Senin, 19 Mei 2025

MAKNA NYEPI: Dari Keheningan Pra-Penciptaan hingga Catur Brata Penyepian

 
Sumber foto Internet

Hari Raya Nyepi sangat sakral bagi umat Hindu dan dihormati oleh seluruh dunia, bahkan Bandara Internasional Ngurah Rai saja ditutup, semua pesawat dari berbagai Negara tidak terbang ke Bali saat Nyepi. Inilah bentuk toleransi. Nyepi dengan Catur Brata penuh, di dunia hanya ada di Bali satu kali setahun. 

Namun Nyepi 2026 ini muncul wacana perubahan Tatacara Nyepi yang sudah berlangsung berabad-abad, namun usaha itu tidak disetujui.  

Tdk ada satupun yg membahas apa sebenarnya makna Nyepi itu, utk apa dirayakan? Sekilas pandangan  sy tentang Nyepi yang sangat sakral sebagai pengakuan Kemahakuasaan Ida Hyang Widhi Wasa. Tentu saja apa yg sy buat ini tdk mengklaim benar. Karena berpendapat adalah hak setiap orang, atas dasar itulah sy menulis ini, dan minta maaf kalau tidak berkenan.


1. Keadaan Sebelum Penciptaan dalam Weda

Dalam kitab suci Hindu, seperti Rigveda dan Upanishad, disebutkan sebelum terciptanya dunia adalah keadaan gelap yang disebut Asat  atau Avyakta.

Asat atau Avyakta adalah keadaan yang tidak termanifestasi, tidak memiliki bentuk atau sifat, dan tidak dapat dipahami oleh manusia, kosong, yang hanya ada Tuhan, sering disebut jaman "Duk Tan Hana Paran-Paran Anrawang Anruwung " artinya: ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya tidak menentu.

Dalam Rgveda 10.129.1 disebutkan :
"nāsad āsīn no sad āsīt tadānīṃ nāsīd rajo no vyomā paro yat"

Terjemahan bebas:
"Pada awalnya tidak ada yang termanifestasi dan tidak termanifestasi. Tidak ada udara, tidak ada langit. Apa yang menyelamatkan semua ini?"

"Apa yang menggantung? Di mana? Dalam perlindungan siapa? Apakah itu udara? Samudra yang dalam tanpa dasar?"

Juga dalam Rgveda 10.129.3  disebutkan sbb:
"Tama āsīt tamasā gūḍham agre praketaṁ salilaṁ sarvam ā idam tucchyenābhv apihitaṁ yad āsīt tapasas tan mahinā jāyataikaṁ."

Terjemahan bebas : 
“Pada awalnya ada kegelapan, yang tersembunyi di dalam kegelapan; alam semesta tidak dapat dibedakan seperti aiir, Yang telah menjadi, diselimuti oleh ke kosongan, Yang Esa itu muncul melalui kekuatan panas”.

Penjelasan singkat:

  • tamaḥ āsīt  berarti kegelapan yang ada
  • tamasā gūḍham  bermakna kegelapan.
  • tidak setuju  berarti pada awalnya.
  • apraketam  bermakna tanpa tanda, tanpa pembeda.
  • salilam sarvam idam  bermaksud segala airr ini, semua ini adalah aiir atau cairan kosmis.
  • tucchyena ābhv apihitam bermakna tertutup oleh ruang atau kekacauan.
  • yat āsīt  bermakna apa yang ada.
  • tapasah tan mahinā  bermakna melalui kekuatan besar dari tapas atau semedi kosmis.
  • jāyata ekam  berarti muncullah Yang Satu.
Makna Filosofisnya: 
Sloka ini mengajak untuk bertanya dan mempertimbangkan:

  1. Tama āsīt tamasā gūḍham  menjelaskan bahwa keadaan awal disebut Tamas. Tamas itu adalah kegelapan, ketidaktahuan, dan kekacauan. Pada saat itu belum ada siang dan malam, juga belum ada bentuk. 
  2. Apraketaṃ salila  menjelaskan bahwa semua masih menyatu seperti aiir kosmis. Pada keadaan itu belum ada nama, belum ada rupa, dan belum ada pembeda. ini mirip dengan konsep Avyakta Keadaan yang artinya belum termanifestasi.
  3. Tapa saus  tan mahinā jāyata ekam dijelaskan bahwa dari pernafasan itu, melalui Tapas yaitu panas, energi, dan semedi kosmis, muncullah Ekam yang artinya Yang Satu. Yang Satu ini adalah benih dari seluruh ciptaan.


Sloka ini menggambarkan semesta pada awal mula: dalam keheningan total, gelap gulita, tanpa rupa dan tanpa beda, laksana samudra yang tak bertepi. Dari sana Brahman menciptakan alam semesta melalui Tapa-Nya. Melalui panas tanpa itulah ciptaan muncul.

Keadaan sebelum dunia diciptakan, Tamas sebagai sifat yang dominan, sehingga keadaan tersebut dianggap sebagai keadaan gelap . Namun, dengan terciptanya dunia, Sattva dan Rajas mulai berperan, sehingga keadaan gelap mulai berubah menjadi terang. 


