Gambar Dewi Gayatri, Sumber : Internet.
1. Viswamitra Bertemu Brahmarsi Vasistha dan Kamandhanu
Viswamitra atau Raja Kaushika adalah seorang maharaja, suatu hari Beliau bersama tentaranya berburu di hutan Himalaya. Setelah lama berburu, Beliau dan tentaranya merasa lapar. Di dalam hutan Beliau menemukan sebuah pertapaan Brahmarsi Vasistha. (Brahmarsi adalah orang suci yang sudah memiliki kesadaran kosmis).
Maharaja Viswamitra menyampaikan kepada Brahmarsi Vasistha bahwa, beliau dan tentaranya lapar memerlukan makanan dan istirahat. Rsi Vasistha segera memanggil Kamandhanu (sapi nan berlimpah), dan meminta kepada sapi tersebut untuk menyediakan makanan untuk seluruh prajurit dan Raja. Kamandhanu segera menghasilkan seluruh makanan. Semuanya terkagum-kagum atas kemampuan Kamandhanu ini. Maharaja Viswamitra berkata kepada Rsi Vasista,
"Oh maharsi yang saya hormati, saya mengucapkan selamat terima kasih kepada sapi Anda. Mengapa harus Anda yang memiliki sapi seperti itu, yang mampu memberikan makan untuk jutaan orang hanya dengan kekuatan kemauannya saja. Hanya ada beberapa saja yang hidup di pertapaan ini, sedangkan saya sebagai raja harus memberikan makan kepada banyak orang di istana saya. Sapi ini akan sangat bermanfaat buat saya. Saya akan memberikan Anda seribu sapi yang lain sebagai pengganti sapi"
Vasistha bersabda,
"Wahai raja, sapi ini adalah sapi yang khusus yang dikirim oleh Tuhan dari tempatnya Kebenaran. Hanya yang sudah dapat merealisasikan Brahman atau Kebenaran sajalah yang diberikan sapi seperti ini. Kalaupun Anda bernegosiasi dengan seluruh kerajaan Anda, saya tidak akan berpisah dengan dia"
2. Permintaan Ditolak dan Timbul Kemarahan
Setelah permintaannya ditolak, Maharaja Visvamitra menjadi marah, dan memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil sapi secara paksa. Kamandhanu menciptakan ribuan makhluk angkasa yang membawa senjata dan bertempur dengan pasukan Maharaja Visvamitra. Dalam pertempuran itu dimenangkan oleh Rsi Vasistha. Akhirnya Maharaja Viswamitra mengakui kekalahannya, dan memohon ampun kepada Rsi Vasistha, dan Rsi Vasistha memaafkannya.
3. Tapas Visvamitra dan Ujian dari Indra
Maharaja Visvamitra masih tetap merasa dihina. Kemudian Maharaja Visvamitra meninggalkan istananya dan pergi ke Gunung Himalaya untuk bertapa, karena Ia ingin membalas dendam kepada Maharsi Vasistha.
Untuk mengganggu tapas Visvamitra, Indra mengutus seorang bidadari cantik bernama Menaka untuk menyanyi dan menari di hadapan Visvamitra. Menaka berhasil mengganggu tapasnya dan menarik hatinya. Visvamitra menjadi korban dari rajas (nafsu) dan hidup berbahagia dengan Menaka selama setahun di hutan, dan melahirkan seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Sakuntala.
Akhirnya Visvamitra paham akan kekuatan maya dan pergi ke hutan lainnya dengan meninggalkan Menaka dan bayinya. Bidadari Menaka kemudian kembali ke swargaloka dengan meninggalkan bayinya di hutan. Rsi Kanva yang sedang berkelana mendengar tangis bayi Sakuntala kemudian bayi itu di bawan kepertapannya.
Kali ini Visvamitra kembali melakukan tapasnya selama beberapa tahun. Dia berdiri di atas satu kaki dengan kedua tangan yang menjulang tinggi dan semedhi di atas Brahman. Dunia ketiga dicapainya melalui api yoga dari tapasnya. Indra mengirim lagi bidadari cantik bernama Rambha untuk mengganggu Visvamitra. Semedhi Visvamitra kesal dan dia membuka matanya.
Karena mengingat kesalahan terdahulu, Visvamitra memutuskan untuk tidak tunduk pada nafsu. Dia menjadi sangat marah kepada Rambha, karena dia tahu bidadari ini datang hanya untuk mengganggu tapasnya, akhirnya Rambha dikutuk supaya menjadi batu.
