Sabtu, 01 November 2025

Kertanegara Raja Singasari Terakhir, dan 13 Nama - Nama Raja Majapahit

Kertanegara, Sumber Internet

Kerajaan Singasari

Kertanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singasari yang memerintah dari tahun 1268-1292!  Masehi, dengan gelar Sri Maharajadiraja Kertanegara. Ia adalah putra dari Wisnuwardhana, raja Singasari sebelumnya. Kertanegara dikenal karena keberaniannya melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitarnya, dan bercita-cita mempersatukan Nusantara.

Raja Kertanegara mempunyai mantu bernama Raden Wijaya. Kisah asmara Raden Wijaya dengan putri dari Raja Kertanegara juga sempat dituliskan dalam Kitab Negarakertagama serta Kitab Pararaton, disebutkan bahwa Raden Wijaya menikahi empat putri Kertanegara yaitu : Gayatri, Jayendradewi, Nerendraduhita serta Tribhuwaneswari . Dari empat putri tersebut Tribuwaneswari yang terpilih sebagai Permaisuri, sedangkan tiga lainnya adalah selir.  Raden Wijaya sekaligus sebagai panglima perang Kerajaan Singasari.

Pada tahun 1292 M terjadi pemberontakan kepada Kerajaan Singasari yang dilakukan oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-gelang yang kini menjadi Madiun. Jayakatwang mengirimkan pasukan yang besar ke Singasari. Pasukan Jayakatwang pun berhasil menduduki istana Singasari, bahkan Raja Kertanegara terbunuh dalam pemberontakan itu. Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan di sekitar Sungai Brantas.
Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Bidha (Brairawa) di candi Singasari, arca lanjutnya dikenal dengan nama Joko Dolog yang berada di Taman Simpang Surabaya.

Dengan gugurnya Kertanegara maka kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberikan sebidang tanah bernama 'Tanah Tarik' oleh Jayakatwang untuk ditempati.

Raden Wijaya masih memiliki dendam kepada Jayakatwang, dan memiliki kesempatan ketika pasukan Mongol yang dikirimkan oleh Kubilai Khan datang untuk menghukum Kertanegara, karena Kertanegara pernah melukai wajah Meng Ci utusan Kubilai Khan. Namun, karena Kertanegara telah terbunuh, r ibuan  orang pasukan yang dibawa oleh Mongol pun diajak oleh Raden Wijaya untuk kembali menyerang Jayakatwang. Dalam perang ini dimenangkan oleh Raden Wijaya yang dibantu oleh pasukan Mongol.

Raden Wijaya mengaku bahwa apabila meraih kemenangan melawan Jayakatwang maka ia pun akan tunduk pada Kubilai Khan. 
Usai berhasil menyingkirkan Jayakatwang, Raden Wijaya pun langsung menyerang pasukan Mongol. Serangan mendadak tersebut kemudian membuat pasukan Mongol memilih untuk meninggalkan Jawa saat itu.


Kerajaan Majapahit.

Setelah Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang, pada th 1293 pendeklarasian berdirinya Kerajaan Majapahit dan Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana  (1293-1309). Ibukota kerajaannya yang diintepretasikan terletak di Trowulan, Jawa Timur.

Kerajaan Majapahit berkembang menjadi kerajaan besar dengan daerah kekuasaan yang sangat luas dan mampu bertahan hingga lebih dari 2 abad (1293-1528) , dengan 13 kali pergantian raja.


Menurut sejarah, tercatat ada 13 nama raja Majapahit yang pernah memimpin tahta kerajaan, yaitu  :


1.  Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)

Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang berdiri dari tahun 1293 hingga 1527. Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

Menurut Nagarakertagama, Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309. Untuk mengenang Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya kemudian dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping, Blitar, sebagai Hari-Hara , atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Ia digantikan oleh putra, Jayanagara sebagai raja selanjutnya.


2.  Sri Jayanagara atau Kalagemet (1309-1328)

Jayanegara masih berusia 15 tahun saat menggantikan Raden Wijaya sebagai Raja. Dalam Kitab Pararaton, Raja Jayanegara memiliki julukan Kala Gemet, yang berarti jahat dan lemah. Julukan tersebut ditekankan karena Jayanegara tidak memiliki kecakapan dalam melaksanakan pemerintahannya, dan karena sifat-sifatnya yang tidak baik.

