Jumat, 22 Mei 2026

CINTA KASIH SEJATI

Cinta Kasih Sejati Tak Bersyarat.
"Wejangan Sad Guru"

Foto pemanis, Sumber Sahabat " Semut "

Sikapmu kepada Tuhan seharusnya tidak bergantung pada suka dan tidak suka. Sering kali kita melihat orang yang pada suatu waktu memuja Tuhan dengan penuh pengabdian, namun kemudian berbalik memusuhi-Nya. Perubahan sikap ini biasanya ditetapkan atas harapan mereka sendiri.

Ketika doa dijawab dan keinginan terpenuhi, mereka memuja-Nya. Namun ketika harapan itu tidak terpenuhi, mereka mencaci Tuhan dengan berbagai kata. Pengabdian seperti ini didasarkan pada kepentingan diri sendiri, dan di dalamnya tidak ada keilahian. Kita juga tidak perlu menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang sebenarnya berasal dari perbuatan kita sendiri.

Lalu apa itu cinta sejati? Apa yang membedakannya dari cinta yang biasa kita alami di dunia?

1. Cinta sejati tidak bersyarat dan kekal.
Apa pun yang bisa hilang atau binasa bukanlah kebenaran. Cinta sejati adalah cinta yang kekal, yang bersemayam di lubuk batin dan menyampaikan perasaan. Ia tidak terpengaruh oleh perubahan keadaan, keberuntungan, suka maupun duka. Ia tetap sama, tak tergoyahkan oleh naik turunnya nasib.

Pengabdian yang murni tidak menuntut apa pun. Tanda dari cinta kasih adalah thyaga — pengorbanan yang tulus. Cinta kasih tidak menuntut balasan, tidak ada niat jahat kepada siapa pun. Di dalamnya hanya ada ketulusan dan kemurnian.

2. Cinta sejati hanya memberi, tanpa menuntut.
Adakah di dunia ini seseorang yang mampu memberi tanpa henti? Bahkan seorang ayah pun tak selalu rela menyerahkan seluruh hartanya kepada anaknya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengharapkan manusia saling berbagi segala yang mereka miliki?

Hanya Tuhanlah yang memiliki sifat memberi tanpa pamrih itu. Cinta tanpa syarat seperti inilah yang melekat pada Keilahian. Cinta ilahi itu sebenarnya terpancar dari setiap hati manusia, meliputi seluruh keberadaannya, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Manusia dapat merasakannya di setiap sel dan setiap atom tubuhnya.

Sayangnya, karena hati manusia telah ternoda, ia tidak mampu mengenali sumber cinta yang bersumber dari dirinya sendiri. Ia justru sibuk mengejar kenikmatan fisik dan urusan duniawi.

3. Cinta duniawi sering mencampurkan kepentingan diri sendiri.
Lalu, apa yang biasanya disebut sebagai cinta kasih di dunia? Apakah itu cinta kasih seorang ibu, cinta kasih antar saudara, atau persahabatan — di dalamnya hampir selalu ada unsur kepentingan diri sendiri. Karena gagal memahami kualitas cinta sejati, orang-orang sering mencarinya dengan cara yang salah.

Hanya cinta kasih ilahi yang sepenuhnya bebas dari noda kepentingan diri. Cinta kasih ilahi dapat menjangkau bahkan mereka yang berada jauh sekali. Ia menyatukan mereka yang terpisah dan mengangkat manusia dari sifat kebinatangan menuju kualitas keilahian. Ia juga mampu mengubah semua bentuk cinta kasih duniawi menjadi cinta kasih ilahi.

Hidup yang sejati dan nyata adalah ketika seseorang diliputi dengan cinta-kasih. Semua kebajikan menyatu dalam cinta-kasih. Di mana ada cinta-kasih, akan ada kesatuan yang menembus semua hambatan. Dimana ada cinta-kasih, maka tidak akan memperhatikan kasta, budaya, dan negara dan akan bersatu secara alami.

4. Jalan menuju cinta sejati.
Untuk bisa mengalami cinta kasih ilahi ini, Anda harus siap melepaskan sifat mementingkan diri sendiri. Manusia perlu membersihkan diri dari keinginan-keinginan duniawi agar dapat kembali merasakan cinta sejati itu.

Dengan keyakinan yang mantap kepada Tuhan, kembangkanlah cinta kasih kepada-Nya tanpa menghiraukan segala rintangan dan cobaan berat yang datang. Engkau harus menghargai cinta kasih dengan perasaan tanpa pamrih dan kesiapan untuk berkorban.

5. Intinya :
Cinta kasih sejati dan cinta sejati adalah satu hal yang sama — cinta ilahi yang kekal, tanpa syarat, hanya memberi, dan membebaskan. Ketika kita melepaskan pamrih, cinta itu muncul dengan sendirinya.

