Minggu, 09 November 2025

Rsi Yang Berjasa Dalam Perkembangan Agama Hindu, Dan Masuknya Majapahit di Bali.

 


Para Rsi Yg Berjasa

Perkembangan Agama dan budaya yang sekarang ada di Bali mengalami proses perkembangan yang cukup panjang. Kedatangan Para Rsi, tokoh-tokoh spiritual, dan masuknya paska Majapahit Raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten ditaklukkan oleh Majapahit, juga telah memberi corak adat dan budaya Agama Hindu di Bali yang kita warisi sekarang.

Banyak Rsi / Pendeta yang berjasa dalam perkembangan Agama Hindu di Bali, namun disini disajikan beberapa saja antara lain :


1. Rsi Markandeya

Rsi Markandeya adalah putra dari Sang Mrakanda dan Dewi Manaswini . Maharsi Markandeya adalah seorang Rsi yang berasal dari perguruan Markandeya di India, juga dikenal sebagai murid dari Resi Agastya.

Jauh sebelum datangnya Rsi Markandeya ke Bali, sudah ada orang-orang yang lebih dahulu berada di Bali yaitu orang-orang keturunan Austronesia. Mereka tinggal berkelompok dengan pemimpinnya masing-masing. Kelompok-kelompok inilah yang nantinya menjadi desa-desa di Bali, mereka adalah orang Bali Mula. Pada saat itu orang Bali Mula belum menganut agama, mereka hanya menyembah roh-roh kepada leluhur yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, keadaan yang demikian ini berlangsung hingga awal tarih masehi kurang lebih sekitar abad pertama masehi. 

Pada abad ke 8 M Rsi Markandeya merupakan Maharsi pertama yang datang dari Jawa ke Bali menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnawa (pemuja Wisnu). Di Jawa pada awalnya Diaberasrama di daerah pegunungan Dieng yang termasuk daerah Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah). Namun karena pada saat itu terjadi suatu bencana alam, sehingga pusat Kerajaan Mataram dipindahkan ke wilayah Jawa Timur. Maharsi Markandeya juga ikut berangkat ke arah timur, akhirnya bermukim di daerah Gunung Raung (Jawa Timur). Di sana Beliau melakukan pertapaan dan mendapatkan petunjuk untuk pergi ke arah timur yaitu pulau Bali.

Dalam menyebarkan Agama Hindu di Bali, Beliau banyak membangun tempat suci, misalnya Pura Besakih, Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang berlokasi di Ubud. Gunung artinya tinggi, Lebah artinya sungai. Rsi Markandeya mengganti nama hutan mautama menjadi Sarwo Ade yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai serba ada. Sarwa Ade ini merupakan hutan kayu dan karena terdapat pohon yang menyala disini, akhirnya tempat ini dinamakan Desa Taro yang berasal dari kata “taru” yang artinya pohon.

Pada saat Rsi Markandeya berada di ketinggian gunung Toh Langkir, Beliau menyadari bahwa pulau Dawa (Dewata?) tersebut tidaklah sepanjang perkiraan sebelumnya, kemudian menggantinya dengan nama “Bali”, berasal dari kata “wali” (bahasa Palawa dari India Selatan) yang berarti 'Persembahan Suci'. Selanjutnya pada masa kini persembahan atau upacara suci tersebut dikenal dalam bentuk 'banten' yang dibawa umat ke pura saat melakukan persembahyangan.
Selanjutnya kawasan Toh Langkir ini dikembangkan, dan diberi nama Besuki, kemudian menjadi Besakih yang artinya 'selamat'. Sedangkan tempat Rsi Markandeya melakukan upacara persembahan dan menanam 5 elemen logam (Panca Datu) yang dikenal dengan nama Pura Besakih. Awalnya dari sebuah pelinggih kemudian didirikan pura bernama Besukian, kemudian pura tersebut terus berkembang, pembangunan dilakukan secara bertahap, sehingga menjadi komplek pura terbesar yang sekarang dikenal dengan nama Pura Besakih.