Pada masa pemerintahan Jayanegara , banyak terjadi pemberontakan, antara lain: Pemberontakan Gajah Biru (1314), Pemberontakan Nambi (1316), Pemberontakan Semi (1318), dan Pemberontakan Ra Kuti (1319).

Jayanegara meninggal pada tahun 1328 setelah ditusuk oleh Ra Tanca, seorang anggota Dharmaputra yang juga tabib istana. Kemudian takhta Majapahit diteruskan oleh Tribhuwana Wijayatunggadewi, Putri dari Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni.


3.  Tribhuwana Wijaya Tunggadewi atau Sri Gitarja  (1328-1350 ).

Tribhuwana Wijayatunggadewi atau Sri Gitarja adalah seorang ratu perempuan pertama yang memimpin Majapahit dan dikenal karena keberaniannya. Selama masa pemerintahan Tribhuwana, Majapahit melakukan banyak ekspansi ke wilayah Nusantara dibantu oleh Gajah Mada.

Pada tahun 1336 M. Gadjah Mada merayakan Sumpah Palapa di hadapan Tribhuwana, isi sumpah tersebut sbb :

Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada :

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya:

[Akhirnya] Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, [tetapi] tidak ingin amukti palapa. Gajah Mada [bersumpah],
"Jika sudah takluk Nusantara, [maka] aku amukti palapa (aku akan menikmati istirahat). Jika [sudah] takluk Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa (menikmati istirahat)".

Dengan dukungan Gajah Mada, ia memimpin perluasan Majapahit ke wilayah seperti Bali (1343) dan Sumatra (1347).

Tribhuwana Wijayatunggadewi menikah dengan Cakradhara atau Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari pernikahannya, ia memiliki anak yang diberi nama Dyah Hayam Wuruk. Ketika Ibunya (Gayatri) meninggal th 1350 Tri Buana Tunggadewi digantikan oleh Hayam Wuruk, namun menurut prasasti Singasari Tri Buanatunggadewi masih menjadi ratu Majapahit, diperkirakan pada th th 1351 Tri Buanatunggadewi turun takhta.


Gajah Mada : Sumber Internet

4.  Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara  (1350-1389 ).

Pada tahun 1350, Prabu Hayam Wuruk naik takhta dalam usia relatif muda, 16 tahun, dengan gelar Sri Rajasanagara, menggantikan ibundanya - Tribhuwana Tunggadewi.
Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk disebut sebagai raja Majapahit terbesar atau paling utama. Keberhasilannya membawa Majapahit menuju puncak kejayaan tidak lepas dari bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Pada saat Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjalankan pemerintahan, seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji-panji Majapahit. Daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina.

Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada meninggal dan posisi Mahapatih langsung di pegang Prabu Hayam Wuruk dan dibantu Menteri Seniornya bernama Mpu Nala. Beberapa tahun kemudian diangkat Mahapatih baru bernama Gajah Enggon.

Tahun 1389, Prabu Hayam Wuruk meninggal, kemudian Prabu Hayam Wuruk di dharmakan di Candi Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur.

Prabu Hayam Wuruk mempunyai anak 2 orang, anak pertama Kusumawardhani putri dari permaisuri Sri Sudewi, dan kedua Bhre Wirabhumi anak dari istri ke-2 (selir) nya.
Pengganti Prabu Hayam Wuruk adalah anak pertama yaitu Kusumawardhani menjadi Maharani ke 5 yang dibantu suami yaitu Wikramawardhana.


5.   Wikramawardhana dan Kusumawardhani  (1389-1429 )

Ia dikenal karena terlibat dalam Perang Paregreg melawan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir, yang mengklaim hak atas takhta.
Wikramawardhana memimpin "keraton kulon" (barat) sementara Bhre Wirabhumi memimpin "keraton wetan" (timur).  Wikramawardhana awalnya kalah namun berhasil menyalahkan keadaan setelah mendapat bantuan dari Bhre Tumapel. Wikramawardhana memiliki tiga anak dari selir : Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya. Setelah kematiannya, digantikan oleh putri Suhita naik takhta pada tahun 1429.


6.  Ratu Suhita atau Dyah Ayu Kencana Wungu  (1429-1447 )

Ratu Suhita naik takhta pada usia sekitar 20 tahun setelah ayahnya meninggal. Ia merupakan ratu perempuan kedua sekaligus terakhir yang memimpin kerajaan Majapahit setelah Tribhuwana Wijaya Tunggadewi. Ia memerintah bersama suaminya, Aji Ratnapangkaja yang bergelar Bhatara Parameswara. Ia dikenal karena membalas kematian kakeknya, Bhre Wirabhumi, dengan menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati pada tahun 1433.