6. Hanya Tuhan yang tahu masa tahu, masa sekarang dan masa akan datang.
Setiap orang menginginkan masa depan yang baik, dan cerah. Apa yang harus kita lakukan jika kita mengharapkan masa depan yang baik dan cerah?

Tidak seorang pun selain Tuhan yang mengetahui masa depan; karena itu dikatakan bahwa hanya Tuhan yang memiliki tiga mata (mata ketiga merujuk pada pengetahuan tentang masa depan), sedangkan manusia hanya memiliki dua mata. Manusia, saat ini selalu memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Selalu: Masa lalu, masa depan; masa lalu, masa depan; masa lalu, masa depan!

7. Manfaatkan hari ini dengan baik.
Merenungkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, manusia kehilangan jejak masa kini. Ketahuilah bahwa masa kini adalah produk dari masa lalu; itu juga merupakan benih untuk masa depan. Masa lalu dan masa depan dengan demikian tertanam dalam masa kini. Manusia tampaknya tidak menghargai kebenaran mendasar ini.
Jika menginginkan masa depan yang baik dan cerah, maka manfaatkanlah masa kini dengan sebaik-baiknya. Masa kini adalah pohon yang tumbuh dari benih yang disebut masa lalu. Pohon ini juga memiliki benih untuk masa depan. Jadi, masa depan sudah ada di sini!

Kita harus berusaha memanfaatkan masa kini dengan sebaik-baiknya. Hasil dari masa lalu dan pertanda masa depan keduanya tersedia di masa kini.***


- Ceramah Ilahi, 27 Juli 1996 -

Foto: pemanis 
Sumber: Sahabat Semut.

Catatan :

Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Senin, 11 Mei 2026

ALENGKA DAN PUSHPAKA VIMANA

Bahaya Ego Walau Sudah Punya 
"Kendaraan Canggih"


Gambar Ilustrasi:
Kendaraan Pushpaka Vimana,
pesawat super canggih zaman kuno
milik Kuwera - Alengka
Sumber foto: Sahabat Al.


1. Alengka : Kota Emas yang Direbut

Alengka awalnya bukan milik Rahwana. Kota emas itu dibangun Wiswakarma atas perintah Brahma, dihadiahkan kepada Kuwera - saudara tiri Rahwana. Kuwera jadi raja Yaksha, “Dewa Kekayaan”, tinggal di istana megah dengan kendaraan istana terbang: Pushpaka Vimana .

Dengan kesaktiannya, Rahwana menyerang Kuwera, saudaranya seayah, dan berhasil merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri  di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.

Suatu hari Rahwana menculik Dewi Sinta, karena itu Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah Alengka. Ia menobatkan Wibisana  – adik Rahwana yang berpihak pada dharma sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana. Kendaraan Pushpaka Vimana dikembalikan ke Kubera.

Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.

Pelajaran : Harta dan tahta yang direbut dengan paksa, tidak memberi ketenangan. Kuwera yang terusir malah dekat dengan Siwa .


2 . Pushpaka Vimana : Istana Terbang Kendali Pikiran

Pushpaka Vimana adalah kendaraan/Istana Terbang. Istilah " Vimana " secara harfiah berarti " Istana Terbang " dalam bahasa Sanskerta. Karena kecanggihannya, banyak yang menyebut Pushpaka Vimana sebagai “ pesawat terbang pertama ” dalam sastra kuno.

Vimana pertama kali disebutkan dalam Rigveda dan teks-teks Weda lainnya. Di sini, Vimana digambarkan sebagai kendaraan para dewa, seperti Indra, yang mampu melintasi langit dan bumi.

Dalam Mahabharata, Vimana digunakan dalam berbagai perang besar. Salah satu deskripsi paling menarik adalah pertempuran antara Arjuna dan para dewa, di mana senjata canggih seperti panah berbasis energi dijelaskan digunakan dalam perang.

Sementara dalam Ramayana, Raja Rahwana disebut memiliki Pushpaka Vimana, setelah mengalahkan Kubera. Pushpaka Vimana digambarkan sebagai kendaraan besar yang dapat mengangkut banyak orang dan terbang ke mana saja sesuai keinginan pemiliknya.

Dalam mitologi Hindu, kendaraan ini digambarkan memiliki berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat kompleks, menyerupai pesawat luar angkasa modern. Pushpaka Vimana dijelaskan sbb :

  1. Istana terbang/kereta udara – bentuknya seperti istana atau kereta kencana megah yang bisa terbang.
  2. Terbuat dari emas – bertatahkan emas, permata, tiang-tiangnya indah, punya tangga, jendela berukir.
  3. Bisa dikendalikan pikiran – kecepatannya sesuai keinginan pemiliknya. Bisa diperbesar untuk mengangkut pasukan, bisa mengecil.
  4. Bergerak sendiri – tidak ditarik kuda atau makhluk. Mirip “pesawat” zaman kuno dalam mitologi Hindu.
  5. Ada taman dan ruangan – bukan sekadar kendaraan, tapi istana lengkap yang bisa terbang di angkasa.