Sumber foto Internet

2. Tilem Kasanga : Titik “Nol” Kosmik

Pada saat Tilem Kasanga energi alam semesta dianggap paling gelap, kekuatan Bhuta Kala (energi negatif) sedang memuncak. Pada Tilem Kasanga umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya, dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan  mengambil salah satu dari jenis-jenis caru menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Upacara Bhūta yadnya bertujuan untuk menetralkan (nyomya) kekuatan Bhuta Kala agar segala leteh (kekotoran) sirna. 

Setelah upacara Tawur, pada Sandhyakala / simpanan waktu, melakukan ngerupuk / mebuu-buu di lingkungan rumah masing-masing bersama keluarga dengan membawa obor gni seprapak, semburakena, bawang putih, mesui dan jangu (triketuka), tirta panyomya bhuta, memukul kaleng bekas, peralatan dapur, kentongan bambu dll untuk mengusir sisa-sisa energi negatif, agar saat Nyepi betul-betul hening. Dengan telah disomyo kekuatan Bhūta Kala dianggap sebagai titik "nol" yang mencerminkan seolah-olah dunia belum tercipta.

Dalam Prasasti batur Abang A Tahun caka 933 ada disebutkan :

“Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka Saksi.”

Artinya:
“Lagi pula mengadakan upacara misalnya tawur kasange, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga angkatan (3 saet/3 putaran) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada. Pemerintah”.

Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat Tilem kesanga wajib melakukan upacara Bhūta Yadnya (Pecaruan). Hal ini tercantum juga dalan  lontar Ciwa Tatwa Purana ada disebutkan sbb :

“Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana permadani ikang ing madya”.

Artinya:
"Lagi pada tilem kesange aku (Dewa Ciwa) mengadakan yoga, kewajibanlah orang di bumi ini melakukan persembahan masing-masing, lalu adakan pertarungan ayam (bhuta Yadnya) dan nyepi sehari (besoknya), ketika itu berhidangan sang kala daca bhumi, jika tidak rusak lah manusia dibumi".

Pada Tilem kasanga ini, wajib melakukan Bhuta Yadnya, saat ini Brahman/Siwa menciptakan alam semesta dengan tapa. Tapa tersebut membuat Brahman memancarkan panas. Setelah tercipta, Brahman melebur dan menyatu ke dalam ciptaannya. 

Keheningan, kesunyian, kekosongan, awal dari kehidupan, awal dari kekuatan, awal dari penciptaan, awal dari segala-galanya


3. Jadi, Apa Makna Nyepi?

Penanggal apisan sasih kedasa adalah awal dari penciptaan, awal dari kehidupan, awal dari kekuatan, dan awal dari kebangkitan.
Dengan kesunyian dan keheningan (membuat sepi-sepian), umat Hindu merayakan ketika alam diciptakan pertama kali oleh Ida Hyang Widhi Wasa dari keheningan, kesunyian yang hanya ada kegelapan.
Jadi kesimpulannya: Nyepi adalah Hari Peringatan Terciptanya Dunia.

Hindu mengenal siklus penciptaan-pemelihara-peleburannya yang terus berulang. Kesunyian dan ketenangan menjadi simbol dari awal penciptaan yang baru.

Kesunyian juga melatih kontemplasi: perenungan, perbuatan, menjaga keseimbangan hubungan manusia-manusia, manusia-alam, manusia-Tuhan. Dengan hening kita bisa mendengar hati nurani. “Silence is Brahman" artinya : Keheningan adalah Brahman.

Empu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha  27.3 menulis:  

“Sasi wima haneng gata mesi banyu/ndan asing nirmala mesi wulan/iwa mangkanarakwa kitengkadadin/ring angambekiyogakiteng sakala”

Artinya:
“Seperti bayangan bulan yang ada ditempayan berisi udara, bahkan setiap tempat sucipun bayangan bulan akan tampak, demikian kodrat-Mu (Tuhan Yang Maha Esa), selalu ada pada setiap ciptaan-Mu, pada siapa yang tekun melakukan yoga semadi, Engkau akan tampak mewujud”.

Maknanya: untuk menangkap bayangan Brahman yang sunya, "Duk Tan Hana Paran-paran",  jiwa harus hening dan jernih dulu. Ini dapat dilatih melalui Catur Brata Penyepian , yang terdiri dari :

  1. Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.

  2. Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.

  3. Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian, akan tetapi selalu introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.

  4. Amati Lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang,  melainkan tekun melatih mandi untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.

Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi yaitu Ngembak Geni pada penanggal kedua sasih kadasa mulai pkl 06.00. Ngembak Geni pertanda sudah berakhir Catur Brata penyepian masyarakat sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa. 

Sejak tahun 1983 Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Waisak ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.


Foto hanya ilustrasi sumber internet


4. Pengarakan Ogoh-ogoh Bukan Ritual Wajib Nyepi 

Dengan berkembangnya zaman, sehari sebelum Nyepi di Bali khususnya ada pengarakan Ogoh-ogoh. Pengarakan ogoh-ogoh tidak ada sangkut pautnya dengan Nyepi dan Tawur Agung, pengarakan ogoh-ogoh merupakan kreativitas budaya yang lebih menonjolkan ekspresi seni  (Buku Panduan Ogoh-ogoh Pengerupukan, hal: 20, poin 3, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar 2011).

