Patal Bhuvaneshwara
Patal Bhuvaneshwara merupakan tempat bersemayam Siwa di Bumi. Semua makhluk surgawi dari Brahmaloka dan Dewa dari Dewaloka datang ke Patal untuk melayani Siwa di Bumi, didampingi seluruh makhluk penghuni Patal. Karena semua makhluk penghuni loka memuja Siwa dibumi, Ia dikenal dengan Bhuvaneshwara.
Dalam Skanda Purana bagian Manaskanda disebutkan bahwa Raja Rituparna dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara (tempat bersemayam Siwa di Bumi), dan Adishesa menganugerahkan Raja Rituparna pandangan kedewataan "Divyadristhi" sehingga Ia dpt menyaksikan Siwa sedang dilayani oleh berbagai Dewa - Dewi penghuni sorga di Patal Bhuvaneshwara.
Kisah ini dikutip dari Buku Menyingkap Rahasia Siwa Di Bumi (Patal Bhuvaneshwara) terjemahan Made Aripta Wibawa (2000), dari judul aslinya Buku Bhagawan Sri Sathya Sai and Patal Bhuvaneshwara oleh Prof. G. K. Karanavar.
Kisah Raja Rituparna diceritakan dalam Manaskanda di Skanda Purana. Saat ini, ada 60 Purana diantaranya 18 dianggap sbg Maha Purana yaitu :
- Brahma, Padma, Wisnu, Vayu, Bhagavata, Narada, Markandeya, Agni, Bhavishya, Brahmavaivarta, Linga, Varaha, Skanda, Vamana, Kurma, Matsya, Garuda, dan Brahmanda
Diantara ke 18 Maha Purana ini Skanda Purana melampaui semua Purana ini, khususnya menyangkut isi. Skanda Purana terdiri dari 100 krore adyaya (ayat), yg digubah oleh Rsi Wyasa sampai 81.000 syair.
Raja Rituparna
Disebutkan bahwa, Raja Rituparna adalah penguasa Ayodhya dari dinasti Surya, keturunan ketujuh dari Raja Bhageeratha. Raja Bhageeratha yg menurunkan sungai suci Gangga dari sorga menuju Patal (gua), setelah melaksanakan tapas demikian kerasnya.
Raja Rituparna dikenal karena keberanian dan kepintarannya, serta kepeduliannya terhadap rakyatnya.
Suatu hari Raja Rituparna berburu ditemani para menteri, pendeta, tentara, di pegunungan Himalaya. Dia melihat babi hutan kemudian ia mengejar babi hutan tsb, krn jalan sempit tdk memungkinkan naik kereta, Raja akhirnya berjalan kaki terus mengejar babi hutan, babi hutan melarikan diri dg cepat, akhirnya babi hutan menghilang. Raja merasa kesal karena binatang buruannya menghilang. Raja kehilangan jejak di hutan, Raja terpisah dg para pengikutnya, terus berjalan tidak tahu arah dalam hutan dan tiba di Gunung Daru.
Terik matahari yg sangat menyengat, membuat Raja mulai merasakan kelelahan, haus dan lapar. Raja mencari tempat yg teduh ingin beristirahat dan melepas dahaganya, dan tibalah Raja di pintu masuk sebuah gua, dekat "Sanggam" (pertemuan dua buah sungai) dari sungai suci, Sungai Serayu dan Sungai Ramgangga.
Di pintu gua, Raja bertemu dengan seorang penjaga (Dwarapalaka) yang mengaku sebagai pengikut Siwa. Raja menjelaskan ttg dirinya dan sampai di pintu gua. Raja meminta bantuan Dwarapalaka membantunya masuk ke dalam gua. Dwarakapala membantu Raja dan mengatakan bahwa Raja akan melihat suatu pemandangan yg sangat menyenangkan di dalam gua.
Raja Rituparna Dalam Gua
Begitu sampai dalam gua, Raja Rituparna terkejut dg pemandangan yang ada dalam gua. Gua itu disinari oleh cahaya yang berasal dari permata yang jarang dilihat yang ada di kepala ular Adishesa, juga melihat Adishesa memikul bola dunia di atas kepalanya. Adishesa memiliki ribuan kepala dengan cahaya kemilauan dikepalanya. Adishesa sedang beristirahat dikelilingi oleh sejumlah Naga dan ular naga Basuki.
Rituparna sangat kagum dan heran dengan pemandangan yang luar biasa yang belum pernah dia saksikan selama ini. Dengan melihat pemandangan ini rasa capek, haus dan lapar Raja Rituparna menjadi hilang. Sungguh ini merupakan suatu anugerah baginya.