Peninggalan Rsi Markandeya sampai saat ini disucikan di Pura Gunung Raung di Desa Taro berupa : batu, emas, lingga yoni, arca. Ada satu peninggalan Rsi Markandeya yang sangat disakralkan berupa tombak. Tombak ini dinamakan " Ratu Madeg ", yaitu “Sesuai dengan namanya yaitu Ratu Madeg, Madeg artinya 'tegak', maka tombak suci tersebut ditempatkan secara tegak lurus dan diyakini bila tombak tersebut miring ke salah satu arah mata angin, maka akan terjadi kebakaran hutan atau kayu kemana arah tombak itu miring".

Foto : Pura Payogan Agung Gunung Lebah 
Sumber foto Internet.

2. Rsi Agastya

Rsi Agastya lahir di Kasi (Benares) India. Rsi Agastya disebut juga sebagai Bhatara Guru yang berperan sebagai Dewa Siwa, karena kebesaran dan kesuciannya. Dalam sejarah perkembangan Hindu di Indonesia, nama Rsi Agastya pertama kali disebut dalam Prasasti Dinoyo di Jawa Timur tahun saka 682. Prasasti itu menyebutkan seorang Raja bernama Gajayana yang membuat tempat suci indah untuk Maha Rsi Agastya. Tempat ini untuk memaksakan kekuatan suci agar bisa mengatasi kegelapan.


3. Mpu Kuturan

Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha seorang pendeta Hindu dari Kerajaan Majapahit. Mpu Kuturan adalah penasihat Raja Airlangga. Namun karena nasihatnya sudah tidak didengarkan lagi oleh para ksatria, Mpu Kuturan memilih untuk meninggalkan kerajaan kembali ke Bali.

Pada abad ke-10 Mpu Kuturan menjadi penasihat Raja Sri Guna Priya Dharmapatni / Raja Udayana kemudian menetap di lokasi yang kini menjadi Pura Silayukti. Selama di tempat ini, Mpu Kuturan melakukan yoga dan menyebarkan ajaran Hindu.
Satu karya besar Mpu Kuturan adalah sistem Pura Kahyangan Tiga yaitu Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem sebagai wujud lambang Dewa Wisnu, Dewa Brahma, serta Dewa Siwa. Mpu Kuturan moksa atau menyatu bersama Sang Pencipta di Pura Silayukti.


4. Dang Hyang Dwijendra

Dang Hyang Dwijendra atau Rsi Dwijendra, atau Mpu Nirartha, atau Dang Hyang Nirartha adalah seorang pengelana Hindu abad ke-16 Masehi yang datang ke Bali. Beliau dari Kerajaan Majapahit setelah perjalanan dari Blambangan Jawa Timur.
Beliau banyak membangun pura seperti Pura Purancak, Pura Rambut Siwi, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot , dllnya. Beliau di Lombok mendapat sebutan Tuan Semeru, di Bali mendapat sebutan " Pedanda Sakti Wawu Rauh". Nama ini diperoleh saat ia membantu penduduk Desa Gading Wani yang sedang dilanda wabah penyakit. Karena kesaktian Dang Hyang Dwijendra, maka Desa Gading Wani terbebas dari wabah penyakit.

Dang Hyang Dwijendra seorang pendiri ajaran Siwaisme di Bali, juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Beberapa karya sastranya yang berbentuk puisi maupun prosa seperti : Gegutuk Menur, Ampik Legarang, Sara Kusuma, Usana Bali, dan lainnya. Dang Hyang Dwijenda mencapai Moksa di Pura Uluwatu.



5. Mpu Tantular

Dikenal sebagai pujangga besar Hindu yang mengarang Kitab Sutasoma. Kitab ini menyebutkan, bahwa Sang Hyang Widhi Wasa adalah satu (tunggal) bukan dua, melainkan memiliki banyak sebutan. Semboyan Negara Indonesia, "Bhinneka Tunggal Ika", yang berarti berbeda-beda tetap satu juga diambil dari Kitab Sutasoma.

Mpu Tantular adalah putra dari Mpu Bahula. Mpu Tantular memiliki empat orang putra yaitu : Mpu Kanawawika, Mpu Asirnaranatha, Mpu Sidhimantra, dan Mpu Kepakisan.
Satu putra Mpu Tantular -- Mpu Kepakisan, adalah leluhur dari Raja Dalem Batur Enggong Kerajaan Gelgel di Bali.


