Senin, 09 Maret 2026

Pengendalian Indria



Indera secara terus-menerus menggiring mereka yang tidak memiliki pengetahuan (awidya) kepada hal-hal keduniawian atau sifat-sifat lahiriah. Manusia dikaruniai Panca Indra : Mata, Hidung, Telinga, Lidah, Kulit. Indria jg disebut " Maatraah",  yaitu alat pengukur.

Indria yg mempunyai kemampuan utk membedakan gambar itu baik atau buruk diberikan kemampuan kpd mata, matalah menjadi alat pengukur; begitu jg utk membedakan harum dan tdk harum, hidunglah yang diberikan kemampuan menjadi alat pengukur; begitu jg utk mendengarkan musik, hanya telingalah sebagai alat pengukur bahwa musik itu baik dan musik ini kurang bagus.

Masing-masing panca Indra hanya mempunyai satu fungsi, kecuali Lidah yang di karuniai dua kemampuan yaitu : cita rasa (pengecap) dan bicara. Diantara panca Indria itu lidah lah yang sangat berperan. Apabila lidahnya bisa dikendalikan, maka Indria-indria lainnya dpt dikendalikan dengan mudah. Pengendalian lidah tidak hanya mencakup makanan saja / cita rasa, juga mencakup pembicaraan, sesuai lidah mempunyai dua fungsi.


Mengendalikan Cita Rasa (Lidah)

Kemajuan spiritual tergantung dari keadaan pikiran kita, pikiran kita sangat bergantung dari makanan yang kita makan. Bagian makanan yang paling halus membentuk pikiran, yang halus menjadi darah dan daging, yang kasar dibuang melalui ekresi (toilet).

Ada 3 makanan menurut sifatnya :

‌1.  Makanan Rajasika adalah makanan yang menstimulasi dan meningkatkan energi. Ketika Sadhaka memakan makanan yang bersifat Rajasik maka cendrung Sadhaka akan agresif , penuh nafsu, emosi, kurang sabar serta banyak keinginan duniawi. 

Bbrp contoh makanan Rajasik yaitu : daging, ikan, telur; cabai, merica, jahe, kunyit; bawang merah, bawang putih; makanan siap saji; makanan yang sangat pedas, sangat asin, sangat asam, dll.

2. Makanan Tamasika adalah makanan yang sifatnya dapat menyebabkan kelelahan, letih, kemalasan, lamban, kurang insyatif dan tidak ada keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. 

Beberapa contoh makanan Tamasika : makanan olahan, makanan yang dimasak terlalu lama; makanan yang diawetkan, makanan yang dipanaskan beberapa kali, dll.

3. Makanan Satwika adalah makanan yang dapat membantu mencerahkan pikiran, membersihkan tubuh, meningkatkan kesadaran spiritual, kesehatan mental. 

Beberapa contoh makanan Satwika : Buah-buahan segar; sayuran segar; biji-bijian, beras merah, gandum; kacang-kacangan, susu dan produk susu, madu, dll.

Selain itu perlu memperhatikan 3 hal yang berkaitan dengan makanan yaitu : 

  1. Patra Sudhi (kemurnian peralatan memasak). Kita harus memperhatikan peralatan-peralatan yang dipakai memasak makanan itu apakah sudah bersih? Bersih bukan saja mencakup kebersihan fisik, namun juga kebersihan Spiritual. Dalam agama Hindu sangat ditabukan memakai alat-alat yang dipakai di kamar mandi untuk keperluan didapur, misalnya ember bekas pakai nyuci baju dipakai tempat membersihkan beras dll.
  2. Padartha Sudhi (kemurnian bahan-bahan makanan yg akan kita masak). Kita juga harus memperhatikan bahwa bahan-bahan makanan yang kita masak itu apakah diperoleh dengan cara halal atau tidak? Uang yang dipakai membeli bahan-bahan makanan yang didapat dengan cara baik atau tidak? Apakah dengan hasil korupsi, rusak, atau hasil pencurian. Bahan-bahan makanan yang diperoleh dengan cara tidak halal akan mencemari makanan sehingga makanan menjadi tidak murni.
  3. Paaka Sudhi (kemurnian proses memasak). Perasaan tukang masak di dapur juga berpengaruh terhadap kemurnian makanan yang dimasak apakah yang memasak itu jantung riang gembira, ikhlas; atau ngedumel, marah. Getaran negatif, atau perasaan tidak baik ketika memasak juga mempengaruhi makanan sehingga makanan juga ikut tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika memasak dengan kegembiraan dalam hati, atau sambil mengulang-ulang nama-nama suci Tuhan / menyanyikan lagu bhajan dalam hati, ini akan ikut membersihkan makanan menjadi suci.

Kita tidak mungkin memperhatikannya setiap saat dan sepanjang waktu. Oleh karena itu untuk menjaga agar makanan itu murni, kita7 mempersembahkan kepada Tuhan  untuk dibersihkan sebelum dimakan, sehingga makanan menjadi suci, (berdoa sebelum makan).