Menurut I Bagus Putu Sudarmaya (dalam artikel), tahun 1966 pengerupukan di Badung dipusatkan atau berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Puputan Badung kemudian bergerak keliling kota Denpasar. Ada kelompok/banjar yang membawa 9 buah obor dirangkai menjadi satu dengan ikatan bambu yang dibuat cabang - cabang yang dililitkan jerami sebagai bentuk kreativitas atau bentuk lain dari obor yang biasa dibawa orang pada umumnya. Kemudian dengan peringatan rapi semua peserta pawai obor diberi kesempatan masuk ke depan/teras Kantor Gubernur/rumah tempat tinggal Gubernur dengan peringatan 2 secara tertib dan rapi sambil membawa obor untuk mendapat sapaan / lambaian tangan dari Bapak Gubernur. Namun kreativitas obor yang tingginya sekitar 3 meter tidak bisa masuk karena terhalang oleh atap beton di depan teras Kantor Gubernur, sehingga kreativitas obor langsung bergerak ke timur di Jl. Surapati, belok ke Jl. Melati terus keliling Kota Denpasar yang diikuti oleh peserta Pawai Obor.

Kreativitas obor'' inilah yang dianggap sebagai cikal bakal ogoh-ogoh yang ada sekarang ini, karena setelah tahun 1967, setiap acara pengerupukan membuat banyak kelompok/banjar yang membuat obor kreatif dengan berbagai macam bentuk dan kreasi. Kemudian berkembang sehingga setiap pengerupukan semua kelompok peserta hanya membawa/ menggotong/berkendara dengan kereta ogoh-ogoh, tanpa ada yang membawa api obor lagi sebagai sarana utama pengerupukan.

Karena tidak ada izin pada hari raya Nyepi, maka ogoh-ogoh tidak mutlak ada dalam upacara Nyepi. Seperti selama Covid-19 tidak ada pengarakan ogoh-ogoh. Namun demikian, setelah Covid-19 ogoh-ogoh itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan saja.

Kini dengan adanya pengarakan ogoh-ogoh setiap perayaan Nyepi hampir di seluruh Bali bahkan sdh mulai berkembang di luar Bali, maka masyarakat Hindu di Bali khususnya mendapatkan hiburan sebelum besoknya membawakan Brata Penyepian. Hanya saja ada kekhawatiran anak-anak, cucu-cucu tidak mengetahui bahwa mebuu-buu / ngerupuklah yang sakral bagian dari Tawur Kesange, bukan pengarakan Ogoh-ogoh.

Sekian yang dapat saya sampaikan sebagai ungkapan rasa Bhakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa melalui berbagi pengetahuan (Widya dana).

Catatan penulis  : Ini tafsir pribadi saya. Tujuannya agar lebih memahami makna Nyepi bukan sekadar libur. Ampura kalau ada kurang berkenan. 🙏


Foto hanya ilustrasi sumber internet


Baca juga :  


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏


Jumat, 25 April 2025

Tajen, Tabuh Rah, Tajen Saat Galungan

Foto hanya Ilustrasi, Sumber Internet

Tajen

Tajen atau sabungan ayam nyaris tak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Hindu - Bali. Banyak sekali persepsi masyarakat Hindu-Bali yang memandang bahwa tajen merupakan budaya yang tidak bisa dipisahkan dengan tatanan kehidupan masyarakat Bali; dan ada juga yang memberikan pandangan bahwa tajen merupakan persyaratan dari yadnya dan merupakan budaya yang ada sejak dahulu kala.

Memang tidak bisa dipungkiri dari sudut pandang berbagai kalangan masyarakat Bali, bila kita amati apabila ada upacara-upacara yadnya di suatu daerah atau banjar-banjar di Bali, tak lepas dari kegiatan tersebut, meskipun terkadang orientasinya bukan hanya sekadar dijadikan upacara namun sebagai wadah hiburan masyarakat Bali dan identik dengan sebuah taruhan.

Secara logika sebenarnya tabuh rah tidak sama dengan tajen. Tabuh rah adalah bagian dari upacara agama khususnya dalam upacara pecaruan (bhuta yadnya). Setelah berabad-abad dimana seiring perubahan pola pikir manusia dan budaya maka tabuh rah mengalami pergeseran makna dan tujuan menjadi tajen. Tajen yang sekarang dilakukan masyarakat Bali merupakan sebuah taruhan dengan menggunakan materi atau uang, sehingga merupakan perjudian murni - bukan yadnya.

Dalam Manawa Dharmasastra V.45, tentang hiburan dengan penyiksaan binatang tersebut sbb :

"Yo'himsakaani bhuutani hina. Tyaatmasukheashayaa, sa jiwamsca mritascaiva na, Kvacitsukhamedhate ”.

Artinya:

“Ia yang menyiksa mahluk hidup yang tidak berbahaya dengan maksud untuk mendapatkan kepuasan nafsu untuk dirinya sendiri, orang itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Ia selalu berada dalam keadaan tidak hidup dan tidak pula mati.”


