Kamis, 01 Januari 2026

1. Patal Bhuvaneshwara (Menyingkap Rahasia Siwa di Bumi)

Patal Bhuvaneshwara Dan Raja Rituparna 

Pegunungan Himalaya. Sumber Internet


Patal Bhuvaneshwara

Patal Bhuvaneshwara merupakan tempat persemayaman Dewa Siwa di Bumi. Dari Brahmaloka dan Dewaloka, semua makhluk surgawi dan para Dewa turun ke Patal untuk melayani Siwa di Bumi, bersama seluruh penghuni Patal. Oleh karena dipuja oleh segenap makhluk di berbagai loka, Beliau pun disebut Bhuvaneshwara, "Tuhan Semesta".

Dalam Skanda Purana bagian Manaskanda disebutkan bahwa Raja Rituparna dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara (tempat persemayaman Dewa Siwa di Bumi), dan  Adishesa menganugerahkan Raja Rituparna penglihatan  kedewataan " Divyadristhi " sehingga Ia dpt menyaksikan Siwa sedang dilayani oleh berbagai Dewa - Dewi penghuni sorga di Patal Bhuvaneshwara.

Kisah ini dikutip dari Buku Menyingkap Rahasia Siwa Di Bumi (Patal Bhuvaneshwara) terjemahan Made Aripta Wibawa (2000), dari buku berjudul "Bhagawan Sri Sathya Sai and Patal Bhuvaneshwara" oleh Prof. GK Karanavar.

Kisah Raja Rituparna diceritakan dalam Manaskanda di Skanda Purana. Saat ini, ada 60 Purana diantaranya 18 dianggap sbg Maha Purana yaitu :

  • Brahma, Padma, Wisnu, Vayu, Bhagavata, Narada, Markandeya, Agni, Bhavishya , Brahmavaivarta,  Lingga, Varaha, Skanda, Vamana, Kurma, Matsya, Garuda, dan Brahmanda .


Diantara ke 18 Maha Purana ini Skanda Purana melampaui semua Purana ini, khususnya yang mencakup isi. Skanda Purana terdiri dari 100 krore adyaya (ayat), yg digubah oleh Rsi Wyasa sampai 81.000 syair.


Raja Rituparna

Disebutkan bahwa,  Raja Rituparna dikenal karena keberanian dan kepintarannya, serta kepeduliannya terhadap rakyatnya. Beliau adalah penguasa Ayodhya dari Dinasti Surya, keturunan ketujuh dari Raja Bhageeratha. Raja Bhageeratha yg menurunkan sungai suci Gangga dari sorga menuju Patal (gua), setelah melakukan tapas dengan kerasnya.

Suatu hari Raja Rituparna berburu ditemani para menteri, pendeta, tentara, di pegunungan Himalaya. Dia melihat babi hutan kemudian ia mengejar babi hutan tsb, krn jalan sempit tdk memungkinkan naik kereta, Raja akhirnya berjalan kaki terus mengejar babi hutan, babi hutan melarikan diri dg cepat, akhirnya babi hutan menghilang. Raja merasa kesal karena binatang buruannya menghilang. Raja kehilangan jejak di hutan, Raja terpisah dg para pengikutnya, terus berjalan tidak tahu arah dalam hutan dan tiba di Gunung Daru.

Terik matahari yang sangat menyengat, membuat Raja mulai merasakan kelelahan, haus dan lapar. Raja mencari tempat yg teduh ingin beristirahat dan melepas dahaganya, dan tibalah Raja di pintu masuk sebuah gua, dekat "Sanggam" (pertemuan dua buah sungai) dari sungai suci, Sungai Serayu dan Sungai Ramgangga .

Di pintu gua, Raja bertemu dengan seorang penjaga (Dwarapalaka) yang mengaku sebagai pengikut Siwa. Raja menjelaskan tentang dirinya dan sampai di pintu gua. Raja meminta bantuan Dwarapalaka membantu masuk ke dalam gua. Dwarakapala membantu Raja dan mengatakan bahwa Raja akan melihat suatu pemandangan yang sangat menyenangkan di dalam gua.


Raja Rituparna Dalam Gua

Begitu sampai dalam gua, Raja Rituparna terkejut dg pemandangan yang ada di dalam gua. Gua itu disinari oleh cahaya yang berasal dari permata yang jarang dilihat yang ada di kepala ular Adishesa, juga melihat Adishesa memikul bola dunia di atas kepalanya. Adishesa memiliki ribuan kepala dengan cahaya kemilauan dikepalanya. Adishesa sedang beristirahat dikelilingi oleh sejumlah Naga dan ular naga Basuki.

