28 Agustus 2026
Diawali dari Bhajan
Di Sai Center Baluk kami bhajan dulu. Hati ditenangkan. Sesi dharma wacana diisi dengan satsang.
Dalam satsang para bhakta saling mengisi:
“Bagaimana caranya agar pohon ini tidak mati?”
Ternyata pintu pagar rusak, sebagian tidak ada pagar. Sapi masuk.
Kami putuskan akan memperbaiki sebisanya. Bukan karena kami mampu. Karena ini tanggung jawab kecil yang ada di depan mata.
Di Ladang yang Kering
Sampai di Pura Segara, pemandangannya pilu. Rumput sebahian terbakar. Tanah kering. Namun 45 pohon itu masih ada. Daunnya beberapa ada yang menunduk.
“Heran ya… yang lain kering, rumput terbakar, 45 pohon ini kok hidup?”, kata seorang Bhakta pelan.
Sambil menyiram dengan ember, kami berandai-andai. "Mungkin rumput yang terbakar ini juga karunia. Kalau subur, sapi pasti datang dan memakannya."
Seorang bapak tua:
"Ah, ini bukan karena kita. Ini genggaman tangan Swami. Kita ini apa? Hanya alat."
Kami tidak tahu apakah ini ada gunanya. 45 pohon, dibandingkan hutan yang gundul, rasanya seperti setetes air di lautan luas.
Tetapi kami datang lagi hari ini. Bukan karena merasa berjasa. Hanya karena tidak tega meninggalkannya.
Dulu sebelum menanam, SSGI hanya mohon izin kepada Pemangku dan Pemuka Adat. Agar langkah kami tidak salah.
Kami sadar. Apa yang kami lakukan ini terlalu kecil.
Satu ember air tidak akan menghentikan kekeringan. 45 pohon tidak akan mengembalikan hutan.
Tetapi Baba mengajar:
"Lakukan yang bisa kamu lakukan, dengan cinta, tanpa pamrih".
Selama ini yang nyiram hanya Bhakta SSG Baluk, tiap sore, bergiliran.
Nanti kalau ada waktu, SSG lain ingin coba bantu. Bukan karena wajib. Hanya karena ingin ikut merasakan jadi "alat".
Wejangan Baba
Sambil menyiram, kami ingat sabda Baba:
“Alam menyediakan semua yang kita perlukan, tapi tidak semua yang kita inginkan. Gunakan secukupnya, syukuri sepenuhnya.”
Manusia merusak alam, lalu alam bereaksi. Banjir, kering, sakit. Alam tidak bisa terus menanggung beban keserakahan manusia.
Baba juga berkata:
“Tugas utama manusia adalah memurnikan lingkungan. Jagalah sebagai wujud syukur. Menanam 1 pohon. Menyiram 1 tanaman. Mengurangi 1 plastik. Itulah Seva.”
Itu saja yang kami coba lakukan. Sesuatu yang kecil. Yang tidak terlihat.
Penutup
Pulang dengan badan lelah dan hati yang...biasa saja. Bukan bangga. Hanya bersyukur masih diberi kesempatan jadi alat.
Semoga dari tetes air yang kecil ini, ada setitik cinta yang tumbuh. Bukan karena kami. Tetapi karena kehendak-Nya.
"Kami Siap Menjadi AlatMu Swami"
Artikel lainnya:
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏






Tidak ada komentar:
Posting Komentar