3. Teknologi Vimana, Antara Mitologi dan Ilmu Pengetahuan

Banyak peneliti modern percaya bahwa deskripsi Vimana mungkin merupakan representasi teknologi maju yang dimiliki oleh peradaban kuno. Berikut adalah beberapa aspek menarik terkait teknologi Vimana:

1).  Tafsir Modern. 
Teks kuno seperti Samarangana Sutradhara menjelaskan mesin berbasis merkuri yang digunakan untuk menggerakkan Vimana. Merkuri dipanaskan hingga menghasilkan energi besar yang memungkinkan kendaraan terbang. Teori ini menarik perhatian para ilmuwan modern yang berusaha mencari bukti ilmiah untuk mekanisme ini. Dalam beberapa deskripsi, Vimana memiliki kemampuan untuk "melintasi dimensi," artinya dapat berpindah antara dunia fisik dan dunia spiritual. Ini sering dikaitkan dengan konsep wormhole atau portal dalam fisika modern.

2). Bahan Bangunan.
Vimana digambarkan dibuat dari material yang ringan namun sangat kuat, seperti logam yang tidak dikenal oleh peradaban saat ini. Material ini memungkinkan Vimana bertahan dalam tekanan tinggi di atmosfer dan ruang angkasa.


4. Jatuhnya Sang Raja Terbang (Vimana)

Rahwana adalah raja Alengka yang sakti, pemuja setia Siwa. Dia mempunyai 10 kepala, 20 tangan. Selama memerintah kerajaan Alengka Rahwana memakai Pushpaka Vimana sebagai kendaraannya. Suatu hari Rahwana naik kendaraan Pushpaka Vimana terbang keliling dunia. Saat lewat di atas Kailash, Pushpaka Vimana jatuh tidak bisa terbang.

Rahwana marah. Dia bertanya kepada Nandi, sapi penjaga Siwa, "Kenapa aku tidak boleh lewat?"

Nandi jawab santai:
"Ini rumah tuanku. Tidak ada yang boleh terbang di atas kepala Mahadewa. Kalau mau lewat, muter."
Rahwana tersinggung, egonya muncul,
"Siapa Siwa? Gunung saja disembah. Akan kuangkat gunung ini dan kubawa ke Alengka supaya tuanku tinggal di istanaku."!

Rahwana turun, masang 20 tangan ke dasar Kailash. Dengan kesaktiannya, dia menggoyang gunung itu. Kailash berguncang. Dewi Parwati ketakutan dan berpegangan pada Siwa.
Siwa yang sedang semadi hanya membuka mata sedikit. Lalu Siwa menekan jempol kakinya ke tanah.

Bruk ... (suara jempol kaki Siwa menekan tanah)

Seluruh Kailash menekan balik. Tangan Rahwana terjepit di bawah gunung. Dia berteriak kesakitan, "Aaaarrgghh !"
Teriakannya menggema sampai ke tiga dunia. Makanya dia dijuluki Rahwana, dari kata Rava yang artinya jeritan.

Setelah 1.000 tahun tangan Rahwana terjepit Kailash akhirnya dia sadar dan mulai menyanyikan pujian untuk Siwa. Nyanyian itu kini dikenal sebagai Shiva Tandava Stotram. (Siwa..Siwa..Sambo Tandawa Priya Kara.... ).

Siwa luluh, lalu mengangkat jempol kaki Nya. Rahwana menjadi bebas. Siwa kemudian memberikan pedang sakti - Chandrahas sebagai hadiah, tapi juga kutukan : "Karena kesombonganmu, kamu akan mati di tangan manusia jelmaanKu", kata Siwa. 

Kutukan Siwa terbukti, ketika Rahwana menculik Sinta, Dia gugur di tangan Rama dengan panah Brahmastra. Rama tidak menguasai Alengka, melainkan sebelum Rama pulang ke Ayodhya, Ia menobatkan Wibisana - adik Rahwana yang saleh menjadi raja Alengka. 

Rama sempat memakai Pushpaka Vimana untuk pulang ke Ayodya bersama Sinta, Laksmana, Hanuman. Setelah itu Pushpaka Vimana dikembalikan ke Kuwera.


5. Pelajaran dari Alengka dan Pushpaka Vimana:

1. Teknologi Tanpa Kerendahan Hati
Rahwana mempunyai segalanya: Kota emas, istana terbang, kesaktian, bahkan menjadi penyembah Siwa. Tapi satu yang tidak dia punya: kerendahan hati.