Rituparna sangat kagum dan heran dengan pemandangan luar biasa yang belum pernah dia saksikan selama ini. Dengan melihat pemandangan ini rasa capek, haus dan lapar Raja Rituparna menjadi hilang. Sungguh ini merupakan suatu anugerah baginya.

Kehadiran Raja Rituparna di Patal mengejutkan Nagakanyaka dan Naga Basuki, yang kemudian menyeret Raja ke hadapan Adishesa. Namun Raja Rituparna merasa sangat senang ketika didekatkan kepada Adishesa. Raja memberikan hormat dan bersujud kepada Adishesa.

Disenangkan oleh bhakti dari Raja Rituparna, Adishesa memperlakukan Raja Rituparna dengan baik, dan meminta keterangan tentang dirinya; mama, dan apa tujuannya masuk ke gua? Raja kemudian menjelaskan tentang dirinya dan tujuan sampai ke gunung Daru, (spt awal cerita...)

Adishesa puas dengan jawaban Rituparna. Adishesa bertanya lagi, Siapakah yang dipuja manusia di bumi?” 
"Yang dipuja di bumi adalah Siwa yg dikenal dengan Hara atau Shankara", jawab Rituparna,
Adishesa sangat puas atas jawaban Raja Rituparna. 
Adishesa bertanya lagi, " Apakah anda tahu tentang gua ini, dan mengetahui bahwa Shankara (Siwa) bersemayam disini?"

Raja Rituparna terkejut setelah mendengar ternyata Shankara (Siwa) bersemayam di gua ini. 

Raja pun menjawab, " Saya belum pernah mengenal tempat ini, dan saya merasa beruntung telah memperoleh 'darshan' melalui rahmat Tuhan Shankara".
Adishesa sangat puas dg jawaban Raja.

Adhishesa kemudian menjelaskan kepada Raja, 
"gua utama tempat bersemayam Siwa disebut  Shoban.  Dihuni oleh 33 krore = 33 jutamakhluk (Dewa, Daithya,  Danawa, Rakshasa, Gandharwa, dan Naga) yang Siwa. Mata manusia yang kasar tidak dapat melihat Shankara (Siwa) dan tempat bersemayam-Nya, begitu juga tidak dapat melihat banyak gua tersembunyi disini. Ada 3 gua yang sangat melayani rahasia bahkan para Dewa pun tidak bisa melihat dan memasukinya yaitu: Smaram , Smeru , dan Sudhama.”


Penglihatan Kedewataan Raja Rituparna

Adishesa kemudian menganugerahkan penglihatan kedewataan -  Divyadristhi  kepada Raja Rituparna agar Ia dapat melihat Shankara (Siwa) dan gua-gua tersembunyi.

Setelah mendapat anugerah penglihatan kedewataan, Raja Rituparna melihat gua itu sangat luas - namanya Seshawati.
Raja melihat berbagai penampakan dewa-dewa seperti : Wisweswara dengan nagamala yang dililitkan dilehernya. Gajah Surgawi Irawatha, pohon Parijatha, Brahaspathi (guru para dewa), Amarawathi; dan berbagai ular raksasa seperti : Naga Basuki, Naga Thaksaka, Naga Karkotaka dll.

Rituparna juga melihat pintu masuk surga yang dijaga Sidha disisi kiri, serta Dewa Ganesha yang memikul "Mahayoni" disisi kanan. 


Adishesa Mengajak Raja Rituparna Keliling Gua

Raja diajak oleh Adishesa ke gua tempat bersemayam Gowinda dan Someswara. Di dekat gua, Adishesa menunjukkan Dewi Patal Bhuvaneswari. Raja juga melihat Rsi Markandeya sedang melakukan tapa dengan khusuk, dibantu oleh sejumlah Widyadhara.

Adishesa menunjukkan 2 jalan lintasan : satu menuju Godavari dan yang lainnya menuju Sethubhanda.
Raja Rituparna mengikuti jalan yang ke Godavari dan tiba di Rameswaram, disana Raja mandi di laut, dan melakukan puja.

Raja juga melihat gua Sagaragamani dan gua Kadaleewanam , Raja terus berkeliling di gua dan mendapatkan dharsan dari Candrasekhara dan Wrindyswara, serta menemukan dua Lingga Siwa.

Raja melanjutkan perjalanan ke Pancakadera , disana Raja menyaksikan Dewa Brahma sedang melakukan abiseka Linggam Pancakedara dengan air suci yang keluar dari bunga Tunjung.  dengan air suci yang keluar dari bunga Tunjung. 

Rahasia pralaya dunia dipercaya tersembunyi di dalam gua ini. Lingga Siwa yang telah terbentuk di sini terus membesar, dan pada saat ujung linggam menyentuh atap gua, saat itu dunia akan pralaya.