6. Masuknya Majapahit

Paska Raja Ratna Bumi Banten (raja Badhahulu) ditaklukkan oleh Majapahit pada th 1343, masuklah budaya Majapahit ke Bali, apa yang berlaku di Majapahit diterapkan juga di Bali. Terjadi 2 terapan religi yang dianut oleh masyarakat Bali, yaitu ada yang mengikuti religi Bali kuno dan ada yang mengikuti religi Majapahit, bahkan ada masyarakat yang melakukan kedua-duanya. 

Jika setiap Kamis Wage Sungsang (Sugiyan Jawa), rakyat Majapahit lah yang menyelenggarakan Yadnya. Jika setiap Jumat Kliwon Sungsang (Sugiyan Bali), rakyat Bali asli yg menyelenggarakan Yadnya.
Juga ada tonggak piodalan yg satu mengikuti sasih (bulan), dan satu yang mengikuti wuku.
Acara pemelastian yg satu mengikuti sasih ke Sanga (bulan ke-9), dan yg satu lagi mengikuti sasih kedasa (bulan ke-10).
Juga dalam acara Rsi yadnya pediksan dlm pengesahan seorang pendeta, yg satu mengikuti Napak Wakil Bhatara Kawitan , dan yang satu lagi mengikuti Napak Kaki Guru Nabe, dllnya .

Meskipun Raja Bhadahulu telah wafat, pemberontakan rakyat Bali terus berlanjut. Warga Bali Mula yg memerlukan wibawanya utk menjaga stabilitas yang baru disebut Arya. Misalnya : Sri Giri Ularan, putra Si Rigis yg menjadi Patih raja Batur Enggong menjadi Arya Ularan (Gusti Ularan), Sri Pasung Giri menjadi Arya Pasung Giri, Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang Buncing, Gusti Karang Buncing; Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru.

terjadi akulturasi adat dan budaya antara masyarakat Bali Aga dan Bali yang mempengaruhi Majapahit, yang menjadi latar belakang perubahan besar dalam tatanan sosial dan budaya di Bali. Hal ini juga memberikan corak Agama Hindu seperti yg kita warisi sekarang.***


Gambar : Kebo Iwa dan Gajah Mada
Sumber internet.


Baca juga: 

Sabtu, 01 November 2025

Kertanegara Raja Singasari Terakhir, dan 13 Nama - Nama Raja Majapahit

Kertanegara, Sumber Internet

Kerajaan Singasari

Kertanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singasari yang memerintah pada Saka 1190 - 1214 / 1268 - 1292 Masehi, dengan gelar Sri Maharajadiraja Kertanegara. Ia adalah putra Wisnuwardhana, raja Singasari sebelumnya. Kertanegara dikenal karena keberaniannya melakukan ekspansi dan bercita-cita mempersatukan Nusantara di bawah panji Singasari.

Raja Kertanegara mempunyai menantu bernama Raden Wijaya. Kisah Raden Wijaya dengan putri-putri Kertanegara ditulis dalam Kitab Negarakertagama dan Kitab Pararaton. 

Dalam Negarakertagama disebutkan, Raden Wijaya menikahi empat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Jayendradewi, Narendraduhita, dan Gayatri. Dari keempatnya, Tribhuwaneswari yang menjadi permaisuri, sedangkan tiga lainnya sebagai selir. Raden Wijaya sekaligus menjadi panglima perang Singasari.

Pada tahun 1292 M / Saka 1214 terjadi pemberontakan terhadap Singasari yang dilakukan oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang (Kediri). Jayakatwang mengirim pasukan besar ke Singasari dan berhasil menduduki istana. Raja Kertanegara gugur dalam pemberontakan tersebut.

Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke hutan di sekitar Sungai Brantas.

Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bhairawa) di Candi Singasari. Arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.

Dengan gugurnya Kertanegara, Singasari dikuasai Jayakatwang. Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Ia diberi sebidang tanah bernama Tanah Tarik untuk ditempati.