Pushpaka Vimana bisa terbang keliling dunia, tapi jatuh di Kailash. 
Alengka megah, tapi penghuninya gelisah. 
Rahwana sakti, tapi mati karena egonya sendiri.

2.  Kontras dengan Kailash
Siwa tak mempunyai Pushpaka Vimana. Tak mempunyai istana emas. Hanya duduk diam di gunung Kailash. Tapi dunia tunduk pada-Nya. Kuwera yang kehilangan Alengka, justru damai jadi bendahara Siwa di Kailash.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba bersabda :
Orang bisa punya pesawat, tapi kalau pikirannya tidak tenang, ia tetap miskin. Orang bisa tinggal di gubuk, tapi kalau hatinya penuh kasih, ia raja”. 

Jadi bukan Pushpaka Vimana yang membuat kita sampai. Bukan Alengka yang membuat kita mulia. Yang menerbangkan kita ke damai adalah : tunduk, bukan menaklukkan.***



Gambar Ilustrasi: 
Kendaraan Pushpaka Vimana
pesawat super canggih zaman kuno
milik Kuwera - Alengka
Sumber foto: Sahabat Al.


Artikel lainnya : Raja Alengka Pertama


Catatan Sumber:

  1. ‌Ramayana, Uttara Kanda Sarga 11-16 - kisah Rahwana mengangkat Kailash. 
  2. Wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
  3. Diringkas dengan pendekatan semut : 20 April 2026.


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Senin, 04 Mei 2026

KUBERA YANG “JATUH”: KISAH DANAPATI DI PEWAYANGAN JAWA

 

Foto Ilustrasi 
Danapati vs Kuwera, 
Sumber Sahabat Al.


Kalau dilihat dari Ramayana Walmiki, Kubera merupakan tokoh suci. Dewa kekayaan, alim, penuh dharma. Dia merupakan putra Wisrawa dengan Ilavida, putri Rsi Bharadwaja.

Tapi di pewayangan Jawa, Kubera versi “dunia” bernama Wisrawana bergelar Prabu Danapati justru menjadi antagonis: membunuh ayah sendiri demi merebut Dewi Sukesi. Danapati merupakan putra Wisrawa dengan Lokati, putri Sumali.

Kok bisa “tega” diubah begitu?

1. Kenapa Danapati Dibikin Jahat.
Pewayangan Jawa punya 3 alasan kuat:

Pertama, kebutuhan lakon: simbol nafsu harus kalah.
Struktur moral wayang itu hitam-putih. Setiap malam harus ada contoh angkara murka yang dihukum. Danapati bergelar “raja harta” cocok dijadikan simbol kama atau nafsu duniawi. Pesannya jelas: orang sekaya apapun bisa jatuh gara-gara perempuan. Tokohnya “dikorbankan” demi moral.

Kedua, Supaya Rahwana pantas naik takhta.
Kalau Danapati bijak seperti Kubera asli, penonton akan bertanya: “Lho, kenapa Rahwana mengusir orang baik?” Supaya jalan Rahwana menjadi raja Alengka tetap dianggap bener secara kosmik, pendahulunya harus cacat dulu. Maka Danapati dibuat cerita durhaka: "membunuh ayah dan merebut istri ayah". Rahwana jadi kelihatan “bersih-bersih” Alengka. 
Dalam pewayangan Jawa, Danapati diusir oleh Rahwana.

Ketiga, pakem “anak malati”.
Tema anak durhaka itu laku di wayang. Pola ini mirip dengan kisah Sangkuriang yang membunuh ayahnya sendiri, atau Jayadrata yang durhaka.

Fungsinya warning: sekuat apapun, kalau durhaka kepada orang tua pasti hancur. Kubera asli terlalu “bersih” untuk dipakai contoh itu.

Tapi nama Kubera yang baik tidak hilang.
Pewayangan Jawa memisahkan dua sosok :
  1. Danapati/Wisrawana: raja Alengka yang angkara. Ini versi “jatuh” dari Kubera.
  2. Bathara Kuwera: dewa kekayaan di Kahyangan, bendahara para dewa di Kerajaan Alakapuri di Gunung Kailash, "tetap suci".

Anggap saja alternate universe. Yang di Alengka itu sisi gelap harta dan nafsu. Yang di kahyangan itu sisi dharma-nya.


2. Lakon Carangan: Gugurnya Begawan Wisrawa.
(Carangan artinya "cabang/ranting", jadi Lakon carangan adalah lakon wayang yang keluar dari pakem Mahabharata atau Ramayana, tapi masih memakai Wayang Purwa yang sama).