4. Kemenangan Atas Nafsu dan Pengakuan Brahma
Kemudian Viswamitra melakukan tapas lagi di tempat yang lain yaitu di puncak Himalaya yang paling tinggi. Tapa yang dia lakukan kali ini sangat hebat, sehingga api yoga yang keluar dari mahkotanya mencapai satya lokha, tempat bersemayamnya Brahman - Sang Pencipta. Brahman muncul dihadapannya dan bersabda,
"Anakku, Aku senang atas tapamu. Kamu telah mencapai yang paling tinggi. Sekarang kamu sudah menjadi seorang Maharsi. Kamu akan menjadi seorang Brahmarsi ketika kamu diberkati oleh Rsi Vasistha".
Setelah berkata demikian, Brahman menghilang. Rsi Visvamitra menjadi sangat menyesal. Dia tidak mau mendapat berkat dari Vasistha. Bahkan Dia berpikir jika Vasistha masih hidup, dia tidak akan menjadi Brahmarsi. Untuk itu Visvamitra memutuskan akan membunuh Vasistha.
Pada tengah malam Visvamitra pergi ke pertapaan Vasistha sambil membawa batu besar. Dia menunggu Vasistha di pintu pertapaan yang biasa dilalui oleh Vasistha.
5. Pertemuan Kembali dengan Vasistha
Vasistha bercakap-cakap dengan istrinya Arundati. Vasistha berkata kepada istrinya,
”Arundati, Visvamitra adalah orang yang agung sehingga dia sudah sangat dekat untuk memperoleh status sebagai Brahmarsi, tetapi…”
Arundati berkata,
"Tetapi kenapa? Apakah Anda tidak mau memberkatinya jika dia memang pantas menjadi Brahmarsi?"
“Tentu saja aku mau, kalau dia datang kemari” jawab Vasistha.
Percakapan itu didengar dengan jelas oleh Visvamitra, Setelah mendengar percakapan itu Visvamitra menjadi malu, dan membuang batunya, kemudian dia berlutut di hadapan Vasistha. Visistha bersabda kepada Visvamitra :
”Sekarang Anda sudah menjadi seorang Brahmarsi, Anda telah menunjukkan kepada dunia bahwa Anda mengalahkan nafsu, kemarahan, keinginan, kesombongan, dan imajinasi melalui tapasya dan meditasi, selamat Brahmarsi Visvamitra!”
6. Mantra Wahyu Gayatri dan Tujuh Vyahrti
Kemudian Vasistha menyentuh pusat di antara kedua alis mata Visvamitra. Ketika disentuh mata ketiganya terbuka dan Visvamitra melihat Gayatri Mantra yang suci dengan ke tujuh "vpahrti-nya" telah diwahyukan melalui Brahmarsi Viswamitra pada waktu itu, sbb:
7. Mantra Makna, Kedudukan, dan Sumber Gayatri
Mantram Gayatri disebut pula Annapurna 'Sang Ibu Sakti' yang melindungi dan menggerakkan kehidupan jiwa (gaya), sehingga disebut juga Chandasaam Maathat 'Ibu seluruh Weda'; karena sifat yang melindungi itu disebut Gayatham Thrayathe Iti Gayatri 'melindungi orang yang mengucapkannya' (Jendra, 1991 : 27).
Bhagawan Sri Sathya Sai Baba menganggap Mantram Gayatri mempunyai peran dan kedudukan yang sangat penting sehingga Beliau bersabda sbb :
”Kalian boleh melupakan/lupa mantram-mantram lainnya, asalkan tidak mengabaikan Gayatri Mantram, karena Gayatri adalah 'Sarva Devatha Svarupini' - perwujudan semua Dewa" (dalam Jendra, 1991 : 28).
Gayatri Mantram pertama kali dicatat dalam Ṛg Veda III.62.10, serta dijelaskan dalam pustaka-pustaka suci Hindu lainnya, baik di dalam Catur Veda, Upaniṣad, maupun kitab-kitab Smṛti.
Pada tahun 1950 Gayatri Mantram ini digabung/ditambahkan dengan beberapa bait mantra dari Narayana Upanisad, Siva Stawa, Mahadewa Suksma oleh Narendra Dev Pandit Shastri (India) dan I Gusti Bagus Sugriwa maka menjadi mantram Puja Trisandya yang diwarisi sampai sekarang (Jendra, 2006 : 6-7).
Baca juga : Makna Galungan
Daftar Pustaka :
- Jendra, I Wayan. 1991. Kidung Suci (Bhajan), Ungkapan Bahasa Bakti yang paling efektif dan Komunikatif pada Zaman Kali. Denpasar : Kelompok Belajar Sai Bali.
- Jendra, I Wayan. 1996. Variasi Bahasa, Kedudukan dan Peran Bhagawan Shri Sathya Sai Baba, dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
- Keshavadas, Sadguru Sant. 2007. Gayatri, Semedhi Mahatinggi. Cetakan keempat, Alih bahasa Agus S. Mantik. Denpasar: PT Pustaka Manik Geni.
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



Tidak ada komentar:
Posting Komentar