Kehadiran Raja Rituparna di Patal mengejutkan Nagakanyaka dan Naga Basuki, yang kemudian menyeret Raja ke hadapan Adishesa. Namun Raja Rituparna merasa sangat senang ketika didekatkan kepada Adishesa. Raja memberikan penghormatan dan bersujud kepada Adishesa.
Disenangkan oleh bhakti dari Raja Rituparna, Adishesa memperlakukan Raja Rituparna dengan baik, dan meminta keterangan tentang dirinya; mama, dan apa tujuannya masuk ke gua? Raja kemudian menjelaskan tentang dirinya dan tujuan sampai ke gunung Daru, (spt awal cerita...)
Adishesa puas dengan jawaban Rituparna. Adishesa bertanya lagi, "Siapa yang dipuja manusia di bumi?" "Yg dipuja di bumi adalah Siwa yg dikenal dengan Hara atau Shankara", jawab Rituparna,
Adishesa sangat puas atas jawaban Raja Rituparna. Adishesa bertanya lagi, "Apakah anda tahu tentang gua ini, dan mengetahui bahwa Shankara (Siwa) bersemayam disini?"
Raja Rituparna terkejut setelah mendengar ternyata Shankara (Siwa) bersemayam di gua ini. Raja pun menjawab, "Sy belum pernah mengenal tempat ini, dan sy merasa beruntung telah memperoleh 'darshan' melalui rahmat Tuhan Shankara". Adishesa sangat puas dg jawaban Raja.
Adhishesa kemudian menjelaskan kepada Raja, bahwa, "gua utama tempat Siwa bersemayam disebut 'Shoban', dihuni oleh 33 krore = 33 juta makhluk (Dewa, Daithya, Danawa, Rakshasa, Gandharwa, dan Naga) yang melayani Siwa. Mata manusia yg kasar tdk mampu melihat Shankara (Siwa) dan tempat bersemayamNya, begitu juga tidak dapat melihat banyak gua tersembunyi disini. Ada 3 gua yg sangat rahasia bahkan para Dewa pun tidak bisa memasuki dan melihatnya yaitu : "Smaram, Smeru, dan Sudhama".
Pandangan Kedewataan Raja Rituparna
Adishesa kemudian menganugerahkan pandangan kedewataan "Divyadristhi" kepada Raja Rituparna agar Ia dapat melihat Shankara (Siwa) dan gua-gua tersembunyi.
Setelah mendapat anugerah pandangan kedewataan, Raja Rituparna melihat gua itu sangat luas (namanya Seshawati). Raja melihat berbagai penampakan dewa-dewa seperti : Wisweswara dengan nagamala yang dililitkan dilehernya, Gajah Surgawi Irawatha, pohon Parijatha, Brahaspathi (guru para dewa), Amarawathi; dan berbagai ular raksasa seperti : Naga Basuki, Naga Thaksaka, Naga Karkotaka dll.
Rituparna juga melihat pintu masuk surga yang dijaga Sidha disisi kiri, serta Dewa Ganesha yang memikul "Mahayoni" disisi kanan.
Adishesa Mengajak Raja Rituparna Keliling Gua
Raja diajak oleh Adishesa ke gua tempat bersemayam Gowinda dan Someswara, dan di dekat gua, Adishesa menunjukkan Dewi Patal Bhuvaneswari. Raja juga melihat Rsi Markandeya sedang melakukan tapa dengan khusuk, dan Rsi Markandeya sedang dilayani oleh sejumlah Widyadhara.
Adishesa menunjukkan 2 jalan lintasan didekatnya : satu menuju Godavari dan yang satunya menuju Sethubhanda. Raja Rituparna mengikuti jalan yang ke Godavari dan tiba di Rameswaram, disana Raja mandi di laut, dan melakukan puja.
Raja juga ditunjukkan gua "Sagaragamani" dan gua Kadaleewanam, Raja terus berkeliling di gua dan mendapatkan dharsan dari Candrasekhara dan Wrindyswara, serta menemukan dua Lingga Siwa.
Raja melanjutkan perjalanan ke "Pancakadera", disana Raja menyaksikan Dewa Brahma sedang melakukan abiseka Linggam Pancakedara dengan air suci yang keluar dari bunga Tunjung. Rahasia kiamat dunia dipercaya tersembunyi di dalam gua ini. Lingga Siwa yang telah terbentuk di sini terus membesar, dan pada saat ujung linggam menyentuh atap gua, saat itu dunia akan kiamat.
