorda Rai Sudharta, Ida Bagus Alit dan Nyoman Merta (beberapa di antaranya menjadi sulinggih dan kini semuanya sudah terlambat). Buku Upadesa tsb diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma (PHD) Pusat pada th 1967.

Pada th 1972, I Gusti Agung Gede Putra (Cudamani) menyebutkan upacara Macaru dilaksanakan pada Tilem Kasanga dan besok harinya setelah Pangerupukan atau Macaru, Hari Raya Nyepi.

Berikutnya pd th 1973, Dinas Agama Hindu dan Budha Kab. Buleleng mengeluarkan padoman Hari Raya Nyepi bulan Maret 1973. Pada pedoman tsb disebutkan Pacaruan (Bhuta Yadnya) dan Pangerupukan dilakukan pada Tileming sasih Kasanga dan keesokan harinya, pada Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa adalah Nyepi (Sipeng). Turut memberi restu pada pedoman Hari Raya Nyepi tsb adalah Parisada Hindu Dharma (PHD) Kab. Buleleng, Ida Pedanda Putra Kemenuh.

Setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sbg hari libur nasional sejak th 1983, banyak tokoh-tokoh Hindu yg menulis mengenai Hari Raya Nyepi yg semuanya menyebutkan upacara Macaru/Tawur Kasanga (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem Kasanga (Caitra/Cetra) dan Nyepi pada Pananggal 1 sasih Kadasa (Waisaka/Wesaka).

Tulisan tsb ada dalam bentuk buku dan ada juga dimuat dalam surat kabar. Tokoh-tokoh atau penulis-penulis tsb spt :

  1. Nyoman S. Pendit,
  2. Tjok. Rai Sudharta,
  3. Ngurah Oka Supartha,
  4. I Gusti Ketut Widana,
  5. Aku membuat Titib,
  6. K. Kebek Sukarsa,
  7. dan masih banyak lagi yg lainnya (kini beberapa di antaranya sudah meninggal).

Dengan adanya ide perubahan pohon Nyepi oleh kelompok SKHDN yg banyak menuai kontra, maka PHDI Bali mengadakan Pesamuhan Madya pada Jumat 9 Januari 2026 di aula kantor PHDI Bali yang diikuti PHDI Propinsi/Kabupaten/Kota se-Bali, Ormas Hindu, Pasemetonan se-Bali, Organisasi-Yayasan-Lembaga bernafaskan Hindu, menghadirkan narasumber Sugi Lanus (  Pakar Filologi Bali dan Jawa Kuna  ), Dr. Made Gami Sandi Untara, Made Suacana, dan dua narasumber yang tidak sempat hadir mengirimkan naskah tertulis, yakni Sabha Wiku Kabupaten Klungkung (Ida Pedanda Putra Batuaji) dan AAGN Ari Dwipayana dari Yayasan Puri Kauhan Ubud. Hadir juga Anggota DPR RI Dapil Bali, Anggota DPD RI Dapil Bali, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Dr. I Gusti Made Sunarta, S.Ag., M.Ag., dan banyak tokoh lainnya.

Dalam pandangan umum, seluruh PHDI Kabupaten/Kota se-Bali mengumandangkan sikap bahwa, Pelaksanaan Tawur Tetap Pada Tilem Kesanga, Dan Hari Suci Nyepi Dilaksanakan Hari Berikutnya. Sikap yg sama juga dinyatakan oleh pimpinan organisasi, pasemetonan, lembaga, seperti Paiketan Krama Bali, Pinandita Sanggraha Nusantara, KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia) Bali, Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi Pusat, Pesemetonan Arya Kanuruhan, Peradah Bali, Pandu Nusa dll. Seluruh narasumber seminar memaparkan referensi, baik sastra maupun tradisi, pelaksanaan Tawur jatuh di Tilem Kasanga dan tidak ada Nyepi di Tilem Kasanga.
Hasil seminar inilah yang disetujui oleh Pesamuhan Madya yang kemudian diteruskan ke Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat untuk dibahas.