Doa makan,
" Om Brahmārpaṇaṁ Brahma Havir,
Brahmāgnau  Brahmaṇā Hutam, Brahmaiva Tena Gantavyaṁ Brahma Karma Samādhinā". (BG.4:24)

Ahaṁ Vaiśvānaro Bhūtvā Prāṇināṁ Deham Āśritah Prāṇāpāna-samāyuktaḥ Pacāmy Annaṁ Caturvidham (BG. 15:14)

Artinya:

Upacara persembahan adalah Brahma, Persembahan itu sendiri adalah Brahma, Dipersembahkan oleh Brahman dlm api suci yg jg Brahman, Hanya Dia mencapai Brahman yg dlm seluruh kegiatannya dlm Brahman.

Aku (Brahman) berada di dalam jantung semua makhluk sebagai Api Pencernaan (Vaiśvānara). Dengan bantuan prana (nafas keluar) dan apana (nafas masuk), Aku mencerna empat jenis makanan” .

Memakan makanan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan (berdoa sebelum makan), dianggap makan dosanya sendiri, namun memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan, kita dianggap memakan makanan suci.


Mengendalikan Bicara (Lidah)

Tdk ada kemampuan yg lebih hebat dari kata-kata. Kata-kata dpt membuat hancurnya seseorang, kata-kata jg bisa memberi kehidupan. Kata-kata mempunyai kekuatan yang sangat kuat, ia mampu memotong pikiran seseorg.

Dlm Nitisastra disebutkan :

"Warsita Nimitante manemu Laksmi, Warsita  Nimitante Pati kepagging, Warsita Nimitante manemu dukha, 8 Warsita Nimitante manemu mitra"

Artinya: 

Berbicara menyebabkan kebahagiaan,  berbicara menyebabkan menemukan kematian,  berbicara  menyebabkan duka / sengsara, berbicara  menyebabkan menemukan sahabat .

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, jangan berkata kasar, jangan berkata-kata jahat, mengatakan apa yang baik.

Pengendalian Indria dlm Sarasamuccaya sloka 73 disebutkan 10 banyaknya. Selanjutnya dalam Sarasamuccaya sloka 74, 75, 76 disebutkan sbb :

Sloka 74 Sarasamuccaya, pengendalian pikiran ada 3,  yaitu : 

  1. ‌Tdk menginginkan dan dengki atas milik organisasi lain.
  2. Tdk marah-marah kpd semua makhluk
  3. Percayalah akan adanya hukum Karma Phala.

Sloka 75 Sarasamuccaya, pe ngendalian kata ada 4,  yaitu :

  1. Tdk boleh berkata jahat
  2. Tdk boleh berkata kasar / menghardik
  3. Tdk boleh memfitnah
  4. Tdk boleh main

Sloka 76 Sarasamuccaya, pengendalian perbuatan ada 3, yaitu 

  1. Membunuh
  2. Tdk melakukan hub yg tdk sah
  3. Mencuri.


Untuk mencapai kemurnian pikiran perkataan dan perbuatan, Baba mengajarkan 5 hal yaitu :

  1. Jangan berpikir yg jahat, berpikirlah yg baik.
  2. Jangan melihat yg jahat, lihatlah apa yg baik.
  3. Jangan mendengar yg jahat, dengarkanlah apa yg baik.
  4. Jangan bicara yg jahat, bicarakanlah yg baik.
  5. Jangan melakukan yang jahat, lakukanlah apa yang baik. (Buku Wacana musim panas : 114).

Manusia cendrung lebih mudah mengikuti apa yang dilihat dp apa yang didengar,  dalam hal ini mata lebih dominan dari telinga.
Contoh : Dlm suatu outbond waktu itu sy ikut. Instruktur bernyanyi sambil bergerak menunjuk apa yang dia katakan. Peserta mengikuti sambil ikut bergerak. Instruktur menyanyikan lagu sederhana sekali, yang diikuti oleh peserta sambil memegang yg menyebutkan :
"Ini telingaku sambil memegang kedua pendengaran, diikuti oleh semua peserta
 yang memegang pendengaran masing-masing, Ini rambutku... peserta memegang rambut. 

Instruktur berkata, " Ini hidungku"  tapi instruktur menyentuh matanya,  ternyata hampir semua peserta menunjuk kpd matanya masing-masing padahal mereka mengatakan " ini hidungku".  Ini membuktikan bahwa manusia akan lebih mudah meniru apa yang dilihat dp apa yang di dengar.

Pergunakanlah panca indra dengan baik sehingga perbuatan-perbuatan kita selalu berpedoman pd dharma dengan demikian kita akan selalu berada di jln Tuhan dan Tuhan akan selalu membimbing kita.

Dalam Upanisad ada disebutkan :
Badan manusia diibaratkan dengan kereta, Indria diibaratkan dengan kuda, Pikiran diibaratkan dengan kendali – tali kekang, dan Budi adalah Saisnya.  Jika pikiran mengikuti Budi ia akan selamat, ini jalan nirwerti marga (jalan kerohanian). Sebaliknya jika ia ( pikiran) mengikuti Indriya ia akan menjadi budak indria dan menjadi korban duka dan Penderitaan, ini jalan prawerti marga (jalan keduniawian).  

Menurut pandangan dan penilaian kitab suci,    "Jika manusia mengikuti indrianya ia menjadi binatang. Jika mengikuti Budi ia menjadi org yang hebat di antara manusia. Sedangkan Ia yang di bimbing Atma menjadi Brahman. Jika kita tidak dapat mengikuti Budi, setidaknya kita mengikuti pikiran, sehingga paling tidak kita tetap pada taraf manusia".

Manusia hidup tidak hanya untuk makan, tidur, berulang kali. Namun tujuan kita hidup adalah untuk menjalankan karma yg baik yg akan mengantarkan kita ke Sorga.

Org yg dikatakan hidup yg berguna adalah hidup yg selalu diliputi kasih kepada Tuhan. Hanya masa-masa yg ingat tentang kesucian layak dihitung sebagai hidup. Baba dalam wacanaNya mengatakan sbb :
Seorang kakek yang sudah berumur 70 tahun ditanya oleh cucunya yang baru berusia 7 tahun, " Kakek, berapa umur kakek sekarang?",  sang kakek menjawab, "20 th". Sang anak tampak heran dan diliputi oleh keraguan. Sang kakek melanjutkan, "Saya hanya menghabiskan 20 tahun terakhir dalam pergaulan dengan Tuhan, saya sampai terjun ke rawa-rawa dalam mencari kesenangan duniawi" .

Hanya tahun-tahun kehidupan dengan Tuhan yang dihitung sebagai hidup, sisa tidak pantas untuk dihitung.  Kecualilah kpd hal-hal yg remeh, kembangkanlah kpd Tuhan yang akan selalu bersama menemani kita kemanapun kita pergi, dengan melakukan perbuatan baik.

Dalam Sarascamuccaya sloka 4 dan 14 disebutkan sbb :

"Apangiking dadi  wwang uttama  juga ya,  nimittaning  mangkana, wenang ya  tumulung  awaknya  sangkeng  sangsara, makasadhanang  cubhakarma, hinganing  kottamaning  dadi  wwang  ika". ( Sarasamuccaya, 4). 

Terjemahan: 

Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; karena dapat membantu dirinya dari keadaan samsara (menjelma kali), dengan jalan baik, demikianlah keuntungan menjelma sebagai manusia (Kajeng, 2001 : 6).   

Ikang dharma  ngaranya,  hanuning mara ring  swargan  ika; kadi  gatening perahu, an  henuning  banyage nentasing  tasik”.  (Sarasamccaya, 14).

Terjemahan:

Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sama halnya dengan perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang yang mengarungi lautan (Kajeng, 2001 : 11).

Selain itu, hal yg penting juga dalam spiritual bahwa kita berusaha bergaul dg org-org dengan baik. Sankara sdh berulang kali menyampaikan hal ini :

Satsangatwe nissangatwam, Nissangatwe nirmohatwam, Nirmohatwe nischalatatwam,  Nischalatatwe jivanmukti.  (Sloka Sansekerta) 

Artinya: 

“Pergaulan yang baik menuntun pada tanpa kestabilan, tanpa peringatan menjadikan kita bebas dari khayalan, bebas dari khayalan yang mengarah pada kestabilan pikiran, dan kestabilan pikiran memberikan kebebasan” ( Jiwanmukti ).


Dalam kehidupan ini, rasa senang dan sedih datang silih berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, suatu obyek yang semula merupakan sumber kebahagiaan bisa berganti menjadi sumber penderitaan.

Oleh karena itu, kegembiraan dan kesedihan sebenarnya ditentukan oleh setatus/keadaan dari batin (pikiran) kita sendiri. Obyek yang selalu mengalami perubahan itu bukanlah suatu yang nyata. Setelah mengetahui bahwa kehidupan yang serba enak pada dasarnya merupakan penghambat bagi kemajuan Spiritual, orang-orang bajik menganggap kesulitan-kesulitan yang menghadapi masa hidup ini pada dasarnya merupakan batu loncatan bagi peningkatan derajat kebatinannya.***


-----------

Pemberitahuan :
Artikel yg sy buat di blog ini setelah sy simpan dan sy share, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Jika Anda membaca redaksi yg janggal, kalimat, dan kata tidak tepat, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengendalian Indria

Indera secara terus-menerus menggiring mereka yang tidak memiliki pengetahuan (awidya) kepada hal-hal keduniawian atau sifat-sifat lahiriah....