Minggu, 12 Juli 2026

Makna Mawinten & Tugas Suci Seorang Pemangku Beserta Pantangannya



Sumber Gambar Internet
Pemangku saat upacara
Nyurud Hayu di senja hari


Rahajeng Semeton 🙏

Mari melukat dengan sedikit pikiran Dharma. Banyak yang bertanya: Apa itu Mawinten? Siapa itu Pemangku? Dan apa saja celananya? Semoga bermanfaat.


1. Mawinten

Mewinten dari kata dasar Winten (intan /permata), mendapat awalan me,  menjadi kata kerja "Mewinten", artinya seseorang bisa bersinar seperti intan/permata, dengan jalan melakukan upacara ritual Mawinten, dan selalu berpikir yang baik, mengatakan yang baik, dan berbuat baik.

Upacara mawinten (pawintenan) atau 'Upanayana' adalah upacara dalam tradisi Hindu di Bali, yang bertujuan untuk membersihkan / penyucian pikiran dan jiwa (lahir batin), memohon berkah dari Ida Hyang Widhi Wasa.

Umat ​​Hindu di Bali meyakini, wajib hukumnya melaksanakan upacara Mawinten. Bahkan sejak usia 5 th atau setelah tanggal gigi wajib dilakukan pawintenan bertujuan untuk membersihkan diri lahir batin dalam mempelajari pengetahuan, karena sejak SD sudah mencantingkan Maha Mantram Gayatri (Wedha). Pawintenan ini disebut Pawintenan Sastra/Saraswati.

2. Jenis Upacara Mawinten
Jenis upacara Mawinten hendaknya disesuaikan dengan profesi yang akan ditekuni dalam kehidupan. Mewinten juga berfungsi untuk mengukuhkan status seseorang sesuai dengan profesi yang akan dijalani, seperti sebagai pemangku, dalang, atau tukang banten dll. 

Mengacu pada pustaka lontar: Tutur Pamangku, Tutur Pawintenan, dan lontar Janma Prakreti,  disebutkan ada beberapa jenis upacara Mawinten sebagai berikut: 
  1. Pawintenan Sastra/Saraswati 
  2. Pawintenan Pamangku 
  3. Pawintenan Dalang 
  4. Pawintenan Tukang 
  5. Pawintenan Balian/Dukun,
  6. Pawintenan Sadeg/Dasaran,
  7. Pawintenan Mahawisesa
Pada umumnya pelaksanaan upacara Mawinten ini dilakukan pada saat menjelang upacara Penyineban atau hari penutupan Piodalan di Pura atau Merajan Dadia yang disebut dengan Nyurud Hayu. Nyurud artinya memohon dan Hayu artinya keselamatan. Jadi nyurud hayu adalah permohonan keselamatan kepada Hyang Widhi Wasa, Bhatara-Bhatari dan Leluhur. Selain itu, saat Purnama juga baik untuk melaksanakan upacara mawinten, tujuannya supaya pembersihan dan penyucian terhadap dirinya benar-benar bersih serta terang benderang seperti sinarnya bulan Purnama.


3. Tingkatan Upacara Mawinten

Dalam Mawinten ada 3 tingkatan upacara dan itu tergantung dari keadaan orang yang akan menjalankannya:

  1. Mawinten dengan ayaban pawintenan Saraswati sederhana. Ini adalah upacara pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan. Yang melaksanakannya: murid-murid, yang baru belajar agama, pegawai kantor agama, dll.
  2. Mawinten dengan banten ayaban bebangkit upacara madya. Ini adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana yang berfungsi sebagai pelindung manusia. Yang melaksanakan: para tukang, sangging, tukang banten, dll.
  3. Mawinten dengan ayaban catur upacara utama. Ini adalah penyucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu sebagai pergantian Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yang melaksanakan: para sulinggih, pendeta, pemangku, dalang, dll.


4. Pawintenan Pemangku

Khusus untuk pawintenan Pemangku, pelaksanaannya sesuai tingkat kepemangkuannya. Jenis-jenis Pawintenan Pemangku yaitu:

1. Pawintenan Sari
Caranya dengan permohonan wahsuhpada atau kakuluh, Tirta kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa di pura dimana dia akan dijadikan pemangku. Pawintenan ini sering disebut Pawintenan ke Widhi. Kewenangannya hanya sampai tingkat upakara Suci, Saji, dan Caru Eka Sata.

2. Pawintenan Mapedamel

Mapedamel artinya memohon sarana upakara berupa "Dodol Maduparka". Dodol Maduparka berbentuk seperti Padma, dan merupakan simbolis dari stana Sang Hyang Aji Saraswati. Dodol Saraswati ini terbuat dari 9 macam bahan, dan bahan ini merupakan hidangan Dewata Nawa Sanga.

