Selasa, 02 Desember 2025

1. Takluknya Raja Bali Aga (Ratna Bumi Banten) atas Tipu Daya Gajah Mada

 Raja Bhadahulu Sri  Ratna Bumi Banten, Patih Kebo Iwa Yang Sakti, Korban Penipuan Oleh Majapahit

Foto Ilustrasi, Sumber foto : Internet

Nama-Nama Raja Kerajaan Bali Aga
Secara turun-temurun raja-raja Bali Aga berasal dari dinasti Warmadewa, dan setelahnya ada raja-raja yang termasuk dalam Wangsa Jaya.
Sejarah pemerintahan raja-raja Bali Kuna, tdk ditemukannya kekuasaan dg cara paksa, dalam arti, jika sang raja meninggal tapuk pemerintahan akan digantikan oleh istri atau anaknya. Apabila sang anak masih kecil / belum cukup umur, maka akan digantikan oleh sang paman atau kerabat dekat raja yg lain. Apabila 'buntu' tak ada yg mau menggantikan, maka akan dipakai metode yg lain melalui 'jalan niskala' dg jalan minta petunjuk ' nedunang Ida Bhatara ' (teks Purana pura Puseh Gaduh, Gianyar).

Runutan nama-nama raja Bali Aga yg berkuasa di Bali, bersumber dari Prasasti, Purana, Piagem, Babad, dll sbb :

  1. ‌Sri Kesari Warmadewa (s 804-837 / m 882-915 ),
  2. Sri Ugrasena (S 837-864 / M 915-942),
  3. Sri Candra Baya Singa Warmadewa (S 864-913 / M 915-991),
  4. Bhatara Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa (S 913-940/M 991-1018),
  5. Sri Warmadewa Marakata Pangkaja Tunggadewi (S 940-971/M 1018-1049),
  6. Si Haji Hungsu (S 971-999 / M 1049-1077),
  7. Ratu Sukalindu Kirana (S 999-1023 / L 1077-1101),
  8. Sri Suradhipa (S 1023-1041 / M 1077-1119),
  9. Sri Jaya Sakti (S 1041-105 / M 1119-1129),
  10. Sri Gni Jaya (S 1051-1072 / M 1129-1150),
  11. Sri Jaya Pangus (S 1072-1103 / M 1150-1181),
  12. Sri Ekajaya (S 1103-1122 / M 1181-1200),
  13. Sri Dhanadhiraja, nama lain dalam Prasasti Bangli Pura Kehen, adalah Sri Adi Kuti Ketana (S 1122-1126 / M 1200-1204),
  14. Sri Maha Dewa Lencana (S 1126-1172 / M 1204-1250),
  15. Sri Indra Caksu (S 1172-1206 / M 1250-1284).
  16. Raja Kertanegara (S 1206-1214/M 1284-1292). Kerajaan Singasari (Raja Kertanegara) pernah menguasai Bali th 1284 M, karena raja Bali Sri Indra Caksu ditaklukkan Singasari. Kemudian th 1292 M, Singasari ditaklukkan oleh Jayakatwang (putra Sanghyang Sidimantra Dewa). Kemudian Bali mempunyai raja kembali (Baca : Kertanegara Raja Singasari)
  17. Raja Patih (s 1214-1218 / m 1292-1296), ini sebenarnya Sri Jaya Katong?
  18. Sri Jaya Katong (s 1218-1226 / 1296-1304),
  19. Sri Tarunajaya (s 1226-1246 / m 1304-1324),
  20. Masula Masuli (s 1246-1250/m 1324-1328),
  21. Sri Gajah Wakra atau Sri Astasura Ratna Bumi Banten (s 1250-1265/m 1328-1343).

Raja - raja Bali kuno setelah selesai masa pemerintahannya bersifat konsisten melaksanakan pertapaan ke gunung atau ke tempat yang lebih tinggi menjalani kehidupan wanaprasta, yaitu melepaskan diri dari keabadian duniawi untuk mendapatkan kemuliaan dan kesadaran agung tentang Tuhan.

