1. Pengantar: India, Hindu, dan Gangga
India identik dengan Hindu dan Sungai Gangga. Bagi umat Hindu, Gangga bukan sekadar sungai. Beliau adalah sungai suci yang dipuja sebagai Dewi.
Sejak zaman dahulu kala, diyakini bahwa air Gangga memiliki kekuatan melebur kekotoran fisik dan spiritual. Tidak heran lebih dari 400 juta jiwa menggantungkan hidup dan ritual penyuciannya di sepanjang aliran sungai sepanjang 2.525 km ini.
Bagi kita di Bali, ini tidak asing. Sama seperti kita melakukan penyucian fisik dan spiritual dengan mandi di pantai pada hari Bayu Pinaruh, sehari setelah Saraswati.
2. Gangga dalam Tattwa Hindu
Dalam setiap upacara penyucian, nama Gangga - baik sebagai Dewi maupun sebagai tirtha - tidak pernah absen dipuja.
Dalam tattwa Hindu, asal-usul Gangga dipercaya:
- Bagi pemeluk Waisnawa: berasal dari airir yang mengalir dari Kaki Dewa Wisnu.
- Bagi pemuja Siwa: merupakan jatuhan dari Rambut Dewa Siwa.
Di alam Dewa, sungai keramat ini disebut Alakananda . Di alam Pitri, disebut Vaitarani . Nama umum lainnya adalah Bhagirathi .
Sungai Gangga memiliki tujuh aliran anak sungai yang sakral, yang masing-masing diyakini memiliki kekuatan penyucian: Gangga, Yamuna, Saraswati, Vitasta, Sarayu, Gomati, dan Gandaki .
Karena kesuciannya, dikremasi di tepi Gangga dan melarung abu ke Gangga adalah cita-cita tertinggi umat Hindu di India. Sama seperti di Bali kita melarung abu ke laut, karena airr laut diyakini bertemu dengan Gangga.
3. Antara Keyakinan dan Tantangan Polusi
Sebagai sungai suci, Gangga juga mengalami pencemaran berat. Saat ini di beberapa tempat Gangga termasuk sungai dengan tingkat polusi yang tinggi. Polusi berasal dari limbah pabrik-pabrik industri yang mengandung bahan kimia seperti Kromium, diperkirakan hampir satu miliar liter per hari, serta dari ratusan saluran pembuangan, bangkai binatang, dan sisa-sisa kremasi yang tidak terbakar sempurna.
Masyarakat tetap melarung ke sungai karena keyakinan yang sangat mendalam: bahwa Gangga berfungsi menyucikan jenazah dan roh orang yang meninggal.
Kombinasi bakteri, sampah, dan aktivitas ritual di satu tempat menjadikan Gangga sangat khas, sekaligus berisiko bagi kesehatan jika tidak hati-hati.
4. Keajaiban Gangga : Penyucian Diri.
Di situlah letak keajaibannya. Meskipun secara kasat mata sangat tercemar, banyak penelitian mencatat kemampuan unik Gangga untuk melakukan pembersihan diri secara alami (self-purification).
a. Sifat Antibakteri
b. Anti-pembusukan.
CE Nelson, seorang ahli Fisika Inggris lainnya, mencatat bahwa air yang berasal dari sungai Gangga terbukti akan tetap segar jauh melebihi air biasa, ini dibuktikan ketika dia membawa sampel air sungai Gangga untuk dibawa ke daratan Inggris, dan selama berhari-hari anehnya air tersebut masih dalam keadaan segar dan tidak berbau seperti air biasa yang sudah berhari-hari.
c. Fenomena di Tepi Sungai
Pada tahun 1927, Flix Herelle, seorang ahli mikrobiologi berasal dari Perancis, terheran-heran ketika suatu hari ia berdiri di tepi sungai Gangga dan menyaksikan mayat-mayat yang mengambang dengan bebas tanpa hambatan, ' free as wind', lenggok-lenggok mengikuti irama air. Diketahui kemudian itu adalah jenazah orang-orang yang meninggal karena komplikasi penyakit kolera dan disentri, yang lebih mengejutkan lagi ternyata saat jenazah dibuang di sungai Gangga, jenazah yang dianggap penuh bakteri tersebut ternyata bebas dari bakteri.
Inilah yang diyakini umat Hindu selama ribuan tahun: kesucian Gangga tidak ternodai, ibarat bunga teratai yang tumbuh di kolam berlumpur. Airnya mungkin keruh, tapi teratai tetap berbunga cemerlang tanpa ternoda lumpur sedikit pun.
Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian tahun 1983, bahwa di bagian hulu Varanasi yang dianggap lebih murni, bakteri seperti E-coli, fecal streptococci, dan kolera mati 2-3 kali lebih cepat di air Gangga dibandingkan air sungai lainnya.
Buktinya, ribuan umat mandi setiap hari, bahkan jutaan saat Kumbha Mela setiap 3 tahun sekali, namun tidak ada laporan wabah penyakit kulit massal. Air keruh Gangga dianggap aman secara spiritual.
SUNGGUH LUAR BIASA. .!!!
- Menyingkap Rahasia Siwa di Bumi (Patal Bhuvaneshwara Dan Raja Rituparna)
Catatan :
Artikel ini setelah sy shera dan sy simpan, kadang ada perubahan redaksi, kalimat, kata, oleh sistem shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, dan kata yg janggal, kemungkinan besar itu disebabkan oleh sistem.Demikian permakluman sy. 🙏 . 🙏






















Tidak ada komentar:
Posting Komentar