1. Weda dan Begawan Wyasa
Sebelum ada Catur Weda versi Wyasa, digunakan Weda yang utuh dan belum dibagi. Weda tersebut bernama Eka Weda atau Weda Tunggal. Isinya tercampur antara mantra, pujian, nyanyian, upacara, dan doa, sehingga menjadi satu naskah yang sangat tebal.
Pada masa Satya Yuga, Treta Yuga, dan awal Dwapara Yuga, daya ingat manusia sangat kuat, tubuh sehat, dan usia panjang, sehingga mampu menghafal naskah setebal itu.
Weda bersifat apauruseya, yang artinya bukan merupakan buatan manusia tertentu. Isinya telah ada sejak awal penciptaan. Weda diterima oleh Sapta Rsi, yaitu tujuh Maha Rsi, melalui Sruti yang berarti “yang didengar” saat bertapa. Para Rsi mendengar Weda secara langsung dari Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi melalui tapa. Weda turun ke dalam hati para Rsi, bukan ditulis oleh mereka. Di antaranya adalah Rsi Atri, Rsi Bharadwaja, Rsi Gritsamada, Rsi Vasistha, Rsi Vishwamitra, Rsi Vamadeva, dan Rsi Kanva.
Pada setiap akhir Dwapara Yuga selalu muncul seorang "Wyasa" yang bertugas merapikan Weda. Wyasa pada zaman ini adalah Krishna Dwaipayana, putra Parasara. Wyasa pada zaman sebelumnya adalah orang yang berbeda. Dengan demikian, Wyasa adalah nama jabatan, bukan nama satu orang. Beliau adalah Chiranjiwi, yaitu yang hidup dari awal Kalpa sampai akhir Kalpa untuk menjaga Weda.
Pada akhir Dwapara Yuga, memasuki awal Kali Yuga, usia manusia menjadi pendek, yaitu sekitar 100 tahun, dan daya ingat melemah. Ketika Weda tetap dalam satu naskah tebal, bertanya-tanya manusia tidak mampu menghafalnya sehingga Weda dapat punah.
Maka Wyasa melakukan “revitalisasi” Weda. Beliau bukan "mengarang", melainkan "mengelompokan dan merapikan" Eka Weda menjadi empat kelompok agar mudah dipelajari, yaitu:
- Rg Weda memuat pujian,
- Sama Weda memuat nyanyian,
- Yajur Weda memuat tata cara upacara,
- Atharwa Weda memuat doa dan pedoman kehidupan sehari-hari.
Kemudian beliau mengajarkannya kepada empat murid: Paila untuk Rg Weda, Vaisampayana untuk Yajur Weda, Jaimini untuk Sama Weda, dan Sumantu untuk Atharwa Weda.
Analoginya: Perpustakaan telah ada. Wyasa adalah pustakawan yang menyusunnya menjadi empat rak dan katalog yang terdiri dari Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad.
Kesimpulan : Pengelompokan Catur Weda oleh Begawan Wyasa terjadi pada akhir Dwapara Yuga, sekitar 5128 tahun yang lalu. Namun inti ajaran Weda itu sendiri bersifat kekal dan tidak memiliki awal maupun akhir. Weda tidak pernah “disusun dari nol”.
2. Siklus Yuga: Drama Sama, Pemain Berganti
Setiap pergantian zaman selalu terjadi perang besar. Misalnya, pada Treta Yuga terjadi perang antara Rama melawan Rahwana, yang dikenal dengan Perang Ramayana. Pada Dwapara Yuga terjadi perang antara Pandawa melawan Kaurawa, yang dikenal dengan Perang Mahabharata.
Pada setiap akhir Dwapara Yuga selalu terjadi perang besar seperti Mahabharata sebagai "cerita pokok" yang berulang. Dharma pasti merosot, pasti terjadi perang antara dharma melawan adharma, dan pasti ada Awatara Wisnu yang turun. Peran-peran utama pun berputar, namun nama, tempat, dan peristiwanya berbeda-beda pada setiap Kalpa dan Caturyuga. Perbedaan kisah ini disebut Kalpa Bheda.
Hal ini merupakan janji Tuhan dalam Bhagawadgita 4.7-4.8:
“yadā yadā hai dharmasya glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmyaham”.. dst.
Maknanya:
“Ketika dharma merosot dan adharma merajalela, pada saat itu Aku menjelma.Untuk melindungi orang-orang yang baik, menghancurkan orang-orang durhaka, dan menegakkan kembali dharma”
Setiap hati manusia adalah sebuah Dharmakshetra. Di dalamnya terjadi peperangan terus-menerus antara kekuatan kebaikan dan keburukan.
"Arjuna dan Abimanyu" ada di dalam diri kita. Arjuna ibarat jiwa yang mau duduk mendengarkan "Gita" saat bimbang, lalu bangkit memegang "busur dharma".
Abimanyu ibarat kita yang hidup dengan keterbatasan, ilmu tidak lengkap, memikirkan masalah, namun tetap maju sesuai tugas walaupun berat.
"Akhir Dwapara pribadi" adalah saat kita mentok. Pilihannya adalah membuang busur sehingga menjadi Kurawa, atau memegang busur sehingga menjadi Arjuna.
Abimanyu adalah definisi "gugur tetapi menang". Pada usia 16 tahun, dikeroyok tujuh Maharathi, tetapi tidak mundur selangkahpun. Itu bukan kesialan. Itu adalah puncak dharma.
3. Karmaphala Oknum Pejabat yang Dzalim
Kali Yuga ini ibarat kehidupan yang "pas-pasan bertemu oknum pejabat yang bertindak sewenang-wenang". Dwapara Yuga yang lalu mungkin kita adalah "raja kaya yang diuji kesombongannya". Yuga berikutnya mungkin kita akan menjadi "pertapa miskin yang diuji kesabarannya".