Tabuh Rah

Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya). Upacara yang bisa dilaksanakan tabuh rah juga tidak semua upacara, hanya upacara – upacara pecaruan. Tabuh rah menurut Hindu merupakan rangkaian yadnya yang diatur dalam sastra sebagai berikut :


1. Prasasthi batur Abang A Tahun caka 933 isi :

“Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka Saksi.”

Artinya:

"Lagi pula mengadakan upacara upacara misalnya tawur kesanga, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga angkatan (3 saet / 3 putaran) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada Pemerintah".


2. Prasasthi Batuan tahun caka 944 berbunyi :

"Kunang yang manawung ing pangudwan makatang tlung marahatan tan pamwinta mayaka sanksi mwang sawung tangur, tan knana minta pamli”.

Artinya:

"Sedangkan bila mengadu ayam di tempat suci dilakukan tiga saet tidak meminta ijin kepada Pemerintah dan juga kepada Pengawas sabungan, tidak dikenakan pajak".


3. Dalam lontar Ciwa Tatwa purana isinya :

"Mwah ri tileming kesanga,hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana rug ikang ing madya”.

Artinya:

"Lagi pada tilem kesanga aku (Dewa Ciwa) mengadakan yoga, kewajibanlah orang di bumi ini melakukan persembahan masing - masing, lalu adakan pertarungan manusia ayam dan nyepi sehari, ketika itu berhidangan sang kala daca bhumi, jika tidak rusaklah di bumi".

Jika ditinjau dari lontar tersebut diatas, jelas bahwa upacara tabuh rah hanya dilakukan untuk bhuta yadnya, pelaksanaannya tidak perlu mendapat ijin dari pemerintah, dan dilakukan 3 saet.

Pada hakekatnya setiap bentuk bhuta yadnya mempergunakan darah binatang sebagai persembahan kepada bhuta kala; yaitu bhuta bhucari, kala bhucari dan durga bhucari, tidak dipergunakan pada upacara Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya. 

Binatang yang dijadikan yadnya tersebut dipercaya akan mengalami proses peningkatan (penyupatan) jiwa pada penjelmaan selanjutnya menjadi binatang lain dengan derajat lebih tinggi atau manusia.


Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat melalui beberapa kali seminar kesatuan tafsir terhadap aspek – aspek agama Hindu, dengan melibatkan berbagai pakar, menetapkan pelaksanaan “tabuh rah” dalam rangkaian Bhuta Yadnya, sebagai berikut :

1. Tabuh Rah dilaksanakan dengan Panyambleh (anetak gulu ayam) disertai dengan upakara Yadnya (sesajen).

2. Tabuh Rah dalam bentuk “perang sata” (adu ayam) adalah satu “dreśta” (tradisi) yang berlaku di masyarakat yang pelaksanaannya dapat diganti dengan “penyambleh”.

3. Apabila dilakukan dengan “Perang sata” (adu ayam), harus memenuhi syarat sbb :

  • Upacara yang boleh disertai “Perang sata” adalah upacara Bhuta Yajña sebagai berikut : Caru Panca Kelud (Panca Sanak Madurgha), Caru Rsi Ghana, Caru Balik Sumpah, Tawur Agung, Tawur Labuh Gentuh, Tawur Panca Walikrama, Tawur Ekadasa Rudra.
  • Pelaksanaannya dilakukan di tempat upacara pada saat berakhirnya upacara tersebut.
  • Diiringi dengan “adu tingkih” (kemiri), adu pangi, adu telur, adu kelapa, dilengkapi andel-andel serta upakaranya.
  • Pelaksananya adalah Sang Yajamana (yang mempersembahkan upacara) dengan berbusana pakaian upacara sembahyang.
  • Perang sata maksimal dilakukan “Telung Prahatan” (3 sahet), tidak disertai taruhan (taruhan hanya memakai “pis bolong”.

4 Selain ketentuan butir 1,2,3 di atas, merupakan suatu penyimpangan.


.

Foto hanya Ilustrasi, Sumber Internet.

Tajen Saat Galungan

Galungan adalah peringatan kemenangan dharma melawan adharma. Perang dharma melawan Adharma terus berkecamuk dalam diri manusia. Secara spiritual musuh-musuh manusia itu disimbulkan dengan Sang Bhuta Kala. 

Tiga hari sebelum hari raya Galungan, yaitu mulai Minggu pahing wuku Dungulan, umat Hindu mulai digoda oleh Bhuta Kala Tiga yaitu : Kala Dungulan (nafsu ingin merebut milik orang lain), Kala Galungan (nafsu ingin selalu menang dengan melakukan segala cara), dan Kala Amangkurat (nafsu ingin berkuasa).

Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada saat Hari Raya Galungan justru Judi Tajen semakin marak dibandingkan hari-hari biasa, bahkan pakaian seragam sebagaimana layaknya pakaian ke Pura. Apakah berarti tidak menang melawan Sang Kala Tiga (nafsu-nafsu) diatas? Apakah kalau kalah melawan Sang Kala Tiga (nafsu-nafsu), berarti tidak merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma, karena masih dikuasi nafsu? 

Tonton :  Suasana Tajen pada hari Galungan sehabis sembayang.

