Rabu, 01 April 2026

APARA BHAKTI DAN PARA BHAKTI: Jalan Penyerahan Diri Kepada Tuhan



1. Apakah arti menyerahkan diri dan berlindung?

Dalam Bhagawadgita, Krisna bersabda: "Siapa pun yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaKu dan berlindung kepadaKu, maka dia akan Aku lindungi dan Aku akan membimbing menuju kesadaran Tuhan”.

Menyerahkan diri bukan berati duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Menyerahkan diri sama dengan mengubah sikap batin dari "Aku yang ngatur" menjadi "Engkau yang ngatur, aku siap menerima".

2. Ke-Maha-kuasa-an Tuhan Dan Tri Loka

Kekuasaan Tuhan sangat tidak terbatas, Beliau Maha Tahu, Maha Ada, Maha Mencipta dsbnya, pendeknya maha segalanya. Dunia yang sangat luas yang kita huni sekarang ini dikenal dengan nama Bhutakasa , ini diciptakan oleh Tuhan. Selain dunia yang nyata ini Tuhan juga menciptakan dunia halus yang lebih luas lagi yang disebut dengan alam Cithakasa atau alam mental, dan Tuhan juga menciptakan dunia yang lebih halus dan lebih luas dari alam Cithakasa, yang disebut dengan alam Chidakasa atau alam Kausal. Alam Chidakasa ini merupakan alam yang paling luas dan paling halus diantara dua alam tadi (Bhutakasa dan Chitakasa), sebab dari alam Chidakasa inilah lahirnya alam Bhutakasa dan alam Chitakasa.
Akumulasi dari ketiga alam inilah yang dikenal dengan istilah Tri Loka. Bisa kita membayangkan betapa Maha Kuasa Tuhan. Kitab suci menyatakan hal ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

3. Dua Jenis Bhakti

Manusia dikaruniai kemampuan yang sangat terbatas dan sangat sulit bagi manusia untuk memahami prinsip yang suci ini, maka demi kepentingan manusia, dalam Bhagawadgita Krisna mengajarkan cara yang mudah untuk berbakti kepada Tuhan. Dalam praktek sehari-hari bhakti dirangkai menjadi 2 yaitu Apara Bhakti / bhakti biasa dan bakti yang lebih tinggi tingkatannya disebut Para Bhakti.

1). Apara Bhakti/ Bhakti Biasa

Bhakti yang biasa merupakan berbagai kegiatan persembahyangan dan upacara yang dilakukan oleh penganut, misalnya berziarah ke tempat-tempat suci, mandi di sungai-sungai yang dianggap suci dll. Bakti yang biasa ini mempergunakan sarana bunga, buah, daun dan air sebagai pemujaan kpd Tuhan. Dari manakah berasal-benda tsb? Semua benda-benda tsb merupakan ciptaan Tuhan, milik Tuhan bukan milik kita yang sesungguhnya. Jadi dimana letaknya Bhakti / pengorbanan jika kita dipersembahkan kepada Tuhan benda-benda yang diciptakan / milik Tuhan sendiri? 

2). Parabakti / Bhakti Mendalam

Para Bhakti / bhakti mendalam ini merupakan usaha-usaha untuk selalu mengembangkan sifat-sifat yang sempurna, dan selalu diliputi oleh kasih kepada Tuhan. Bhakti jenis ini mempergunakan benda-benda yang benar-benar menjadi milik kita; misalnya kita mempersembahkan bunga hati yang bersih kepada Tuhan; mempersembahkan buah karma yang baik kepada Tuhan; mempersembahkan daun, ibarat tubuh kita harus dirawat dengan baik, menyucikan semua anggota tubuh dan menggunakannya untuk melakukan pekerjaan / perbuatan yang benar, jangan dipakai ketempat-tempat yg tidak layak (komplek tuna susila) dll, krn dalam tubuh berstana Atman (percikan Tuhan); mempersembahkan air (air mata penyesalan) terhadap pikiran, perkataan, perbuatan kita yang tidak baik dll.

Bhakti yang mendalam atau Para bhakti ini dirangkum menjadi 3 tahap yaitu :

(1). Matkarmatkrit , “Bekerjalah demi Aku”. Hendaknya kita menghayati bahwa kerja merupakan salah satu bakti kepada Tuhan. Kita bermaksud menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tulus ikhlas, tidak terikat dengan hasil kerja itu sendiri. Persoalan hasil kerja itu serahkan kepada Tuhan, itu urusan Tuhan, kita hanya bertanggung jawab terhadap kerja itu sendiri.