Raden Wijaya masih menyimpan dendam kepada Jayakatwang. Kesempatan datang ketika pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan tiba untuk menghukum Kertanegara, karena Kertanegara pernah melukai wajah Meng Chi, utusan Kubilai Khan. Karena Kertanegara telah tewas, Raden Wijaya mengajak pasukan Mongol untuk balik menyerang Jayakatwang. Perang ini dimenangkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Mongol.

Raden Wijaya berjanji bahwa apabila menang melawan Jayakatwang, ia akan tunduk kepada Kubilai Khan. Namun setelah Jayakatwang berhasil disingkirkan, Raden Wijaya langsung menyerang balik pasukan Mongol secara mendadak. Serangan itu membuat pasukan Mongol memilih meninggalkan Jawa.

Kerajaan Majapahit.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, pada tahun 1293 M Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309). Ibukotanya berada di Trowulan, Jawa Timur.

Kerajaan Majapahit berkembang menjadi kerajaan besar dengan daerah kekuasaan yang sangat luas dan mampu bertahan hingga lebih dari 2 abad (1293-1528) , dengan 13 kali pergantian raja.


Menurut sejarah, tercatat ada 13 nama raja Majapahit yang pernah memimpin tahta kerajaan, yaitu  :


1.  Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)

Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang berdiri dari tahun 1293 hingga 1527. Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

Menurut Nagarakertagama, Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 M. Untuk mengenang Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya kemudian dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping, Blitar, sebagai Hari-Hara , atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Ia digantikan oleh putra, Jayanagara sebagai raja selanjutnya.


2.  Sri Jayanagara atau Kalagemet (1309-1328)

Sri Jayanegara baru berusia 15 tahun saat menggantikan Raden Wijaya. Dalam Kitab Pararaton ia dijuluki Kala Gemet, yang berarti jahat dan lemah, karena dianggap tidak cakap dalam pemerintahan dan berperilaku kurang baik. 

Pada masanya banyak terjadi pemberontakan, antara lain Pemberontakan Gajah Biru (1314), Pemberontakan Nambi (1316), Pemberontakan Semi (1318), dan Pemberontakan Kuti (1319). 

Jayanegara wafat tahun 1328 setelah ditusuk oleh Ra Tanca, anggota Dharmaputra yang juga tabib istana. Tahta kemudian diteruskan oleh Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni.


3.  Tribhuwana Wijaya Tunggadewi atau Sri Gitarja  (1328-1350 ).

Ia adalah ratu perempuan pertama Majapahit yang dikenal karena keberaniannya. 

Selama pemerintahannya, Majapahit melakukan banyak ekspansi dibantu Gajah Mada. Pada tahun 1336 M, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa di hadapan Tribhuwana:

Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya:

Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, [tetapi] tidak ingin amukti palapa. Gajah Mada [bersumpah], "Jika sudah takluk Nusantara, [maka] aku amukti palapa (aku akan menikmati istirahat). Jika [sudah] takluk Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa (menikmati istirahat)".

Dengan dukungan Gajah Mada, ia memimpin perluasan Majapahit ke wilayah seperti Bali (1343) dan Sumatra (1347).

Tribhuwana menikah dengan Cakradhara / Kertawardhana Bhre Tumapel dan memiliki putra Dyah Hayam Wuruk. 

Ketika ibunya Gayatri wafat tahun 1350, Tribhuwana digantikan Hayam Wuruk. Namun menurut Prasasti Singasari, pada 1351 Tribhuwana masih tercatat sebagai ratu, diperkirakan baru turun tahta tahun 1351.


Gajah Mada : Sumber Internet

4.  Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara  (1350-1389 ).

Pada 1350, Hayam Wuruk naik tahta pada usia 16 tahun dengan gelar Sri Rajasanagara, menggantikan ibunya.

Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk disebut sebagai raja Majapahit terbesar atau paling utama. Keberhasilannya membawa Majapahit menuju puncak kejayaan tidak lepas dari bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Pada masa itu seluruh kepulauan bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji Majapahit. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Filipina. .

Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada meninggal dan posisi Mahapatih langsung di pegang Prabu Hayam Wuruk dan dibantu Menteri Seniornya bernama Mpu Nala. Beberapa tahun kemudian diangkat Mahapatih baru bernama Gajah Enggon.

