-- Vidya berasal dari akar kata Sanskerta vid = tahu, terang. Jadi Vidya adalah ilmu yang memberi terang, yang memerdekakan. Bukan sekedar tahu data, tapi tahu Diri. Bukan sekedar 'know-how', tapi 'know-why' untuk hidup sesuai Dharma.--
1. Pendidikan Duniawi vs Vidya
Pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada perolehan gelar yang hanya sebagai "wadah" yang dibawa ke mana-mana untuk diisi dengan pekerjaan. Hari ini, kami mendengar banyak orang berbicara tentang 'kewajiban'. Hal itu tentu saja baik. Namun sering kali maknanya belum dipahami secara benar.
Pendidikan akademis saat ini lebih menitik beratkan pengetahuan duniawi sebagai jalan hidup untuk mencari nafkah. Bukan sebagai cara hidup yang sesuai dharma yang akan mengantarkannya ke sorga, perahu ibarat yang dipakai pedagang untuk menyebrangi lautan.
Pendidikan bukanlah barang dagangan, bukan pula alat untuk mengemis pekerjaan. Tidak salah mendapat pekerjaan setelah lulus, tetapi tujuan pendidikan sejati bukanlah itu. Pendidikan akan berkembang dan bermanfaat hanya ketika diamalkan dan dibagikan. Apa gunanya gelar tinggi jika tidak dibagikan untuk kebaikan sesama?
2. Karakter Lebih Utama dari Kesarjanaan
Ratusan tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk cara memandang kita terhadap kehidupan. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan itu akan membentuk karakter kita, dan karakter tersebut mempengaruhi nasib.
Apapun karakter seseorang saat ini, semua masih dapat diperbaiki dengan mengubah pola pikir. Tidak ada keburukan yang tidak bisa diperbaiki. Kita memiliki kemampuan untuk melawan kecenderungan buruk dan mengubahnya. Dengan kegiatan tanpa pamrih, dengan bhakti, dan doa, kebiasaan lama dapat dibuang dan digantikan dengan kebiasaan baru yang menuntun kita ke jalan Tuhan.
Sejarah membuktikannya:
- Angulimala, yang awalnya bernama Ahimsaka, seorang Brahmana yang dipengaruhi oleh lingkungan buruk sehingga menjadi pembunuh. Saat ingin membunuh ibunya sendiri, Sang Buddha muncul dan mengubahnya. Ahimsaka menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian.
- Ratnakara, seorang berjongkok, setelah bertemu Sapta Rsi – tujuh orang bijak – berubah menjadi Valmiki, penyair agung penulis Ramayana.
Inilah bukti nyata transformasi dari kegelapan menuju pencerahan.
Sayangnya, kepintaran akademis tidak otomatis melahirkan kemewahan. Pengalaman mencatat, kejahatan besar justru sering lahir dari tangan yang sangat terampil / berpendidikan tinggi lulusan universitas ternama, namun hatinya kosong dari Dharma. Sayang sekali jika kepintaran tidak diimbangi karakter mulia.
Ciri karakter yang baik menurut Baba : Kasih, Sabar, Mampu menahan diri, Setia, Dermawan.
Sabda Bhagawan Sri Sathya Sai Baba:
“Manusia tidak akan menjadi bijaksana hanya dengan pendidikan. Mereka menganggap pendidikan sebagai jalan untuk mencari nafkah, bukan sebagai cara hidup. Setapak kecil tanah yang subur lebih berharga daripada sebidang tanah luas yang gersang. Demikian pula karakter yang baik lebih berharga daripada kesarjanaan. Zaman sekarang setiap orang berusaha memperoleh kekuasaan, kekayaan, dan harta benda yang ibarat awan berlalu. Sedikit sekali yang peduli untuk memiliki yang menuju kebahagiaan abadi.”
3. Makna Sejati Vidya
Sayangnya, saat ini Vijnana disamakan dengan sains. Padahal sains hanyalah pengetahuan akademis. Segala sesuatu yang dipelajari melalui studi-studi ini dapat disebut pendidikan atau pembelajaran, tetapi tidak dapat disebut Vidya.
Vidya adalah kesadaran akan kekuatan yang menggerakkan setiap sel dalam diri kita. Melalui kesadaran inilah manusia memahami makna peristiwa hidup dari lahir hingga mati. Vidya berarti memahami segala sesuatu dalam totalitasnya termasuk mengetahui bagaimana seseorang menanggalkan hidup ini dengan damai. Vidya dalam pengertian sejati, adalah cara hidup yang sesuai dharma.
