Dalam Bhagawadgita, Krisna bersabda : “ Siapa pun yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaKu dan berlindung kepadaKu, maka dia akan Aku lindungi dan Aku akan membimbing menuju kesadaran Tuhan”.
Apakah maksudnya menyerahkan diri dan berlindung di sini? Apakah dengan menyerahkan diri secara nyata (fisik) begitu? Tentu tidak, menyerahkan diri berarti menjalankan ajaranNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Kekuasaan Tuhan sangat tidak terbatas, Beliau Maha Tahu, Maha Ada, Maha Mencipta dsbnya, pendeknya maha segalanya. Dunia yang sangat luas yang kita huni sekarang ini dikenal dengan nama Bhutakasa , ini diciptakan oleh Tuhan. Selain dunia yang nyata ini Tuhan juga menciptakan dunia halus yang lebih luas lagi yang disebut dengan alam Cithakasa atau alam mental, dan Tuhan juga menciptakan dunia yang lebih halus dan lebih luas dari alam Cithakasa, yang disebut dengan alam Chidakasa atau alam Kausal. Alam Chidakasa ini merupakan alam yang paling luas dan paling halus diantara dua alam tadi (Bhutakasa dan Chitakasa), sebab dari alam Chidakasa inilah lahirnya alam Bhutakasa dan alam Chitakasa.
Akumulasi dari alam ketiga inilah yang dikenal dengan istilah Tri Loka. Bisa kita membayangkan betapa Maha Kuasa Tuhan. Kitab suci menyatakan hal ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Manusia dikaruniai kemampuan yang sangat terbatas dan sangat sulit bagi manusia untuk memahami prinsip yang suci ini, maka demi kepentingan manusia, dalam Bhagawadgita Krisna mengajarkan cara yang mudah untuk berbakti kepada Tuhan. Dalam praktek sehari-hari bhakti dirangkai menjadi 2 yaitu Bhakti Biasa dan bakti yang lebih tinggi tingkatannya disebut Para Bhakti.
Bhakti yang biasa merupakan berbagai kegiatan persembahyangan dan upacara yang dilakukan oleh penganut, misalnya berziarah ke tempat-tempat suci, mandi di sungai-sungai yang dianggap suci dll. Bakti yang biasa ini mempergunakan sarana bunga, buah, daun dan air sebagai pemujaan kpd Tuhan. Dari mana berasal-benda tsb? Semua benda-benda tsb merupakan ciptaan Tuhan, bukan milik kita yang sesungguhnya. Jadi dimana letaknya Bhakti / pengorbanan jika kita dipersembahkan kepada Tuhan benda-benda yang diciptakan / milik Tuhan sendiri?
(1). Matkarmatkrit , “Bekerjalah demi Aku”. Hendaknya kita menghayati bahwa kerja merupakan salah satu bakti kepada Tuhan. Kita bermaksud menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tulus ikhlas, tidak terikat dengan hasil kerja itu sendiri. Persoalan hasil kerja itu serahkan kepada Tuhan, itu urusan Tuhan, kita hanya bertanggung jawab terhadap kerja itu sendiri.
Dalam perang Kuruksetra, ketika Arjuna sdh berhadap-hadapan dengan Kakek Bisma, guru Drona, dan sanak keluarga lainnya, Dia menjadi lemas, tidak ada tenaga, karena Dia tidak mau membunuh / membunuh Kakek - Bisma yang sangat dia hormati, guru - Drono yang sangat berjasa mengajarkan ilmu memanah dll.
Arjuna melemparkan semua busur-busurnya dan berkata kepada Krisna, "Aku tidak mau menendang". Krisna kemudian menasehati Arjuna, "Engkau adalah seorang ksatria, tugasmu adalah bekerja. Kalau kamu tidak mau bekerja, kamu akan dicap sebagai seorang sarjana. Tentang hasil perang ini serahkan sepenuhnya kepadaKu", demikian kata Krisna. Setelah mendengarkan wejangan Krisna, akhirnya Arjuna bangkit dan mau menggetarkan. Dia tidak memikirkan bagaimana hasil perang tsb.
(2). Matparamo, "Semata-mata demi Aku". Apapun yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan semata-mata demi menyenangkan Tuhan. Berbagai aktivitas sehari-hari seperti : makan yang enak, tidur yang nyenyak, istirahat yang cukup, kita menganggap bahwa itu semua demi badan, pikiran dan perasaan kita. Padahal sebenarnya adalah demi Atma. Aku disini menunjuk pada yang abadi bukan menunjuk pada badan. Kita mengatakan : "Ini dikirim, ini telingaku, ini kepalaku" dll. Dalam kalimat-kalimat itu ada subjek dan predikat; ada tangan dan ada Aku, ada telinga dan ada Aku, ada kepala dan ada Aku. Aku itu yang mana? Tiada lain Aku itu menunjuk kepada Sang Diri Sejati yaitu Atman.
HAI
(3). Matbaktaha, “Berbaktilah hanya kepadaKu”. Berbakti kepada Tuhan bisa disinonimkan dengan kasih kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan bisa kita implementasikan kasih kepada semuanya. Kasih tidak mengenal perbedaan warna kulit, tidak mengenal perbedaan agama. tidak memandang orang kaya-miskin. Kasih adalah satu-satunya ikatan yang dapat menyatukan semuanya serta menyadarkan kita pada kenyataan tunggal dibalik segala yang tampaknya beragam.