Ya.. ini pilihan dalam menjalani kehidupan, silakan, yang senang metajen jangan menyalahkan yang tidak senang, begitu juga sebaliknya, karena kesenangan orang berbeda-beda dan semua karma kembali kepada diri masing-masing.***


Baca juga artikel :  Masuknya Agama Hindu ke Bali

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Senin, 21 April 2025

SEJAK KAPAN GALUNGAN DIRAYAKAN?

 Galungan peringatan kemenangan Dharma melawan Adharma

Foto hanya ilustrasi, Sumber Internet


1. Adakah Kaitannya Galungan Dengan Tokoh "Mayadanawa?"

Suatu hari "X" diperingati sebagai hari khusus, lebih-lebih sebagai hari yang disucikan, biasanya selalu berhubungan langsung dengan satu atau lebih peristiwa besar yang dianggap bertendensi sakral transendental, misalnya hari raya Waisak. Umat Buddhis seluruh dunia merayakannya karena pada hari yang sama (Purnama Waisak) terjadi tiga keajaiban yang sangat suci dalam kesadaran agnostic Buddis: lahirnya Buddha; saat Beliau menerima Wahyu (pandangan terang); dan ketika Sang Guru Batin umat manusia ini kembali ke alam tanpa sifat atau Para Nirwana. Di Indonesia hari ini disebut Tri Suci Waisak.

Contoh lain dalam agama Kristen, umat Nasrani dimanapun mereka bermukim, memperingati Hari Lahirnya Tuhan Yesus sebagai hari suci, hari ini disebut Natal. Tentu contoh lain bisa dijajarkan disini kalau mau.

Apakah Mayadanawa merupakan tokoh sejarah atau fiksi? Terkaitkah Galungan dengan kisah Mayadanawa?

Sampai saat ini belum ditemukan prasasti (bukti sejarah berupa keluaran resmi raja) dari masa Bali Kuna yang menyebutkan Mayadanawa sebagai sosok sejarah.

Namun demikian menarik kita simak, ada beberapa versi cerita yang tidak berlandaskan prasasti muncul, namun berkembang di masyarakat Bali, yang isinya menyerupai Mayadanawa dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Sri Jaya Pangus, Dalem Bekung dll.
Ketika sosok “asing” seperti Mayadanawa, yang tak disebutkan dalam prasasti, namanya terkait dengan tokoh sejarah, tokoh Mayadanawa pun menjadi seolah-olah “murni” tokoh sejarah.


2. Makna Galungan

Hari Raya Galungan adalah hari memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Inilah definisi yg sudah umum terjadi, yang biasanya dikaitkan dengan "tokoh Mayadanawa" yang dilukiskan  seorang raja yang jahat.

Atau apakah Galungan memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma - nun jauh disana - dalam perang suci mahadahsyat di Khuruksetra, India, lima ribu tahun yang lalu? Perang dari satu keturunan Bharata ini berlangsung selama 18 hari, dan riwayat yang menuturkan asal usul keluarga ini juga terdiri atas 18 buku (Astadasaparwa). Di India, peringatan kemenangan dharma atas Adharma dinamakan "Vijayadasami".

Lagi, apakah hari Buda Kliwon Dungulan ini adalah saat ketika dunia  ini diciptakan oleh Ida Hyang Widhi; dan  Galungan lantas diperingati Weton Gumi?

Inilah belum satu versi, masih perlu penelusuran lebih lanjut. Namun penulis sedikitpun tidak menyangsikan bahwa Budha Kliwon Dungulan yang dikenal dengan Hari Galungan adalah Hari Suci, dan penulis merayakannya.

Galungan adalah bahasa Jawa kuno terbentuk dari 3 suku kata : "Gal" (kuat/jaya = kemenangan), "Lung" (melindungi/merestui), "An" (sesudahnya/seterusnya). Gal + Lung + An = Gallungan (dengan dua "l"). Ternyata secara arfiah Galungan adalah sebuah doa: "Semoga Tuhan terus melindungi kemenangan dharma"! 

Dengan ini Galungan tampil dalam dua fungsi: sebagai doa "universal" dan sebagai media "kebaktian umum".
Sebagai media kebaktian umum umat Hindu merayakan kemenangan dharma melawan Adharma yg terus terjadi di dalam hati setiap orang.


3. Banyak Pura Terbakar

Dikisahkan dalam Lontar Purana Bali Dwipa bahwa, keadaan pulau Bali pada abad ke-8 pernah terjadi semua pura rusak terbakar hanya tinggal dasar bangunannya saja. Kemudian para Arya Hindu bersama masyarakat Bali Aga memugar dan membangun kembali semua pura yang rusak. 


4. Perayaan Galungan Pertama Kali

Meski sejarah perayaan Galungan ini tidaklah diketahui secara pasti, namun menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan di Bali pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun 882 M / Saka 804, saat pemerintahan raja Bali Pertama, Sri Kesari Warmadewa, sebagai penguasa tunggal yang diberi gelar Awatara Dewata.

Setelah selesai memugar pura, Raja Kesari Warmadewa bermaksud melaksanakan upacara. Upacara itu dimulai hari Rabu Kliwon Sinta, mengupacarai benteng pertahanan, selanjutnya disebut Pagerwesi.

