Jumat, 22 Mei 2026

CINTA KASIH SEJATI

Cinta Kasih Sejati Tak Bersyarat.
"Wejangan Sad Guru"

Foto pemanis, Sumber Sahabat " Semut "

Sikapmu kepada Tuhan seharusnya tidak bergantung pada suka dan tidak suka. Sering kali kita melihat orang yang pada suatu waktu memuja Tuhan dengan penuh pengabdian, namun kemudian berbalik memusuhi-Nya. Perubahan sikap ini biasanya ditetapkan atas harapan mereka sendiri.

Ketika doa dijawab dan keinginan terpenuhi, mereka memuja-Nya. Namun ketika harapan itu tidak terpenuhi, mereka mencaci Tuhan dengan berbagai kata. Pengabdian seperti ini didasarkan pada kepentingan diri sendiri, dan di dalamnya tidak ada keilahian. Kita juga tidak perlu menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang sebenarnya berasal dari perbuatan kita sendiri.

Lalu apa itu cinta sejati? Apa yang membedakannya dari cinta yang biasa kita alami di dunia?

1. Cinta sejati tidak bersyarat dan kekal.
Apa pun yang bisa hilang atau binasa bukanlah kebenaran. Cinta sejati adalah cinta yang kekal, yang bersemayam di lubuk batin dan menyampaikan perasaan. Ia tidak terpengaruh oleh perubahan keadaan, keberuntungan, suka maupun duka. Ia tetap sama, tak tergoyahkan oleh naik turunnya nasib.

Pengabdian yang murni tidak menuntut apa pun. Tanda dari cinta kasih adalah thyaga — pengorbanan yang tulus. Cinta kasih tidak menuntut balasan, tidak ada niat jahat kepada siapa pun. Di dalamnya hanya ada ketulusan dan kemurnian.

2. Cinta sejati hanya memberi, tanpa menuntut.
Adakah di dunia ini seseorang yang mampu memberi tanpa henti? Bahkan seorang ayah pun tak selalu rela menyerahkan seluruh hartanya kepada anaknya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengharapkan manusia saling berbagi segala yang mereka miliki?

Hanya Tuhanlah yang memiliki sifat memberi tanpa pamrih itu. Cinta tanpa syarat seperti inilah yang melekat pada Keilahian. Cinta ilahi itu sebenarnya terpancar dari setiap hati manusia, meliputi seluruh keberadaannya, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Manusia dapat merasakannya di setiap sel dan setiap atom tubuhnya.

Sayangnya, karena hati manusia telah ternoda, ia tidak mampu mengenali sumber cinta yang bersumber dari dirinya sendiri. Ia justru sibuk mengejar kenikmatan fisik dan urusan duniawi.

3. Cinta duniawi sering mencampurkan kepentingan diri sendiri.
Lalu, apa yang biasanya disebut sebagai cinta kasih di dunia? Apakah itu cinta kasih seorang ibu, cinta kasih antar saudara, atau persahabatan — di dalamnya hampir selalu ada unsur kepentingan diri sendiri. Karena gagal memahami kualitas cinta sejati, orang-orang sering mencarinya dengan cara yang salah.

Hanya cinta kasih ilahi yang sepenuhnya bebas dari noda kepentingan diri. Cinta kasih ilahi dapat menjangkau bahkan mereka yang berada jauh sekali. Ia menyatukan mereka yang terpisah dan mengangkat manusia dari sifat kebinatangan menuju kualitas keilahian. Ia juga mampu mengubah semua bentuk cinta kasih duniawi menjadi cinta kasih ilahi.

Hidup yang sejati dan nyata adalah ketika seseorang diliputi dengan cinta-kasih. Semua kebajikan menyatu dalam cinta-kasih. Di mana ada cinta-kasih, akan ada kesatuan yang menembus semua hambatan. Dimana ada cinta-kasih, maka tidak akan memperhatikan kasta, budaya, dan negara dan akan bersatu secara alami.

4. Jalan menuju cinta sejati.
Untuk bisa mengalami cinta kasih ilahi ini, Anda harus siap melepaskan sifat mementingkan diri sendiri. Manusia perlu membersihkan diri dari keinginan-keinginan duniawi agar dapat kembali merasakan cinta sejati itu.

Dengan keyakinan yang mantap kepada Tuhan, kembangkanlah cinta kasih kepada-Nya tanpa menghiraukan segala rintangan dan cobaan berat yang datang. Engkau harus menghargai cinta kasih dengan perasaan tanpa pamrih dan kesiapan untuk berkorban.

5. Intinya :
Cinta kasih sejati dan cinta sejati adalah satu hal yang sama — cinta ilahi yang kekal, tanpa syarat, hanya memberi, dan membebaskan. Ketika kita melepaskan pamrih, cinta itu muncul dengan sendirinya.

6. Hanya Tuhan yang tahu masa tahu, masa sekarang dan masa akan datang.
Setiap orang menginginkan masa depan yang baik, dan cerah. Apa yang harus kita lakukan jika kita mengharapkan masa depan yang baik dan cerah?

Tidak seorang pun selain Tuhan yang mengetahui masa depan; karena itu dikatakan bahwa hanya Tuhan yang memiliki tiga mata (mata ketiga merujuk pada pengetahuan tentang masa depan), sedangkan manusia hanya memiliki dua mata. Manusia, saat ini selalu memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Selalu: Masa lalu, masa depan; masa lalu, masa depan; masa lalu, masa depan!

7. Manfaatkan hari ini dengan baik.
Merenungkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, manusia kehilangan jejak masa kini. Ketahuilah bahwa masa kini adalah produk dari masa lalu; itu juga merupakan benih untuk masa depan. Masa lalu dan masa depan dengan demikian tertanam dalam masa kini. Manusia tampaknya tidak menghargai kebenaran mendasar ini.
Jika menginginkan masa depan yang baik dan cerah, maka manfaatkanlah masa kini dengan sebaik-baiknya. Masa kini adalah pohon yang tumbuh dari benih yang disebut masa lalu. Pohon ini juga memiliki benih untuk masa depan. Jadi, masa depan sudah ada di sini!

Kita harus berusaha memanfaatkan masa kini dengan sebaik-baiknya. Hasil dari masa lalu dan pertanda masa depan keduanya tersedia di masa kini.***


- Ceramah Ilahi, 27 Juli 1996 -

Foto: pemanis 
Sumber: Sahabat Semut.

Catatan :

Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CINTA KASIH SEJATI

Cinta Kasih Sejati Tak Bersyarat. "Wejangan Sad Guru" Foto pemanis, Sumber Sahabat " Semut " Sikapmu kepada Tuhan sehar...