Sabtu, 01 November 2025

Kertanegara Raja Singasari Terakhir, dan 13 Nama - Nama Raja Majapahit

Kertanegara, Sumber Internet

Kerajaan Singasari

Kertanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singasari yang memerintah pada Saka 1190 - 1214 / 1268 - 1292 Masehi, dengan gelar Sri Maharajadiraja Kertanegara. Ia adalah putra Wisnuwardhana, raja Singasari sebelumnya. Kertanegara dikenal karena keberaniannya melakukan ekspansi dan bercita-cita mempersatukan Nusantara di bawah panji Singasari.

Raja Kertanegara mempunyai menantu bernama Raden Wijaya. Kisah Raden Wijaya dengan putri-putri Kertanegara ditulis dalam Kitab Negarakertagama dan Kitab Pararaton. 

Dalam Negarakertagama disebutkan, Raden Wijaya menikahi empat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Jayendradewi, Narendraduhita, dan Gayatri. Dari keempatnya, Tribhuwaneswari yang menjadi permaisuri, sedangkan tiga lainnya sebagai selir. Raden Wijaya sekaligus menjadi panglima perang Singasari.

Pada tahun 1292 M / Saka 1214 terjadi pemberontakan terhadap Singasari yang dilakukan oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang (Kediri). Jayakatwang mengirim pasukan besar ke Singasari dan berhasil menduduki istana. Raja Kertanegara gugur dalam pemberontakan tersebut.

Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke hutan di sekitar Sungai Brantas.

Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bhairawa) di Candi Singasari. Arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.

Dengan gugurnya Kertanegara, Singasari dikuasai Jayakatwang. Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Ia diberi sebidang tanah bernama Tanah Tarik untuk ditempati.

Raden Wijaya masih menyimpan dendam kepada Jayakatwang. Kesempatan datang ketika pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan tiba untuk menghukum Kertanegara, karena Kertanegara pernah melukai wajah Meng Chi, utusan Kubilai Khan. Karena Kertanegara telah tewas, Raden Wijaya mengajak pasukan Mongol untuk balik menyerang Jayakatwang. Perang ini dimenangkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Mongol.

Raden Wijaya berjanji bahwa apabila menang melawan Jayakatwang, ia akan tunduk kepada Kubilai Khan. Namun setelah Jayakatwang berhasil disingkirkan, Raden Wijaya langsung menyerang balik pasukan Mongol secara mendadak. Serangan itu membuat pasukan Mongol memilih meninggalkan Jawa.

Kerajaan Majapahit.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, pada tahun 1293 M Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309). Ibukotanya berada di Trowulan, Jawa Timur.

Kerajaan Majapahit berkembang menjadi kerajaan besar dengan daerah kekuasaan yang sangat luas dan mampu bertahan hingga lebih dari 2 abad (1293-1528) , dengan 13 kali pergantian raja.


Menurut sejarah, tercatat ada 13 nama raja Majapahit yang pernah memimpin tahta kerajaan, yaitu  :


1.  Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)

Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang berdiri dari tahun 1293 hingga 1527. Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

Menurut Nagarakertagama, Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 M. Untuk mengenang Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya kemudian dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping, Blitar, sebagai Hari-Hara , atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Ia digantikan oleh putra, Jayanagara sebagai raja selanjutnya.


2.  Sri Jayanagara atau Kalagemet (1309-1328)

Sri Jayanegara baru berusia 15 tahun saat menggantikan Raden Wijaya. Dalam Kitab Pararaton ia dijuluki Kala Gemet, yang berarti jahat dan lemah, karena dianggap tidak cakap dalam pemerintahan dan berperilaku kurang baik. 

Pada masanya banyak terjadi pemberontakan, antara lain Pemberontakan Gajah Biru (1314), Pemberontakan Nambi (1316), Pemberontakan Semi (1318), dan Pemberontakan Kuti (1319). 

Jayanegara wafat tahun 1328 setelah ditusuk oleh Ra Tanca, anggota Dharmaputra yang juga tabib istana. Tahta kemudian diteruskan oleh Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni.


