Indria harus dididik agar mengarah ke dalam diri, yaitu kepada Atman yang bersifat universal. Pada dasarnya, semua indria cenderung mementingkan diri sendiri dan bersifat egois sehingga dapat menghalangi sikap pengorbanan. Tanpa pengetahuan atau masih dalam keadaan awidya, indria terus-menerus menyeret manusia pada hal-hal keduniawian dan sifat-sifat lahiriah.
Manusia dikaruniai Panca Indria, yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Indria juga disebut maatraah, yang berarti alat pengukur.
Setiap indria memiliki kemampuan khusus sebagai alat ukur. Mata diberikan kemampuan untuk membedakan gambar yang baik dan buruk. Hidung diberikan kemampuan untuk membedakan bau harum dan tidak harum. Telinga diberikan kemampuan untuk menilai musik, mana yang terdengar baik dan mana yang kurang bagus.
Masing-masing dari panca indria umumnya hanya memiliki satu fungsi. Pengecualiannya adalah lidah, yang dikaruniai dua kemampuan sekaligus: pengecap rasa dan alat bicara.
Di antara panca indria, lidah yang paling berperan. Apabila lidah dapat dikendalikan, maka indria-indria lainnya akan lebih mudah untuk dikendalikan pula.
Pengendalian lidah bukan hanya menyangkut makanan saja atau cita rasa, juha menyangkut bicara, sesuai lidah mempunyai dua fungsi.
Mengendalikan Lidah dalam hal Cita Rasa
Kemajuan spiritual tergantung dari keadaan pikiran kita, pikiran kita sangat bergantung dari makanan yang kita makan. Bagian makanan yang paling halus membentuk pikiran, yang halus menjadi darah dan daging, yang kasar dibuang melalui ekresi (toilet).
Ada 3 makanan menurut sifatnya :
- Makanan Satwika mencerahkan pikiran, membersihkan tubuh, meningkatkan kesadaran spiritual, kesehatan mental. Contoh makanan Satwika : Buah-buahan segar; sayuran segar; biji-bijian, beras, beras merah, gandum; kacang-kacangan, susu dan produk susu, madu, dll.
- Makanan Rajasika adalah makanan yang merangsang, meningkatkan energi, menimbulkan agresif, penuh nafsu, emosi, kurang sabar serta banyak keinginan duniawi.
Contoh makanan Rajasik yaitu : daging, ikan, telur; cabai, merica, kunyit; bawang merah, bawang putih; makanan siap saji; makanan yang sangat pedas, sangat asin, sangat asam, dll. - Makanan Tamasika menyebabkan kelelahan, kemalasan (suka tidur), lamban, kurang inisiatif, apatis dan tidak ada keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. Beberapa contoh makanan Tamasika : makanan olahan, makanan yang dimasak terlalu lama; makanan yang diamkan, makanan yang dipanaskan beberapa kali, dll.
Selain itu perlu memperhatikan 3 hal yang berkaitan dengan makanan yaitu :
Patra Sudhi - Kemurnian Peralatan Memasak : Kita harus memperhatikan alat-alat yang dipakai memasak makanan itu apakah sudah bersih? Bersih bukan saja mencakup kebersihan fisik, namun juga kebersihan spiritual. Alat-alat untuk di dapur khusus untuk di dapur tidak boleh dicampur. Dalam agama Hindu sangat ditabukan memakai alat-alat yang dipakai di kamar mandi untuk keperluan didapur, misalnya ember bekas pakai nyuci baju dipakai tempat membersihkan beras dll.
- Paaka Sudhi - Kemurnian Proses Memasak: Perasaan pemasak di dapur juga berpengaruh terhadap kemurnian makanan. Apakah yang memasak itu hatinya riang gembira, ikhlas, atau ngedumel, marah, bukan ikhlas? Getaran negatif, atau perasaan tidak baik ketika memasak juga mempengaruhi makanan sehingga makanan juga ikut tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika memasak bergembira, senang, ikhlas, atau sambil mengulang-ulang nama suci Tuhan di dalam hati, ini akan ikut membersihkan makanan menjadi suci.