Sesuai mekanisme organisasi, Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat hanya memutuskan apa yang sudah diolah bahannya oleh Sabha Walaka. Dalam kasus ini peran Sabha Walaka diambil oleh Pesamuhan Madya PHDI Bali.

PHDI Pusat melaksanakan Pesamuhan Agung yg diluar jadwal (dipakai istilah Fokus Group Discussion/FGD), berlangsung di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar pada Minggu 11 Januari 2026 yg lalu, dipimpin langsung Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, didampingi Sekretaris Umum PHDI Pusat Ketut Budiasa. Pesamuhan Agung Sabha Pandita PHDI Pusat Menetapkan Pelaksanaan Tawur Kasanga Pada Tilem Kasanga , dan Nyepi Berikutnya Harinya Seperti Yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun.
Sabha Pandita, adalah Pemucuk (pimpinan tertinggi) PHDI yang terdiri dari 33 Sulinggih/Pandita Hindu dari seluruh Nusantara.

Tujuannya utk menggeser Tawur dan Nyepi tidak memiliki dasar sastra yang kuat, adalah suatu tindakan grasa-grusu yang hanya akan membingungkan seluruh umat Hindu di Indonesia.

Zaman kali / edan sekarang ini, ada pandita yg tdk bisa menjadi contoh yg baik kepada umat, ada pandita yg menjelek-jelekkan pandita lainnya, kita tdk tahu apa motivasinya.
Pandita seharusnya sdh selesai ngurus dirinya, artinya sdh tdk terikat lagi dg keduniawian, tdk bantahan mencari orderan muput karya dan mengisi dharma wacana yg ujung-ujungnya sebenarnya hanya nyari sari/daksina/honorarium/amplop.

Begitu juga apa yg sdh berjalan puluhan tahun spt Tegak Nyepi yang sudah ditetapkan Para Pandita zaman dulu yg tentunya berdasarkan sastra agama hendaknya jangan diutak-atik supaya umat jangan bingung.

Jadi kesimpulannya : Tawur pada saat Tilem, Nyepi pada penanggal 1 sasih kedasa , spt yg sdh berjalan selama ini.***

Sumber foto Internet.


Diolah dari berbagai sumber.

Baca artikel lainnya ttg Nyepi :


Minggu, 01 Februari 2026

Jangan Melupakan Ajaran Leluhur

 

Prof. DR. Ida Bagus Mantera, penggagas berdirinya PHDI.


Agama Hindu adalah Wahyu Tuhan.

Sbg penganut Hindu yg baik, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa pendahulu kita, jasa-jasa Leluhur kita yg telah banyak berkontribusi thdp Agama Hindu. Leluhur / pendahulu kita dari manapun mereka berasal baik yang dari Indonesia maupun yg berasal dari India harus kita hormati. Para Suci dari India banyak sekali yg berjasa thdp agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali.


Gayatri Mantram dan Weda.

Mantra Gayatri adalah salah satu Mantra yg sangat penting dlm Ajaran Agama Hindu. Ida Hyang Widhi Wasa mewahyukan Mantra Gayatri kepada Maharsi Visvamitra (India).

Mantram Gayatri tercantum dalam Rg. Weda III.62.10. Mantra Gayatri merupakan Ibu Weda (Gayatri Chandasam Mata, Weda Mata). Mantra Gayatri adalah 'Anna Purna', 'Ibu Jagad Raya', kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi oleh Ana Purna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan dan papan.

Begitu juga Kitab Suci Wedha diwahyukan di India oleh Ida Hyang Widhi Wasa melalui 7 Maha Rsi, yaitu :

  1. Rsi Atri
  2. Rsi Baradwaja
  3. Rsi Gratsamada
  4. Rsi Wasista
  5. Rsi Wiswamitra
  6. Rsi Wamadewa
  7. Rsi Kanwa.