Perjalanan Raja Rituparna berlanjut ke Waidyanath, disini Raja mendapatkan Dharsan Ganesa.

Raja Rituparna menuju gua lainnya tiba di Kota Wirata, disana Raja mandi di sungai Sathya dan memperoleh dharsan Kirathesa.
Adhishesa menunjukkan kepada Raja sapi sorgawi Kamandhanu  yg mengeluarkan air susu dari ambingnya dan jatuh di lingga Wrishabhesa.

Raja Ke Tempat Persemayaman Dewa Siwa

Setelah banyak mengunjungi gua-gua, kemudian Raja diajak ke gua tempat persemayaman Shankara (Siwa), lalu Raja melakukan puja di gua itu. Adishesa menunjukkan tempat tinggal para dewa, dan Raja dpt menyaksikan 33 jt dewa yang sibuk melayani Siwa.  Di sisi kiri, Raja melihat Chandra dengan ribuan galaksi dan bintang-bintang
Raja bertanya kepada Adishesa,
Mengapa Siwa dikenal sebagai Bhuvaneshwara,  siapa yang memuja-Nya, dan apa manfaatnya bila seseorang melakukan puja seperti itu?”

Adishesha menjawab,
"Semua makhluk surgawi dari Brahmaloka dan para Dewa dari Dewaloka datang ke Patal untuk melayani Tuhan Maheswara, didampingi oleh semua makhluk penghuni Patal. Karena dipuja oleh semua makhluk penghuni loka di tempat ini, Beliau dikenal sebagai Bhuvaneshwara."
"Hari yang paling penting dan paling suci adalah hari Sanipradosha . Pada hari itu, Mahendra dan para Dewagana melakukan puja kepada Dewa Siwa. Barang siapa yang memuja Tuhan Siwa pada saat itu adalah orang yang paling beruntung, karena ia akan mencapai surga dan akan menjadi raja di antara para raja selama tujuh keturunan."

Raja sangat senang mendengar penjelasan Adishesha.

Setelah itu Raja diajak ke gua Smaram,  gua ini dijaga oleh para naga. Raja menyaksikan Wujud Siwa dengan lima kepalaNya, tiga mata disetiap kepalaNya, sepuluh tangan dan memakai kalung tengkorak. Raja melihat  Siwa  dengan Dewi Uma, yang sedang dilayani oleh Brahma.

Setelah itu Raja diajak ke gua  Smeru.  Dalam gua ini Raja menyaksikan Shankara (Siwa) dalam keadaan tidur lelap.

Kemudian Raja diajak ke gua  Sudhama.  Dalam gua ini Raja menyaksikan Maha Lingga  dan  Maha Yoni.

Raja juga menyaksikan Dewa Brahma, Wisnu, Rudra, Prajapati, para Gandarwa, para Daitya, para Danawa dan segala sesuatu yang belum dikenal di dunia, diciptakan di sini. 

Raja juga menyaksikan Dewa Brahma, Wisnu, Rudra, Prajapati, para Gandarwa, para Daitya, para Danawa dan segala sesuatu yang belum dikenal di dunia, diciptakan di sini. Bahkan ia dapat menyaksikan dirinya sendiri, dan Adishesa dihasilkan di dalam Lingga-Yoni ini.

Raja melihat Lima Wajah Siwa muncul dan tenggelam disini. Juga menyaksikan Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi muncul dan menghilang di dlm Yoni; demikian juga dilihat Brahma dan Dewi Sawitri muncul dari Yoni; Brahma melaksanakan kewajiban menciptakan kemudian menghilang kembali bersama Dewi Sawitri.

Menyaksikan pemandangan penciptaan dan peleburan alam semesta, Raja Rituparna bertanya kepada Adishesa, apa makna yang terkandung dalam pandangan itu? 

Adishesa kemudian menjelaskan, 
"bahwa apa yang disaksikan Raja adalah ' jyothi ' atau cahaya suci dari Dewa ketiga (Brahma, Wisnu, Maheswara); yang merupakan inti dari penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta, yang pada hakikatnya adalah ' Siwam '. Maha Rsi merangkumi Brahman. Alam semesta ini dihasilkan dan akhirnya dilebur di dalam jyothi. Dewa meskipun tidak akan mencapai tempat ini, Anda telah menyaksikan awal penciptaan dan peleburan alam semesta".
Dibingungkan oleh pemandangan yang luar biasa, Raja kehilangan akal pikirannya. Pikirannya jauh menerawang apakah ini hanya mimpi atau bukan?

Setelah Raja menyaksikan bagaimana penciptaan dan peleburan alam semesta, Adishesa mengajak Raja ke sebuah gua dan tiba di Sungai Gangga. Raja mandi di Sungai Gangga dan melakukan abiseka Ganesha. Selesai mandi Mereka menuju ke gua yang besar, Raja mendapatkan dharsan Kasi Wiswanatha dan Dewi Gangga.