Oknum Pejabat sedang "memanen Prarabdha baik", yaitu karma baik masa lalu yang menyebabkan mereka menjadi pejabat.
Namun setiap keputusan yang dzalim sama artinya dengan "menabung Agami karma buruk" yang pasti akan ditagih, baik saat hidup sekarang, di akhir hidup, maupun pada kelahiran berikutnya.
Hukumnya semakin tinggi kedudukannya, maka jatuhnya akan semakin keras dan sakit. Tugas kita adalah jangan ikut menjadi “dzalim” karena marah, melainkan melakukan dharma kita sendiri dengan baik.
4. Hukum Karmaphala
Karmaphala ibarat WiFi yang tidak terlihat, tetapi pasti terhubung. Weda menyebutkan ada tiga jenis hasil karma:
- Sancita Karma adalah tumpukan karma masa lalu yang masih berada di "gudang".
- Prarabdha Karma adalah karma yang telah turun menjadi "nasib saat ini". Inilah yang sedang mereka jalani sekarang, yaitu menjadi pejabat, disanjung, dan memiliki kekuasaan.
- Agami Karma adalah karma baru yang dibuat pada saat ini, seperti korupsi, dzalim, dan membuat rakyat menderita.
Dengan demikian, oknum pejabat yang dzalim itu sedang "memanen Prarabdha baik" dari karma baik kelahiran lalu. Karena itulah ia dapat menjadi pejabat. Namun bersamaan dengan itu ia juga "menabung Agami yang jelek" setiap kali membuat keputusan yang dzalim.
5. Manusia Lupa Masa Lalu adalah Anugerah
Lupa ibarat kertas putih yang baru. Lupa bukan berarti hukum karma hilang, melainkan agar kita fokus menanam karma baik pada saat ini.
Ketika manusia mengingat semua kelahiran sebelumnya, maka fokus akan buyar dan muncul rasa balas dendam, sehingga samsara terhenti.
Tuhan tidak memberikan manusia mengingat masa lalu. Coba bayangkan apabila manusia mengingat semuanya. Kita akan ingat pernah menjadi raja yang kejam pada zaman Dwapara sehingga sekarang merasa malu. Ingat pernah menjadi anak dari orang lain pada dua kelahiran lalu sehingga sekarang canggung memanggil "Ibu". Ingatlah pernah membunuh orang di Kurukshetra sehingga sekarang tidak dapat fokus bekerja.
6. Kirtan adalah Tabungan Paling Aman
Dalam Bhagawadgita 9.22 disebutkan :
"ananyāś cintayanto māṁ ye janāḥ paryupāsate, teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ yoga-kṣemaṁ vahāmy aham"
Kirtan - mengingat Tuhan dengan suara. Ini adalah perisai di "cakra wyuha" Kali Yuga. Harta dapat diambil, namun nama Tuhan di dalam hati tidak akan dapat diambil.
7. Doa Agar Lahir Menjadi Manusia Lagi
Lahir sebagai manusia, memiliki akal, dan mendapatkan bimbingan Guru adalah sulabha, yang artinya sangat sulit didapat. Itu adalah hasil karma baik dan rahmat Tuhan.
Selama setiap hari mengisi "bensin" dengan kirtan dan dharma kecil, seperti jujur, menolong, dan tidak menyebarkan kebencian, maka peluang untuk lahir menjadi manusia lagi guna melanjutkan bhakti menjadi sangat besar.
Bhagawadgita 8.6, Kresna berjanji:
"yaṁ yaṁ vāpi smaran bhāvaṁ tyajaty ante kalevaram, taṁ tam evaiti kaunteya sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ"
Artinya :
“Wahai putra Kunti, keadaan apa pun yang diingat seseorang ketika ia meninggalkan badan pada saat kematian, ia pasti akan mencapai keadaan itu, karena selalu memikirkannya dalam hidupnya.”
8. Kesimpulan Inti
- Weda bersifat kekal. Wyasa hanya berperan sebagai kurator pada setiap pergantian Yuga. Catur Weda disusun sekitar 5128 tahun yang lalu.
- Cerita dharma melawan adharma berputar dan terus terjadi pada setiap zaman, agar setiap jiwa mendapatkan giliran untuk belajar dan naik kelas.
- Setiap hati manusia adalah sebuah Dharmakshetra, tempat terjadi peperangan terus-menerus antara kebaikan dan keburukan. Kemenangan di Kali Yuga adalah milik orang-orang yang tetap waras, tetap berbakti, dan tetap menjadi manusia jujur walaupun di sekelilingnya terdapat kebatilan.
Semoga catatan kecil ini berguna dalam menebar Vidya untuk merawat dharma. Swaha. Kirang langkung nunas sinampura.
Om Santih, Santih, Santih Om. 🙏***
Artikel lainnya :
- Pralaya: Pengertian, Jenis, dan Hitungan Waktu Kiamat, Makna Spiritual Hindu
- KERAJAAN ALENGKA: Kota Emas Berkah Siwa Kepada Sukesa
Catatan :
Artikel ini setelah sy share dan sy simpan, sering ada perubahan redaksi, kalimat, kata, secara otomatis shg bisa menimbulkan beda arti. Jika Anda membaca redaksi, kalimat, kata tidak tepat yg janggal, kemungkinan besar perubahan otomatis oleh sistem. Ketika sy buka dan pas sy tahu ada perubahan, langsung sy edit lagi. Demikian permakluman sy.🙏




Tidak ada komentar:
Posting Komentar