Sri Astasura Ratna Bumi Banten (1328-1343 M).
Berikut ini, hanya dibahas tentang masa pemerintahan raja Bali terakhir yaitu Raja Sri Gajah Wakra atau Sri Batu Ireng, dikenal juga dengan nama Sri Tapa Ulung, adalah raja Bali Aga Badhahulu urut ke-21 (terakhir), pusat pemerintahan di Batahanyar (sekarang Kab Gianyar), Beliau bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Asta = delapan, Sura = Dewa, Ratna = permata, Bumi Banten = Tanah Bali). Artinya : raja yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemerintahan di jagat Bali yaitu : Jimbaran, Badung, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, Klungkung, Mengwi  (KI.2011 : 16).

Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten merupakan putra raja Bali Aga Sri Masula Masuli. Ratna Bumi Banten raja yang gagah, sakti, adil, bijak, tangguh, menyayangi rakyatnya, oleh karena itu Ia sangat disenangi oleh rakyat Bali. Selama pemerintahan Ratna Bumi Banten keadaan Bali makmur dan damai, tidak pernah ada pemberontakan. 

Raja Bali, Sri Astasura Ratna Bhumi Banten mengangkat seorang mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di desa Tengkulak. Sebagai pembantunya di angkat Ki Kebo Iwa yang tinggal di Blahbatuh, untuk menterinya disebutkan :

  • Si Kala Gemet di Tangkas ,
  • Si Girimana di Ularan ,
  • Si Tunjung Tutur di Tenganan ,
  • Si Tunjung Biru di Desa Tianyar ,
  • Ki Tambiak di Jimbaran ,
  • Ki Buahan di Batur ,
  • Ki Kopang di Seraya ,
  • Ki Walungsingkal di Taro .

Dalam tradisi Bali sering juga disebut dengan nama Dalem Badhahulu yang berarti ' Kepala Yang Berbeda'.  Hal ini menunjukkan bahwa raja tidak mau tunduk kepada pemerintah Majapahit, menentang ekspansi kerajaan Majapahit ke Bali.

Badhahulu berasal dari bahasa Jawa kuno, badha dan hulu. 'Badha' artinya : tempat, rumah, istana. 'Hulu' artinya : kepala, raja, pusat pemerintahan. Jadi Badhahulu adalah istana raja, pusat pemerintahan.
Pusat pemerintahan kerajaan Bali Aga sejak Raja Sri Jaya Katong, Raja Sri Taruna Jaya, Raja Masula Masuli sampai Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten terletak di daerah Batahanyar (Istana Baru), yang diduga sekarang menjadi nama Kabupaten Gianyar. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah pura dengan nama Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Gianyar.

Kerajaan Badhahulu yang tertulis selama ini menjadi "Beda Hulu'  (berselisih dengan pusat/Majapahit), dan "Beda Muka' (raja berkepala babi) oleh para penekun sastra dan para sejarawan, membawa dampak negatif bagi generasi muda Hindu yang ada di Bali.  Dalam prasasti-prasasti kuno tidak ditemukan bahwa Raja Astasura Ratna Bumi Banten berselisih paham (Bedhahulu) dengan kerajaan Majapahit. Seandainya berselisih paham, mungkinkah Ratna Bumi Banten mau diperintahkan Kebo Iwa datang ke Jawa? 

Dalam kitab Negara Kertagama (oleh Slamet Mulyana) Pupuh no 14 dan 79, Negara Kertagama (oleh Megandaru W. Karwuryan, 2006 : 184), serta salinan Lontar Piagem Dukuh Gamongan alih Bahasa oleh I Wayan Gede Bargawa, hal 12, secara jelas tertulis "Badhahulu", tapi para alih aksara dan penterjemah lain sengaja mengganti huruf "a" dengan "e", sehingga menjadi Bedhahulu. Hal ini menimbulkan perbedaan arti dari para pembaca (Buku Kebo Iwa, oleh I Made Bawa, 2011, hal 15). Jadi penyebutan kerajaan Bali Age dengan nama 'Bedhahulu' tidaklah tepat.