Pada Sabtu Kliwon Landep mengupacarai segala persenjataan perang, selanjutnya disebut Tumpek Landep. Pada Sabtu Kliwon Wariga juga melaksanakan upacara disebut Tumpek Uduh. 

Pemasukan pajak hasil bumi dari luar Bali yakni, Makasar, Sumbawa, Sasak dan Blambangan yang dibawah kekuasaan Raja Bali, diupacarakan Kamis Wage Sungsang, disebut hari raya Sugian Jawa.

Khusus pemasukan pajak hasil bumi bagi penduduk Bali diupacarakan pada Jumat Kliwon Sungsang, disebut hari raya Sugian Bali. (Zaman Bali Kuno, di luar Bali disebut Jawa, pergi keluar Bali disebut "Ngajawa Bangsul," keterangan pen).

Raja Kesari Warmadewa juga melaksanakan upacara Dewa Yadnya serta upacara para Dewata yang gugur di medan perang pada Rabu Kliwon Dungulan selanjutnya disebut Hari Raya Galungan. 

Pada saat itu, Perayaan Galungan sangat kusuk, meriah, khidmah. Keadaan pulau Bali bagaikan Indraloka, tidak henti-hentinya menyuarakan bunyi-bunyian (gong), siang malam memuja Sang Hyang Widhi dan para dewa. Raja Sri Kesari Warmadewa sebagai penguasa tunggal yang memimpin Bali menjadikan rakyat Bali makmur, tidak pernah ada pemberontakan.

Asumsi penulis inilah merupakan cikal bakal Hari Galungan, yang kemudian diartikan perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma. Untuk pemberian makna yang lebih universal Hindu terhadap Hari Raya Galungan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma maka disusunlah kisah pertempuran Betara Indra simbul Dharma melawan Raja Mayadanawa simbul Adharma.

Karena itulah Hari raya Galungan betul-betul skupnya Bali (lokal) saja. Namun dengan semakin menyebarnya umat Hindu Bali ke hampir seluruh Indonesia, ada yang transmigrasi ke berbagai pulau, ada yang karena tugas dan menetap di luar Bali sehingga Hari Raya Galungan juga dilaksanakan oleh orang-orang Bali yang tinggal di luar Bali.

Jadi di Bali masyarakat kita memahami makna perayaan hari raya Galungan sampai sekarang sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sebagai hari perayaan kemenangan Dharma atas Adharma.

Setelah perayaan hari Galungan selesai, masih ada lagi perang yang jauh lebih besar yaitu perjuangan setiap manusia melawan rongrongan hawa nafsunya sendiri yang terus berkecamuk selama hidupnya. Inilah yang sangat penting diperjuangkan agar selalu menang. 


5. Digoda Oleh Bhūta Kala Tiga.

Tiga hari sebelum hari raya Galungan, yaitu mulai Minggu pahing wuku dungulan, manusia (apakah umat hindu saja dimaksud?) mulai digoda oleh Bhuta Kala Tiga yaitu : Kala Dungulan (nafsu ingin merebut milik orang lain), Kala Galungan (nafsu ingin selalu menang dengan melakukan segala cara), dan Kala Amangkutat (nafsu ingin berkuasa) :

1). Penyekeban
Penyekeban ini dirayakan Minggu atau Redite Pahing wuku Dungulan (tiga hari sebelum Galungan). Hari Penyekeban ini memiliki makna filosofis untuk “nyekeb indriya” yang berarti mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, pada hari penyekeban ini manusia mulai digoda oleh Sang Bhuta Dungulan (nafsu ingin merebut milik orang lain).

2). Penyajan 
Penyajan jatuh setiap Senin Pon wuku Dungulan. Kata penyajan dari kata "saja" yang dalam bahasa Bali artinya "benar, serius". Hari penyajan ini memiliki filosofi memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan. Menurut kepercayaan, pada hari ini umat digoda oleh Sang Bhuta Galungan (nafsu ingin selalu menang dengan melakukan segala cara).

3). Hari Penampahan
Penampahan dilakukan sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan. Menurut kepercayaan, pada hari ini umat akan digoda oleh Sang Bhuta Amangkurat (nafsu ingin berkuasa). 
Setelah semua Bhuta lenyap (terkalahkan) sebagai simbol dari musnahnya nafsu hewani, baru kita mendirikan penjor, simbol kemenangan dengan hati suka ria bergembira.

4). Hari Raya Galungan
Hari Raya Galungan jatuh pada Budha Kliwon Dungulan. Pada hari Galungan ini umat merayakan kemenangan melawan Sang Kala Tiga (Tiga nafsu tsb diatas) yang telah mengganggu sebelumnya. Karena sudah menang perang, Umat Hindu merayakannya sebagai peringatan kemenangan Dharma melawan Adharma dengan melakukan persembahyangan di rumah masing-masing, hingga ke Pura sekitar lingkungan.

5). Manis Galungan
Jatuh pada hari Kamis atau Wrespati Umanis Wuku Dungulan, umat melaksanakan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau ke tempat-tempat rekreasi.