- Padartha Sudhi - Kemurnian Bahan : Apakah bahan-bahan makanan yang kita masak itu diperoleh dengan cara halal? Apakah dibeli dari uang yang didapat dengan cara baik atau tidak? Apakah dengan cara korupsi, merusak, atau mencuri? Bahan-bahan makanan yang diperoleh dengan cara tidak halal akan mencemari makanan sehingga makanan tidak murni.
Kita tidak mungkin memperhatikannya setiap saat dan sepanjang waktu. Oleh karena itu untuk menjaga agar makanan itu murni, kami mempersembahkan kepada Tuhan untuk dibersihkan sebelum dimakan, sehingga makanan menjadi suci, (berdoa sebelum makan).
Doa makan,
" Om Brahmārpaṇaṁ Brahma Havir,
Brahmāgnau Brahmaṇā Hutam, Brahmaiva Tena Gantavyaṁ, Brahma Karma Samādhinā". (BG.4:24)
"Ahaṁ Vaiśvānaro Bhūtvā Prāṇināṁ Deham Āśritah Prāṇāpāna-samāyuktaḥ Pacāmy Annaṁ Caturvidham" (BG. 15:14)
Artinya:
“Upacara persembahannya adalah Brahma, Persembahan itu sendiri adalah Brahma, Dipersembahkan oleh Brahman dlm api suci yg jg Brahman, Hanya Dia mencapai Brahman yg dlm seluruh kegiatannya dlm Brahman”.
“Aku (Brahman) berada di dalam jantung semua makhluk sebagai Api Pencernaan (Vaiśvānara). Dengan bantuan prana (nafas keluar) dan apana (nafas masuk), Aku mencerna empat jenis makanan” .
Memakan makanan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan (tdk berdoa sebelum makan), dianggap makan dosanya sendiri, namun memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan, kita dianggap memakan makanan suci.
Mengendalikan Lidah dalam hal Bicara
Tidak ada kemampuan yg lebih hebat dari kata-kata. Kata-kata dpt membuat hancurnya seseorang, kata-kata jg bisa memberi kehidupan. Kata-kata mempunyai kekuatan yang sangat kuat, ia mampu memotong pikiran seseorg.
Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, jangan berkata kasar, jangan berkata-kata jahat; berkatalah yang baik.
Manusia cendrung lebih mudah mengikuti apa yang dilihat daripada apa yang didengar, dalam hal ini mata lebih dominan dari telinga.
Contoh : Dlm suatu outbond yg saya ikuti. Instruktur bernyanyi sambil bergerak menunjuk apa yang dia katakan. Peserta mengikuti sambil ikut bergerak. Instruktur menyanyikan lagu sederhana sekali, yang diikuti oleh peserta sambil memegang yang disebut :
"Ini telingaku sambil memegang kedua telinganya, diikuti oleh semua peserta juga memegang telinganya masing-masing. Ini rambutku... peserta memegang rambutnya, dstnya.
Pengendalian Indria dlm Sarasamuccaya sloka 73 disebutkan 10 banyaknya, selanjutnya dalam Sarasamuccaya sloka 74, 75, 76 dirinci sbb :
- Tdk menginginkan dan dengki atas milik barang orang lain.
- Tdk marah-marah kpd semuamakhluk
- Percayalah akan adanya hukum Karma Phala.
- Tdk boleh berkata jahat
- Tdk boleh berkata kasar / menghardik
- Tdk boleh memfitnah
- Tdk boleh main
Sloka 76 Sarasamuccaya pengendalian perbuatan ada 3, yaitu
- Tidak dibunuh
- Tdk melakukan hubungan badan yg tdk sah
- Tidak mencuri.
Untuk mencapai kemurnian pikiran perkataan dan perbuatan (Tri Karana Sudhi), Baba mengajarkan 5 hal yaitu :
- Jangan berpikir yg jahat, berpikirlah yg baik.
- Jangan melihat yg jahat, lihatlah apa yg baik.