Kalau pikiran kita diresapi dengan kasih maka ia akan menjadi satya (kebenaran), kalau cinta kasih yang meresapi perbuatan kita ia akan menjadi dharma (kebajikan), kalau perasaan kita diliputi cinta kasih ia akan menjadi kedamaian (prema), mengerti cinta kasih ia akan menjadi Ahimsa (tanpa kekerasan).
Ada seorang Rsi yang bersumpah akan melaksanakan ahimsa dan berkata jujur apapun yang terjadi. Tatkala Rsi ini melakukan tapa, ada seorang pemburu yang sedang berburu rusa. Rusa yang diburu itu lari didepan sang Rsi dan bersembunyi. Sang pemburu datang dan bertanya kepada Rsi tsb, “Apakah anda melihat rusa lari disini, dimana dia bersembunyi?”
Sang Rsi berada dalam suatu konplik batin yang sangat hebat, jika ia berkata ”melihat”, berarti ia telah menyebabkan matinya rusa itu, berarti melanggar sumpahnya tentang ahimsa. Kalau dia mengatakan “tidak”, berarti dia sudah berkata bohong. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia menemukan jalan yang terbaik untuk mengatasi dilema ini. Ia menjawab dengan kata-kata yang membingungkan. Jawabnya : "Mata yang melihat tidak dapat mengatakan, sedangkan mulut yang berbicara tidak dapat melihat, Aku tidak dapat mengubah yang melihat harus mengatakan, dan yang berbicara harus melihat, itu adalah kebenaran". Dengan jawaban ini maka Rsi tersebut terhindar dari masalah yang menimpanya.
Bhagawan Sri Satya Narayana manganjurkan kepada kita jangan berbohong. Beliau mengatakan “Jika kamu tidak dapat mengatakan yang sebenarnya lebih baik kamu diam dan tidak berbicara dari pada mengatakan yang tidak benar”. (Berbohong kepada musuh, kepada anak kecil yang sakit diperbolehkan, ket pen).
Tuhan yang Maha Besar atau Mahima bisa mengambil wujud yang terkecil dari yang paling kecil atau Anima. Dikatakan jauh Beliau sangat jauh sekali, dikatakan dekat beliau dekat sekali yaitu di dalam hati para bakta.
Tuhan melanjutkan lagi, ”ketika para raksasa bersembunyi di dasar samudra, Rsi Agastya meneguk udara samudra hanya dengan sekali tegukan air samudra menjadi kering, sekarang katakan mana yang lebih besar air samudra atau Agastya?” Narada menjawab : “Rsi Agastya yang lebih besar”.
Narada menjawab: "Kaki Tuhan yang lebih besar". Akhirnya Narada tiba pada satu kesimpulan bahwa kalau kakiNya saja sudah begitu besarnya, apalagi wujudnya?
Bakta yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Tuhan memang sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar. Dia mampu mengurung Tuhan di dalam hatinya. Tetapi manusia karena awidya (kegelapan) dia merasa kecil, tingkat kesadaran spiritualnya masih rendah. Dia mengatakan : "Aham dehasmi - Aku adalah Badan". Pada tahap ini kita berkata, Aku adalah Abdi Tuhan, dan menganggap Tuhan berada di suatu tempat yang jauh ini adalah tahap Dwaita.
- Arthi : kelompok orang-orang yang berdoa kpd Tuhan apabila dia sedang mengalami berbagai masalah dan cobaan atau sedang sakit.
- Arthaarti : kelompok orang-orang yang memuja Tuhan memohon agar diberikan kekayaan, jabatan, rmh mewah, dll.
- Jignasu : kelompok orang-orang yg tdk henti-hentinya menekuni azaz kerokhanian. Ia selalu mencari jawaban atas pertanyaan : Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Ke mana aku akan pergi? Apa yang akan aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bagaimana Aku dpt mencapai Tuhan? Kelompok ini terus mempelajari pengetahuan tentang ke-Tuhanan serta selalu tekun dalam spiritual / olah rokhani.
- Jnani : kelompok orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, mempunyai pengetahuan adikodrati mempunyai Jňana. Jňana adalah pengetahuan tentang Tuhan. Ada disebutkan, "Brahmavid Brahmaiva Bhawathi" artinya "Siapa yg mengetahui Tuhan maka dia akan menjadi Tuhan". Kelompok orang-orang ini sudah dapat menghayati secara terus menerus sifat-sifat keilahian yang ada dalam dirinya, dia sdh mencapai tingkat "Jivanmukti" yaitu seseorang yang telah mencapai kesadaran spiritual yang tertinggi saat masih hidup di dunia. Mereka dianggap telah mencapai moksa, namun masih memiliki tubuh fisik.
Ada dua jenis pengetahuan yang dapat dicari manusia dalam pencariannya akan kebahagiaan. Pertama adalah pengetahuan duniawi (Lokajnana). Pengetahuan ini terkait dengan pengetahuan tentang teknologi, kesehatan, kimia, matematika, botani, musik, seni rupa, alam semesta fisik, dll. Semua jenis pengetahuan ini hanyalah digunakan sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah.
Jenis pengetahuan lain adalah pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa (Brahmajnana) yang membimbing cara hidup sesuai dharma. Pengetahuan ini mengungkapkan tentang asal muasal; pertumbuhan dan peleburan kosmos yang disebabkan oleh Brahman (realitas yang tertinggi), dapatkan jawaban atas pertanyaan, “ Siapa Aku? Dari mana aku berasal? Ke mana Aku akan pergi? Apa yang akan Aku bawa? Apa tujuan Aku lahir ke dunia? Siapa Tuhan? Bgmn Aku dapat mencapai Tuhan?" (Wacana Ilahi, 24 Juli 1983).***🙏
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏
