Senin, 08 September 2025

Kenapa Dewa Siwa Tertinggi?

Tri Murti

Foto ilustrasi, Sumber Internet

Trimurti adalah konsep yang menggambarkan tiga aspek utama dari Tuhan dalam Agama Hindu, terdiri dari : Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan/pemrelina. 

Trimurti dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga dewa ini dihormati dan dipuja oleh umat Hindu sebagai manifestasi dari Tuhan yang Maha Esa.
Agama Hindu memandang Dewa Siwa disebut Mahadewa, dewa tertinggi di antara semua dewa, atau dengan kata lain, dewa dari segala dewa. Kata Mahadewa secara harfiah berarti dewa terbesar atau dewa tertinggi yang tak tertandingi. Makna lainnya juga adalah pemimpin semua dewa. 

Dalam ajaran Sivaisme, Brahma dan Wisnu dianggap sebagai dewa-dewa yang lebih rendah dari Siwa karena beberapa alasan :

1.  Peran dalam Trimurti
Dalam konsep Trimurti, Siwa dianggap sebagai dewa pelebur dan pemusnah, sedangkan Brahma dianggap sebagai dewa pencipta dan Wisnu dianggap sebagai dewa pemelihara. Peran Siwa sebagai dewa pelebur dan pemusnah dianggap lebih penting dan lebih tinggi dari peran Brahma dan Wisnu.

2.  Kekuatan dan Kemahakuasaan
Siwa dianggap memiliki kekuatan dan kemahakuasaan yang lebih besar dari Brahma dan Wisnu. Siwa dianggap dapat menciptakan, memelihara, dan menghancurkan, sedangkan Brahma dan Wisnu hanya memiliki peran yang lebih terbatas (hanya menciptakan dan memelihara).

3.  Kesucian dan Kemurnian
Siwa dianggap sebagai dewa yang paling suci dan murni, sedangkan Brahma dan Wisnu dianggap memiliki kesucian dan kemurnian yang lebih rendah.
Siwa dianggap sebagai dewa yang tidak terikat oleh karma dan maya, sedangkan Brahma dan Wisnu dianggap masih terikat oleh karma dan maya.

4.  Penghormatan dalam Kitab Suci
Dalam kitab suci Hindu seperti Weda dan Upanisad khususnya dlm ajaran Sivaisme,  Siwa dianggap sebagai dewa yang paling dihormati dan paling suci. Brahma dan Wisnu juga dihormati, tetapi tidak sebesar Siwa.

Namun, perlu diingat bahwa dalam agama Hindu, semua dewa-dewa dianggap sebagai manifestasi dari Tuhan yang Maha Esa.


Tri Purusha

Tentang Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa yg disebut konsep Tri Purusha menjelaskan tentang tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta, jg ada perbedaannya sbb :

1. Siwa : Jiwa alam bawah (Bhur Loka), Tuhan sebagai pencipta kehidupan di bumi, meletakkan ciptaan-Nya berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Siwa sering dihubungkan dengan warna merah.

2. Sadha Siwa : Jiwa alam tengah (Bhuvah Loka), Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman, menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Sadha Siwa dihubungkan dengan warna putih, simbol kesucian dan kesejahteraan.

3. Parama Siwa : Jiwa alam atas (Svah Loka), Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman, tanpa sifat, dan maha-ada di luar alam semesta yang gelap. Parama Siwa dihubungkan dengan warna hitam, simbol ketidakterjangkauan sinar matahari.

Tri Purusha ini dipuja di Padmasana Tiga Besakih, dengan masing-masing bangunan padma memiliki makna dan warna yang berbeda. Padmasana Rong Tiga ini disebut Padma Anglayang yg hanya ada di Pura Besakih.

Padma ada bermacam-macam yaitu : Padma Anglayang, Padma Agung, Padmasana, Padmasari, Padmacapah, semua ini tingkatan atau pepalihannya jg berbeda-beda. Padma Anglayang, Padma Agung, Padmasana ketiga ini pada dasar bangunannya memakai Bedawangnala (Kurma Avatar yang dililit ular Naga Basuki), sedangkan Padmasari dan  Padmacapah tidak memakai Bedawangnala.


Misteri Lingga, Bagaimana Dewa Siwa Menciptakan Simbol Kekuatannya Yang Abadi?

Dalam kepercayaan Hindu, Lingga dikenal sebagai simbol utama Dewa Siwa, melambangkan kekuatan dan kehadirannya yang tak terbatas. Lingga seperti telur dan melambangkan Brahmanda (telur kosmik). Lingga menandakan bahwa ciptaan dipengaruhi oleh penyatuan  Purusha dan Prakerti, kekuatan alam laki-laki dan perempuan. Lingga juga melambangkan Satya (kebenaran), Jnana (pengetahuan) dan Ananta (ketidakterbatasan).

Lingga Siwa terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah disebut Brahma-Pitha; bagian tengah disebut Wisnu-Pitha; dan bagian teratas disebut Siwa-Pitha. Bagian-bagian ini dikaitkan dengan dewa-dewa Hindu : Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Siwa (Sang Pelebur).