- Jangan mendengar yg jahat, dengarkanlah apa yg baik.
- Jangan bicara yg jahat, bicarakanlah yg baik.
- Jangan melakukan yang jahat, lakukanlah apa yang baik. (Buku Wacana musim panas, 1990 : 114).
Pergunakanlah panca indra dengan baik sehingga perbuatan-perbuatan kita selalu berpedoman pada dharma dengan demikian kita akan selalu berada di jalan Tuhan dan Tuhan akan selalu membimbing kita.
Dalam Upanisad (Mahabaratha) disebutkan :
Badan manusia diibaratkan dengan kereta, Indria diibaratkan dengan kuda, Pikiran diibaratkan dengan kendali – tali kekang, dan Budi adalah Saisnya. Artinya pikiran terletak antara Indera dan Budi. Jika pikiran mengikuti Budi ia akan selamat, ini jalan nirwerti marga (jalan kerohanian).
Sebaliknya jika pikiran mengikuti Indriya ia akan menjadi budak indria dan menjadi korban duka dan penderitaan, ini jalan prawerti marga (jalan keduniawian).
Menurut pandangan dan penilaian kitab suci, "Jika manusia mengikuti indrianya ia menjadi binatang. Jika mengikuti Budi ia menjadi orang yang hebat di antara manusia. Sedangkan Ia yang di bimbing Atma menjadi Brahman. Jika kita tidak dapat mengikuti Budi setidaknya kita mengikuti pikiran, sehingga paling tidak kita tetap pada taraf manusia".
Orang yang dikatakan hidup berguna adalah hidup yang selalu diliputi kasih kepada Tuhan. Hanya masa-masa yang ingat tentang kesucian layak dihitung sebagai hidup. Baba dalam wacanaNya mengatakan sbb : Seorang kakek yang sudah berumur 70 tahun ditanya oleh cucunya yang baru berusia 7 tahun, "Kakek, berapa umur kakek sekarang? Kakek menjawab, "20 th". Sang anak tampak heran dan diliputi oleh keraguan. Sang kakek melanjutkan, "Saya hanya menghabiskan 20 tahun terakhir dalam pergaulan dengan Tuhan, saya sampai terjun ke rawa-rawa dalam mencari kesenangan duniawi" .
Hanya tahun-tahun kehidupan dengan Tuhan, selalu ingat Tuhan yang dihitung sebagai hidup, sisa tidak pantas untuk dihitung. Manusia hidup tidak hanya untuk makan, tidur, berulang kali. Namun tujuan kita hidup adalah untuk menjalankan karma dengan baik yang akan mengantarkan kita ke Sorga. Lepaskanlah keterikatan kepada hal-hal yang remeh, kembangkan keterikatan kepada Tuhan yang akan selalu bersama menemani kita kemanapun kita pergi, dengan melakukan perbuatan baik.
Dalam Sarascamuccaya sloka 4 dan 14 disebutkan sbb :
Selain itu, hal yg penting juga dalam spiritual adalah bahwa kita berusaha bergaul dg org-org yang baik. Sankara sdh berulang kali menyampaikan hal ini sbb :
Dalam kehidupan ini, rasa senang dan sedih datang silih berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, suatu obyek yang semula merupakan sumber kebahagiaan bisa berganti menjadi sumber penderitaan.
Oleh karena itu, kegembiraan dan kesedihan sebenarnya ditentukan oleh status/keadaan dari batin (pikiran) kita sendiri. Obyek yang selalu mengalami perubahan itu bukanlah suatu yang nyata. Setelah mengetahui bahwa kehidupan yang serba enak pada dasarnya merupakan penghambat bagi kemajuan Spiritual. Orang-orang bajik menganggap kesulitan-kesulitan yang dialami masa hidup ini pada dasarnya merupakan batu loncatan bagi peningkatan derajat kebatinannya. Mari kita mengendalikan Indria dalam batas-batas yang wajar agar hidup damai.***
Artikel lainnya:
Catatan :
Artikel ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan arti lain. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy. 🙏



Tidak ada komentar:
Posting Komentar