Tahun 1389 Hayam Wuruk wafat dan didharmakan di Candi Ngetos, Nganjuk. Ia mempunyai dua anak: Kusumawardhani dari Sri Sudewi, dan Bhre Wirabhumi dari selir. 

Penggantinya adalah putri sulung Kusumawardhani yang didampingi suaminya Wikramawardhana.


5. Wikramawardhana dan Kusumawardhani  (1389-1429 )

Ia dikenal karena terlibat dalam Perang Paregreg melawan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir, yang mengklaim hak atas takhta.

Wikramawardhana memimpin "keraton kulon" (barat) sementara Bhre Wirabhumi memimpin "keraton wetan" (timur).

Wikramawardhana awalnya kalah namun berhasil membalikkan keadaan setelah mendapat bantuan dari Bhre Tumapel. 

Ia memiliki tiga anak dari selir: Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya. Setelah wafat, ia digantikan putrinya Suhita pada 1429.


6.  Ratu Suhita atau Dyah Ayu Kencana Wungu  (1429-1447 )

Naik tahta sekitar usia 20 tahun setelah ayahnya wafat. Ia adalah ratu perempuan kedua dan terakhir Majapahit setelah Tribhuwana. 

Ia memerintah bersama suaminya Aji Ratnapangkaja bergelar Bhatara Parameswara. Ia dikenal membalas kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dengan menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati pada 1433.

Masa kepemimpinannya terjadi di tengah situasi sulit, termasuk krisis kelaparan dan ketegangan politik pasca Perang Paregreg, yang mencakup persaingan dua kubu bangsawan besar.

Ratu Suhita meninggal pada tahun 1447,  Ia dicandikan bersama suaminya di Singhajaya. Kemudian  digantikan oleh adiknya, Dyah Kertawijaya, karena tidak memiliki putra mahkota. 


7.  Kertawijaya atau Brawijaya   (1447-1451 )

Kertawijaya adalah raja Majapahit ketujuh dengan gelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana.
Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan meletusnya gunung. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel. 

Beberapa sumber menyebut Kertawijaya sebagai Brawijaya I. Nama "Brawijaya" berasal dari gelar raja-raja Majapahit. Identifikasi ini diperkuat oleh bukti seperti batu nisan Putri Campa yang bertanggal 1448 dan silsilah Raden Patah yang menyebutkan Kertawijaya sebagai leluhur, meskipun ada perbedaan pendapat tentang istri Kertawijaya berdasarkan naskah babad dan serat dibandingkan dengan prasasti. 


8.  Rajasawardhana atau Brawijaya II  (1451-1453 )

Raja ke-8 Majapahit, nama lengkap Dyah Wijayakumara, dikenal juga sebagai Sang Sinagara atau Bhre Kahuripan. 

Masa pemerintahannya singkat, hanya dua tahun, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengatasi gejolak internal kerajaan. Setelah wafat tahun 1453, terjadi kekosongan kekuasaan selama tiga tahun hingga digantikan oleh Girishawardhana tahun 1456..


9.  Girishawardhana atau Purwawisesa atau Brawijaya III  (1456-1466 ).

Sepeninggal Rajasawardhana tahun 1453 Majapahit dilanda hambatan pemerintahan selama tiga tahun. Baru pada tahun 1456, Girishawardhana Bhre Wengker naik tahta bergelar Bhra Hyang Purwawisesa. 

Pada 1462 terjadi bencana gunung meletus. Wafat 1466 dan dicandikan di Candi Waji, Puri, Mojokerto. Digantikan adiknya Dyah Suraprabhawa yang identik dengan Bhre Pandansalas, bergelar Singhawikramawardhana, tercatat dalam Prasasti Waringin Pitu (1447) sebagai putra bungsu Dyah Kertawijaya.


10.  Bhre Pandansalas atau Dyah Suraprabhawa atau Brawijaya IV  (1466-1468 )

Maharaja Majapahit yang memiliki gelar lengkap Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta.
Diberitakan dalam Pararaton, setelah Bhre Pandansalas menjadi raja selama dua tahun, keponakannya Bhre Kertabhumi melakukan kudeta untuk mengambil alih kekuasaan pada tahun 1468.


11.  Bhre Kertabumi / Angkawijaya atau Brawijaya V  (1468-1478 )

Sepanjang masa pemerintahannya, Bhre Kertabumi menghadapi berbagai konflik dan pemberontakan internal. 