Dalam perang Kuruksetra, ketika Arjuna sdh berhadap-hadapan dengan Kakek Bisma, guru Drona, dan sanak keluarga lainnya, Dia menjadi lemas, tidak ada tenaga, Dia tidak mau berperang / membunuh Kakek Bisma yang sangat dia hormati, Guru Drono yang sangat berjasa mengajarkan ilmu memanah dll.
Arjuna melemparkan semua busur-busurnya dan berkata kepada Krisna, "Aku tidak mau berperang". Krisna kemudian menasehati Arjuna, "Engkau adalah seorang ksatria, tugasmu adalah berperang. Kalau kamu tidak mau berperang, kamu akan dicap sebagai seorang pengecut. Tentang hasil perang ini serahkan sepenuhnya kepadaKu", demikian kata Krisna. Setelah mendengarkan wejangan Krisna, akhirnya Arjuna bangkit dan mau berperang. Dia tidak lagi memikirkan bagaimana hasil perang tsb.

(2). Matparamo, "Semata-mata demi Aku". Apapun yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan semata-mata demi menyenangkan Tuhan. Berbagai aktivitas sehari-hari seperti : makan yang enak, tidur yang nyenyak, istirahat yang cukup, kita menganggap bahwa itu semua demi badan, pikiran dan perasaan kita. Padahal sebenarnya adalah demi Atma. Aku disini menunjuk pada yang abadi bukan menunjuk pada badan. Kita mengatakan : "Ini tanganku, ini telingaku, ini kepalaku" dll. Dalam kalimat-kalimat itu ada subjek dan predikat; ada tangan dan ada Aku, ada telinga dan ada Aku, ada kepala dan ada Aku. Aku itu yang mana? Tiada lain Aku itu menunjuk kepada Sang Diri Sejati yaitu Atman.

(3)Matbaktaha, Berbaktilah hanya kepadaKu”. Berbakti kepada Tuhan bisa disinonimkan dengan kasih kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan bisa kita implementasikan kasih kepada semuanya. Kasih tidak mengenal perbedaan warna kulit, tidak mengenal perbedaan agama. tidak memandang orang kaya-miskin. Kasih adalah satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan semuanya serta menyadarkan kita pada kenyataan tunggal dibalik segala yang tampaknya beragam.
Kalau pikiran kita diresapi dengan kasih maka ia akan menjadi satya (kebenaran), kalau cinta kasih yang meresapi perbuatan kita ia akan menjadi dharma (kebajikan), kalau perasaan kita diliputi cinta kasih ia akan menjadi shanti (
kedamaian) mengerti cinta kasih ia akan menjadi Ahimsa (tanpa kekerasan).

Ada seorang Rsi yang bersumpah akan melaksanakan ahimsa dan berkata jujur ​​​​​​​​
Satyam vada Ucapkan kebenaran" apapun yang terjadi. Tatkala Rsi ini melakukan tapa, ada seorang pemburu yang sedang berburu rusa. Rusa yang diburu itu lari didepan sang Rsi dan bersembunyi. Sang pemburu datang dan bertanya kepada Rsi tsb, “Apakah anda melihat rusa lari disini, dimana dia bersembunyi?”
Sang Rsi berada dalam suatu konplik batin yang sangat hebat, jika ia berkata ”melihat”, berarti ia telah menyebabkan matinya rusa itu, berarti melanggar sumpahnya tentang ahimsa. Kalau dia mengatakan “tidak”, berarti dia sudah berkata bohong. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia menemukan jalan yang terbaik untuk mengatasi dilema ini. Ia menjawab dengan kata-kata yang membingungkan. Jawabnya : "Mata yang melihat tidak dapat mengatakan, sedangkan mulut yang berbicara tidak dapat melihat, Aku tidak dapat mengubah yang melihat harus mengatakan, dan yang berbicara harus melihat, itu adalah kebenaran". Dengan jawaban ini maka Rsi tersebut terhindar dari masalah yang menimpanya.

Bhagawan Sri Satya Narayana mengatakan  jangan berbohong. Beliau mengatakan “Jika kamu tidak dapat mengatakan yang sebenarnya lebih baik kamu diam dan tidak berbicara dari pada mengatakan yang tidak benar”. (Berbohong kepada musuh, kepada anak kecil yang sakit diperbolehkan, ket pen).