3.  Tribhuwana Wijaya Tunggadewi atau Sri Gitarja  (1328-1350 ).

Ia adalah ratu perempuan pertama Majapahit yang dikenal karena keberaniannya. 

Selama pemerintahannya, Majapahit melakukan banyak ekspansi dibantu Gajah Mada. Pada tahun 1336 M, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa di hadapan Tribhuwana:

Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya:

Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, [tetapi] tidak ingin amukti palapa. Gajah Mada [bersumpah], "Jika sudah takluk Nusantara, [maka] aku amukti palapa (aku akan menikmati istirahat). Jika [sudah] takluk Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa (menikmati istirahat)".

Dengan dukungan Gajah Mada, ia memimpin perluasan Majapahit ke wilayah seperti Bali (1343) dan Sumatra (1347).

Tribhuwana menikah dengan Cakradhara / Kertawardhana Bhre Tumapel dan memiliki putra Dyah Hayam Wuruk. 

Ketika ibunya Gayatri wafat tahun 1350, Tribhuwana digantikan Hayam Wuruk. Namun menurut Prasasti Singasari, pada 1351 Tribhuwana masih tercatat sebagai ratu, diperkirakan baru turun tahta tahun 1351.


Gajah Mada : Sumber Internet

4.  Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara  (1350-1389 ).

Pada 1350, Hayam Wuruk naik tahta pada usia 16 tahun dengan gelar Sri Rajasanagara, menggantikan ibunya.

Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk disebut sebagai raja Majapahit terbesar atau paling utama. Keberhasilannya membawa Majapahit menuju puncak kejayaan tidak lepas dari bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Pada masa itu seluruh kepulauan bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji Majapahit. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Filipina. .

Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada meninggal dan posisi Mahapatih langsung di pegang Prabu Hayam Wuruk dan dibantu Menteri Seniornya bernama Mpu Nala. Beberapa tahun kemudian diangkat Mahapatih baru bernama Gajah Enggon.

Tahun 1389 Hayam Wuruk wafat dan didharmakan di Candi Ngetos, Nganjuk. Ia mempunyai dua anak: Kusumawardhani dari Sri Sudewi, dan Bhre Wirabhumi dari selir. 

Penggantinya adalah putri sulung Kusumawardhani yang didampingi suaminya Wikramawardhana.


5. Wikramawardhana dan Kusumawardhani  (1389-1429 )

Ia dikenal karena terlibat dalam Perang Paregreg melawan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir, yang mengklaim hak atas takhta.

Wikramawardhana memimpin "keraton kulon" (barat) sementara Bhre Wirabhumi memimpin "keraton wetan" (timur).

Wikramawardhana awalnya kalah namun berhasil membalikkan keadaan setelah mendapat bantuan dari Bhre Tumapel. 

Ia memiliki tiga anak dari selir: Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya. Setelah wafat, ia digantikan putrinya Suhita pada 1429.


6.  Ratu Suhita atau Dyah Ayu Kencana Wungu  (1429-1447 )

Naik tahta sekitar usia 20 tahun setelah ayahnya wafat. Ia adalah ratu perempuan kedua dan terakhir Majapahit setelah Tribhuwana. 

Ia memerintah bersama suaminya Aji Ratnapangkaja bergelar Bhatara Parameswara. Ia dikenal membalas kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dengan menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati pada 1433.

Masa kepemimpinannya terjadi di tengah situasi sulit, termasuk krisis kelaparan dan ketegangan politik pasca Perang Paregreg, yang mencakup persaingan dua kubu bangsawan besar.

Ratu Suhita meninggal pada tahun 1447,  Ia dicandikan bersama suaminya di Singhajaya. Kemudian  digantikan oleh adiknya, Dyah Kertawijaya, karena tidak memiliki putra mahkota. 


7.  Kertawijaya atau Brawijaya   (1447-1451 )

Kertawijaya adalah raja Majapahit ketujuh dengan gelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana.
Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan meletusnya gunung. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel. 

Beberapa sumber menyebut Kertawijaya sebagai Brawijaya I. Nama "Brawijaya" berasal dari gelar raja-raja Majapahit. Identifikasi ini diperkuat oleh bukti seperti batu nisan Putri Campa yang bertanggal 1448 dan silsilah Raden Patah yang menyebutkan Kertawijaya sebagai leluhur, meskipun ada perbedaan pendapat tentang istri Kertawijaya berdasarkan naskah babad dan serat dibandingkan dengan prasasti. 