Di beberapa daerah di Bali, pada hari ini anak-anak akan melakukan tradisi ngelawang, di mana anak-anak akan menarikan barong disertai gamelan dari pintu rumah penduduk satu ke yang lainnya (lawang ke lawang). Penduduk yang mempunyai rumah tersebut kemudian akan keluar dari rumah sambil membawa canang dan sesari / uang, penduduk percaya bahwa dengan tarian barong ini dapat mengusir segala aura negatif dan mendatangkan aura positif..***


Foto hanya ilustrasi, sumber Internet.


Baca juga artikel lainnya :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



Minggu, 06 April 2025

GAYATRI MANTRAM DIWAHYUKAN MELALUI VISVAMITRA

Gambar Dewi Gayatri, Sumber : Internet.


1. Viswamitra Bertemu Brahmarsi Vasistha dan Kamandhanu

Viswamitra atau Raja Kaushika adalah seorang maharaja, suatu hari Beliau bersama tentaranya berburu di hutan Himalaya. Setelah lama berburu, Beliau dan tentaranya merasa lapar. Di dalam hutan Beliau menemukan sebuah pertapaan Brahmarsi Vasistha. (Brahmarsi adalah orang suci yang sudah memiliki kesadaran kosmis).

Maharaja Viswamitra menyampaikan kepada Brahmarsi Vasistha bahwa, beliau dan tentaranya lapar memerlukan makanan dan istirahat. Rsi Vasistha segera memanggil Kamandhanu (sapi nan berlimpah), dan meminta kepada sapi tersebut untuk menyediakan makanan untuk seluruh prajurit dan Raja. Kamandhanu segera menghasilkan seluruh makanan. Semuanya terkagum-kagum atas kemampuan Kamandhanu ini. Maharaja Viswamitra berkata kepada Rsi Vasista,

"Oh maharsi yang saya hormati, saya mengucapkan selamat terima kasih kepada sapi Anda. Mengapa harus Anda yang memiliki sapi seperti itu, yang mampu memberikan makan untuk jutaan orang hanya dengan kekuatan kemauannya saja. Hanya ada beberapa saja yang hidup di pertapaan ini, sedangkan saya sebagai raja harus memberikan makan kepada banyak orang di istana saya. Sapi ini akan sangat bermanfaat buat saya. Saya akan memberikan Anda seribu sapi yang lain sebagai pengganti sapi"

Vasistha bersabda,

"Wahai raja, sapi ini adalah sapi yang khusus yang dikirim oleh Tuhan dari tempatnya Kebenaran. Hanya yang sudah dapat merealisasikan Brahman atau Kebenaran sajalah yang diberikan sapi seperti ini. Kalaupun Anda bernegosiasi dengan seluruh kerajaan Anda, saya tidak akan berpisah dengan dia"


2. Permintaan Ditolak dan Timbul Kemarahan

Setelah permintaannya ditolak, Maharaja Visvamitra menjadi marah, dan memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil sapi secara paksa. Kamandhanu menciptakan ribuan makhluk angkasa yang membawa senjata dan bertempur dengan pasukan Maharaja Visvamitra. Dalam pertempuran itu dimenangkan oleh Rsi Vasistha. Akhirnya Maharaja Viswamitra mengakui kekalahannya, dan memohon ampun kepada Rsi Vasistha, dan Rsi Vasistha memaafkannya.


3. Tapas Visvamitra dan Ujian dari Indra

Maharaja Visvamitra masih tetap merasa dihina. Kemudian Maharaja Visvamitra meninggalkan istananya dan pergi ke Gunung Himalaya untuk bertapa, karena Ia ingin membalas dendam kepada Maharsi Vasistha.

Untuk mengganggu tapas Visvamitra, Indra mengutus seorang bidadari cantik bernama Menaka untuk menyanyi dan menari di hadapan Visvamitra. Menaka berhasil mengganggu tapasnya dan menarik hatinya. Visvamitra menjadi korban dari rajas (nafsu) dan hidup berbahagia dengan Menaka selama setahun di hutan, dan melahirkan seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Sakuntala.

Akhirnya Visvamitra paham akan kekuatan maya dan pergi ke hutan lainnya dengan meninggalkan Menaka dan bayinya. Bidadari Menaka kemudian kembali ke swargaloka dengan meninggalkan bayinya di hutan. Rsi Kanva yang sedang berkelana mendengar tangis bayi Sakuntala kemudian bayi itu di bawan kepertapannya.

Kali ini Visvamitra kembali melakukan tapasnya selama beberapa tahun. Dia berdiri di atas satu kaki dengan kedua tangan yang menjulang tinggi dan semedhi di atas Brahman. Dunia ketiga dicapainya melalui api yoga dari tapasnya. Indra mengirim lagi bidadari cantik bernama Rambha untuk mengganggu Visvamitra. Semedhi Visvamitra kesal dan dia membuka matanya.

Karena mengingat kesalahan terdahulu, Visvamitra memutuskan untuk tidak tunduk pada nafsu. Dia menjadi sangat marah kepada Rambha, karena dia tahu bidadari ini datang hanya untuk mengganggu tapasnya, akhirnya Rambha dikutuk supaya menjadi batu.


