Dewa Ganesha / Dewa Ganapati
Mantram Ganesa
"Vakratunda Mahakaya Surya Koti Samaprabha
Nirvighnam Kuru Mein Dev Sarva-kaaryeshu Sarvada"
Arti Ganapati
Nama Ganapati berasal dari dua kata Sansekerta: Gana dan Pati.
Dalam kata Gana, "Ga" berarti Buddhi (intelek), "Na" berarti Vijnana (pengetahuan atau kebijaksanaan yang lebih tinggi).
"Pati" berarti "tuan, pemimpin, atau penguasa".
Jadi Ganapathi adalah Penguasa Budi dan Vijnana. Ganapathi bersemayam dalam diri setiap manusia, sehingga manusia tidak perlu mencari-Nya di dunia luar.
Makna Lambang Tikus
Tikus (Muushika) adalah wahana Vinayaka. Tikus melambangkan kegelapan, yang merupakan simbol ketidaktahuan dan keterikatan pada kecenderungan duniawi (vasana). Tikus juga melambangkan kegelapan malam, namun ia dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan.
Tikus terkenal memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Karena itu, cara umum untuk menjebaknya adalah dengan meletakkan makanan berbau menyengat di dalam perangkap—tikus akan mengikuti arah bau tersebut menuju sumbernya.
Secara simbolis, tikus sebagai wahana Dewa Vinayaka melambangkan sesuatu yang menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya. Prinsip Vinayaka sendiri adalah menghilangkan sifat buruk, kebiasaan buruk, dan pikiran buruk, lalu menggantinya dengan sifat baik, perilaku baik, dan pikiran baik. Karena itulah Dewa Ganapati dipahami sebagai pengendali kegelapan atau ketidaktahuan.
Tanpa mengerti makna mendalam ini, orang-orang merasa heran bagaimana mungkin makhluk besar seperti Vinayaka dapat menunggangi makhluk kecil seperti tikus.
Perayaan Ganesha Chaturthi
Ganesha Chaturthi juga dikenal sebagai Vinayaka Chaturthi, yaitu perayaan kelahiran dewa berkepala gajah Ganesha—Dewa Kemakmuran, Kebijaksanaan, dan Penyingkir rintangan. Perayaan ini dimulai pada hari keempat (chaturthi) bulan Bhadrapada—bulan keenam dalam kalender Hindu (Agustus–September), dan berlangsung hingga 10 hari.
Makna batiniah pemujaan Ganapati selama sepuluh hari adalah bahwa setiap hari dipersembahkan untuk melatih pengendalian atas salah satu indriya. Manusia memiliki Dasendriya, yaitu Panca Jnanedhriya dan Panca Karmendhriya—lima organ persepsi dan lima organ tindakan. Tujuannya agar kita menjadi penguasa Dasendriya, bukan diperbudak olehnya.
Tuan bagi Dasendriya adalah Pikiran; tuan bagi pikiran adalah Buddhi (intelek) kemampuan membeda - bedakan. Buddhi (intelek) merupakan perwujudan 'Jnana' (Kebijaksanaan atau Kesadaran).
Ketiganya ini : sepuluh indra (Dasendriya), pikiran, dan Buddhi (intelek) bersama-sama membentuk Para Gana.
Makna Historis Perayaan Ganesha Chaturthi
Makna historis perayaan ini berasal dari zaman kuno dan berakar pada mitologi Hindu. Suatu hari Dewa Ganesha ditugaskan oleh Ibunya, Dewi Parwati, untuk menjaga kamarnya saat ia mandi. Ketika Dewa Siwa—suami Parwati—pulang dan berkeinginan masuk, Ganesha menolaknya. Dalam kemarahannya, Siwa memenggal kepala Ganesha. Parwati sangat terpukul dan meminta Siwa menghidupkannya kembali. Siwa kemudian mengganti kepala Ganesha dengan kepala gajah, sehingga lahirlah dewa berkepala gajah.
Iswara (Siwa) memberkahi Ganapati dengan bersabda:
"Aku memiliki banyak sifat namun tidak memiliki kecerdasan-Mu. Oleh karena itu, sebelum manusia memuja-Ku maka mereka harus memuja-Mu terlebih dahulu. Inilah berkah yang Aku berikan kepada-Mu."
Oleh karena itu Ganapati melambangkan perwujudan dari semua potensi. Beliau adalah tempat bagi semua jenis kecerdasan. Tidak ada yang tidak baik yang dapat terjadi di mana pun Ganesha hadir.
Maka dari itu, ketika Ganesha dipuja sebelum melakukan kegiatan apa pun, tidak akan ada hambatan untuk penyelesaiannya.
Vinayaka juga disebut Vighneswara, penghilang rintangan. Tidak ada rintangan yang dapat menghalangi orang yang berdoa kepada Vinayaka. Pemujaan terhadap Vinayaka memberikan keberhasilan dalam usaha spiritual maupun duniawi. Tuhan memberikan kebahagiaan pravritti (lahiriah) dan nivritti (batiniah). Pravritti berhubungan dengan tubuh fisik, dan nivritti dengan buddhi—kemampuan membedakan yang nyata dan tidak nyata.