Perjalanan Raja Rituparna berlanjut ke Waidyanath, disini Raja mendapatkan Dharsan Ganesa.
Raja Rituparna menuju gua lainnya tiba di kota Wirata, disana Raja mandi di sungai "Sathya" dan memperoleh dharsan Kirathesa. Adhishesa menunjukkan kepada Raja sapi sorgawi "Kamandhanu" yg mengeluarkan air susu dari ambingnya dan jatuh di lingga 'Wrishabhesa'.
Raja Ke Tempat Bersemayam Siwa
Setelah Adishesa mengajak Raja banyak mengunjungi gua-gua, kemudian Raja diajak ke gua tempat bersemayam Shankara (Siwa), lalu Raja melakukan puja di gua itu. Adishesa menunjukkan tempat tinggal para dewa, dan Raja dpt menyaksikan 33 jt dewa yang sibuk melayani Siwa. Di sisi kiri, Raja melihat Chandra dengan ribuan galaksi dan bintang-bintang.
Raja bertanya kepada Adishesa, "mengapa Siwa dikenal sebagai "Bhuvaneshwara", siapa yg memujaNya, dan apa manfaatnya bila seseorang melakukan puja seperti itu?"
Adishesha menjawab,
"Semua makhluk surgawi dari Brahmaloka dan Dewa dari Dewaloka datang ke Patal untuk melayani Tuhan Maheswara, didampingi seluruh makhluk penghuni Patal. Karena semua makhluk penghuni loka memuja Siwa disini, Ia dikenal dengan Bhuvaneshwara. Hari terpenting dan terkeramat adalah hari "Sanipradosh". Selama hari itu Mahendra dan Dewagana melaksanakan puja kepada Siwa. Barang siapa yg memuja Tuhan (Siwa) pada saat itu adalah orang yg paling beruntung sebab semua leluhurnya akan mencapai Sorga, dan akan menjadikan Raja di Raja selama tujuh keturunan".
Raja sangat bahagia mendengar penjelasan Adishesha.
Setelah itu Raja diajak ke gua 'Smaram', gua ini dijaga oleh para naga. Raja menyaksikan Wujud Siwa; dengan lima kepalaNya, tiga mata disetiap kepalaNya, sepuluh tangan dan memakai sebuah kalung tengkorak. Raja melihat Shankara (Siwa) dg Dewi Uma, yang sedang dilayani oleh Brahma.
Setelah itu Raja diajak ke gua yg disebut 'Smeru'. Dalam gua ini Raja menyaksikan Shankara (Siwa) dalam keadaan tidur lelap.
Kemudian Adishesa mengajak Raja Rituparna ke sebuah gua yang disebut 'Sudhama', dlm gua ini Raja menyaksikan 'Maha Lingga' dan 'Maha Yoni'. Dalam gua ini Raja menyaksikan Dewa Brahma, Wisnu, Rudra, Prajapati, para Gandarwa, para Daitya, para Danawa dan segala sesuatu yg belum dikenal di dunia, diciptakan disini. Bahkan ia dapat menyaksikan dirinya sendiri, dan Adishesa dihasilkan di dalam Lingga-Yoni ini.
Raja melihat Lima Wajah Siwa muncul dan tenggelam disini; Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi muncul dan menghilang di dlm Yoni; demikian juga dilihat Brahma dan Dewi Sawitri muncul dari Yoni; Brahma melaksanakan kewajiban menciptakan kemudian menghilang kembali bersama Dewi Sawitri.
Menyaksikan pemandangan penciptaan dan peleburan alam semesta, Raja Rituparna bertanya kepada Adishesa, apa makna yg terkandung dalam pandangan itu Adishesa kemudian menjelaskan, bahwa apa yang disaksikan Raja adalah 'jyothi' atau cahaya suci dari ketiga Dewa (Brahma, Wisnu, Maheswara); yang merupakan inti dari penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta, yang pada hakikatnya adalah 'Siwam', Maha Rsi menyebutnya Brahman. Alam semesta ini dihasilkan dan akhirnya dilebur di dalam jyothi. Dewa sekalipun tidak akan mencapai tempat ini, engkau telah menyaksikan awal penciptaan dan peleburan alam semesta.
Dibingungkan oleh pemandangan yang luar biasa, Raja kehilangan akal pikirannya. Pikirannya jauh menerawang apakah ini hanya mimpi atau bukan? Setelah Raja menyaksikan bgmn penciptaan dan peleburan alam semesta, Adishesa mengajak Raja ke sebuah gua dan tiba di sungai Gangga, Raja mandi di Sungai Gangga dan melakukan abiseka Ganesha. Selesai mandi Mereka menuju ke gua yang besar, Raja mendapatkan dharsan Kasi Wiswanatha dan Dewi Gangga.