Oleh Bhagawan Wiyasa, Wahyu yg diterima oleh 7 Maha Rsi tsb dikelompokkan menjadi 4 (Catur Wedha) dibantu oleh 4 orang Rsi sbb :

  1. ‌Rsi Paila - menyusun Reg Weda - Mahawakya :  Prajnanam Brahma.
  2. Rsi Waisampayana - menyusun Yayur Weda - Mahawakya : Aham Brahma Asmi.
  3. Rsi Jaimini - menyusun Sama Weda - Mahawakya : Tat Twam Asi.
  4. Rsi Sumantu - menyusun Atarwa Weda - Mahawakya : Ayam Atman Brahman.

Agama Hindu Masuk Indonesia.

Agama Hindu masuk ke Indonesia kira-kira pada abad ke 1 yaitu sekitar tahun 78 Masehi, yang disebarluaskan oleh Sang Hyang Aji Caka (Raka Santri, dalam Cendekiawan Hindu Bicara, 1992 : 99). Beliau pula yang memulai memperkenalkan tahun Caka di Indonesia.
Pada abad ke 4 yaitu tahun 400 Masehi, Agama Hindu berkembang di Kalimantan Timur dengan ditandai kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Mulawarman, kemudian menyebar ke Jawa Barat kira-kira pada abad ke 5 (kerajaan Taruma Negara), kemudian ke Jawa Tengah kira-kira pertengahan abad ke 7 (kerajaan Medangkemulan),  ke Jawa Timur  pada pertengahan abad ke 8  prasasti Dinoyo, (kerajaan Kanjurukan), dan akhirnya berkembang ke Bali.

Agama Hindu masuk Bali pd abad ke 8 M, Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan dalam Markandeya Purana, sebagai berikut :

Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu”
Artinya : 
Sang Yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”.

Beliau banyak membangun tempat suci utk umat Hindu misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Zaman Raja Bali Age pertama Sri Kesari Warmadewa, dan zaman Raja Ugrasena, biasa Para Suci / org-org India  bekerja sm dg Raja Bali Aga dlm melakukan puja kpd Ida Hyang Widhi (Brahman).


Paska Kemerdekaan Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, agama Hindu masih belum secara resmi diakui oleh pemerintah kala itu, tentu ada syarat-syarat yang cukup komplek, seperti  halnya syarat-syarat peribadatan yang harus  sesuai dengan ideologi yaitu Pancasila.

Pada th 1950 Narendra Dev Pandit Shastri dan I Gusti Bagus Sugriwa adalah penyusun Mantra Puja Trisandya, bukan dikarang oleh mereka, tapi disusun. Puja Tri Sandya terdiri dari 6 bait. Bait pertama adalah Mantram Gayatri, bait ke 2 sd 6 diambil dari Upanisad dan teks Agama. Dan dimasukkan dlm bukunya yg berjudul Puja Trisandya.

Prof. Narendra Dev Pandit Shastri adalah seorang tokoh Hindu dari India tinggal di Bali kawin dengan org Bali, yg ikut menjaga budaya Hindu di Bali, Beliau mengajar Catur Weda dan Upanisad. Beberapa karya dari Prof. Pandit Shastri diantaranya : Intisari Hindu Dharma, Kidung Yadnya (1950), Tri Sandhya (1950), Sejarah Bali Dwipa (1963), Weda Parikrama (1951) buku yang menerangkan mantra-mantra yang sangat terkenal di kalangan kependetaan di Bali dan Lombok.

Pada tgl 14 Juni 1958 Prof. Narendra Dev Pandit Shastri ikut menyusun petisi bersama-sama tokoh-tokoh Hindu lainnya yg isinya menyatakan bahwa Agama Hindu Bali (waktu itu dinamakan Hindu Bali) tdk bertentangan dg Pancasila, dan meminta pemerintah mengakuinya.

Tokoh-tokoh yg memperjuangkan agar agama Hindu agar diakui secara resmi oleh pemerintah diantaranya adalah :

  • Prof. Dr. Ida Bagus Mantra,
  • ‌I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Prof. Dr. Gusti Ngurah Bagus,
  • Narendra Dev Pandit Shastri
  • I Ketut Bangbang Gde Rawi,
  • I Gusti Ketut Pudja.
  • dll.

Oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali dan jg tokoh dari India, Puja Tri Sandya dan Kitab suci Wedha yg dipakai melengkapi persyaratan disamping persyaratan lainnya agar agama Hindu diterima sbg agama yg sah di Indonesia. Akhirnya tanggal 5 September 1958 terbitlah keputusan Menteri Agama yg mengakui Agama Hindu Bali sbg Agama yg sah.

Pada tgl 23 Pebruari 1959, ketika parisada berdiri pertama kali didirikan di Denpasar Bali, namanya Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB). Penggagas berdirinya Parisada salah satunya Drs. Ida Bagus Mantra, sbg sekretaris awal, dan tokoh-tokoh penting lainnya seperti :

  • ‌Ida Pedanda Made Sidemen,
  • I Gusti Bagus Sugriwa,
  • Ida Bagus Gde Doster,
  • Gedong Bagus Oka, 
  • dll.

Pada th 1964 untuk memperkuat identitas nasional, Nama  Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB) berubah menjadi PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) menjadikannya Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia yang mengurus keagamaan dan sosial. PHDI lahir dari gerakan reformasi kebangkitan Hindu di Indonesia, bertujuan mempersatukan umat Hindu di seluruh Nusantara.

Jadi Agama Hindu yg ada di Nusantara khususnya di Bali ini keberadaannya tdk dpt dipisahkan dg Hindu India, krn agama Hindu spy bisa diakui sebagai agama yg sah di Indonesia ada Gayatri Mantram (dalam Puja Trisandya bait 1), Kitab suci Wedha, nama 7 Maha Rsi penerima Wahyu Wedha. Dan nama Dewa-Dewi yg dipuja oleh umat Hindu semua tercantum dlm Kitab suci Wedha.

Sebagai orang baik dan bijak yg mencintai ajaran Leluhur, jangan sampai kita melupakan Leluhur kita dan ajarannya, yaitu tabek :  Rsi Wiswamitra penerima Wahyu Gayatri, 7 Maha Rsi penerima Wahyu Weda, Bhagawan Wyasa yg menyusun Catur Weda, Rasi Markandeya yg menyebarkan agama Hindu ke Bali, dan membuat pura Besakih. Zaman kemerdekaan ada nama :  Ida Bgs Mantra, I Gusti Bagus Sugriwa, Narendra Dev Pandit Shastri (India), dll.

Slogan Bung Karno yang sangat terkenal dan masih relevan zaman skrg yaitu , "JAS MERAH", jangan sekali-kali melupakan sejarah***🙏












Sumber foto : Internet.





Kamis, 01 Januari 2026

2. Patal Bhuvaneshwara di Zaman Kali.

 

Pegunungan Himalaya, Sumber Internet.

Patal Bhuvaneshwara, sebuah kompleks gua yang disebutkan dalam Manasakhanda dari Skandha Purana, menyebutkan bahwa Dewa Siwa sendiri tinggal di Patal Bhuvaneshwara, dan dewa-dewa lain datang ke Patal untuk melayani dan menyembahnya.

Orang pertama yang mengunjungi Patal Bhuwaneswara adalah Raja Rituparna penguasa Ayodhya dari dinasti Surya, keturunan ketujuh dari Raja Bhageeratha, pada zaman Sathya Yuga.

Dengan penglihatan kedewataan (Diversity) yang dianugerahi oleh Adishesa, Raja Rituparna dapat menyaksikan Lingga Siwa. Menurut Skanda Purana Lingga Siwa ini terus membesar dan pada saat Lingga itu menyentuh atap gua, dunia akan berhenti.

Raja Rituparna juga menyaksikan Dewa Siwa bersama Dewi Parwati, Brahma bersama Dewi Saraswati, Wisnu bersama Dewi Laksmi, dan berbagai Dewa-Dewi penghuni sorga dll. Juga dapat menyaksikan bagaimana ketika penciptaan, dan peleburan terjadi.

