Rabu, 03 Juni 2026

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH
Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi, 
2 Juni 2026


Pendahuluan

Piodalan di Merajan Dadia adalah peringatan wewalen atau hari jadi tempat suci keluarga. Ini bukan sekadar upacara, tapi momentum maprayascita - menyucikan pura, memohon kerahayuan, sekaligus meneguhkan pasemetonan karena leluhur yang sama.

Konsep memuja Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan sesuai yang tercantum dalam Taittriya Upanisad 1.11.2, menyebutkan :
“Mātṛ devo bhava, pitṛ devo bhava, ācārya devo bhava, atithi devo bhava”.
Maknanya : 
Jadikan Ibu, Bapak, Guru, dan Tamu sebagai wujud Tuhan. Hormati mereka saat hidup, apalagi setelah manunggal jadi Bhatara Kawitan. Berkat beliaulah kita ada di dunia ini.

Piodalan ada yang berpatokan dengan Pawukon yaitu setiap 210 hari = 30 wuku x 7 = 210 hari. Ada juga yg memakai Sasih yaitu 1 th sekali (sasih ada 12).
Piodalan Merajan Dadia Warga Sri Karang Buncing Br Tengah memakai Pawukon, setiap 210 hari sekali, yg jatuh pada setiap Anggara Kasih (Selasa) Kliwon, Wuku Julungwangi.


Kerja Bhakti - Ngayah Seva

Minggu, 1 Juni 2026, warga besar Sri Karang Buncing Banjar Tengah ngayah di merajan. Tidak ada absen, tidak ada daftar hadir. Yang ada hanya rasa 'tahu diri', ingin ngayah, sebagai wujud Bhakti kepada Ida Hyang Widhi dan Leluhur yg telah memberikan rakmat-Nya kepada kami selama ini.

Semeton, misan mindon, ponakan, cucu, semua larut dlm semangat melayani - Kerja Bhakti. Tua muda bahu-membahu: masang umbul-umbul, tedung, penjor, tenda, nyapu, dsb. Pekerjaan berat terasa ringan karena paras-paros sarpanaya, selunglung sebayantaka sudah diwujudnyatakan, bukan sekadar ucapan.

Di sini tidak ada yang dilayani, semua ingin melayani. Benar-benar Vasudhaiva Kuṭumbakam, - Kita sesungguhnya Bersaudara.

Seperti dalam Mahā Upaniṣad VI.71 disebutkan : 

“Ayam bandhur ayam neti gaṇanā laghu-cetasām, udāra-caritānāṁ tu vasudhaiva kuṭumbakam”.

Artinya:

"Ini saudaraku, itu bukan" adalah hitungan orang berjiwa sempit.
Bagi yg berjiwa luhur, seluruh dunia adalah satu keluarga".

Jumlah KK Dadia Banjar Tengah: 74 KK. Banyak warga merantau mencari dharma artha. Momen odalan inilah dharma santi - ajang kumpul, pasikian, memanjatkan doa ke Leluhur mohon perlindungan




Mencaru & Pakemitan

Tanggal 1 Juni 2026, Banten tiba pukul 10.00 langsung pecaruan pukul 12:00, malamnya  ngolemin/pakemitan.
Acara pakemitan ini biasanya diisi dengan pesantian  oleh warga sendiri, karena banyak warga yang bisa mekidung Dewa Yadnya. Yang tidak bisa mekidung, mendengarkan dengan khidmat. Ada yg sekedar ngobrol-ngobrol "Satsang" ringan dengan lainnya, karena jarang bertemu. Pakemitan biasanya lebih banyak melibatkan saudara, ponakan yang muda, krn anak muda banyak, dan kesehatannya sangat memungkinkan. Mereka adalah orang-orang yang berintegritas tinggi, pekerja keras, penuh inovasi.


Piodalan Penuh Berkah
"Persembahan Dengan Tulus"

Ketulusan adalah inti dari sebuah persembahan. Bagi manusia, kita sering menerima hadiah apa pun demi menyenangkan pemberinya, tapi respons paling tulus muncul ketika hadiah itu memang menyentuh hati dan menyenangkan penerimanya.

Demikian pula Tuhan dan Leluhur menerima persembahan umat-Nya. Jika persembahan itu tercemar oleh pamrih, Tuhan - Leluhur tetap menerimanya sebagai bentuk kasih agar hamba-Nya tidak patah semangat. Namun bila dipersembahkan dengan citta suddhi -  hati suci, tulus; Tuhan dan leluhur menerimanya dengan suka cita dan membalasnya dengan rahmat yang berlimpah.

Dalam  Bhagavad Gītā IX.26 disebutkan : 
“Patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ yo me bhaktyā prayacchati, tadahaṁ bhaktyupahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ”.