Masa kepemimpinannya terjadi di tengah situasi sulit, termasuk krisis kelaparan dan ketegangan politik pasca Perang Paregreg, yang mencakup persaingan dua kubu bangsawan besar.

Ratu Suhita meninggal pada tahun 1447,  Ia dicandikan bersama suaminya di Singhajaya. Kemudian  digantikan oleh adiknya, Dyah Kertawijaya, karena tidak memiliki putra mahkota. 


7.  Kertawijaya atau Brawijaya   (1447-1451 )

Kertawijaya adalah raja Majapahit ketujuh dengan gelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana.
Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan meletusnya gunung. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel. 

Beberapa sumber menyebut Kertawijaya sebagai Brawijaya I. Nama "Brawijaya" berasal dari gelar raja-raja Majapahit. Identifikasi ini diperkuat oleh bukti seperti batu nisan Putri Campa yang bertanggal 1448 dan silsilah Raden Patah yang menyebutkan Kertawijaya sebagai leluhur, meskipun ada perbedaan pendapat tentang istri Kertawijaya berdasarkan naskah babad dan serat dibandingkan dengan prasasti. 


8.  Rajasawardhana atau Brawijaya II  (1451-1453 )

Rajasawardhana atau Brawijaya II adalah raja ke-8 Majapahit yang menggantikan ayahnya, Kertawijaya (Brawijaya I). Nama lengkap Rajasawardhana Dyah Wijayakumara, dikenal juga sebagai Sang Sinagara atau Bhre Kahuripan. 
Masa pemerintahannya singkat, hanya dua tahun, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengatasi gejolak internal kerajaan. Setelah wafat tahun 1453, terjadi kekuasaan selama tiga tahun hingga digantikan oleh Girishawardhana tahun 1456..


9.  Girishawardhana atau Purwawisesa atau Brawijaya III  (1456-1466 ).

Sepeninggal Rajasawardhana tahun 1453 Majapahit dilanda hambatan pemerintahan selama tiga tahun. Baru pada tahun 1456, Girishawardhana Bhre Wengker naik tahta bergelar Bhra Hyang Purwawisesa. Pada tahun 1462 terjadi bencana gunung meletus mewarnai pemerintahannya.

Girisawardhana wafat pada tahun 1466, dan dicandikan di "Candi Waji" Puri, Mojokerto. Ia digantikan oleh adiknya Dyah Suraprabhawa yang dianggap identik dengan Bhre Pandansalas, bergelar Singhawikramawardhana yang namanya tercatat dalam prasasti Waringin Pitu (1447) sebagai putra bungsu Dyah Kertawijaya.


10.  Bhre Pandansalas atau Dyah Suraprabhawa atau Brawijaya IV  (1466-1468 )

Maharaja Majapahit yang memiliki gelar lengkap Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta.
Diberitakan dalam Pararaton, setelah Bhre Pandansalas menjadi raja selama dua tahun, keponakannya Bhre Kertabhumi melakukan kudeta untuk mengambil alih kekuasaan pada tahun 1468.


11.  Bhre Kertabumi / Angkawijaya atau Brawijaya V  (1468-1478 )

Sepanjang masa pemerintahannya, Bhre Kertabumi menghadapi berbagai konflik dan pemberontakan internal. Bhre Kertabumi memiliki 3 (tiga) istri cantik jelita yang menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa :  Dewi Amarawati  (seorang putri dari Champa yang dikenal sebagai "Putri Cempo"),  Dewi Wandan Kuning , serta selir : Wandan Sari ( Siu Ban Ci),  adalah seorang wanita Muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari negeri Campa (sekarang di wilayah Vietnam).

Angkawijaya dengan selir Siu Ban Ci mempunyai putra  Raden Patah , yang kemudian mendirikan Kesultanan Demak, sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Kerajaan Bhre Kertabumi / Angkawijaya runtuh saat ia dikalahkan oleh putra sendiri - Raden Patah - Kerajaan Demak Kediri.
Makam Bhre Kertabumi terletak di Trowulan, Mojokerto, di sebelah timur laut Kolam Segaran, dan dikenal sebagai kompleks Makam Panjang. 