Di dalam Manaskanda di Skandapurana disebutkan juga, Adishesa berpesan kepada Raja Rituparna agar tidak menceritakan tentang Patal Bhuvaneshwara kepada siapa pun. Adishesa mengatakan kepada manusia bahwa, rahasia Patal Bhuvaneshwara akan berlanjut sampai ke "Valkal" (Brahmana) yang akan mengungkap pada zaman kali tempat bersemayamnya Tuhan di Bumi ke dunia kelak, dan membawa Rahmat yang bermanfaat bagi umat.

Apa yang diramalkan Adishesa dalam Skanda Purana telah terbukti sekarang di zaman modern (kali Yuga). Pada tahun 1989 Jenderal Kanthi Taylor (seorang Brahmin = Valkal) adalah orang kedua yang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara atas bimbingan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Taylor adalah orang yang dipilih oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang dianggap pantas untuk melakukan eksplorasi di hutan guna menemukan rahasia tersembunyi di balik Patal Bhuvaneshwara, dan mengungkapkannya kepada dunia.

Patal Bhuvaneshwara adalah sebuah gua suci yang merupakan situs ziarah utama di wilayah pegunungan Himalaya, dan sekarang menjadi pusat spiritual / persiarahan yang banyak (jutaan) dikunjungi oleh para Bhakta dari berbagai negara di seluruh dunia, terletak di antara perbukitan yang indah, hutan yang lebat, pemandangan yang menakjubkan, gua ini adalah dimana alam dan agama menyatu dalam harmoni yang sempurna.

Awalnya, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba muncul dalam mimpi Taylor menunjukkannya sebuah gunung dan sebuah jalan sempit yang mengarah ke sebuah gua. Bhagawan Sri Sathya Sai Baba telah menganugrahi Taylor dg mimpi penampakan suci, pemandangan di dalam komplek gua dan Lela sucinya.

Mimpi ini memiliki makna yg kecil utk bisa tiba ditempat yg tepat di Himalaya yg sangat luas. Patal merupakan dusun kecil yang terletak di wilayah Baraelly di Uttar Pradesh, India Utara.

Gua tsb terletak di atas sebuah gunung yang ditutupi oleh pohon Cemara yang sangat lebat, pintu gua berdiameter sekitar satu meter. Dari luar tidak tampak ada sebuah gua, karena diyakini belum pernah ada orang yang masuk ke dalam gua. Seseorg harus naik naik dengan tumpukan batu utk bisa masuk ke dalam Gua. Di dalam Gua cukup lapang serta atapnya sangat tinggi. Tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam gua, serta udara dalam gua sangat dingin, namun tidak sampai kekurangan oksigen dalam gua.

Org-org setempat meyakini gua tersebut sdh ada ribuan tahun yang lalu, namun tidak yakin sbg Patal Bhuvaneshwara spt yg disebutkan dalam Skanda Purana. Kepercayaan org lokal meyakini bahwa gua itu tdk dpt dimasuki oleh org, dan bagi siapa saja yg masuk ke dalam gua tdk akan pernah kembali. Keyakinan itulah yang menyebabkan shg Gua tsb tidak berani memasukinya.

Berikut adalah ringkasan singkat, cerita pengalaman spiritual dan kesan pribadi dari para peziarah yang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara, dikutip dari Buku Bhagawan Sri Sathya Sai And Patal Bhuvaneshwara, diterjemahkan oleh Made Aripta Wibawa (2000) menjadi, "Menyingkap Rahasia Siwa di Bumi (Patal Bhuvaneshwara).


Jenderal Kanthi Taylor menceritakan pengalamannya :

"Selama kunjungan sy pada th 1989 dimana sy sedang melakukan japa di dekat Lingga Siwa, sy merasakan Japamala (rudraksha mala) saya sedang ditarik kearah lingga dg kekuatan yg luar biasa".

Jenderal Taylor menjelaskan bahwa, di dalam gua dia mendptkan darsan Bhagawan Sri Sathya Narayana (Bhagawan mampu muncul di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan, pena), dan menganugerahi penglihatan kedewataan " Divyadristhi ". Dengan penglihatan ini Taylor mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, dan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengatakan kpd sy bahwa org-org dari belahan dunia akan segera datang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara.