Wejangan Adishesa kepada Rituparna

Setelah kunjungan ini Adishesa mengajak raja kembali ke Patal Bhuvaneshwara, tempat Adhishesa.  Raja Rituparna diberikan wejangan oleh Adishesa agar tidak menceritakan rahasia dan informasi tentang Patal Bhuvaneshwara kepada siapa pun. Adishesa mengatakan bahwa, rahasia Patal Bhuvaneshwara akan berlanjut sampai ke "Valkal" (Brahmana) yang akan mengungkap tempat persemayaman Tuhan Siwa di Bumi pada zaman kali ke dunia kelak, dan membawa Rahmat yang bermanfaat bagi umat manusia.

Sebelum Raja meninggalkan gua, Adishesa memberikan berbagai macam hadiah dan batu permata yang indah kepada Raja, dan memberi pelayan utk mengawal Raja kembali ke kerajaan, serta memberikan kuda yg dpt menempuh kecepatan cepat keinginan saisnya.  Raja Rituparna sangat gembira dengan pengalaman spiritual yg luar biasa ini dan merasa sangat berhutang budi kpd Adishesa.

Perjalanan dari tempat Adishesa sampai ke pintu keluar gua ditempuh selama 7 hari, selama itu Raja Rituparna duduk di pelana kuda.


Raja Kembali Ke Kerajaannya

Setelah Raja meninggalkan gua, selanjutnya Raja melakukan perjalanan sampai di tepi sungai Serayu. Disini Raja bertemu dengan pengiringnya, para pendeta, menteri dan tentaranya yg begitu gembira setelah bertemu dg Raja. Terus mereka melakukan perjalanan pulang ke kerajaan.

Tiba di Kosala (kerajaan), Raja Rituparna sama sekali tidak bergeming, dia menjaga rahasia kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara kpd semua yg ada di kerajaan.

Raja menghadiahkan permata-permata yg sangat indah itu kpd putra-putranya namun tidak mengungkapkan asal-usulnya.

Putra-putranya sangat senang dg permata tsb. Mereka penasaran thdp permata-permata yg sangat indah itu, kemudian putra-putranya bertanya kepada kpd Raja ttg permata-permata tsb.

Karena terus didesak, Raja Rituparna akhirnya menceritakan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara, dan menyampaikan janji kepada Adishesa. Akibat pelanggaran janji tersebut, Raja Rituparna meninggal dunia sebelum selesai bercerita, dan rohnya dijemput Siwagana dibawa menuju Siwaloka.

Raja Rituparna disebut sebagai satu-satunya orang yang beruntung dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara tempat persemayaman Siwa di Bumi) dan melakukan puja pada zaman Satya Yuga.

Seseorang yang mendengar kisah Raja Rituparna -  Shravanam,  dianggap cukup untuk membimbing seseorang menuju Siwaloka (alam dewa Siwa).  Dengan mengingat keagungan Patal Bhuvaneshwara dengan mengingat Adishesa dan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara -  Smaranam , seseorang akan mencapai mukti (pembebasan) dari segala dosa. 
Apa yg disebutkan dalam Manaskanda di Skanda Purana tentang Siwa bersemayam di bumi (Patal Bhuvaneshwara), skrg sudah terbukti.

Pada th 1989, seorang Bhakta Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, bernama Mayor Jenderal Kanti Taylor (seorang Brahmana) sangat beruntung dipilih dan telah dibimbing oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba untuk mengungkap Patal Bhuvaneshwara di zaman kali Yuga ini. Ini sesuai dengan yang disampaikan Adishesa kepada Raja Rituparna, agar Raja tidak menceritakan tentang Patal Bhuvaneshwara sampai kepada " Valkal " (Brahmana) yang akan mengungkap pada zaman kali.

Mayor Jenderal Taylor adalah orang yang mengunjungi Patal Bhuvaneshwara pada zaman Kali ini, setelah sebelumnya Raja Rituparna pada zaman Satya Yuga seperti disebutkan dalam Manaskanda di Skandapurana.

Bagaimana kisah kunjungan Walikota Jenderal Kanti Taylor ke Patal Bhuvaneshwara th 1989 di zaman kali sekarang?***

Bersambung...

2. Patal Bhuvaneshwara di Zaman Kali


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KAILASH, SINGGASANA SIWA YANG TAK TERSENTUH

  Himalaya Sumber Internet. Berdasarkan Siwa Purana, Ramayana, dan tradisi Hindu.  1. Pendahuluan Ada tempat di bumi yang tidak berani dis...