12.  Girindrawardhana atau Brawijaya VI  (1478-1489 )

Girindrawardhana atau Brawijaya VI adalah Dyah Ranawijaya, yang dianggap sebagai raja Majapahit yang berkuasa secara mandiri, dan memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (Kediri). Ia naik takhta setelah mengalahkan Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1478 dan menyatukan kembali Majapahit. Ia juga berhasil mempertahankan wilayah Majapahit dari serangan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.
Ketika memerintah, ia berusaha memulihkan kejayaan Majapahit, namun tidak berhasil. Girindrawardhana akhirnya tewas dalam pertempuran melawan pasukan Demak yang menyerang kembali Majapahit.


13.  Patih Udara  (1489-1527 ).

Patih Udara sendiri merupakan patih Majapahit yang menjadi raja terakhir kerajaan ini. Ia naik takhta setelah kematian Girindrawardhana (Brawijaya VI).
Ketika menjadi seorang raja, Patih Udara banyak menghadapi kesulitan, seperti serangan-serangan dari Kerajaan Demak yang semakin agresif.   Patih Udara meninggal pada tahun 1527 dan digantikan oleh  Menak Sapetak  . Namun, kekuasaan Majapahit semakin melemah dan tidak mampu menahan serbuan Demak yang terus berlanjut. Pada tahun 1528, Demak berhasil merebut Daha (Kediri), ibu kota Majapahit saat itu, dan mengakhiri keberadaan Majapahit sebagai kerajaan besar di Nusantara.

"Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menambah pengetahuan, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca". Apabila ada yg tidak berkenan mohon maaf. 🙏


Diolah dari berbagai sumber.




Baca juga : 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Sabtu, 04 Oktober 2025

Mencari Tirta Amritha

Proses Pengadukan Lautan Susu 
("Samudramantana" )

Foto hanya ilustrasi
Sumber foto Sahabat Al.


1. Dewa dan Raksasa mencari Amritha.

Kṣirasāgaramanthana
 merupakan salah satu cerita yang tercatat dalam beberapa kitab-kitab Purana, serta tersisipkan di dalam naskah Adiparwa, kumpulan pertama dari 18 kitab Mahabharata, maka dapat diketahui bahwa cerita ini merupakan bagian dari pengaruh kebudayaan yang diadopsi dari India. 

Samudramanthana  berarti "pengadukan samudra", sedangkan  Kṣirasāgaramanthana berarti  "pengadukan lautan susu (kṣirasāgara adalah lautan susu).

Dikisahkan para dewa dan asura (raksasa) bersidang di puncak Gunung Meru. Mereka berkumpul untuk merundingkan cara mendapatkan Tirta Amritha yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sebuah kesepakatan yang tidak mudah, namun kedua pihak memiliki tekad yang kuat untuk mencapai tujuan bersama. Akhirnya, mereka sepakat untuk bekerja sama mencari lokasi air suci tersebut, yang ternyata atas petunjuk Dewa Wisnu Tirta Amrita terletak di dasar Laut yang dikenal dengan Lautan Susu (Ksirarnawa/Ksirarnawa).

Para dewa dan asura (raksasa) mengaduk lautan susu "Ksirarnawa" dengan mempergunakan Gunung Mandara sebagai tongkat pengaduk, dan naga Basuki memakai melilit gunung Mandara. Agar gunung Mandara tidak jatuh Dewa Wisnu menjelma turun ke dunia dalam wujud Kurma Awatara, awatara dalam bentuk kura-kura raksasa untuk menopang Gunung Mandara.

Para asura memegang bagian kepala Naga Basuki, sementara para dewa memegang bagian ekornya. Para dewa dan para asura bekerja sama menarik tubuh Naga Basuki dengan gerakan seperti menarik tambang, untuk menggoyang gunung Mandara, sehingga Gunung Mandara berputar dan mengaduk susu lautan "Ksirasagara" atau "Ksirarnawa".

Setelah diaduk, pertama kali muncul racun Halahal mematikan, yang bisa memperpanjang alam semesta. Untuk menyelamatkan dunia dari racun ini, Dewa Siwa meminum racun tersebut, menyebabkan leher Dewa Siwa berwarna biru sehingga dikenal sebagai " Nilakantha ". 