4. Tuhan Maha besar dan Maha Kecil

Tuhan yang Maha Besar atau Mahima bisa mengambil wujud yang terkecil dari yang paling kecil atau Anima. Dikatakan jauh Beliau sangat jauh sekali, dikatakan dekat beliau dekat sekali yaitu di dalam hati para bakta.

Ada sebuah cerita, suatu ketika Narada menghadap Tuhan, dan Tuhan bertanya kepada Narada, "Narada, sepanjang penjelajahanmu didunia kemanapun kamu memandang, kamu melihat 5 elemen yang hebat yaitu : Apah, teja, bayu, akasa, pertiwi, yang manakah terpenting dan terbesar dari kelima elemen itu?" Narada menjawab: “Tentu saja tanah yang paling besar.  Tuhan melanjutkan lagi, “Mana mungkin tanah yang paling besar kalau tiga perempat permukaan tanah ditelan oleh air, hanya seperempatnya saja yang menjadi daratan? Katakan yang Anda anggap lebih besar, yang menelan atau yang ditelan?” Narada menjawab, “air yang lebih besar.”
Tuhan melanjutkan lagi, ”ketika para raksasa bersembunyi di dasar samudra, Rsi Agastya meneguk air samudra hanya dengan sekali tegukan air samudra menjadi kering, sekarang katakan mana yang lebih besar air samudra atau Agastya?” Narada menjawab : “Rsi Agastya yang lebih besar”. 
Tuhan melanjutkan lagi, “Ketika Rsi Agung
Agastya meninggalkan badan raga beliau hanya menjadi penghuni salah satu bintang kecil diangkasa  yang sangat luas. Sekarang katakan mana yang lebih besar Rsi Agastya atau Angkasa?” Narada menjawab : “Yang lebih besar adalah Angkasa".
Tuhan melanjutkan lagi, dalam sejarah ada diceritakan bahwa ketika Tuhan turun ke dunia menjadi orang cebol (Wamana Avatara). Beliau baru menginjakkan satu kaki-Nya saja maka dunia sudah terinjak. Katakan mana yang lebih besar Kaki Tuhan atau Akasa?"
Narada menjawab: "Kaki Tuhan yang lebih besar".  Akhirnya Narada tiba pada satu kesimpulan bahwa kalau kakiNya saja sudah begitu besarnya, apalagi wujudnya?
Tapi Tuhan masih mempunyai satu pertanyaan lagi. 'Tuhan yang maha besar bisa mengambil wujud yang sangat kecil dari yang terkecil dan merelakan dirinya dikurung di dalam hati para bakta yang betul-betul menyerahkan diri kepadaNya. Sekarang katakan, 'Mana yang kamu anggap lebih besar yang mengurung atau yang dikurung?” Akhirnya Narada berkata, ”Bakta harus dianggap lebih besar dari pada Tuhan”.

Bakta yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Tuhan memang sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar. Dia mampu mengurung Tuhan di dalam hatinya. Tetapi manusia karena awidya (kegelapan) dia merasa kecil, tingkat kesadaran spiritualnya masih rendah. Dia mengatakan : "Aham dehasmi - Aku adalah Badan". Pada tahap ini kita berkata, Aku adalah Abdi Tuhan, dan menganggap Tuhan berada di suatu tempat yang jauh ini adalah tahap Dwaita.
Tetapi dengan menekuni pengetahuan spiritual / pengetahuan tentang Tuhan - pengetahuan adikodrati (Brahma Vidya), seorang sadaka meningkat dari tahap "Aham dehasmi - Aku adalah Badan", menjadi ”Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa”. Dalam tahap ini sadaka sudah merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, ini tahap Wishistadwaita.
Dan selanjutnya melangkah lagi dari "Aham Jiwasmi - Aku adalah Jiwa". menjadi “Aham Brahma Asmi - Aku adalah Tuhan” , ini adalah tahap Adwaita .