Jenis pawintenan ini dipimpin oleh Pedanda (Sulinggih). yang. mempunyai hak 'Lokapalasraya'. Setelah selesai upacara ini diberi tambahan nama 'Jro Mangku'. Kewenangannya menyelesaikan upakara sampai tingkat madya, yaitu: bebanten yang memakai Suci, Saji, Arepan, Pulla Gembal, caru panca sata dan upakara di Sanggar Surya.

Ada juga orang yang menjadi pemangku karena sudah menjadi takdirnya dan ditunjuk secara gaib oleh kekuatan-kekuatan suci tertentu. Biasanya jika orang ini menolak, maka dirinya akan terancam bahaya atau akan sakit yang tidak jelas alasannya. Orang yang sudah ditetapkan menjadi pemangku biasanya cepat menguasai pengetahuan di bidang kepemangkuan, dan tetap melalui upacara Mewinten.


5. Pantangan Pemangku
Karena seorang pemangku adalah salah satu orang suci dalam agama Hindu dan telah mendapatkan upacara khusus, maka ada beberapa pantangan yang wajib ditaati.
Hal ini dikutip dari berbagai sumber seperti Lontar Kusumadewa, Tata Krama Pura, Raja Purana Gama, Tattwa Dewa, dan Widhi Sastra, antara lain:

  1. Pemangku tidak diperbolehkan mengambil milik orang lain, terutama milik pura. Contohnya adalah sesari atau uang yang dihaturkan umat di sarana upacara.
  2. Pemangku tidak boleh makan daging sapi. Beberapa bahkan ada yang tidak boleh makan daging babi, hal ini tergantung dari adat istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat.
  3. Pemangku tidak boleh berada di arena sabung ayam atau juga berjudi.
  4. Pemangku dilarang menikah lagi. Jika menikah maka harus melaksanakan upacara pengangkatan dan pembersihan sebagai seorang pemangku (pewintenan) bersama istri barunya.
  5. Pemangku dilarang melayat ke rumah duka. Jika harus datang karena ada hubungan kerabat yang sangat dekat, maka ada tata cara yang harus dipatuhi. Seperti posisi duduk yang berlawanan dengan jenazah, dilarang meminta makan dan minum. Setelah pulang harus melakukan pembersihan secara rohani.
  6. Jika seorang pemangku sedang berperkara, maka sangat dilarang untuk melakukan sumpah cor yang berisi kutukan. mohon pemangku mohon kesaksian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  7. Pemangku dilarang memikul alat-alat bajak sawah.
  8. Seorang pemangku tidak boleh berada di bawah (nyulubin) tali jemuran, jenazah, pakaian bekas, dan sejenisnya.
  9. Pemangku dilarang untuk melakukan proses pewintenan kepada calon pemangku.
Sebagai seorang pemangku diharapkan selalu bisa menjaga sopan santun di masyarakat karena ia menjadi teladan dan panutan bagi warga setempat. Selain itu, ia juga harus selalu mengembangkan pengetahuannya dalam hal agama dan upacara karena pemangku kepentingan juga memiliki tugas dalam membimbing dan membimbing umat.


6. Tidak Semua yang Mewinten Otomatis Menjadi Pemangku

Sebelum mewinten, seorang calon pemangku perlu menguasai sesana  atau tata krama seorang pemangku. Ia juga harus menguasai pengetahuan tentang pelaksanaan upakara, hafal mantra-mantra, dan memahami setidaknya tiga kerangka dasar ajaran agama Hindu. Setelah itu barulah ia dikukuhkan menjadi pemangku melalui upacara mawinten untuk menyucikan diri lahir dan batin.

Menjadi pemangku bukan berarti seseorang yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba mawinten dan langsung menyandang gelar pemangku.

Ibaratnya seperti mengendarai mobil: sebelum bisa menyetir, seseorang belum diberikan SIM. Memberikan SIM kepada orang yang belum bisa mengemudi sangatlah berbahaya, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Seorang supir harus benar-benar bisa mengemudikan mobil, dan memiliki SIM yang sah. Maka barulah ia layak disebut supir.


Penutup: "Dadi" lan "Bisa"

Demikian pula seorang pemangku. Di sini ada dua hal yang harus menyatu:
Dadi” karena sudah dikukuhkan secara sah melalui mewinten, dan "Bisa" karena memang menguasai ilmu sesuai swadarmanya.

Dadi lan Bisa  — boleh dan bisa — itulah yang sangat penting untuk menjadi seorang pemangku.
Jadi, Pemangku pasti melalui upacara Mawinten, namun bukan setiap orang yang Mewinten otomatis menjadi pemangku. Kirang langkung nunas sinampura, Suksma. 🙏


Artikel lainnya:



Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makna Mawinten & Tugas Suci Seorang Pemangku Beserta Pantangannya

Sumber Gambar Internet Pemangku saat upacara Nyurud Hayu di senja hari Rahajeng Semeton 🙏 Mari melukat dengan sedikit pikiran Dharma. Banya...