Setelah itu, muncul berbagai harta karun danmakhluk seperti: pertama yang muncul dari udara adalah sapi Surabhi , yang lebih dikenal sebagai  Kamadhanu , Setelah itu, muncul kuda Uchchaihshrava  dari ombak. Kuda ini menjulang tujuh dan seputih "bulan yang bersinar". Muncul permata  Kaustubha  - batu rubi yang memancarkan cahaya ke langit, Setelah itu muncul Kalpavriksha atau pohon parijata, para bidadari , Lakshmi (dewi kekayaan), Baruni, dewi anggur, Bulan. 

Bulan diambil oleh Siwa, dan itulah alasannya, dalam lukisan dan penggambaran Siwa, kita melihat bulan sabit yang menghiasi kepala Dewa Siwa, muncul Cangkang kerang Panchajanya dan busur Sharanga, Dan terakhir, muncul Dhanwantari - dewa penyembuh, membawa kendi berisi Tirta Amritha

Foto hanya ilustrasi 
Sumber foto: Internet


2. Perebutan Tirta Amritha

Begitu para Asura melihat guci Amrita, mereka berlari ke arah Dhanvantari dan merebutnya. Para asura menginginkan Tirta Amrita tsb menjadi miliknya, terjadi perseteruan antara para dewa dengan as memperebutkanura tirta Amritha. Tirta Amritha jatuh ke tangan asura.

Untuk menyelesaikan masalah ini Para dewa meminta bantuan kepada Wisnu, kemudian Dewa Wisnu berubah wujud menjadi Dewi Mohini - seorang dewi yang sangat cantik dan mempesona. Mohini menggunakan kecantikan dan daya pikatnya untuk mengelabui para asura, sehingga ia berhasil mengambil kembali kendi yang berisi Tirta Amritha, dan membawanya dengan cepat ke hadapan para dewa.

Setelah para dewa mendapatkan tirta Amritha, mereka segera meminumnya secara bergantian. Saat para dewa membagi tirta Amritha, salah satu asura bernama Swarbanu yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika menyamar sebagai salah satu dewa dan berhasil menyusup ke barisan para dewa. Ia berhasil meneguk seteguk tirta Amritha. Namun, Dewa Surya (matahari) dan Dewa Candra (bulan) mengenali penyamaran Swarbanu sehingga mereka segera melaporkannya kepada Dewa Wisnu yang berwujud Mohini.

Dengan cepat, Mohini kembali menjadi Dewa Wisnu segera menghunus Cakra dan memenggal kepala Swarbanu sebelum tirta amerta sepenuhnya bisa melewati tenggorokannya. Meski terpisah, kepala Swarbanu tetap hidup karena tirta Amritha yang sempat diminumnya, hanya badannya saja yang diam tak bergerak. Kepalanya disebut "Rahu" sedangkan badannya disebut "Ketu" Setelah membagikan seluruh tirta amerta kepada para dewa, Wisnu menghilang meninggalkan para asura.

Rahu dan Ketu masih berseteru dengan Surya dan Chandra hingga kini. Oleh karena itu, beberapa kali dalam setahun, Rahu dan Ketu akan menutupi matahari dan bulan. Inilah yang kita kenal sebagai gerhana matahari dan bulan. Rahu dan Ketu bahkan termasuk di antara sembilan Navagraha (sembilan dewa yang melambangkan planet).***


Foto hanya ilustrasi 
Sumber foto Internet

3. Kenapa Dewa Siwa Mengalungkan Ular di Lehernya?

1. Suatu ketika, ketika spesies ular berada di ambang kepunahan, mereka mendatangi Dewa Siwa untuk meminta perlindungan.
Dewa Siwa melindungi mereka dengan mengizinkan mereka tinggal di Kailasa. Namun, karena cuaca dingin di Gunung Kailasa, ular-ular mulai mendekati tubuhnya untuk menghangatkan diri.
Melihat hal ini, Dewa Siwa memutuskan untuk mengalungkan ular di sekitarnya agar terasa hangat.

2. Kisah populer lain yang terkait dengan ini adalah selama Samudra Manthan (pengadukan lautan susu).
Ketika para dewa dan para asura (raksasa) mengaduk lautan susu (Ksirarnawa) dengan Gunung Mandara digunakan sebagai tongkat pengaduk, dan naga Basuki memakai melilit gunung Mandara, banyak hal yang muncul salah satunya racun Halahal. Racun itu begitu kuat sehingga dapat menghancurkan seluruh ciptaan.
Hal ini membuat para dewa dan asura ketakutan, dan mereka bingung siapa yang akan menelan racun mematikan ini.
Lalu para dewa dan asura menghampiri Dewa Siwa untuk meminta perlindungan. Demi melindungi alam semesta, Dewa Siwa meminum racun itu.