Berbagai usaha untuk menjatuhkan Raja Astasura Ratna Bumi Banten termasuk melalui perang sastra, seperti : Beliau disebut Raja Berkepala Babi atau Beda Muka, Raja Mayadanawa (Raja Raksasa) yang mana tidak jelas sumbernya.
Yang paling gencar memojokkan Beliau adalah Pujangga Mpu Prapanca dalam Kakawin Dasawarmana atau Kitab Negarakertagama, yaitu nyanyian 49, bait 4, sebagai berikut :

"Muwah ring sekabdesu masaksi nabi ikang bali nathanya dussila niccha dinon ing bala bhrasta sakweh nasa ars salwiri dusta mangdoh wisastha" 

Artinya : 

Selanjutnya pada tahun Saka 1265 Raja Bali yang jahat dan nista diperangi oleh tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka pergi menjauh.

Namun perlu diingat bahwa terjemahan teks Jawa Kuno dapat memiliki variasi tergantung pada konteks dan interpretasi. Dalam konteks ini, teks Negarakertagama karya Mpu Prapanca memang menggambarkan raja Bali tersebut dalam sorotan negatif, dengan kata-kata yang mengkritik kepemimpinan atau situasi sosial di Bali pada masa itu.

Mpu Prapanca, sebagai penulis yang hidup pada zaman Majapahit, mungkin memiliki perspektif tertentu dalam menulis tentang raja-raja lain, termasuk raja Bali. Kritik yang disampaikan dalam teks tersebut dapat mencerminkan pandangan politik atau hubungan diplomatik antara Majapahit dan Bali pada masa itu.

Kebo Iwa - Patih Yang Sakti
Kebo Iwa merupakan Patih andalan kerajaan Badhahulu pada abad ke 14 saat pemerintahan Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten. Nama lain Kebo Iwa adalah Kebo Wandira atau Kebo Taruna yang berarti kerbau yang diperjaka.
Pada masa itu, nama-nama binatang tertentu seperti kebo (kerbau), gajah, mahisa (banteng), angsa lazim dipakai sebagai judul kehormatan khususnya di Bali ataupun Jawa.

Kebo Iwa mempunyai postur tubuh tinggi, besar, berotot, tegap, perkasa, sakti, karena itulah disebut juga Walungsingkal . Beliau mengusai seni perang juga Undagi  (arsitek tradisional Bali), yang membangun berbagai tempat suci di Bali, bendungan, dan tak segan-segan Ia mengangkut sendiri batu-batu besar dengan kekuatan fisiknya.

Kebo Iwa merupakan salah satu trah Karang Buncing. Nama Sri Karang Buncing muncul dua periode. Sri Karang Buncing (ke-1) adalah saudara kandung dari Sri Rigis. Sri Karang Buncing (ke-1) mempunyai anak Sri Kebo Iwa, dan adik kandung Sri Kebo Iwa lahir 'Buncing' (laki-perempuan), diberi nama Sri Karang Buncing juga (utk membedakan kita sebut saja Sri Karang Buncing ke-2). Kakak-adik, laki-perempuan ini dinikahkan yang kemudian melahirkan Warga Sri Karang Buncing yang ada sekarang di Bali dan di Luar Bali.



Kelahiran Kebo Iwa
Mitologi kelahiran Patih Kebo Iwa disebutkan sebagai berikut :
" Tersebutlah di Desa Blahbatuh terdapat pasangan suami isteri "Karang Buncing" yang lama sampai 13 th belum mempunyai putra yang akan menjadi penerus keturunan. Karena itu, mereka memohon kepada Dewata (di Pura Gaduh sekarang), agar diberikan putra. Para Dewata mengabulkan permohonan itu. Tidak berselang berapa lama maka lahirlah anak mereka. Karang Buncing merasa sangat berbahagia atas kelahiran anaknya. Bayi yang baru lahir tersebut sangat berbeda dengan bayi-bayi lain pada umumnya. Konon, baru berumur dua hari  anak itu sudah menghabiskan sebutir ketupat. Ketika berumur satu minggu ia sudah mampu menghabiskan 6 bh ketupat  (satu kelan) setiap kali makan. Setelah berumur tiga tahun  anak itu menghabiskan satu periuk nasi setiap kali makan. 
Ketika dirumahnya tidak ada nasi, atau kekurangan nasi, maka ia tidak segan-segan mencuri nasi tetangganya. Karena sering ada pengaduan warga yang makanannya dicuri, maka Ayahnya menjadi marah kepada si anak. Dalam kemarahan yang memuncak, sang Ayah pun menghunus senjata mengancam mau membunuh sang anak.

Ketika ayahnya menghunus senjata, anak tersebut bertanya tentang nama dirinya, agar dia tidak tersesat di alam niskala (kematian). Kemudian dia menjawab, “Nama kamu adalah Kebo Iwa”.

Setelah mendengar bahwa namanya adalah Kebo Iwa, anak tersebut mulai beringas dan tenaganya sangat kuat, kebal, dan sakti. Oleh karena itu, ayahnya tidak jadi membunuhnya. Karena sudah merasa tidak diterima oleh orang tuanya, anak tersebut pergi..., sampai akhirnya menghadap raja di Badhahulu.

Mulai saat itu, orang Bali memiliki budaya untuk langsung memberikan nama kepada anaknya ketika anak itu dilahirkan,  bersama ari-arinya ditanam disuatu tempat di sebelah kanan-kiri undak-undak menuju "Bale Delod" tergantung dari jenis kelamin anak yang dilahirkan.

Kebo Iwa Menjadi Patih Badhahulu 
Diceritakan, Raja Badhahulu Astasura Ratna Bumi Banten mengutus para Demung (Patih) membuat pondok prajurit mau menguji kesaktian Kebo Iwa. Tepat saat hari diadakan pertarungan, suara gamelan, suara kentongan bertalu-talu dan suara gelombang rakyat tidak henti-hentinya. Lalu Maha Patih Pasung Grigis memerintahkan para Patih untuk melawan Kebo Iwa satu persatu mengadu kawisesan (kemampuan). Semua Patih dilayani satu persatu, semuanya kalah. Kemudian dikeroyok oleh para Patih, juga para Patih kalah. Raja Ratna Bumi Banten kagum atas kekuatan Kebo Iwa, lalu Kebo Iwa diangkat menjadi Patih Andalan. Sejak saat itu kekuatan Kebo Iwa sangat terkenal sampai ke Majapahit, dan mengangkat nama kerajaan Badhahulu.

Kebo Iwa kemudian tinggal di Blahbatuh, segala kebutuhannya dipenuhi oleh Raja. Kebo Iwa ketika diangkat menjadi patih pernah mengucap janji, yaitu, "selama nafasnya masih di kandung badan, tak akan ada kerajaan manapun yang menguasai Bali".
Mulai saat itu, banyak wilayah yang mampu ditaklukkan Raja Badhahulu berkat kekuatan Patih Kebo Iwa bersama Ki Pasung Grigis dan Ki Ularan.***

Patung Kebo Iwa : Sumber Internet.


Bersambung :

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



Senin, 24 November 2025

Perayaan Hari Kelahiran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba Ke-100

 

Sumber foto: Internet

Bhagawan Sri  Sathya Sai Baba lahir pada tanggal 23 November 1926 di Puthaparthi, Andhra Pradesh, India, dan sejak kecil sudah menunjukkan sifat-sifat spiritual yang luar biasa. Ia kemudian menjadi guru spiritual yang menarik jutaan pengikut dari seluruh dunia.

Pada  tanggal 23 November 2025 lalu, hari perayaan Kelahiran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba ke-100, dirayakan oleh pengikutNya di seluruh dunia; termasuk di Indonesia.

Organisasi Sathya Sai Baba memiliki cabang di lebih dari 185 negara, termasuk Indonesia, dan memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia. Mereka merayakan hari kelahiran Sathya Sai Baba di Center masing-masing sebagai hari yang suci dan mengadakan berbagai kegiatan spiritual dan sosial untuk menghormati ajarannya.

Ratusan ribu para penekun spiritual  pengikut Bhagawan Sathya Sai Baba dari berbagai Negara, yang ingin merayakan kelahiran Beliau tanggal 23 Nopember 2025 di Prasanthi Nilayam India, jauh-jauh hari sudah datang ke Prasanthi Nilayam, Puthaparthi India.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba adalah seorang guru spiritual yang mengajarkan nilai-nilai universal seperti: kebenaran ( Sathya ), kebajikan ( Darma ), cinta kasih ( Prema ), kedamaian ( Santi ), dan tanpa kekerasan ( Ahimsa ).