Bhre Kertabumi memiliki 3 (tiga) istri :  Dewi Amarawati  (seorang putri dari Champa yang dikenal sebagai "Putri Cempo"), Dewi Wandan Kuning, serta selir : Wandan Sari (Siu Ban Ci), adalah seorang wanita Muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari negeri Campa (sekarang di wilayah Vietnam).

Dengan Siu Ban Ci ia berputra Raden Patah yang kemudian mendirikan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Kerajaan Bhre Kertabumi runtuh saat dikalahkan putranya sendiri Raden Patah. Makamnya terletak di Trowulan, Mojokerto, timur laut Kolam Segaran, dikenal sebagai kompleks Makam Panjang.


12.  Girindrawardhana atau Brawijaya VI  (1478-1489 )

Girindrawardhana atau Brawijaya VI adalah Dyah Ranawijaya, yang dianggap sebagai raja Majapahit yang berkuasa secara mandiri, dan memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (Kediri). 

Ia naik takhta setelah mengalahkan Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1478 dan menyatukan kembali Majapahit.

Ia sempat mempertahankan wilayah dari serangan Demak yang dipimpin Raden Patah. Berusaha memulihkan kejayaan namun tidak berhasil, akhirnya tewas dalam pertempuran melawan pasukan Demak.


13.  Patih Udara  (1489-1527 ).

Patih Udara adalah patih Majapahit yang menjadi raja terakhir. Naik tahta setelah wafatnya Girindrawardhana. Selama memerintah banyak menghadapi serangan Demak yang semakin agresif.

Ia wafat 1527 dan digantikan putranya Menak Sapetak. Kekuasaan Majapahit semakin melemah dan pada 1528 Demak berhasil merebut Daha, mengakhiri keberadaan Majapahit sebagai kerajaan besar di Nusantara.

Semoga tulisan yang terbatas ini bisa menambah pengetahuan, untuk menyalakan pelita kecil di Hridaya pembaca". Apabila ada yg tidak berkenan mohon maaf. 🙏


Diolah dari berbagai sumber.




Baca juga : 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Sabtu, 04 Oktober 2025

Mencari Tirta Amritha

Proses Pengadukan Lautan Susu 
("Samudramantana" )

Foto hanya ilustrasi
Sumber foto Sahabat Al.


1. Dewa dan Raksasa mencari Amritha.

Kṣirasāgaramanthana
 merupakan salah satu cerita yang tercatat dalam beberapa kitab-kitab Purana, serta tersisipkan di dalam naskah Adiparwa, kumpulan pertama dari 18 kitab Mahabharata, maka dapat diketahui bahwa cerita ini merupakan bagian dari pengaruh kebudayaan yang diadopsi dari India. 

Samudramanthana  berarti "pengadukan samudra", sedangkan  Kṣirasāgaramanthana berarti  "pengadukan lautan susu (kṣirasāgara adalah lautan susu).

Dikisahkan para dewa dan asura (raksasa) bersidang di puncak Gunung Meru. Mereka berkumpul untuk merundingkan cara mendapatkan Tirta Amritha yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sebuah kesepakatan yang tidak mudah, namun kedua pihak memiliki tekad yang kuat untuk mencapai tujuan bersama. Akhirnya, mereka sepakat untuk bekerja sama mencari lokasi air suci tersebut, yang ternyata atas petunjuk Dewa Wisnu Tirta Amrita terletak di dasar Laut yang dikenal dengan Lautan Susu (Ksirarnawa/Ksirarnawa).

Para dewa dan asura (raksasa) mengaduk lautan susu "Ksirarnawa" dengan mempergunakan Gunung Mandara sebagai tongkat pengaduk, dan naga Basuki memakai melilit gunung Mandara. Agar gunung Mandara tidak jatuh Dewa Wisnu menjelma turun ke dunia dalam wujud Kurma Awatara, awatara dalam bentuk kura-kura raksasa untuk menopang Gunung Mandara.