Terhadap kisah ini ada dua versi :

Versi pertama, Naga Basuki terinspirasi oleh mengorbankan Siwa yang meminum racun itu, sehingga Naga Basuki juga meminum racun tersebut. Sebagai penghargaan atas pengabdian Naga Basuki, Siwa memikat dirinya dengan Naga Basuki sebagai kalung di leherNya.

Versi kedua, ketika Dewa Siwa meminum racun tersebut, Dewi Parvati – pendamping Dewa Siwa mencengkram leher Dewa Siwa agar tidak menelan racun tersebut. Karena mustahil bagi seorang dewi untuk memegangi meniru (Siwa) selamanya, Parvati kemudian mengikatkan ular di leher Siwa untuk mencegahnya menelan racun.  Akibat meminum racun tsb, leher Dewa Siwa membiru  sehingga dikenal sebagai Neelkantha (yang berleher biru). 

3. Ular menggambarkan kekuatan Kundalini. Ia digambarkan sebagai ular melingkar yang tertidur di cakra Muladhara semua manusia.
Ia naik ke atas ketika seseorang memulai perjalanan spiritual dan semakin terfokus pada keilahian.
Ular yang melingkari leher Siwa menggambarkan bahwa Kundalini dalam dirinya sudah bangkit sempurna dan ikut aktif dalam kegiatan ketuhanan.***

Foto hanya ilustrasi, 
sumber internet


4. Makna Ular Di Leher Siwa

Makna simbolis terkait ular yang melingkari leher Dewa Siwa adalah melambangkan siklus kelahiran, kematian; dan kelahiran kembali yang tak berujung. Ular berganti kulit ketika kulit lamanya telah tumbuh, secara berkala selama masa hidupnya. Hal ini secara simbolis melambangkan siklus kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali.

Beberapa orang percaya bahwa ular tersebut memiliki tiga lingkaran di leher Dewa Siwa, yang masing-masing mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan . Ini menunjukkan bahwa ia melampaui waktu dan mengendalikannya. Itulah sebabnya Dewa Siwa juga dikenal sebagai "Mahakaal " – yang berada di atas dan melampaui Kaal (waktu). Ular tersebut juga digambarkan melihat ke sisi skema. Hal ini menandakan bahwa hukum akal budi dan keadilan Tuhan yang abadi menjaga keteraturan alam semesta.

Secara simbolis, ular melambangkan segala nafsu dan keinginan dan ego. Dengan mengalungkan ular di contohnya, Siwa menyampaikan kepada semua penyembahnya bahwa ia telah memuaskan semua keinginannya, nafsu dan ego. Ia juga memiliki kendali penuh atas Prakriti atau Maya (ilusi).

Ular dianggap reptil berbahaya dan ditakuti oleh banyak orang. Dewa Siwa menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengendalikan rasa ketakutan dan kematian dengan mengenakan ular sebagai kalungNya.***

Kuda  Uchchaihshrava
Sumber Sahabat Al.

Baca juga : 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Senin, 08 September 2025

KENAPA DEWA SIWA DISEBUT MAHADEWA - DEWA TERTINGGI?

Memahami Makna Lingga, Trimurti, dan Tri Purusha dalam Dharma 


Gambar ilustrasi
Sumber gambar Internet



A. MISTERI LINGGA: SIMBOL KEKUATAN SIWA YANG ABADI


1. Peristiwa Lingodbhava : Brahma, Wisnu, dan Tiang Cahaya Tak Berujung

Pada awal kalpa, terjadi kejadian hebat antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Brahma berkata, “Akulah pencipta alam semesta, maka Akulah yang tertinggi”. Wisnu menjawab, “Akulah pemelihara, tanpaku semua ciptaan akan musnah, Akulah yang tertinggi”. 

Saat ego keduanya memuncak, tiba-tiba muncul di hadapan mereka sebuah Jyotirlinga — tiang api yang menyala-nyala, tanpa awal dan tanpa akhir, menembus langit dan bumi.
Dari dalam tiang itu terdengar sabda gaib: “Wahai kalian berdua yang bertengkar soal keagungan, barang siapa di antara kalian yang berhasil menemukan ujung tiang ini, dialah yang tertinggi.” 