Untuk menjelaskan kenapa Danapati jadi jahat, dalang bikin lakon carangan “Wisrawa Rebut Sukesi / Gugurnya Begawan Wisrawa
Alurnya begini :

Latar.
Resi Wisrawa sudah mundur dari takhta Lokapala. Kerajaan diserahkan kepada putranya, Wisrawana bergelar Prabu Danapati/Danaraja. Wisrawa menjadi brahmana di pertapaan Girijembatan.

Sayembara Sukesi.
Di Alengka, tepatnya di istana Prabu Sumali, diadakan sayembara. Banyak raja yang ikut sayembara melamar Sukesi.
Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang bisa mengajarinya ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat / Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. Proses penjabaran ilmu Sastra Jendra dilakukan di pesanggrahan/ sanggar tertutup.

Detya Jambumangli memaksa Sumali membikin sayembara tanding. Jambumangli minta syarat menjadi : "Siapa yang mau memperistri Sukesi harus bisa mengalahkan Dia dulu". Dalam sayembara tanding tidak ada raja yang bisa mengalahkan Jambumangli.

Danapati/Danaraja, raja Lokapala, jatuh cinta kepada Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka. Danapati/Danaraja minta tolong kepada ayahnya, Wisrawa, untuk melamar atas namanya. Wisrawa datang melamar atas nama anaknya Danapati. Wisrawa bisa menjabarkan ilmu itu. Jambumangli menantang Wiswara kalau bisa mengalahkan Dia baru bisa menikahi Sukesi. Akhirnya, Wiswara bertanding dengan Jambumangli, dan mengalahkan Jambumangli atas desakan Jambumangli sendiri. Wisrawa menang dalam sayembara.

Wisrawa khilaf.
Tapi ketika Wisrawa melihat Dewi Sukesi yang cantik jelita, imannya runtuh, dia jatuh hati kepada Sukesi, bahkan menikahi Sukesi, dengan dalih “kodrat, dawuh, wisik”. Sumali, ayah Sukesi setuju karena itu aturan sayembara.

Danapati murka.
Mendengar ayahnya menikahi “pacarnya”, Danapati/Danaraja marah, ngamuk. Laskar Lokapala dikerahkan untuk menyerang Alengka.

Perang bapak-anak.
Wisrawa menyadari kesalahannya. Dia memilih pasrah, “rela mati di tangan anaknya sebagai penebusan dosa” atas kesalahannya. Danapati yang sakti, mempunyai Aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana, akhirnya membunuh Wisrawa. Langit Alengka langsung mendung. Danapati sempat menyesel, tapi nasi sudah jadi bubur.

Karma dibalas Rahwana.
Beberapa tahun kemudian, Danapati dibunuh oleh Dasamuka/Rahwana, anak Wisrawa dengan Sukesi. Sebelum meninggal, Danapati menyerahkan Aji Rawarontek dan Gandik Kencana kepada Rahwana.

3. Makna Lakonnya.
Ini murni lakon moral. Dua pesan penting :

  1. Wisrawa: Pendeta setinggi apapun bisa khilaf kalau dikuasai kama - nafsu. Ujungnya mati untuk menebus dosa.
  2. Danapati: Anak durhaka yang membunuh ayah karena nafsu dan dendam, akhirnya hancur juga. Angkara dibalas angkara.

Jadi memang pedes kalau tokoh favorit seperti Kubera yang merupakan tokoh suci, Dewa Kekayaan, alim, penuh dharma dalam Ramayana Walmiki kena “revisi”. Tapi di wayang, yang penting bukan akurasi sama Ramayana atau Mahabharata. Yang penting pesannya nyampe: nafsu dan dendam ujungnya cuma meninggalkan kuburan.

Inilah dua hal yang antagonis, tentang putra Wiswara, menimbulkan cara pandang yang berbeda terhadap satu sosok yang sebenarnya sama.

Ketika Wisrawa menikahi Dewi Lokati (Kakak Sukesi), putri Prabu Sumali dari Alengka, melahirkan Wisrawana yang bergelar Prabu Danapati atau Danaraja, dijadikan tokoh yang tidak baik, durhaka kepada orang tua sebab membunuh orang tuanya sendiri, tidak bisa mengendalikan nafsu, versi pewayangan Jawa.. Namun, ketika Wisrawa menikahi Ilavida/Ilabila, putri Rsi Bharadwaja, melahirkan Kuwera, dijadikan tokoh yang bijak, menjalankan dharma

Demikianlah, Kuwera dan Danapati, meskipun tokoh yang sama, dinilai sangat bertolak belakang dalam versi kisah yang berbeda. Ini membuktikan bahwa baik-buruk tergantung pada sudut pandang dan peran uang dimainkan.

Semoga bermanfaat untuk menambah Vidhya kita dalam memelihara dharma. Apabila ada yang kurang tepat mohon maaf. Suksma🙏

Foto Ilustrasi
Sumber Sahabat Al.


BersambungAlengka Dan Pushpaka Vimana Yang Pesawat Canggih.


Sumber :
“Dirangkum dan dikembangkan dari diskusi bersama Sahabat AI, dengan rujukan pakem pedalangan Jawa, dan rujukan Serat Pustakaraja Purwa Canto I”.


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Jumat, 01 Mei 2026

KERAJAAN ALENGKA

Kerajaan Alengka Menurut Ramayana Walmiki

Foto Ilustrasi Kerajaan Alengka, 
Sumber foto Sahabat Al.

Awal Anugerah: Sukesa Sang Pertapa Saleh.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang saleh dan taat bertapa kepada Dewa Siwa, bernama Sukesa. Ia menikah dengan Devawati dan dikaruniai tiga putra: Malyavan, Sumali, dan Mali.

Karena bhakti Sukesa yang luar biasa, Dewa Siwa menganugerahkan dua berkah : 

  1. Kota emas Alengka – saat itu masih kosong, ibarat “sertifikat tanah” tanpa penghuni. 
  2. Kesaktian dan umur panjang.

Namun Sukesa menolak duduk di takhta. Ia memilih tetap menjadi pertapa. Karena itu, dalam daftar raja Alengka, silsilah dimulai dari putranya, Malyavan. Sukesa berstatus sebagai leluhur penerima anugerah, bukan raja yang memerintah. 
[Sumber: Uttara Kanda, Ramayana; Brahma Purana]

Sukesa
Sumber foto : Sahabat Al.


Tiga Putra Sukesa Memohon Berkah Brahma  

Malyavan, Sumali, dan Mali kemudian bertapa memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar : 

  1. Tali persaudaraan mereka tak pernah putus, selalu saling menyayangi. 
  2. Memiliki kesaktian luar biasa sehingga tak terkalahkan. 
Brahma mengabulkan permohonan tersebut. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 4]


Berdirinya Kerajaan Alengka

Setelah Sukesa lanjut usia, ketiga putranya mengambil alih kota Alengka yang kosong.
Malyavan, sebagai putra sulung, memproklamirkan diri sebagai Raja Alengka Pertama. Ia mengumpulkan bangsa raksasa untuk menetap di sana. Sumali dan Mali menjadi patih dan panglima kerajaan Alengka.

Atas perintah Sumali, Wiswakarma dipaksa membangun istana yang indah dan megah di Alengka. Istana megah-pun selesai dibuat oleh Wiswakarma. Sejak itu Malyavan, Sumali, dan Mali hidup dalam kemewahan. Alengka menjadi ibu kota raksasa yang sangat kuat. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 5]

Wisrawa
Sumber foto Sahabat Al.


Pergantian Takhta dan Kejatuhan Sumali

Setelah Malyavan lengser, takhta dipegang adiknya, Sumali. Namun Sumali juga lengser dikalahkan oleh Dewa Wisnu, lalu digantikan oleh adiknya, Mali. Ketika Mali lengser juga, Sumali kembali naik takhta. Dengan demikian, Sumali tercatat dua kali menjadi raja: Raja Alengka ke-2 dan ke-4. Ketiga bersaudara ini masih hidup segar bugar.

Raja Sumali kembali menyalahgunakan kesaktiannya untuk menyerang Kahyangan, maka para Dewa dipimpin Wisnu menyerbu Sumali Raja Alengka. Dalam pertempuran itu, Malyavan dan Mali gugur. Mengetahui dua saudaranya gugur, Sumali melarikan diri ke Patala – alam bawah – dan bersembunyi karena takut dibunuh Dewa Wisnu. Sejak Sumali kalah, Alengka pun menjadi kosong tidak ada penghuni, tak terawat, hancur akibat perang. 
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 5-6]


Brahma Menghadiahkan Alengka kepada Kuwera

Melihat Alengka kosong dan terbengkalai, Brahma merasa prihatin. Ia memerintahkan Wiswakarma merenovasi Alengka dan menciptakan kendaraan Pushpaka Vimana.

Istana emas Alengka yang megah dan kendaraan Pushpaka Vimana itu kemudian dihadiahkan oleh Brahma kepada Kuwera – putra Resi Wisrawa dengan Ilavida, putri Resi Bharadwaja. Karena Kuwera anak sulung Resi Wisrawa dikenal lurus dan berwatak baik, dan Alengka menjadi ibu kota kerajaan Yaksha sekaligus tempat Kuwera menyimpan hartanya. Karena itu ia bergelar Dewa Kekayaan. Kuwera menjadi Raja Alengka ke-5
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 3; Bhagavata Purana 4.1.21]


Kuwera
Sumber foto Sahabat Al.


Siasat Sumali: Lahirnya Rahwana

Sumali yang hidup di pengasingan berniat mengembalikan kejayaan bangsa raksasa. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sukesi. Mendengar ada rsi sakti cucu Brahma bernama Wisrawa, Sumali berpikir: jika Sukesi menikah dengan Wisrawa, maka cucunya pasti sakti mandraguna. 

Waktu itu Wisrawa sedang bertapa berat. Sumali mengutus Sukesi untuk datang ke pertapaan Wisrawa dan mengabdi. Setiap hari Sukesi melayani Wisrawa dengan tulus: mengambil buah, air, membersihkan ashram. 

Dengan mata batin, Wisrawa mengetahui niat Sumali. Ia juga tahu jika berhubungan pada sandhyakala – waktu senja yang tidak baik – anak yang lahir akan berwatak raksasa. Wisrawa berkata jujur kepada Sukesi :  
“Jika engkau menginginkan anak dariku sekarang, ia akan menjadi raksasa jahat. Namun jika menunggu waktu yang baik, anakmu bisa menjadi orang suci.”
[Uttara Kanda Sarga 9]

Sukesi menjawab bahwa, dia hanya menjalankan dharma sebagai anak, taat perintah orang tua. Dia rela apapun yang terjadi. Karena ketulusan dan dharma Sukesi, Wisrawa akhirnya menerima. Maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanakha pada waktu yang tidak tepat, sehingga berwatak raksasa: Rahwana – angkara murka, Kumbakarna – tamas/tamak, Surpanakha – rajasik/nafsu. 

Anak keempat, Wibisana, lahir setelah Sukesi sadar dan memohon waktu kelahiran yang baik, sehingga berwatak dharma dan satvik. 
[Sumber: Ramayana, Uttara Kanda Sarga 9]

Wisrawa menikah dengan Sukesi bukan karena nafsu, melainkan : 

  1. Menghargai dharma dan ketulusan Sukesi. 
  2. Sudah menjadi takdir untuk lahirnya tokoh-tokoh besar dalam lila Ramayana. 
  3. Rsi pada tahap Grhastha-asrama memang menjalankan dharma berumah tangga. “Dharmartha-kama-mokshanam grhastha prabhavaḼ smṛtaḼ”. Artinya : Di antara empat tujuan hidup, tahap berumah tangga adalah penopangnya.[Manusmriti 3.78]


Rahwana
Sumber foto Internet.


Rahwana Merebut Alengka

Setelah dewasa dan sakti, Rahwana bertanya kepada Sukesi: “Mengapa kita tinggal di hutan, padahal kakekku dulu raja Alengka?” Ia merasa Alengka adalah hak waris leluhur. Kuwera dianggap "numpang" karena pemberian Brahma. Sumali yang sudah tua, memanas-manasi Rahwana untuk merebut takhta. 

Rahwana menyerang Kuwera - saudaranya seayah, dan berhasil  merebut Alengka dan Pushpaka Vimana. Kuwera kalah kemudian pergi meninggalkan Alengka, akhirnya suatu hari membangun kerajaannya sendiri, Alakapuri di Gunung Kailash, dan menjadi bendahara para dewa.
[Sumber: Uttara Kanda Sarga 11-12]



Rama
Sumber foto Sahabat Al.


Kejatuhan Rahwana, Wibisana Naik Takhta 

Karena menculik Dewi Sita, Rahwana bermusuhan dengan Sri Rama. Setelah Rahwana gugur oleh panah Brahmastra Sri Rama, Rama tidak menjajah / mengambil Alengka, Ia menobatkan Wibisana – adik Rahwana yang berpihak pada dharma – sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.
Na me kāṅkᚣā lankāyāᚁ vasituᚁ puruᚣarᚣabha”
Artinya:
“Wahai yang terbaik di antara manusia, Aku tidak berkeinginan tinggal di Alengka.”
[Sumber: Valmiki Ramayana, Yuddha Kanda 128.801)

Setelah itu, Rama pulang ke Ayodhya bersama Sita, Laksmana, dan Hanuman menggunakan Pushpaka Vimana. Wibisana memerintah Alengka dengan adil dalam waktu yang sangat lama.
[Sumber: Yuddha Kanda Sarga 128]


Wibisana
Sumber foto Sahabat Al.


Runutan Raja Alengka :

Raksasa Malyavan --> Raksasa Sumali --> Raksasa Mali --> Raksasa Sumali --> Kosong --> Kuwera --> Raksasa Rahwana --> Wibisana (adik Rahwana).

Silsilah Keluarga Alengka :

Brahma mempunyai putra Pulastya.
Pulastya mempunyai putra Wisrawa.