Alasnya yang biasanya berbentuk melingkar atau  Peetham (Brahma-Pitha), menampung struktur berbentuk mangkuk memanjang (Vishnu-Pitha) yang mengingatkan pada teko datar dengan corong yang bagian atasnya telah dipotong. Di dalam mangkuk tersebut terdapat silinder tinggi dengan kepala bundar (Shiva-Pitha), inilah bagian dari Shiva Lingga yang di dalamnya banyak orang melihat falus (kelamin laki-laki).


Foto Linggam, Sumber Internet



1. Pertarungan Brahma dan Wisnu, Muncul Lingga Tak Berujung

Menurut Siwa Purana, pernah terjadi perdebatan sengit antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu mengenai siapa yang lebih unggul di antara mereka. Saat mereka melakukannya, muncul sebuah linggam berapi di hadapan mereka. Untuk membuktikan kehebatan masing-masing, mereka berusaha mencari ujung dari sebuah cahaya tak berujung yang tiba-tiba muncul itu. Brahma dan Wisnu berlomba untuk menemukan ujungnya. Wisnu yang turun ke dalam bentuk Varaha (babi hutan), gagal menemukan dasarnya dan mengakui kekalahannya. 

Sementara itu, Brahma, yang terbang ke atas, bertemu dengan bunga Ketaki yang jatuh dari lingga. Brahma meminta bunga itu untuk bersaksi bahwa ia telah mencapai puncaknya, meskipun sebenarnya belum. Dewa Siwa mengetahui kebohongan Dewa Brahma dan murka. Akibatnya, Dewa Brahma dikutuk agar tidak lagi menerima pemujaan yang luas, dan bunga Ketaki dilarang digunakan dalam persembahan kepada Dewa Siwa. Kedua dewa itu gagal dan Siwa muncul dari dalam linggam untuk mengklaim supremasi (tertinggi) atas mereka. Brahma dan Wisnu tunduk kepada Siwa dan bersujud di hadapannya. 

2. Lingga sebagai Simbol Kesuburan dan Penciptaan

Dalam Lingga Purana, Lingga tidak hanya dilihat sebagai simbol falus, (dari bahasa Yunani : phallos berarti penis), tetapi juga sebagai representasi dari kesuburan dan penciptaan. Lingga sering dipasangkan dengan Yoni - simbol dari Dewi Parwati - istri Siwa. Kombinasi Lingga Yoni melambangkan penyatuan antara prinsip maskulin dan feminin, yang diyakini sebagai sumber segala kehidupan di alam semesta.

3. Evolusi Pemujaan Lingga dalam Sejarah

Pemujaan Lingga sebagai simbol Dewa Siwa telah ada sejak peradaban Lembah Indus. Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, ditemukan banyak peninggalan arkeologis berupa Lingga Yoni, menunjukkan bahwa pemujaan ini telah lama menjadi bagian integral dari praktik spiritual masyarakat. Misalnya, Prasasti Canggal dari abad ke-8 Masehi mencatat pendirian sebuah Lingga oleh Raja Sanjaya (Raja Mataram abad ke 8) sebagai tanda pemujaan kepada Siwa.

4. Makna Filosofis dan Teologis Lingga

Dalam teologi Hindu, makna filosofis yang mendalam Lingga sebagai simbol dari Purusha (prinsip maskulin) dan Prakriti (prinsip feminin), yang bersama-sama menciptakan dan memelihara alam semesta. Dalam konteks ini, Lingga melambangkan kehadiran ilahi yang meresapi segala sesuatu, menekankan sifat transenden dan imanen dari Dewa Siwa.

Melalui berbagai sumber Purana, kita memahami bahwa Lingga sebagai simbol Dewa Siwa memiliki asal-usul yang kaya dan kompleks. Ia tidak hanya melambangkan aspek maskulin, tetapi juga kesatuan dengan aspek feminin, mencerminkan proses penciptaan dan keberlangsungan alam semesta. Penggunaan Lingga dalam pemujaan menunjukkan penghormatan terhadap kekuatan kreatif dan destruktif (penghancur / pelebur) Siwa, serta pengakuan akan ketidakterbatasan dan kemahakuasaan-Nya.***🙏


Foto Ilustrasi, Sumber : Internet.




Sumber dan Referensi :

  • ‌Siwa Purana : Teks Purana yang berfokus pada Dewa Siwa dan berbagai aspeknya.

  • ‌Lingga Purana : Teks yang menjelaskan asal-usul, makna, dan jenis-jenis Lingga dalam tradisi Hindu.

  • ‌Prasasti Canggal : Prasasti dari abad ke-8 yang mencatat pendirian Lingga oleh Raja Sanjaya.
  • ‌Eksistensi Lingga sebagai Media Pemujaan Hindu di Desa Linggoasri : Artikel yang membahas tentang pemujaan Lingga di Indonesia.
  • Siwa Lingga dalam Susastra Hindu : Artikel yang mengulas tentang makna dan jenis-jenis Lingga dalam tradisi Hindu.
-------------

Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat yg janggal, dan kata tdk tepat, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KUBERA YANG “JATUH”: KISAH DANAPATI DI PEWAYANGAN JAWA

  Foto Ilustrasi Danapati vs Kuwera,  Sumber Sahabat Al. Kalau dilihat dari Ramayana Walmiki, Kubera merupakan tokoh suci. Dewa kekayaan, a...