Dalam keyakinan Hindu (Cudamani, 1991 : 9), seseorang yang baru dilahirkan membawa wasana karmanya masing-masing atau sisa-sisa hasil perbuatannya pada kehidupannya yang lampau, yang tidak seluruhnya habis dinikmati. Karma wasana itu meliputi sisa-sisa perbuatan baik ( subha karma) dan sisa-sisa perbuatan yang tidak baik (asubha karma). Perimbangan perbuatan baik dan buruk itu oleh umat Hindu diyakini mempengaruhi karakter seseorang atau tiga sifat dasar yang dimiliki seseorang yaitu : sattwam, rajas dan tamas yang dikenal dengan Tri Guna .
Karakter satttwam atau satwik adalah sifat-sifat yang bijaksana, penuh kehati-hatian, sopan santun dan beberapa sifat-sifat baik lainnya. Sifat rajas adalah sifat penuh napsu, enerjik, sedangkan sifat tamas adalah sifat malas, lamban, suka tidur, kurang inisyatif.
Tri Guna ini berada dalam pikiran. Pikiran mempunyai dua medan yaitu : pertama adalah medan “atas sadar”, dimana seseorang dapat mengingat akan sesuatu pikiran yang disampaikan oleh panca indra. Kedua adalah medan “bawah sadar”, di mana orang tidak lagi mengingat kejadian yang pernah dialami.
Bilamana informasi masuk melalui panca indra, informasi itu dilanjutkan oleh syaraf ke otak dan diterima oleh pikiran. Pikiran “atas sadar” tanpa emosi mengirimkan informasi itu apa adanya ke gudang ingatan “bawah sadar”. Segala masukan dari atas sadar dicocokkan dengan arsip di bawah sadar yang ada hubungannya dengan kejadian yang sama. Jika tanggapan dari pikiran bawah sadar ini negatif terhadap informasi yang baru itu, maka bawah sadar akan otomatis mengirimkan reaksi negatif kepada pikiran “atas sadar”. Sebaliknya apabila bawah sadar mengirimkan reaksi positif maka pikiran “atas sadar” akan bereaksi berwujud kenikmatan, kebahagiaan, kegembiraan, kegembiraan. Oleh karena itu ajaran agama mengajarkan agar kita belajar mengendalikan emosi, dimana pikiran ”atas sadar” jangan diberikan mengadakan reaksi spontan. Reaksi apapun yang muncul dari “bawah sadar" biarlah, karena otomatis tanpa terkendali. Tetapi setelah sampai pada pikiran atas sadar haruslah ditahan dan dikendalikan. Pikiran atas sadar mempunyai kemampuan menimbang-nimbang (wiweka).
Faktor lingkungan termasuk teman teman bergaul juga berpengaruh dalam pembentukan sikap mental seseorang. Titik awal jalan spiritual adalah satsang – berteman dengan orang-orang yang baik, saleh. Karena pikiran itu mudah menjalar, ada pepatah sbb : “katakan kepadaKu siapa temanmu, maka akan kukatakan kepadamu siapakah kamu sesungguhnya”.
Shangkara memuji nilai teman dan pergaulan yang saleh dengan kata-kata yang penuh semangat sebagai berikut : “Berkawan dengan orang yang bijaksana menyebabkan timbulnya ketidakterikatan, ketidakterikatan menyebabkan hancurnya khayal maya, hal ini diikuti dengan tercapainya keputusan yang mantap, dan mencapai puncaknya dalam jivanmukti yaitu tercapainya kebebasan pada waktu masih hidup di dunia. Oleh karena itu, hal penting yang harus di ingat adalah : "hanya teman-teman yang baik akan menimbulkan pikiran yang baik dalam hati".
Orang yang tidak patut dijadikan teman adalah : Orang yang tidak membantu sahabat karibnya dalam keadaan darurat ( Reg Veda X.117.4).
Orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan terhadap orang lain, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong atau dusta, orang yang tidak teguh kesetiasaannya. Orang yang sangat bernafsu birahi, orang yang terikat pada hati hingga minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang tidak patut diindahkan (Sarascamuccaya, 325).
Bergaul dengan orang yang jahat perbuatannya, tak dapat tidak akan ketularan oleh noda perbuatan jahatnya (Sarascamuccaya, 326).
Dan tabiat orang yang berakhlak jahat (durjana), miskipun sebesar biji sawi dosa sang sadhu terlihat olehnya; akan tetapi mengenai noda dirinya sendiri kendati sebesar buah maja sekalipun, yang seharusnya terlihat olehnya, tidak tampak olehnya (Sarascamuccaya, 341).
Hendaknya setiap orang menghindarkan dirinya bergaul dengan orang-orang tercela, dan bergaul dengan orang-orang yang baik, bijaksana, demikian pula kebangsawanan sesungguhnya hanya dapat diperoleh melalui amal kebajikan.
Wahai teman-teman, dunia yang penuh dengan dosa dan penuh duka ini berlalu bagaikan sebuah sungai yang alirannya dirintangi oleh batu besar (yang dimakan oleh arus air) yang berat. Tekunlah, bangkitlah, dan sebrangilah ia. Tinggalkan persahabatan dengan orang-orang tercela. Sebrangilah sungai kehidupan untuk tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran (Titib 1996 : 359).