4. Siapa Vidhyarthi Sejati?
Seorang sejati adalah pencari pengetahuan – ia disebut Vidyarthi: Vidya dan Arthi artinya pencari ilmu. Berbagai kesulitan hidup tidak akan menggoyahkan seorang Vidyarthi. Ia tetap damai dan memusatkan pikiran terus-menerus kepada Tuhan.
Pengetahuan yang harus dicari adalah pengetahuan tentang Diri Sejati – Atma Jnana, pengetahuan spiritual. Inilah ilmu tertinggi. Seperti sabda dalam Bhagavad Gita: “Adhyatma Vidhya Vidhyanam” – Di antara semua ilmu pengetahuan, Aku adalah pengetahuan tentang Diri Sejati.
5. Keterikatan vs Dharma
Ketika hati diliputi dengan semua jenis keinginan duniawi, maka di sana tidak ada ruang bagi usaha spiritual.
Ada perbedaan yang sangat luas antara seseorang yang terikat hal-hal duniawi dengan seseorang yang mengabdi pada Dharma. Hal ini dapat digambarkan dengan tindakan Drona dan Bisma, di mana mereka berdua adalah guru utama dari Pandawa dan para Kurawa. Keduanya, baik Bhishma dan Drona, adalah ahli tertinggi dalam seni menggunakan astra (senjata yang diarahkan dengan melantunkan mantra) dan shastra (senjata mematikan). Namun betapa berbedanya di antara keduanya!
Bisma adalah seseorang dengan pikiran spiritual yang tinggi. Setelah dia terluka di sekujur tubuhnya dan darah mengalir dari luka yang ada, berbaring di atas tempat tidur dari anak panah dalam perang Kurukshetra, sambil mengajarkan Dharma (kebajikan) kepada para Pandawa. Bhishmacharya diliputi dengan kasih pada Dharma. Hatinya penuh Dharma / Prasasti, menang atas rasa sakit, kehidupan untuk mewujudkan kebenaran.
Sebaliknya, ketika Dronacharya mendengar Yudhistira berkata "Aswatthama hatah" (Aswatthama dibunuh), dia bahkan tidak menunggu untuk mendengar secara utuh bahwa gajah bernama Aswatthama yang telah mati, Dronacharya menyimpulkan bahwa putra -- Aswatthama telah meninggal, dan dia meletakkan senjata dan akhirnya gugur di medan perang. Dronacharya hatinya diliputi dengan kama, keduniawian . Ilmu setinggi langit, tapi runtuh karena moha pada anak. Kalah oleh perasaan, tidak bisa membedakan kebenaran.
Ilmu ibarat pisau. Di tangan Bhishma, pisau itu dipakai membedah Dharma di medan perang. Di tangan Drona, pisau itu justru menusuk dirinya sendiri saat anaknya dikabarkan mati. Bukan pisaunya yang salah, tapi tangan yang memegangnya.
- Kalau sudah penuh dengan keinginan duniawi (harta, anak, nama), maka tidak ada ruang untuk usaha spiritual.
- Kepandaian tidak menjamin kemewahan. Drona dan Bhisma sama-sama guru hebat, ahli astra-shastra. Tapi kualitas batinnya beda jauh. Ilmu tanpa vairagya / ketidak-terikatan akan runtuh saat diuji.
- Ukuran manusia sejati adalah reaksinya saat krisis. Drona meletakkan senjatanya karena moha. Bisma justru bersinar karena Dharma. Di titik terendah kehidupan, terlihat siapa yang benar-benar mengabdi pada Dharma.
Pesan praktisnya:
Kurangi bertumpu pada hasil, anak, harta, nama. Isi hati dengan Dharma. Karena saat "perang Kurukshetra" dalam hidup datang — kehilangan, sakit, fitnah — hanya yang hatinya penuh Dharma yang tetap tegak dan bisa menjadi cahaya bagi orang lain, seperti Bisma.
Intinya:
Jadilah Bisma, jangan jadi Drona. Berilmu iya, tapi hati harus untuk Dharma, bukan untuk kama.
Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menjadi AlatMu, Swami, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca. 🙏
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:
Posting Komentar