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba telah datang untuk menjalankan tugas suci yaitu: “ mempersatukan keseluruhan umat manusia sebagai satu keluarga melalui ikatan persaudaraan, memberikan penekanan dan pencerahan dalam hal Realitas Atma dari setiap insan, membeberkan Divinitas yang menjadi dasar dari keseluruhan alam semesta/kosmos serta memberi instruksi kepada semuanya, agar dapat mengenali warisan laten yang menjadi tali pengikat antar manusia, sehingga umat manusia dapat dirinya dari sifat hewaniah dan mengikat ke atas menuju ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu sifat laten ke-Tuhan-an yang ada di dalam dirinya, yang sekaligus merupakan tujuan akhir dari kehidupan ini.”

Pada tanggal 23 Mei 1940 (saat berumur 14 tahun) Sai Baba menyatakan bahwa Beliau adalah reinkarnasi Sai Baba dari Shirdi  seorang mistikus sufi yang hidup pada tahun 1838-1918 M.

Berdasarkan Pratyaksa Pramana - berarti pengamatan langsung atau tidak langsung melalui panca indra. Bhagawan Sri  Sai Baba telah diamati oleh berbagai sarjana dan kaum cendikia dalam kurun waktu yang cukup lama dari berbagai keanggotaan, aliran, agama dari berbagai negara dan bangsa. Hasil pengamatan mereka telah dituangkan ke dalam berpuluh-puluh artikel, dan buku-buku berkesimpulan bahwa  Bhagawan Sri Sathya  Sai Baba adalah : seorang manusia luar biasa, manusia yang mengagumkan, manusia dewa (madava), manusia suci, seorang psikiater, guru sejati, seorang Avatara .

Tanpa memakai mantra, yantra, tantra, Bhagawan Sri Sathya  Sai Baba mampu menciptakan apa saja dari seluruh tubuhnya, terutama yang paling sering dari tangan seperti: vibuti , kalung, gelang, medali , cincin, binatang, patung,  dllnya. Bhagawan Sri Sathya  Sai Baba juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, memberikan berkah, dan menunjukkan mukjizat lainnya.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengatakan, “Aku datang bukan untuk mengganggu atau menghancurkan keyakinan apapun, tetapi untuk menguatkan keyakinan mereka, sehingga seorang Kristen menjadi seorang Kristen yang lebih baik, seorang Muslim menjadi seorang Muslim yang lebih baik, seorang Hindu menjadi seorang Hindu yang lebih baik dan seorang Buddhis menjadi seorang Buddhis yang lebih baik.”

Dalam sebuah kunjungan di Nairobi (Kenya, Afrika Timur), Bhagawan Sri  Sathya Sai Baba menyatakan, 

"Aku datang untuk menyalakan pelita Cinta dalam hatimu, untuk melihat pelita itu bersinar dari hari ke hari dengan menambahkan minyak. Aku datang bukan atas nama agama suatu yang eksklusif. Aku tidak datang untuk misi publisitas untuk sebuah sekte atau kepercayaan, juga Aku tidak datang untuk mengumpulkan pengikut untuk sebuah doktrin. Aku tidak punya rencana untuk menarik murid-murid atau pengikut . Aku datang untuk memberitahu anda tentang kesatuan hal iman, prinsip spiritual, jalur Cinta, Cinta, tugas Cinta, kewajiban Cinta ".


 Sumber foto: SS Internet


Kunjungan Presiden India yang terhormat,  Smt  Droupadi  Murmu ji  untuk Program Khusus - sebagai bagian dari Perayaan Seratus Tahun Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. 

Beberapa suasana perayaan Kelahiran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba ke-100 (sumber internet) :


Sumber foto: Internet.

Perdana Menteri India yang terhormat, Narendra Modi, tanggal 19 November 2025, mengunjungi Prasanthi Nilayam, bagian dari Perayaan seratus tahun Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Beliau disambut hangat oleh Tuan RJ  Rathnakar, Manajer Amanah Pusat Sri Sathya Sai, Prasanthi Nilayam.