5. Empat Type Pencari Tuhan

Dalam disiplin spiritual ada 4 jenis pengabdi kepada Tuhan, yaitu :
  1. Arthi : kelompok orang-orang yang berdoa kpd Tuhan apabila dia sedang mengalami berbagai masalah dan cobaan atau sedang sakit. Dia berdoa mohon kesembuhan, mohon agar masalahnya dapat diatasi.
  2. Arthaarti : kelompok orang-orang yang memuja Tuhan memohon agar diberikan kekayaan, jabatan, rumah mewah, dll.
  3. Jignasu : kelompok orang-orang yg tdk henti-hentinya menekuni azaz kerohanian. Ia selalu mencari jawaban atas empat pertanyaan mendasar dalam hidup: Siapakah aku? Dari manakah aku berasal? Ke mana aku akan pergi? Dan, berapa lama aku akan tinggal di dunia ini? Kelompok ini terus mempelajari pengetahuan tentang ke-Tuhan-an serta selalu tekun dalam spiritual / olah rohani.
  4. Jnani : kelompok orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, mempunyai pengetahuan adikodrati mempunyai Jňana, pengetahuan tentang Tuhan. Ada disebutkan, "Brahmavid Brahmaiva Bhawathi" artinya "Siapa yg mengetahui Tuhan maka dia akan menjadi Tuhan". Kelompok orang-orang ini sudah dapat menghayati secara terus menerus sifat-sifat keilahian yang ada dalam dirinya, dia sdh mencapai tingkat "Jivanmukti"  yaitu seseorang yang telah mencapai kesadaran spiritual yang tertinggi saat masih hidup di dunia. Mereka dianggap telah mencapai moksa, namun masih memiliki tubuh fisik.


6. Dua Pengetahuan dan Tiga Langkah

Ada dua jenis pengetahuan yang dapat dicari manusia dalam pencariannya akan kebahagiaan. Pertama adalah pengetahuan duniawi (Lokajnana). Pengetahuan ini terkait dengan pengetahuan tentang teknologi, kesehatan, kimia, matematika, botani, musik, seni rupa, alam semesta fisik, dll. Semua jenis pengetahuan ini hanyalah digunakan sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah.

Jenis pengetahuan lainnya adalah pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa (Brahmajnana) yang membimbing cara hidup sesuai dharma. Pengetahuan ini mengungkapkan tentang asal muasal; pertumbuhan dan peleburan kosmos yang disebabkan oleh Brahman (realitas yang tertinggi).

Ada tiga langkah untuk menuju pada pengetahuan ini. Langkah pertama adalah “Bhavam” (perasaan sepenuh hati), langkah kedua adalah “Sadhana" (latihan spiritual), langkah ketiga adalah "Upasana" (kontemplasi).***🙏


Diolah dari berbagai sumber.


Artikel lainnya:

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




Senin, 09 Maret 2026

Pengendalian Indria

Sumber foto Internet.


Indria harus dididik agar mengarah ke dalam diri, yaitu kepada Atman yang bersifat universal. Pada dasarnya, semua indria cenderung mementingkan diri sendiri dan bersifat egois sehingga dapat menghalangi sikap pengorbanan. Tanpa pengetahuan atau masih dalam keadaan awidya , indria terus-menerus menyeret manusia pada hal-hal keduniawian dan sifat-sifat lahiriah.

Manusia dikaruniai Panca Indria , yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Indria juga disebut maatraah , yang berarti alat pengukur.

Setiap indria memiliki kemampuan khusus sebagai alat ukur. Mata diberikan kemampuan untuk membedakan gambar yang baik dan buruk. Hidung diberikan kemampuan untuk membedakan bau harum dan tidak harum. Telinga diberikan kemampuan untuk menilai musik, mana yang terdengar baik dan mana yang kurang bagus.

Masing-masing dari panca indria umumnya hanya memiliki satu fungsi. Pengecualiannya adalah lidah, yang dikaruniai dua kemampuan sekaligus: pengecap rasa dan alat bicara .

Di antara panca indria, lidah yang paling berperan. Apabila lidah dapat dikendalikan, maka indria-indria lainnya akan lebih mudah untuk dikendalikan pula.

Pengendalian lidah tidak hanya mencakup makanan saja atau cita rasa, tetapi juga mencakup pembicaraan, sesuai lidah mempunyai dua fungsi. 


Mengendalikan Lidah dalam hal Cita Rasa

Kemajuan spiritual tergantung dari keadaan pikiran kita, pikiran kita sangat bergantung dari makanan yang kita makan. Bagian makanan yang paling halus membentuk pikiran, yang halus menjadi darah dan daging, yang kasar dibuang melalui ekresi (toilet).