Melalui penglihatan ilahi ini, Jenderal Taylor melihat Krishna berbusana berwarna merah berkilauan, memakai kalung bunga yang masih segar, dengan bulu Candrawasih yg khas ada diatas mahkotaNya.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba kemudian mengajak Taylor ke tempat Sathyabhama, Rukmini, dan Radha . Taylor juga menyaksikan Sheshanaga (Adishesa) yang duduk di atas kursi besar, dengan kulit kuning keemasan, garis-garis merah dan biru, serta mahkota berpermata mengeluarkan cahaya berkilauan.

Dalam kunjungan berikutnya pada 17 Juli 1993, Taylor merasakan kehadiran makhluk-makhluk lain bukan manusia di dalam gua. Selama puja, sy mendengar mantra-mantra yg diucapkan olehnya. Satu hal yang paling menarik adalah bahwa mantra-mantra yang diucapkannya adalah mantra-mantra yg sedang sy ucapkan, ini menimbulkan pertanyaan apakah suara yang sy dengar adalah gema atau bukan.

Pada 11 Desember 1993, sy melakukan abhisheka di Patal Bhuvaneshwara, dengan menggunakan sedikit susu, pada saat yg bersamaan pelayaranah yg lainnya jg melihat begitu banyak susu berlimpah dilantai. Pesiarah yang berada disana melihat susu menetes dari atas atap gua.
Dalam Skanda Purana disebutkan, bahwa Dewa Brahma dan Dewa Wisnu jg melakukan Abisheka kpd Dewa Siwa, ini kemungkinan besar Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sedang melaksanakannya.

Pada tanggal 8 Mei 1994, selama sy melakukan puja di sekitar lingga, sy melihat cahaya spt sebuah 'jyothi' di dalamnya ada Lingga Siwa. Dalam Skanda Purana disebutkan bahwa rahasia berhenti dunia dipercaya tersembunyi di dalam gua ini. Lingga Siwa yang telah terbentuk di sini terus membesar, dan pada saat menyentuh atap gua, dunia akan berakhir/kiamat dan akan dimulai dg kehidupan baru (Ini sama dengan 1 hari Brahman, Ket pen).

Kemudian sy mengunjungi patung Hanuman, sy melihat mata patung Hanuman berkilau dengan senyum dibibirnya. Sy jg menyaksikan penampakan Siwa yang turun ke lingga dan lingga tersebut memancarkan cahaya berkilauan.

Sy jg menyaksikan penampakan Ganesha berwarna keemasan yang memimpin pengikutnya ke sebuah gua. Dan berbagai pengalaman spiritual yang dialami oleh Jendral Taylor.

Pengalaman para peziarah :

Nyonya Sathyabhama pada kunjungan pertama (7 Mei 1994), saat melakukan puja dan abhiseka, dia melihat Krishna kecil duduk di piring perak dekat lingga, bermain dengan bunga persembahan. Bunga-bunga tsb diambil dari para peziarah yg melakukan puja lalu memberikannya kpd Brahma, Wisnu dan Siwa. Penampakan ini berlangsung sekitar 10 menit.

Pada kunjungan kedua (8 Mei 1994), sy kembali melihat penampakan Krishna kecil, namun kali ini Dia duduk di pangkuan Ganesha. Dalam kunjungan saya sebelumnya saya melihat Krishna kecil duduk di piring perak dekat lingga, bermain dengan bunga persembahan peziarah yang melakukan puja.

Tuan Shyamji Sharma dari Bareilly, Pada 17 Juli 1993, mengalami fenomena suara-suara misterius saat mengucapkan mantra. Suara-suara tsb sama dengan puja yg dia ucapkan, dia sangat yakin bahwa itu suara makhluk gaib yg tidak terlihat. Ia juga menyaksikan bahan-bahan persembahan jatuh dari atap gua saat melakukan puja.

Pada kunjungan berikutnya pada 7 Mei 1994, Tuan Shyamji Sharma bersama Jenderal Taylor melihat cahaya muncul dari dalam Lingga Siwa.