Wejangan Adishesa kepada Rituparna
Setelah kunjungan ini Adishesa mengajak raja kembali ke Patal Bhuvaneshwara, ke tempat Adhisesa. Raja Rituparna sangat gembiraan dengan pengalaman spiritual yg luar biasa ini.
Raja Rituparna diberikan wejangan oleh Adishesa agar tidak menceritakan rahasia dan informasi tentang Patal Bhuvaneshwara kepada siapapun. Adishesa mengatakan bahwa, rahasia Patal Bhuvaneshwara akan berlanjut sampai kepada "Valkal" (Brahmin) yang akan mengungkap tempat bersemayamnya Tuhan Siwa di Bumi pada zaman kali kepada dunia kelak, dan membawa Rahmat yang bermanfaat kepada umat manusia.
Sebelum Raja meninggalkan gua Adishesa memberikan berbagai macam hadiah dan batu permata yang indah kepada Raja, dan memberi pelayan utk mengawal Raja kembali ke kerajaan, serta memberikan kuda yg dpt menempuh kecepatan secepat keinginan saisnya. Raja merasa sangat berbahagia, dan merasa sangat berhutang Budi kpd Adishesa. Perjalanan dari tempat Adishesa sampai ke pintu keluar gua ditempuh selama 7 hari, selama itu Raja Rituparna duduk di pelana kuda.
Raja Kembali Ke Kerajaannya
Setelah Raja meninggalkan gua, selanjutnya Raja melakukan perjalanan sampai di tepi sungai Serayu. Disini Raja bertemu dg pengiringnya, para pendeta, menteri dan tentaranya yg begitu gembira setelah bertemu dg Raja. Terus mereka melakukan perjalanan pulang ke kerajaan.
Tiba di Kosala (kerajaan), Raja Rituparna sama sekali tdk bergeming, dia menjaga rahasia kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara kpd semua yg ada di kerajaan. Raja menghadiahkan permata- permata yg sangat indah itu kpd putra-putranya namun tidak mengungkapkan asal-usulnya.
Putra-putranya sangat senang dg permata tsb, mereka penasaran thdp permata-permata yg sangat indah itu, kemudian putra-putranya bertanya kpd Raja ttg permata-permata tsb.
Karena terus didesak oleh putra-putranya, Raja Rituparna akhirnya menceritakan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara, dan melanggar janji kepada Adishesa. Akibat pelanggaran janji tersebut, Raja Rituparna meninggal dunia sebelum selesai bercerita, dan rohnya dijemput Siwagana dibawa menuju Siwaloka.
Raja Rituparna disebut sebagai satu-satunya orang yang beruntung dapat mengunjungi Patal Bhuvaneshwara (tempat Bersemayamnya Siwa di Bumi) dan melakukan puja disana pada zaman Satya Yuga.
Seseorang yang mendengar kisah Raja Rituparna (Shravanam), dianggap cukup untuk membimbing seseorang menuju Siwaloka (alam dewa Siwa). Dengan mengingat keagungan Patal Bhuvaneshwara dengan mengingat Adishesa dan kunjungannya ke Patal Bhuvaneshwara (Smaranam), seseorang akan mencapai mukti (pembebasan) dari segala dosa.
Apa yg disebutkan dalam Manaskanda di Skanda Purana tentang Siwa bersemayam di bumi (Patal Bhuvaneshwara), skrg sudah terbukti. Pada th 1989, seorg Bhakta Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, bernama Mayor Jenderal Kanti Taylor (seorang Brahmin) sangat beruntung dipilih dan telah dibimbing oleh Bhagawan Sri Sathya Narayana untuk mengungkap Patal Bhuvaneshwara di zaman modern (kali Yuga) ini. Ini sesuai dengan yang disampaikan Adishesa kepada Raja Rituparna, agar Raja tidak menceritakan tentang Patal Bhuwaneshwara sampai kepada "Valkal" (Brahmin) yang akan mengungkap pada zaman kali.
Mayor Jenderal Taylor adalah org ke dua yg mengunjungi Patal Bhuvaneshwara pada zaman Kali ini, setelah kunjungan Raja Rituparna pada zaman Satya Yuga seperti disebutkan dalam Manaskanda di Skandapurana.
Bagaimana kisah kunjungan Mayor Jenderal Kanti Taylor ke Patal Bhuwaneshwara th 1989 di zaman kali sekarang?***
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar