Struktur Pribadi Manusia
Annamaya Kosa (Lapisan Fisik), selubung yang paling luar berupa badan wadag yang terdiri dari berbagai unsur makanan, yang tersusun dari unsur-unsur Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta.
Pranamaya Kosa (Lapisan Energi), menggerakkan yang lebih dalam berupa tenaga vital (energi) dalam tubuh setiap mahluk.
Manomaya Kosa (Lapisan Mental) , Lapisan pikiran dan emosi, mencakup keinginan, persepsi, dan perasaan.
Vijnanamaya Kosa (Lapisan Intelek) , Lapisan kesadaran intelek, kebijaksanaan, dan kemampuan membedakan benar dan salah (buddhi)
Anandamaya Kosa (Lapisan Kebahagiaan) , Lapisan paling dalam yang tersusun dari energi kebahagiaan sejati (ananda) dan kedamaian tertinggi.
Sthula Sarira (badan wadag/badan kasar), terdiri dari Anamaya Kosa dan Pranamaya Kosa.
Suksma Sarira (badan halus) terdiri dari Manomaya Kosa dan Vijnanamaya Kosa.
Antahkarana Sarira (yang menyebabkan hidup), yakni Anandamaya Kosa - Atma atau Sang Diri.
Bila seseorang meninggal dunia, maka Annamaya Kosa (Lapisan Fisik), selubung yang paling luar berupa badan wadag akan hancur, sedangkan badan lainnya masih tetap utuh.
Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) tahap pertama. Secara etimologis Ngaben berasal dari kata “api” yang mendapat awalan “nga”, dan akhiran “an”, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan mengalami perubahan kata menjadi "ngaben". Ada yang mengatakan ngaben dari kata "beya". Dalam kalimat aktif menjadi meyanin, ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben. Ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadikan abu) dll.
- Sawa Wedana : Ngaben yang layon/ jenasahnya langsung dibakar/kremasi.
- Asti Wedana : Ngaben dimana layon/ jenasah orang yang diaben terlebih dahulu ditanam disetra, setelah beberapa lama (umumnya setelah satu tahun) tulang belulangnya diangkat untuk diaben.
- Svasta : Ngaben dimana layon/jenasah orang yang mau diaben tidak ditemukan/ hilang (misalnya karena perang, kecelakaan di laut dll).
Di dalam upacara ngaben terjadi suatu pemisahan jiwatma dengan Sthula Sarira, sehingga Jiwatma berada di Bwah Loka.
- Masing-masing peserta Mendak Arwah yang akan diupacarai di masing-masing Pura Dalem/Segara, selanjutnya dibawa ke Jro Bangsal.
- Nunas Don Bingin. Pohon bingin atau beringin di dalam kitab suci veda dan susastra Hindu lainnya disebut Kalpataru atau Kalpavriksa. Sejenis dengan pohon ini disebut juga Asvatta. Pohon beringin awalnya tumbuh di sorga dan untuk kesejahteraan umat manusia, pohon ini diturunkan ke bumi sebagai simbolis untuk memperoleh kesejahteraan. Pohon kalpataru ini banyak dipahatkan di dinding luar mandir atau candi, sama seperti kita dapat melihat di candi Prambanan - Jawa Tengah. Upacara Nunas Don Bingin ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain. Sebagai alas daun bingin yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.
- Ngajum Puspasarira atau Puspalingga. Karena dalam prosesi mamukur tidak ada jenazah, maka dibuatkan simbol-simbul badan halus dari atma/roh yang akan diupacarai. Upacara memetik daun beringin (kalpataru/kalpavriksa 108 lembar) dipergunakan sebagai bahan Puspasarira (simbol badan/pengawak) bagi arwah yang akan disucikan. Arwah atau roh yang disucikan itu diharapkan berkenan hadir dan menjadikan Puspasarira sebagai badannya. Atma yang akan disucikan sebagai purusa, sedang Puspasarira sebagai prakrti-nya.
- Lunga ke Beji/Taman. Puspa Sarira/Puspa Lingga yang diyakini sudah ada roh /arwah yang akan disucikan disunggi dan dipayungi Tedung putih - kuning oleh masing-masing keluarga dibawa ke Beji/ Taman. Karena jumlahnya cukup banyak, iring-iringan menuju Bejian lumayan panjang. Setibanya di Jro Bangsal dari Beji, disambut dengan tari-tarian.
- Mapradaksina / mapurwadaksina . Upacara ini mengandung makna roh leluhur yang diupacarakan berkenan hadir dalam upacara. Selanjutnya mengikuti jejak lembu putih (sapi gading) sebagai simbol mengikuti jalan ketuhanan (karena lembu putih adalah kendaraan dewa Siwa). Melalui upacara ini dimohon kehadapan Sang Hyang Siwa agar leluhur yang diupacarakan dapat mencapai sorga.
- Ngaliwet. Upacara ini mengandung makna sebagai persembahan atau bekal roh, selanjutnya bekal akan dipersembahkan oleh roh kepada Sang Hyang Siwa berupa nasi yang dibuat berbentuk seperti bola pingpong disebut Pitrapinda, di India disebut "Pioia”, dan bubur bundar (bubur-pitara) dipersembahkan oleh roh kepada Sang Hyang Yama - putra Sang Hyang Surya (Siwa) sebagai penguasa alam kematian (Pitraloka).
- Ngeseng. Yakni membakar Puspasarira (wujud badan roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, panguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api suci yang diberikan oleh pandita pemimpin upacara. Upacara ini dilakukan pada dini hari, saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Atma dari keduniawian. Namun sejak Covid-19 upacara ngeseng tidak lagi dilakukan pada dini hari, ada yang dilakukan siang hari atau malam sekitar pukul 22.00 WIT.
- Nganyut Sekah ke Segara atau ke Sungai. Upacara ini mengandung makna bahwa abu bekas Puspasarira ini dikembalikan ke unsur alam yang disebut Panca Mahabhuta yang disimbolkan dengan air. Air sungai yang mengalir akan menyatu juga dengan air laut berfungsi sebagai rangkaian akhir hayutnya kekotoran dunia, sekaligus juga sebagai tempat penyucian dari Tirta Amrita (air kehidupan dan keabadian).
- Dewapitra Pratistha. Upacara ini mengandung makna permohonan kepada Atma yang disucikan itu berkenan untuk berstana di pura keluarga, Sanggah Kamulan atau Kawitan untuk disembah memohon wara nugraha dan perlindungannya.
- Nyagara-gunung, yaitu ucapan terima kasih kepada Sang Hyang Baruna (penguasa lautan) serta Sang Hyang Siwa/Sang Hyang Girinatha (penguasa Gunung), atas karunianya dengan berbagai isi alam yang kita pergunakan beryadnya, sehingga upacara telah berjalan dengan sukses.
- Maajar-ajar mengandung makna ucapan terima kasih pihak yang meyadnya kepada pihak yang membimbing (para ajar) yaitu Pandita, Pemangku, Serati dll yang telah memberikan jasa-jasanya sehingga yadnya berjalan sukses sebagai mana mestinya. Acara nyegara gunung dan meajar-ajar dilaksanakan sekalian. Biasanya perjalanan ke Pura Goa Lawah dan Pura Besakih. Namun bisa dilakukan ke berbagai pura suci lainnya, tidak terbatas hanya ke Pura Goa Lawah atau Pura Besakih. Pemilihan pura bisa disesuaikan dengan tradisi dan kepercayaan setempat, karena nyegara gunung dan meajar-ajar adalah upacara untuk mengiringi roh leluhur (yang diupacarai) dalam perjalanan tirta yatra ke berbagai pura suci di Bali. Maka untuk beliau dibuatkan Daksina Tapakan. Daksina tapakan tidak memakai nama, berapapun dalam satu merajan ada yang diaben, cukup buat 2 Daksina Tapakan yaitu untuk bhatara dan bhatari.
- Sekembalinya dari maajar-ajar dan nyegara gunung Daksina Tapakan dibakar dihalaman merajan dan abunya ditanam dibelakang Sanggah Kamulan, sedang pipil tapakan disimpan di Rong Tiga, yang di utara untuk bhatara sedangkan yang kiri untuk bhatari. Prosesi diakhiri dengan menghaturkan soda putih kuning dan dilakukan persembahyangan bersama.
- Terakhir dari upacara ini adalah Ngalinggihang Dewa Pitara (Dewa Hyang) - menstanakan kembali atma (roh suci) yang diyakini telah mencapai “Atmasiddha dewata” di palinggih Kamulan atau Kawitan. Jika prosesi ini telah dilakukan, maka hutang anak terhadap Bapak/Ibu/leluhur sudah terbayarkan dan dengan kesucian roh/atma leluhur ini dipercayai akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada keturunannya.

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏
