Persembahan pada Vinayaka Chaturthi
Pada perayaan Vinayaka Chaturthi, para Bharateeya—keturunan Bharata—mempersembahkan makanan yang seluruhnya dimasak dengan cara dikukus kepada Dewa Ganesha. Menurut Ayurveda, makanan kukus sangat baik karena memiliki khasiat penyembuhan.
Makna batinnya adalah, persembahan makanan kepada Ganesha mengandung khasiat bagi kesehatan, sebab makanan yang dikukus lebih mudah dicerna.
Yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan adalah hal-hal yang akan menyenangkan-Nya, dan yang kita sukai. Inilah yang diperintahkan Parvathi kepada Nandheeshvara. Parwathi berkata kepadanya:
"Persembahkan kepada anak-Ku apa yang akan menyenangkan-Nya dan apa yang paling menyenangkan bagimu."
Vinayaka menandakan kemenangan kebijaksanaan atas ketidaktahuan dan kemenangan tanpa ego atas keinginan. Suatu ketika ada kontes antara Vinayaka dan adik laki-lakinya, Subrahmanyam, tentang siapa yang akan mengelilingi dunia terlebih dahulu. Vinayaka yang cerdas dan memiliki daya pembeda luar biasa hanya mengelilingi Parwathi, Ibunya. Sementara Subrahmayam mengelilingi dunia fisik.
Ketika Ganapathi disebut sebagai "Parvathi Thanaya", yang dimaksud adalah "Putra Parvathi". Parvathi di sini melambangkan Prithvi, atau Ibu Pertiwi. Karena setiap manusia pada dasarnya adalah anak dari Ibu Pertiwi, sebutan Parvathi Thanaya menegaskan bahwa Ganapathi, Sang Penguasa para Gana, juga merupakan putra dari Parvathi—yang tak lain adalah perwujudan Shakti, Energi Ilahi itu sendiri.
Vinayaka sebagai Pemimpin Sejati
Kata "Viyate Nayake Iti Vinayaka" secara harfiah berarti "Dia yang memimpin dirinya sendiri, maka disebut Vinayaka". Viyate artinya memimpin, Nayaka artinya pemimpin, dan Iti artinya demikian. Maknanya, Vinayaka adalah pemimpin sejati yang tidak memerlukan guru dari luar karena kebijaksanaan tertinggi sudah bersemayam di dalam diri-Nya.
Vinayaka tidak menyembah siapa pun karena Beliau melambangkan prinsip Atman yang merdeka. Guru-Nya adalah kebenaran itu sendiri.
Falsafah "Siwa Memuja Ganesa"
Dalam banyak kisah Purana digambarkan bahkan Dewa Siwa sebagai Ishvara, sang ayah, memohon restu Vinayaka sebelum memulai karya besar. Contohnya saat Samudra Manthan, para dewa meminta izin kepada Ganesha terlebih dahulu. Hal ini bukan berarti ada hierarki lebih tinggi atau lebih rendah. Intinya bersifat filosofis: Budhi ditambah Viveka itulah Vinayaka. Kebijaksanaan dan kemampuan membedakan benar dan salah harus didahulukan sebelum kekuatan dan tindakan. Karena itu Siwa sebagai lambang kekuatan penghancur pun "memuja" kebijaksanaan putranya terlebih dahulu.
Jika dilihat dari sudut bhakti, semua Dewa saling menghormati tanpa ego. Siwa melambangkan kekuatan, kehendak, dan vairagya. Beliau adalah energi murni dan penolak ilusi, tetapi kekuatan tanpa arah bisa menjadi liar. Sementara Ganesa melambangkan budhi, viveka, dan kebijaksanaan. Beliau adalah kemampuan membedakan benar dan salah, ingatan, serta kecerdasan. Beliau disebut Sang Penghapus Rintangan.
Dengan demikian, "Siwa memuja Ganesa" berarti kekuatan harus tunduk pada kebijaksanaan terlebih dahulu. Kehendak harus meminta izin budhi sebelum bertindak. Jika tidak, maka akan terjadi "kekuatan tanpa kepala", seperti dalam kisah Siwa yang tanpa sengaja memenggal kepala Ganesa.
Penutup: Jangan Menyia-nyiakan Waktu*
Seperti awan di langit yang disatukan atau disebarkan oleh angin, perjalanan waktu membawa manusia kepada pertemuan atau perpisahan dengan orang lain, demikian juga halnya dengan kebahagiaan atau kesedihan. Waktu adalah perwujudan Tuhan. Waktu tidak boleh disia-siakan. Untuk memahami kebenaran suci seperti itulah perayaan seperti Ganesha Chaturthi dirayakan. ***🙏
Baca juga : Mengapa Dewa Siwa Tertinggi
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