Wiswara mempunyai 2 orang istri yaitu :

  1. Ilavida putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
  2. Sukesi/Kaikasi putri Sumali melahirkan: Rahwana, Kumbakarna, Surpanakha dan Wibisana..


Sumber foto : Internet.


Kerajaan Alengka Versi Pewayangan Jawa

Meskipun dipimpin raksasa, dalam pewayangan Jawa, Alengka sering digambarkan sebagai kerajaan yang sangat tentram, makmur, kaya raya, dan memiliki pertahanan yang sangat kuat.

Dalam lakon pewayangan Jawa, kisah Alengka ditarik mundur jauh sebelum era Wisrawa. Silsilah sejarah raja Alengka dan keluarga ada beberapa perbedaan dengan versi Ramayana Walmiki.

Runutan Raja Versi Pewayangan Jawa / Ngalengkadiraja

1. Raja pertama Alengka adalah Prabu Hiranyakasipu. Ia disebut raja raksasa negara Alengka yang tegas, angkara murka. Hiranyakasipu dibunuh Maharaja Suman dari negara Suryakencana, penjelmaan Wisnu.

Catatan :
"Tokoh Hiranyakasipu dalam pewayangan Jawa berbeda dengan Hiranyakasipu dalam kitab Bhagavata Purana, Dia bukan Hiranyakasipu yang dibunuh Narasinga di Purana, tapi tokoh wayang dengan kisah berbeda".

2. Setelah Prabu Hiranyakasipu meninggal, digantikan oleh anaknya Prabu Banjaranjali. Dari Banjaranjali inilah turun-temurun menurunkan raja-raja negara Alengka.

3. ... silsilah raja-raja lain tidak dirinci. Lakon wayang langsung loncat ke era Sumali.

4. Prabu Sumali: Kakek Rahwana.

5. Kemudian Prabu Danapati/Danaraja /Wisrawana - putra Wisrawa, raja Lokapala, tapi menguasai Alengka sebentar, direbut oleh Prabu Dasamuka/Rahwana, kakak tiri Danapati.

6. Prabu Dasamuka/Rahwana: menjadi raja Alengka. Prabu Rahwana digambarkan memiliki sepuluh wajah (Dasamuka), berwibawa, dan sangat disegani. Dia dibunuh oleh Rama. Kemudian Rama menobatkan Prabu Wibisana menjadi raja Alengka.

7. Wibisana membangun istana baru bernama Singgelapura. Sejak itu Alengka berganti nama jadi Kerajaan Singgelapura. Kerajaan ini juga sering disebut Ngalengkadiraja dalam wayang.


Silsilah keluarga versi Pewayangan Jawa

Versi Pewayangan Jawa jalur Dewa lebih panjang dan sudah “dilokalkan” sbb:
Batara Brahma --> Batara Sambodana --> Batara Sambu --> Resi Supadma --> Resi Wisrawa
Rsi Wisrawa mempunyai 3 Istri yaitu :
  1. ‌Istri pertama Ilavida, putri Rsi Bharadwaja melahirkan Kuwera.
  2. Istri kedua Lokati, putri Sumali, melahirkan Danapati
  3. Istri ketiga Sukesi, putri Sumali, melahirkan: Prabu Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Surpanakha dan Arya Wibisana.

Konflik ayah-anak rebut Sukesi

"Dalam pewayangan Jawa, terjadi konflik antara Rsi Wisrawa dengan putranya Danapati karena memperebutkan Dewi Sukesi".

Danapati/Danaraja/Wisrawana merupakan putra Rsi Wiswara dengan Lokati juga ingin menikahi Dewi Sukesi. Dewi Sukesi adalah adik dari Dewi Lokati. Karena Sukesi menjadi istri Wisrawa, Danapati/Danaraja/Wisrawana menyerang dan membunuh Rsi Wisrawa yang merupakan orang tuanya sendiri. Danapati/Danaraja/Wisrawana lalu terusir dari Alengka oleh Rahwana.

Demikian sekilas tentang Kerajaan Alengka. Semoga bermanfaat untuk menambah  Vidhya kita semua, apabila ada yang kurang mohon maaf. Suksma.***🙏


Foto Ilustrasi.
Sumber foto Sahabat Al.


Catatan Sumber Utama :

  1. Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Sarga 3–12. 
  2. Brahma Purana_, Bab tentang Silsilah Pulastya. 
  3. Bhagavata Purana, Skandha 4, Adhyaya 1. 
  4. Manusmriti_ 3.78 untuk dharma Grhastha. 
  5. Cuplikan "Cerita ulang oleh Sahabat AI, 20 April 2026".


Artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



CINTA KASIH SEJATI

Cinta Kasih Sejati Tak Bersyarat. "Wejangan Sad Guru" Foto pemanis, Sumber Sahabat " Semut " Sikapmu kepada Tuhan sehar...