Mendampingi Perdana Menteri adalah beberapa pemimpin terkemuka dan tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Yang Mulia Ketua Menteri Andhra Pradesh, Mr Nara Chandrababu Naidu, Wakil Ketua Menteri, Mr Pawan Kalyan, Menteri Kabinet, MLA, dan pejabat lainnya.

https://www.facebook.com/share/v/1Ba5vJySzr/


Foto Tangan Bhagawan yang berbingkai kaca, mengeluarkan Vibuti. 
Sumber foto: Internet.


Dikutip dari, Deccan Herald, Pemerintah India juga merilis koin peringatan senilaiRs100 untuk menandai peringatan seratus tahun kelahiran Sri Sathya Sai Baba.

Di sisi depan, pemberitahuan tersebut menyatakan, "Sisi koin ini akan menampilkan Ibukota Singa Pilar Ashoka di tengahnya dengan tulisan 'Satyamev Jayate' di bawahnya, diapit di sisi kiri dengan kata "Bharat" dalam aksara Devnagri dan di sisi kanan dengan kata "INDIA" dalam bahasa Inggris." Koin ini juga akan menampilkan simbol Rupee dan nilai nominal "100" dalam angka internasional di bawah Ibukota Singa.

Sebaliknya, "koin akan menampilkan gambar 'BHAGAWAN SRI SATHYA SAI BABA' di bagian tengah koin. Tahun '1926' dalam angka internasional akan tertulis di sisi kiri gambar, dan tahun '2026' akan tertulis di sisi kanan," demikian bunyi bunyi pernyataan tersebut. Pada sisi atas koin, tulisan "Bhagawan Sri Sathya Sai Baba ki Janma Shatabdi" akan ditulis dalam aksara Devnagari, dan tulisan 'BIRTH CENTENARY OF BHAGAWAN SRI SATHYA SAI BABA' dalam bahasa Inggris akan ditulis pada sisi bawah koin.

Sathya Sai Baba mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia sejak lahir, yaitu : Sathya, Dharma, Prema, Santi, dan Ahimsa. Namun tidak semua orang merasa nyaman. Ada beberapa alasan mengapa beberapa orang tidak suka atau bahkan menentang Sathya Sai Baba :

  1. Kurangnya pemahaman. Beberapa orang mungkin tidak memahami ajaran Sathya Sai Baba dengan benar, sehingga mereka membuat kesimpulan yang salah.
  2. Bias agama. Beberapa orang mungkin memiliki bias agama yang kuat, sehingga mereka tidak dapat menerima ajaran Sathya Sai Baba yang dianggap tidak sesuai dengan agama mereka.
  3. Kritik terhadap organisasi. Beberapa orang mungkin memiliki kritik terhadap organisasi Sathya Sai Baba atau cara pengelolaannya, sehingga mereka menentang ajaran Sathya Sai Baba secara keseluruhan.
  4. Kekuasaan dan kepentingan.  Beberapa orang mungkin merasa terancam oleh pengaruh Sathya Sai Baba dan mencoba menghancurkan reputasinya.

Di dunia ini 'Rwabhineda'  dua hal yang berbeda selalu ada; baik-buruk, siang-malam, susah-senang, yang tidak bisa ditiadakan. Begitu juga terhadap Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, ada yang pro, ada yang kontra. Setiap orang mempunyai hak untuk berpendapat dan mengkritik, namun perlu dilakukan dengan cara yang sopan dan berdasarkan fakta.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sendiri mengajarkan bahwa,  setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih jalan spiritual mereka sendiri dan bahwa tidak ada satu jalan yang benar untuk semua orang . Jadi, mari kita menghormati perbedaan dan fokus pada nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Inilah sikap orang yang bijaksana.***

Sumber foto : 
Majalah Tempo 2 Maret 2003


Baca artikel lainnya klik :


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏



TAJEN MAU DILEGALKAN DEMI PAD? (WACANA DI MEDSOS) - TABUH RAH BUKAN TAJEN, KAJIAN DHARMA

  Om Swastyastu🙏 Baru-baru ini (Oktober 2026) di medsos beredar tangkapan layar berita berjudul "Tajen Mau Dilegalkan" yang men...