4. Kemenangan Atas Nafsu dan Pengakuan Brahma

Kemudian Viswamitra melakukan tapas lagi di tempat yang lain yaitu di puncak Himalaya yang paling tinggi. Tapa yang dia lakukan kali ini sangat hebat, sehingga api yoga yang keluar dari mahkotanya mencapai satya lokha, tempat bersemayamnya Brahman - Sang Pencipta. Brahman muncul dihadapannya dan bersabda,

"Anakku, Aku senang atas tapamu. Kamu telah mencapai yang paling tinggi. Sekarang kamu sudah menjadi seorang Maharsi. Kamu akan menjadi seorang Brahmarsi ketika kamu diberkati oleh Rsi Vasistha".

Setelah berkata demikian, Brahman menghilang. Rsi Visvamitra menjadi sangat menyesal. Dia tidak mau mendapat berkat dari Vasistha. Bahkan Dia berpikir jika Vasistha masih hidup, dia tidak akan menjadi Brahmarsi. Untuk itu Visvamitra memutuskan akan membunuh Vasistha. 

Pada tengah malam Visvamitra pergi ke pertapaan Vasistha sambil membawa batu besar. Dia menunggu Vasistha di pintu pertapaan yang biasa dilalui oleh Vasistha.

Gambar: Brahmarsi Vasistha 
Sumber: Internet

5. Pertemuan Kembali dengan Vasistha

Vasistha bercakap-cakap dengan istrinya Arundati. Vasistha berkata kepada istrinya,

”Arundati, Visvamitra adalah orang yang agung sehingga dia sudah sangat dekat untuk memperoleh status sebagai Brahmarsi, tetapi…”

Arundati berkata,

"Tetapi kenapa? Apakah Anda tidak mau memberkatinya jika dia memang pantas menjadi Brahmarsi?"
“Tentu saja aku mau, kalau dia datang kemari” jawab Vasistha.

Percakapan itu didengar dengan jelas oleh Visvamitra, Setelah mendengar percakapan itu Visvamitra menjadi malu, dan membuang batunya, kemudian dia berlutut di hadapan Vasistha. Visistha bersabda kepada Visvamitra :

”Sekarang Anda sudah menjadi seorang Brahmarsi, Anda telah menunjukkan kepada dunia bahwa Anda mengalahkan nafsu, kemarahan, keinginan, kesombongan, dan imajinasi melalui tapasya dan meditasi, selamat Brahmarsi Visvamitra!”


6. Mantra Wahyu Gayatri dan Tujuh Vyahrti

Kemudian Vasistha menyentuh pusat di antara kedua alis mata Visvamitra. Ketika disentuh  mata ketiganya terbuka dan Visvamitra melihat Gayatri Mantra yang suci dengan ke tujuh "vpahrti-nya" telah diwahyukan melalui Brahmarsi Viswamitra pada waktu itu, sbb:

"Om bhuh, Om bhvah Om svah
Om mahah.
Om Janah 
Om tapah
Om Satyam
Om tat savitur varenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhiyo yo nah pracodayat
Om apo jyotih
Raso-mritam brahma
Bhur bhuvah savr-om".


7. Mantra Makna, Kedudukan, dan Sumber Gayatri

Mantram Gayatri disebut pula Annapurna 'Sang Ibu Sakti' yang melindungi dan menggerakkan kehidupan jiwa (gaya), sehingga disebut juga Chandasaam Maathat 'Ibu seluruh Weda'; karena sifat yang melindungi itu disebut Gayatham Thrayathe Iti Gayatri 'melindungi orang yang mengucapkannya' (Jendra, 1991 : 27).

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba menganggap Mantram Gayatri mempunyai peran dan kedudukan yang sangat penting sehingga Beliau bersabda sbb :

”Kalian boleh melupakan/lupa mantram-mantram lainnya, asalkan tidak mengabaikan Gayatri Mantram, karena Gayatri adalah 'Sarva Devatha Svarupini' -  perwujudan semua Dewa" (dalam Jendra, 1991 : 28).

Gayatri Mantram pertama kali dicatat dalam Ṛg Veda III.62.10, serta dijelaskan dalam pustaka-pustaka suci Hindu lainnya, baik di dalam Catur Veda, Upaniṣad, maupun kitab-kitab Smṛti.

Pada tahun 1950 Gayatri Mantram ini digabung/ditambahkan dengan beberapa bait mantra dari Narayana Upanisad, Siva Stawa, Mahadewa Suksma oleh Narendra Dev Pandit Shastri (India) dan I Gusti Bagus Sugriwa maka menjadi mantram Puja Trisandya yang diwarisi sampai sekarang (Jendra, 2006 : 6-7).

Sumber: Internet

Baca juga :  Makna Galungan


Daftar Pustaka :

  • Jendra, I Wayan. 1991. Kidung Suci (Bhajan), Ungkapan Bahasa Bakti yang paling efektif dan Komunikatif pada Zaman Kali. Denpasar : Kelompok Belajar Sai Bali.
  • Jendra, I Wayan. 1996. Variasi Bahasa, Kedudukan dan Peran Bhagawan Shri Sathya Sai Baba, dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
  • Keshavadas, Sadguru Sant. 2007. Gayatri, Semedhi Mahatinggi. Cetakan keempat, Alih bahasa Agus S. Mantik. Denpasar: PT Pustaka Manik Geni.

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

  Om Swastyastu🙏 Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang men...