Pada 17 Juli 1992, Nona Geetha Sharma bersama Taylor mengunjungi Patal Bhuvaneshwara. Nona Geetha Sarma melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Siwa dan Parwati menerima puja yang dilakukan oleh Jenderal Taylor. Ia jg melihat Parasurama yang melakukan tapa dan mendapatkan anugerah dari Siwa.

Nona Anju Sharma  pada tanggal 7 Juli 1993, di Patal mendengar suara-suara yg bukan dari kelompoknya sedang mengucapkan mantra dibelakang mantra yg diucapkan Tuan Shyamji Sharma.

Nyonya Anubha Sharma  pada 11 Desember 1993 melihat Siwa berdiri di belakang lingga Patal Bhuvaneshwara, serta melihat Sindurawa, Ganesha, Rama.

Walikota Rajender   pada tanggal 25 Januari 1993, bahwa Ia mengalami penjelajahan mendalam di samping lingga "Bhuvaneshwara". Ia merasakan gelombang energi yang kuat dari tulang punggung menuju otak dan melihat alam semesta melalui keningnya, dengan kesadaran badan yang terpisah.

Tuan dan Nyonya Hillcoat dari Australia pada Juli 1994, selama mereka melakukan puja, mendapatkan penampakan Ganesha yang memberikan anugerah, diikuti penampakan Siwa kemudian secara perlahan Siwa berubah menjadi Nataraja.

Tuan Khandelwal selama kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara memperoleh penampakan Rama dengan busana putih di pemeliharaannya.

Garvit Ahluwalia (3 th) mengatakan telah melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di dalam gua. Kakaknya yang waktu itu membawa dua gambar, menampilkan gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dan Shirdi Baba, dan menanyakan gambar mana yang dilihatnya, kemudian Garvit menunjuk ke gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Meghavi Gupta (12 th) juga mendapatkan dharsan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, dia jg melihat secara fisik wujud rambut Siwa yg kusut dan Sungai Gangga turun mengalir dari atas kepalaNya.

Indradutt Maithani melihat Brahma, Wisnu, dan Mahesha, serta Ganesha di samping Jenderal Taylor yang sedang melakukan puja.

Khayali Ram melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba berkeliling memberikan berkat kepada bhaktanya, dan dia dapat sujud menyentuh kaki Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Rajesh dan Shiksha Sharma melihat Brahma, Wisnu, dan Maheswara, serta Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di antara para bhakta, juga melihat Siwa memegang Trisula dan Khamandaal.

Nyonya Sharma menyaksikan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba memberikan berkat kepada para bhakta, dan melihat Ganesha menganugerahi putra Jenderal Taylor - Sandeep, saat melakukan puja.

Pada kunjungan berikutnya, Nyonya Sharma, 17 September 1994, melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sedang menyaksikan tarian Ganesha kecil, kemudian perubahan wujud menjadi Shirdi Baba, menjadi Siwa yang melakukan tari Tandawa. Juga menyaksikan Sai Baba yang menari di atas kepala Seshanaga.

Jotindra dan Preeti Master memperoleh dharsan Ganesha serta Dewi Parwati.

Nyonya Visvalingam ditemani oleh Jenderal Taylor, di dalam gua, ia merasakan kehadiran berbagai dewa dan makhluk surgawi, serta melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. 

Nona Banu dan Tuan James Redmond, produser film Televisi, pada 17 September 1994, Nona Banu yang tidak memiliki pengetahuan tentang agama Hindu, dia adalah seorang Kristen, merasa dipenuhi energi dan kebahagiaan selama perjalanan di dalam gua. Selama puja kpd Siwa sy merasakan banyak energi cinta kasih dan haru. Di dalam gua tsb sy melihat namaku "BANU" tertulis di atas dinding gua lingga Siwa, sesuatu yang di luar kemampuan pemahamannya.

Jennifer Warner dari USA, pada tanggal 17 September 1994. menerima dharsan dan anugerah dari Siwa. Ia merasakan energi yang kuat di dalam gua, terutama saat melakukan puja.

Prof.GK Karanavar. Kunjungannya ke Patal Bhuvaneswara ini diyakini sebagai takdir ilahi, bukan rencana manusia, dan sy telah menyerahkan hati dan pikiran kepada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.
Sy tiba di Patal Bhuvaneshwara th 1994 bersama kelompok bhakta Sai dan disambut oleh seekor macan tutul. Tempat tersebut memancarkan kekuatan dan energi dahsyat yang memberikan kesadaran dan kesadaran spiritual kepada sy. Pengalaman ini telah mengubah hidup sy, menyatukannya dengan pengalaman suci dan membantu sy menutup masa lalu, serta memulai kehidupan spiritual atas bimbingan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Itulah sebagian pesan dan kesan dari ribuan Bhakta yg mengalami berbagai muzizat saat mengunjungi Patal Bhuwaneshwara.


Berkunjung dan melaksanakan puja di Patal Bhuvaneshwara

Seperti dikatakan oleh Wedawyasa dalam Manaskanda pada Skanda Purana, "Barang siapa yang mengunjungi Patal Bhuvanaswara serta melakukan puja kpd Tuhan (Siwa) akan menerima Rakhmatnya, berjuta-juta kali lipat lebih ampuh dari Ramsewaram, Kasi, bahkan Kadarnath, dan beribu-ribu kali lipat lebih mulia dp melakukan "Aswameda Yaga".
Itulah sebabnya mengapa Patal Bhuvanashwara tempat paling suci. Siwa disini sebagai Rakhmat yang dapat menyelamatkan dunia dari cengkraman Kali Yuga. Tuhan sedang menunggu org-org yg memiliki niat utk melakukan puja dg ketulusan hati utk diterima.

Patal Bhuvaneshwara sekarang sudah ditata dengan menggunakan listrik untuk memudahkan pengunjung. Gua ini terdiri dari serangkaian gua yang saling berhubungan. Formasi batu kapur alami seperti stalaktit dan stalagmit menciptakan pemandangan yang spektakuler. Jalan masuknya sempit, hanya bisa dilalui satu orang dalam satu waktu, dan menuruni tangga yang terpasang rantai.***

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, "Ketika Anda bersiap untuk memasak makanan, Anda tentu saja harus mempersiapkan semua bahan yang Anda perlukan: beras, garam, rempah-rempah, sayuran, dll.Tetapi jika tungku masak-mu tidak ada apinya, maka hidangan tersebut tidak akan dapat dibuat.
Engkau mengetahui bahwa api dapat timbul ketika satu batang kayu digosok dengan yang lainnya. Apakah penempatan antara dua batang kayu tersebut yang dapat menghasilkan api? Bukan! Kita hendak menyadari bahwa api sudah laten pada kedua kayu tersebut.
Api tersembunyi yang di batang kayu akan terlihat nyata/jelas oleh Sadhana (proses menggosok batang kayu).
Batang kayu ini melambangkan tubuh manusia. Dalam tubuh manusia, yang inert, api Jnana (kebijaksanaan) ada dalam bentuk yang halus pada semua bagian. Kuasa ilahi meresapi setiap bagian dari tubuhmu.
Demikian juga, semua bentuk ibadah, yoga, kontemplasi, misalnya tidak akan efektif jika pengetahuan tentang realitas dasar dan identitas diri tidak dikembangkan dalam proses tersebut.

Sifat sejati manusia adalah keilahian, namun krn Awidya, dia mengidentifikasi diri dengan badan kasar shg manusia tanpa menyadarinya. Dengan mengembangkan dan menerapkan 5 nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia sejak lahir : Sathya, Dharma, Prema, Santhi dan Ahimsa, lambat laun manusia akan menyadari hakekat dirinya bukan badan, melainkan Atman.***

Patal Bhuvaneshwara, 
Sumber foto Internet


Artikel lainnya...

Heboh Polemik Pergeseran Tegak Nyepi

Sumber foto Internet. Pada bulan Januari 2026 lalu masyarakat Bali (khususnya umat Hindu) dibuat heboh dengan adanya ide utk mengubah tegak ...