Artinya:

Sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, setetes air yg dipersembahkan dengan bhakti, itu Kuterima dari jiwa yang suci.

Piodalan Merajan Dadia Warga Sri Karang Buncing pada tanggal 2 Juni 2026, Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi, baru saja selesai dilaksanakan dengan sangat khidmat.

Warga banyak yang datang membawa persembahan berupa 'prani'. Mereka mengajak anak dan cucunya. Areal Merajan sangat sesak karena banyak yang hadir. Ukuran tempat sembahyang Merajan sekitar 30x50 m, penuh sesak. Namun persembahyangan bisa dilaksanakan 1 periode (sebelumnya pernah 2 periode).

Suara speaker dengan alunan musik gong Bali, kidung, genta Jro Mangku, ditambah aroma wangi dupa, seakan Merajan Dadia Karang Buncing Banjar Tengah bagaikan Sorga. Ida Hyang Widhi, Leluhur semua hadir, karena Beliau Maha Kasih, namun kami tidak dapat melihat, kami dapat merasakan vibrasi kehadiran Beliau. Seluruh 'Bhakta' atau pencari Tuhan merasakan kebahagiaan.

Pemandu acara memberikan abal-abal sembah tanpa sarana, sembah dengan sarana bunga, dengan sarana kwangen atau kewangian, dan lain-lain. Banyak Bhakta namun tidak riuh, karena semua pikiran terpusat kepada Hyang Widhi. Terakhir ngelungsur 'prasadham' berupa Tirta dan Bija. Bija ini simbol kemakmuran, berkah dari Ida Hyang Widhi kepada umat-Nya.

Dulu banyak umat menempatkan bija belum seragam, baik di pura umum maupun pura keluarga. Ada yang menempelkan bija di kiri-kanan dahi dan jidat, bahkan ada juga di atas kepala atau ubun-ubun. Sebagian bija dimakan. Namun sekarang di warga Sri Karang Buncing menempatkan bija hanya satu titik antara kedua alis, yaitu pada Cakra Ajna saja, simbol agar pikiran selalu terpusat kepada Tuhan. Hal ini sama juga ketika bermeditasi maka pikiran dipusatkan di antara kedua alis. Memakai Bija tidak perlu banyak, yang penting ada saja sebagai ciri sudah habis sembahyang dan sudah menerima berkah dari Ida Hyang Widhi. Semua keluarga saling menawarkan dan memberi Prasadham kepada warga lainnya: berbagai buah dan jajan isi prani masing-masing.

Acara sudah berakhir, namun banyak warga yang masih ngobrol-ngobrol ringan melepas rindu masing-masing karena momen seperti ini berlangsung tiap 210 hari sekali, jadi jarang bertemu. Semoga kekompakan yang terjalin erat ini terus dapat dipertahankan, dan diteruskan oleh anak cucu. Swaha.🙏


Sekilas tambahan

Sekilas tentang Trah Karang Buncing. Nama Śrī Karang Buncing muncul dua kali. Raja Śrī Jaya Katong (Saka 1218-1226) mempunyai putra : Sri Rigis dan Sri Karang Buncing. Śrī Karang Buncing mempunyai putra Sri Kebo Iwa, dan adik kandung Sri Kebo Iwa lahir "buncing" (laki-perempuan), diberi nama Sri Karang Buncing juga (utk memudahkan kita sebut saja II). Kakak-adik, laki-perempuan ini dinikahkan yang kemudian melahirkan Warga Sri Karang Buncing yang ada sekarang di Bali dan di Luar Bali. Śrī Kebo Iwa hidup Brahmacari sampai akhir hayat.

Skema silsilah Sri Karang Buncing Buncing, Śrī Kebo Iwa misan mindon dengan Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa. Śrī Kebo Iwa tapeng dada kerajaan Batahanyar yang mewilayahi Blahbatuh, yang paling dekat dengan pusat pemerintahan dibantu oleh para Senopati Bali lainnya.

Nama Śrī Karang Buncing dijadikan momentum untuk mengenang para leluhur (kawitan) oleh para warga dan dipertegas kembali dalam AD/ART Pasemetonan Sri Karang Buncing, pasal 21, pada Mahasabha tgl 2 Pebruari 2004 di Nusa Mandala Tohpati Denpasar.

Demikian yg bisa sy sampaikan dlm coretan ini, smg Kama Bhakti semeton mendapatkan berkah berupa kerahayuan dan kesehatan, murah rejeki, sehat walafiat. Kirang langkung nunas ampura.
Om Santi Santi Santi Om. 🙏


Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tdk tepat yg janggal, itu kemungkinan perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏

------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH

PIODALAN DADIA SRI KARANG BUNCING BANJAR TENGAH Anggara Kasih Kliwon, Wuku Julungwangi,  2 Juni 2026 Pendahuluan Piodalan di Merajan Dadia ...