8.  Rajasawardhana atau Brawijaya II  (1451-1453 )

Raja ke-8 Majapahit, nama lengkap Dyah Wijayakumara, dikenal juga sebagai Sang Sinagara atau Bhre Kahuripan. 

Masa pemerintahannya singkat, hanya dua tahun, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengatasi gejolak internal kerajaan. Setelah wafat tahun 1453, terjadi kekosongan kekuasaan selama tiga tahun hingga digantikan oleh Girishawardhana tahun 1456..


9.  Girishawardhana atau Purwawisesa atau Brawijaya III  (1456-1466 ).

Sepeninggal Rajasawardhana tahun 1453 Majapahit dilanda hambatan pemerintahan selama tiga tahun. Baru pada tahun 1456, Girishawardhana Bhre Wengker naik tahta bergelar Bhra Hyang Purwawisesa. 

Pada 1462 terjadi bencana gunung meletus. Wafat 1466 dan dicandikan di Candi Waji, Puri, Mojokerto. Digantikan adiknya Dyah Suraprabhawa yang identik dengan Bhre Pandansalas, bergelar Singhawikramawardhana, tercatat dalam Prasasti Waringin Pitu (1447) sebagai putra bungsu Dyah Kertawijaya.


10.  Bhre Pandansalas atau Dyah Suraprabhawa atau Brawijaya IV  (1466-1468 )

Maharaja Majapahit yang memiliki gelar lengkap Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta.
Diberitakan dalam Pararaton, setelah Bhre Pandansalas menjadi raja selama dua tahun, keponakannya Bhre Kertabhumi melakukan kudeta untuk mengambil alih kekuasaan pada tahun 1468.


11.  Bhre Kertabumi / Angkawijaya atau Brawijaya V  (1468-1478 )

Sepanjang masa pemerintahannya, Bhre Kertabumi menghadapi berbagai konflik dan pemberontakan internal. 

Bhre Kertabumi memiliki 3 (tiga) istri :  Dewi Amarawati  (seorang putri dari Champa yang dikenal sebagai "Putri Cempo"), Dewi Wandan Kuning, serta selir : Wandan Sari (Siu Ban Ci), adalah seorang wanita Muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari negeri Campa (sekarang di wilayah Vietnam).

Dengan Siu Ban Ci ia berputra Raden Patah yang kemudian mendirikan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Kerajaan Bhre Kertabumi runtuh saat dikalahkan putranya sendiri Raden Patah. Makamnya terletak di Trowulan, Mojokerto, timur laut Kolam Segaran, dikenal sebagai kompleks Makam Panjang.


12.  Girindrawardhana atau Brawijaya VI  (1478-1489 )

Girindrawardhana atau Brawijaya VI adalah Dyah Ranawijaya, yang dianggap sebagai raja Majapahit yang berkuasa secara mandiri, dan memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (Kediri). 

Ia naik takhta setelah mengalahkan Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1478 dan menyatukan kembali Majapahit.

Ia sempat mempertahankan wilayah dari serangan Demak yang dipimpin Raden Patah. Berusaha memulihkan kejayaan namun tidak berhasil, akhirnya tewas dalam pertempuran melawan pasukan Demak.


13.  Patih Udara  (1489-1527 ).

Patih Udara adalah patih Majapahit yang menjadi raja terakhir. Naik tahta setelah wafatnya Girindrawardhana. Selama memerintah banyak menghadapi serangan Demak yang semakin agresif.

Ia wafat 1527 dan digantikan putranya Menak Sapetak. Kekuasaan Majapahit semakin melemah dan pada 1528 Demak berhasil merebut Daha, mengakhiri keberadaan Majapahit sebagai kerajaan besar di Nusantara.

Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menambah pengetahuan, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca". Apabila ada yg tidak berkenan mohon maaf. 🙏


Diolah dari berbagai sumber.




Baca juga : 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

  Om Swastyastu🙏 Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang men...