Untuk membuktikan kehebatan masing-masing, keduanya pun berlomba. 

Dewa Wisnu mengambil wujud Varaha,  babi hutan putih raksasa, dan menggali ke bawah selama 1000 tahun Dewata. Namun dasar lingga itu tak kunjung ditemukan. Wisnu akhirnya sadar bahwa tiang api ini adalah penjelmaan Brahman Tertinggi. Beliau kembali dengan hati penuh bakti, mengakui kekalahannya, dan bersujud. 

Dewa Brahma mengambil wujud Hamsa,  angsa putih, dan terbang ke atas selama 1000 tahun dewata. Puncak lingga juga tidak ditemukan. 

Di tengah perjalanan, Brahma bertemu bunga Ketaki yang sedang jatuh dari atas. Brahma membujuk Ketaki agar mau berbohong bahwa ia telah melihat Brahma sampai di puncak lingga. 

Ketika Brahma kembali, dan berdusta di hadapan Wisnu dan Lingga itu, seketika itu juga Dewa Siwa menampakkan wujud-Nya dari tengah Jyotirlinga.  Dengan mata ketiga-Nya, Siwa mengetahui rahasia itu dan murka. 
Akibatnya: 
  1. Brahma  ditegur karena berbohong. Dalam tradisi tertentu, pemujaan khusus kepada Brahma menjadi sangat jarang di Kali Yuga.
  2. Bunga Ketaki  dinyatakan varjita,  tidak digunakan dalam persembahan kepada Siwa. Setelah memohon ampun, Ketaki diizinkan untuk dipersembahkan kepada dewa lain. 
Brahma dan Wisnu akhirnya menyadari bahwa Lingga itu adalah simbol Nirguna Brahman,  kesadaran murni tanpa awal dan akhir. Keduanya bersujud dan memuji Siwa sebagai Mahadewa.  (Referensi: Siwa Purana, Kotirudra Samhita, Bab 6–9).

Kisah singkat Brahma dan tiang api Siwa adalah pelajaran alegoris yang sangat dalam tentang bahaya egoisme intelektual, bukan sekadar catatan sejarah tentang ketiadaan kuil. Kebohongan tersebut adalah bagian dari sandiwara edukatif kosmologis ( Lila peran yang dimainkan ) untuk mengajarkan manusia bahwa di hadapan Kebenaran Mutlak, kejujuran dan penyerahan diri ( Prasasti ) jauh lebih utama daripada kesombongan ilmu.


Gambar sumber internet
" Jyotirlinga "
— tiang api yang menyala-nyala, tanpa awal dan tanpa akhir, menembus langit dan bumi. 




2. Makna Filosofis Lingga dan Yoni

Dalam tradisi Hindu, Lingga adalah simbol utama Dewa Siwa yang melambangkan: 
  • Brahmanda : telur kosmik, sumber alam semesta.
  • Satya  : kebenaran, 
  • Jnana : pengetahuan, 
  • Ananta  : ketidak-terbatasan 
  • Penyatuan Purusha  dan Praktisi,  prinsip maskulin dan feminin sebagai sumber penciptaan.
Lingga Siwa terdiri dari tiga bagian:
  • Brahma Pitha : Bagian bawah berbentuk lingkaran.
  • Wisnu Pitha : Bagian tengah yang menyerupai teko datar dengan corong yang bagian atasnya telah dipotong.
  • Siwa Pitha: Bagian atas yang di dalamnya banyak orang melihat falus (kelamin laki-laki).
Lingga selalu dipasangkan dengan Yoni, simbol Dewi Parwati. Penyatuan Lingga-Yoni melambangkan keseimbangan energi pencipta dan pelebur, bukan hanya aspek fisik, tetapi prinsip kosmis kehidupan. 




Samber gambar Internet


3. Jejak Sejarah Pemujaan Lingga

Pemujaan Lingga sudah dikenal sejak peradaban Lembah Indus. Di Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, banyak ditemukan arca Lingga-Yoni. Contoh: Prasasti Canggal abad ke-8 Masehi mencatat Raja Sanjaya mendirikan Lingga sebagai lambang pemujaan kepada Siwa. 
Ini menunjukkan Lingga telah lama menjadi bagian praktik spiritual masyarakat Nusantara.