Ada 3 makanan menurut sifatnya :

  1. Makanan  Satwika  mencerahkan pikiran, membersihkan tubuh, meningkatkan kesadaran spiritual, kesehatan mental. C onth  makanan Satwika :  Buah-buahan segar; sayuran segar; biji-bijian, beras, beras merah, gandum; kacang-kacangan, susu dan produk susu, madu, dll.
  2. Makanan Rajasika adalah makanan yang merangsang, meningkatkan energi, menimbulkan agresif,  penuh nafsu, emosi, kurang sabar serta banyak keinginan duniawi.  
    Contoh makanan Rajasik yaitu : daging, ikan, telur; cabai, merica, kunyit; bawang merah, bawang putih; makanan siap saji; makanan yang sangat pedas, sangat asin, sangat asam,  dll.
  3. Makanan Tamasika  menyebabkan kelelahan, kemalasan (suka tidur), lamban, kurang inisiatif, apatis dan tidak ada keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. Beberapa contoh makanan Tamasika : makanan olahan, makanan yang dimasak terlalu lama; makanan yang diamkan, makanan yang dipanaskan beberapa kali, dll.

Selain itu perlu memperhatikan 3 hal yang berkaitan dengan makanan yaitu : 

  1. Patra Sudhi - Kemurnian Peralatan Memasak : Kita harus memperhatikan alat-alat yang dipakai memasak makanan itu apakah sudah bersih? Bersih bukan saja mencakup kebersihan fisik, namun juga kebersihan spiritual. Alat-alat untuk di dapur khusus untuk di dapur tidak boleh dicampur. Dalam agama Hindu sangat ditabukan memakai alat-alat yang dipakai di kamar mandi untuk keperluan didapur, misalnya ember bekas pakai nyuci baju dipakai tempat membersihkan beras dll.

  2. Paaka Sudhi - Kemurnian Proses Memasak: Perasaan pemasak di dapur juga berpengaruh terhadap kemurnian makanan. Apakah yang memasak itu jantung riang gembira, ikhlas, atau ngedumel, marah, bukan ikhlas? Getaran negatif, atau perasaan tidak baik ketika memasak juga mempengaruhi makanan sehingga makanan juga ikut tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika memasak bergembira, gembira, ikhlas, atau sambil mengulang-ulang nama suci Tuhan di dalam hati, ini akan ikut membersihkan makanan menjadi suci.
  3. Padartha Sudhi - Kemurnian Bahan : Apakah bahan-bahan makanan yang kita masak itu diperoleh dengan cara halal? Apakah dibeli dari uang yang didapat dengan cara baik atau tidak? Apakah dengan cara korupsi, merusak, atau mencuri? Bahan-bahan makanan yang diperoleh dengan cara tidak halal akan mencemari makanan sehingga makanan tidak murni.

Kita tidak mungkin memperhatikannya setiap saat dan sepanjang waktu. Oleh karena itu untuk menjaga agar makanan itu murni, kami mempersembahkan kepada Tuhan  untuk dibersihkan sebelum dimakan, sehingga makanan menjadi suci, (berdoa sebelum makan).

Doa makan,
" Om Brahmārpaṇaṁ Brahma Havir,
Brahmāgnau  Brahmaṇā Hutam,  Brahmaiva Tena Gantavyaṁ,  Brahma Karma Samādhinā".  (BG.4:24)

"Ahaṁ Vaiśvānaro Bhūtvā Prāṇināṁ Deham Āśritah Prāṇāpāna-samāyuktaḥ Pacāmy Annaṁ Caturvidham" (BG. 15:14)

Artinya:

“Upacara persembahannya adalah Brahma, Persembahan itu sendiri adalah Brahma, Dipersembahkan oleh Brahman dlm api suci yg jg Brahman, Hanya Dia mencapai Brahman yg dlm seluruh kegiatannya dlm Brahman”.

“Aku (Brahman) berada di dalam jantung semua makhluk sebagai Api Pencernaan (Vaiśvānara). Dengan bantuan prana (nafas keluar) dan apana (nafas masuk), Aku mencerna empat jenis makanan” .

Memakan makanan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan (tdk berdoa sebelum makan), dianggap makan dosanya sendiri, namun memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan, kita dianggap memakan makanan suci.

Foto hanya pemanis.