Para asura memegang bagian kepala Naga Basuki, sementara para dewa memegang bagian ekornya. Para dewa dan para asura bekerja sama menarik tubuh Naga Basuki dengan gerakan seperti menarik tambang, untuk menggoyang gunung Mandara, sehingga Gunung Mandara berputar dan mengaduk susu lautan "Ksirasagara" atau "Ksirarnawa".

Setelah diaduk, pertama kali muncul racun Halahal mematikan, yang bisa memperpanjang alam semesta. Untuk menyelamatkan dunia dari racun ini, Dewa Siwa meminum racun tersebut, menyebabkan leher Dewa Siwa berwarna biru sehingga dikenal sebagai " Nilakantha ". 

Setelah itu, muncul berbagai harta karun danmakhluk seperti: pertama yang muncul dari udara adalah sapi Surabhi , yang lebih dikenal sebagai  Kamadhanu , Setelah itu, muncul kuda Uchchaihshrava  dari ombak. Kuda ini menjulang tujuh dan seputih "bulan yang bersinar". Muncul permata  Kaustubha  - batu rubi yang memancarkan cahaya ke langit, Setelah itu muncul Kalpavriksha atau pohon parijata, para bidadari , Lakshmi (dewi kekayaan), Baruni, dewi anggur, Bulan. 

Bulan diambil oleh Siwa, dan itulah alasannya, dalam lukisan dan penggambaran Siwa, kita melihat bulan sabit yang menghiasi kepala Dewa Siwa, muncul Cangkang kerang Panchajanya dan busur Sharanga, Dan terakhir, muncul Dhanwantari - dewa penyembuh, membawa kendi berisi Tirta Amritha . 

Foto hanya ilustrasi 
Sumber foto: Internet


2. Perebutan Tirta Amritha

Begitu para Asura melihat guci Amrita, mereka berlari ke arah Dhanvantari dan merebutnya. Para asura menginginkan Tirta Amrita tsb menjadi miliknya, terjadi perseteruan antara para dewa dengan as memperebutkanura tirta Amritha. Tirta Amritha jatuh ke tangan asura.

Untuk menyelesaikan masalah ini Para dewa meminta bantuan kepada Wisnu, kemudian Dewa Wisnu berubah wujud menjadi Dewi Mohini - seorang dewi yang sangat cantik dan mempesona. Mohini menggunakan kecantikan dan daya pikatnya untuk mengelabui para asura, sehingga ia berhasil mengambil kembali kendi yang berisi Tirta Amritha, dan membawanya dengan cepat ke hadapan para dewa.

Setelah para dewa mendapatkan tirta Amritha, mereka segera meminumnya secara bergantian. Saat para dewa membagi tirta Amritha, salah satu asura bernama Swarbanu yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika menyamar sebagai salah satu dewa dan berhasil menyusup ke barisan para dewa. Ia berhasil meneguk seteguk tirta Amritha. Namun, Dewa Surya (matahari) dan Dewa Candra (bulan) mengenali penyamaran Swarbanu sehingga mereka segera melaporkannya kepada Dewa Wisnu yang berwujud Mohini.

Dengan cepat, Mohini kembali menjadi Dewa Wisnu segera menghunus Cakra dan memenggal kepala Swarbanu sebelum tirta amerta sepenuhnya bisa melewati tenggorokannya. Meski terpisah, kepala Swarbanu tetap hidup karena tirta Amritha yang sempat diminumnya, hanya badannya saja yang diam tak bergerak. Kepalanya disebut "Rahu" sedangkan badannya disebut "Ketu" Setelah membagikan seluruh tirta amerta kepada para dewa, Wisnu menghilang meninggalkan para asura.

Rahu dan Ketu masih berseteru dengan Surya dan Chandra hingga kini. Oleh karena itu, beberapa kali dalam setahun, Rahu dan Ketu akan menutupi matahari dan bulan. Inilah yang kita kenal sebagai gerhana matahari dan bulan. Rahu dan Ketu bahkan termasuk di antara sembilan Navagraha (sembilan dewa yang melambangkan planet).***


Foto hanya ilustrasi 
Sumber foto Internet

3. Kenapa Dewa Siwa Mengalungkan Ular di Lehernya?

1. Suatu ketika, ketika spesies ular berada di ambang kepunahan, mereka mendatangi Dewa Siwa untuk meminta perlindungan.
Dewa Siwa melindungi mereka dengan mengizinkan mereka tinggal di Kailasa. Namun, karena cuaca dingin di Gunung Kailasa, ular-ular mulai mendekati tubuhnya untuk menghangatkan diri.
Melihat hal ini, Dewa Siwa memutuskan untuk mengalungkan ular di sekitarnya agar terasa hangat.