4. Makna Teologis

Secara teologis, Lingga mengingatkan bahwa Tuhan bersifat transenden sekaligus imanen.
Ia meresapi seluruh ciptaan, sekaligus melampauinya. Pemujaan Lingga adalah penghormatan pada kekuatan kreatif, pemelihara, dan pelebur Siwa, serta pengakuan akan kemahakuasaan-Nya. 



B. TRIMURTI: TIGA PERAN TUHAN YANG ESA

Trimurti adalah konsep yang menggambarkan tiga aspek utama Tuhan terdiri dari 
  1. Brahma : Pencipta 
  2. Wisnu : Pemelihara
  3. Siwa : Pelebur / Pelebur untuk kesegaran.
Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 

Dalam ajaran Hindu, khususnya Sivaisme, Siwa dipuja sebagai Mahadewa. Kata Mahadewa secara harfiah berarti dewa terbesar atau dewa tertinggi yang tak tertandingi. Makna lainnya juga adalah pemimpin semua dewa. Disebut demikian karena:

1. Peran dalam Trimurti
Dalam konsep Trimurti, Siwa dianggap sebagai dewa pelebur dan pemusnah, sedangkan Brahma dianggap sebagai dewa pencipta dan Wisnu dianggap sebagai dewa pemelihara.
Peran Siwa sebagai dewa pelebur dan pemusnah dianggap lebih penting dan lebih tinggi dari peran Brahma dan Wisnu. 

2. Kekuatan dan Kemahakuasaan 
Siwa dianggap memiliki kekuatan dan kemahakuasaan yang lebih besar dari Brahma dan Wisnu. Siwa dianggap dapat menciptakan, memelihara, dan menghancurkan, sedangkan Brahma dan Wisnu hanya memiliki peran yang lebih terbatas (hanya menciptakan dan memelihara). 

3. Kesucian dan Kemurnian
Siwa dianggap sebagai dewa yang tidak terikat oleh karma dan maya, sedangkan Brahma dan Wisnu dianggap masih terikat oleh karma dan maya.

Perlu dipahami: dalam Waisnawa, Wisnu dipuja sebagai Yang Tertinggi, dan dalam tradisi Brahma pencipta juga dihormati.

Perbedaan ini adalah keragaman jalan bhakti dalam Hindu. Inti dharma: semua dewa adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. 


C. TRI PURUSHA : TIGA TINGKAT MANIFESTASI SIWA

Konsep Tri Purusha menjelaskan tiga tingkatan evolusi Tuhan sebagai jiwa alam semesta: 

1. Siwa
Jiwa alam bawah Bhur Loka. Tuhan sebagai mengatur kehidupan di bumi: manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Dilambangkan warna merah, energi dan aktivitas.

2. Sadha Siwa 
Jiwa alam tengah Bhuvar Loka. Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman,  memiliki sifat untuk membimbing menuju kehidupan kesucian. Dilambangkan warna putih, simbol kesucian.

3. Parama Siwa
Jiwa alam atas Svah Loka. Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman, tanpa sifat, melampaui ruang dan waktu. Dilambangkan warna hitam, simbol tak terjangkau oleh pikiran.

Di Pura Besakih, Bali, Tri Purusha ini dipuja pada Padmasana Rong Tiga yang disebut Padma Anglayang.

Jenis Padma lain : Padma Agung, Padmasana, Padmasari, Padmacapah.
Padma Anglayang, Padma Agung, dan Padmasana biasanya berdiri di atas Bedawang Nala  dililit Naga Basuki,  sedangkan Padmasari dan Padmacapah tidak.


PENUTUP

Melalui kisah Lingga, konsep Trimurti, dan Tri Purusha, kita mengajarkan bahwa Dewa Siwa bukan sekadar “dewa pelebur”, tetapi simbol kesadaran tertinggi, keseimbangan, dan sumber segala ciptaan.  Semua simbol mengarah pada satu kebenaran : Tuhan Yang Maha Esa. 
Suksma. 🙏



Daftar Sumber :
  1. Siwa Purana: Teks utama tentang Dewa Siwa
  2. Lingga Purana: Penjelasan asal-usul dan makna Lingga
  3. Literatur tentang Tri Purusha dan Padmasana dalam tradisi Bali.
  4. Satsang bersama Sahabat.


Artikel lainnya:


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

 

ANAK KRAKATAU: ASAL-USUL, KRONOLOGI, DAN PESANNYA

  Gambar hanya Ilustrasi ilustrasi Sumber Internet. Pada Sabtu tanggal 5 September 2026, "lima penjaga" itu berdehem, diantaranya ...