Mengendalikan Lidah dalam hal Bicara 

Tidak ada kemampuan yg lebih hebat dari kata-kata. Kata-kata dpt membuat hancurnya seseorang, kata-kata jg bisa memberi kehidupan. Kata-kata mempunyai kekuatan yang sangat kuat, ia mampu memotong pikiran seseorg.

Dalam Nitisastra disebutkan :
Warsita Nimitante manemu Laksmi,
Warsita  Nimitante Pati kepagging,
Warsita Nimitante manemu dukha,
Warsita Nimitante manemu mitra"
Artinya: 
“Berbicara menyebabkan kebahagiaan,  berbicara menyebabkan menemukan kematian,  berbicara  menyebabkan duka/sengsara, berbicara  menyebabkan menemukan sahabat”.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, jangan berkata kasar, jangan berkata-kata jahat; berkatalah yang baik.

Manusia cendrung lebih mudah mengikuti apa yang dilihat daripada apa yang didengar,  dalam hal ini mata lebih dominan dari telinga.

Contoh : Dlm suatu outbond yg saya ikuti. Instruktur bernyanyi sambil bergerak menunjuk apa yang dia katakan. Peserta mengikuti sambil ikut bergerak. Instruktur menyanyikan lagu sederhana sekali, yang diikuti oleh peserta sambil memegang yang disebut :
"Ini telingaku sambil memegang kedua pendengaran, diikuti oleh semua peserta juga 
memegang pendengaran masing-masing. Ini rambutku... peserta memegang rambut, dstnya.

Instruktur berkata, " Ini  hidungku",  tapi instruktur menyentuh matanya,  ternyata hampir semua peserta menunjuk ke  matanya masing-masing padahal mereka mengatakan, " Ini  hidungku".  Ini membuktikan bahwa manusia akan lebih mudah meniru apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya. 

Pengendalian Indria dlm Sarasamuccaya sloka 73 disebutkan 10 banyaknya, selanjutnya dalam Sarasamuccaya sloka 74, 75, 76 dirinci sbb :

Sloka 74 Sarasamuccaya, pengendalian  pikiran ada 3,  yaitu : 
  1. Tdk menginginkan dan dengki atas milik barang orang lain.
  2. Tdk marah-marah kpd semua makhluk
  3. Percayalah akan adanya hukum Karma Phala.
Sloka 75, Sarasamuccaya pengendalian  kata-kata  ada 4,  yaitu :
  1. Tdk boleh berkata jahat
  2. Tdk boleh berkata kasar / menghardik
  3. Tdk boleh memfitnah
  4. Tdk boleh main

Sloka 76 Sarasamuccaya pengendalian   perbuatan ada 3,  yaitu 

  1. Tidak dibunuh
  2. Tdk melakukan hubungan badan yg tdk sah
  3. Tidak mencuri.

Untuk mencapai kemurnian pikiran perkataan dan perbuatan (Tri Karana Sudhi), Baba mengajarkan 5 hal yaitu :

  1. Jangan berpikir yg jahat, berpikirlah yg baik.
  2. Jangan melihat yg jahat, lihatlah apa yg baik.
  3. Jangan mendengar yg jahat, dengarkanlah apa yg baik.
  4. Jangan bicara yg jahat, bicarakanlah yg baik.
  5. Jangan melakukan yang jahat, lakukanlah apa yang baik. (Buku Wacana musim panas, 1990 : 114).

Pergunakanlah panca indra dengan baik sehingga perbuatan-perbuatan kita selalu berpedoman pada dharma dengan demikian kita akan selalu berada di jalan Tuhan dan Tuhan akan selalu membimbing kita.

Dalam Upanisad (Mahabaratha) disebutkan :
Badan manusia diibaratkan dengan kereta, Indria diibaratkan dengan kuda, Pikiran diibaratkan dengan kendali – tali kekang, dan Budi adalah Saisnya. 
Artinya pikiran terletak antara Indera dan Budi.  Jika pikiran mengikuti Budi ia akan selamat, ini jalan nirwerti marga (jalan kerohanian). Sebaliknya jika  pikiran mengikuti Indriya ia akan menjadi budak indria dan menjadi korban duka dan Penderita, ini jalan prawerti marga (jalan keduniawian).  

Menurut pandangan dan penilaian kitab suci, "Ji ka manusia mengikuti indrianya ia menjadi binatang. Jika mengikuti Budi ia menjadi orang yang hebat di antara manusia. Sedangkan Ia yang di bimbing Atma menjadi Brahman. Jika kita tidak dapat mengikuti Budi setidaknya  kita mengikuti pikiran, sehingga   paling tidak kita tetap pada taraf manusia".