2. Kisah populer lain yang terkait dengan ini adalah selama Samudra Manthan (pengadukan lautan susu).
Ketika para dewa dan para asura (raksasa) mengaduk lautan susu (Ksirarnawa) dengan Gunung Mandara digunakan sebagai tongkat pengaduk, dan naga Basuki memakai melilit gunung Mandara, banyak hal yang muncul salah satunya racun Halahal. Racun itu begitu kuat sehingga dapat menghancurkan seluruh ciptaan.
Hal ini membuat para dewa dan asura ketakutan, dan mereka bingung siapa yang akan menelan racun mematikan ini.
Lalu para dewa dan asura menghampiri Dewa Siwa untuk meminta perlindungan. Demi melindungi alam semesta, Dewa Siwa meminum racun itu.

Terhadap kisah ini ada dua versi :

Versi pertama, Naga Basuki terinspirasi oleh mengorbankan Siwa yang meminum racun itu, sehingga Naga Basuki juga meminum racun tersebut. Sebagai penghargaan atas pengabdian Naga Basuki, Siwa memikat dirinya dengan Naga Basuki sebagai kalung di leherNya.

Versi kedua, ketika Dewa Siwa meminum racun tersebut, Dewi Parvati – pendamping Dewa Siwa mencengkram leher Dewa Siwa agar tidak menelan racun tersebut. Karena mustahil bagi seorang dewi untuk memegangi meniru (Siwa) selamanya, Parvati kemudian mengikatkan ular di leher Siwa untuk mencegahnya menelan racun.  Akibat meminum racun tsb, leher Dewa Siwa membiru  sehingga dikenal sebagai Neelkantha (yang berleher biru). 

3. Ular menggambarkan kekuatan Kundalini. Ia digambarkan sebagai ular melingkar yang tertidur di cakra Muladhara semua manusia.
Ia naik ke atas ketika seseorang memulai perjalanan spiritual dan semakin terfokus pada keilahian.
Ular yang melingkari leher Siwa menggambarkan bahwa Kundalini dalam dirinya sudah bangkit sempurna dan ikut aktif dalam kegiatan ketuhanan.***

Foto hanya ilustrasi, 
sumber internet


4. Makna Ular Di Leher Siwa

Makna simbolis terkait ular yang melingkari leher Dewa Siwa adalah melambangkan siklus kelahiran, kematian; dan kelahiran kembali yang tak berujung. Ular berganti kulit ketika kulit lamanya telah tumbuh, secara berkala selama masa hidupnya. Hal ini secara simbolis melambangkan siklus kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali.

Beberapa orang percaya bahwa ular tersebut memiliki tiga lingkaran di leher Dewa Siwa, yang masing-masing mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan . Ini menunjukkan bahwa ia melampaui waktu dan mengendalikannya. Itulah sebabnya Dewa Siwa juga dikenal sebagai "Mahakaal " – yang berada di atas dan melampaui Kaal (waktu). Ular tersebut juga digambarkan melihat ke sisi skema. Hal ini menandakan bahwa hukum akal budi dan keadilan Tuhan yang abadi menjaga keteraturan alam semesta.

Secara simbolis, ular melambangkan segala nafsu dan keinginan dan ego. Dengan mengalungkan ular di contohnya, Siwa menyampaikan kepada semua penyembahnya bahwa ia telah memuaskan semua keinginannya, nafsu dan ego. Ia juga memiliki kendali penuh atas Prakriti atau Maya (ilusi).

Ular dianggap reptil berbahaya dan ditakuti oleh banyak orang. Dewa Siwa menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengendalikan rasa ketakutan dan kematian dengan mengenakan ular sebagai kalungNya.***

Kuda  Uchchaihshrava
Sumber Sahabat Al.

Baca juga : 


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

  Om Swastyastu🙏 Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang men...