Orang yang dikatakan hidup berguna adalah hidup yang selalu diliputi kasih kepada Tuhan. Hanya masa-masa yang mengingat tentang kesucian layak dihitung sebagai hidup. Baba dalam wacanaNya mengatakan sbb :  Seorang kakek yang sudah berumur 70 tahun ditanya oleh cucunya yang baru berusia 7 tahun, "Kakek,  berapa  umur kakek sekarang? Kakek menjawab, "20 th". Sang anak tampak bertanya-tanya dan diliputi oleh keraguan. Sang kakek melanjutkan, " Saya  hanya menghabiskan 20 tahun terakhir dalam pergaulan dengan Tuhan, saya sampai terjun ke rawa-rawa dalam mencari kesenangan duniawi" .

Hanya tahun-tahun kehidupan dengan Tuhan, selalu ingat Tuhan yang dihitung sebagai hidup, sisa tidak pantas untuk dihitung.  Manusia hidup tidak hanya untuk makan, tidur, berulang kali. Namun tujuan kita hidup adalah untuk menjalankan karma dengan baik yang akan mengantarkan kita ke Sorga. Selain itu terjadi kepada hal-hal yang remeh, kembangkan terjadi kepada Tuhan yang akan selalu bersama menemani kita kemanapun kita pergi, dengan melakukan perbuatan yang baik.

Dalam Sarascamuccaya sloka 4 dan 14 disebutkan sbb :

"Apangiking dadi  wwang uttama  juga ya,  nimittaning  mangkana, wenang ya  tumulung  awaknya  sangkeng  sangsara,  makasadhanang  cubhakarma,  hinganing  kottamaning  dadi  wwang  ika". (Sar asamuccaya, 4). 
Terjemahan:
“Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; karena dapat membantu dirinya dari keadaan samsara (menjelma berulang-ulang), dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungan menjelma sebagai manusia”. (Kajeng, 2001 : 6)

Ikang Dharma  Ngaranya,  Hanuning Mara Ring  Swargan  Ika; Kadi  gatening perahu,  banyagehenuning  nentasing  tasik”.  (Sarasamuccaya, 14).
Terjemahan:
“Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sama halnya dengan perahu, sebenarnya merupakan alat bagi orang dagang yang mengarungi lautan” (Kajeng, 2001 : 11).

Selain itu, hal yang penting juga dalam spiritual adalah bahwa kita berusaha bergaul dengan org-org yang  baik. Sankara sdh berulang kali menyampaikan hal ini sbb :

“Satsangatwe nissangatwam, 
Nissangatwe nirmohatwam, 
Nirmohatwe  nischalatatwa, Nischalatatwa jivanmukti”. 
(Sloka Sansekerta) 
Artinya: 
“Pergaulan yang baik mengarah pada tanpa kestabilan, tanpa ketidakpastian menjadikan kita bebas dari khayalan, bebas dari khayalan yang mengarah pada kestabilan pikiran, dan kestabilan pikiran memberikan kebebasan (Jiwanmukti)”.


Dalam kehidupan ini, rasa senang dan sedih datang silih berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, suatu obyek yang semula merupakan sumber kebahagiaan bisa berganti menjadi sumber penderitaan.

Oleh karena itu, kegembiraan dan kesedihan sebenarnya ditentukan oleh status/keadaan dari batin (pikiran) kita sendiri. Obyek yang selalu mengalami perubahan itu bukanlah suatu yang nyata. Setelah mengetahui bahwa kehidupan yang serba enak pada dasarnya merupakan penghambat bagi kemajuan Spiritual. Orang-orang bajik menganggap kesulitan-kesulitan yang dialami masa hidup ini pada dasarnya merupakan batu loncatan bagi peningkatan derajat kebatinannya. Mari kita mengendalikan Indria dalam batas-batas yang wajar agar hidup damai.***


Foto ilustrasi
Sumber Internet.


Artikel lainnya:


Catatan :
Artikel ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy. 🙏


ANAK KRAKATAU: ASAL-USUL, KRONOLOGI, DAN PESANNYA

  Gambar hanya Ilustrasi ilustrasi Sumber Internet. Pada Sabtu tanggal 5 September 2026, "lima penjaga" itu berdehem, diantaranya ...